cover
Contact Name
Rahmat Sewa Suraya
Contact Email
mhat_suraya@yahoo.co.id
Phone
+6285395828765
Journal Mail Official
lisani.tradisilisan@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Universitas Halu Oleo, Gedung Fakultas Ilmu Budaya Lantai II, Jl. H.E.A. Mokodompit, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
LISANI : Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 26139006     EISSN : 26224909     DOI : https://doi.org/10.33772/lisani
Jurnal ini berisi tentang hasil penelitian, artikel ilmiah, makalah ilmiah dalam bidang kelisanan dalam bidang sastra dan budaya di Indonesia. Jurnal ini terbuka untuk para peneliti dan para penulis yang berminat dalam kajian tradisi lisan khususnya kelisanan dalam budaya dan sastra di Indonesia.
Articles 145 Documents
Tuturan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar Kecamatan Lakuko Kabupaten Buton Tengah Sartika Sartika; La Niampe; La Ode Marhini; La Ode Muhammad Sardiin
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2977

Abstract

Tari Mangaru menggambarkan keberanian para lelaki yang berperang di masa lampau. Tarian ini menampilkan dua orang laki-laki yang berperan sebagai pejuang di medan perang. Keduanya menjadi elemen penting dalam pertunjukan karena merepresentasikan semangat dan suasana pertempuran. Dalam pertunjukan Tari Mangaru, keris digunakan sebagai alat utama. Sebagai tarian yang melambangkan keberanian, penggunaan senjata seperti keris menjadi unsur wajib bagi setiap penari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, dengan fokus pada: (1) fungsi dan makna Tari Mangaru; (2) pola pewarisan tradisi lisan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Informan dalam penelitian ini ditentukan melalui metode purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi dan makna Tari Mangaru bagi masyarakat Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, adalah sebagai simbol kesatria atau laki-laki perkasa. Tari Mangaru merupakan tarian perang yang awalnya digunakan untuk melawan penjajah yang berusaha menguasai wilayah Buton. Namun, saat ini Tari Mangaru difungsikan sebagai sarana hiburan dan penyambutan tamu dalam berbagai acara adat. Pewarisan Tari Mangaru dilakukan oleh tokoh adat melalui beberapa metode, di antaranya: (1) sosialisasi dan (2) pelatihan kepada generasi muda.
Pewarisan Tari Pajogi Pada Masyarakat Desa Patuno Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Nur Iman; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2978

Abstract

Tari Pajogi merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Tarian ini dilaksanakan sebagai bentuk hiburan bagi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui bentuk pertunjukan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi; dan 2) Mengetahui cara pewarisan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep, yaitu konsep tradisi lisan, konsep pewarisan, konsep tari tradisional, dan konsep Tari Pajogi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pajogi merupakan salah satu tarian hiburan di masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi. Pertunjukan Tari Pajogi biasanya dilakukan oleh 3 hingga 6 penari. Tarian ini terdiri dari tiga gerakan utama, yaitu: 1) Gerakan Umba Peku-Peku, 2) Gerakan Biasa, dan 3) Gerakan Mangu-Mangu. Pewarisan Tari Pajogi di Desa Patuno dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1) Pewarisan formal, yang dilakukan melalui pertunjukan dalam perlombaan kebudayaan dan acara perpisahan sekolah; dan 2) Pewarisan nonformal, yang dilakukan melalui pertunjukan pada acara adat seperti Karia serta lingkungan keluarga, di mana orang tua yang memiliki pengetahuan tentang Tari Pajogi mengajarkannya kepada anak-anak mereka.
Pola Pewarisan Tolea Pabitara pada Suku Tolaki di Desa Sambeani Kecamatan Abuki Kabupaten Konawe Aknal S; Erens Elvianus Koodoh; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2979

Abstract

Tolea Pabitara merupakan salah satu jabatan tradisional dalam struktur adat suku Tolaki yang masih diterapkan di Desa Sambeani. Jabatan ini memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Namun, mengingat mayoritas Tolea Pabitara di desa ini berasal dari kalangan orang tua, diperlukan regenerasi untuk memastikan keberlanjutan peran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi syarat menjadi Tolea Pabitara, menganalisis fungsinya, dan memahami pola pewarisannya dalam masyarakat suku Tolaki. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syarat menjadi Tolea Pabitara meliputi garis keturunan, pemahaman terhadap adat istiadat, kemampuan berbahasa adat, dan keaktifan dalam kegiatan sosial. Fungsi Tolea Pabitara mencakup peran sebagai juru bicara dalam perkawinan, mediator saat terjadi penundaan perkawinan, serta fasilitator penyelesaian konflik. Pola pewarisan Tolea Pabitara di Desa Sambeani melibatkan proses pengkaderan dan pelatihan yang berkesinambungan.
Tradisi Wandile Pada Masyarakat Wolio di Desa Lambusango Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton Putri Purnama Sari; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2980

Abstract

Tradisi Wandile merupakan tradisi khas masyarakat Lambusango yang secara khusus dilaksanakan untuk anak pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan dan makna yang terkandung dalam tradisi Wandile. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan tradisi Wandile terdiri atas tiga tahapan: (1) tahap persiapan, meliputi penentuan hari baik serta persiapan alat dan bahan; (2) tahap pelaksanaan, yang berlangsung di rumah pelaku tradisi dan dipimpin oleh bisa (dukun); dan (3) tahap akhir, yaitu pembacaan doa selamat. Tradisi Wandile memiliki makna simbolis di setiap tahapannya, yakni sebagai upaya menjauhkan anak yang diwandile dari hal-hal buruk menurut kepercayaan masyarakat Lambusango. Hingga saat ini, tradisi Wandile masih dilestarikan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Lambusango.
Falia Nokoangkafio Berkebun pada Masyarakat Muna di Desa Kontunaga Kecamatan Kontunaga Yusrifani Yusrifani; Rahmat Sewa Suraya; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2981

Abstract

Falia Nokoangkafio merupakan pantangan yang berlaku dalam masyarakat Muna, khususnya saat berkebun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk ungkapan Falia Nokoangkafio saat berkebun dalam masyarakat Muna di Desa Kontunaga, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna; dan (2) memahami makna dari ungkapan tersebut. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui proses pengumpulan, reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bentuk Falia Nokoangkafio saat berkebun yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat Muna, yaitu memuji tanaman jagung, memanjat pagar kebun, berlari-lari dalam kebun, melangkahi alat tugal jagung, dan menangis di dalam kebun. Setiap bentuk Falia Nokoangkafio memiliki makna simbolis yang diyakini oleh masyarakat sebagai konsekuensi dari tindakan atau ucapan tertentu saat berkebun. Keyakinan ini merefleksikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat Muna yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Makna Ungkapan Adat Melamar dalam Proses Menikah (Fenagho Tungguno Karete) pada Masyarakat Muna di Desa Katobu Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat Rahmat Saban; Samsul Samsul; La Ode Marhini; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2982

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ungkapan adat melamar dalam proses pernikahan (feenagho tungguno karete) pada masyarakat Desa Katobu, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini secara khusus mendeskripsikan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam adat melamar serta makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap mengetahui secara mendalam adat melamar. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat melamar dalam masyarakat Muna dikenal dengan istilah feenagho tungguno karete, yang secara harfiah berarti "menanyakan penjaga pekarangan." Proses penyampaian adat ini dilakukan dalam forum atau pertemuan adat menggunakan bahasa Muna antara delegasi pihak pelamar dan pihak yang dilamar. Adat ini memiliki makna simbolik, di mana kata tungguno menyimbolkan seseorang yang menjaga, merawat, atau mengikat/melamar, sedangkan karete menyimbolkan pekarangan tempat bunga berada, yang menjadi simbol seorang gadis. Proses adat melamar terdiri dari tiga tahapan, yaitu musyawarah (rompu), membawa janji (deowa too), dan melamar secara resmi (fofeena).
Tradisi Pengobatan Lara pada Masyarakat Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat Muhamad Hidayat; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/np119n54

Abstract

Lara merupakan salah satu jenis penyakit langka yang tergolong sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi dari penyakit sebelumnya, seperti bisul, cacar, maupun luka pada bagian tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan masyarakat terhadap tradisi pengobatan Lara serta untuk mengetahui proses pengobatan Lara pada masyarakat di Desa Walelei, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengetahuan masyarakat, Lara dipahami sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi daripenyakit lain yang sebelumnya telah ada. Penyakit ini muncul apabila luka atau penyakit awal tidak ditangani dengan baik dan tidak kunjung sembuh. Lara juga memiliki beberapa jenis, di antaranya: Lara ifi (api), Lara oe (air), dan Lara wandoke. Dalam pengobatan tradisional, prosespenyembuhan Lara melalui beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan bahan-bahan berupa air di dalam gelas, daun kapuk (kadhawa), daun popasa,daun rincik bumi (kambea moloku), daun turi (kambadhawa), dan biji labu tua. Daun kapuk (kadhawa) dikucek dengan sedikit air lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Daun popasa, daun rincik bumi (kambea moloku), dan daun turi (kambadhawa) dicampur dengan sedikit air,kemudian disaring dan diminum oleh pasien. Pasien juga mengonsumsi biji labu tua yang telah dikupas kulitnya, yang dapat dilakukan secara mandiri setelah proses pengobatan. Selain itu, pasien juga meminum air yang telah dibacakan mantra, yang dalam tradisi disebut sebagai air kaferebua
Makna Simbolik Tari Lense Pada Masyarakat Kulisusu Di Desa Rombo Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Felis Andriani; Nurtikawati; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/wrbegd77

Abstract

Tari Lense merupakan tari tradisional asal kulisusu, Tari Lense sendiri terdiri dari kata Lense dimana dalam bahasa Kulisusu Lense memiliki arti menarik yang diartikan menarik perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  Bentuk pertunjukan Tari Lense dan Makna simbolik yang terkandung dalam Tari Lense pada masyarakat di Desa Rombu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Bentuk pertunjukan Tari Lense meliputi Gerakan Tari Lense terdiri dari 8 gerakan yaitu, Poato,Pesombha, Manu-Manu, Mesalili, esudho, Payasa, Petaghali dan Peropa. Penari tari Lense berjumlah tujuh orang dari kalangan anak-anak, dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Akan tetapi, jumlah dapat berkurang ataupun bertambah tergantung dimana dan kapan Tari Lense akan ditampilkan. Pola lantai yang digunakan ada tiga yaitu garis lurus vertikal, segitiga dan garis lurus sejajar horizontal. Iringan musik terdiri dari Tepe, Ndengu-Ndengu, Tawa-Tawa dan Ndoo serta diiringi syair lagu berbahasa Kulisusu. Kostum Tari terdiri dari Pari-Pari/Sungke, Dhali (anting), Jaojaonga (kalung), Bhiludu (baju beludru), Sulepe (ikat pinggang), Simbi (gelang), Dhoridi (sarung/rok). Properti dalam Tari Lense menggunkan properti selendang. Tempat pertunjukan Tari Lense Rumah Baruga Adat pada perayaan hari besar Islam, Panggung Raja Jin. Makna Simbolik Tari Lense meliputi Gerak Tari Lense menggambarkan wanita Kulisusu yang cantik, tangguh, dan anggun. Syair lagu menggambarkan seorang wanita yang bernama Waode Bilahi yang mempelajari Tari Lense. Kostum Tari yang melambangkan identitas masyarakat etnis Kulisusu. Properti selendang yang memiliki mitos tentang bidadari.
Tradisi Pesondo dalam Pengobatan Pada Masyarakat Kulisusu Kabupaten Buton Utara Irawati; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini; Samsul
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/xy945h09

Abstract

Pesondo adalah kebiasaan yang dilakukan ketika anak tertua-yang berusia sekitar tujuh tahun-mencapai usia tertentu. Tujuan penelitian ini yaitu  untuk mendeskripsikan proses, tahapan, fungsi, serta nilai yang terdapat dalam tradisi pesondo dalam pengobatan pada masyarakat Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Pesondo melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap awal penentuan waktu, tahap pelaksanaan yang berlangsung selama dua hari, hari pertama berupa pembuatan pakanama dan hari kedua merupakan inti pelaksanaan tradisi serta tahap akhir berupa pembacaan doa. Tradisi ini memiliki beberapa fungsi penting dalam konteks pengobatan, antara lain fungsi religi sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan, fungsi sosial yang mempererat hubungan masyarakat, serta fungsi sebagai sarana komunikasi baik antaranggota komunitas maupun melalui simbol-simbol ritual. Selain itu, tradisi Pesondo juga mengandung berbagai nilai yang berkontribusi pada pembentukan karakter masyarakat, yaitu nilai komunikatif, nilai religi, nilai tanggung jawab, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai keingintahuan, dan nilai kejujuran.
Tradisi Kapopanga Pada Etnik Muna di Desa Lombu Jaya Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat La Tiara; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/mq1hkr58

Abstract

Kapopanga merupakan ritual adat masyarakat Muna yang berfungsi sebagai proses negosiasi dengan penghuni pohon atau hutan (jin) sebelum pembukaan lahan atau penebangan pohon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan ritual kapopanga serta fungsi tradisi kapopanga pada masyarakat Muna di Desa Lombu Jaya, Kecamatan Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi kapopanga terdiri atas empat tahap, yaitu pengecekan lokasi, persiapan alat dan bahan, pelaksanaan ritual, dan tahap kasolo. Tradisi kapopanga memiliki fungsi religi sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan makhluk gaib, serta fungsi sosial dalam mempererat hubungan antarwarga, memperkuat gotong royong, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.