cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 140 Documents
Rekonsiliasi Tradisi Islam dan Sains Modern M. Abdullah Viki; Maftukhin; M. Ilham Fikron; Sayyid Abdullah; Ach. Taufiq; Asnawan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/cxz0pf38

Abstract

Diskursus mengenai relasi antara tradisi Islam dan sains modern hingga kini masih diwarnai oleh pandangan dikotomis yang memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Sains modern kerap diposisikan sebagai sistem pengetahuan yang netral dan bebas nilai, sementara agama dipahami sebatas ranah spiritual dan ritual. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya rekonsiliasi antara tradisi Islam dan sains modern sebagai upaya membangun paradigma keilmuan integratif yang berorientasi pada kemanusiaan dan keberlanjutan peradaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), melalui penelaahan kritis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder berupa Al-Qur’an, hadis, karya ulama klasik dan kontemporer, serta literatur filsafat dan sains modern. Analisis dilakukan dengan pendekatan epistemologis dan filosofis untuk mengkaji integrasi wahyu (naql), akal (‘aql), dan pengalaman empiris (tajribah) dalam tradisi keilmuan Islam, sekaligus mengkritisi asumsi filosofis sains modern yang cenderung positivistik dan sekular. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Islam memiliki kerangka epistemologi yang komprehensif dan terbuka terhadap pengembangan sains, selama tetap berlandaskan nilai etika, spiritualitas, dan tujuan kemaslahatan. Rekonsiliasi ini tidak hanya relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan Islam yang holistik dan integratif. Dengan demikian, rekonsiliasi tradisi Islam dan sains modern merupakan kontribusi strategis bagi peradaban global dalam merespons krisis modernitas yang bersifat materialistik dan dehumanistik. Abstrak Discourse on the relationship between Islamic tradition and modern science remains characterized by a dichotomous view that separates religious knowledge from general knowledge. Modern science is often positioned as a neutral and value-free system of knowledge, while religion is understood solely as a spiritual and ritualistic realm. This article aims to analyze the importance of reconciling Islamic tradition and modern science as an effort to build an integrative scientific paradigm oriented toward humanity and the sustainability of civilization. This research uses a qualitative approach with library research methods, through a critical review of primary and secondary sources, including the Quran, hadith, works of classical and contemporary scholars, and modern philosophical and scientific literature. The analysis utilizes an epistemological and philosophical approach to examine the integration of revelation (naql), reason (‘aql), and empirical experience (tajribah) within the Islamic scientific tradition, while simultaneously critiquing the philosophical assumptions of modern science, which tend to be positivistic and secular. The results demonstrate that the Islamic tradition possesses a comprehensive epistemological framework that is open to the development of science, as long as it remains grounded in ethical values, spirituality, and the goal of public welfare. This reconciliation is not only relevant for the development of science but also serves as a crucial foundation for building a holistic and integrative Islamic education system. Thus, the reconciliation of Islamic tradition and modern science is a strategic contribution to global civilization in responding to the materialistic and dehumanizing crises of modernity.
Poligami di Persimpangan Moral Dan Agama: Sebuah Tantangan bagi Resolusi Konflik Keagamaan Dalam Perspektif Pemikiran Muhammad Syahrur Muhammad Ramadhani; Ahmad Jais
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/qthxb946

Abstract

This paper examines polygamy as a complex phenomenon at the intersection of religious morality and modern social morality. This study uses a library research approach, namely a data collection method through an in-depth review of various literature, theories, and thoughts relevant to the issue of polygamy, both from an Islamic and contemporary social perspective. In Islam, polygamy is normatively permitted as stated in Surah An-Nisa verse 3, but this permissibility is accompanied by very strict conditions of justice. In practice, this provision often gives rise to debate, especially when faced with issues of gender equality, women's human rights, and modern family dynamics. Through an analysis of the thoughts of Muhammad Syahrur, particularly the theory of hudud and the tartīl method, this paper emphasizes the importance of reinterpreting religious texts so that they are not separated from the ever-evolving social context. The results of this study indicate that Syahrur views the text of the Qur'an as having normative boundaries (hudud) that provide room for ijtihad in its application, so that the practice of polygamy cannot be separated from the principles of substantive justice and humanity. Thus, polygamy is not merely understood as normative legitimacy, but as a social practice whose impact and implications must be evaluated. In addition to the theological aspects, this paper also highlights the urgency of resolving family conflicts resulting from polygamy through a non-litigation mediation approach. This approach is considered more humane because it prioritizes dialogue, relational justice, and protection for vulnerable parties. The study's results indicate that polygamy is a multidimensional issue that requires an integrative approach based on justice, equality, and humanitarian values. Abstrak Tulisan ini mengkaji poligami sebagai fenomena kompleks yang berada di persimpangan antara moralitas agama dan moralitas sosial modern. Kajian ini menggunakan pendekatan studi pustaka (library research), yaitu metode pengumpulan data melalui penelaahan mendalam terhadap berbagai literatur, teori, dan pemikiran yang relevan dengan isu poligami, baik dari perspektif keislaman maupun sosial kontemporer. Dalam Islam, poligami secara normatif diperbolehkan sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nisa ayat 3, namun kebolehan tersebut disertai dengan syarat keadilan yang sangat ketat. Pada tataran praktik, ketentuan ini sering memunculkan perdebatan, khususnya ketika dihadapkan dengan isu kesetaraan gender, hak asasi perempuan, serta dinamika keluarga modern. Melalui analisis terhadap pemikiran Muhammad Syahrur, khususnya teori hudud dan metode tartīl, tulisan ini menegaskan pentingnya reinterpretasi teks keagamaan agar tidak terlepas dari konteks sosial yang terus berkembang. Hasil dari penelitian ini menujukkan, bahwa Syahrur memandang teks Al-Qur’an memiliki batas-batas normatif (hudud) yang memberi ruang ijtihad dalam penerapannya, sehingga praktik poligami tidak dapat dilepaskan dari prinsip keadilan substantif dan kemanusiaan. Dengan demikian, poligami tidak semata dipahami sebagai legitimasi normatif, tetapi sebagai praktik sosial yang harus dievaluasi dampak dan implikasinya. Selain aspek teologis, tulisan ini juga menyoroti urgensi penyelesaian konflik keluarga akibat poligami melalui pendekatan mediasi non-litigasi. Pendekatan ini dinilai lebih humanis karena mengedepankan dialog, keadilan relasional, dan perlindungan terhadap pihak yang rentan. Hasil kajian menunjukkan bahwa poligami merupakan persoalan multidimensional yang menuntut pendekatan integratif berbasis keadilan, kesetaraan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Peacebuilding Multidimensional Pascakonflik Keagamaan Di Indonesia: Integrasi Peran Generasi Muda Inovasi Sosial Dan Rekonsiliasi Sosial Cindy Aulia Krisna; Ahmad Jais
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/p4zwae77

Abstract

This article examines sustainable peacebuilding after religious conflict in Indonesia, emphasizing the importance of integrating the roles of youth, social innovation, and social reconciliation within a multidimensional peacebuilding framework. The background of this research stems from the reality that various religious conflicts in Indonesia have generally been successfully mitigated through political and security approaches. However, these efforts have not fully addressed the root of the social problems, leaving residues in the form of social segregation, intergroup distrust, and the development of narratives of intolerance at the grassroots level. This research aims to conceptually analyze how structural, relational, and cultural approaches to peacebuilding can be effectively operationalized through youth engagement and community-based social innovation. This article uses a qualitative approach with a critical literature review method of relevant academic sources, policy documents, and research reports. The analysis is enriched with illustrative case studies from the regions of Ternate, Aceh Singkil, and Tolikara that represent the dynamics of post-religious conflict in Indonesia. The analysis shows that youth have a strategic role as agents of social transformation, particularly in facilitating interfaith dialogue, producing peace narratives in public and digital spaces, and strengthening community social capital. Community-based social innovation has proven effective in bridging the limitations of formal state structures while simultaneously strengthening the relational and cultural dimensions of peacebuilding. This article concludes that sustainable peace after religious conflict can only be achieved through the simultaneous integration of inclusive structural policies, participatory social reconciliation, and cultural value transformation that actively and sustainably involves the younger generation.  Abstrak Artikel ini mengkaji pembangunan perdamaian berkelanjutan pascakonflik keagamaan di Indonesia dengan menekankan pentingnya integrasi peran generasi muda, inovasi sosial, dan rekonsiliasi sosial dalam kerangka peacebuilding yang bersifat multidimensional. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas bahwa berbagai konflik keagamaan di Indonesia secara umum telah berhasil diredam melalui pendekatan politik dan keamanan. Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan sosial, sehingga masih menyisakan residu berupa segregasi sosial, ketidakpercayaan antar kelompok, serta berkembangnya narasi intoleransi di tingkat masyarakat akar rumput. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara konseptual bagaimana pendekatan struktural, relasional, dan kultural dalam peacebuilding dapat dioperasionalkan secara efektif melalui keterlibatan generasi muda dan inovasi sosial berbasis komunitas. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur kritis terhadap sumber-sumber akademik, dokumen kebijakan, serta laporan penelitian yang relevan. Analisis tersebut diperkaya dengan studi kasus ilustratif dari wilayah Ternate, Aceh Singkil, dan Tolikara yang merepresentasikan dinamika pascakonflik keagamaan di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen transformasi sosial, khususnya dalam memfasilitasi dialog lintas iman, memproduksi narasi perdamaian di ruang publik dan digital, serta memperkuat modal sosial komunitas. Inovasi sosial berbasis partisipasi masyarakat terbukti mampu menjembatani keterbatasan struktur formal negara, sekaligus memperkuat dimensi relasional dan kultural dalam pembangunan perdamaian. Artikel ini menyimpulkan bahwa perdamaian berkelanjutan pascakonflik keagamaan hanya dapat terwujud melalui integrasi simultan antara kebijakan struktural yang inklusif, rekonsiliasi sosial yang partisipatif, dan transformasi nilai kultural yang melibatkan generasi muda secara aktif dan berkelanjutan.
Penolakan Pembangunan Rumah Ibadah Di Parit Mayor Kubu Raya Kalimantan Barat Saputra, Trio; Muhammad Kodri; Ahmad Jais
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/b8kjq772

Abstract

Rejection of the construction of houses of worship is a form of socio-religious conflict that still frequently arises in Indonesia's multicultural society. Although freedom of religion and worship is constitutionally guaranteed, local realities show that the establishment of houses of worship often faces various obstacles, both social and administrative. The case of the rejection of the construction of a house of worship in Parit Mayor, Kubu Raya Regency, is a concrete example of how religious issues can develop into social conflict if not managed wisely and participatory. This paper aims to analyze the factors underlying this rejection, while also examining the dynamics of the conflict and strategies for resolving it. This research uses a descriptive qualitative approach through literature review and analysis of relevant documents, grounded in theories of conflict resolution and interfaith harmony. This approach allows the author to understand the conflict comprehensively, not only from a legal perspective, but also from the social and cultural dimensions of the local community. The study results indicate that the rejection of the construction of houses of worship in Parit Mayor is influenced by several main factors, including the heterogeneous socio-cultural conditions of the community, prejudice and distrust between religious communities, differences in interpretation of regulations regarding the construction of houses of worship, and weak communication and public participation in the licensing process. The conflict, which was initially administrative in nature, then developed into a socio-religious conflict due to the lack of space for dialogue and transparency. Therefore, the local government has a strategic role in resolving the conflict through a participatory mediation approach, strengthening interfaith dialogue, enforcing fair and consistent laws, and integrating conflict resolution into regional development policies. This comprehensive approach is important to maintain interfaith harmony and prevent the recurrence of similar conflicts in the future. Abstrak Penolakan pembangunan rumah ibadah merupakan salah satu bentuk konflik sosial-keagamaan yang masih kerap muncul di tengah masyarakat multikultural Indonesia. Meskipun kebebasan beragama dan beribadah telah dijamin secara konstitusional, realitas di tingkat lokal menunjukkan bahwa pendirian rumah ibadah sering menghadapi berbagai hambatan, baik bersifat sosial maupun administratif. Kasus penolakan pembangunan rumah ibadah di Parit Mayor, Kabupaten Kubu Raya, menjadi contoh konkret bagaimana persoalan keagamaan dapat berkembang menjadi konflik sosial apabila tidak dikelola secara bijak dan partisipatif. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi penolakan tersebut, sekaligus mengkaji dinamika konflik yang terjadi serta strategi penyelesaiannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode studi pustaka dan analisis dokumen yang relevan, dengan landasan teori resolusi konflik dan kerukunan umat beragama. Pendekatan ini memungkinkan penulis untuk memahami konflik secara komprehensif, tidak hanya dari aspek hukum, tetapi juga dari dimensi sosial dan kultural masyarakat setempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa penolakan pembangunan rumah ibadah di Parit Mayor dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain kondisi sosial-kultural masyarakat yang heterogen, adanya prasangka dan ketidakpercayaan antarumat beragama, perbedaan tafsir terhadap regulasi pendirian rumah ibadah, serta lemahnya komunikasi dan partisipasi publik dalam proses perizinan. Konflik yang pada awalnya bersifat administratif kemudian berkembang menjadi konflik sosial-keagamaan akibat minimnya ruang dialog dan transparansi. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menyelesaikan konflik melalui pendekatan mediasi partisipatif, penguatan dialog lintas agama, penegasan hukum yang adil dan konsisten, serta integrasi resolusi konflik ke dalam kebijakan pembangunan daerah. Pendekatan yang komprehensif ini penting untuk menjaga kerukunan umat beragama dan mencegah terulangnya konflik serupa di masa mendatang.
Konstruksi Neo Sufisme oleh Jhon O Voll Moh. Ali Akbar Nafis
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/xd1psh91

Abstract

The revival and renewal of Islam in the 18th to early 19th centuries became a significant momentum that attracted serious attention from Western academics. This attention was particularly focused on the role of Sufi brotherhoods, which not only functioned as spiritual communities but also emerged as an active social force in responding to and resisting colonialism. This dynamic then gave birth to an academic construct known as neo-Sufism, which is understood as a new form of Sufism with a more open and contextual social and political orientation. This study aims to review the historical construction of neo-Sufism as it developed in Western academic discourse, while also critically analyzing John O. Voll's thoughts in responding to and revising the previous Orientalist construction of neo-Sufism. In addition, this study also attempts to describe the characteristics of neo-Sufism, particularly in relation to its adaptive capacity to the demands of modernity. The method used is library research, with the primary sources being the works of John O. Voll and Nehemia Levtzion, and supported by various relevant secondary literature to enrich the analysis. The research findings show that the emergence of the concept of neo-Sufism is inextricably linked to Western academics' attention to the rise of Islam in North Africa, where Sufi movements play a significant role in the socio-religious and political dynamics of society. John O. Voll emphasizes the importance of reexamining the concept of neo-Sufism that has developed over time, as it is often understood simplistically and tends to be associated with radicalism. According to Voll, neo-Sufism is actually a form of Sufism's adaptation to modernity, reflected in a spirit of internationalism, increased political mobility of civil society, and a strong orientation towards social service and empowerment. Abstrak Peristiwa kebangkitan dan pembaharuan Islam pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19 menjadi salah satu momentum penting yang menarik perhatian serius para akademisi Barat. Perhatian tersebut terutama tertuju pada peran persaudaraan sufi yang tidak hanya berfungsi sebagai komunitas spiritual, tetapi juga tampil sebagai kekuatan sosial yang aktif dalam merespons dan melawan kolonialisme. Dinamika ini kemudian melahirkan sebuah konstruksi akademik yang dikenal dengan istilah neo-sufisme, yang dipahami sebagai bentuk baru tasawuf dengan orientasi sosial dan politik yang lebih terbuka serta kontekstual. Kajian ini bertujuan untuk mengulas konstruksi historis neo-sufisme sebagaimana berkembang dalam wacana akademisi Barat, sekaligus menganalisis secara kritis pemikiran John O. Voll dalam menyikapi dan merevisi konstruksi neo-sufisme orientalis sebelumnya. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mendeskripsikan karakteristik neo-sufisme, khususnya dalam kaitannya dengan kemampuan adaptifnya terhadap tuntutan modernitas. Metode yang digunakan adalah library research, dengan sumber utama berupa karya-karya John O. Voll dan Nehemia Levtzion, serta didukung oleh berbagai literatur sekunder yang relevan untuk memperkaya analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan konsep neo-sufisme tidak dapat dilepaskan dari perhatian akademisi Barat terhadap kebangkitan Islam di Afrika Utara, di mana gerakan sufi memainkan peran signifikan dalam dinamika sosial-keagamaan dan politik masyarakat. John O. Voll menekankan pentingnya pengkajian ulang terhadap konsep neo-sufisme yang selama ini berkembang, karena sering kali dipahami secara simplistik dan cenderung dikaitkan dengan radikalisme. Menurut Voll, neo-sufisme justru merupakan bentuk adaptasi tasawuf terhadap modernitas, yang tercermin dalam semangat internasionalisme, meningkatnya mobilitas politik masyarakat sipil, serta orientasi kuat pada pengabdian dan pemberdayaan sosial.
Dari Ritual Menuju Perubahan Sosial: Kritik Hassan Hanafi Terhadap Formalisme Agama Di Indonesia Titiya Utami
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/0d79fr85

Abstract

This study analyzes Hassan Hanafi's critique of religious formalism and its relevance to the religious practices of Indonesian Muslim society. The significant proliferation of religious formalism indicates a reduction of religious understanding to ritualistic-symbolic aspects while neglecting ethical-transformative dimensions. Through a qualitative library research approach with content analysis, this study explores Hanafi's construction of liberation hermeneutics, sacred-profane dialectics, and anthropocentric tawhid as the basis for critiquing religious ritualization. Findings reveal that manifestations of religious formalism in Indonesia are embodied in the paradox between individual piety and social piety, reinforced by structural factors such as ritualistic education systems and the instrumentalization of religion in identity politics. Hanafi's thought offers a theoretical framework for transforming the religious paradigm toward substantive and emancipatory approaches, yet faces complex epistemological, sociological, and cultural obstacles. This research contributes to the development of progressive Islamic discourse in Indonesia by emphasizing the urgency of integrating spirituality with transformative action for social justice. Abstrak Penelitian ini menganalisis kritik Hassan Hanafi terhadap formalisme agama dan relevansinya dalam konteks praktik keberagamaan masyarakat Muslim Indonesia. Formalisme agama yang mengalami proliferasi signifikan mengindikasikan reduksi pemahaman keagamaan pada aspek ritualistik-simbolik dengan mengabaikan dimensi etis-transformatif. Melalui pendekatan kualitatif library research dengan analisis konten, penelitian ini mengeksplorasi konstruksi pemikiran Hanafi tentang hermeneutika pembebasan, dialektika sakral-profan, dan tauhid antroposentris sebagai basis kritik terhadap ritualisasi agama. Temuan menunjukkan bahwa manifestasi formalisme agama di Indonesia terwujud dalam paradoks antara kesalehan individual dan kesalehan sosial, diperkuat oleh faktor struktural seperti sistem pendidikan yang ritualistik dan instrumentalisasi agama dalam politik identitas. Pemikiran Hanafi menawarkan kerangka teoretis untuk transformasi paradigma keberagamaan menuju yang substantif dan emansipatoris, namun menghadapi hambatan epistemologis, sosiologis, dan kultural yang kompleks. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan wacana Islam progresif di Indonesia dengan menekankan urgensi mengintegrasikan spiritualitas dengan aksi transformatif untuk keadilan sosial
Integrasi Agama Dan Sains Di PTKIN : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Tis Atus Sobirin; Abdus Salam; Asnawan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/sfatsm54

Abstract

The integration of religion and science is a strategic agenda in the development of State Islamic Religious Higher Education Institutions (PTKIN) as a response to the scientific dichotomy that separates Islamic and modern sciences. This article aims to examine the concept, implementation, and significance of the integration of religion and science at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, one of the pioneering PTKINs in developing an integrative scientific paradigm. This research uses a qualitative approach with a case study. Data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation studies, then analyzed using the Miles and Huberman interactive data analysis model. The results indicate that UIN Sunan Kalijaga has developed an integration-interconnection paradigm that places religion and science in a dialogical and complementary relationship. Religion is positioned as a source of values, ethics, and moral orientation, while science plays a role as a rational-empirical instrument in understanding and responding to social realities and global challenges. The implementation of the integration of religion and science is reflected in curriculum design, the development of multidisciplinary study programs, interdisciplinary research, and an open and critical academic culture. Despite facing several challenges, such as differing scientific paradigms and a tendency toward formalization, the integration model developed by UIN Sunan Kalijaga demonstrates significant potential for building inclusive, critical, and transformative Islamic scholarship. The integration of religion and science at UIN Sunan Kalijaga not only strengthens the Islamic identity of PTKIN but also enhances its contribution to global scientific discourse and the pursuit of Islamic higher education that is relevant to the demands of the times and oriented toward the welfare of civilization. Abstrak Integrasi agama dan sains merupakan agenda strategis dalam pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai respons atas dikotomi keilmuan yang memisahkan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu modern. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep, implementasi, serta signifikansi integrasi agama dan sains di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu PTKIN pelopor dalam pengembangan paradigma keilmuan integratif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil kajian menunjukkan bahwa UIN Sunan Kalijaga mengembangkan paradigma integrasi-interkoneksi yang menempatkan agama dan sains dalam relasi dialogis dan saling melengkapi. Agama diposisikan sebagai sumber nilai, etika, dan orientasi moral, sementara sains berperan sebagai instrumen rasional-empiris dalam memahami dan merespons realitas sosial serta tantangan global. Implementasi integrasi agama dan sains tercermin dalam desain kurikulum, pengembangan program studi multidisipliner, riset interdisipliner, serta budaya akademik yang terbuka dan kritis. Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, seperti perbedaan paradigma keilmuan dan kecenderungan formalisasi integrasi, model integrasi yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga menunjukkan potensi besar dalam membangun keilmuan Islam yang inklusif, kritis, dan transformatif. Integrasi agama dan sains di UIN Sunan Kalijaga tidak hanya memperkuat identitas keislaman PTKIN, tetapi juga meningkatkan kontribusinya dalam percakapan keilmuan global serta upaya menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang relevan dengan tuntutan zaman dan berorientasi pada kemaslahatan peradaban.
Integrasi Maslahah Ibnu Qayyim dalam Etika Green Economy pada Era 5.0 Muhammad Faujan Al Hadi; Lina Marlina Susana
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/2p8gze65

Abstract

This study aims to analyze the integration of the maslahah concept according to Ibn Qayyim as the basis of economic ethics in the development of the Green Economy in the 5.0 era. The 5.0 era is characterized by the use of intelligent technology oriented towards improving the quality of human life, so an ethical framework is needed to ensure that economic activities run sustainably. Through a qualitative approach based on literature review, this study examines the relevance of maslahah values ​​to the principles of the green economy, such as production efficiency, responsible resource management, sustainable investment, and equitable distribution of economic benefits. The results of the study show that Ibn Qayyim's maslahah provides a normative orientation for economic activities so that they do not only pursue short-term profits, but also consider the long-term impacts on ecological balance and public welfare. The concept of dar' al-mafasid emphasizes the need to prevent environmentally damaging economic practices, while jalb al-mashalih encourages innovation and investment in green sectors such as renewable energy and the circular economy. The integration of these two concepts can strengthen the implementation of the Green Economy in the 5.0 era so that it is more adaptive, ethical, and in accordance with the principles of sustainable development (SDGs) from an Islamic economic perspective. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi konsep maslahah menurut Ibnu Qayyim sebagai dasar etika ekonomi dalam pengembangan Green Economy pada era 5.0. Era 5.0 ditandai dengan pemanfaatan teknologi cerdas yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia, sehingga diperlukan kerangka etis untuk memastikan aktivitas ekonomi berjalan secara berkelanjutan. Melalui pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur, penelitian ini menelaah relevansi nilai maslahah terhadap prinsip-prinsip ekonomi hijau, seperti efisiensi produksi, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, investasi berkelanjutan, dan distribusi manfaat ekonomi yang berkeadilan. Hasil kajian menunjukkan bahwa maslahah Ibnu Qayyim memberikan orientasi normatif bagi aktivitas ekonomi agar tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap keseimbangan ekologi dan kemaslahatan publik. Konsep dar’ al-mafasid menekankan perlunya mencegah praktik ekonomi yang merusak lingkungan, sementara jalb al-mashalih mendorong inovasi dan investasi pada sektor-sektor hijau seperti energi terbarukan, dan ekonomi sirkular. Integrasi kedua konsep ini dapat memperkuat implementasi Green Economy pada era 5.0 sehingga lebih adaptif, etis, dan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam perspektif ekonomi Islam..
Pemanfaatan Media Pembelajaran Smartphone Aplikasi Bertimah Dalam Kegiatan Belajar Mengajar PAI di SD Negeri 22 Mentok Isriyanto
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/c6hdhz59

Abstract

In the context of education, technology integration presents new opportunities to improve the quality of the learning process, one of which is through the use of smartphones as a learning medium. This study specifically focuses on the use of Android-based smartphones through the Bertimah application as a learning medium for Islamic Religious Education (PAI) at SD Negeri 22 Mentok. The focus of the research is directed at identifying the stages of utilization, advantages, and challenges of using the Bertimah application in PAI learning. This study is motivated by the need to describe in depth how smartphone-based learning media can be effectively integrated into PAI learning at the elementary school level. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type, which aims to obtain a comprehensive picture of the process and various aspects related to the use of the Bertimah application in PAI learning. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. The data obtained are analyzed through three main stages, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification, to ensure in-depth, thorough, and accurate research results in accordance with field conditions. The results of the study show three main findings. First, the use of the Bertimah application smartphone learning media is implemented through two learning contexts, namely in the classroom and at home. Second, the use of the Bertimah app offers various benefits for both schools and students, such as improved school performance and student learning outcomes. Third, this study also identified several challenges, including limited devices and internet access, potential disruption and misuse of smartphones, Islamic Religious Education (PAI) teacher preparedness, and the need for ongoing application development and maintenance. Overall, this study provides a comprehensive overview of the implementation, benefits, and obstacles to integrating smartphone technology into Islamic Religious Education (PAI) learning in the digital era. Abstrak Dalam konteks pendidikan, integrasi teknologi menghadirkan peluang baru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran, salah satunya melalui pemanfaatan smartphone sebagai media belajar. Penelitian ini secara khusus berfokus pada penggunaan perangkat smartphone berbasis Android melalui aplikasi Bertimah sebagai media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri 22 Mentok. Fokus penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi tahapan pemanfaatan, keuntungan, serta tantangan penggunaan aplikasi Bertimah dalam pembelajaran PAI. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mendeskripsikan secara mendalam bagaimana media pembelajaran berbasis smartphone dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembelajaran PAI di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai proses dan berbagai aspek yang berkaitan dengan pemanfaatan aplikasi Bertimah dalam pembelajaran PAI. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis melalui tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi, guna memastikan hasil penelitian yang mendalam, teliti, dan akurat sesuai dengan kondisi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemanfaatan media pembelajaran smartphone aplikasi Bertimah diimplementasikan melalui dua konteks pembelajaran, yaitu di kelas dan di rumah. Kedua, penggunaan aplikasi Bertimah memberikan berbagai keuntungan, baik bagi sekolah maupun siswa, seperti peningkatan prestasi sekolah dan hasil belajar siswa. Ketiga, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan perangkat dan akses internet, potensi gangguan dan penyalahgunaan smartphone, kesiapan guru PAI, serta kebutuhan pengembangan dan pemeliharaan aplikasi secara berkelanjutan. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran utuh mengenai implementasi, manfaat, dan hambatan integrasi teknologi smartphone dalam pembelajaran PAI di era digital.
Pendekatan Behavioral Dalam Optimalisasi Komunitas Belajar di SMPIT Yabunaya Pemali Kabupaten Bangka Repinarsi
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/447zmg34

Abstract

Kesuksesan suatu sekolah ditentukan oleh kolaborasi, refleksi, dan aktivitas berbagi praktik baik yang dilakukan oleh para guru dalam komunitas belajar di sekolah. Keberadaan komunitas belajar di sekolah sangat penting sehingga harus diselenggarakan secara optimal dengan berbagai pendekatan. Namun, penyelenggaraan komunitas belajar di kabupaten Bangka belum dianggap optimal.  Kesenjangan kondisi ini mendorong peneliti untuk mengkaji lebih dalam bagaimana optimalisasi komunitas belajar di SMP IT Yabunaya Pemali, sebagai salah satu sekolah yang mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Berkemajuan Terbaik di Kabupaten Bangka.  Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus.  Data penelitian bersumber dari data primer dan data sekunder melalui observasi partisipatif, wawancara, serta dokumentasi.  Data kemudian dianalisis dan disajikan secara deskriptif melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan validasi data melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip-prinsip pendekatan behavioral, yaitu prinsip penghargaan (reward) dan hukuman (punishment), penguatan primer (primary reinforcement) dan penguatan sekunder (secondary reinforcement), jadwal penguatan (schedule of reinforcement), manajamen kontingensi (contingency management), pengkondisian operan (operant conditioned), dan pembentukan perilaku (shaping) dapat mengoptimalkan komunitas belajar SMP IT Yabunaya Pemali, Kabupaten Bangka. Kondisi tersebut masih terdapat kekurangan, misalnya penguatan sekunder belum variatif, porsi jadwal penguatan tetap lebih besar sehingga antusiasme anggota komuntas masih berfluktuatif, dan perlu adanya kontrak manajemen kontingensi tertulis untuk mendorong perilaku positif.