cover
Contact Name
Rafika
Contact Email
rafika@poltekkes-mks.ac.id
Phone
+6282345553522
Journal Mail Official
rafika@poltekkes-mks.ac.id
Editorial Address
https://ojs3.poltekkes-mks.ac.id/index.php/medankes/about/contact
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Media Analis Kesehatan
ISSN : 20871333     EISSN : 26219557     DOI : https://doi.org/10.32382/jmak
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Media Analis Kesehatan merupakan Jurnal ilmiah yang memuat tulisan ilmiah yang berkaitan dengan bidang ilmu analis kesehatan atau teknologi laboratorium medik. Jurnal ilmiah yang membahas tentang kompetensi analis kesehatan yang meliputi kompetensi Mikrobiologi, Hematologi, Parasitologi, Imunoserologi, Toxikologi, dan Kimia Klinik
Articles 60 Documents
Potensi Limbah Udang Sebagai Media Alternatif Pengganti Pepton Pada Media Mannitol Salt Agar Untuk Isolasi Staphylococcus aureus Ali Hasan, Zulfikar; Abduh, Windah Zufiyani; Pratama, Ridho; Herman, Herman
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 16 No 2 (2025): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v16i2.1948

Abstract

Mannitol Salt Agar (MSA) digunakan sebagai media selektif dan diferensial untuk isolasi Staphylococcus aureus Salah satu komponen utama MSA adalah pepton yang berfungsi sebagai sumber nitrogen dan nutrisi penting untuk menunjang pertumbuhan bakteri. Pepton komersial memiliki harga yang relatif mahal dan umumnya masih bergantung pada impor. Pepton dapat diperoleh dari bahan alam yang kaya protein. Limbah udang memiliki kandungan protein tinggi, sehingga berpotensi menjadi sumber nutrisi alternatif bagi pertumbuhan bakteri, jumlahnya melimpah dan mudah diperoleh, serta merupakan limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi limbah udang sebagai bahan alternatif pengganti pepton dalam media MSA. Metode penelitian true eksperiment dilaksanakan pada tanggal 5 sampai 26 Mei 2025 di Laboratorium Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Makassar. Pengambilan sampel secara purposive sampling berdasarkan kriteria. Limbah udang diolah menjadi pepton melalui proses hidrolisis enzimatis menggunakan enzim papain. Pepton hasil hidrolisis kemudian diformulasikan ke dalam media alternatif MSA dengan 3 variasi konsentrasi yaitu 0,5%, 0,75%, dan 1%. Efektivitas Media Alternatif MSA diuji menggunakan biakan murni Staphylococcus aureus dengan MSA komersil sebagai kontrol uji. Pengulangan sebanyak 3 kali dilakukan pada setiap perlakuan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Alternatif MSA yang diformulasikan dengan pepton dari limbah udang mampu mendukung pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan Jumlah rata-rata koloni 209x10-1 CFU/mL pada media alternatif MSA konsentrasi 1%, 231x10-1 CFU/mL pada media alternatif MSA konsentrasi 0,75%, 233x10-1 CFU/mL pada media alternatif MSA konsentrasi 0,5% dan 250x10-1 CFU/mL pada MSA Kontrol. Limbah udang berpotensi sebagai bahan alternatif pengganti pepton pada media MSA yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.
Analisis Kandungan Boraks Pada Mie Basah Menggunakan Rapid Test Kit dan Bahan Alami Anisa Nur Hatimah; Abudarin Abudarin; Anggi Ristiyana Puspita Sari
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.1953

Abstract

Salah satu upaya meningkatkan daya tahan mie basah adalah dengan menambahkan pengawet ke dalam makanan. Secara sederhana kandungan boraks pada makanan dapat diuji dengan menggunakan metode test kit dan bahan alami seperti ekstrak ubi ungu dan ekstrak kunyit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sensivitas dan batas deteksi kadar boraks dengan metode uji yang berbeda pada sampel mie basah.Metode uji yang digunakan meliputi pengujian dengan indikator alami (ekstrak ubi ungu dan ekstrak kunyit) dan pengujian dengan rapid test kit buatan pabrikan. Indikator alami disiapkan dari ekstrak ubi ungu dan kunyit yang diresapkan pada potongan kertas saring, sedangkan rapit tes kid dibeli di pasaran. Sampel mie basah dibuat dari adonan dengan bahan utama tepung terigu dan telur kemudian ditambahkan boraks (bleng) sehingga dihasilkan mie basah dengan kadar bleng bervariasi. Jumlah sampel yang digunakan adalah 1 sampel. Keberadaan boraks pada mie basah yang dihasilkan kemudian diuji secara kualitatif menggunakan tiga metode uji yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga metode mampu mendeteksi keberadaan boraks pada mie basah. Rapid test kit dan indikator ubi ungu memiliki batas deteksi terendah, yaitu 10 mg/g sampel, sedangkan indikator kunyit memiliki batas deteksi 20 mg/g sampel. Dengan demikian, urutan sensitivitas metode deteksi adalah rapid test kit = indikator ubi ungu > indikator kunyit.
Analisis Kadar Fe Serum Dan Kadar Hemoglobin Darah Pada Ibu Hamil Terimester I Di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Ibu Dan Anak Pertiwi Provinsi Sulawesi Selatan Herman Rachman; Rafika Rafika; Widarti; Mursalim; Nurdin; Syahida Djasang; M. Askar
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.1989

Abstract

Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih sering dijumpai, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu penyebab utama anemia adalah defisiensi zat besi (Fe), yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin (Hb). Kadar Fe serum yang rendah dapat menurunkan kadar Hb darah, sehingga berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Tujuan untuk melihat gambaran kadar Fe serum dan kadar Hemoglobin darah serta menganalisis hubungan antara kadar Fe serum dengan kadar Hb darah pada ibu hamil di RSUK Ibu dan Anak Pertiwi Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 44 ibu hamil trimester I yang diambil secara purposive sampling. Penentuan kadar Fe serum dilakukan menggunakan metode Fotometri, dan kadar Hb menggunakan metode Sianmethemoglobin. Analisis data dilakukan dengan uji deskriptif dan uji Korelasi Sperman Rank menggunakan program SPSS. Gambaran hasil penelitian kadar Fe serum ibu hamil sebagai besar normal (86,4%) dan kurang dari normal (11,4%). Sedangkan gambaran kadar Hb juga sebagai besar normal (81,8%) dan kurang dari normal (18,2%). Hasil uji Korelasi Sperman Rank hubungan kadar Fe serum terhadap kadar Hb darah pada ibu hamil, diperol nilai r = 0,287 dan p>0,05.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ibu hamil trimester I terdapat sebagian kecil yang memiliki kadar Fe serum rendah dari normal atau defisiensi Fe sebanyak 5 orang (11,4%). Juga terdapat   sebagian kecil ibu hamil yang memiliki kadar Hb darah rendah dari normal atau anemia sebanyak 8 orang (18,2%). Dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar Fe serum terhadap kadar Hb. darah. Dari Kesimpulan tersebut dapat disarankan bahwa pemantauan rutin kadar Fe dan kadar Hb darah pada ibu hamil perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan anemia dan peningkatan kesehatan ibu serta janin.
Profil Laboratorium Pasien Tuberkulosis (CRP, SGOT, SGPT, Hemoglobin, dan Bakteri Tahan Asam) pada Fase Intensif dan Fase Lanjutan Pengobatan Surati; Djoko Priyatno; S. Y. Didik Widiyanto
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2051

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan global dengan Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus terbanyak setelah India. Pengobatan TBC menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) berpotensi menimbulkan efek samping hepatotoksik dan hematotoksik, sehingga diperlukan pemantauan parameter laboratorium pasien selama fase pengobatan intensif maupun lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil laboratorium pasien TBC berdasarkan kadar C-Reactive Protein (CRP), Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT), Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT), hemoglobin, serta hasil pemeriksaan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) pada fase pengobatan intensif dan lanjutan. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang (cross sectional) di Balkesmas Ambarawa dengan jumlah sampel 22 pasien, terdiri dari 9 pasien fase intensif dan 13 pasien fase lanjutan. Pemeriksaan meliputi kadar CRP, SGOT, SGPT, hemoglobin, dan mikroskopis BTA. Data dianalisis menggunakan uji Independent T-Test untuk mengetahui perbedaan antar fase pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar SGOT, SGPT, dan hemoglobin antara fase intensif dan lanjutan (p>0,05), dengan nilai rerata tetap berada pada kisaran normal. Kadar CRP menunjukkan penurunan dari fase intensif ke fase lanjutan, mencerminkan perbaikan kondisi inflamasi pasien. Pemeriksaan mikroskopis BTA menunjukkan 67% negatif pada fase intensif dan meningkat menjadi 100% negatif pada fase lanjutan, menandakan efektivitas terapi OAT.  Pengobatan TBC fase intensif dan lanjutan efektif menurunkan inflamasi dan menghilangkan bakteri, sementara parameter laboratorium lain relatif stabil. Kepatuhan minum OAT, status gizi, serta faktor gaya hidup diduga memengaruhi keberhasilan terapi.
Analisis Kualitatif C-Reactive Protein (CRP) Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Bengkulu Muhammad Dzaky Pasharli; M Dodik Prastiyo
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2092

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian. Diabetes melitus diakibatkan adanya resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas dan juga berkaitan erat dengan proses inflamasi kronik. Tujuan penelitian ini menganalisis secara kualitatif C-Reactive Protein sebagai penanda inflamasi pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Kota Bengkulu. Desain penelitian menggunakan deskriptif observasional study dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 16 April – 15 Mei 2024. Populasi yang dipilih adalah Wilayah Kerja Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu. Teknik sampling didasarkan pada total sampling sebanyak 30 orang. Data penelitian yang telah didapatkan dianalisis secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS Statistik 24. Hasil penelitian didapatkan mayoritas subjek penelitian adalah perempuan sebesar 73% (n=22), dengan usia >55 tahun sebesar 70% (n=21), serta ditemukan subjek mayoritas berada pada rentang <10 tahun menderita DM (90%). 12 sampel (40%) menunjukkan hasil positif (terjadi aglutinasi) saat pemeriksaan dan 18 sampel (60%) menunjukkan hasil negatif (tidak terjadi aglutinasi). Pentingnya mengetahui analisis CRP pada pasien DMT2 karena dapat menjadi indikator komplikasi pasien.
Potensi Limbah Kulit Salak Sebagai Pewarna Hematoxylin Alami Preparat Cairan Pleura Dewi Hartati; Bastian; Juwy Trianes; Widya Yuniasari
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2129

Abstract

Pewarnaan sitologi cairan pleura merupakan langkah penting dalam diagnosis berbagai penyakit, terutama keganasan, dengan Hematoxylin sebagai pewarna inti yang umum digunakan. Namun, Hematoxylin memiliki keterbatasan berupa potensi toksisitas, harga relatif tinggi, serta dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan limbah ekstrak kulit salak (Salacca zalacca) sebagai alternatif pewarna Hematoxylin pada preparat cairan pleura. Penelitian dilakukan menggunakan desain eksperimen semu dengan rancangan pretest–posttest control group, membandingkan pewarnaan Papanicolaou menggunakan Hematoxylin standar dan ekstrak kulit salak pada berbagai konsentrasi (100%, 80%, 50%, dan 25%). Parameter yang dinilai meliputi intensitas warna, kontras, kejernihan, keseragaman pewarnaan dan kestabilan pewarnaan yang dievaluasi secara blind oleh dua analis dan menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak kulit salak konsentrasi 100% memberikan kualitas pewarnaan terbaik dan tidak berbeda signifikan dengan Hematoxylin standar (p = 0,479), sedangkan konsentrasi lebih rendah menunjukkan penurunan kualitas pewarnaan. Kesimpulannya, ekstrak limbah kulit salak berpotensi digunakan sebagai alternatif pewarna Hematoxylin yang lebih aman, murah, dan ramah lingkungan pada preparat cairan pleura.
Inovasi Media Mannitol Salt Agar (MSA) Berbasis Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Untuk Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Ridho Pratama; Mutiara Ramadani Murtaji; Mursalim; Artati; Muhammad Nasir; Zulfikar Ali Hasan; Nuradi
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2187

Abstract

Pertumbuhan mikroorganisme sangat bergantung pada kualitas media yang kaya nutrisi terutama protein. Media Mannitol Salt Agar (MSA) umumnya digunakan untuk isolasi Staphylococcus aureus, namun ketersediaan produk komersial di pasaran relatif mahal. Oleh karena itu, diperlukan inovasi media alternatif berbahan dasar alami, seperti tulang dan daging ikan cakalang yang memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi mendukung pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan tulang dan daging ikan cakalang serta menganalisis efektivitas media MSA berbasis ikan cakalang sebagai pengganti pepton terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat true eksperimen dengan sampel berupa tulang dan daging ikan cakalang, menggunakan metode kultur bakteri yang dianalisis secara deskriptif dan menggunakan Uji T satu sampel. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari – April Tahun 2025 di Laboratorium Mikrobiologi Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media inovatif berbahan ikan cakalang pada variasi konentrasi 1%,2%,3%,4%,5%, dan 6% mampu mendukung pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus serupa dengan media kontrol MSA. Selama masa inkubasi, konsentrasi 3% menunjukkan pertumbuhan koloni serta perubahan warna yang paling cepat dan menyerupai media kontrol. Berdasarkan hasil tersebut, ikan cakalang dapat digunakan sebagai bahan inovatif untuk pertumbuhan media MSA, dengan konsentrasi optimal 3%.
Karakteristik Kadar Profil Lipid Terhadap Kejadian Proteinuria pada Penderita Diabetes Melitus Alfin Resya Virgiawan; Yaumil Fachni Tandjungbulu; Wahdania Suratmi; Cut Indriputri; Haerani Haerani
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2221

Abstract

Penderita Diabetes Melitus (DM) berisiko mengalami komplikasi gangguan kesehatan antara lain penyakit sistem kardiovaskular dan gagal ginjal kronis. Gangguan kardiovaskular dapat terjadi salah satunya disebabkan oleh ketidakseimbangan profil lipid pada penderita DM yang dikenal dengan dislipidemia, dan komplikasi kronis yang banyak dijumpai pada penderita DM yaitu nefropati diabetik yang dapat ditandai salah satunya dengan kejadian proteinuria. Untuk mengetahui keadaan dislipidemia diperlukan pemeriksaan laboratorium mencakup pengukuran kolesterol total, High Density Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida, sementara untuk menilai kerusakan fungsi ginjal diperlukan pemeriksaan laboratorium salah satunya pengukuran protein urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar profil lipid terhadap kejadian proteinuria pada penderita DM. Jenis penelitian merupakan penelitian korelasional dengan desain bivariat berdasarkan pendekatan kuantitatif, menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling, dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 55 sampel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Pemeriksaan dan pengumpulan sampel dilaksanakan di Laboratorium RSKD Dadi Provinsi Sulawesi Selatan pada 20-31 Oktober 2025. Hasil penelitian diperoleh bahwa penderita DM terbanyak yaitu perempuan sebanyak 29 orang (52,7%), dengan klasifikasi umur terbanyak yaitu 60-66 tahun sebanyak 23 orang (40,0%), dan untuk lama menderita terbanyak yaitu ≤5 tahun sebanyak 24 orang (43,6%). Dilakukan uji statistik untuk mengetahui korelasi dari setiap variabel, diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hasil pemeriksaan kadar profil lipid (kolesterol total p = 0,873 (p > 0,05), HDL p = 0,547 (p > 0,05), LDL p = 0,975 (p > 0,05), dan trigliserida p = 0,683 (p > 0,05) terhadap kejadian proteinuria pada penderita DM, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antara hasil pemeriksaan profil lipid terhadap kejadian proteinuria pada penderita DM. Maka dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya agar dapat menambahkan  biomarker lain yang lebih sensitif dan spesifik dalam penegakan diagnosa untuk mengetahui penderita DM telah terjadi komplikasi pada sistem kardiovaskular maupun kerusakan ginjal seperti pemeriksaan apolipoprotein A, apolipoprotein B, cystatin C, Interleukin-18 (IL-18), Kidney Injury Molecule (KIM-1), Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin (NGAL), ureum, dan kreatinin.
Evaluasi Performa Sistem Kuantifikasi Otomatis Imunohistokimia Berbasis Kecerdasan Buatan Untuk Analisis Ekspresi Tumor Marker Cut Indriputri; Maulia Hardian Hayati; Rafika Rafika; Yaumil Fachni Tandjungbulu; Reza Maulana
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2250

Abstract

Evaluasi kinerja sistem kuantifikasi otomatis imunohistokimia (IHC) semakin penting untuk menjamin akurasi dan konsistensi dalam analisis ekspresi penanda tumor. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja sistem kuantifikasi IHC otomatis berbasis kecerdasan buatan dalam konteks klinis dan penelitian. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, dan ScienceDirect untuk publikasi tahun 2015–2025. Sebanyak 26 studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kualitatif berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Hasil menunjukkan bahwa sistem kuantifikasi IHC berbasis kecerdasan buatan memiliki performa diagnostik tinggi dengan akurasi 90–98%, AUC hingga 0,96, serta korelasi dengan ahli patologi yang melebihi 0,95 pada berbagai biomarker utama seperti HER2, Ki-67, ER, PR, P53, dan PD-L1. Model deep learning seperti convolutional neural networks (CNN), termasuk ResNet dan DenseNet, menunjukkan kemampuan unggul dalam deteksi area tumor dan kuantifikasi ekspresi biomarker secara otomatis. AI juga terbukti meningkatkan reproduksibilitas hasil dengan mengurangi variasi antar-pengamat serta meningkatkan kesesuaian dengan metode referensi, sekaligus menstandarkan interpretasi pada kasus borderline. Perkembangan metode menunjukkan pergeseran dari digital image analysis berbasis aturan menuju deep learning yang lebih adaptif, sehingga meningkatkan akurasi dan generalisasi. Namun, kinerja sistem masih dipengaruhi oleh variasi pra-analitik, termasuk kualitas pewarnaan, heterogenitas data, ukuran dataset, serta kebutuhan supervisi ahli patologi. Secara keseluruhan, meskipun menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan objektivitas dan efisiensi diagnostik, implementasi klinis AI dalam kuantifikasi IHC masih memerlukan standardisasi, validasi multisenter, dan evaluasi prospektif lebih lanjut.
Potensi Biji Pepaya (Carica papaya L.) dengan Variasi Konsentrasi Sebagai Media Alternatif Untuk Pertumbuhan Jamur Aspergillus flavus Zulfikar Ali Hasan; Diva Fadilah Zhaliardy; Rahman; Ridho Pratama; Maulia Hardian Hayati; Yaumil Fachni Tandjungbulu; Artati
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2259

Abstract

Media merupakan suatu bahan yang terdiri atas campuran zat makanan (nutrient) yang berfungsi sebagai tempat tumbuh mikroba. Melihat kandungan gizi biji pepaya (Carica papaya L) memungkinkan biji tersebut dapat dijadikan sebagai media alternatif untuk menumbuhkan jamur Aspergillus flavus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biji pepaya sebagai media alternatif untuk pertumbuhan jamur Aspergillus flavus. Jenis penelitian ini yaitu true eksperimen dengan menggunakan desain posttest only with control group design. Teknik pengambilan sampel berupa simple random sampling. Konsentrasi biji pepaya yang digunakan yaitu 15%, 30%, 45%, dan 60% dengan menggunakan metode inokulasi single dot. Hasil penelitian didapatkan bahwa media alternatif berbahan dasar biji pepaya dengan konsentrasi 15%, 30%, 45%, dan 60% mampu menunjang pertumbuhan jamur Aspergillus flavus dengan konsentrasi media alternatif yang paling optimal untuk pertumbuhan jamur yaitu pada konsentrasi 60%. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan membuat media alternatif menggunakan sumber karbohidrat lain dan spesies jamur uji berbeda.