cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
sutia.budi@universitasbosowa.ac.id
Phone
+6281342239898
Journal Mail Official
pallangga.jurnal@universitasbosowa.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Bosowa, Gedung A, Lt 8. Jl. Urip Sumoharjo Km. 4 Makassar Lt. 8 Gedung A Universitas Bosowa Email: pallangga.jurnal@universitasbosowa.ac.id
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pallangga: Journal of Agriculture Science and Research
Published by Universitas Bosowa
ISSN : 29874149     EISSN : 29875994     DOI : https://doi.org/10.56326/pallangga.v2i2
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian dan hasil pemikiran termasuk pengembangan dan review bidang pertanian yang mencakup antara lain ilmu tanah, budidaya tanaman semusim, budidaya pertanian dan perkebunan, pangan olahan, rekayasa pangan, analisis pangan, mikrobiologi pangan, manajemen agribisnis, ekonomi pertanian dan sosiologi pedesaan. Bagi penulis yang memiliki artikel pada bidang ini dapat disesuaikan dengan panduan penulisan dan template kemudian disubmit secara online di website jurnal dengan melakukan registrasi terlebih dahulu.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
Pembuatan Kerupuk Ikan Cakalang Dengan Penambahan Biji Alpukat (Persea americana) Ferby Anggun Aprilyanti; Rosdiani Azis; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.4974

Abstract

Fish crackers are a dry food product made from starch flour and fish meat with the addition of other permitted food ingredients. This research aims to determine the effect of adding avocado seed pulp on the water content, ash content, degree of expansion, and organoleptic properties of skipjack tuna (cakalang) crackers. The method used was a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications, namely the addition of avocado seed pulp at 1% (F1), 2.5% (F2), 4% (F3), and 5.5% (F4). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by the Least Significant Difference (LSD/BNT) test where appropriate. The addition of avocado seed pulp had a significant effect on water content, aroma, taste, and texture. Water content decreased as the proportion of avocado seed pulp increased, ranging from 6.70% (F1) to 4.09% (F4), well within the SNI 2713.3:2009 maximum limit of 11%. The degree of expansion increased with higher avocado seed pulp addition, from 26.65% (F1) to 32.27% (F4), consistent with the higher amylopectin content contributed by the avocado seed starch. Among the organoleptic attributes, F1 (1% avocado seed pulp) received the most preferred scores for color (3.76), aroma (3.73), and taste (3.92), while F4 (5.5%) received the most preferred score for texture (3.59). No single treatment was superior across every parameter tested; the choice of optimum formulation therefore depends on which quality attribute is prioritized. Kerupuk ikan adalah produk makanan kering yang dibuat dari tepung pati dan daging ikan dengan penambahan bahan-bahan lain yang diizinkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubur biji alpukat terhadap kadar air, kadar abu, derajat pengembangan, dan sifat organoleptik kerupuk ikan cakalang. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu penambahan bubur biji alpukat 1% (F1), 2,5% (F2), 4% (F3), dan 5,5% (F4). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) apabila diperlukan. Penambahan bubur biji alpukat berpengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, rasa, dan tekstur. Kadar air menurun seiring bertambahnya proporsi bubur biji alpukat, berkisar antara 6,70% (F1) hingga 4,09% (F4), dan seluruh perlakuan telah memenuhi syarat mutu SNI 2713.3:2009 (maksimal 11%). Derajat pengembangan meningkat seiring bertambahnya bubur biji alpukat, dari 26,65% (F1) menjadi 32,27% (F4), sejalan dengan kontribusi amilopektin dari pati biji alpukat. Pada uji organoleptik, F1 (bubur biji alpukat 1%) memperoleh skor kesukaan tertinggi untuk warna (3,76), aroma (3,73), dan rasa (3,92), sedangkan F4 (5,5%) memperoleh skor kesukaan tertinggi untuk tekstur (3,59). Tidak terdapat satu perlakuan tunggal yang unggul pada seluruh parameter yang diuji, sehingga pemilihan formulasi optimum bergantung pada atribut mutu yang menjadi prioritas.
Pengaruh Nisin Dalam Edible Coating Alginat Terhadap Mutu Stroberi Selama Penyimpanan Ahmad Dwi Rizky; Suriana Laga; Fatmawati Fatmawati
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5078

Abstract

This study evaluated the effect of nisin concentration in an alginate-based edible coating on the physicochemical quality of strawberries during storage. All fruits were coated with 2% (w/v) alginate and 2% (w/v) glycerol, while nisin was varied at 0, 0.5, and 1% (w/v). A 3 × 4 factorial completely randomized design was used, comprising three nisin concentrations and four storage periods (0, 2, 4, and 6 days), with two replications. Weight loss, moisture content, vitamin C, and pH were analyzed using two-way analysis of variance followed by the least significant difference test at 5% when appropriate. Nisin concentration and storage time affected all measured responses, whereas their interaction was not significant for weight loss but was significant for moisture content, vitamin C, and pH. The 1% nisin formulation showed the lowest mean weight loss (46%) and, on day 6, retained higher moisture (61.84%) and vitamin C (12.9 mg/100 g), with a lower pH (3.85), than the coating without nisin.  This experiment did not include an uncoated control, microbiological measurements, or coating characterization, the findings demonstrate a comparative effect of nisin within the alginate-coating system but do not yet establish shelf-life extension or antimicrobial efficacy. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi nisin dalam edible coating berbasis alginat terhadap mutu fisikokimia buah stroberi selama penyimpanan. Seluruh buah dilapisi larutan alginat 2% (b/v) dan gliserol 2% (b/v), sedangkan konsentrasi nisin divariasikan menjadi 0; 0,5; dan 1% (b/v). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial 3 × 4 yang terdiri atas tiga konsentrasi nisin dan empat lama penyimpanan (0, 2, 4, dan 6 hari) dengan dua ulangan. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, vitamin C, dan pH. Data dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji BNT taraf 5% apabila berpengaruh nyata. Konsentrasi nisin dan lama penyimpanan memengaruhi seluruh parameter, sedangkan interaksi kedua faktor tidak nyata pada susut bobot, tetapi nyata pada kadar air, vitamin C, dan pH. Formulasi nisin 1% menghasilkan rata-rata susut bobot terendah (46%) dan pada hari ke-6 mempertahankan kadar air 61,84%, vitamin C 12,9 mg/100 g, serta pH 3,85. Penelitian ini tidak menggunakan kontrol tanpa coating, tidak mengukur jumlah mikroba, dan tidak mengarakterisasi lapisan, hasil ini menunjukkan pengaruh komparatif nisin di dalam sistem coating alginat, tetapi belum membuktikan perpanjangan masa simpan maupun efektivitas antimikroba.
Budidaya Kentang (Solanum tuberosum L.) Ramah Lingkungan di Dataran Medium Bonto Marannu Nurul Hicmah; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5538

Abstract

Potato cultivation in medium-altitude areas offers an opportunity to expand production while reducing environmental pressure in highland areas, but pest management must minimize reliance on synthetic pesticides. This study described environmentally friendly cultivation practices and the use of biopesticides by Granola potato farmers in Bonto Marannu Village, Ulu Ere District, Bantaeng Regency. A descriptive case-study approach was applied to 10 farmers from the Abbulo Sibatang and Samaturu farmer groups. Data were collected through interviews, field observations, and secondary records, then summarized using descriptive statistics and a comparison of reported cultivation indicators. Respondents had an average age of 42.6 years, cultivated 2.50 ha of land, had 10.5 years of farming experience, and produced 14.3 t/ha on average. Reported field indicators showed that biopesticide application reduced pest attack intensity from 40% to 20% and leaf damage from 35% to 15%, while the proportion of grade-A tubers increased from 60% to 75%. However, the comparative production record decreased from 18–19 to 15–16 t/ha. These findings indicate that biopesticides can improve pest suppression and tuber quality, but ecological benefits do not automatically increase yield. Standardization of formulation, dose, application frequency, and economic evaluation is required before the practice can be recommended more broadly. Budidaya kentang di dataran medium berpeluang memperluas wilayah produksi sekaligus mengurangi tekanan lingkungan di dataran tinggi, tetapi pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetis. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya ramah lingkungan dan penggunaan biopestisida oleh petani kentang varietas Granola di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 10 petani dari kelompok tani Abbulo Sibatang dan Samaturu. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, dan data sekunder, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui peringkasan karakteristik responden dan perbandingan indikator budidaya yang dilaporkan. Responden memiliki rata-rata umur 42,6 tahun, luas lahan 2,50 ha, pengalaman bertani 10,5 tahun, dan hasil panen 14,3 ton/ha. Data lapangan menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida menurunkan intensitas serangan hama dari 40% menjadi 20% dan kerusakan daun dari 35% menjadi 15%, sedangkan proporsi umbi grade A meningkat dari 60% menjadi 75%. Namun, catatan produksi komparatif menurun dari 18–19 menjadi 15–16 ton/ha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa biopestisida berpotensi memperbaiki pengendalian hama dan kualitas umbi, tetapi manfaat ekologis belum otomatis meningkatkan produktivitas. Standardisasi formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan evaluasi ekonomi diperlukan sebelum praktik ini direkomendasikan secara lebih luas.
Demonstrasi Teknik Budidaya Kentang Di Desa Bonto Marannu Krisnur Ira Kornelius TB Kornelius; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5541

Abstract

Potato productivity in Bonto Marannu Village is constrained by seed quality, crop management, and pest pressure. This study described farmers' cultivation practices and evaluated the production recorded in a demonstration plot that introduced improved land preparation, selected seed, organic fertilization, and plant-based pest management. A descriptive case-study design was conducted from July to September 2024 with 10 potato farmers from the Hortikultura and Gunung Loka farmer groups. Data were collected through field observation, interviews, questionnaires, and documentation, then summarized descriptively. Respondents were 30-52 years old, had 8-20 years of farming experience, and cultivated 0.7-3.0 ha. Farmers commonly prepared raised beds, planted Granola seed at 25 x 30 cm spacing, applied manure and liquid organic fertilizer, controlled pests using gamal-leaf biopesticide, and harvested at 90-100 days after planting. Farmer productivity was reported at approximately 14-15 t/ha, whereas the demonstration plot produced 15.90 t/ha. The 0.90-1.90 t/ha difference indicates potential improvement under more structured management, but it cannot be attributed solely to the biopesticide because the demonstration did not include a replicated control. The practice should therefore be validated through controlled trials, standardized input doses, and economic analysis before wider recommendation. Produktivitas kentang di Desa Bonto Marannu masih dibatasi oleh mutu benih, pengelolaan budidaya, dan tekanan organisme pengganggu tanaman. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya petani dan mengevaluasi hasil demonstrasi yang memperkenalkan perbaikan pengolahan lahan, pemilihan benih, pemupukan organik, serta pengendalian hama berbahan nabati. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif pada Juli-September 2024 dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Hortikultura dan Gunung Loka. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Responden berumur 30-52 tahun, memiliki pengalaman bertani 8-20 tahun, dan mengelola lahan 0,7-3,0 ha. Praktik budidaya meliputi pembuatan bedengan, penanaman benih Granola dengan jarak 25 x 30 cm, pemupukan menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik cair, pengendalian hama dengan biopestisida daun gamal, serta panen pada umur 90-100 hari setelah tanam. Produktivitas petani dilaporkan sekitar 14-15 ton/ha, sedangkan demonstrasi menghasilkan 15,90 ton/ha. Selisih 0,90-1,90 ton/ha menunjukkan potensi perbaikan melalui pengelolaan yang lebih terstruktur, tetapi belum dapat dikaitkan hanya dengan biopestisida karena demonstrasi tidak menggunakan kontrol dan ulangan eksperimental. Teknik tersebut perlu divalidasi melalui percobaan terkontrol, standardisasi dosis input, dan analisis ekonomi sebelum direkomendasikan secara luas.
Demonstrasi Budidaya Bawang Merah Berbasis Biopestisida Daun Gamal Di Bonto Marannu Fidelis Andi Sa'pang; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5542

Abstract

Shallot farmers in Bonto Marannu apply diverse cultivation practices and still rely partly on synthetic inputs for pest and disease management. This study described farmer characteristics, cultivation practices, and the production achieved in a demonstration plot using gamal leaf biopesticide. The study was conducted from July to August 2024 using a descriptive case-study approach involving 12 farmers from the Montea and Sipassiriki farmer groups, six respondents from each group. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. Respondents had a mean age of 44.7 years, cultivated 2.51 ha on average, and had 17.9 years of farming experience. The main practices included a spacing of 15 × 20 cm, Phonska and urea fertilization, and chemical fungicide application for fungal disease control. Mean farmer production was 9.33 t/ha in Montea and 8.67 t/ha in Sipassiriki, whereas the demonstration plot produced 11.50 t/ha. The higher demonstration-plot yield is descriptive and cannot be attributed solely to gamal leaf biopesticide because the plot size, untreated control, and replication were not reported. The practice is nevertheless relevant as an environmentally friendlier component of integrated crop management, provided that formulation, dose, application frequency, and target pests are standardized. Petani bawang merah di Desa Bonto Marannu menerapkan teknik budidaya yang beragam dan masih menggunakan sebagian input sintetis untuk pengendalian hama dan penyakit. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik petani, teknik budidaya, serta hasil produksi pada demonstrasi plot yang menggunakan biopestisida daun gamal. Penelitian dilaksanakan pada Juli–Agustus 2024 menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 12 petani dari Kelompok Tani Montea dan Sipassiriki, masing-masing enam responden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Responden memiliki rata-rata umur 44,7 tahun, luas lahan 2,51 ha, dan pengalaman bertani 17,9 tahun. Teknik utama meliputi jarak tanam 15 × 20 cm, pemupukan Phonska dan urea, serta penggunaan fungisida kimia untuk pengendalian penyakit jamur. Rata-rata produksi petani mencapai 9,33 ton/ha pada Kelompok Tani Montea dan 8,67 ton/ha pada Kelompok Tani Sipassiriki, sedangkan demonstrasi plot menghasilkan 11,50 ton/ha. Hasil demonstrasi plot yang lebih tinggi bersifat deskriptif dan belum dapat dikaitkan hanya dengan biopestisida daun gamal karena ukuran plot, kontrol tanpa biopestisida, dan ulangan tidak dilaporkan. Biopestisida daun gamal tetap relevan sebagai komponen budidaya yang lebih ramah lingkungan apabila formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan organisme sasaran distandardisasi.
Strategi Kelangsungan Hidup Petani Kakao Di Desa Saludengen Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat Asmerta Asmerta; Faidah Azuz; Nurlaela Nurlaela
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5703

Abstract

Cocoa crop production has recently fallen which has resulted in low income of cocoa farmers, so that strategies are needed for daily living necessities. This study aims to find out the survival strategies adopted by cocoa farmers in Saludengen Village, Bambang Sub-district, Mamasa Regency, West Sulawesi Province to fulfill their daily needs. This research was conducted in Saludengen Village, Bambang Sub-district, Mamasa Regency. The sample in this study was 37 people whose main crop is cocoa. The data analysis method used qualitative descriptive analysis. The results showed that there are three types of strategies carried out by cocoa farmers, namely active strategy which is a survival strategy carried out by utilizing all the potential owned, passive strategy is a survival strategy carried out by reducing family expenditures, and network strategy is a strategy implemented by capitalizing on social networks. Produksi tanaman kakao akhir-akhir ini mengalami penurunan yang mengakibatkan  rendahnya pendapatan petani kakao, sehingga dibutuhkan strategi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi kelangsungan hidup yang dilakukan oleh petani kakao   di Desa Saludengen Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penelitian ini dilakukan di Desa Saludengen Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 37 orang yang tanaman utamanya adalah kakao. Metode analisisi data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga jenis strategi yang dilakukan oleh petani kakao yakni strategi aktif yaitu strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki, strategi pasif merupakan strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara mengurangi pengeluaran keluarga, dan strategi jaringan berupa strategi yang dilakukan dengan cara memanfaatkan jaringan sosial.
Minat Mahasiswa Fakultas Pertanian Untuk Bekerja Di Sektor Pertanian An’NurHidayah Aqsari; Faidah Azuz; Suryawati Salam
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6615

Abstract

This study aims to determine the interest of agricultural faculty students in working in the agricultural sector. The method used in this study is quantitative descriptive analysis. The study was conducted at the Faculty of Agriculture, Bosowa University. There were 107 respondents. The results of this study indicate that the interest of agricultural faculty students in working in the agricultural sector is influenced by gender and family background. Overall, this study shows that the younger generation has the option to work in agriculture, especially in off-farm activities. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat mahasiswa fakultas pertanian untuk bekerja di sektor pertanian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Bosowa. Responden yang digunakan berjumlah 107 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat mahasiswa fakultas pertanian untuk bekerja di sektor pertanian dipengaruhi oleh jenis kelamin dan latar belakang keluarga. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki pilihan untuk berkerja dibidang pertanian terkhusus pada kegiatan off farm.
Pendapatan Usaha Ikan Lele Dan Ikan Patin Sistem Keramba Jaring Apung Di Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa Aisyah Satira; Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri; Andi Tenri Fitriah
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6621

Abstract

This study aims to determine the income generated from catfish and patin fish farming using the floating net cage system at UD Juku' Lele in Benteng Somba Opu Village, Barombong Subdistrict, Gowa District. Catfish and patin fish farming using the floating net cage system, which utilizes the banks of the Je'ne'berang River, can increase community income. This study was conducted at UD Juku' Lele in Benteng Somba Opu Village, Barombong Sub-district, Gowa District from March to April 2025. The study involved three respondents selected through purposive sampling, using quantitative analysis methods. Data collection was conducted through interviews, with the results showing that the average income received by UD Juku' Lele in Benteng Somba Opu Village, Barombong Sub-district, Gowa District for catfish was Rp. 18,678/kg, while the average income for patin fish was Rp. 21,560/kg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan yang diperoleh dari budidaya ikan lele dan ikan patin pada sistem Keramba Jaring Apung UD Juku' Lele Di Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa. Usaha budidaya ikan lele dan ikan patin dengan sistem keramba jaring apung yang memanfaatkan tepian sungai Je'ne'berang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di UD Juku' Lele, Kelurahan kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa pada bulan Maret sampai April 2025. Responden dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yang dipilih secara sengaja (purposive), dengan menggunakan metode analisis kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diterima UD Juku' Lele di Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa untuk ikan lele sebanyak Rp. 18.678/Kg sedangkan rata-rata pendapatan yang diperoleh untuk ikan patin sebanyak Rp. 21.560/Kg.
Faktor Penyebab Alih Penggunaan Lahan Usahatani Kakao Menjadi Kelapa Sawit Di Kabupaten Kolaka Timur Nita Anugrah; Faidah Azuz; Nurlaela Nurlaela
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6622

Abstract

This study aims to determine the causes of the conversion of cocoa farming land to oil palm in Mondoke Village, Lambandia District, East Kolaka Regency. Data analysis used in this study is Qualitative Descriptive Analysis. This research was conducted in Mondoke Village, Lambandia District, East Kolaka Regency with a total of 18 farmers who responded to the land conversion. The main triggers were firstly price, secondly promising oil palm prospects and finally pests and diseases. Generally, farmers started cocoa cultivation in 2000 and converted to oil palm plantations in 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab alih penggunaan lahan usahatani kakao menjadi kelapa sawit di Desa Mondoke Kecamatan Lambandia Kabupaten Kolaka Timur. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis Deskriptif Kualitatif. Penelitiam ini dilakukan di Desa Mondoke Kecamatan Lambandia Kabupaten Kolaka Timur dengan jumlah responden sebanyak 18 orang petani yang beralih lahan. pemicu utamanya adalah yang pertama harga, kedua prospek sawit menjanjikan dan yang terakhir hama dan penyakit. Umumnya petani memulai kakao pada tahun 2000 dan melakukan alih penggunaan lahan ke kelapa sawit pada tahun 2021.
Pengaruh Penambahan Kelapa Sangrai Terhadap Karakteristik Fisikokimia Dan Sensori Cokelat Batang Dwi Angraeni; Fatmawati Fatmawati; Rosdiani Azis
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.6758

Abstract

This study evaluated the effect of roasted coconut addition on the physicochemical and sensory characteristics of chocolate bars. Four formulations were prepared by adding 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), or 15% (P4) roasted coconut to 100 g of chocolate paste. A completely randomized design with three replications was used. Fat, moisture, and ash contents were analyzed, while color, aroma, taste, and texture were assessed by 25 panelists using a five-point hedonic scale. Data were evaluated by one-way analysis of variance and the least significant difference test at a = 0.05 when a significant treatment effect was detected. Roasted coconut addition significantly affected fat content (p = 0.020) and moisture content (p = 0.010), but did not significantly affect ash content (p = 0.081), color (p = 0.467), aroma (p = 0.311), taste (p = 0.410), or texture (p = 0.072). Fat and moisture contents increased from 42.45% and 1.85% in P1 to 46.70% and 3.50% in P4, respectively. Sensory scores ranged from 2.83 to 4.10 and did not differ statistically among formulations. The 5% formulation may be considered a practical compromise because it incorporated roasted coconut while maintaining moisture below 2%; however, an overall optimum was not statistically established. Complete standard compliance cannot be concluded because only selected chemical parameters were measured and variability statistics were not reported. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh penambahan kelapa sangrai terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori cokelat batang. Empat formulasi dibuat dengan menambahkan kelapa sangrai sebesar 0% (P1), 5% (P2), 10% (P3), dan 15% (P4) pada 100 g pasta cokelat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar lemak, kadar air, kadar abu, serta tingkat kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan 25 panelis dan skala hedonik lima tingkat. Data dianalisis melalui analisis ragam satu arah dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada a = 0,05 apabila perlakuan berpengaruh nyata. Penambahan kelapa sangrai berpengaruh nyata terhadap kadar lemak (p = 0,020) dan kadar air (p = 0,010), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu (p = 0,081), warna (p = 0,467), aroma (p = 0,311), rasa (p = 0,410), dan tekstur (p = 0,072). Kadar lemak dan kadar air meningkat dari 42,45% dan 1,85% pada P1 menjadi 46,70% dan 3,50% pada P4. Skor sensori berkisar 2,83–4,10 dan tidak berbeda nyata antarfomulasi. Formulasi 5% dapat dipertimbangkan sebagai kompromi praktis karena telah mengandung kelapa sangrai dengan kadar air di bawah 2%, tetapi formula optimum secara keseluruhan belum dapat ditetapkan secara statistik. Kesesuaian penuh terhadap standar produk juga belum dapat disimpulkan karena penelitian hanya mengukur sebagian parameter kimia dan belum melaporkan ukuran keragaman data.