cover
Contact Name
Anom Dwi Prakoso
Contact Email
anomdwiprakoso26@gmail.com
Phone
+6285157515166
Journal Mail Official
anom@ymci.my.id
Editorial Address
Jl. Rahtawu Raya, Desa Menawan RT 02/ 03, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Research Innovation
ISSN : 30466652     EISSN : 30324688     DOI : https://doi.org/10.64094/kzesc155
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Research Innovation - (IJHRI) merupakan jurnal ilmiah berkala yang dikelola dan diterbitkan oleh Yayasan Menawan Cerdas Indonesia. Jurnal ini memiliki fokus dan ruang lingkup ilmu kesehatan umum yang berkaitan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat setingggi-tingginya melalui pendekatan ilmiah melalui berbagai macam pendekatan, metode dan teknik. Fokus jurnal yaitu pada masalah kesehatan secara umum dan pengembangan ilmu bidang Kesehatan meliputi Kedokteran, Keperawatan, Kebidanan, Kesehatan masyarakat, Farmasi, Gizi, Fisioterapi, Manajemen Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, Rekam Medis, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan kesehatan lainnya. Jurnal ini terbit empat kali dalam satu tahun pada bulan February, Mei, Agustus, dan November tiap tahunnya.
Articles 112 Documents
STUDI KASUS: PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA BELL’S PALSY DENGAN ELECTRICAL STIMULATION DAN MASSAGE Selviyani, Jeni; Kuswardani
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/ptzs6690

Abstract

Bell’s Palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah pada nervus facialis secara akut pada salah satu sisi wajah. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan penderita menggerakkan separuh wajahnya secara sadar (volunter) pada sisi yang sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan fisioterapi pada Bell’s Palsy dengan Electrical Stimulation dan Massage. Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Terapi yang diberikan adalah Electrical Stimulation dan Massage. Setelah mendapatkan penanganan fisioterapi sebanyak 3 kali, didapatkan hasil tidak adanya peningkatan dalam pengukuran kekuatan otot wajah dan tidak adanya peningkatan pada fungsional aktivitas pasien dengan menggunakan Skala Ugo Fisch. Penatalaksanaan Electrical Stimulation dan Massage dalam periode waktu selama tiga hari belum terbukti adanya peningkatan kekuatan otot wajah dan peningkatan simetris wajah dengan skala Ugo Fisch.
REVIEW ARTIKEL: REKOMENDASI EXERCISE PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Fatria, Ilham; Mariel Daba; Nabila Salsabillah Warasti; Ika Rahman
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/x5mfsh67

Abstract

Diabetes mellitus (DM) atau tingginya kadar glukosa darah merupakan salah satu penyakit kronis tidak menular yang sangat kompleks dan memerlukan perawatan medis secara komprehensif dengan pendekatan berbagai multidisiplin ilmu untuk pengendalian kadar gula darah. DM didefinisikan sebagai suatu kelainan metabolisme karbohidrat karena gangguan produksi atau pemanfaatan insulin (atau keduanya), mengakibatkan kadar glukosa darah tinggi dan hilangnya gula dalam urin. Ada dua kategori DM yaitu tipe 1 dan tipe 2, dengan kasus DM terbanyak adalah tipe 2. Indonesia berada di posisi ketujuh dengan jumlah kasus DM mencapai 10,7 juta orang. Berdasarkan proyeksi International Diabetes Federation (IDF), peningkatan jumlah penderita DM akan terus berlanjut hingga tahun 2045 yang diperkirakan mencapai 16,6 juta orang. Penyakit DM merupakan penyebab tertinggi ketiga kematian di Indonesia akibat penyakit tidak menular Ada berbagai macam tindakan yang dapat dilakukan pada pasien DM untuk pengendalian kondisinya. Exercise adalah salah satu pendekatan non-farmakologis yang efektif untuk mengelola dan/atau mencegah penyakit DM. Dalam review artikel ini akan membahas mengenai rekomendasi exercise untuk pasien DM tipe 2. Mekanisme exercise dalam menurunkan kadar glukosa darah juga akan dijelaskan secara menyeluruh. Selain itu, review artikel ini juga akan menyoroti risiko terkait exercise pada pasien DM tipe 2 dan berbagai pendekatan exercise yang inovatif untuk pasien DM.
STUDI KASUS: PENERAPAN LATIHAN BATUK EFEKTIF DAN MINUM AIR HANGAT PADA PASIEN ASMA BRONKHIAL Nurul Fitria, Anisa; Khoiriyati, Azizah; Widayat Priyo Krisyanto
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/9z2jb289

Abstract

Asma merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan penyempitan serta infeksi pada saluran nafas sehingga memunculkan sesak nafas. Penyakit ini bisa diatasi dengan nebulisasi serta latihan batuk yang efektif untuk membersihkan lendir serta sekret dari saluran napas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas batuk efektif pada penderita asma bronkhial pasca pengobatan nebulisasi. Riset ini menggunakan prosedur case study. Latihan batuk efektif diberikan pada pasien asma bronkhial di IGD RSUD Temanggung setelah mendapat program nebulisasi. Analisis data menggunakan kriteria hasil luaran keperawatan dengan memonitoring pre dan post latihan batuk efektif. Hasil riset ini adalah adanya perbaikan saluran nafas yang dibuktikan dengan kenaikan frekuensi respirasi, penurunan suara nafas tambahan, serta penurunan otot bantu napas. Latihan batuk efektif pada penderita dengan kendala bersihan jalan napas bisa membantu membersihkan sekret. 
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI DENGAN INFRARED (IR), MASSAGE EXERCISE DAN MIRROR EXERCISE PADA BELL’S PALSY SINISTRA Gathut, Aji; Irawan Wibisono
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/wzdkz758

Abstract

Bell’s Palsy merupakan kelemahan otot ekspresi wajah yang bersifat akut yang disebabkan oleh kelumpuhan saraf fasialis dengan penyebab yang belum diketahui. Bell’s Palsy umumnya mengenai setengah wajah, walaupun pada kasus yang jarang dapat melibatkan kedua belahan wajah. Beberapa ahli menyatakan penyebab berupa paparan angin dingin di salah satu sisi wajah secara terus menerus, ada juga yang menyatakan hal itu disebabkan oleh virus herpes yang menetap di tubuh dan teraktivasi kembali karena trauma, faktor lingkungan, stress dan lainnya. Modalitas berupa infrared, massage dan mirror exercise dapat meningkatkan kemampuan fungsional wajah seperti mengerutkan dahi, menutup mata, dan tersenyum, dan adanya peningkatan kekuatan otot wajah. Dilakukan terapi sebanyak empat kali didapatkan hasil adanya peningkatan fungsional pada wajah sisi kiri. Infrared, mirror exercise dan massage yang diberikan kepada pasien dengan terapi selama empat kali didapatkan hasil berupa peningkatan aktifitas fungsional wajah pada kasus bell’s palsy sinistra.
STUDI KASUS: PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI DENGAN ULTRASOUND, TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION DAN TERAPI LATIHAN PADA OSTEOARTHRITIS GENU BILATERAL Rafli, Muhammad; Didik Purnomo
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/yxfag805

Abstract

Osteoarthritis Genu merupakan penyakit yang berjalan secara progresif kronis, biasanya ditandai dengan adanya peradangan pada tulang rawan articular dan membran synovial. Penderita biasanya akan merasakan adanya nyeri pada lututnya, kekakuan sendi dan penurunan mobilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Penatalaksanaan Fisioterapi dengan Ultrasound, Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation dan Terapi Latihan pada Osteoarthritis Genu Bilateral. Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dari RSUD Kota Salatiga dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Modalitas yang diberikan adalah Ultrasound, Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation, Static Contraction, Free Active Exersice, dan Resissted Active Exersice. Setelah dilakukan fisioterapi sebanyak 5 kali pertemuan mendapatkan hasil adanya penurunan nyeri pada kedua knee, adanya peningkatan kekuatan otot fleksor pada knee dekstra , adanya peningkatan LGS pada kedua knee, adanya penurunan odema pada knee dekstra, penurunan pitting odema knee dekstra dan adanya peningkatan kemampuan fungsional aktivitas. Penatalaksanaan fisioterapi dengan Ultrasound, Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation , Stactic Contraction, Free Active Exersice dan Resissted Active Exersice yang dilakukan pada kasus Osteoarthritis Genu Bilateral selama 5 kali terapi didapatkan adanya penurunan rasa nyeri pada kedua knee, adanya peningkatan kekuatan otot fleksor pada knee dekstra, adanya peningkatan LGS pada kedua knee, adanya penurunan odema pada knee dekstra, penurunan pitting odema knee dekstra dan adanya peningkatan kemampuan fungsional aktivitas.
IDENTIFIKASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR MINUM DI KELURAHAN TURIDA Putri Berliana Octavira; Sabariah; Abdillah Adipatria B. Azhar; Rusmiatik
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/2yjx1113

Abstract

Escherichia coli merupakan salah satu parameter wajib kualitas air minum pada aspek mikrobiologi. Air minum dengan kualitas yang baik harus terbebas dari kandungan Escherichia coli. Hasil riset Kementerian Kesehatan tahun 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 74,4% rumah tangga di Indonesia memiliki akses terhadap air minum yang terkontaminasi bakteri Escherichia coli. Survey Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan pada Maret 2019, dari sekitar 260 juta orang Indonesia sebesar 89,27% di antaranya yang memiliki akses terhadap air minum layak dan sebesar 73,65% yang memiliki sumber air muinum bersih. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi bakteri Escherichia coli pada Air Minum di Lingkungan Turida. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan eksperimental laboratorium menggunakna pendekatan cross sectional, Populasi target dalam penelitian ini adalah sumber air minum yang ada dilingkungan Turida dengan 50 sampel. Hasil dalam penelitian ini adalah dari 50 responden masing-masing pengolahan air minum yang dimasak 29 (58,0%) responden, disaring 21 (42,0%) responden, sumber air minum dari PDAM 28 (56,0%) responden, air sumur 15 (30,0%) responden air dalam kemasan 0 (0,0%) responden serta isi ulang 7 (14,0%) responden, kondisi fisik air minum yang baik 39 (78,0%) responden, kondisi fisik buruk 11 (22,0%) responden dan didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium bahwa semua bakteri Escherichia coli negatif. Mayoritas responden mengolah air minum dengan cara memasak (58%) dan memperoleh air dari PDAM (56%), serta 78% menilai kondisi fisik air minum mereka baik. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak ada bakteri Escherichia coli dalam sampel air minum.
STUDI KASUS: PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST OP TOTAL KNEE REPLACEMENT DEXTRA DENGAN METODE AQUATIC EXERCISE Febiana Mawastuti; Maya Triyanita
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/zag37198

Abstract

Total Knee Replacement (TKR) adalah prosedur pembedahan untuk mengganti sendi lutut yang rusak dengan mengunakan polyethylene. Problematika pada pasien TKR adalah adanya nyeri, penurunan kekuatan otot, penurunan lingkup gerak sendi dan gangguan aktivitas fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Penatalaksanaan Fisioterapi pada Post Op Total Knee Replacement Dextra dengan Metode Aquatic Exercise. Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dari RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Metode yang digunakan adalah Aquatic Exercise. Setelah dilakukan Fisioterapi sebanyak lima kali didapatkan hasil adanya penurunan derajat nyeri, peningkatan kekuatan otot dan LGS, serta peningkatan kemampuan fungsional pasien. Aquatic exercise yang diberikan kepada pasien dapat membantu menurunkan dejarat nyeri, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerrak sendi dan meningkatkan nilai aktivitas fungsional.
STUDI KASUS: PENATALAKSAAN FISIOTERAPI PADA CARPAL TUNNEL SYNDROME  DEXTRA DENGAN ULTRASOUND (US) DAN EXERCISE Chabib Zein Prasetyo Nugroho; Kuswardhani
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 4 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/jy4jc470

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan gangguan saraf tepi akibat kompresi nervus medianus di pergelangan tangan, yang sering menyebabkan nyeri, parestesia, dan keterbatasan gerak. Penatalaksanaan fisioterapi berperan penting dalam mengurangi gejala CTS, di antaranya dengan modalitas Ultrasound dan latihan (exercise) neurodinamic serta joint mobilization. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi Ultrasound dan exercise dalam mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS), dan memperbaiki kemampuan fungsional pasien CTS. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada seorang pasien laki-laki berusia 64 tahun yang didiagnosis CTS dextra. Intervensi yang diberikan meliputi Ultrasound Therapy dan exercise berupa neurodynamic mobilization serta joint mobilization. Evaluasi dilakukan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) untuk nyeri, goniometer untuk LGS, dan Wrist Hand Disability Index (WHDI) untuk aktivitas fungsional. Setelah dua kali terapi, pasien menunjukkan penurunan signifikan pada nyeri pergelangan tangan dan jari-jari, disertai peningkatan LGS. Ultrasound terbukti efektif dalam menurunkan nyeri melalui efek thermal dan micromassage, sementara latihan neurodynamic dan joint mobilization meningkatkan LGS dan mengurangi parestesia. Aktivitas fungsional pasien juga mengalami perbaikan berdasarkan skor WHDI. Kombinasi Ultrasound Therapy dan exercise efektif dalam mengurangi nyeri, meningkatkan LGS, dan memperbaiki aktivitas fungsional pada pasien dengan Carpal Tunnel Syndrome. Modalitas ini dapat menjadi pilihan terapi konservatif yang tepat untuk kasus CTS.
PERBEDAAN PENGARUH MANUAL THERAPY DENGAN STRENGTHENING EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL INDIVIDU PADA FROZEN SHOULDER: SYSTEMATIC REVIEW Sabrina , Dina; Puspadewi, Tasya Widyadhari; Zahrah, Salwa Alayda; Alya, Revina Nanda; Azis, Wahyu Rizkika; Pristianto, Arif
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 4 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/qd64cm18

Abstract

Frozen shoulder atau “adhesive capsulitis” adalah suatu kondisi yang menyebabkan pembatasan gerak yang parah dan menyakitkan pada sendi bahu. Frozen shoulder menyebabkan kapsul yang mengelilingi sendi bahu berkontraksi dan membentuk jaringan parut yang menyebabkan tulang bahu tidak dapat bergerak di dalam socket-nya. Selain itu, bantalan sendi yang disebut bursa juga dapat saling menempel sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan untuk bergerak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau perbedaan pengaruh manual therapy dengan strengthening exercise terhadap peningkatan kemampuan fungsional individu pada frozen shoulder. Metode penelitian menggunakan penelusuran database Google Scholar untuk mengumpulkan dan menganalisis studi terkait dalam bentuk randomized controlled trial (RCT) tanpa tinjauan sistematis meta-analisis. Hasil analisis pada studi ini, menunjukkan adanya peningkatan kemampuan fungsional pada pasien frozen shoulder yang diberikan manual therapy sebesar 0.74 unit dibandingkan dengan pasien frozen shoulder yang diberikan strengthening exercise (SMD= 0.74; CI 95%= -0.38 hingga 1.86) dan hasil tersebut signifikan secara statistik (p<0.00001). Heterogenitas data penelitian menunjukkan I2= 94% (random effect model). Kedua treatment tersebut efektif dalam mengurangi rasa nyeri, meningkatkan ROM dan disabilitas fungsional pada individu dengan frozen shoulder. Namun kelompok individu yang menerima manual therapy memiliki peningkatan yang lebih tinggi secara signifikan daripada kelompok individu yang menerima strengthening exercise.
STUDI KASUS: PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA HEMIPLEGI SINISTRA E.C STROKE NON HEMORRHAGIC DENGAN TERAPI LATIHAN Mustika Sarila Ningrum; Kuswardani
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/3c4mpg51

Abstract

Stroke non hemorrhagic merupakan defisit neurologis yang terjadi secara tiba-tiba disebabkan oleh gangguan vaskular atau penyumbatan berupa kekurangan suplai oksigen ke otak yang berlangsung lebih dari 24 jam sehingga mengakibatkan nekrosis jaringan otak. Problematika yang muncul akibat stroke adalah kelemahan anggota gerak tubuh, gangguan keseimbangan, gangguan pola jalan dan penurunan aktivitas fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada hemiplegi sinistra e.c stroke non hemorrhagic dengan terapi latihan. Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Terapi Latihan yang diberikan adalah positioning, breathing exercise, propioceptive neuromuscular dan stimulasi taktil. Setelah mendapatkan penanganan fisioterapi sebanyak 4 kali, didapatkan hasil tidak adanya ulkus decubitus dan subluksasi shoulder, tidak adanya penurunan LGS dengan pengukuran menggunakan goniometer, belum ada peningkatan tonus otot dengan palpasi, belum ada peningkatan sensibilitas sensoris. Penatalaksanaan positioning, breathing exercise, propioceptive neuromuscular dan stimulasi taktil dalam periode waktu selama empat hari terbukti tidak adanya ulcus decubitus dan sublusasi shoulder, belum terbukti adanya peningkatan sensibilitas sensoris.

Page 2 of 12 | Total Record : 112