cover
Contact Name
Anom Dwi Prakoso
Contact Email
anomdwiprakoso26@gmail.com
Phone
+6285157515166
Journal Mail Official
anom@ymci.my.id
Editorial Address
Jl. Rahtawu Raya, Desa Menawan RT 02/ 03, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Research Innovation
ISSN : 30466652     EISSN : 30324688     DOI : https://doi.org/10.64094/kzesc155
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Research Innovation - (IJHRI) merupakan jurnal ilmiah berkala yang dikelola dan diterbitkan oleh Yayasan Menawan Cerdas Indonesia. Jurnal ini memiliki fokus dan ruang lingkup ilmu kesehatan umum yang berkaitan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat setingggi-tingginya melalui pendekatan ilmiah melalui berbagai macam pendekatan, metode dan teknik. Fokus jurnal yaitu pada masalah kesehatan secara umum dan pengembangan ilmu bidang Kesehatan meliputi Kedokteran, Keperawatan, Kebidanan, Kesehatan masyarakat, Farmasi, Gizi, Fisioterapi, Manajemen Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, Rekam Medis, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan kesehatan lainnya. Jurnal ini terbit empat kali dalam satu tahun pada bulan February, Mei, Agustus, dan November tiap tahunnya.
Articles 89 Documents
HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU, PENDAPATAN ORANG TUA, TINGGI BADAN ORANG TUA, DAN POLA PEMBERIAN MAKAN DENGAN KASUS STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAK BEAK Roro Wulansari Setyoningrum; Artha Budi Susila Duarsa; Halia Wanadiatri; Sabrina Intan Zoraya
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/ne0c4p03

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi salah satu target dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), prevalensi stunting mencapai 32,7%, menempatkannya pada peringkat keempat berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia. Faktor risiko stunting terbagi menjadi dua kategori utama yaitu faktor internal, meliputi tingkat pendidikan ibu, kelainan endokrin, tinggi badan orang tua, berat badan lahir, dan jenis kelamin anak. Faktor eksternal, mencakup jarak kelahiran, riwayat imunisasi, pemberian ASI eksklusif, pendapatan orang tua, dan pola pemberian makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan ibu, pendapatan orang tua, tinggi badan orang tua, dan pola pemberian makan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanak Beak, Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 101 responden, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Uji statistik yang digunakan dalam analisis data adalah chi-square. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting (p-value = 0,001). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan orang tua dengan kejadian stunting (p-value = 0,267). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting (p-value = 0,584). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting (p-value = 0,075). Terdapat hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting (p-value = 0,001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu dan pola pemberian makan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Namun, pendapatan orang tua, tinggi badan ayah, dan tinggi badan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanak Beak.
SISTEMATIC REVIEW FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DI INDONESIA Andrian Hoerul Anwar
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/fqanc998

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) menjadi masalah kesehatan global dengan beban morbiditas dan mortalitas tinggi, menduduki posisi pertama sebagai penyebab kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia. Transisi epidemiologi dari penyakit menular ke tidak menular terjadi lebih cepat dibandingkan kesiapan sistem kesehatan nasional, diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini dan modifikasi faktor risiko. Meskipun telah ada beberapa studi yang menginvestigasi faktor risiko PJK di Indonesia, belum ada tinjauan sistematis yang mengompilasi dan mensintesis temuan-temuan ini. Systematic review ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai faktor-faktor risiko PJK di Indonesia, serta menganalisis kontribusi relatif dan interaksi antar faktor risiko dalam konteks spesifik Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada lima database elektronik (PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science, ISJD, dan DOAJ) dengan batasan publikasi Januari 2020 hingga Oktober 2024. Kriteria inklusi mencakup studi pada populasi Indonesia yang menginvestigasi minimal satu faktor risiko PJK dan menyediakan data kuantitatif asosiasi. Penilaian kualitas menggunakan instrumen yang sesuai dengan desain penelitian. Sintesis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan penilaian kualitas bukti menggunakan sistem GRADE. Sepuluh penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa faktor risiko PJK di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi yang tidak dapat dimodifikasi (usia >40 tahun, jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga) dan yang dapat dimodifikasi (hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, merokok, obesitas, aktivitas fisik rendah, pola diet buruk). Hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia konsisten muncul sebagai faktor risiko dominan dengan hubungan signifikan terhadap kejadian PJK (p<0,05). Tingkat pengetahuan tentang faktor risiko PJK juga berkorelasi signifikan dengan perilaku kesehatan, khususnya kebiasaan merokok (p=0,025). Terdapat indikasi interaksi sinergis antar faktor risiko, terutama pada pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus. Pendekatan komprehensif dalam pencegahan dan pengendalian PJK di Indonesia harus mencakup strategi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, mengendalikan faktor risiko metabolik, mempromosikan gaya hidup sehat, dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan. Diperlukan penelitian kohort prospektif dengan ukuran sampel lebih besar untuk menilai hubungan kausal antara faktor risiko dan kejadian PJK, serta penelitian yang mengkaji interaksi antar faktor risiko dan efektivitas berbagai intervensi dalam konteks lokal Indonesia.
HUBUNGAN UNSAFE ACTION DAN UNSAFE CONDITION DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJA BATU ALAM DI DESA CIPANAS DUKUPUNTANG CIREBON Roebidin, Rachmat; Febitya Valent Difiana; Bunga Farida; Anom Dwi Prakoso
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/6jtabm30

Abstract

Menurut ILO, rata-rata jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia sebanyak 99.000 kasus per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 70% berakibat fatal yang menyebabkan kecacatan seumur hidup dan kematian. Aspek kecelakaan kerja yang paling sering terjadi disebabkan oleh unsafe action dan unsafe condition. Pada setiap tahapan produksi batu alam ditemukan potensi bahaya hingga dapat mengakibatkan kecelakaan kerja terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara unsafe action dan unsafe condition dengan kecelakaan kerja pada pekerja pengrajin batu alam di Desa Cipanas. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode survei analitik dan rancangan penelitian cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pekerja pengrajin batu alam dengan jumlah populasi 210 dan jumlah sampel sebanyak 73 orang yang diambil secara proporionate stratified random sampling. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dan pengamatan menggunakan instrumen kuesioner dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian hampir seluruhnya pekerja mengalami kecelakaan kerja ringan yaitu sebesar 82,2%, kejadian unsafe action tinggi sebesar 61,6% dan unsafe condition tinggi sebesar 58,9%. Hubungan unsafe action (p value = 0,001) dan unsafe condition (p value = 0,001) dengan kecelakaan kerja. Ada hubungan antara unsafe action dan unsafe condition dengan kecelakaan kerja pada pekerja pengrajin batu alam di Desa Cipanas.
PENINGKATAN KAPASITAS AEROBIK DENGAN LATIHAN INTENSITAS SEDANG PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE EC REUMATIC HEART DEASES: CASE REPORT Muhammad Naufal Anas; Perdana, Suryo Saputra; Aryani, Kadek Agustini
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/wqzknd79

Abstract

Rheumatic Heart Disease (RHD) merupakan komplikasi dari infeksi bakteri Streptococcus yang memicu reaksi autoimun dan gangguan fungsi jantung, berujung pada Congestive Heart Failure (CHF). Pasien CHF perlu menjalani rehabilitasi untuk meningkatkan kapasitas aerobik, kapasitas fungsional, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh latihan aerobik intensitas sedang (70 % HRmaks) terhadap peningkatan kapasitas aerobik dan tanda-tanda vital pasien CHF akibat RHD pada program rehabilitasi jantung fase II. Seorang pasien wanita, 62 tahun, menjalani program rehabilitasi jantung fase II yang meliputi latihan aerobik intensitas sedang (70 % HRmaks) terdiri dari pemanasan, jalan di lintasan atau treadmill, dan sepeda statis. Evaluasi awal menggunakan 6-Minute Walking Test (6MWT) sebagai baseline. Setiap sesi diukur derajat sesak napas dengan Borg Scale dan tanda-tanda vital. Setelah 12 pertemuan, kapasitas aerobik dinilai kembali dengan 6MWT, jarak tempuh, Heart Rate at Walking Speed Index (HRWSI), dan nilai METs. Setelah 12 pertemuan, terdapat peningkatan jarak tempuh 6MWT, peningkatan HRWSI, dan kenaikan nilai METs dibanding baseline. Derajat sesak napas menurun dan tanda-tanda vital dalam batas normal selama latihan. Latihan aerobik intensitas sedang (70 % HRmaks) pada rehabilitasi jantung fase II efektif meningkatkan kapasitas aerobik pada pasien CHF akibat RHD.
MANAGEMENT FISIOTERAPI PADA KASUS POST ORIF FRAKTUR HUMERUS DEXTRA DI RSUD BAGAS WARAS KLATEN Naufal Falah, Naufal Falah; Tiara Fatmarizka; Sri Yunanto
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/wsq3mz14

Abstract

Penelitian ini melaporkan manajemen fisioterapi pada seorang pasien perempuan berusia 44 tahun dengan post-ORIF fraktur kolum humerus dextra di RSUD Bagas Waras Klaten, yang meliputi pemberian infrared superfisial (10–15 menit) dan program latihan terstruktur selama 4 minggu (3 sesi/minggu). Evaluasi pra- dan pasca-intervensi mencakup nyeri (NRS), kekuatan otot (MMT), lingkup gerak sendi (LGS), dan fungsi bahu (SPADI). Setelah 12 sesi, nyeri gerak menurun dari 6/10 menjadi 4/10, nyeri tekan dari 4/10 menjadi 2/10; skor MMT bahu dan lengan meningkat 1 derajat kekuatan; LGS fleksi bahu bertambah 15°, abduksi bertambah 15°, dan rotasi internal–eksternal bertambah rata-rata 15°; skor SPADI menurun dari 85 % (disabilitas tinggi) menjadi 48 % (disabilitas ringan). Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi infrared dan terapi latihan intensitas terkontrol efektif mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, rentang gerak, dan fungsi sehari-hari pada pasien post-ORIF fraktur humerus dextra.
ANALISIS KORELASIONAL: EFIKASI DIRI, SLEEP QUALITY, LAMA PENGERJAAN KTI, DAN KECEMASAN PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Dhiya Rahmatiyah; Yolly Dahlia; Ronanarasafa
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/4kngd469

Abstract

Kecemasan adalah istilah yang sangat akrab dengan menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, dan tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik. Kecemasan dapat muncul sendiri atau bergabung dengan gejala lain dari berbagai gangguan emosi (cemas, marah, takut, sedih bahkan senang sekalipun) kondisi ini dipicu oleh reaksi terhadap lingkungan. Kondisi ini menyebabkan masalah yang serius bagi sebagian orang dengan masalah   kecemasan, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kasus bunuh diri yang    pada awalnya terjadi masalah kecemasan hingga mengalami depresi yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri, kualitas tidur, dan lama pengerjaan dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun KTI di Fakultas Kedokteran Unizar. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 102 responden, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Uji statistik yang digunakan dalam analisis data adalah chi-square. Terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri, kualitas tidur, dan lama pengerjaan dengan kecemasan (p-value = 0,000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri, kualitas tidur, dan lama pemgerjaan berhubungan secara signifikan dengan kecemasan. Kata Kunci: Kecemasan, efikasi diri, kualitas tidur, lama pengerjaan
HUBUNGAN USIA, PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL, DAN RIWAYAT MENYUSUI DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA DI RSUD PROVINSI NTB Inka Satya Wandari; Made Agus Suanjaya; Dian Rahardianti; Suci Nirmala
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/m414g247

Abstract

Kanker payudara merupakan neoplasma yang ditandai oleh pertumbuhan sel yang tidak terkontrol pada jaringan payudara. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), prevalensi penyakit ini mencapai 0,85 %, menempatkannya sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara usia, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan riwayat menyusui dengan kejadian kanker payudara di RSUD Provinsi NTB. Desain studi case control melibatkan 100 wanita pasien yang dipilih melalui simple random sampling. Informasi mengenai usia, lamanya penggunaan kontrasepsi hormonal, serta durasi menyusui dikumpulkan dengan kuesioner terstruktur. Data kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square untuk menguji signifikansi hubungan antara masing-masing variabel risiko dan insidensi kanker payudara. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia ≥ 50 tahun memiliki asosiasi signifikan dengan kanker payudara (p = 0,000). Selain itu, penggunaan kontrasepsi hormonal lebih dari lima tahun juga berkorelasi signifikan (p = 0,004), sementara riwayat menyusui yang singkat atau tidak pernah menyusui meningkatkan risiko (p = 0,0002). Kesimpulannya, ketiga faktor tersebut merupakan determinan penting risiko kanker payudara di wilayah NTB. Rekomendasi meliputi peningkatan edukasi pencegahan untuk kelompok usia rentan, pemantauan lebih ketat bagi pengguna kontrasepsi hormonal, serta promosi menyusui eksklusif.
ANALISIS KEPATUHAN TERAPI, DUKUNGAN KELUARGA, DAN STATUS EKONOMI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA Nurul Anggun Safitri; Yolly Dahlia; Sulatun Hidayati; Halia Wanadiatri
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/gwqcwk26

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan otak yang menimbulkan kelainan pada cara berpikir, persepsi, emosi, gerak, dan perilaku, salah satunya kecenderungan bertindak agresif yang paling sering tampak melalui kemarahan. Peningkatan angka kejadian skizofrenia sebagian disebabkan oleh berbagai hambatan dalam upaya pengobatan penderita. Faktor-faktor yang dapat memicu kekambuhan meliputi ketidakpatuhan terhadap terapi obat, minimnya dukungan keluarga, tekanan ekonomi, serta masalah hidup yang berat sehingga menimbulkan stres. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling di Poliklinik Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB pada periode 16 November hingga 6 Desember 2023, dengan total 80 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa 60 responden (75%) mengalami kekambuhan skizofrenia dalam kategori sedang, 37 responden (46,3%) memiliki tingkat kepatuhan minum obat sedang, 69 responden (86,3%) mendapat dukungan keluarga yang baik, dan 41 responden (51,2%) berstatus ekonomi keluarga di bawah UMP. Terdapat hubungan bermakna antara kepatuhan minum obat dan kekambuhan skizofrenia (p = 0,001; p < 0,005), dukungan keluarga dengan kekambuhan (p = 0,000; p < 0,005), serta status ekonomi keluarga dengan kekambuhan (p = 0,049; p < 0,005). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat, kualitas dukungan keluarga, dan kondisi ekonomi keluarga berhubungan signifikan dengan risiko kekambuhan skizofrenia.
EFEKTIVITAS TERAPI AKUPUNKTUR DAN AKUPRESUR TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERKOLESTEROL DI DUWETAN NGUNUT JUMANTONO Ros Endah Happy Patriyani; Imrok Atus Sholihah; Wahyu Eka Hastuti
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/sv6c6n25

Abstract

Individu dengan kadar kolesterol tinggi memiliki peningkatan risiko hipertensi, dengan rasio relatif sekitar 1,09–1,16. Terapi non-farmakologis seperti akupunktur dan akupresur semakin diminati karena tidak menimbulkan efek samping. Menilai efektivitas terapi akupunktur dan akupresur dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hiperkolesterol. Penelitian ini bersifat kuasi-eksperimental dengan rancangan Pretest–Posttest Two Group. Populasi meliputi seluruh warga terdiagnosis hiperkolesterolemia dan berusia ≥ 30 tahun di Duwetan Ngunut Jumantono, Karanganyar. Total sampling menghasilkan 30 responden, kemudian dibagi ke dalam dua kelompok masing-masing 15 orang: satu kelompok menerima akupunktur, kelompok lainnya akupresur. Variabel dependen adalah tekanan darah (sistolik dan diastolik), sedangkan intervensi (variabel independen) berupa terapi akupunktur dan akupresur. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah tiap intervensi. Data dianalisis secara deskriptif dan diuji secara statistik menggunakan uji t-test. Uji t menunjukkan perbedaan bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok (p = 0,0000 untuk tekanan sistolik; p = 0,0000 untuk tekanan diastolik; p < 0,05), menandakan efektivitas akupunktur maupun akupresur dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hiperkolesterol. Terapi akupunktur dan akupresur terbukti efektif menurunkan tekanan darah pada penderita hiperkolesterol di Duwetan Ngunut Jumantono, Karanganyar. Disarankan agar masyarakat mempertimbangkan kedua metode ini sebagai alternatif non-farmakologis untuk pengelolaan tekanan darah, karena efektivitasnya yang tinggi dan minim efek samping selama terapi.
EFEKTIVITAS TERAPI AKUPUNKTUR DAN AKUPUNKTUR TELINGA TERHADAP FUNGSI KARDIOVASKULER PADA KASUS HIPERTENSI Hanum Sasmita; Jatmiko Rinto W; Eka Deviany Widyawaty
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/szd2ex92

Abstract

Hipertensi merupakan tantangan kesehatan utama di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO), jumlah orang dewasa dengan hipertensi meningkat dari 594 juta pada 1975 menjadi 1,13 miliar pada 2019. Salah satu terapi komplementer untuk menangani hipertensi adalah dengan akupunktur dan akupunktur telinga. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas antara akupunktur dan akupunktur telinga dalam memengaruhi fungsi kardiovaskular pada penderita hipertensi. Penelitian dilaksanakan di Desa Leweung Gajah pada periode Februari hingga April 2025. Desain yang digunakan adalah quasi experimental pretest-posttest two group. Terdapat 30 responden yang dipilih secara purposive sampling, kemudian dibagi menjadi dua kelompok: eksperimen (mendapatkan terapi akupunktur plus akupunktur telinga) dan kontrol (hanya terapi akupunktur). Analisis dengan uji wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 (p = 0,001), menandakan bahwa kombinasi terapi akupunktur dan akupunktur telinga berpengaruh nyata terhadap perubahan tekanan darah. Uji mann-whitney pada penurunan tekanan darah antara kedua kelompok menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) p = 0,032 untuk tekanan sistolik dan p = 0,000 untuk tekanan diastolik. Nilai Mean Rank kelompok eksperimen untuk tekanan sistolik adalah 18,93 dan diastolik 21,90, sedangkan kelompok kontrol (hanya akupunktur) memperoleh Mean Rank sistolik 12,07 dan diastolik 9,10. Hasil ini mengarahkan pada penerimaan Ha dan penolakan H0. Kombinasi terapi akupunktur dan akupunktur telinga terbukti lebih efektif dibandingkan akupunktur saja dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi di Desa Leweung Gajah, Kabupaten Cirebon.