cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 140 Documents
Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Budaya Sibaliparri Perspektif Mubadalah Masyarakat Nelayan Tamo’ Kabupaten Majene Saldin; Faridah Ulvi Na'imah; Tiya Wardah Saniatul Husnah
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ty4ek106

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Islamic educational values ​​within the Sibaliparri culture in the Tamo' fishing community in Majene Regency using a mubadalah perspective. Sibaliparri culture is local wisdom that emphasizes the principles of togetherness, mutual assistance, and shared responsibility between husband and wife in family life and the socio-economic activities of the fishing community. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation of community leaders, religious leaders, and fishing families who practice Sibaliparri culture. Data analysis was conducted interactively through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results indicate that Sibaliparri culture contains strong Islamic educational values, such as monotheism, justice, cooperation (ta'āwun), responsibility, sincerity, and deliberation. From a mubadalah perspective, gender relations in Sibaliparri culture are reciprocal and equal, where men and women share roles according to the family's circumstances and needs without negating Islamic principles. The implementation of these values ​​serves as an effective informal Islamic education in shaping religious character, work ethic, social solidarity, and resilience in fishing families. This study concludes that the Sibaliparri culture not only represents the local traditions of the Tamo' fishing community but also serves as a model for the implementation of contextual, just, and humanitarian-oriented Islamic education. The mubadalah perspective strengthens the understanding that Islamic values ​​can dynamically transform within local culture and contribute to the sustainable social development of coastal communities. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam budaya sibaliparri pada masyarakat nelayan Tamo’ Kabupaten Majene dengan menggunakan perspektif mubadalah. Budaya sibaliparri merupakan kearifan lokal yang menekankan prinsip kebersamaan, saling membantu, dan tanggung jawab bersama antara suami dan istri dalam kehidupan keluarga maupun aktivitas sosial-ekonomi masyarakat nelayan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh masyarakat, tokoh agama, serta keluarga nelayan yang mempraktikkan budaya sibaliparri. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya sibaliparri mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang kuat, seperti nilai tauhid, keadilan, kerja sama (ta‘āwun), tanggung jawab, keikhlasan, dan musyawarah. Dalam perspektif mubadalah, relasi gender dalam budaya sibaliparri bersifat timbal balik dan setara, di mana laki-laki dan perempuan saling berbagi peran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan keluarga tanpa menafikan prinsip ajaran Islam. Implementasi nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai pendidikan Islam informal yang efektif dalam membentuk karakter religius, etos kerja, solidaritas sosial, serta ketahanan keluarga nelayan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya sibaliparri tidak hanya merepresentasikan tradisi lokal masyarakat nelayan Tamo’, tetapi juga menjadi model implementasi pendidikan Islam yang kontekstual, adil, dan berorientasi pada kemanusiaan. Perspektif mubadalah memperkuat pemahaman bahwa nilai-nilai Islam dapat bertransformasi secara dinamis dalam budaya lokal dan berkontribusi terhadap pembangunan sosial masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Hikmah Ibadah Zakat Waqaf Dan Haji Mutiara Suci Aldia; Nabila Mailany Sukma; Mutia Nazli; Ridwal Trisoni; Muhamad Yahya
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/prqc7e31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam hikmah pelaksanaan ibadah, zakat, waqaf, dan haji sebagai bentuk aktualisasi keimanan dan penguatan karakter umat Islam. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka (library research), penelitian ini menganalisis berbagai sumber literatur, antara lain ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, serta pendapat para ulama dan pakar pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa setiap bentuk ibadah dalam Islam mengandung dimensi pendidikan yang integral bagi pembentukan pribadi muslim yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab sosial. Ibadah seperti salat menanamkan nilai kedisiplinan dan keikhlasan, zakat serta waqaf menumbuhkan kepedulian sosial dan keadilan ekonomi, sedangkan haji memperkuat ukhuwah dan kesetaraan umat. Secara keseluruhan, hikmah dari pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut mencerminkan konsep pendidikan Islam yang menyatukan aspek spiritual, moral, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diinternalisasikan melalui praktik ibadah yang membentuk insan kamil yang bertakwa dan berakhlakul karimah. Abstract This study aims to examine the Islamic educational values contained in the wisdom of worship practices such as prayer, zakat, waqf, and hajj as forms of faith actualization and the strengthening of Muslim character. Using a qualitative approach with a library research method, this study analyzes various sources of literature, including verses from the Qur’an, hadiths, as well as opinions of scholars and Islamic education experts. The results of this study show that each act of worship in Islam carries an integral educational dimension for shaping a faithful, moral, and socially responsible Muslim personality. Worship practices such as prayer instill discipline and sincerity, zakat and waqf cultivate social concern and economic justice, while hajj strengthens brotherhood and equality among Muslims. Overall, the wisdom behind these acts of worship reflects the essence of Islamic education, which integrates spiritual, moral, and social aspects into daily life. Therefore, this study emphasizes that Islamic educational values are not merely theoretical concepts but are internalized through worship practices that develop the ideal Muslim individual (insan kamil) who is pious and noble in character.
Perilaku Dalam Pendidikan Islam Abdus Salam; Achmad Taufiq; Mukhlasin; Muhammad Tis Asuh Shobirin; Titin Nurhidayati
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/zerbdc08

Abstract

Behavior in Islamic education is a fundamental aspect that lies at the core of the entire educational process. Islamic education is not solely oriented toward the transfer of religious knowledge, but rather emphasizes the formation of noble behavior and morals as a manifestation of faith and knowledge internalized within students. Behavior is understood as a primary indicator of the success of Islamic education, as it is through behavior that the values ​​of Islamic teachings are concretely realized in daily life. This study aims to analyze the concept of behavior in Islamic education and its urgency in developing individuals with faith, knowledge, and noble character. Islamic education views behavior as the result of an integration of cognitive, affective, and psychomotor aspects developed through learning processes, role models, habituation, and a valuable educational environment. Therefore, behavior is positioned not only as the end result of education but also as an integral part of the educational process itself. The study's findings indicate that effective Islamic education is one that is able to transform Islamic values ​​from the realm of texts into real-life contexts. Conscious, consistent, and responsible development of Islamic behavior contributes directly to the formation of individuals with integrity and to the realization of a just, harmonious, and civilized social order. Thus, placing behavior at the heart of Islamic education reaffirms the essence of Islamic education as a process of developing complete human beings (insān kāmil) who are not only intellectually intelligent but also morally just, and oriented toward the welfare of humanity and the sustainability of civilization.  Abstrak Perilaku dalam pendidikan Islam merupakan aspek fundamental yang menjadi inti dari seluruh proses pendidikan. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan keagamaan, tetapi lebih menekankan pada pembentukan perilaku dan akhlak mulia sebagai manifestasi dari iman dan ilmu yang terinternalisasi dalam diri peserta didik. Perilaku dipahami sebagai indikator utama keberhasilan pendidikan Islam, karena melalui perilakulah nilai-nilai ajaran Islam terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis konsep perilaku dalam pendidikan Islam serta urgensinya dalam membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Pendidikan Islam memandang perilaku sebagai hasil integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dibangun melalui proses pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan pendidikan yang bernilai. Oleh karena itu, perilaku tidak hanya diposisikan sebagai hasil akhir pendidikan, tetapi juga sebagai bagian integral dari proses pendidikan itu sendiri. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang efektif adalah pendidikan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam dari ranah teks ke dalam konteks kehidupan nyata. Pembinaan perilaku islami secara sadar, konsisten, dan bertanggung jawab berkontribusi langsung pada pembentukan individu yang berintegritas serta pada terwujudnya tatanan sosial yang adil, harmonis, dan beradab. Dengan demikian, menempatkan perilaku sebagai jantung pendidikan Islam menegaskan kembali hakikat pendidikan Islam sebagai proses pembentukan manusia paripurna (insān kāmil) yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia serta keberlanjutan peradaban
Aborsi  dalam Perspektif Tafsir Aḥkām dan Relevansinya dengan Bioetika Nuruz Zhafirah; Kusnadi; Aristopan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/tbqhpw34

Abstract

Abortion is a contemporary bioethical issue that continues to spark debate as medical technology advances and society changes. In Islamic jurisprudence, the practice of abortion is not explicitly discussed in the Qur'an, but its normative principles can be traced through verses prohibiting murder and maqāṣid al-sharī‘ah, particularly the preservation of life (ḥifẓ al-nafs). This article aims to analyze the legal construction of abortion from the perspective of aḥkām interpretation and examine its relevance to the contemporary bioethical framework. This study uses qualitative methods with content analysis techniques and an aḥkām interpretation approach to Qur'anic verses related to the protection of life and offspring, supported by hadith and fiqh literature. The results show that from the perspective of aḥkām interpretation, abortion is basically considered a prohibited act because it eliminates the potential for human life. However, in emergency conditions that threaten the mother's life, abortion can be permitted based on the fiqh principle of akhaffu ad-dhararain and the principle of maqāṣid al-syarī‘ah. The relevance of aḥkām interpretation to bioethics lies in the assertion that individual autonomy is not absolute, but is limited by moral responsibility and the protection of life. This study emphasizes that the integration of aḥkām interpretation and Islamic bioethics is important as an ethical basis for responding comprehensively to contemporary abortion practices. Abstrak Aborsi merupakan persoalan bioetika kontemporer yang terus memunculkan perdebatan seiring dengan perkembangan teknologi medis dan perubahan sosial. Dalam khazanah Islam, praktik aborsi tidak dibahas secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun prinsip-prinsip normatifnya dapat ditelusuri melalui ayat-ayat larangan pembunuhan dan maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya pemeliharaan jiwa (ḥifẓ al-nafs). Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi hukum aborsi dalam perspektif tafsir aḥkām serta menelaah relevansinya dengan kerangka bioetika kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik content analysis dan pendekatan tafsir aḥkām terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan perlindungan jiwa dan keturunan, didukung oleh hadis dan literatur fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif tafsir aḥkām, aborsi pada dasarnya dipandang sebagai tindakan terlarang karena menghilangkan potensi kehidupan manusia. Namun, dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa ibu, aborsi dapat dibolehkan berdasarkan kaidah fikih akhaffu ad-dhararain dan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah. Relevansi tafsir aḥkām dengan bioetika terletak pada penegasan bahwa otonomi individu tidak bersifat absolut, melainkan dibatasi oleh tanggung jawab moral dan perlindungan terhadap kehidupan. Kajian ini menegaskan bahwa integrasi tafsir aḥkām dan bioetika Islam penting sebagai landasan etis dalam merespons praktik aborsi kontemporer secara komprehensif.
Peran Guru PAI Sebagai Pembimbing Sikap Religius Peserta Didik Nailul Husni; Ridwal Trisoni; Muhammad Yahya
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/6t2g9f56

Abstract

The development of information and communication technology in the digital era brings its own challenges for education, especially Islamic Religious Education (PAI), in guiding and shaping students' religious attitudes. PAI teachers have a task strategy to not only deliver material, but also encourage and guide students to instill religious values ​​through a learning process that suits their needs. This study aims to analyze the role of PAI teachers in guiding students' religious attitudes. The research method used is a quantitative approach with data collection techniques through questionnaires distributed using the Google Forms application. The results show that the role of PAI teachers has a significant influence in guiding students' religious attitudes, which is demonstrated by increased learning motivation, discipline in carrying out worship, attitudes of responsibility, honesty, and religious behavior in the school environment. Guidance carried out by PAI teachers through a habituation approach, role models, and the use of relevant learning media can strengthen the internalization of religious values ​​in students. Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital membawa tantangan tersendiri bagi pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), dalam membimbing dan membentuk sikap religius peserta didik. Guru PAI mempunyai strategi tugas untuk tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong dan membimbing siswa untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru PAI dalam membimbing sikap religius peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan menggunakan aplikasi Google Forms. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru PAI berpengaruh signifikan dalam membimbing sikap religius peserta didik, yang ditunjukkan melalui meningkatnya motivasi belajar, kedisiplinan dalam menjalankan ibadah, sikap tanggung jawab, kejujuran, serta perilaku religius dalam lingkungan sekolah. Pembimbingan yang dilakukan guru PAI melalui pendekatan pembiasaan, keteladanan, dan pemanfaatan media pembelajaran yang relevan mampu memperkuat internalisasi nilai-nilai religius pada diri peserta didik  
Teologi Abrahamik sebagai Titik Temu: Analisis Historis atas Relasi Yahudi, Kristen dan Islam Yasinta Rohmawati; Dino; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/qjbtkg48

Abstract

Abrahamic theology serves as a conceptual framework that positions the Prophet Abraham (Abraham) as a central figure in the Jewish, Christian, and Islamic religious traditions. These three religions have interconnected genealogical and theological roots, particularly in the affirmation of monotheism, respect for the prophetic tradition, and a moral commitment to the values ​​of justice and ethical responsibility. Abraham is seen as an exemplar of devout faith in God, so that narratives about him form a strong theological foundation for each religion, although interpreted through different doctrinal perspectives. Throughout history, relations between Judaism, Christianity, and Islam have developed dynamically. These relationships have been characterized not only by dialogue and intellectual exchange, but also by tensions triggered by theological differences, political interests, and the surrounding socio-cultural context. Differing views on prophecy, salvation, and the authority of revelation often trigger conflict, but at the same time also open up space for critical reflection and the enrichment of religious thought. The results of this study indicate that behind these fundamental differences, there are universal Abrahamic values. The values ​​of monotheism, justice, compassion, and moral responsibility constitute a common foundation that can serve as a meeting point between faiths. In the context of contemporary pluralistic societies, Abrahamic theology offers a relevant ethical framework for responding to the challenges of intolerance, identity conflict, and religious radicalism. By emphasizing shared fundamental values, this theology has the potential to strengthen interfaith dialogue, foster harmonious coexistence, and foster sustainable reconciliation and peace. Abstrak Teologi Abrahamik berfungsi sebagai kerangka konseptual yang menempatkan Nabi Ibrahim (Abraham) sebagai figur sentral dalam tradisi keagamaan Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama ini memiliki akar genealogis dan teologis yang saling berkaitan, terutama dalam penegasan ajaran monoteisme, penghormatan terhadap tradisi kenabian, serta komitmen moral terhadap nilai keadilan dan tanggung jawab etis. Ibrahim dipandang sebagai teladan iman yang taat kepada Tuhan, sehingga narasi tentang dirinya membentuk fondasi teologis yang kuat bagi masing-masing agama, meskipun ditafsirkan melalui perspektif doktrinal yang berbeda. Dalam perjalanan sejarah, relasi antara Yahudi, Kristen, dan Islam berkembang secara dinamis. Hubungan tersebut tidak hanya diwarnai oleh dialog dan pertukaran intelektual, tetapi juga oleh ketegangan yang dipicu oleh perbedaan teologis, kepentingan politik, serta konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Perbedaan pandangan tentang kenabian, keselamatan, dan otoritas wahyu sering kali menjadi faktor pemicu konflik, namun pada saat yang sama juga membuka ruang bagi refleksi kritis dan pengayaan pemikiran keagamaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di balik perbedaan fundamental tersebut, terdapat nilai-nilai Abrahamik yang bersifat universal. Nilai tauhid, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral merupakan landasan bersama yang dapat menjadi titik temu antariman. Dalam konteks masyarakat plural kontemporer, teologi Abrahamik menawarkan kerangka etis yang relevan untuk merespons tantangan intoleransi, konflik identitas, dan radikalisme keagamaan. Dengan menekankan persamaan nilai dasar, teologi ini berpotensi memperkuat dialog antaragama, menumbuhkan kehidupan bersama yang harmonis, serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian yang berkelanjutan
Dinamika Identitas Yahudi :  Jejak Historisnya di Indonesia Jaoharotun Aulia; Novianti; Ahmad Jais
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/kqpft328

Abstract

Yahudi merupakan istilah yang merujuk pada keturunan Yahuda, salah satu putra Nabi Ya‘qub, sehingga identitas Yahudi secara tradisional ditentukan oleh garis keturunan, bukan semata-mata oleh keyakinan atau tingkat ketaatan beragama. Seseorang tetap dianggap Yahudi meskipun tidak menjalankan ajaran agama Yahudi atau bahkan menyimpang darinya. Sebagai salah satu agama samawi tertua, Yahudi telah eksis sekitar dua ribu tahun sebelum munculnya Islam dan berkembang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim yang kemudian dilembagakan secara normatif melalui Nabi Musa dengan penegasan keesaan Tuhan dan hukum Taurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji identitas keagamaan Yahudi serta menelusuri keberadaan dan dinamika komunitas Yahudi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan historis-deskriptif terhadap sumber-sumber literatur sejarah dan keagamaan. Hasil Penelitian menunjukkan  bahwa identitas Yahudi memiliki karakter unik karena bersifat etno-religius, di mana aspek keturunan memainkan peran utama dalam menentukan keanggotaan komunitas. Dari sisi historis, komunitas Yahudi di Indonesia telah hadir sejak abad ke-17 melalui jalur perdagangan internasional dan migrasi pada masa kolonial, terutama di wilayah pelabuhan strategis. Namun, pasca-kemerdekaan Indonesia, jumlah komunitas Yahudi mengalami penyusutan signifikan akibat faktor politik, sosial, dan migrasi ke luar negeri. Meskipun demikian, jejak historis keberadaan Yahudi di Indonesia tetap memiliki makna penting dalam konteks pluralitas keagamaan. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa Indonesia sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi keagamaan dunia. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa komunitas Yahudi, meskipun kecil dan minor, berkontribusi dalam memperkaya spektrum keberagaman dan sejarah toleransi keagamaan di Indonesia. Abstrak Yahudi merupakan istilah yang merujuk pada keturunan Yahuda, salah satu putra Nabi Ya‘qub, sehingga identitas Yahudi secara tradisional ditentukan oleh garis keturunan, bukan semata-mata oleh keyakinan atau tingkat ketaatan beragama. Seseorang tetap dianggap Yahudi meskipun tidak menjalankan ajaran agama Yahudi atau bahkan menyimpang darinya. Sebagai salah satu agama samawi tertua, Yahudi telah eksis sekitar dua ribu tahun sebelum munculnya Islam dan berkembang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim yang kemudian dilembagakan secara normatif melalui Nabi Musa dengan penegasan keesaan Tuhan dan hukum Taurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji identitas keagamaan Yahudi serta menelusuri keberadaan dan dinamika komunitas Yahudi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan historis-deskriptif terhadap sumber-sumber literatur sejarah dan keagamaan. Hasil Penelitian menunjukkan  bahwa identitas Yahudi memiliki karakter unik karena bersifat etno-religius, di mana aspek keturunan memainkan peran utama dalam menentukan keanggotaan komunitas. Dari sisi historis, komunitas Yahudi di Indonesia telah hadir sejak abad ke-17 melalui jalur perdagangan internasional dan migrasi pada masa kolonial, terutama di wilayah pelabuhan strategis. Namun, pasca-kemerdekaan Indonesia, jumlah komunitas Yahudi mengalami penyusutan signifikan akibat faktor politik, sosial, dan migrasi ke luar negeri. Meskipun demikian, jejak historis keberadaan Yahudi di Indonesia tetap memiliki makna penting dalam konteks pluralitas keagamaan. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa Indonesia sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi keagamaan dunia. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa komunitas Yahudi, meskipun kecil dan minor, berkontribusi dalam memperkaya spektrum keberagaman dan sejarah toleransi keagamaan di Indonesia.
Perjanjian Ilahi dan Konsep Ketuhanan sebagai Basis Keimanan dalam Agama Yahudi Serlly Della Ressa; Rahmawati; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/qdt2dd86

Abstract

This study aims to examine in depth the sacred covenant (Brit) and the concept of God as the primary foundation for the formation of faith in Judaism. In Jewish tradition, faith is not understood solely as a theological recognition of the oneness of God (YHWH), but rather as a spiritual commitment manifested through concrete obedience to divine laws. Faith is thus closely intertwined with the theological, ethical, and practical dimensions of everyday Jewish life. This study uses a qualitative approach with a literature analysis method, sourced from Jewish scriptures, classical and contemporary theological works, and scientific articles relevant to the study of divinity and the sacred covenant in Judaism. The results of the study indicate that the concept of divinity in Judaism affirms absolute monotheism that positions God as a transcendent, sacred reality, and beyond the boundaries of the material world. This view demands that believers live a law-abiding, morally disciplined, and ethically oriented life as a concrete manifestation of faith. Furthermore, the sacred covenant between God and the Israelites serves as a pillar of religious identity that shapes the collective belief patterns of the Jewish people. Brit is not only interpreted spiritually, but also encompasses moral and social responsibilities embodied in the practice of Torah and mitzvot. Thus, faith in Judaism is built through the integral relationship between the idea of ​​divinity, the sacred covenant, and the practice of obedience, which simultaneously underpins the religious and ethical life of the Jewish people.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam perjanjian suci (Brit) dan gagasan tentang Tuhan sebagai fondasi utama pembentukan keyakinan dalam agama Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, keyakinan tidak dipahami semata-mata sebagai pengakuan teologis terhadap keesaan Tuhan (YHWH), melainkan sebagai komitmen spiritual yang diwujudkan melalui ketaatan konkret terhadap hukum-hukum ilahi. Keyakinan dengan demikian terjalin erat antara dimensi teologis, etis, dan praksis kehidupan sehari-hari umat Yahudi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis literatur, yang bersumber dari kitab-kitab suci Yahudi, karya-karya teologi klasik dan kontemporer, serta artikel ilmiah yang relevan dengan kajian ketuhanan dan perjanjian suci dalam Yudaisme. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep ketuhanan dalam agama Yahudi menegaskan monoteisme absolut yang menempatkan Tuhan sebagai realitas transenden, suci, dan melampaui batas-batas dunia material. Pandangan ini menuntut umat untuk menjalani kehidupan yang taat hukum, berdisiplin moral, dan berorientasi etis sebagai wujud nyata dari keyakinan. Lebih lanjut, perjanjian suci antara Tuhan dan bangsa Israel berfungsi sebagai pilar identitas keagamaan yang membentuk pola keyakinan kolektif masyarakat Yahudi. Brit tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga memuat tanggung jawab moral dan sosial yang diwujudkan dalam pengamalan Torah dan mitzvot. Dengan demikian, keyakinan dalam agama Yahudi dibangun melalui relasi integral antara gagasan ketuhanan, perjanjian suci, dan praktik kepatuhan, yang secara simultan menopang kehidupan religius sekaligus etis umat Yahudi
Ekosistem Dan Peran Lembaga Keagamaan Yahudi Dalam Pembentukan Identitas Sosial Dan Spiritualitas Komunitas Yahudi Fika; Tasya; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/hw7gxq61

Abstract

This research examines the institutional dynamics of Judaism as the oldest Abrahamic religion that underwent a fundamental transformation after the destruction of the Second Temple in 70 CE. This historical event triggered a profound institutional crisis, due to the loss of the main center of worship based on the cult of sacrifice. This condition prompted a process of re-institutionalization pioneered by Rabbi Yohanan ben Zakkai in Yamnia (Yavneh), by shifting religious orientation from the Temple to the authority of sacred texts and intellectual traditions, especially the Torah, Talmud, and Halakha. This research uses a descriptive qualitative approach through a literature study of classical and modern sources, to analyze the main elements of Jewish institutions, including the synagogue as the center of worship and community life, rabbinic authority, religious educational institutions (yeshivas), and the development of modern denominations such as Orthodox, Reform, and Conservative. The results of the study indicate that the institutional resilience of Judaism is built through a synergy between the ritual, legal, and social dimensions that reinforce each other. Synagogues function not only as prayer spaces but also as educational, social, and community identity centers, while rabbinic authority gains legitimacy through its interpretive power over sacred texts. The intertextuality between the Tanakh, Talmud, and Midrash has been shown to strengthen this authority and maintain the cohesion of religious identity amidst Diaspora life. Furthermore, this study finds significant institutional divergence between the Israeli and American contexts, where Israel is dominated by the Orthodox Chief Rabbinate, while in the United States, Reform and Conservative denominations are more developed and adapt to modern values. Abstrak Penelitiannya ini mengkaji dinamika kelembagaan Yudaisme sebagai agama Abrahamik tertua yang mengalami transformasi fundamental pasca-penghancuran Bait Suci Kedua pada tahun 70 M. Peristiwa historis tersebut memicu krisis institusional yang mendalam, karena hilangnya pusat ibadah utama berbasis kultus kurban. Kondisi ini mendorong proses institusionalisasi ulang yang dipelopori oleh Rabi Yohanan ben Zakkai di Yamnia (Yavneh), dengan mengalihkan orientasi keagamaan dari Bait Suci menuju otoritas teks suci dan tradisi intelektual, khususnya Taurat, Talmud, dan Halakha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap sumber-sumber klasik dan modern, guna menganalisis elemen-elemen utama kelembagaan Yahudi, meliputi sinagoga sebagai pusat ibadah dan kehidupan komunitas, otoritas rabinik, lembaga pendidikan keagamaan (yeshiva), serta perkembangan denominasi modern seperti Ortodoks, Reformasi, dan Konservatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan institusional Yudaisme terbangun melalui sinergi antara dimensi ritual, hukum, dan sosial yang saling menguatkan. Sinagoga berfungsi tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, sosial, dan identitas komunitas, sementara otoritas rabinik memperoleh legitimasi melalui kemampuan interpretatif atas teks-teks suci. Intertekstualitas antara Tanakh, Talmud, dan Midrash terbukti memperkuat otoritas tersebut serta menjaga kohesi identitas keagamaan di tengah kehidupan Diaspora. Selain itu, penelitian ini menemukan adanya divergensi kelembagaan yang signifikan antara konteks Israel dan Amerika Serikat, di mana Israel didominasi oleh Rabbinate Kepala Ortodoks, sedangkan di Amerika Serikat lebih berkembang denominasi Reformasi dan Konservatif yang adaptif terhadap nilai-nilai modernitas.
Hari Raya Yahudi Sebagai Representasi Kesadaran Historis Dan Keagamaan Bangsa Israel Mayyadi; Naya Maulidia; Ahmad Jais
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/r03vzs60

Abstract

Jewish holidays are crucial for understanding Judaism, not only as a theological belief system but also as a manifestation of the historical consciousness of the Israelite people. In Judaism, religious celebrations are always closely linked to historical events, understood as manifestations of God's intervention in the life of the Israelite people. The history of salvation, experiences of liberation, wanderings, and even the steadfastness of faith amidst suffering are not simply remembered as past events but are re-enacted through holiday celebrations. Therefore, Jewish holidays cannot be understood simply as formal ritual practices, but as a means of maintaining collective memory and strengthening the religious identity of the Jewish people. This research uses a descriptive qualitative method with a literature review approach, analyzing various books and scholarly journals that discuss Jewish history, ritual, and religious identity. This approach allows researchers to comprehensively explore the relationship between holiday celebrations, historical narratives, and the formation of Israel's religious consciousness. The results of the study indicate that Jewish holidays function as a medium for actualizing sacred history, where past events are re-enacted through symbols, prayers, and repeated ritual practices. Through this mechanism, history is not only studied but also experienced existentially by the people. Holiday celebrations serve as a space for the effective transmission of values ​​and meaning, thus preserving the historical consciousness of the Israeli people and passing it on from one generation to the next. Thus, Jewish holidays play a crucial role in strengthening the continuity of Jewish religious identity in contemporary religious life. Abstrak Hari raya dalam tradisi Yahudi merupakan aspek yang sangat penting untuk memahami agama Yahudi tidak hanya sebagai sistem kepercayaan teologis, tetapi juga sebagai manifestasi kesadaran historis bangsa Israel. Dalam Yudaisme, perayaan keagamaan selalu berkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang dipahami sebagai bentuk campur tangan Tuhan dalam perjalanan hidup bangsa Israel. Sejarah keselamatan, pengalaman pembebasan, pengembaraan, hingga keteguhan iman di tengah penderitaan tidak sekadar dikenang sebagai peristiwa masa lalu, melainkan dihadirkan kembali melalui perayaan hari raya. Oleh karena itu, hari raya Yahudi tidak dapat dipahami hanya sebagai praktik ritual formal, tetapi sebagai sarana pemeliharaan ingatan kolektif sekaligus penguatan identitas keagamaan umat YahudiPenelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, dengan menganalisis berbagai buku dan jurnal ilmiah yang membahas sejarah, ritual, serta identitas keagamaan Yahudi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menelusuri keterkaitan antara perayaan hari raya, narasi sejarah, dan pembentukan kesadaran religius bangsa Israel secara komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa hari raya Yahudi berfungsi sebagai media aktualisasi sejarah suci, di mana peristiwa-peristiwa masa lalu dihadirkan kembali melalui simbol, doa, dan praktik ritual yang dilakukan secara berulang. Melalui mekanisme ini, sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi dialami secara eksistensial oleh umat. Perayaan hari raya menjadi ruang transmisi nilai dan makna yang efektif, sehingga kesadaran historis bangsa Israel terus terjaga dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, hari raya Yahudi berperan penting dalam memperkuat kesinambungan identitas keagamaan umat Yahudi dalam kehidupan keagamaan kontemporer