cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 19 Documents
Search results for , issue "JILID 14 (1991)" : 19 Documents clear
STUDI STRATEGI PEMANTAPAN KEGIATAN PENYULUHAN GIZI PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI MAKANAN DALAM MASYARAKAT DI WILAYAH SULAWESI TENGAH DAN NUSA TENGGARA TIMUR Djoko Susanto; Tjetjep S. Hidayat; Trintrin T. Mudjianto; Triasari A. Werti; Nurfi Afriansyah; Erna Luciasari
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2198.

Abstract

Melalui kerja keras jajaran Departemen Pertanian bekerjasama dengan masyarakat petani, maka pada tahun 1985 Indonesia telah mampu berswasembada beras dan status itu mendapat penghargaan dari FAO. Konsekuensi dari kondisi tersebut tiada lain adalah mempertahankan dan melestarikannya secara terus menerus dan berkesinambungan. Landasan formal ke arah upaya itu adalah INPRES Nomor 20 tahun 1979 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat, sedangkan landasan teknis operasional adalah melalui penganekaragaman menu makanan sehari-hari. Dengan prinsip penganekaragaman menu makanan, maka dua tujuan ingin dicapai sekaligus, yakni: (1) agar ketergantungan masyarakat kepada salah satu jenis pangan pokok, terutama beras dapat dikurangi, dan (2) agar mutu gizi susunan makanan masyarakat dapat ditingkatkan. Sebagian penduduk di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur mengkonsumsi pangan pokok non-beras secara turun-temurun. Pada tingkat nasional dan regional kebiasaan pangan tersebut perlu dipertahankan dan didukung agar penganekaragaman konsumsi makanan dapat dikembangkan dan mutu gizi susunan makanan dapat ditingkatkan dengan mendayagunakan bahan-bahan makanan yang tersedia setempat. Penelitian ini ditujukan untuk menggali keragaan di lapangan berkenaan denga pentahuan pejabat dan kader Posyandu mengenai konsep penganekaragaman konsumsi makanan, serta penerapannya pada tingkat keluarga. Ketersediaan komoditas pangan pada sistem pasar di berbagai tingkat administratif telah digali pula. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar 50-70% Pejabat di berbagai tingkat administratif di kedua wilayah propinsi tersebut mengetahui dengan baik rumusan dan tujuan program penganekaragaman konsumsi makanan. Menurut para Pejabat tersebut sarana penyuluhan gizi yang tersedia belum mengandung materi mengenai penganekaragaman konsumsi makanan. Dari data pengamatan ternyata bahwa makanan pokok non-beras lebih banyak ditemukan di tingkat kecamatan, sedangkan beras lebih banyak ditemukan di tingkat propinsi. Sementara itu, pola konsumsi makanan keluarga menunjukkan bahwa beras dikonsumsi oleh 16.7% keluarga di Sulawesi Tengah. Sedangkan di wilayah studi di Nusa Tenggara Timur hanya ditemukan satu keluarga yang mengkonsumsi beras dicampur dengan jagung, selebihnya mengkonsumsi jagung, atau jagung dan ubi. Agar pemahaman prinsip penganekaragaman konsumsi makanan lebih dikuasai oleh para pejabat terkait di berbagai tingkat administratif, para petugas gizi dan kader di Posyandu, maka diperlukan kegiatan orientasi, penataran dan pengembangan sarana penyuluhan gizi berkenaan dengan penganekaragaman konsumsi makanan di kedua wilayah penelitian.
HUBUNGAN ANTARA PEMBESARAN KELENJAR GONDOK YANG TAMPAK DENGAN GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH GONDOK ENDEMIK Basuki Budiman; Ratna D. Hatma; Pandu Riono; Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2199.

Abstract

Salah satu spektrum gangguan akibat iodium (GAKI) adalah gangguan pertumbuhan ragawi. Pembesaran kelenjar gondok, disatu pihak merupakan salah satu manifestasi kekurangan iodium, sementara di lain pihak, defisit tinggi badan merupakan petunjuk gangguan pertumbuhan. Hasil penelitian Bautista et.al. dan Koutras et.al. tidak menunjukkan hubungan antara pembesaran kelenjar gondok dengan postur tubuh. Penelitian untuk konfirmasi hasil penelitian tersebut dengan keadaan di Indonesia telah dilakukan di daerah gondok endemik di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 1110 siswa sekolah dasar (7 SD) diperiksa pembesaran gondoknya dengan palpasi dan diukur tinggi badannya secara antropometri. Data yang diperoleh dianalisis secara kasus-kontrol dan distratifikasi menurut jenis kelamin dan umur. Kasus adalah anak penderita gangguan pertumbuhan pada nilai Z-skor 2.51 dari sebaran tinggi badan NCHS/WHO. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa resiko anak yang terganggu pertumbuhannya karena menderita kekurangan iodium sama besar dengan resiko anak yang pertumbuhannya normal (rasio odd, OR=0.84); demikian pula resiko pertumbuhan, pada anak perempuan (OR=0.90) hampir sama besar dengan pada anak laki-laki (OR=0.81). Efek umur, tampaknya, juga tidak menunjukkan perbedaan resiko. Disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menegaskan hasil penelitian Bautista et.al. dan Koutras et.al.
STATUS GIZI MURID TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR DI SEKOLAH FAVORIT DAN BUKAN FAVORIT Anies Irawati; Heryudarini Harahap; Dyah Santi Puspitasari; M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2200.

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang status gizi murid di sekolah favorit dan bukan favorit taman kanak-kanak (TK) maupun sekolah dasar (SD). Penelitian dilakukan di tiga provinsi/daerah yang berbeda keadaan geografi dan sosial budayanya, yaitu DKI Jakarta, DIY dan Lampung. Di tiap-tiap daerah tersebut diteliti tiga TK (satu TK favorit dan dua TK bukan favorit) dan tiga SD (satu SD favorit dan dua SD bukan favorit). Kecuali untuk DIY, jumlah SD yang menjadi lokasi penelitian adalah 4 SD (1 SD favorit dan 3 SD bukan favorit), dan dari ketiga TK yang dijadikan sebagai lokasi penelitian tidak ada yang berstatus TK favorit. Jumlah sampel untuk TK favorit dan bukan favorit masing-masing sebanyak 90 dan 349 murid, sedangkan untuk SD favorit dan bukan favorit masing-masing sebanyak 789 dan 1742 murid. Jumlah murid TK dan SD favorit yang berada diatas P>50 sebanyak 51.8%, sedangkan pada sekolah bukan favorit sebanyak 42.9%. Rata-rata BB murid TK maupun SD favorit lebih berat daripada murid sekolah bukan favorit. Jumlah murid TK favorit yang berstatus gizi kurang (dibawah P3) sebanyak 1.1% dan pada TK bukan favorit sebanyak 2.0%. Jumlah murid SD favorit yang berstatus gizi kurang sebesar 3.4% dan pada SD bukan favorit sebesar 4.7%. Jumlah murid yang berstatus gizi kurang pada TK dan SD bukan favorit lebih banyak daripada TK dan SD bukan favorit. Jumlah murid TK favorit yang berstatus gizi lebih (diatas P>97) sebanyak 12.2% dan pada TK bukan favorit sebanyak 6.0%, sedangkan pada SD favorit sebanyak 8.6% dan SD bukan favorit sebanyak 2.9%. Jumlah murid yang berstatus gizi lebih pada TK dan SD favorit lebih banyak daripada TK dan SD bukan favorit. Di DKI Jakarta, murid TK maupun SD yang berstatus gizi lebih masing-masing 19.5% dan 10.9%, lebih tinggi daripada di kedua daerah lainnya. Murid TK yang berstatus gizi-lebih lebih banyak berada di DIY dibandingkan dengan dua daerah lainnya, yaitu sebanyak 3.5%. Murid SD yang berstatus gizi kurang lebih banyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu sebesar 5.0%. Pada umumnya dengan menggunakan KMS Anak Sekolah, pada sekolah favorit kecenderungan kurvanya terletak pada persentil yang sama, tetapi pada sekolah bukan favorit cenderung naik. Aspek positif dari KMS Anak Sekolah ini, tampaknya memotivasi peningkatan BB responden.
STATUS GIZI ANAK BALITA DI DAERAH MALARIA Sihadi Sihadi; Sandjaja Sandjaja
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2201.

Abstract

STATUS GIZI ANAK BALITA DI DAERAH MALARIA
STATUS GIZI ANAK BALITA PENGUNJUNG POSYANDU KECAMATAN CIOMAS DAN SEMPLAK, KABUPATEN BOGOR Arnelia Arnelia; Sri Muljati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2202.

Abstract

STATUS GIZI ANAK BALITA PENGUNJUNG POSYANDU KECAMATAN CIOMAS DAN SEMPLAK, KABUPATEN BOGOR
PROFIL KEADAAN GIZI USILA DI DKI JAKARTA DAN YOGYAKARTA Heryudarini Harahap; Anies Irawati; Dyah Santi Puspitasari; Sihadi Sihadi; M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2203.

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang profil keadaan gizi usila di DKI Jakarta dan DIY. DKI Jakarta menggambarkan daerah perkotaan dengan etnik yang beragam; DIY menggambarkan daerah pedesaan dengan etnik Jawa yang kebudayaannya masih kuat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan pada 90 orang usila di DKI Jakarta dan 180 usila di DIY dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Hasil penelitian menunjukkan 82.8% dan 58.3% usila masing-masing untuk DKI Jakarta dan DIY adalah perempuan. Usila perempuan yang janda adalah 91.9% di DKI Jakarta dan 78.1% di DIY. Usila laki-laki yang duda 62.5% di DKI Jakarta dan 16.0% di DIY. Rata-rata jumlah anggota keluarga Usila di Jakarta 6.4 ± 3.5 orang, lebih besar daripada jumlah anggota keluarga Usila di DIY, yaitu 4.0% ± 2.2 orang. Pendapatan keluarga Usila di DKI Jakarta dan DIY hampir sama, yaitu Rp 87.744 di DKI Jakarta dan Rp 85.988 di DIY, tetapi pendapatan per kapita berbeda. Rata-rata pendapatan per kapita di DKI Jakarta adalah Rp 14.590 dan DIY Rp 18.160. Konsumsi zat-zat gizi Usila di DKI Jakarta dan DIY umumnya tidak ada yang mencapai 100% RDA, kecuali konsumsi vitamin C di Usila di DIY. Konsumsi kalori, protein dan zat besi Usila di kedua daerah penelitian kurang dari 80%, kalsium kurang dari 60%. Konsumsi zat-zat gizi Usila di DIY. Rata-rata perbedaan konsumsi berkisar antara 19.2%-59.3% kecukupan gizi pada laki-laki dan 8.2%-41.3% kecukupan gizi pada perempuan. Lebih dari 3/4 laki-laki berstatus gizi kurus yaitu 83.3% di DKI Jakarta dan 89.9% di DIY. Tidak terdapat laki-laki yang berstatus gizi gemuk, sedangkan pada perempuan terdapat 21.5% di DKI Jakarta dan 2.2% di DIY yang berstatus gizi gemuk. Prevalensi anemia Usila di DKI Jakarta lebih tinggi daripada di DIY yaitu 50.0% pada laki-laki dan 52.3% pada perempuan, dibanding 39.1% pada laki-laki dan 35.3% pada perempuan.
HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN PAGI DENGAN KONSENTRASI BELAJAR Sukati Saidin; Y. Krisdinamurtirin; Ance Murdiana; Moecherdiyatiningsih Moecherdiyatiningsih; Lies Darwin Karyadi; Sri Murni
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2204.

Abstract

Telah dilakukan penelitian Hubungan Kebiasaan Makan Pagi dan Konsentrasi Belajar Pada Anak Sekolah Dasar di 10 Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Bogor. Sampel penelitian diambil anak sekolah dasar kelas 4, 5 dan 6 dengan umur antara 9-14 tahun. Sampel dipilih anak yang sehat (bebas dari penyakit menahun) mempunyai status gizi normal. Sampel dikelompokkan menjadi 4 yaitu: (1) kelompok makan pagi tidak anemia (MP-TA). (2) Kelompok makan pagi anemia (MP-A). (3) Kelompok tidak makan pagi tidak anemia (TMP-TA). (4) Kelompok tidak makan pagi anemia (TMP-A). Sebelum dilakukan matching (berpasangan) berdasarkan jenis kelamin, umur dan asal sekolah, kelompok MP-TA terdiri dari 120 anak, MP-A sebanyak 84 anak, kelompok TMP-TA sebanyak 93 anak dan kelompok TMP-A sebanyak 95 anak. Setelah dipasangkan (matching) berdasarkan jenis kelamin, umur dan kelas yang sama untuk masing-masing kelompok diperoleh 57 pasang. Terhadap semua anak (sebelum dan sesudah dipasangkan) dilakukan test konsentrasi yang dilakukan pada jam yang sama yaitu pukul 9.00 pagi. Cara yang digunakan untuk uji konsentrasi adalah cara Bourdon, cara digit symbol tanpa dan dengan gangguan. Rata-rata hasil test konsentrasi dengan cara Bourdon untuk ke-4 kelompok sebagai berikut: 97.6, 92.4, 91.6 dan 90.1 (untuk lembar pertama) dan 112.3, 106.2, 110.3 dan 108.7 (untuk lembar kedua) masing-masing untuk kelompok MP-TA, MP-A, TMP-TA, dan TMP-A (tidak berpasangan). Dengan menggunakan uji-t test ternyata hasil test konsentrasi belajat dengan cara ini tidak berbeda nyata (P<0.05). Rata-rata hasil test konsentrasi belajar keempat kelompok setelah berpasangan untuk lembar pertama masing-masing sebesar 96.4, 95.1, 90.4 dan 90.1 dan sebesar 110.1, 109.9, 111.5 dan 107.3 (untuk lembar kedua). Hasil uji statistik dengan anova juga tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (P<0.05). Rata-rata hasil test konsentrasi keempat kelompok (tidak berpasangan), dengan cara digit symbol tanpa dan dengan gangguan menunjukkan angka sebagai berikut: 37.5, 34.3, 35.0 dan 29.1 (tanpa gangguan) dan 40.7, 38.5, 38.9 dan 32.2 (dengan gangguan). Hasil uji statustik dengan t-test menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat nyata antara kelompok yang diuji (P 0.01), kecuali antara kelompok MP-TA dengan TMP-TA, perbedaannya hanya nyata P < 0.05 (tanpa gangguan). Sedangkan hasil uji statistik test konsentrasi dengan gangguan, yang tampak berbeda nyata hanya antara kelompok TMP-TA dengan TMP-A dan antara MP-A dengan TMP-A, untuk kelompok MP-TA dengan MP-A dan MP-TA dengan TMP-TA, tidak ada perbedaan yang nyata. Rata-rata hasil uji konsentrasi keempat kelompok (berpasangan), dengan cara digit system adalah berturut-turut 36.5, 34.3, 35.0 dan 29.1 (tanpa gangguan) dan 39.8, 38.5, 38.9 dan 32.2 (dengan gangguan). Hasil uji statistik keempat kelompok (berpasangan) dengan menggunakan uji Anova menunjukkan bahwa kebiasaan makan pagi dan keadaan anemia berpengaruh nyata pada konsentrasi belajar dengan nilai F=8.142 dan 7.861. Daru uji Anova tampak bahwa ada interaksi nyata antara kebiasaan makan pagi dengan anemia terhadap konsentrasi belajar anak. Hal ini menunjukkan bahwa anak yang tidak biasa makan pagi dan menderita anemia sangat merugikan, karena kelompok ini ternyata mempunyai daya konsentrasi paling rendah. Dapat disimpulkan bahwa kebiasaan tidak makan pagi dan keadaan anemia berpengaruh nyata terhadap konsentrasi belajar anak sekolah.
EFEK PEMBERIAN BETA KAROTENA TAKARAN TINGGI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK BALITA Dewi Permaesih; Komala Komala; Effendi Rustan; Endi Ridwan; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2205.

Abstract

EFEK PEMBERIAN BETA KAROTENA TAKARAN TINGGI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK BALITA
POTENSI JAMU/RAMUAN TRADISIONAL UNTUK DIGUNAKAN DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI M. Saidin; Alamsjhuri Alamsjhuri; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2206.

Abstract

Telah dilakukan penelitian potensi jamu/ramuan tradisional untuk digunakan dalam pencegahan dan penanggulangan anemi gizi. Pengertian potensi, disini, dilihat dari kandungan zat besi dan zat penghambat absorpsi besi oleh tubuh, yaitu asam fitrat dan tanin dalam jamu. Ramuan atau jamu yang diteliti adalah yang pada kemasannya berlabel tambah darah atau salah satu khasiatnya menyembuhkan kurang darah. Pembelian contoh jamu dari warung-warung dan pasar di wilayah DIY mendapatkan 13 macam jamu jenis serbuk dari berbagai merek, satu macam dalam bentuk pil dan lima macam ramuan jamu godokan atau rebusan. Hasil analisis di laboratorium mendapatkan rata-rata kandungan besi dalam jamu serbuk berkisar 0.33 mg-13.65 mg, asam fitat 3.34 mg-67.65 mg dan tanin 57.89 mg-152.56 mg per bungkus. kandungan besi dalam godokan per 100 ml air rebusan hari pertama berkisar antara 0.19 mg-1.53 mg, asam fitat 23.95 mg-33.15 mg dan tanin 37.84-68.16 mg. Data pola penggunaan jamu dan kadar haemoglobin telah dikumpulkan dari 100 pengguna jamu (49 laki-laki dan 51 perempuan) di wilayah DIY. Sebagian besar (75%) pengguna jamu, sudah biasa menggunakan jamu satu bungkus per minggu, masing-masing 11% pengguna jamu, biasa menggunakan jamu tambah darah lebih dari satu bungkus per minggu dan satu bungkus per bulan. Rata-rata dan simpang baku kadar Hb pengguna jamu laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 13.52 ± 1.369 g/dl dan 12.06 ± 1.219 g/dl. Sebanyak 26.5% pengguna jamu laki-laki dan 41.3% pengguna jamu perempuan menderita anemi.
ALTERNATIF CARA DETEKSI KANDUNGAN IODIUM PADA GARAM BERIODIUM DI PASAR Yuniar Rosmalina; Faisal Anwar; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2207.

Abstract

Mengingat tingginya biaya yang diperlukan dalam menganalisa kandungan iodium pada garam secara laboratorium, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan masalah gangguan akibat kekurangan iodium, maka diperlukan teknologi sederhana untuk mendeteksi iodium pada garam iodium yang diperjualbelikan di pasar. Untuk itu telah dilakukan penelitian mengenai beberapa cara mendeteksi iodium pada garam menggunakan sumber karbohidrat dan sumber zat pereduksi, seperti Dioscorea Hispida Dennst (gadung), Manihot utilissima (singkong), atau Rubber seed (biji karet). Berdasarkan jenis dan jumlah campuran yang digunakan ada 6 formula yang diuji pada penelitian pendahuluan yaitu formula ICo, IICo, IC1, IIC1, ISo, dan IISo. Pada penelitian lanjutan, formula yang terpilih diuji menggunakan garam iodium yang dibeli dari pasar di Kodya Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula IICo dan IIC1 menggunakan perasan singkong atau gadung, serta formula IISo menggunakan parutan biji karet, dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi kadar iodium pada garam beriodium. Formula IICo terdiri dari 4 ml perasan gadung atau singkong, dicampur dengan 45 g garam beriodium dan 8 ml asam cuka 25 persen. Formula IIC1 sama seperti formula IICo, tapi menggunakan gadung yang telah disimpan tiga minggu, dan singkong yang telah disimpan dua minggu. Formula IISo terdiri dari 7 gr parutan biji karet, ditambah dengan 45 g garam iodium dan 16 ml asam sitrat. Hasil penelitian lanjutan menunjukkan hanya 11.1 persen garam beriodium di Kodya Bogor mempunyai kandungan diatas 30 ppm, dan 88.9 persen dibawah 30 ppm. Garam beriodium yang mempunyai kandungan di atas 30 ppm akan menunjukkan warna biru atau ungu, dan yang mempunyai kandungan dibawah 30 ppm akan menunjukkan warna cokelat, warna biru yang tidak stabil atau tidak menunjukkan perubahan warna.

Page 1 of 2 | Total Record : 19


Filter by Year

1991 1991


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue