cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
ANALISIS KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK (Studi Kasus Lapangan Taruna Remaja Gorontalo) Makale, Muhamad Rainaldy Putra; Nurdini, Allis
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: During the era of the Dutch East Indies government, the presence of Gorontalo Taruna Remaja field has become part of the historical witness of the national movement until it is used as a means of various public activities in the present time. As a cultural heritage area, the field, formerly known as the "alun-alun Gorontalo" has undergone several changes. This demands a more optimal quality of public space. Thus, this research aims to identify the level of quality of cultural heritage areas as public open spaces based on community perceptions, using the Gorontalo Taruna Remaja field as a case study. This qualitative research employed a quality analysis method. The data collection was open review-based data. The data consisted of community reviews related to the Taruna Remaja field through the Google Review feature. A total of 301 reviews from 2,443 reviewers were used as the data samples. The sample review timeline started on May 16, 2019, until May 16, 2023. The data was processed using the statistical software "JMP" to be grouped into several review categories. The results showed that based on community perceptions, the quality of the Gorontalo Taruna Remaja field has met several aspects. However, there needs to be a partial fulfillment of design criteria to improve the quality of the open space. This research is expected to serve as an evaluation material for architects and other stakeholders in improving the design quality of the Taruna Remaja field as a public space.Keyword: Gorontalo Taruna Remaja Field, quality, public open spaceAbstrak: Dalam masa pemerintahan Hindia Belanda, kehadiran Lapangan Taruna Remaja Gorontalo telah menjadi bagian dari saksi sejarah pergerakan nasional, hingga digunakan sebagai sarana berbagai kegiatan publik di masa kini. Sebagai kawasan cagar budaya, lapangan yang dulunya disebut dengan “alun-alun Gorontalo” ini telah mengalami beberapa kali perubahan. Hal ini akan menuntut adanya kualitas sebuah ruang publik yang lebih optimal. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kualitas kawasan cagar budaya sebagai ruang terbuka publik berdasarkan persepsi masyarakat, dengan menjadikan Lapangan Taruna Remaja Gorontalo sebagai studi kasus. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan penggunaan metode analisis kualitas. Pengumpulan data merupakan data berbasis open review. Data merupakan ulasan (review) masyarakat terkait lapangan Taruna Remaja lewat fitur Google Review. Sebanyak 301 ulasan dari 2.443 pengulas digunakan sebagai sampel data. Catatan waktu ulasan sampel dimulai pada 16 Mei 2019 hingga 16 Mei 2023. Data tersebut diolah dengan menggunakan perangkat lunak statistik “JMP”, agar dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori ulasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan persepsi masyarakat, kualitas Lapangan Taruna Remaja Gorontalo telah memenuhi pada beberapa aspek, meskipun perlu adanya sebagian pemenuhan kriteria desain agar kualitas ruang terbuka menjadi lebih baik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi arsitek dan para pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan kualitas desain Lapangan Taruna Remaja sebagai ruang publik.Kata Kunci: Lapangan Taruna Remaja Gorontalo, kualitas, ruang terbuka publik
A SENSORY READING OF SPATIAL EXPERIENCE FROM A FILM'S SETTING Shofia, Ghina; Harani, Arnis Rochma
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this article is to explore spatial experience through the lens of film settings. Films have been structured to depict a narrative about a space and its experiences to date. There have been few studies examining how a spatial setting in a film can evoke an architectural experience. Through the analysis of sensory-centered experiences derived from spatial settings in films, this paper aims to contribute to the understanding of architecture, particularly the relationship between the body and the space. Using a qualitative approach, this article discusses the film "Later We Tell About Today" (NKCTHI) through a case study. The spaces that are the settings in this film can be viewed as the user's experience of space. Based on the findings of this study, users' spatial experiences are influenced by the four senses of sight, smell, hearing, and touch. As a result of the degradation of lighting, users usually feel a change in their experience of space through the sense of sight, from initially being focused with high concentration to being visually uncomfortable and feeling alert. Using spatial reading methods, this article demonstrates that residents in film settings experience a variety of spatial experiences..Keywords:, Spatial experience, sense, atmosphere, spatial setting, sensoryAbstrak: Tulisan ini bertujuan untuk membaca spatial experience melalui penelusuran menggunakan setting film. Selama ini film disusun untuk menunjukkan adanya narasi mengenai suatu ruang dan pengalamannya. Belum banyak yang mencoba untuk mempelajari bagaimana suatu setting ruang dalam film dapat memberikan pengalaman arsitektur. Tulisan ini mencoba memperluas pemahaman experience yang berpusat pada sensori dari setting ruang dalam film, ini berpotensi memperkaya pengetahuan arsitektur khususnya hubungan antara body dan space. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pembahasan melalui studi kasus film yang berjudul “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” (NKCTHI). Ruang-ruang yang menjadi setting tempat dalam film ini dapat dibaca sebagai pengalaman ruang penggunanya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman ruang yang dirasakan oleh pengguna terkait dengan empat indra manusia sebagai pemicunya, yaitu penglihatan, penciuman, pendengaran, serta peraba. Melalui indra penglihatan, pengguna merasakan perubahan pengalaman ruang yang awalnya fokus dengan konsentrasi tinggi beralih menjadi ketidaknyamanan visual dan rasa waspada karena pengaruh degradasi pencahayaan. Tulisan ini menunjukkan adanya berbagai bentuk pengalaman ruang yang dirasakan penghuni pada setting film berbasis dari pembacaan ruang.Kata Kunci: ruang, pengalaman ruang, indra manusia
TRANSFORMATION OF FORM, FUNCTION, AND MEANING SACRED SPACE OF GEDHONG JENE KRATON YOGYAKARTA Kuncoro, Denok Estu; Setijanti, Purwanita; Novianto, Didit
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The fusion of cultural and social accumulations is capable of creating architectural works with specific functions and meanings. In Indonesia, Kraton Yogyakarta, which continues to uphold its role as a traditional palace. However, the transition from an absolute monarchy to a republic, has led the transformation in form, functions, and meanings of spaces in the kraton. Spaces previously used by the king now serve different functions, sacred spaces are repurposed for more general purposes. Gedhong Jene, one of these spaces, responds to these changes, evidencing an adaptation from a space exclusively for the king to a more inclusive functionThis research aims to conduct an analysis of the transformation of Gedhong Jene as a reflection of the dynamic political and socio-cultural developments within the Kraton Yogyakarta. Used qualitative approaches, the study will explore the change in function and meaning of Gedhong Jene's space, considering both its architectural and non-architectural elements. Data gathered from observations, interviews, and archival documents will be analyzed using descriptive criticism.The research findings revealed significant changes in Gedhong Jene, particularly in its static and dynamic aspects. However, the building exhibited more complex functionality following these alterations. Keyword: Transformation of Sacred Space, Gedhong Jene, Kraton YogyakartaAbstrak: Perpaduan akumulasi budaya dan sosial mampu menghasilkan karya arsitektur yang memiliki fungsi dan makna tertentu. Di Indonesia, salah satunya adalah Kraton Yogyakarta yang hingga saat ini masih memegang peranannya sebagai kerajaan tradisional. Namun, seiring adanya perubahan sistem pemerintahan absolut ke sistem republik, hal ini berdampak pada perubahan bentuk dan pergeseran fungsi dan makna ruang di dalam kraton. Ruang-ruang yang sebelumnya digunakan hanya untuk keperluan raja kini memiliki fungsi yang berbeda, ruang-ruang yang dianggap sakral difungsikan untuk tujuan yang lebih umum. Gedhong Jene, salah satu ruang yang merespons perubahan tersebut. Bangunan ini menjadi bukti adanya adaptasi dari ruang sakral yang hanya digunakan untuk raja menjadi lebih inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap perubahan ruang Gedhong Jene sebagai cerminan dari perkembangan dinamika politik dan sosial budaya yang terjadi di Kraton Yogyakarta. Penelitian kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi perubahan bentuk, fungsi, dan makna ruang Gedhong Jene dilihat dari elemen-elemen arsitektur maupun non-arsitekturnya. Data didapatkan dari observasi, wawancara, serta penggunaan dokumen arsip kraton yang nantinya akan dianalisis menggunakan descriptive criticism. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada Gedhong Jene, terutama dalam aspek statis dan dinamisnya. Namun, bangunan menunjukkan fungsionalitas yang lebih kompleks setelah adanya perubahan.Kata Kunci: Transformasi Ruang Sakral, Gedhong Jene, Kraton Yogyakarta
IDENTIFIKASI PERUBAHAN KONSEP ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI PADA HASIL REVITALISASI PASAR SENI SUKAWATI, BALI Dwi Permana, I Made; Rachmawati, Murni; Cahyadini, Sarah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Revitalization of Pasar Seni Sukawati has become a focus of governments, aiming to strengthen the economy and tourism of Bali’s post-pandemic. After revitalization, contrasting change has emerged, where the market's identity, previously characterized by an open-traditional, has transformed into a closed, massive, and modern. Change in identity is related to issue of diminishing preservation of traditional Balinese architecture. The shift in architectural paradigms is increasingly challenging to avoid and deviates from regulations. This research aims to examine and identify changes in the concept of traditional Balinese architecture in the results of Pasar Seni Sukawati’s revitalization. The research use qualitative research strategy, data is collected through observation, use of documents, and literature review. Data analysis utilizes a descriptive criticism method, a type of depictive criticism viewed through static aspects. The research findings indicate that the static aspects of the Sukawati Art Market's revitalization still rely on traditional Balinese architectural concepts. However, in its implementation, there are several changes and adjustments to align with the current market conditions.Keyword: Change, Traditional Balinese Architecture’s Concepts, Pasar Seni Sukawati Abstrak: Revitalisasi Pasar Seni Sukawati menjadi salah satu fokus kegiatan pemerintah pusat dan daerah yang tujuan memperkuat ekonomi dan pariwisata Provinsi Bali pasca pandemi. Pasca revitalisasi, muncul permasalahan yaitu terjadi perubahan yang cukup kontras, identitas pasar yang sebelumnya bernuansa tradisional dan terbuka berubah menjadi tertutup, masif, dan modern. Perubahan identitas ini berkaitan dengan permasalahan kelestarian Arsitektur Tradisional Bali yang semakin menghilang. Pergeseran paradigma berarsitektur semakin sulit dihindari dan menyimpang dari peraturan setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mengidentifikasi perubahan konsep Arsitektur Tradisonal Bali pada hasil revitalisasi Pasar Seni Sukawati. Penelitian ini menggunakan strategi penelitian kualitatif dan data dikumpulkan melalui metode observasi, penggunaan dokumen, dan studi literatur. Analisis data menggunakan metode kritik deskriptif, yaitu jenis kritik depiktif yang dilihat melalui aspek statis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek statis pada hasil revitalisasi Pasar Seni Sukawati masih didasarkan pada konsep-konsep Arsitektur Tradisional Bali, namun dalam implementasinya terdapat beberapa perubahan dan penyesuaian dengan kondisi pasar terkini.Kata Kunci: Perubahan, Konsep Arsitektur Tradisional Bali, Pasar Seni Sukawati
VIDEO GAME SEBAGAI REPRESENTASI ARSITEKTUR DAN PERSILANGANNYA DENGAN SEJARAH DALAM SERI ASSASSIN’S CREED Perdana, Aditya Bayu
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Throughout its history, abstract ideas in architecture are conveyed through representational media such as writing and drawings. Video games are among the newest medium of representation with their own unique advantage: games necessitate active participation in a virtual space that has become increasingly realistic thanks to technological advancements. This short paper aims to explore how games can be situated with other forms of architectural representation by discussing historical shifts that predated it. This paper also aims to show one of video game’s strength in representing architecture by using Assassin's Creed game series as an example case. The series shows how careful craft and detailed research on historical details within the game can create engaging and immersive architectural experience with educational value. This immersivity however is also limited by gameplay constrains and require extensive resource investment. The author hopes that this exploration could be useful stepping stone in Indonesia to expand new studies of architectural representation and exploration of more engaging learning tools.Keyword: game, architectural representation, historical setting, educational mediaAbstrak: Sepanjang sejarah, ide abstrak arsitektur disampaikan melalui sejumlah media representasional seperti tulisan dan gambar. Video game merupakan salah satu media representasi yang paling baru dengan keunikannya sendiri: game menuntut partisipasi aktif dalam ruang virtual yang semakin realistis berkat perkembangan teknologi. Tulisan singkat ini bertujuan untuk menempatkan game sebagai representasi arsitektur dengan mengulas pergeseran media representasi yang telah terjadi di masa-masa sebelumnya. Tulisan ini juga bertujuan untuk menunjukkan salah satu kekuatan media game dalam merepresentasikan arsitektur dengan menggunakan sebuah seri game berjudul Assassin’s Creed sebagai contoh kasus. Game tersebut menunjukkan bahwa kriya telaten dan riset mendalam akan detail sejarah dalam game dapat menghasilan pengalaman arsitektural yang menarik, dan imersif dengan nilai edukatif. Namun begitu imersivitas ini juga dibatasi oleh kekangan gameplay dan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Penulis berharap eksplorasi ini dapat menjadi landasan di Indonesia untuk memperluas kajian media representasi arsitektur sekaligus eksplorasi alat pengajaran yang menarik.Kata Kunci: game, representasi arsitektur, setting sejarah, media pembelajaran
KAJIAN TATANAN RUANG DAN SIRKULASI PADA GALERI SUPERLATIVE SECRET SOCIETY DI BALI Nurfadhila, Adinda Solinaputri; Elviana, Eva
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Non-fungible tokens (NFTs) are digital assets that use online buying and selling methods such as cryptocurrencies and generally use code with basic software. NFTs use galleries as a space to perform activities. NFT galleries serve as a means and infrastructure for artists to show their virtual works to the public non-virtually. In NFT galleries, the order of space and circulation are things that need attention. The temporary conjecture of the arrangement of this gallery space is more to the function of the space and its circulation that forms a round. The purpose of this study is to find out how the order of space and circulation in the NFT gallery is still unfamiliar to the public. The method used in this study uses descriptive qualitative by visiting objects as a data collection method. Keyword: gallery non-fungible token; circulation; room layout.Abstrak: Non-fungible token (NFT) merupakan aset digital yang menggunakan metode jual-beli secara online seperti cryptocurrency dan umumnya menggunakan kode dengan perangkat lunak dasar. NFT menggunakan galeri sebagai ruang dalam melakukan aktivitas. Galeri NFT berfungsi sebagai sarana dan prasarana seniman untuk menunjukkan karya-karya virtual mereka kepada masyarakat secara non-virtual. Pada galeri NFT, tatanan ruang dan sirkulasi adalah hal-hal yang perlu diperhatikan. Dugaan sementara dari tatanan ruang galeri ini lebih ke fungsi ruangnya dan sirkulasinya yang membentuk round. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tatanan ruang dan sirkulasi di dalam galeri NFT yang masih asing di mata masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan mengunjungi objek sebagai metode pengumpulan data.Kata Kunci: galeri non-fungible token; sirkulasi; tatanan ruang.
PENERAPAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA SELASAR SUNARYO ART SPACE Farhan, Muhammad; Avenzoar, Azkia
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Neo-Vernacular architecture is a concept within the postmodern movement that combines two styles, modern and vernacular. In an increasingly advanced and modern era, modern architecture predominates and the interest in vernacular architecture declines as it is considered outdated. However, the emergence of Neo-Vernacular architecture provides a solution to this issue. Neo-Vernacular architecture merges modern building designs with distinctive local elements. This creates an opportunity for vernacular architecture to reemerge with a more modern and widely accepted approach. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) is a cultural and art center located in the city of Bandung. SSAS is built with a modern form while incorporating traditional elements. The objective of this research is to focus on examining the neo-vernacular elements present in the SSAS building. The research methodology used involves identifying the principles and criteria of the neo-vernacular approach in the building elements of SSAS. The research findings indicate that certain elements of the SSAS building reflect the principles and criteria of neo-vernacular architecture.Keyword: Art center, Neo-Vernacular Architecture, BandungAbstrak: Arsitektur Neo-Vernakular merupakan sebuah konsep dalam aliran postmodern yang menggabungkan dua gaya, yaitu arsitektur modern dan vernakular. Dalam era yang semakin maju dan modern, arsitektur modern lebih dominan dan minat terhadap arsitektur vernakular menurun karena dianggap usang. Namun, hadirnya arsitektur Neo-Vernakular menjadi solusi atas masalah tersebut. Arsitektur Neo-Vernakular menggabungkan desain bangunan modern dengan unsur-unsur lokal yang khas. Hal ini memberikan peluang bagi arsitektur vernakular untuk hadir kembali dengan pendekatan yang lebih modern dan diterima dengan baik. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) merupakan sebuah bangunan pusat kebudayaan dan kesenian yang terdapat di kota bandung. SSAS dibangun dengan bentuk yang modern namun memiliki unsur tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah berfokus pada pengkajian elemen neo vernakular yang terdapat pada bangunan SSAS. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mengidentifikasi prinsip dan kriteria pendekatan neo vernakular pada elemen-elemen bangunan SSAS. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian elemen bangunan SSAS mencerminkan prinsip dan kriteria  arsitektur neo vernakular.Kata Kunci: Pusat kesenian, Arsitektur Neo Vernakular, Bandung
PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEMPORER PADA BANGUNAN BANDUNG CREATIVE HUB Mediawan, Farisulqisthi; Harmunisa, Yusvika Ratri
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The creative industry is the process of creating ideas, creativity and ideas that produce works or products. The creative hub or creative center is a place for creative industry activists to gather and develop their talents and creativity. Even though in Indonesia there are many buildings that function as creative centers, the question is to what extent these buildings are able to stimulate the creativity of creative industry players. One of the proposed solutions is to apply contemporary architectural design. This architecture is considered to be a way to stimulate the creativity of its users because it is not bound by time and always evolves with the times, in line with the spirit of creativity that is always advancing. Bandung Creative Hub was chosen as the focus of the research because it was considered successful in implementing contemporary architectural principles well. This research aims to understand the design form of a creative center that adopts contemporary architecture. The research method used is descriptive qualitative, by collecting data from various journals to describe this phenomenon. The research stages include data collection , analysis and drawing conclusions to provide a clearer picture of the influence of building design on the creativity of its users.Keyword: Bandung, Contemporary Architecture, Creative Center, Creative Industry.Abstrak: Industri kreatif merupakan proses penciptaan ide dan gagasan yang menghasilkan karya atau produk. Creative hub atau pusat kreatifitas merupakan tempat untuk mengembangkan dan menyalurkan kreativitas para pegiat industri kreatif. Di Indonesia, telah banyak didirikan bangunan-bangunan semacam itu, namun belum pasti apakah mereka sudah cukup efektif dalam memacu kreativitas. Salah satu solusi yang diusulkan adalah menerapkan arsitektur kontemporer, yang fleksibel dan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman, mirip dengan kreativitas individu yang terus berkembang. Bandung Creative Hub menjadi objek penelitian karena dianggap menerapkan arsitektur kontemporer dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi desain creative center yang menerapkan arsitektur kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, yang menggunakan data dari berbagai jurnal untuk menggambarkan fenomena yang ada. Tahapannya mencakup pengambilan dan pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Tujuan utamanya adalah untuk memahami bagaimana desain bangunan pusat kreatif dapat mempengaruhi kreativitas penggunanya, dengan harapan hasil penelitian ini dapat membantu pengembangan bangunan serupa di masa depan.Kata Kunci: Arsitektur Kontemporer, Bandung, Creative Center, Industri Kreatif
KETANGGUHAN TERMAL: MENGANALISIS BENTUK ATAP VERNAKULAR DALAM MENGATUR SUHU DAN KELEMBAPAN Shofie, Athia; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Vernacular architecture is still used today, especially in rural areas because almost all residents do not have expertise in the field of architecture. In theory, this concept is worthy of use because it can respond to surrounding conditions. However, in reality, many residents of vernacular houses feel as hot as the residents of Slagi Jepara Village feel. Moreover, coastal areas have higher temperatures than other types of areas. This causes the house to be more adaptable by providing maximum thermal performance. The roof will receive the most heat from outside, so the role of the roof in regulating building temperature is important. Therefore, this research was carried out with the aim of knowing the thermal performance of several types of vernacular roofs so as to obtain the form of vernacular roof that has the best thermal performance. Using quantitative methods with the help of data loggers to record the temperature and humidity of the under-roof and exterior spaces. As a result, the roof of Limasan Lawakan has better thermal performance than the roof of Limasan Maligi Gajah. This is in accordance with research which states that the height and air circulation on the roof affect the thermal performance values.Keyword: Kinerja Termal, Atap, Arsitektur VernakularAbstrak: Arsitektur vernakular masih digunakan hingga sekarang terlebih di pedesaan karena hampir semua warganya tidak memiliki keahlian di bidang arsitektur. Dalam teorinya, konsep ini memang layak digunakan karena dapat merespon kondisi sekitar. Namun, pada kenyataannya banyak penghuni rumah vernakular yang merasa panas seperti yang dirasakan warga Desa Slagi Jepara. Terlebih wilayahnya berupa pesisir memiliki suhu lebih tinggi daripada tipe wilayah yang lain. Hal ini menyebabkan rumah harus lebih bisa beradaptasi dengan memberikan kinerja termal yang lebih maksimal. Panas dari luar akan diterima paling banyak oleh atap sehingga peran atap dalam mengatur suhu bangunan menjadi penting. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kinerja termal beberapa tipe atap vernakular sehingga didapatkan bentuk atap vernakular yang memiliki kinerja termal paling baik. Menggunakan metode kuantitatif dengan bantuan alat data logger untuk mencatat suhu dan kelembapan ruang bawah atap dan eksterior. Hasilnya, atap limasan lawakan memiliki kinerja termal lebih baik daripada atap limasan maligi gajah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyebutkan bahwa ketinggian dan sirkulasi udara pada atap mempengaruhi nilai kinerja termal.Kata Kunci: Kinerja Termal, Atap, Arsitektur Vernakular
KAJIAN PENERAPAN KONSEP PASSIVE COOLING PADA BANGUNAN HOTEL ARJUNA BATU Steven, Gabriel; Zakariya, Afif Fajar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The tourism sector plays a vital role in regional economic growth, with accommodation, particularly hotels, acting as a key element in attracting and accommodating visitors. In popular destinations like Kota Batu, East Java, high demand for hotel rooms often leads to limited availability. This emphasizes the need for hotel development to prioritize sustainability, including energy efficiency, to mitigate the impact of global warming. This research focuses on the importance of implementing passive cooling in hotel design as a key strategy for achieving this goal. Kota Batu, with its generally cool temperatures, presents an ideal opportunity to utilize natural resources effectively and minimize reliance on excessive energy consumption. This study employs qualitative research methods, drawing insights from relevant journals to gain a comprehensive understanding of the area and the specific hotel buildings being analyzed. The aim is to provide recommendations for the most suitable design types for implementing passive cooling in Kota Batu's hotels. This would not only ensure the comfort and satisfaction of tourists but also contribute to environmental sustainability and support long-term economic growth in the region.Keyword: Batu, Hotel, Passive Cooling Abstrak: Sektor pariwisata memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah, dengan penginapan, khususnya hotel, menjadi elemen kunci dalam menarik wisatawan. Tingginya permintaan kamar hotel, terutama di destinasi populer seperti Kota Batu, Jawa Timur, seringkali mengakibatkan ketersediaan kamar yang terbatas. Oleh karena itu, pembangunan hotel harus memperhatikan keberlanjutan, termasuk efisiensi energi untuk mengurangi dampak pemanasan global. Pentingnya penerapan pendinginan pasif dalam desain hotel menjadi fokus penelitian. Kota Batu, dengan suhu yang cenderung sejuk, memiliki potensi untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal tanpa bergantung pada energi berlebih. Melalui metode penelitian kualitatif, penelitian ini mengacu pada jurnal-jurnal terkait untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang daerah dan objek penelitian. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan panduan mengenai jenis desain yang paling sesuai untuk menerapkan pendinginan pasif dalam bangunan hotel di Kota Batu, sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.Kata Kunci: Batu, Hotel, Pendinginan Pasif

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue