cover
Contact Name
Martinus Doo
Contact Email
yohaneshenz@stkyakobus.ac.id
Phone
+6282143333336
Journal Mail Official
jpkat@stktouyepaapaadeiyai.ac.id
Editorial Address
Jln. Kompleks Misi Damabagata, Distrik Tigi Timur, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah
Location
Kab. deiyai,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
ISSN : -     EISSN : 30484340     DOI : https://doi.org/10.70343/0mzk8185
JPKAT (Jurnal Pastoral Kateketik) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Katolik "Touye Paapaa" Deiyai, Keuskupan Timika secara berkala pada bulan Juni dan Desember setiap tahunnya. Jurnal ini membahas persoalan pastoral Gereja meliputi masalah: Pendidikan, Katekese, Teologi, Fenomenologi Agama, Liturgi, dan permasalahan umat lainnya.
Articles 26 Documents
Sakramen Baptis Dalam Perspektif Hukum Kanonik Gereja dan Pastoral: Studi Kasus Atas Tanggung Jawab Pelayan Sakramen Tjang, Yanto Sandy; Acin, Mayong Andreas
JURNAL PASTORAL KATEKETIK Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70343/jzbzsj41

Abstract

Sakramen baptis menempati posisi yang sangat fundamental dalam kehidupan Gereja Katolik, karena menjadi dasar kehidupan Kristiani serta pintu masuk menuju penerimaan sakramen-sakramen lainnya. Artikel ini mengkaji tanggung jawab pelayan sakramen baptis dari perspektif hukum kanonik dan pastoral, dengan menyoroti tiga isu utama, yakni pencatatan baptis bagi anak adopsi, penanganan kehilangan arsip baptis, serta kelayakan religius sebagai wali baptis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode normatif-teologis melalui telaah pustaka terhadap Kitab Hukum Kanonik, Katekismus Gerja Katolik, berbagai dokumen pastoral, serta literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan sakramen baptis harus dilaksanakan secara sah, akurat, dan penuh kasih, dengan menyeimbangkan antara ketelitian hukum administratif dan kepekaan pastoral. Dalam pembaptisan anak adopsi, pencatatan harus disesuaikan dengan ketentuan hukum Gereja dan dokumen sipil, sambil tetap melindungi martabat serta privasi anak. Dalam kasus kehilangan arsip baptis, pastor berkewajiban melakukan verifikasi melalui penyelidikan kanonik yang memadai dan, jika diperlukan, melaksanakan baptisan bersyarat untuk menjamin kepastian hukum dan keselamatan rohani. Sementara itu, biarawan maupun biarawati dapat ditunjuk sebagai wali baptis apabila memenuhi ketentuan kanonik dan memiliki kapasitas nyata dalam mendampingi pertumbuhan iman anak baptisan. Penelitian ini menegaskan bahwa setiap bentuk pelayanan Gereja harus berlandaskan prinsip salus animarum suprema lex-bahwa keselamatan jiwa merupakan hukum tertinggi-sehingga pelayanan sakramen baptis mencerminkan integrasi yang utuh antara dimensi hukum, pastoral, dan kasih Kristus yang menyelamatkan.
Perkawinan Katolik sebagai Sakramen: Kajian Hukum Gereja dalam Konteks Pluralisme Agama di Barito Timur Kristeno, Marianus Rago; Meo, Yohanes Wilson B. Lena
JURNAL PASTORAL KATEKETIK Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70343/ntas4518

Abstract

Perkawinan merupakan salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang tidak hanya menyangkut dimensi sosial, melainkan juga memiliki makna religius yang mendalam. Gereja Katolik memandang perkawinan sebagai Sakramen. Dalam konteks situasi di Kabupaten Barito Timur yang plural, penghayatan terhadap nilai sakramentalitas perkawinan Katolik menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna perkawinan Katolik sebagai sakramen dalam perspektif hukum Gereja serta penerapannya di tengah pluralisme agama dan budaya di Kabupaten Barito Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan yang berfokus pada analisis isi terhadap sumber-sumber primer seperti Kitab Hukum Kanonik 1983 dan dokumen magisterium Gereja, serta sumber sekunder berupa jurnal teologi, hukum, dan pastoral. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui pendekatan konseptual dan normatif untuk menelaah hubungan antara teologi sakramen dan hukum kanonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan Katolik memiliki dua dimensi utama, yaitu teologis dan yuridis, yang bersatu dalam kesakralan perjanjian suami-istri. Dalam konteks pluralisme Barito Timur, Gereja menghadapi tantangan penerapan norma kanonik terhadap praktik adat dan perkawinan campur, sehingga diperlukan pendekatan pastoral yang dialogis dan inkulturatif. Kesimpulannya, hukum Gereja berfungsi bukan sekadar mengatur, melainkan membimbing umat agar menghayati sakramen perkawinan sebagai tanda kasih Allah di tengah masyarakat yang majemuk.
Dialog Gereja Dengan Komunitas Society Socialis  (SOS) Children’s Villages of Flores  Waturia-Maumere Situmorang, Vinsensius M. Junior; Pasaribu, Astina Vebriani; Kleden, Fransiskus Bala; Ture, Georgius
JURNAL PASTORAL KATEKETIK Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70343/j6cd2n34

Abstract

Makalah ini mengkaji peran dan tantangan yang dihadapi oleh SOS Children’s Villages Flores Waturia, komunitas Maumere dalam memberikan perawatan bagi anak-anak yang kehilangan hak asuh orang tua. Anak-anak di komunitas ini menghadapi berbagai kesulitan, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, serta dukungan psikologis dan spiritual. Ketidakhadiran orang tua membuat mereka rentan kehilangan arah dan harapan untuk masa depan. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya, baik manusia maupun keuangan, menjadi hambatan serius dalam memastikan penyediaan perawatan yang memadai. Dalam konteks ini, Gereja Katolik diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis yang mampu memberikan dukungan spiritual dan moral. Gereja tidak hanya dipanggil untuk memberikan bantuan materi, tetapi yang lebih penting, untuk terlibat dalam pelayanan pastoral, pendampingan berbasis iman, dan pemberdayaan potensi anak-anak. Melalui pendekatan humanis dan berbasis iman, Gereja dapat menjadi kekuatan transformatif yang memulihkan martabat anak-anak dan memperjuangkan hak-hak mereka yang sering diabaikan. Keterlibatan Gereja merupakan manifestasi konkret dari misi Kristen untuk membawa cinta, keadilan, dan harapan bagi mereka yang paling membutuhkan.
Inkulturasi Gereja Katolik dengan Kebudayaan Dayak Pompakng dalam Prosesi Ngongkat Salib: Perspektif Sosiologi Agama Robert J. Schreiter Setiyoko, Tedjo; Suardy, Yly; Roge Paliling, Yulius; M. Soeryamassoka, Herkulana; Dwika Damara, Valentino
JURNAL PASTORAL KATEKETIK Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70343/3w5xsz63

Abstract

Inkulturasi iman Gereja Katolik dalam konteks budaya lokal menjadi isu strategis dalam misiologi kontemporer, khususnya di wilayah masyarakat adat Indonesia. Penelitian ini mengkaji proses inkulturasi Gereja Katolik dengan kebudayaan Dayak Pompakng, dengan fokus pada prosesi adat "Ngongkat Salib" (mengangkat salib dalam upacara keagamaan lokal), melalui kerangka teori sosiologi agama Robert J. Schreiter. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif etnografis dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama dan masyarakat, observasi partisipatif terhadap ritual, dan studi dokumen Gereja serta literatur adat Dayak Pompakng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ngongkat Salib merepresentasikan transformasi simbol kristiani yang diintegrasikan dengan identitas budaya lokal, menghasilkan bentuk "teologi lokal" yang unik. Proses inkulturasi ini bukan sekadar sinkretisme, melainkan komunikasi iman yang autentik, di mana nilai-nilai Kristiani dan kebijaksanaan lokal Dayak saling memperkaya. Teori Schreiter tentang "Constructing Local Theologies" terbukti relevan dalam menjelaskan bagaimana Gereja Katolik memfasilitasi pertemuan bermakna antara iman universal dan konteks budaya spesifik. Implikasi akademik penelitian ini memperkaya diskursus sosiologi agama dan misiologi di Asia Tenggara, sementara secara pastoral menawarkan model inkulturasi yang dapat diterapkan dalam evangelisasi kontekstual di wilayah adat lainnya. Penelitian menegaskan bahwa inkulturasi yang mendalam memerlukan pendekatan dialogis, rasa hormat terhadap warisan budaya, dan keterbukaan teologis terhadap perubahan dinamis kehidupan umat lokal.
Identitas Sosial, Kompleksitas Identitas, dan Sinodalitas: Suatu Kajian Lintas Iman dalam Konteks Moderasi Beragama di Indonesia Saputra, Yongki; Sinaga, Juliana Sriana
JURNAL PASTORAL KATEKETIK Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70343/nnj6jh07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika relasi lintas iman di Indonesia dengan mengintegrasikan Social Identity Theory (SIT), Social Identity Complexity (SIC), dan sinodalitas Paus Fransiskus. Fokus kajian diarahkan untuk memahami bagaimana kategori identitas sosial, irisan identitas, serta visi sinodal tentang persekutuan, partisipasi, dan misi dapat memperkaya paradigma moderasi beragama dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis isi terhadap teori identitas, temuan empiris toleransi lintas agama, serta dokumen Gereja Katolik. Kajian dilakukan dengan menelusuri konsep-konsep kunci SIT dan SIC, mengkaji praktik sosial toleransi dalam konteks Indonesia, serta memaparkan relevansi pastoral sinodalitas sebagai pendekatan dialogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat berkembang ketika umat beragama memiliki ruang perjumpaan yang alami, membangun irisan identitas sosial yang lentur, serta terlibat secara aktif dalam dialog yang saling mendengarkan sebagaimana ditekankan dalam proses Sinode 2021–2023. Dalam konteks ini, sinodalitas menyediakan kerangka teologis bagi Gereja untuk menumbuhkan relasi yang inklusif, kreatif, dan transformatif, sehingga setiap agama dapat menampilkan kekhasannya dalam perbedaan tanpa kehilangan semangat persaudaraan.
Keramahtamahan Mendatangkan Berkat: Tinjauan Teologis atas Kejadian 18:1-15 dalam Perspektif Paus Fransiskus di Ensiklik Fratelli Tutti Pius Buto, Heribertus; Mirsel, Robertus
JURNAL PASTORAL KATEKETIK Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pastoral Kateketik (JPKAT)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70343/k9w62z14

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana keramahtamahan dapat membawa berkat dalam perspektif Ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus, sebagaimana yang diperlihatkan oleh pengalaman Abraham dan Sarah dalam Kitab Kejadian 18:1-15. Teks tersebut menceritakan perjumpaan antara Abraham dan tiga orang yang datang kepada dia. Pertemuan ini terjadi di dekat pohon tarbantin di Mamre, di mana Abraham, menunjukkan keramahtamahannya lewat dua hal yakni gestur tindakan dan hidangan yang terbaik. Diakhir perjumpaan tanpa diduga sitamu menjanjikan bahwa Abraham akan mendapatkan keturunan. Artikel ini menggunakan pendekatan naratif untuk mengarisbawahi pola dan teknik keramahtamahan yang mendatangkan berkat. Penulis menggarisbawahi keramahtamahan Abraham ini, dapat mengubah hidupnya dan membawa berkat yang tidak terduga. Melalui pendekatan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa keramahtamahan adalah tindakan yang muncul dari hati Abraham, ditunjukkan melalui perhatian penuh terhadap tamunya serta penerimaan dan jamuan yang penuh kasih kepada orang asing. Selaras dengan suara gereja dalam Ensikliknya Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, keramahtamahan sebagai landasan persaudaraan dan persahabatan dalam kehidupan bersama

Page 3 of 3 | Total Record : 26