cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
SIRKULASI PEJALAN KAKI PADA KAWASAN INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA DITINJAU DARI SIRKULASI BERKELANJUTAN DENGAN METODE SPACE SYNTAX Enjelina, Adelia; Fajarwati, Galuh; Permana, Rodi; Dewantoro, Rayhan Galuh
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study focuses on the evaluation and analysis of space and circulation at the Institut Teknologi Sumatera (ITERA) using the space syntax method. The main objective is to assess the impact of ITERA's spatial configuration on accessibility, visibility, and security efficiency. Additionally, the research aims to identify issues related to walkability zoning within the campus environment. The research methodology involves building and space design, utilizing space syntax models to calculate space syntax indices, functional layout analysis, and the interpretation of spatial structures within buildings. Furthermore, the study collects feedback from faculty, students, and staff through surveys using questionnaires.Keyword: sustainability, campus environment, circulation, space syntaxAbstrak: Penelitian ini fokus pada evaluasi dan analisis ruang dan sirkulasi di Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dengan menggunakan metode sintaksis ruang. Tujuan utamanya adalah untuk menilai dampak konfigurasi spasial ITERA terhadap aksesibilitas, visibilitas, dan efisiensi keamanan. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan terkait zonasi walkability di lingkungan kampus. Metodologi penelitiannya meliputi perancangan bangunan dan ruang, pemanfaatan model sintaksis ruang untuk menghitung indeks sintaksis ruang, analisis tata letak fungsional, dan interpretasi struktur spasial dalam bangunan. Selanjutnya, penelitian ini mengumpulkan umpan balik dari dosen, mahasiswa, dan staf melalui survei menggunakan kuesioner.Kata Kunci: keberlanjutan, lingkungan kampus, sirkulasi, sintaksis ruang 
PENGARUH PERMUKIMAN KUMUH PINGGIR SUNGAI TERHADAP KUALITAS VISUAL KOTA (STUDI KASUS SUNGAI SEMAGUNG WONOSOBO) Effendi, Setyo; Sari, Suzanna Ratih; Rukayah, Siti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : The population increase that occurred in urban areas resulted in inadequate housing for people, especially people with lower middle class economies. This happens because of the lack of job opportunities and uncertain economic conditions so that people decide to build a residence in an inappropriate place, one of which is on the river bank.  Some of the houses and buildings that stand around the river are uninhabitable and rundown, apart from that, other buildings do not have an organized concept so that the buildings around the river have irregular patterns and layouts. This research was conducted using a qualitative descriptive method by collecting data through observing buildings around the river and extracting information from informants. The aim of this research is to find out the influence of the Semagung river on the visual quality of the city so that the research results show that the Semagung river has a significant impact on the beauty of the city due to the appearance of slum and disorganized buildings.Keywords: slum settlements, quality, city visualsAbstrak: Lonjakan penduduk yang terjadi di perkotaan mengakibatkan tidak terpenuhinya hunian bagi masyarakat khususnya masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. hal ini terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan dan kondisi ekonomi yang tidak menentu sehingga masyarakat memutuskan untuk membuat suatu hunian di tempat yang tidak semestinya salah satunya adalah di pinggir sungai.  Rumah-rumah dan bangunan yang berdiri di sekitar sungai ini  beberapa tidak layak huni dan kumuh, selain itu bangunan lain tidak memiliki konsep yangb tertata sehingga bangunan-bangunan di sekitar sungai memiliki pola dan tata letak nyang tidak beraturan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptip kualitatif dengan cara pengumpulan data melalui pengamatan terhadap bangunan-bangunan sekitar sungai dan penggalian informasi kepada informan. Tujuan penelitian ini untuk menemukan pangaruh suangi Semagung terhadap kualitas visual Kota sehingga diperoleh hasil penelitian bahwa sungai Semagung memberikan dampak yang buruk pada keindahan kota yang diakibatkan oleh munculnya bangunan-bangunan kumuh dan tidak tertata.Kata Kunci: Permukiman Kumuh, Kualitas , Visual kota
PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN INDIVIDU AUTIS DI BERBASIS LINGKUNGAN ARSITEKTUR MULTISENSORI DI KOTA SEMARANG Putra, Pandu Asmara; Hardiman, Gagoek
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In the city of Semarang, there are many therapy facilities for autistic individuals that are part of a central health facility such as a hospital or are located in a single building, but the author considers the infrastructure to be less than representative. Also with the characteristics of the rooms provided, which often causes clients to be less focused on the material and less relaxed. The aim of this research is to obtain a conclusion about how the influence of multisensory architecture-based design is able to optimize therapy activities and development of autistic individuals. The theoretical basis used is multisensory architectural design and other aspects related to this. The research method used is through data collection in the form of literature studies through previous sources and precedent studies, design approaches, data analysis, then the entire method is formulated into a design synthesis which will become the design concept. The design concept consists of three parts, namely, land design concept, architectural design and landscape design. The principle of multisensory architectural design which is realized in an environment/built area in one location, which is supported by aspects of inclusivity, is the basic basis for building design which accommodates various kinds of activities for autistic individuals.Keyword : Autism, Multisensory Architecture, TherapyAbstrak: Di Kota Semarang, banyak dijumpai fasilitas terapi individu autis yang menjadi satu bagian dengan pusat fasilitas kesehatan seperti rumah sakit maupun berada pada bangunan tunggal, namun secara prasarana penulis anggap kurang representatif. Juga dengan karakteristik ruangan-ruangan yang disediakan, yang tidak jarang menyebabkan klien kurang fokus terhadap materi dan kurang rileks. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan suatu kesimpulan bagaimana pengaruh perancangan berbasis arsitektur multisensori, mampu mengoptimalkan kegiatan terapi dan pengembangan individu autis. Landasan teori yang digunakan adalah perancangan arsitektur multisensori dan aspek lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu melalui pengumpulan data berupa kajian literatur melalui sumber – sumber terdahulu maupun studi preseden , pendekatan desain, analisa data, yang kemudian keseluruhan metode tersebut dirumuskan menjadi suatu sintesa desain yang akan menjadi konsep perancangan. Konsep desain terdiri dari tiga bagian yaitu, konsep perancangan lahan, perancangan arsitektur dan perancangan lansekap. Prinsip perancangan arsitektur multisensori yang diwujudkan dalam suatu lingkungan / Kawasan binaan dalam satu lokasi, yang ditunjang dengan aspek inklusivitas menjadi landasan dasar desain bangunan yang didalamnya mengakomodir berbagai macam kegiatan bagi individu autis.Kata Kunci : Autisme, Arsitektur Multisensori, Terapi
KRITERIA DESAIN PADA PERANCANGAN PUSAT PEDAGANG KAKI LIMA BERDASARKAN AKTIVITASNYA DI PUSAT KOTA JEPARA Nadhifah, Aprilia Salsabila; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Almost every city in Indonesia experiences a dualistic condition where the formal and informal sectors are interconnected. Street vendors often create a dilemma for city governments. Its existence is believed to improve the city's economy, but on the other hand it often damages the city's public space. This phenomenon certainly needs special attention by involving and handling street vendors in design and policy seriously. So, this research aims to identify the characteristics, behavior and needs of street vendors in their activities so that they can be used as a reference in determining design criteria for the street vendor center in Jepara. The approach used is a qualitative approach with descriptive methods and data collection techniques based on field observations supported by literature study. The results obtained showed that street vendors' activities including their behavior and characteristics were influenced by trading times in the morning, afternoon and evening which were adjusted to the location's crowds. Apart from that, the main characteristic of street vendors in Jepara is their flexible and dynamic spatial nature. Apart from characteristics, the design criteria for designing a street vendor center are also greatly influenced by site selection and local building regulationsKeyword: Street Vendors, Activities, Jepara City CenterAbstrak: Hampir di setiap kota di Indonesia mengalami kondisi dualistik dimana adanya sektor formal dan informal saling bersinggungan. PKL sering menimbulkan kondisi dilematis bagi pemerintah kota. Keberadaannya diyakini menaikkan ekonomi kota, namun di sisi lain kerapkali mencacati ruang publik kota. Fenomena ini tentunya perlu mendapatkan perhatian khusus dengan melibatkan dan menangani PKL dalam perancangan dan kebijakan secara serius. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, perilaku dan kebutuhan PKL dalam aktivitasnya untuk dapat dijadikan acuan dalam penentuan kriteria perancangan pada pusat PKL di Jepara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan teknik pengumpulan datanya berdasarkan pengamatan lapangan yang didukung dengan studi pustaka. Didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa aktivitas PKL yang mencakup perilaku dan karakteristiknya dipengaruhi oleh waktu berdagang baik pagi, siang dan malam yang disesuaikan dengan keramaian lokasi. Selain itu karakteristik utama PKL di Jepara mengarah pada sifat keruangan yang fleksibel dan dinamis. Selain karakteristik, kriteria desain pada perancangan pusat PKL juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan tapak, peraturan bangunan setempat.Kata Kunci: Pedagang Kaki Lima, Aktivitas, Pusat Kota Jepara
PENERAPAN ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PERANCANGAN GREEN COWORKING SPACE DI PATI Nugraheni, Lina
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Coworking Space in general is a new breakthrough for an office which carries the concept of joint work and collaboration. The need for work space with the concept of collaboration, fun and affordable rental costs arises because many creative industries such as MSMEs, startup businesses, remote workers and freelance jobs are in need, especially after going through the pandemic, several jobs have emerged that do not require working in the office. Biophilic design, which incorporates natural elements into the built environment, has become a concern in efforts to improve the well-being and productivity of workspace occupants. However, research on the application of biophilic design, especially in the context of co-working spaces, is still limited. Therefore, this research aims to explore how to apply the principles of biophilic design using the 14 elements of biophilic design guidelines so that it can increase the productivity of co-working space users. The research results show that the application of biophilic design positively influences the productivity of co-working space users. Sufficient natural lighting improves concentration and working mood, while natural views such as vertical gardens can provide a fresh and calming feeling. In addition, the use of natural materials such as wood and live plants provides a friendly and inviting atmosphere for collaboration. Thus, this research concludes that the application of biophilic design in co-working spaces can help increase user productivity by creating a healthy, inspiring and sustainable environment.Keywords: Coworking Space, Biophilic Architecture, User productivityAbstrak: Coworking Space secara umum merupakan terobosan baru sebuah kantor yang didalamnya mengusung konsep kerja bersama dan kolaborasi. Kebutuhan atas ruang kerja dengan konsep kolaborasi, fun dan biaya sewa yang terjangkau muncul karena banyak industri kreatif seperti UMKM, bisnis startup, remote workers dan freelance job yang membutuhkan terlebih setelah melewati masa pandemi muncul beberapa pekerjaan yang tidak mengharuskan bekerja di kantor. Biophilic design, yang memasukkan unsur-unsur alam ke dalam lingkungan binaan, telah menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas penghuni ruang kerja. Namun, penelitian tentang penerapan biophilic design khususnya dalam konteks co-working space masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan prinsip biophilic design dengan menggunakan pedoman 14 elemen biophilic design sehingga dapat meningkatkan produktifitas pengguna co-working space. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan biophilic design secara positif memengaruhi produktifitas pengguna co-working space. Pencahayaan alami yang cukup meningkatkan konsentrasi dan mood kerja, sementara pemandangan alam seperti taman vertikal mampu memberikan rasa segar dan menenangkan. Selain itu, penggunaan material alami seperti kayu dan tanaman hidup memberikan nuansa yang ramah dan mengundang untuk berkolaborasi. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan biophilic design dalam co-working space dapat membantu meningkatkan produktivitas pengguna dengan menciptakan lingkungan yang menyehatkan, inspiratif, dan berkelanjutan.Kata kunci: Coworking Space, Arsitektur Biofilik, Produktifitas penggunaKata 
TINJAUAN TERHADAP KRITERIA PERANCANGAN PERPUSTAKAAN DI ERA DIGITAL Studi Kasus : Perpustakaan Universitas Diponegoro Ghifari, Ardhan Naufal; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The development of information technology in the digital era has transformed visitors' paradigms in utilizing libraries. Libraries no longer merely function as repositories for physical books, but have evolved into interactive centers that support community engagement and digital learning. This underscores the need for a review of library design to adapt to the digital age. This research aims to identify the criteria necessary for designing libraries in the digital era. The methods employed in this study are literature review and observation. The literature review method is used to gather and analyze information from various sources to determine relevant criteria for libraries in the digital era. Furthermore, the observation method is used to assess the condition of Diponegoro University Library against the identified criteria. The results of this research indicate that Diponegoro University Library does not meet the criteria as a library in the digital era.Keyword: Library, Digital Era, Design CriteriaAbstrak: Perkembangan teknologi informasi dalam era digital telah mengubah paradigma pengunjung dalam memanfaatkan perpustakaan. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku fisik, melainkan telah berkembang menjadi pusat interaktif yang mendukung keterlibatan masyarakat dan pembelajaran digital. Hal ini menggarisbawahi perlunya tinjauan terhadap rancangan perpustakaan untuk menyesuaikan dengan era digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria-kriteria yang diperlukan dalam merancang perpustakaan di era digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur dan observasi. Metode studi literatur digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi dari berbagai sumber untuk menentukan kriteria perpustakaan yang relevan di era digital. Selanjutnya, metode observasi digunakan untuk meninjau kondisi Perpustakaan Universitas Diponegoro terhadap kriteria yang telah diidentifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Perpustakaan Universitas Diponegoro tidak memenuhi kriteria sebagai perpustakaan di era digital.Kata Kunci: Perpustakaan, Era Digital, Kriteria Perancangan
IMPLEMENTASI KONSEP IMMERSIVE EXPERIENCE PADA DESAIN MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI YOGYAKARTA Zahra, Zalzabila Asnika; Cardiah, Tita; Widyaevan, Dea Aulia; Nabila, Ganesha Puspa
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Implementation of the immersive experience concept in the design of the Merapi Volcano Museum in Yogyakarta to give visitors the experience of Mount Merapi to feel like they are in the real world. Because this immersive experience makes learning or providing information interesting and memorable for museum visitors. The phenomenon of museum fatigue is also one of the factors in the decline in the number of museum visitors in Indonesia, which was first put forward in 1916 by Benjamin Gilman who discussed the phenomenon of the decline in the number of museum visitors that occurred over several time periods. Problems based on the interior design components for the Merapi Volcano Museum are as follows: 1. Lack of interactive display facilities. The delivery of information is still difficult to understand because the delivery of collection information is presented in long text so that visitors rarely read the information. 2. Too much use of natural lighting in the exhibition causes visitors to be distracted from observing digital displays. Data collection for the design of the Merapi Volcano Museum used several stages, namely interviews, observation, references, perception and design. The findings from this immersive experience include the use of 3D dioramas, the use of audio in the form of eruptions from the Merapi volcano, the use of XR, VR, interactive layers and earthquake displays.Keyword: museum, immersive experince, displayAbstrak: Implentasi konsep immersive experince pada desain Museum Gunungapi Merapi di Yogyakarta untuk memberikan experience gunung merapi kepada para pengunjung merasakan berada seperti dalam dunia yang sesungguhnya. Karena dengan adanya immersive experience ini membuat pembelajaran atau pemberian informasi menjadi menarik dan juga berkesan bagi para pengunjung museum. Fenomena kelelahan museum atau museum fatigue juga menjadi salah satu faktor menurunnya jumlah pengunjung museum di Indonesia, yang dikemukakan pertama kali pada tahun 1916 oleh Benjamin Gilman yang membahas mengenai fenomena penurunan jumlah pengunjung museum yang terjadi dalam beberapa periode waktu. Permasalahan berdasarkan komponen perancangan interior untuk Museum Gunungapi Merapi adalah sebagai berikut: Pertama, kurangnya fasilitas display interaktif. penyampaian informasi yang masih sulit dipahami karena penyampaian informasi koleksi dipaparkan dalam bentuk teks panjang sehingga pengunjung jarang yang membaca informasi. Kedua, terlalu banyaknya penggunaan pencahayaan alami di dalam pameran yang menyebabkan terganggunya pengunjung dalam mengamati display yang ditampilkan secara digital. Pengambilan data perancangan Museum Gunung Api Merapi ini menggunakan beberapa tahap yaitu wawancara, observasi, referensi, perencanaan dan perancangan. Metoda pembahasan adalah perencanaan dan perancangan. Temuan dari immersive experience ini berupa penggunaan 3D diorama, penggunaan audio berupa letusan dari gunungapi Merapi, penggunaan XR, VR, layar interaktif serta peraga gempa bumiKata Kunci: museum, immersive experince, display
ANALISA KENYAMANAN TERMAL MODEL TIPE 24 RUSUNAWA KUDU MENGGUNAKAN DATA-LOGGER Saputra, Firmansyah Yusuf; Dwiyanto, Agung
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: As many as 115 million people in Indonesia belong to the lower-middle income group, and for these people, there are not many choices regarding housing. They often have to choose between renting individual houses or government-provided rental flats (Rusunawa). Due to their intended function as low-cost housing, thermal comfort is often neglected, which can lead to various health problems and unnecessary expenses to achieve comfort. Measurements were taken using a Data-Logger to record extreme room temperatures in Type 24 Rusunawa, revealing that the room with the lowest average temperature is the least used, while the highest average temperature is found in the more frequently used room. Both measurements and simulations using the Ecotect application show that the existing buildings do not meet thermal comfort standards, even in rooms with the lowest average temperatures. Recommendations arise with various alternatives according to the user's budget, along with simulations to demonstrate the effectiveness of these alternatives. Keyword: Rusunawa, Thermal Comfort, Analysis.Abstrak: Sebanyak 115 Juta masyarakat di Indonesia merupakan penduduk dengan pendapatan menengah kebawah, dan kehidupan untuk masyarakat menengah-kebawah tidak memiliki banyak pilihan mengenai tempat tinggal, sehingga seringkali harus memilih dalam bentuk rumah kontrak yang berbentuk satuan atau rumah yang disediakan oleh pemerintah yang berbentuk Rumah Susun Hunian Sewa. Karena fungsinya yang ditujukan hanya untuk tempat tinggal bertaraf rendah, kenyamanan thermal seringkali tidak diperhatikan yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan pengeluaran yang tidak perlu untuk memenuhi kenyamanan tersebut. Pengukuran dilakukan menggunakan alat Data-Logger untuk mengukur suhu ruangan ekstrim dalam Rusunawa Type 24, yang menghasilkan bahwa ruangan yang paling rendah rata-ratanya adalah yang paling jarang dipakai, dan yang paling tinggi adalah ruangan yang lebih sering dipakai. Dalam pengukuran maupun Simulasi menggunakan aplikasi Ecotect, bangunan eksisting tidak memenuhi syarat kenyamanan thermal bahkan pada ruangan dengan rata-rata terendah. Rekomendasi muncul dengan berbagai alternatif sesuai dengan budget pengguna, serta simulasi untuk menunjukkan efektivitas alternatif tersebut.Kata Kunci: Rusunawa, Kenyamanan Thermal, Analisis.
PERANCANGAN RUANG KOMUNAL PADA HUNIAN MAHASISWA UNTUK PENINGKATAN PEMBELAJARAN DAN KOLABORASI Satria, Widi Dwi; Gharata, Verza Dillano; Prayogi, Prayogi; Putri, Khosyi Mailisa
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The existence of communal spaces in the student campus environment is one aspect that must be fulfilled. Currently, students are required to be able to improve learning through collaboration between students. Communal space is a space that can be used together and can be used as a place to gather and interact. This research aims to address the issue of lack of space in student dormitories which has a negative impact on student satisfaction and learning quality. This research proposes to address the issue of lack of open spaces that are useful in the smooth running of student activities by designing communal spaces to support learning and collaboration within the campus environment. The research will involve analysing the needs and preferences of students which includes surveys, in-depth interviews, literature studies as well as incorporating design principles that promote learning and collaboration. The result of this research is a design drawing of a communal space with a circular layout concept that is flexible and adaptive to fulfil the needs of students. Some of the facilities designed include a creativity hallway, reflection room, seating, gazebo, and amphitheatre at the Student Residence of the Sumatra Institute of Technology through 3D designs produced by answering existing design issues. With this design, it is expected to create and improve learning activities and collaboration between students in the student residence environment.Keyword: Design, Communal Space, Residential, Student, CollaborationAbstrak: Keberadaan ruang komunal di lingkungan kampus mahasiswa merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi. Saat ini, mahasiswa dituntut untuk dapat meningkatkan pembelajaran melalui kolaborasi antarmahasiswa. Ruang komunal merupakan ruang yang dapat digunakan bersama dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah minimnya ruang pada asrama mahasiswa yang berdampak negatif pada kepuasan mahasiswa dan kualitas pembelajaran. Penelitian ini mengusulkan untuk menjawab isu minimnya ruang terbuka yang berguna dalam kelancaran kegiatan mahasiswa dengan mendesain ruang komunal guna mendukung pembelajaran dan kolaborasi dalam lingkungan kampus. Penelitian akan melibatkan analisis kebutuhan dan preferensi mahasiswa yang meliputi survei, in-depth interview (wawancara mendalam), studi literatur serta menggabungkan prinsip-prinsip desain yang mempromosikan pembelajaran dan kolaborasi. Hasil dari penelitian ini berupa gambar rancangan ruang komunal dengan konsep circular layout yang bersifat fleksibel dan adaptif bagi pemenuhan kebutuhan mahasisawa. Beberapa fasilitas yang didesain meliputi selasar kreatifitas, ruang refleksi, tempat duduk, gazebo, dan amphitheater pada Hunian Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera melalui 3D desain yang dihasilkan dengan menjawab isu perancangan yang ada. Dengan  adanya perancangan ini, diharapkan dapat menciptakan dan meningkatkan aktivitas pembelajaran serta kolaborasi antar mahasiswa di lingkungan hunian mahasiswa.Kata Kunci: Perancangan, Ruang Komunal, Hunian, Mahasiswa, Kolaborasi
IMPLEMENTASI KESESUAIAN KEGIATAN PEMANFAATAN RUANG GUNA MENDORONG REFORMA AGRARIA BERKELANJUTAN DI KABUPATEN KLUNGKUNG Wahyuni, I Gusti Agung Putu; Agusintadewi, Ni Ketut; Wibowo, Antonius Karel Mukti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Abstrak Population growth drives high demand for land, altering land use and potentially damaging the environment. Regional Spatial Plans (RTRW) and Conformity of Spatial Utilization Activities (KKPR) are crucial in regulating land use to sustain the environment and support agrarian reform. This study examines KKPR implementation in Klungkung Regency and its relation to agrarian reform. Using qualitative descriptive and case study approaches, data was gathered from KKPR documents, field observations, and relevant regulations. Findings indicate that KKPR effectively controls land use, despite violations in land area and basic building coefficient (KDB). KKPR applications for business, especially in the plantation and agriculture sectors, are often rejected. Monitoring KKPR implementation is vital to ensure consistency with RTRW and prevent deviations that could hinder agrarian reform goals. Controlling spatial utilization through KKPR plays a central role in maintaining land use conformity with spatial plans and supporting agrarian reform. Re-evaluating the District RTRW is necessary to meet community needs while considering environmental sustainability principles. Enhancing KKPR effectiveness can build public trust in the government and support agrarian reform towards achieving social justice and prosperity goals.Keyword: KKPR, Implementation Monitoring, Agrarian ReformAbstrak: Pertambahan jumlah penduduk mendorong permintaan lahan yang tinggi, mengubah penggunaan lahan dan berpotensi merusak lingkungan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) penting dalam mengatur penggunaan lahan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung reforma agraria. Studi ini meneliti penerapan KKPR di Kabupaten Klungkung dan hubungannya dengan reforma agraria. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan studi kasus, data dikumpulkan dari dokumen KKPR, observasi lapangan, dan peraturan terkait. Temuan menunjukkan KKPR berhasil mengendalikan penggunaan lahan meskipun terdapat pelanggaran terhadap luas lahan dan koefisien bangunan dasar (KDB). Permohonan KKPR untuk usaha, terutama di sektor perkebunan dan pertanian, sering ditolak. Monitoring pelaksanaan KKPR penting untuk memastikan konsistensi dengan RTRW dan mencegah penyimpangan yang bisa menghambat reforma agraria. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui KKPR dalam menjaga kesesuaian penggunaan lahan dengan rencana tata ruang serta mendukung reforma agraria. Evaluasi ulang RTRW Kabupaten perlu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan prinsip keberlanjutan lingkungan. Efektivitas KKPR dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan mendukung reforma agraria untuk mencapai tujuan keadilan sosial dan kemakmuran.Kata Kunci: KKPR, Monitoring Implementasi, Reforma Agraria          

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue