cover
Contact Name
Wendi Parwanto
Contact Email
iatefuadiainptk@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
iatefuadiainptk@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Suprapto No.14, Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Sel., Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 28294092     EISSN : 28093437     DOI : https://doi.org/10.24260/mafatih
Core Subject : Religion,
This journal specializes in studying the theory and practice of the Study of the Quran and Tafsir and is intended to reveal original research and current issues. The scope of Mafatih journal includes studies in the field of Quran and tafsir, such as the study of the text of Quran interpretation, manuscripts, hermeneutics, living Quran, as well as contemporary issues from the perspective of Quran and tafsir.
Articles 49 Documents
Hermeneutics of Apostasy: Fazlur Rahman and Abdullah Saeed on Reconciling Islamic Tradition with Modern Human Rights Nugraha, Gaes Rizka; Rachmawati, Haringun Trisiwi Adhi
Mafatih Vol. 4 No. 1 (2024): Mafatih : Jurnal Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i2.4141

Abstract

This study examines the concept of riddah (apostasy) in Islam through the hermeneutical perspectives of Fazlur Rahman and Abdullah Saeed, responding to contemporary challenges regarding religious freedom and human rights. Fazlur Rahman’s double movement theory emphasizes the necessity of reconstructing the historical context of Qur’anic revelation while synthesizing its ethical principles with modernity. Meanwhile, Abdullah Saeed’s contextual approach argues for the reinterpretation of riddah within the framework of religious pluralism, advocating for an inclusive understanding aligned with human rights principles. Using a qualitative methodology, this research analyzes primary texts from both scholars, Qur’anic verses, and relevant literature on Islamic legal thought. The findings reveal that while both scholars reject the application of capital punishment for apostasy, their approaches diverge: Rahman employs historical-contextual reconstruction to extract universal ethical values, whereas Saeed emphasizes the prioritization of individual rights and legal flexibility. This study contributes to the discourse on Islamic hermeneutics and legal reform, highlighting the necessity of reconciling scriptural fidelity with the ethical imperatives of pluralistic societies. By bridging the gap between classical jurisprudence and contemporary human rights frameworks, this research underscores the dynamic and evolving nature of Islamic legal thought. Studi ini mengkaji konsep riddah (kemurtadan) dalam Islam melalui perspektif hermeneutika Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed, dalam rangka merespons tantangan kontemporer terkait kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Teori double movement yang dikembangkan oleh Fazlur Rahman menekankan pentingnya memahami kembali konteks historis wahyu Al-Qur’an serta menyelaraskan prinsip-prinsip etisnya dengan realitas modern. Sementara itu, pendekatan kontekstual Abdullah Saeed menyoroti perlunya reinterpretasi riddah dalam kerangka pluralisme agama, dengan menekankan pemahaman yang lebih inklusif dan selaras dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis teks-teks utama dari kedua sarjana, ayat-ayat Al-Qur’an, serta literatur yang relevan dalam pemikiran hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed sama-sama menolak hukuman mati bagi pelaku riddah, pendekatan mereka berbeda. Rahman menggunakan rekonstruksi historis-kontekstual untuk menggali nilai-nilai etis universal dalam Al-Qur’an, sedangkan Saeed lebih menekankan pada perlindungan hak individu dan fleksibilitas hukum Islam dalam masyarakat modern. Studi ini memberikan kontribusi bagi wacana hermeneutika Islam dan reformasi hukum dengan menekankan pentingnya menyeimbangkan kesetiaan terhadap teks suci dengan tuntutan etika dalam masyarakat plural. Dengan menjembatani kesenjangan antara yurisprudensi klasik dan prinsip-prinsip hak asasi manusia kontemporer, penelitian ini menegaskan bahwa pemikiran hukum Islam bersifat dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman.
THE RELATION OF AL-QUR'ANIC VALUES AND TRADITION: EXPLORING THEOLOGICAL, HUMANIST AND ECOLOGICAL VALUES IN THE DAYAK BEDURUK TRADITION IN SUKA JAYA VILLAGE, SINTANG DISTRICT Jannah, Qory Fasdatul Jannah; Parwanto, Wendi; Akbar, Taufik; Wijaya, Diaz Ataya Larsen
Mafatih Vol. 4 No. 1 (2024): Mafatih : Jurnal Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i1.4182

Abstract

This paper discusses the relationship between Qur’anic values and the Beduruk Tradition in the lives of Dayak people in Suka Jaya Village, Sintang Regency. Beduruk Tradition is a cultural practice that has been passed down from generation to generation and has deep spiritual, social, and ecological values. This study aims to explore the theological, humanist, and ecological values contained in the Beduruk Tradition, as well as to analyze its compatibility with the teachings of the Qur’an. This research uses a qualitative approach with descriptive-analytical method. Data were collected through observation and in-depth interviews with community leaders, RT heads, and local people, as well as through literature studies related to the discussion. The results showed that the Beduruk Tradition contains theological values in the form of expressions of gratitude to God, humanist values in the form of solidarity and helping, and ecological values reflected in respect for nature. These values are in harmony with the teachings of the Qur’an that emphasize monotheism, brotherhood, and human responsibility as khalifah on earth. This finding indicates that Beduruk Tradition not only functions as a cultural heritage, but also has relevance in building harmonious social relations and maintaining the balance of nature. In the context of Muslim society, Beduruk tradition can be practiced as long as it does not contradict Islamic principles. Therefore, preservation efforts are needed with an adaptive approach to Islamic values so that this tradition remains relevant in the modern era. Tulisan ini membahas tentang relasi antara nilai-nilai Al-Qur’an dan Tradisi Beduruk dalam kehidupan masyarakat suku Dayak di Desa Suka Jaya, Kabupaten Sintang. Tradisi Beduruk adalah sebuah praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun, mempunyai nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai teologis, humanis, dan ekologis yang terkandung dalam Tradisi Beduruk, serta menganalisis kesesuaiannya dengan ajaran Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, ketua RT, dan masyarakat setempat, serta melalui studi literatur yang berkaitan dengan pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Beduruk mengandung nilai teologis berupa ekspresi rasa syukur kepada Tuhan, nilai humanis dalam bentuk solidaritas dan tolong menolong, serta nilai ekologis yang tercermin dalam rasa hormat terhadap alam. Nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan tauhid, persaudaraan, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Temuan ini mengindikasikan bahwa Tradisi Beduruk tidak hanya berfungsi sebagai warisan kebudayaan, tetapi juga memiliki relevansi dalam membangun keharmonisan hubungan sosial dan menjaga keseimbangan alam. Dalam konteks masyarakat Muslim, Tradisi Beduruk dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pelestarian dengan pendekatan yang adaptif terhadap nilai-nilai ke-Islaman agar tradisi ini tetap relevan di era modern.
RELEVANSI TAFSIR BIL MA' SUR DALAM KONTEKS MODERN: STUDI KASUS TAFSIR AYAT-AYAT SOSIAL DALAM TAFSIR AL-QUR’AN AL-AZIM KARYA IBNU KASIR Ditya, Fajar Ananda; Abu bakar, Achmad; Irham, Muhammad
Mafatih Vol. 4 No. 2 (2024): Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i2.3758

Abstract

This study examines the relevance of the tafsir bil ma’thūr method in interpreting social verses in Tafsir al-Qur’ān al-‘Aẓīm by Ibn Kathīr, particularly within the context of modern society. As one of the exegetical methods that relies on authentic reports from the Qur’an, ḥadīth, and the opinions of the Companions, tafsir bil ma’thūr has the advantage of preserving the originality of the meaning of the verses. This research employs a qualitative approach, which is suitable because it focuses on in-depth analysis and interpretation of exegetical texts. Through qualitative analysis of several social verses interpreted by Ibn Kathīr, this study finds that tafsir bil ma’thūr continues to provide relevant ethical guidance. The research highlights the importance of hermeneutical or contextual approaches as complementary tools to enrich the interpretation of social verses in the Qur’an in today’s era. These findings are expected to encourage the development of a flexible exegetical methodology that remains grounded in the classical tafsir tradition, while also contributing to contextual Islamic studies that are adaptive to the changes of time. Penelitian ini mengkaji tentang relavansi metode tafsir bil ma’sūr dalam menafsirkan ayat-ayat sosial pada tafsir Al-Qur’an Al-Azim karya Ibnu Kasir, khususnya dalam konteks sosial modern. Sebagai salah satu metode tafsir yang mengandalkan riwayat sahih dari al-Qur’an, hadis, dan pendapat sahabat, tafsir bil ma’sūr memiliki keunggulan dalam menjaga orisinalitas makna ayat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini cocok karena fokusnya pada analisis mendalam dan interpretasi atas teks tafsir. Melalui analisis kualitatif pada beberapa ayat sosial yang ditafsirkan Ibnu Kasir, penelitian ini menemukan bahwa tafsir bil ma’sūr tetap memberikan panduan etis yang relevan. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan hermeneutik atau kontekstual sebagai pelengkap guna memperkaya penafsiran ayat-ayat sosial dalam al-Qur’an di era saat ini. Temuan ini diharapkan dapat mendorong pengembangan metodologi tafsir yang fleksibel namun tetap berlandaskan tradisi tafsir klasik, serta memberikan kontribusi bagi studi islam yang kontekstual dan adaptif terhadap perubahan zaman.
KEUNIKAN TEFSIRU CÜZ’Ü AMME KARYA SULAIMAN HILMI TUNAHAN DALAM KAJIAN TAFSIR AL-QURAN DI TURKI Rahmawati, Adinda Fatimah
Mafatih Vol. 4 No. 2 (2024): Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i2.4146

Abstract

The uniqueness in interpretation is one of the factors of intellectual attraction in studying and expanding knowledge of the interpretation of the Qur'an in various regions. One of them is the country of Turkey, which is known as a secular country that stores wealth in its interpretation model. For that, this study attempts to find the uniqueness of one of the works of interpretation in Turkey, namely Tefsiru Cüz'ü Amme by Sulaiman Hilmi Tunahan. A book that significantly influences students at the Sulaimaniyah Islamic boarding school spreads across several regions in Indonesia. This study is a qualitative study with a type of library research sourced from books, journals, and several interpretation books. The results are that Tefsiru Cüz'ü Amme by Sulaiman Hilmi Tunahan is the only interpretation book that still uses its original writing, namely Turkish written in Arabic letters (pegon) and not converted to Latin letters. While other interpretations switched to Latin, according to the rules of the Republic of Turkey government, after the fall of the Ottoman Dynasty. Keunikan dalam penafsiran menjadi salah satu faktor daya tarik intelektual dalam mempelajari dan memperluas pengetahuan akan penafsiran Al-Quran di berbagai wilayah. Salah satunya ialah negara Turki yang dikenal sebagai negara sekuler menyimpan kekayaan pada model penafsirannya. Untuk itu, penelitian ini berusaha menemukan keunikan yang ada pada salah satu karya penafsiran di Turki yakni Tefsiru Cüz’ü Amme karya Sulaiman Hilmi Tunahan. Kitab yang memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kalangan santri di pondok pesantren Sulaimaniyah yang tersebar di beberapa wilayah di Indonsia. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif berupa penelitian kepustakaan yang bersumber pada buku, jurnal, dan beberapa kitab tafsir. Hasil yang didapatkan ialah Tefsiru Cüz’ü Amme karya Sulaiman Hilmi Tunahan merupakan satu-satunya kitab Tafsir yang tetap menggunakan tulisan aslinya yakni berbahasa Turki yang ditulis dengan huruf Arab (pegon) dan tidak dialihkan ke dalam huruf latin. Sementara tafsir lain beralih ke bahasa latin, sesuai dengan aturan pemerintah Republik Turki setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyyah.
LIVING QUR’AN DI ERA DIGITAL: ANALISIS RESEPSI ESTETIS DAN FUNGSIONAL ATAS ADEGAN RUQYAH DALAM FILM QODRAT Annisa, Nur; Nurmansyah, Ihsan; Oktaviana, Sherli Kurnia
Mafatih Vol. 4 No. 2 (2024): Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i2.4148

Abstract

This research focuses on studying the living Al-Qur'an on the ruqyah scene in the film Qodrat by Charles Gozali, produced by Rapi Films in 2022. The film Qodrat has a ruqyah scene that is unique compared to other films, namely Ustadz Qodrat during his ruqyah, he recites verses from the Koran in a melodious rhythm. Another side, ruqyah reading in the film Qodrat, there are not only Surah Al-Fatihah and Ayat Kursy, but also verses that have not been studied by previous research. The method used is a qualitative method with Ahmad Rafiq's reception approach. The resulting findings are first, An aesthetic reception was seen when Ustadz Qodrat recited the Al-Qur'an verse with the Bayyati rhythm in Surah An-Nur/24: 42 which aims to make the person being ruqyah quickly react to the Satanic interference they feel. Second, The functional reception in the informative aspect contains explanations regarding the power of Allah, the helplessness of jinn and humans and the potential of humans to be able to resist the tricks of the devil. Meanwhile performative aspect, Surah recitation An-Nisa'/4: 76 and Ar-Rahman/55: 33-34 so the devil who possessed Alif Amri's body his movements weakened, even to the point of kneeling, asking for forgiveness and screamed in pain and left the body he possessed. This research shows that There is a synchronization between the ruqyah reading in the Qodrat film and the ruqyah practice in society as wellverses used in the film Qodrat Also in line with the explanations of tafsir scholars. The implication is that society does not experience deviations and fall into error. Penelitian ini memfokuskan kajian living Qur’an pada adegan ruqyah di film Qodrat karya Charles Gozali yang diproduksi oleh Rapi Films pada tahun 2022. Film Qodrat punya adegan ruqyah yang unik dibanding film-film lain, yaitu ustadz Qodrat saat meruqyah, ia melafalkan ayat Al-Qur’an berirama merdu. Di sisi lain, bacaan ruqyah dalam film Qodrat, tidak hanya Surah Al-Fatihah dan Ayat Kursy, melainkan ayat-ayat yang belum dikaji oleh penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan resepsi Ahmad Rafiq. Temuan yang dihasilkan ialah pertama, resepsi estetis tampak ketika ustadz Qodrat melafalkan ayat Al-Qur'an berirama Bayyati pada Surah An-Nur/24: 42 yang bertujuan agar orang yang diruqyah cepat bereaksi dari gangguan Iblis yang dirasakannya. Kedua, resepsi fungsional pada aspek informatif memuat penjelasan terkait kekuasaan Allah, ketidakberdayaan jin dan manusia serta potensi manusia yang dapat melawan tipu daya iblis. Sementara itu aspek performatifnya, pembacaan Surah An-Nisa’/4: 76 dan Ar-Rahman/55: 33-34 agar iblis yang merasuki tubuh Alif Amri melemah pergerakannya, bahkan sampai berlutut, meminta ampun dan berteriak kesakitan serta keluar dari tubuh yang dirasukinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sinkronisasi antara bacaan ruqyah dalam film Qodrat dengan praktik ruqyah di masyarakat serta ayat-ayat yang digunakan dalam film Qodrat juga sejalan dengan penjelasan para ulama tafsir. Implikasinya agar masyarakat tidak mengalami penyimpangan dan terjerumus ke dalam kesesatan.
HIJAB SEBAGAI SIMBOL KEAGAMAAN: PEMAKNAAN KATA HIJAB MENURUT ULAMA KLASIK DAN KONTEMPORER Aini, Aisyah Nurul; Aziz, Abdul
Mafatih Vol. 4 No. 1 (2024): Mafatih : Jurnal Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i1.4189

Abstract

The hijab is still an interesting issue to discuss. Moreover, how classical and contemporary scholars study and interpret it. In this article, we examine the issue of the hijab from two perspectives which are considered quite ontradictory, namely from the perspective of classical ulama and contemporary ulama. The importance of this research is to look critically at the differences in the meaning of the hijab according to classical and contemporary scholars and how they interpret the verse of the Qu’ran which discuss the hijab for women. This article focuses on the opinion of Imam Zamakhsyari as a classical scholar and the opinion of Qasim Amin as a contemporary scholar. This research is a type of library research using qualitative methods and collecting data using documentation techniques from several literatures that are in accordance with the theme raised. From this research it was found that in interpreting the word hijab, Qasim Amin tends to be looser than Imam Zamakhsyari and several other classical scholars.
AL-QUR'AN SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK: STUDI TAFSIR KEMENAG RI PADA PENINGKATAN KASUS PERCERAIAN DI INDONESIA Aisah, Aisah; Salsabila, Putri
Mafatih Vol. 4 No. 2 (2024): Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i2.4880

Abstract

The high divorce rate in Indonesia is a worrying social phenomenon. Statistics Indonesia (BPS) data for 2024 recorded 394,608 divorce cases, with the majority being caused by persistent arguments, economic problems, and other social factors. This study focuses on uncovering the role of the Indonesian Ministry of Religious Affairs' interpretation (Tafsir) in providing solutions to these conflicts. This research uses a qualitative method with a literature study approach and thematic analysis of Quranic verses through the Ministry of Religious Affairs' interpretation (Tafsir). The results of the study show that Qur'anic values ​​such as islah (Al-Hujurat: 9), justice (An-Nahl: 90), deliberation (Asy-Shura: 38), patience and forgiveness (Asy-Shura: 40, Ali Imran: 134), and the prohibition of criticizing (Al-Hujurat: 11) can be guidelines in resolving household conflicts. These values ​​provide a spiritual and ethical approach that can be used as an alternative in preventing and resolving divorce. The recommendations of this study encourage the strengthening of family education and premarital counseling based on the teachings of the Qur'an in order to reduce the divorce rate and build family resilience. Tingginya angka perceraian di Indonesia menjadi fenomena sosial yang mengkhawatirkan. Data BPS tahun 2024 mencatat 394.608 kasus perceraian, dengan mayoritas disebabkan oleh pertengkaran terus-menerus, masalah ekonomi, dan faktor sosial lainnya. Penelitian ini berfokus mengungkap peran Tafsir Kemenag RI memberikan solusi terhadap konflik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, serta analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui Tafsir Kemenag RI. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai Qur’ani seperti islah (Al-Hujurat: 9), keadilan (An-Nahl: 90), musyawarah (Asy-Syura: 38), sabar dan pemaaf (Asy-Syura: 40, Ali Imran: 134), serta larangan mencela (Al-Hujurat: 11) dapat menjadi pedoman dalam menyelesaikan konflik rumah tangga. Nilai-nilai tersebut memberikan pendekatan spiritual dan etis yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam pencegahan dan resolusi perceraian. Rekomendasi penelitian ini mendorong penguatan pendidikan keluarga dan konseling pranikah berbasis ajaran Al-Qur’an guna menekan angka perceraian dan membangun ketahanan keluarga.
DISKURSUS SURAT AL-ANBIYA’: STUDI DALAM PERSPEKTIF MAQASHID AL-QUR’AN Lainuvar, Lainuvar
Mafatih Vol. 4 No. 2 (2024): Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v4i2.5077

Abstract

The study of maqashidi-style tafsir is critical to do in-depth, because the Qur'an not only contains laws, but also divine messages. Ignoring the maqashid will deprive us of a deeper understanding of its contents. In this regard, Surah Al-Anbiya' plays an important role by emphasizing the universal mission of the Prophet Muhammad as a mercy for all of nature, as stated in Qs. Al-Anbiya': 107. This study uses a type of qualitative research because the description of the exposure in this study is descriptive without any analysis of the results in the form of numbers. The data collection technique used is the library research method by collecting data in the form of books and articles relevant to this research. The results show that the purpose or main maqashid of Surah Al-Anbiya' is to emphasize monotheism, contemplate the signs of Allah's greatness, and do good deeds as preparation for the hereafter. As for the maqashid of the group of verses, namely to remind us of the imminent doomsday, confirm the logic of the oneness of Allah, and refute the existence of other gods, with the stories of the Prophet before the Prophet Muhammad in the verse also provides ibrah for the people after him, as well as affirmation that Islam is a mercy for all nature which is the basis for building Islamic civilization. Kajian tafsir bercorak maqashidi sangat penting untuk dilakukan secara mendalam, karena Al-Qur'an tidak hanya berisi hukum, tetapi juga pesan-pesan Ilahi. Mengabaikan maqashid akan menghilangkan pemahaman mendalam terhadap isinya. Dalam hal ini, Surat Al-Anbiya’ memainkan peran penting dengan menegaskan misi universal Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana dinyatakan dalam Qs. Al-Anbiya’: 107. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, karena uraian pemaparan dalam penelitian ini bersifat deksriptif tanpa adanya analisis hasil berbentuk angka-angka. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui metode library research (studi kepustakaan) dengan menghimpun data-data berbentuk buku dan artikel yang relevan dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa Surat Al-Anbiya’ tujuan atau maqashid utamanya adalah menegaskan tauhid, merenungi tanda-tanda kebesaran Allah, dan beramal saleh sebagai persiapan menuju akhirat. Adapun mengenai maqashid kelompok ayat yakni untuk mengingatkan dekatnya kiamat, menegaskan logika keesaan Allah, membantah keberadaan tuhan-tuhan lain, dengan adanya kisah-kisah Nabi sebelum Nabi Muhammad dalam ayat tersebut juga memberikan ibrah bagi kaum setelahnya, serta penegasan bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam yang menjadi pijakan untuk membangun peradaban Islam.
Analisis Historis Terhadap Waqaf Ibtida Mushaf Kudus dan Mushaf Standar Indonesia Daniya, Salsabila Shofa
Mafatih Vol. 6 No. 1 (2026): Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : IAT IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/mafatih.v6i1.5525

Abstract

The Mushafs circulating in Indonesia have differences, one of which is the difference in waqaf and ibtida. Since the beginning of the writing of the waqaf and ibtida books, there have been many differences. This is the result of the opinions of the scholars. On the other hand, due to the differences in waqaf and ibtida, there are also differences in reading methods and tajwid rules that must be applied. These differences cause people to stop and start at different places. On the other hand, this makes it easier for people to read the Qur'an, especially those with short breath. This study uses library research through qualitative methods. From the old Kudus Quran that has been corrected, the new Kudus Quran that refers to the Medina Quran, and the Indonesian standard Quran as a standardization of Indonesian Qurans, they have different forms and places of waqaf. Focusing on Surah al-Baqarah verses 1-29. The influence of this research on the practice of reading and memorizing the Quran is to understand the history of the Kudus Quran, the Indonesian standard Quran, and the creation of the waqaf signs used in these Qurans. Mushaf yang beredar di Indonesia memiliki perbedaan, salah satunya perbedaannya pada waqaf dan ibtida. Sejak awal ditulisnya kitab-kitab waqaf dan ibtida sudah banyak perbedaan. Hal ini merupakan hasil dari pendapat-pendapat para ulama. Di sisi lain akibat dari perbedaan waqaf dan ibtida muncul juga cara membaca maupun hukum tajwid yang harus di keluarkan. Perbedaan ini menjadikan orang-orang berbeda tempat berhenti maupun tempat mengawalinya. Di sisi lain ini memudahkan orang-orang untuk membaca al-Qur’an terutama yang memiliki nafas yang pendek. Penelitian ini menggunakan penelitian library research melalui metode kualitatif. Dari mushaf Kudus lama yang sudah di tashih, mushaf Kudus baru yang mengacu pada mushaf Madinah, mushaf standar Indonesi sebagai penyeragaman mushaf-mushaf Indonesia memiliki bentuk dan tempat waqaf yang berbeda. Berfokus pada surat al-Baqarah ayat 1-29. Pengaruh penelitian ini pada praktik membaca maupun menghafal al-Quran dengan memahami sejarah mushaf Kudus, mushaf standar Indonesia, hingga terciptalah tanda waqaf yang digunakan pada mushaf-mushaf tersebut.