cover
Contact Name
-
Contact Email
taaruf@unsiq.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
taaruf@unsiq.ac.id
Editorial Address
Jl. KH Hasyim Asy-Ari Km 03, Kec. Mojotengah, Kab. Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 56351
Location
Kab. wonosobo,
Jawa tengah
INDONESIA
At-Ta'aruf: Jurnal Hukum Keluarga Islam
ISSN : -     EISSN : 29643112     DOI : https://doi.org/10.59579/ath
Core Subject : Social,
At-Ta’aruf: Jurnal Hukum Keluarga Islam emphasizes the study of Islamic Family law in Islamic countries in general and specifically in Indonesia by emphasizing the theories of Islamic Family law and customary law and its practices in the Islamic worlds that developed in attendance through publications of articles and book reviews.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 60 Documents
PERLINDUNGAN HAK ANAK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF INDONESIA dalilatun, fitri; Amania, Nila
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2024): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ath.v3i2.8663

Abstract

Protection of children's rights is often associated in Islamic law with the ethical and spiritual obligations of parents and society. For example, parents have an obligation to ensure that their children receive a quality education and are raised in a safe and caring environment. In contrast, the protection of children's rights in Indonesian positive law focuses primarily on the legal and administrative components, emphasizing the need for clear law enforcement procedures and penalties for those who violate children's rights. A qualitative approach using descriptive-comparative analysis methodology is the research methodology used. The purpose of this study is to determine the positive laws and regulations of Indonesia with Islamic law regulations related to the protection of children's rights. Various teachings on child protection, including those related to the right to life, the right to education, the right to be safe from violence, and the right to welfare, can be found in Islamic law. On the other hand, laws and regulations such as Child Protection Law Number 35 of 2014 have been regulated by positive laws and regulations in Indonesia, providing different protection for children's rights.
KEMITRASEJAJARAN PRIA-WANITA DALAM ISLAM SEBAGAI KRITIK WACANA PATRIARKIS DAN TEOLOGI FEMINISME Hurnawijaya, Hurnawijaya -
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2024): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ath.v3i2.8664

Abstract

Abstract Patriarchy is a system that places adult men in the central or most important position, while others such as wives and children are positioned according to the interests of the patriarch (adult men). In a patriarchal system, women are positioned as wives who are tasked with accompanying, complementing, entertaining and serving their husbands (the patriarch), while children are positioned as the next generation and entertainers of their fathers. This system influences the interpretation and understanding of religion, in this case Islamic teachings. Interpreting religion with a patriarchal lens can give birth to a patriarchal culture that positions women as always and always under men and men must always and always be above women, namely in a position to lead, regulate and control, regardless of whether the man is capable. and fulfill the requirements or not. This understanding then received deconstruction from the feminist movement which challenged interpretations and understandings that tended to be patriarchal, such as the theological construction carried out by several Muslim figures such as Riffat Hassan, Ameena Wadud and so on to realize gender equality, unfortunately the theological construction of gender equality built by Riffat Hassan for example, simply adopting the concept of feminist theology that developed in the West. Even though it is different from women in the West, which has a dark history because women are seen as despised and treated discriminatorily, in Islam women are actually glorified. The arrival of Islam has eliminated jahiliyah customs that were detrimental to women and raised their dignity. If the subordination of women in the West gets legitimacy from the Bible, in the Koran women are actually glorified. Therefore, a new understanding of religion is needed using a gender justice perspective that relations in Islam are not like the understanding in patriarchal culture or gender equality as advocated by western feminism but rather gender harmony in the form of equal partnerships between men and women. Keywords: Interpretation, Gender, Patriarchy, Feminism, Equal Partnerships
Reformasi Hukum Perwalian Anak dalam Kasus Perceraian: Antara Kepentingan Anak dan Hak Orang Tua ihsanudin, muh
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2024): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ath.v3i2.8675

Abstract

Child custody arrangements in divorce cases remain a critical issue in family law, often sparking disputes between parents while potentially neglecting the best interests of the child. This study examines the reform of child custody laws in Indonesia by balancing the child’s best interests with parental rights, using a normative qualitative approach grounded in Islamic law and Indonesia's national legal framework. It explores the principles underlying custody decisions, particularly the alignment of existing laws with Islamic jurisprudence and international conventions such as the Convention on the Rights of the Child (CRC). The findings indicate that while Indonesian legal provisions prioritize the child’s welfare, implementation challenges persist, particularly in balancing parental rights and addressing gender biases in custody decisions. The study highlights the need for legal reforms to enhance clarity, consistency, and fairness in custody arrangements, emphasizing the integration of Islamic legal principles and global best practices to safeguard children’s rights. This article concludes by offering recommendations for a comprehensive reform of custody laws that not only uphold the best interests of the child but also ensure equitable consideration of parental roles. These reforms aim to bridge the gap between religious principles, national legal mandates, and international human rights standards in addressing custody disputes post-divorce.
STATUS PERKAWINAN SUAMI MUALAF YANG MURTAD DALAM HUKUM ISLAM (Studi Pendapat K.H Yahya Zainul Ma’arif Pada Channel Youtube Al-Bahjah TV) nurfadilah, nurfadilah; Nihayah, Rohatun
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2024): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ath.v3i2.8676

Abstract

Dari analisis pendapat K.H. Yahya Zainul Ma’arif mengenai status pernikahan suami mualaf yang murtad menunjukkan bahwa pernikahan tersebut otomatis dianggap fasakh ketika suami memilih untuk kembali ke agama lamanya, tanpa perlu melontarkan talak, sesuai dengan pandangan madzhab Syafi’iyah. Jika kemurtadan terjadi sebelum bersenggama, pernikahan batal seketika; jika setelahnya, harus menunggu masa iddah istri. K.H. Yahya menekankan pentingnya memilih pasangan yang kuat imannya untuk menghindari konflik dalam pernikahan dan memberikan nasihat agar istri membujuk suami untuk kembali ke Islam. Dalam konteks hukum, meskipun pernikahan dianggap batal secara agama, proses perceraian harus melalui pengadilan agar diakui secara hukum, terutama jika ada anak. Pendapat beliau memiliki implikasi sosial dan keagamaan yang signifikan, mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan dan memahami kompleksitas isu kemurtadan dalam konteks pernikahan.
HAK-HAK ANAK TERKAIT DENGAN PERNIKAHAN WANITA HAMIL: STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN IMAM SYAFI’I DAN IMAM HANBALI latifatun, nur; Adawiyah, Robiah
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2024): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ath.v3i2.8703

Abstract

Penelitian ini membahas hak-hak anak yang terlahir dari sebuah pernikahan yang wanita hamil di luar nikah, berdasarkan dari pemikiran Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Penelitian ini memakai metode kualitatif dan menggunakan pendekatan kepustakaan. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya perbedaan pendapat di antara kedua imam mengenai keabsahan pernikahan wanita hamil dan implikasinya terhadap nasab, nafkah, dan perwalian anak. Imam Syafi’i memperbolehkan pernikahan wanita hamil di luar nikah baik dengan seorang laki-laki yang sudah menghamilinya maupun dengan laki-laki lain. Sementara itu, Imam Hanbali mensyaratkan wanita tersebut melahirkan terlebih dahulu sebelum menikah. Perbedaan ini mempengaruhi hak-hak anak dan status hukumnya dalam masyarakat.
SESERAHAN SEBAGAI SYARAT PERNIKAHAN: ANALISA MAHAR DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN TEORI SOSIAL Nurdin, andrio Alex
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 2 (2025): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/j8rc5x11

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan, makna, dan relevansi antara seserahan dan mahar dalam pernikahan perspektif hukum Islam serta teori sosial. Fokus variabel penelitian meliputi nilai hukum syar’i dan nilai sosial budaya. Kesenjangan penelitian muncul dari perbedaan antara konsep mahar sebagai kewajiban syariat dengan praktik seserahan yang sering dipandang sebagai syarat sah pernikahan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui literatur klasik dan modern, dianalisis secara deskriptif-komparatif dengan menggunakan teori fungsionalisme struktural Émile Durkheim dan teori tindakan sosial Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan: (1) mahar merupakan kewajiban hukum dan simbol penghormatan terhadap perempuan; (2) seserahan termasuk ‘urf shahih yang dibenarkan secara sosial selama tidak bertentangan dengan syariat; dan (3) integrasi antara nilai sosial dan hukum Islam membentuk keseimbangan antara budaya dan ketentuan agama. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya khazanah kajian hukum keluarga Islam, khususnya dalam memahami relasi antara budaya lokal dan prinsip syariat dalam pernikahan masyarakat Muslim Indonesia.
EPISTEMOLOGI PENAFSIRAN MUHAMMAD TAHIR-UL-QADRI TERHADAP TERM AYAT PEMUKULAN SUAMI TERHADAP ISTRI (WAḌRIBŪHUNNA) Huda, Misbahul; Misbahul Huda; Mohammad Alfin Niam
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 2 (2025): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/hccwz492

Abstract

Umumnya para ulama menafsiri waḍribūhunna dengan penafsiran haqiqi yakni menimpakan seuatu atas sesuatu (memukul). Tetapi Muhammad Tahir-Ul-Qadri menafsiri waḍribūhunna secara majazi. Ia menafsiri Waḍribūhunna bukan dengan memukul, tetapi melakukan perpisahan sementara antara kedua belah pihak (suami dan istri). Penulis bermaksud akan menelusuri bagaimana sumber, metode dan validitas penafsiran Muhammad Tahir-Ul-Qadri terhadap Waḍribūhunna dalam an-Nisa 34. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan. Data primer bersumber dari artikel Muhammad Tahir-Ul-Qadri yang berjudul The Linguistic and Legal Implications of ‘Waḍribūhunna’in Sūra al-Nisāʾ (4: 34) dan sumber sekunder yang bersumber dari buku-buku dan dokumen yang terkait dengan objek penelitian. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan filosofis, yaitu melalui teori epistemologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sumber penafsiran Muhammad Tahir-Ul-Qadri terhadap waḍribūhunna yaitu bersumber dari teks, rasio dan realitas. Kemudian metode yang dipakai adalah metode tematik (maudhu’i), termasuk dalam corak tafsir ijtima’i dengan pendekatan tafsir kontekstual (sosio-historis). Penafsiran Qadri valid secara pragmatis karena memiliki manffat dan dapat di implementasikan. Secara korespondensi kurang valid karena bertentangan dengan salah satu riwayat fakta asbab nuzul. Sementara secara koherensi juga kurang begitu valid karena bertentangan dengan klaim ijmak para ulama. 
Problematika Kewenangan Ayah Biologis terhadap pengasuhan Anak Prespektif Hukum Positif dan Hukum Islam di Indonesia Jupri Saifullah Al Azis, Jupri Saifullah Al Azis
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 2 (2025): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/ymgqyc57

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis batas pemidanaan ayah biologis dalam kasus penguasaan anak pasca perceraian berdasarkan Pasal 330 KUHP serta relevansinya dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 140/PUU-XXI/2023 dan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah. Kajian difokuskan pada tiga persoalani utama: apakah ayah biologis dapat dipidana ketika membawa anaknya sendiri, apakah ia wajib memperoleh penetapan pengadilan untuk menghindari pemidanaan, dan bagaimana penerapan Pasal 330 KUHP dinilai dalam kerangka hukum Islam, khususnya maqāṣid al-syarī‘ah. Penelitian ini menggunakan metode normatif-yuridis dengan pendekatan kualitatif melalui analisis terhadap peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, literatur hukum pidana, serta fikih dan doktrin maqāṣid al-syarī‘ah. Teori utama yang digunakan adalah Teori Maqāṣid al-Syarī‘ah, dengan dukungan teori ultimum remedium dan konsep ta‘zīr untuk menjelaskan batasan legitimasi pemidanaan dalam sengketa keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemidanaan terhadap ayah biologis tidak dapat diterapkan secara otomatis karena ia memiliki hubungan nasab dan tanggung jawab hukum terhadap anak. Pemidanaan hanya dibenarkan apabila tindakannya bertentangan dengan putusan pengadilan atau merugikan kepentingan terbaik anak. Putusan MK 140/PUU-XXI/2023 memperjelas bahwa penerapan Pasal 330 KUHP harus mempertimbangkan mekanisme perdata terlebih dahulu dan menempatkan hukum pidana sebagai ultimum remedium. Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, pemidanaan ayah dapat diterima secara terbatas sebagai bentuk ta‘zīr demi menjaga kemaslahatan anak. Kesimpulannya, harmonisasi antara hukum pidana, hukum keluarga Islam, dan prinsip konstitusional diperlukan untuk memastikan perlindungan anak yang proporsional dan berkeadilan.  
Problematika Masa Iddah Suami Mualaf: Analisa Konsiderasi Hukum Positif dan Hukum Islam nurhikmah; Nur Hikmah
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 2 (2025): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/6zq62333

Abstract

Perkawinan dalam Islam merupakan ikatan suci antara laki-laki dan perempuan yang bertujuan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Namun, konflik dalam rumah tangga sering kali berujung pada perceraian yang kemudian memunculkan ketentuan masa iddah bagi perempuan. Dalam praktik administrasi pernikahan di Indonesia, muncul kebijakan baru melalui Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Nomor P.005/DJ.III/HK.00.7/10/2021 yang secara implisit menghadirkan masa tunggu bagi laki-laki, yaitu larangan menikah sebelum iddah mantan istri berakhir. Penelitian ini mengkaji pelaksanaan ketentuan tersebut melalui studi kasus Pendaftaran Nikah Nomor Register 62-01-2024 di KUA Kecamatan Leksono, yang melibatkan calon pengantin laki-laki mualaf yang ingin menikah saat mantan istrinya masih dalam masa iddah dan telah berbeda agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam konteks fikih laki-laki pada dasarnya tidak dikenai masa iddah, adanya aturan tentang masa tunggu suami untuk menikah sesuai dengan habisnya masa iddah istri merupakan tindakan preventif agar tidak terjadi tindakan poligami yang terselubung sebagai konsideransinya. Meskipun suami mualaf tidak dimungkinkan untuk ruju’ kepada istri lamanya dan kekhawatiran akan terjadi poligami terselubung tidak terjadi, suami tetap diminta untuk menunggu dalam rangka menjaga tertib hukum, etika sosial, serta keadilan dalam praktik perkawinan.
Urgensi Elsimil Sebagai Detektor Awal Resiko Kehamilan Dan Stunting Pada Pengantin Dibawah Umur Pespektif Saddu Al-Dzari’ah marsamaura; Marsa Maura Mernisi; Rohatun Nihayah
At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 2 (2025): At-Ta'aruf : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59579/xpj71k46

Abstract

Penelitian ini mengkaji implementasi Pengisian Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL) bagi pengantin dibawah umur sebagai pendeteksi awal stunting di Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. Menggunakan metode kualitatif penelitian lapangan (field research), penelitian ini melibatkan pengantin dibawah umur, pegawai Balai Keluarga Berencana (KB), dan pegawai Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Hasil menunjukkan bahwa Pengisian Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL) berperan penting dalam pencegahan stunting melalui skrining kesehatan reproduksi, meskipun kendala teknis dan sosial masih ada. Dari perspektif Saddu Al-Dzari’ah dalam hal ini menutup sarana yang dapat mengantarkan kepada mafsadah (kerusakan). Penelitian ini merekomendasikan peningkatan sosialisasi dan aksesibilitas aplikasi untuk efektivitas yang lebih baik.