cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Simulasi CFD Sistem Pompa Pemadam Kebakaran di Terminal LPG Semarang Dalam Memenuhi Standard NFPA 14 Maulana Putera Mulya; Sutopo Purwono Fitri
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.103772

Abstract

Terminal LPG Semarang merupakan salah satu tempat distribusi LPG di Jawa Tengah yang bergerak di bidang P3 yaitu Penerimaan, Penimbunan dan Penyaluran LPG. Dalam pengoperasiannya, terminal LPG Semarang sangat berpotensi menimbulkan bahaya yang bisa ditimbulkan, seperti kebakaran. Untuk menanggulanginya, Terminal LPG Semarang terdapat instalasi jalur pemadam kebakaran. Instalasi tersebut menggunakan empat pompa dengan kapasitas masing-masing yaitu 3.000 GPM. Dalam menjalankan hal tersebut, belum adanya perhitungan nilai kapasitas aliran air yang keluar pada setiap nozzle telah sesuai standar atau tidak. Pada National Fire Protetion Association (NFPA) 14 diatur megenai Standard for the Installation of Standpipe and Hose Systems. Regulasi tersebut mengatur nilai minimum kapasitas aliran pada setiap pipa tegak yang terhubung dengan nozzle. Oleh karena itu, untuk mengetahui telah memenuhi standard tersebut perlu menganalisis desain sistem instalasi perpipaan dan kebutuhan setiap nozzle dengan menggunakan simulasi Computational Fluid Dinamic (CFD). Simulasi CFD yang digunakan yaitu Software Pipe Flow Expert dan Ansys. Hasil simulasi menunjukkan bahwa desain telah memenuhi standard NFPA 14 dimana nilai kapasitas aliran terkecil terdapat pada pipa SP1 120 yaitu sebesar 500,87 GPM dengan head setiap pompa yaitu 73,14 m. Karakteristik aliran pada salah satu nozzle yaitu fixed water canon didapatkan kecepatan rata-rata yaitu sebesar 23,04 m/s dan kecepatan maksimum bisa mencapai 32,6 m/s dengan sifat aliran turbulen. Tekanan outlet sebesar 6,9 bar, hal ini telah sesuai dengan kebutuhan pemadam kebakaran untuk mencapai tinggi tangki timbun yaitu sebesar 16,84 meter.
Analisis Kinerja Waktu dan Biaya Proyek Revitalisasi RCC RU VI Balongan dengan Metode Probabilistic Earned Value Muhammad Rofiq Dewaji; Christiono Utomo; Supani Supani
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.108111

Abstract

Proyek Revitalisasi RCC RU VI Balongan direncanakan selesai dalam waktu 363 hari dengan biaya sebesar Rp201.635.083.031. Dalam pelaksanaannya, proyek ini memiliki banyak kendala yang memungkinkan pelaksanaan proyek tersebut mengalami keterlambatan dan kerugian. Oleh karena itu, diperlukan analisis kinerja waktu dan biaya, serta memprediksi waktu dan biaya agar dapat menentukan langkah apa yang dilakukan jika terjadi keterlambatan dan pengeluaran yang berlebih dari suatu proyek. Salah satu cara untuk mengetahui kinerja proyek adalah dengan menggunakan pendekatan Probabilistic. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Probabilistic Earned Value. Metode ini bertujuan untuk mengurangi hambatan atau gangguan pada kegiatan proyek, sehingga prediksi kondisi menjadi lebih akurat. Data yang dibutuhkan antara lain rincian anggaran biaya, time schedule, laporan bulanan, dan biaya aktual. Dari data yang didapatkan tersebut kemudian dilakukan analisis waktu, biaya, varians dan indikator kinerja proyek, serta estimasi biaya untuk menyelesaikan proyek tanpa dan dengan pendekatan probabilistic. Prakiraan biaya penyelesaian sisa pekerjaan atau Estimate to Complete (ETC) dan biaya penyelesaian proyek atau Estimate at Complete (EAC) ditinjau dari tiga kondisi yang berbeda yaitu dalam kondisi optimistic, most likely, dan pessimistic. Hasil perhitungan Time Estimated (TE) diperoleh waktu perkiraan akhir adalah 405 hari, dimana proyek mengalami keterlambatan dari jadwal yang direncanakan yaitu 363 hari. Hasil perhitungan Estimate to Complete (ETC) Probabilistic adalah Rp75.555.411.474, serta hasil perhitungan Estimate at Completion (EAC) Probabilistic adalah Rp197.022.299.560 yang menunjukkan bahwa biaya lebih kecil dari nilai kontrak proyek yaitu Rp201.635.083.030. Hasil perbandingan menunjukkan terdapat beberapa nilai ETC dan EAC Probabilistic yang lebih besar dari ETC dan EAC Deterministic. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlunya memperhitungkan unsur ketidakpastian dalam melakukan pengendalian proyek agar perhitungan prediksi biaya penyelesaian proyek lebih akurat, serta meminimalisir terjadinya gangguan keuangan proyek.
Produksi Tepung Rendah Kalsium Oksalat dari Umbi Porang (Amorphophallus muelleri Blume) dengan Kombinasi Proses Fisik dan Kimia Fikaputri Rohmatul Maula; Fahmi Muhammad Izzuddin; Niniek Fajar Puspita; Lailatul Qadariyah
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.108422

Abstract

Saat ini tepung porang (Amorphophallus muelleri Blume) telah menjadi primadona pasar global, karena sumber potensial glukomanan yang diaplikasikan di industri pangan, farmasi dan Kesehatan. Namun kualitas tepung sangat dipengaruhi oleh beragam umbi, penanganan pasca panen dan cara memproses. Disamping itu, umbi porang tidak dapat dikonsumsi secara langsung karena kandungan oksalat. Sehingga untuk mencapai standar kualitasnya, produk tepung lokal tersebut harus diturunkan kadar kalsium oksalat dan ditingkatkan kadar glukomanan. Maka tujuan penelitian ini yaitu memproduksi tepung porang rendah kalsium oksalat dari umbi yang tidak segar, dengan menggunakan kombinasi proses fisik dan kimia. Untuk mendapatkan kualitas tersebut, dilakukan variasi ketebalan irisan, yaitu 2, 4, 6, dan 8 mm, metode perendaman, yaitu Without Soaking (WS) dengan tanpa perendaman, Chemical Soaking (CS) dengan larutan natrium bisulfit 1500 ppm dan Physical Soaking (PS) dengan air, serta metode pengeringan, yaitu Oven Drying (OD) dan Sun Drying (SD). Produk tepung porang terbaik yang dihasilkan yaitu pada ketebalan irisan 2 mm, kombinasi perendaman dan pengeringan dengan larutan natrium bisulfit dan oven atau disebut Chemical Soaking - Oven Drying (CSOD). Pada kombinasi tersebut, peningkatan kadar glukomanan yaitu dari 31,78% menjadi 60%, dan kadar kalsium oksalat dapat diturunkan sebesar 43,38%, dari 155,3 mg/100g menjadi 68,6 mg/100g. Kadar tersebut diuji dengan SNI 7939:2020. Sedangkan kadar air dan kadar abu pada produk tersebut yaitu masing-masing sebesar 6,95% dan 9,4%, yang diuji dengan SNI 01-2891-1992.
Analisis Crack pada Transverse Corrugated Bulkhead Kapal Tanker Menggunakan Metode Elemen Hingga Matthew Majesta Gunawan; Achmad Zubaydi; Septia Hardy Sujiatanti; Rizky Chandra Ariesta
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.92245

Abstract

Salah satu bagian dari konstruksi kapal adalah sekat. Sekat digunakan untuk membatasi/ melokalisir bahaya kebakaran atau kebocoran, membagi bagian-bagian kapal, dan memperkuat konstruksi kapal. Kelelahan dapat dialami oleh bagian sekat yang terkena beban. Dilakukan analisis perhitungan tegangan buckling pada sekat bergelombang yang diakibatkan oleh adanya retak permulaan. Tujuan dilakukan penelitian adalah mengetahui tegangan kritis setiap variasi panjang retak mula-mula. Data kapal penelitian ini didapatkan penelitian sebelumnya. Variasi panjang retak yang digunakan yaitu panjang 50 mm, 75 mm, 100 mm, 150 mm, 175 mm, dan 200 mm. setelah dilakukan simulasi pada setiap variasi, dilakukan analisis dan perhitungan untuk mendapatkan tegangan kritis setiap variasi. Tegangan kritis terbesar terjadi pada variasi model sekat bergelombang dengan panjang retak 50 mm yaitu sebesar 207.6 MPa. Sementara tegangan kritis terkecil terjadi pada variasi model panjang retak 200 mm yaitu sebesar 207.39 MPa.
Desain Mobile Offshore Base untuk Keperluan Militer di Perairan Maluku Utara I Made Ramaadi Wikandhika Bukian; Hasanudin Hasanudin
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.102157

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki perkiraan luat total perairan 3.25 juta km2 dengan potensial maritim yang tinggi. Karena potensial maritim yang tinggi serta luas perairan Indonesia yang besar membuat tidak hanya WNI, bahkan WNA pun tertarik untuk memperoleh kekayaan laut yang ada di perairan Indonesia khususnya ikan. Maka dari itu, tujuan dari pembuatan MOB ini adalah untuk mencegah pelanggaran hukum terkhususnya di daerah Maluku Utara dekat perbatasan ZEE, di mana MOB akan dibantu dengan 2 Kapal patroli. Penentuan misi MOB serta kebutuhan perbekalan untuk Kapal patroli, di mana penentuan misi MOB berdasarkan dari misi Lantamal VIII yaitu untuk mendukung logistik Kapal Patroli TNI AL. Dari misi operasional yang telah ditentukan, maka diperoleh kebutuhan Kapal patroli tersebut sehingga mendapatkan total payload sebesar 861.61 ton. Kemudian pembuatan lambung dari MOB berdasarkan dari bangunan lepas pantai yang mengapung atau floating offshore structure, di mana bangunan ini sesuai untuk MOB yang tugasnya diam di tempat pada kedalaman yang laut yang tinggi. Setelah menentukan payload, didapatkan ukuran MOB dengan perhitungan geosim yaitu L : 68 m, B : 30 m, H : 15m, T : 8m, dengan tipe lambung semi-submersible, displacement sebesar 2984 ton, dan jumlah kru 46 orang. Desain MOB meliputi rencana umum, rencana keselamatan dan rencana garis. Sistem tambat yang digunakan pada MOB ini adalah multi point mooring system dengan perhitungan catenary mooring. Setelah dilakukan desain, perhitungan dan analisis teknis, didapatkan perhitungan biaya pembangunan biaya MOB sebesar Rp.34,720,116,756.03.
Desain 3-in-1 Workboat (Derdger-Fire Fighter-Crane Boat) Wilayah Operasional Pelabuhan Pulau Baai, Provinsi Bengkulu Ahmad Dioba Dwika Rizki; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.102866

Abstract

Pelabuhan Pulau Baai ialah salah satu pelabuhan yang ada di Indonesia, terletak di Provinsi Bengkulu dengan luas 120.000 ha. Alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai berpotensi mengalami pendangkalan setiap tahunnya dikarenakan pelabuhan ini menghadap langsung pada Samudra Hindia dan dipengaruhi oleh angin muson barat dan angin muson timur yang membawa sedimen berupa pasir. Selain itu, sebagai pelabuhan pengumpan yang menjadi bagian wilayah vital di Provinsi Bengkulu berbagai tindakan antisipasi terhadap kecelakaan menjadi hal yang penting, seperti apabila terjadi kebakaran kapal maupun terjadinya tumpahan minyak. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis teknis desain kapal yang cocok untuk Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu. Oleh sebab itu akan didesain workboat yang dilengkapi dengan alat keruk dengan jenis cutter suction dredger, fire fighter external system, dan crane boat yang nantinya akan mengangkut oil boom ke atas kapal. Payload pada kapal ini ialah peralatan sistem keruk cutter suction dredger dengan kemampuan keruk 1088 m3/jam, peralatan fire fighter dengan notasi FIFI 1, crane SWL 3.6 ton dan oil boom seberat 1.4 ton dengan panjang 450 m. Hasil perhitungan analisis teknis dari 3-in-1 workboat menghasilkan ukuran utama panjang (LoA) = 17.3 m; lebar (B) = 6.4 m; tinggi (H) = 1.8 m; sarat (T) = 0.9 m dan kecepatan (Vs) = 8 knot. Setelah itu dilakukan desain Gambar Rencana Garis, Gambar Rencana Umum, dan Model 3D dengan biaya pembangunan kapal sebesar Rp. 3.054.761.397, dan biaya operasional Rp. 433.183.439/tahun.
Desain Struktur Dinding Palka Kapal Ikan Dengan Lapisan Insulasi Berbahan Sabut Kelapa Vikha Agustiarini; Sutopo Purwono Fitri; Alam Baheramsyah
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.104197

Abstract

Penelitian ini berfokus pada penggunaan campuran bahan alami sebagai insulasi pada dinding palka ikan. Tujuan penelitian ini adalah mendesain komposisi dinding palka ikan dengan lapisan insulasi berbahan campuran polyurethane dan sabut kelapa dan menganalisa distribusi suhu pada dinding palka serta menganalisa suhu pendinginan di dalam ruang palka ikan. Metode yang digunakan adalah metode numerik berupa simulasi FEM (Finite Element Method) untuk melihat distribusi suhu pada dinding dan simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics) untuk melihat distribusi fluida dan ikan di ruang palka. Simulasi FEM dilakukan sebanyak 4 variasi yaitu polyurethane 100%, polyurethane 90% dan sabut kelapa 10%, polyurethane 80% dan sabut kelapa 20%, dan polyurethane 70% dan sabut kelapa 30%. Simulasi CFD dilakukan sebanyak 3 variasi yaitu ruang palka kosong, ruang palka berisi chilled water, dan ruang palka berisi chilled water dan ikan. Metode analisis data dilakukan dengan membandingkan data antara hasil simulasi dengan hasil perhitungan. Hasil simulasi FEM menunjukkan bahwa dinding palka dengan insulasi dari campuran polyurethane 90% dan sabut kelapa 10% dipilih sebagai desain dinding terbaik dengan suhu minimum yang didapatkan paling rendah yaitu bernilai -8,5265e-14°C. Hasil simulasi CDF menunjukkan terjadinya kenaikan suhu pada chilled water yang bermula bernilai 1,259°C kemudian menjadi 3,5°C ketika ditambahkan ikan dan suhu ikan menjadi 2,2°C. Perbandingan antara hasil simulasi dengan hasil perhitungan memiliki perbedaan. Data hasil simulasi memiliki nilai yang lebih rendah dari hasil perhitungan sehingga dapat dikatakan bahwa metode simulasi terbilang lebih akurat jika dibandingkan dengan metode perhitungan manual.
Analisis Risiko Keruntuhan Jacket Wellhead Tripod Platform Pasca Subsidence Anggi Aulia; Handayanu Handayanu; Daniel Mohammad Rosyid; Daniel Mohammad Rosyid
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.110422

Abstract

Selain terjadi di kota-kota besar, subsidence juga bisa terjadi di sekitar daerah eksploitasi minyak dan gas bumi baik onshore maupun offshore. Indikasi penurunan tanah dapat dilihat dari terjadinya penurunan anjungan lower deck yang semakin tenggelam secara fisik. Terjadinya subsidence dapat menyebabkan kegagalan struktur. Apabila terjadi kegagalan, struktur dapat mengalami berbagai kemungkinan konsekuensi yang bisa menimbulkan bahaya hingga kerugian. Mengingat konsekuensi dan kerugian yang mungkin terjadi, maka perlu dilakukan analisis risiko pada struktur dengan variasi kedalaman subsidence hingga struktur mengalami keruntuhan. Analisis keruntuhan dilakukan dengan meningkatkan beban lingkungan kondisi badai secara bertahap hingga struktur mengalami keruntuhan karena terbentuknya member plastis. Member plastis akan digunakan dalam analisis keandalan, dimana peluang kegagalan member dihitung dengan simulasi Monte Carlo dengan menggunakan Random Number Generator (RNG). Kemudian, keandalan sistem dihitung menggunakan Reliability Block Diagram (RBD) yang selanjutnya digunakan dalam analisis risiko. Kedalaman maksimum subsidence yang diizinkan agar struktur masih layak beroperasi sesuai API RP 2A WSD 21st edition adalah sebesar 5.2 meter dengan Reserve Strength Ratio (RSR) terkecil yakni 1.85. Analisis keandalan dilakukan untuk kondisi non subsidence hinga kondisi subsidence 5.2 meter dengan keandalan sistem terkecil sebesar 0.436 dan Probability of Failure (PoF) sebesar 0.564. Berdasarkan matriks risiko, diperoleh hasil bahwa struktur untuk kondisi non-subsidence dan subsidence konsekuensi safety berada di area kuning yang berarti medium risk merupakan daerah as low as reasonably practicable (ALARP), sedangkan untuk konsekuensi environment dan business berada di area merah yang berarti high risk.
Analisis Kekuatan Struktur Jacket dan Konfigurasi Rigging Saat Proses Roll-up pada Fase Fabrikasi Rico Firdani Yuzri; Rudi Walujo Prastianto; Nur Syahroni
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.110435

Abstract

Proses roll-up bagian jacket adalah salah satu tahap penting dalam proses fabrikasi struktur lepas pantai tipe jacket. Diperlukan perencanaan yang matang agar tidak terjadi kegagalan selama proses tersebut. Makalah ini membahas analisis roll-up pada struktur jacket dengan variasi roll-up angle 0°, 30°, 60°, 77°, 90°, dan 93,6°. Pemodelan dan analisisnya menggunakan bantuan software SACS untuk mengetahui kekuatan dan joint strength dari struktur jacket serta reaksi-reaksi tumpuan akibat proses roll-up. Selain itu juga dilakukan perhitungan terkait konfigurasi rigging mencakup sling, shackle, hingga crane yang digunakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur jacket masih memenuhi kriteria desain dan tidak mengalami kegagalan dengan unity check maksimum analisis elastisnya 0,634 dan unity check maksimum untuk joint strength 0,965. Untuk analisis reaksi tumpuan akibat proses roll-up didapatkan reaksi maksimum 5.194,32 kN pada kasus roll-up angle 93.6°. Pada analisis rigging didapatkan konfigurasi 29 sling, 14 shackel, dan 4 crane untuk mendukung proses roll-up ini. Diperoleh efisiensi maksimum untuk tiap peralatan yang digunakan yaitu sebesar 95,42% untuk sling; 64,13% untuk shackel dan 99,18% untuk crane.
Risk Assessment pada Jaringan Pipa Bawah Laut di PT. XYZ (Studi Kasus: 32” MGL-NGLB CILAMAYA) Jack Otniel Sinay; Daniel Mohammad Rosyid; Muhammad Zikra
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.110478

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi risiko penyebab kebocoran pada offshore pipeline 32” MGL-NGLB Cilamaya milik PT. XYZ pada segmen pipa yang terletak di dasar laut NGLB-Cilamaya-03. Berdasarkan data lapangan, daerah ini merupakan daerah yang tinggi akan risiko kebocoran. Adapun penelitian ini menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Berdasarkan analisis menggunakan fish bone didapatkan 29 risiko penyebab kebocoran Pipa Bawah Laut 32” MGL-NGLB Cilamaya milik PT. XYZ. Hasil dari fault tree analysist didapatkan bahwa probability untuk main event kebocoran pipa bawah laut karena factor external forces sebesar 0,176, dan untuk kebocoran pipa bawah laut karena faktor rupture sebesar 0,078. Probability of top event yaitu kebocoran pipa bawah laut sebesar 0,254. Dari hasil pemetaan risk ranking setiap risiko ke dalam matriks risiko, didapatkan 3 risiko yang masuk ke dalam kategori high risk, yaitu dragged anchor dengan risk ranking 16, Kegagalan external corrosion dengan risk ranking 16, dan peralatan maintenance yang buruk dengan risk ranking 16. Berdasarkan analisis risk reducing potensi bahaya dominan yang telah dilakukan. Peneliti menemukan bahwa mitigasi yang dilakukan dapat mengurangi tingkat risiko tinggi yang terjadi, dimana tingkat risiko dari ketiga risiko domininan turun menjadi 4 (low risk).