cover
Contact Name
Rahmat Sewa Suraya
Contact Email
mhat_suraya@yahoo.co.id
Phone
+6285395828765
Journal Mail Official
lisani.tradisilisan@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Universitas Halu Oleo, Gedung Fakultas Ilmu Budaya Lantai II, Jl. H.E.A. Mokodompit, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
LISANI : Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 26139006     EISSN : 26224909     DOI : https://doi.org/10.33772/lisani
Jurnal ini berisi tentang hasil penelitian, artikel ilmiah, makalah ilmiah dalam bidang kelisanan dalam bidang sastra dan budaya di Indonesia. Jurnal ini terbuka untuk para peneliti dan para penulis yang berminat dalam kajian tradisi lisan khususnya kelisanan dalam budaya dan sastra di Indonesia.
Articles 126 Documents
EKSISTENSI TRADISI PEKANDE-KANDEA PADA MASYARAKAT TOLANDONA KECAMATAN SANGIA WAMBULU KABUPATEN BUTON TENGAH Wa Ode Ferdayandi
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 1 (2021): Volume 4 Nomor 1, Januari-Juni 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i1.1258

Abstract

Penelitian ini dilakukan di dua tempat yakni Desa Tolandona Matanaeo dan Kelurahan Tolandona. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi Pekande-kandea pada masyarakat Tolandona Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Tengah, (2) Untuk menjelaskan pola pewarisan tradisi Pekande-kandea oleh masyarakat Tolandona Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah, (3) untuk menjelaskan fungsi dan implikasi tradisi Pekande-kandea pada masyarakat Tolandona Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu (1) observasi yaitu peneliti melihat secara langsung proses pelaksanaan tradisi Pekande-kandea untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan untuk melanjutkan penelitian, (2) Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi yang tepat mengenai proses, pola pewarisan serta implikasi tradisi Pekande-kandea pada masyarakat Tolandona Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah, (3) dokumentasi sebagai bukti untuk memperkuat hasil penelitian. Tehnik penentuan informan dilakukan secara snowball sampling. Tehnik analisis terdiri dari tiga tahap yaitu reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah (1) proses pelaksanaan Pekande-kandea memiliki beberapa tahap yaitu (a) tahap persiapan (persiapan alat dan bahan), (b) tahap pelaksanaan dan (c) tahap akhir. (2) Pola pewarisan tradisi Pekande-kandea dilakukan secara langsung oleh masyarakat itu sendiri secara turun temurun. (3) Implikasinya dalam kehidupan masyarakat Tolandona yakni dampak positif dan negatif yang yaitu (a) dampak sosial, (b) dampak ekonomi, dan (c) dampaknya sebagai hiburan.
RITUAL PITON-PITON PADA ETNIK JAWA DI DESA LABUKOLO KECAMATAN TIWORO TENGAH KABUPATEN MUNA BARAT retno gemilang; Syahrun Syahrun; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1326

Abstract

Ritual Piton-piton merupakan ritual yang dilaksanakan oleh etnik Jawa khususnya di Desa Labukolo ketika ada anak bayi yang berusia tujuh bulan diadakan ritual menginjakan kaki ke tanah, ritual menginjakkan kaki ke tanah merupakan suatu ritual dimana manusia wajib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena diberikan kehidupan yang lebih baik . Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan ritual ritual Piton-Piton pada etnik Jawa di Desa Labukolo Kecamatan Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat (2) untuk menganalisis makna yang terkandung dalam ritual Piton-Piton pada etnik Jawa di Desa Labukolo Kecamatan Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik obsevasi (pengamatan), wawancara mendalam dan dokumentasi. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan teknik proposive sampling data yang dianalisis mengunakan teknik sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ritual Piton-Piton dilaksanakan atas beberapa tahap yakni: tahap persiapan bahan: jadah dua warna, kurungan, air dan bunga, pakaian. Tahap pelaksanaa yaitu: menginjakkan kaki bayi ke jadah, dikurungi bayi, memandikan bayi menggunakan air dan bunga, dan ganti baju. Makna dari setiap tahap pelaksaan yaitu: makna dari menginjkkan kaki di Jadah agari anak dapat mengatasi kesulitan dan orang tua berharap semoga anak tersebut kelak dapat mengatasi kesulitan hidup, makna dari dikurunggi yaitu: agar bayi dapat menyesuaikan diri ke dalam masyarakat luas, makna dimandikan yaitu: agar selalu dalam lindungan Allah sarta dapat mengharumkan busana bisa melihat derajat orang tersebut serta dengan pakaian manusia dapat diketahui berbudaya dan asal mereka darimana walaupun demikian seoerang manusia akan tetap saling kergantungan satu sama lain.
TARI MOMAANI DALAM PROSESI ADAT METIWAWA PADA ETNIK MORONENE DI KECAMATAN RUMBIA KABUPATEN BOMBANA iman saputra; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1346

Abstract

Tari momaani merupakan salah satu jenis tari tradisional yang dimiliki oleh masyarakat moronene dan berbentuk tari perang sekaligus tari penyambutan. Tujuan dalam penelitian ini adalah, (1) Untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari momaani dalam prosesi metiwawa pada etnik moronene di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana, (2) Untuk menganalisis makna gerak tari momaani dalam prosesi metiwawa pada etnik moronene di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana, (3) Untuk mengetahui fungsi tari momaani dalam prosesi metiwawa pada etnik moronene di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana. Penelitian ini dilakukan mulai bulan april sampai mei pada tahapan pra-observasi dan penelitian secara utuh mulai bulan juni sampai juli, yang dilaksanakan bertempat di Kelurahan Doule Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung, wawancara terhadap informan dan dokumentasi, penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling, analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikkan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk penyajian tari Momaani, pertama digunakan sebagai pengawal raja (mokole), yang kedua digunakan sebagai pengawal tinaniwawa atau mempelai wanita pada saat prosesi metiwawa atau tradisi pengataran mempelai wanita menuju kediaman mempelai pria untuk melakukan proses pernikahan atau akad nikah, selain perubahan yang terjadi pada media pelaksaannya, terdapat juga perubahan dalam bentuk tahapan pelaksanaan tari yaitu pada saat melakukan pengawalan terhadap raja, penari terlebih dahulu melakukan ritual mebaho kabala (mandi kebal), sedangkan pada saat metiwawa para penari tidak melakukan ritual pemandian tersebut, akan tetapi makna gerak dan fungsi tari momaani masih dipercaya dan diterapkan oleh masyarakat moronene,berdasarkan hasil penelitian tersebut tari momaani yang dilakukan pada saat ini termasuk dalam tari tradisional yang telah dikreasikan dalam bentuk yang lebih modern yang meyebabkan hilangnya sebagian nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tari momaani tersebut.
RITUAL SINGKU SARIGAPADA MASYARAKAT KELURAHAN KADOLOKATAPI KECAMATAN WOLIO KOTA BAUBAU adrita adrita; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1347

Abstract

ADRITA (N1E1 16 003 ): telah melakukan penelitian deangan judul “Ritual Singku Sariga (doa selamat ) pada mayarakat Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau”. Dibimbing oleh Bapak Dr. La Ode Dirman.,M.Si dan Rahmat Sewa Suraya, S.Sos., M.Si Penelitian dilakukan di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan dan makna simbolik yang terkandung dalam ritual singku sariga pada suku buton di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskripsi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelaksanaan ritual singku sariga memiliki beberapa tahap yaitu (1) tahap persiapan bahan ritual singku sariga (2) tahap pelaksanaan (3) tahap akhir. Makna simbolok dalam ritual singku sariga yaitu makna alat dan bahan sesajin berupa dupa,telur,waje,cucur,pisang,tuli-tuli. Secara umum makna ritual singku sariga yaitu meminta perlindungan kepada Allah SWT, supaya dilindungi dari gangguan mahluk hajus/ mahluk gaib serta memudahkan pertumbuhan bayi. Makna yang terkandung dalam pelaksanaan singku sariga (doa selamat) adalah harapan lahirnya bayi bisa tumbuh dengan normal dan sempurna seperti anak lainya serta di berikan umur pannjang dan kesehatan
PRIMBON DALAM MASYARAKAT JAWA DI DESA SONAI KECAMATAN PURIALA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA yolan rahmawati Tampong; La Niampe; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1348

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana proses penggunaan primbon dalam masyarakat Jawa di Desa Sonai Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe dan fungsi primbon dalam masyarakat Jawa di Desa Sonai Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil yang di peroleh dari penelitian ini yakni proses penggunaan primbon dalam (penentuan hari baik) di Desa Sonai digunakan dalam pernikahan, sunatan (khitanan), pindah rumah, dan penanaman padi pertama. sedangkan fungsi primbon dalam masyarakat Jawa di Desa Sonai Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe, yakni, mengacu kepada pendapat Malinowski dalam koendjaraningrat yang membedakan fungsi sosial kedalam tiga abstraksi yaitu, pertama adalah pengaruh atau efeknya terhadap adat, tingkah laku sosial dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat. Kedua mengenai pengaruh dan efeknya terhadap kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencari maksudnya, seperti yang di konsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Ketiga terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. begitupun dengan primbon yang sama halnya juga berfungsi untuk mengatur agar manusia dapat memahami bagaimana seharusnya bertingkah laku dan berbuat untuk memahami kebudayaan hidupnya dalam masyarakat, primbon yang dimana di jadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa di Desa Sonai untuk menjalankan hidup mereka agar terhindar dari malapetaka yang mereka yakini, di dalam sebuah primbon telah di atur atau ditentukan segala sesuatu yang akan di jalankan oleh masyarakat jawa, serta primbon tidak dijadikan sebagai kebutuhan yang mutlak bagi adat di karenakan masyarkat jawa di desa sonai tidak semua percaya akan primbon tetapi mereka masih menjalankan perimbon hanya semata-mata karena menghargai sebuah tradisi mereka
TRADISI LOLA’A PADA MASYARAKAT DESA LANGGE KECAMATAN KALEDUPA SELATAN KABUPATEN WAKATOBI Syahrun Syahrun; Fera Margawati; Salniwati Salniwati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1349

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Langge Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi dengan tujuan untuk mengetahui Bagaimana latar belakang munculnya tradisi lola’a dan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi lola’a pada Suku Buton di Desa Langge kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan (observasi), wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive sampling, forman terdiri dari tokoh adat, imam, tokoh masyarakat, dan informan yang lain yang mengetahui tradisi tersebut. Teknik analisis data penelitian ini terdiri dari empat tahap pengumpulan, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang tradisi lola’a adalah upaya doa untuk menghilangkan penyakit yang ada di kampung dan dilakukan di laut. Munculnya tradisi lola’a memiliki beberapa tahap yaitu tahap persiapan didahului dengan cara menghimbau masyarakat yang lain bahwa akan dilakukan tradisi lola’a karena sudah pergantian musim atau kampung sedang dilanda penyakit musiman, b) Tahap awal yaitu Awal pelaksanaan ritual lola’a adalah mengumpulkan atau mempersiapkan bahan untuk upacara, dan c) Tahap pelaksanaan yaitu melepaskan miniatur perahu yang dilakukan oleh juru kunci tradisi lola’a. 3) Makna yang terkandung dalam tradisi lola’a di Desa Langge Kecamatan Kaledupa Selatan Kabupaten Wakatobi meliputi: a) Religi yaitu sebelum perahu dilepaskan diadakan pembacaan doa tolak bala yang dimaksudkan agar semua penyakit musiman ikut bersama miniatur perahu yang telah dilepaskan untuk dibawah serta lautan, b) Sosial yaitu dimana masyarakat sama-sama terlibat dari berbagai aspek pelaksanaan, dari pergi mencari kayu untuk pembuatan perahu, perbaikan perahu, penghiasan perahu, sampai pelepasan miniatur perahu, dan c) Budaya yaitu upacara adat yang tetap dilestarikan sampai sekarang.
TRADISI KAFEGHONDO PADA ETNIK MUNA DI DESA BONE KANCITALA KECAMATAN BONE KABUPATEN MUNA eli sastrawati; La Niampe; Syahrun Syahrun
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1350

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu: (1) Mengatahui bentuk-bentuk Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna, (2) Bagaimanah Fungsih Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna dan (3) Bagaimana Makna Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif. Pengumpulan data di lakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasri partisipasi (participan observer), wawancara secara mendalam (indepth interview) dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) Bentuk-bentuk Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna yaitu (a) Bentuk Kafeghondo sebagai alternatif pengobatan (b) bentuk Kafeghondo sebagai petunjuk barang hilang dan (c) Bentuk kafeghondo sebagai petunjuk jodoh dan rezeki, (2) Fungsi Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna yaitu, fungsi religi dan sosial, dan (3) Makna Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna yaitu; (a) Makna identitas bahwa di dalam tradisi kafeghondo mengandung nilai-nilai yang bermakna luhur, dan itu merupakan salah satu jati diri masyarakat, (b) Makna solidarias bahwa tradisi kafeghondo menggambarkan hubungan antar individu dan atau kelompok yang ada pada suatu komunitas masyarakat yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang di anut bersama
MAKNA SARANA DAN PRASARANA UPACARA NGABEN PADA ETNIS BALI DI DESA LAMOARE KECAMATAN LOEA KABUPATEN KOLAKA TIMUR SULAWESI TENGGARA Muh Agung Saputra; Syahrun Syahrun; Komang Wahyu Rustiani
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1364

Abstract

Upacara ngaben merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Bali di Desa Lamoare Kecamatan Loea Kabupaten Kolaka Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses dan makna upacara ngaben pada masyarakat Bali di Desa Lamoare Kecamatan Loea Kabupaten Kolaka Timur. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kualitatif.Teknik penentuan informan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitratif.Teknik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan tekni Proposive sampling.Data dianalisis dengan teknik sebagai berikut: pengumpulan data, reduksi data, klasifikasi data, display data serta mengambil kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu proses upacara ngaben diantaranya: 1. Proses upacara ngaben, yaitu yang pertama pengumuman kematian orang yang meninggal. 2. Pengumuman kematian jenazah, hal ini biasanya dilakukan oleh keluarga. 3. Pembersihan jenazah, pembersihan ini berupa memandikan jenazah. 4. Ngaben, ngaben merupakan proses pembakaran jenazah dan penaburan abu yang dilakukan dilaut atau sungai yang berdekatan dengan setra. 5. Asti Wedhana, merupakan tingkatan upacara Pitra Yadnya yang lebih tinggi pada umumnya. 6. Nabur Abu dilaut atau sungai, nabur abu dilaut adalah upacara terakhir dalam serangkaian upacara ngaben”.Makna upacara ngaben 1.Makna upacara ngaben, memiliki makna yaitu pengembalian Panca Maha Bhuta. 2. Makna Kwangen, memiliki makna simbolik ongkara“aksara suci umat Hindu” yang artinya Kwangen yaitu suku Bali. 3. Makna DamarAngenan/Layon, Damar Angenan merupakan salah satu symbol untuk menerangi roh orang yang telah meninggal serta menerangi jalannya Sang Hilang(mayat).. 4. Makna kain putih, yaitu cara untuk mempraktiskan agar jenazah tidak dibolak-balik pada saat pemasangan kain kafan. 5. Makna uang kepeng(pis bolong), pis bolong bermakna untuk persembahan bekal sang Hilang(mayat). 6. Makna kelapa gading, kelapa gading tidak akan terlepas dari kehidupan masyarakat Bali. 7. Makna Dhaksina, Dhaksina merupakan sebuah tapakkan sang HyangWidhi”. 8. Makna Tirtha Pengantas, merupakan sebuah symbol dalam pelaksanaan upacara ngaben yang dilakukan oleh umat Hindu di Desa Lamoare Kecamatan Loea Kabupaten Kolaka Timur.
EKSISTENSI TARI KATUMBU PADA MASYARAKAT KECAMATAN TONGKUNO KABUPATEN MUNA Sri Rahmadani Salim; La Niampe; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1365

Abstract

Tari Katumbu merupakan tarian yang menceritakan tentang proses pengelolaan panen, sebagai bentuk suka cita masyarakat kecamatan Tongkuno terhadap keberhasilan hasil panen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan tari katumbu pada masyarakat Muna Kecamatan Tongkuno. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pelaksaan tari Katumbu terdapat bentuk penyajian tari Katumbu yaitu, Gerak tari Katumbu, Pola lantai, Alat music, Penari, Kostum, Tata rias, Properti. Proses pelaksaan tari Katumbu diantaranya, pada saat pesta panen, acara resmi dan pada saat acara pernikahan. Eksistensi tari Katumbu di antaranya, Sejarah tari Katumbu, Keberadaan tari Katumbu saat ini, Upaya mempertahankan tari Katumbu
POLA PEWARISAN KEPEMIMPINAN PUUTOBU PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA TIRAOSU KECAMATAN KOLONO KABUPATEN KONAWE SELATAN Alfi Seftiawan; Abdul Alim; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1379

Abstract

Puutobu merupakan salah satu jabatan tradisional yang memiliki pengaruh sangat besar dalam urusan adat dan budaya pada masyarakat Suku Tolaki. Tujuanpenelitian ini adalah untuk menjelaskan pola pewarisan dan manfaat kepemimpinan Puutobu bagi masyarakat Tolaki di Desa Tiraosu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola pewarisan kepemimpinan Puutobu pada masyarakat Tolaki memiliki pewarisan melalui beberapa tahap belajar diantaranya bimbingan langsung dari Puutobu terdahulu, menghadiri kegiatan pelaksanaan adat di masyarakat, dan melaksanakan Kegiatan Adat Melalui Bimbingan Puutobu. Manfaat kepemimpinan puutobu bagi masyarakat Tolaki diantaranya Sebagai suri teladan, sebagai generasi tua yang ahli di bidang adat, sebagai pemimpin yang dihormati dan dicintai, serta Puutobu sebagai penegak hukum adat Tolaki.

Page 7 of 13 | Total Record : 126