cover
Contact Name
Fadlan Barakah
Contact Email
fadlanbarakah@usk.ac.id
Phone
+6281329411577
Journal Mail Official
sosiologi.fisip@usk.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Jln. Tgk Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : https://doi.org/10.24815/jsu
JURNAL SOSIOLOGI USK: Media Pemikiran & Aplikasi is an open access, and peer-reviewed journal. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and sociological issues. JSU is published two times a year. This journal has been accredited sinta 3
Articles 159 Documents
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dalam Pengelolaan Pertambangan Emas Rakyat Aminah, Aminah; Nurlisa, Nurlisa; Ubaidulllah, Ubaidulllah; Hasan, Effendi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.26450

Abstract

The people's gold mine in Gunong Ujeun, Aceh Jaya Regency, is one of the community-designated people's mining zones. However, exploiting these people's mines has generated several confrontations in the local community, and many illegal miners have come. This study aims to investigate the implementation of government policies in managing people's gold mining as well as the obstacles encountered. This study used a qualitative approach and a descriptive model. The informants are miners, locals, village authorities, and the Aceh Jaya District administration. This study showed that the Aceh Jaya government's policies on the management of community mining had not been adequately implemented due to a lack of socialization and that some individuals did not comply with the policies or were unaware of them. Then overlaps in policy between regional and national legislation prevented the Aceh Jaya regional administration from freely regulating the management of mines.AbstrakTambang emas rakyat di Gunong Ujeun Kabupaten Aceh Jaya merupakan salah satu wilayah pertambangan rakyat yang telah diperuntukkan untuk dieksploitasi oleh masyarakat. Dalam pengeksploitasi tambang rakyat tersebut telah menimbulkan berbagai konflik di masyarakat lokal dan banyaknya penambang-penambang liar yang berdatangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang implementasi kebijakan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan emas rakyat serta kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model deskriptif. Informan dalam penelitian ini yaitu para penambang, penduduk, perangkat desa, dan pemerintah Kabupaten Aceh Jaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pemerintah Aceh Jaya dalam pengelolaan pertambangan rakyat belum berjalan secara maksimal. Penyebabnya adalah kurangnya sosialisasi yang dilakukan sehingga terdapat masyarakat yang tidak mematuhi hingga tidak mengetahui adanya peraturan tersebut. Kemudian, adanya kontradiksi antara peraturan daerah dan peraturan nasional membuat pemerintah daerah tidak bisa secara leluasa mengatur pengelolaan tambang di Aceh Jaya.
Pilihan Rasional Tukang Becak di Kawasan Malioboro pada Masa Pandemi Covid-19 Prayogo, Bayu; Lesmana, Aditya Candra
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.27273

Abstract

The COVID-19 pandemic has had a substantial impact on the economic activities and livelihoods of pedicab drivers in the Malioboro area. This paper seeks to investigate the logical decisions made by pedicab drivers who continue to operate in the Malioboro area despite the COVID-19 pandemic. The research was conducted using the qualitative method with a descriptive approach. There were a total of 10 pedicab drivers in Malioboro who were informants of this study. This study demonstrates that there is an element of rational choice among pedicab drivers in the Malioboro area who choose to live and continue operating despite pandemic conditions that pose a threat to their health. This rational choice stems not just from the reality that the Pedicab is the only resource they have but also from the values among pedicab drivers' and their community's feeling of solidarity. Because being a pedicab driver is the only skill and resource they have at the moment, they decided to keep working even when there was a threat pandemic.AbstrakPandemi Covid-19 telah memberikan dampak signifikan pada aktivitas dan perekonomian tukang becak di kawasan Malioboro. Artikel ini bertujuan mengkaji tentang pilihan rasional tukang becak yang tetap memilih untuk beraktivitas di kawasan Malioboro meskipun dalam kondisi Pandemi Covid-19. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan penelitian ini adalah para tukang becak yang ada di kawasan Malioboro dengan jumlah sepuluh orang tukang becak. Kajian ini menunjukkan bahwa terdapat aspek pilihan rasional pada diri tukang becak di kawasan Malioboro yang tetap memilih untuk bertahan dan beroperasi meski dalam kondisi pandemi yang berbahaya bagi kesehatan mereka. Pilihan rasional tersebut selain bersumber dari realitas bahwa becak adalah satu-satunya sumber daya yang mereka miliki, juga bersumber dari nilai-nilai yang diyakini para tukang becak serta rasa kebersamaan yang terdapat dalam komunitas paguyuban mereka. Tetap beroperasi meski dalam kondisi pandemi dipilih dengan tujuan mempertahankan hidup karena menjadi tukang becak merupakan satu-satunya kemampuan dan sumber daya sementara ini mereka miliki.
Jejaring Komunikasi Collaborative Governance: Arah Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial Anak di Aceh Mahmuddin, Mahmuddin; Mansari, Mansari
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.25906

Abstract

This article aims to examine the communication model developed in three regions in Aceh in the context of children's social protection and welfare, namely Banda Aceh City, Lhokseumawe City, and West Aceh District. This study uses a qualitative approach with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation review. This study confirms that the existing cases of violence against children show that the handling and protection of children can no longer be carried out using a pragmatic paradigm model or by each institution partially, but must be carried out in an organized, integrated, and sustainable manner. Interactional communication models can help cross-sectoral institutional networks become role models in efforts to reduce the number of violent acts against children. The way forward is striving for collaborative governance in the form of integrated services that emphasize integrity, communicativeness, and continuity, which can provide justice for children both as victims and perpetrators. Strengthening institutional communication networks based on the functions of informing, regulating, persuading, and integrating is an important part of getting different agencies to work together on violence and the social welfare of children in a comprehensive way.AbstrakArtikel ini bertujuan mengkaji model komunikasi yang dikembangkan di tiga wilayah di Aceh dalam konteks perlindungan dan kesejahteraan sosial anak, yaitu Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, dan Kabupaten Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumentasi. Kajian ini menegaskan bahwa kasus-kasus kekerasan terhadap anak menunjukkan bahwa penanganan dan perlindungan anak tidak lagi dapat dilakukan dengan menggunakan model paradigma pragmatis atau oleh masing-masing lembaga secara parsial tetapi harus dilakukan secara terorganisir, terpadu, dan berkelanjutan. Model komunikasi interaksional dapat membantu jaringan kelembagaan lintas sektor untuk menjadi role model dalam upaya menekan angka kekerasan terhadap anak. Caranya adalah dengan mengupayakan tata kelola kolaboratif dalam bentuk pelayanan terpadu yang mengedepankan integritas, komunikatif, dan kontinuitas agar dapat memberikan keadilan bagi korban maupun pelaku. Memperkuat jaringan komunikasi kelembagaan berdasarkan informatif, regulatif, persuasif maupun fungsi integratif adalah bagian penting untuk membuat lembaga yang berbeda bekerja sama menangani kekerasan dan kesejahteraan sosial anak secara komprehensif.
Dari Kejawen, Muhammadiyah, ke Dayah: Transformasi Ritual Agama dalam Masyarakat Jawa Pendatang di Aceh Shadiqin, Sehat Ihsan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.29037

Abstract

This article aims to describe the transformation of religious rituals and understanding among the Javanese Muslim community that migrated to the Gayo Highlands, Aceh Province, in the early twentieth century. This article is based on an ethnographic study by the author in the Gayo highlands of District Bener Meriah, Aceh Province. The author employs three primary data collection methods: observation, in-depth interviews, and documentation. The author also conducted a literature study pertinent to this paper to round out the data analysis. This study showed that religious belief and practice had been transformed among the Javanese migrants in Aceh over nearly a half-century. This transformation occurred from understanding the religion, which tends to be Kejawen, to Muhammadiyah's understanding. Then, after three decades, there was a fresh shift in understanding from Muhammadiyah to Dayah, which has continued until now. The Javanese migrants in Aceh are not resistant to changes in religious thought in their culture. Because not many Javanese migrants in Aceh studied religion specifically, anyone who comes will be easily accepted and welcomed. This makes religious transformation in Javanese migrant society in Aceh possible without significant conflict.AbstrakArtikel ini bertujuan menjelaskan transformasi pemahaman dan praktik beragama masyarakat muslim Jawa yang bermigrasi ke dataran tinggi Gayo provinsi Aceh pada awal abad ke 20. Artikel ini didasarkan pada penelitian etnografi yang penulis lakukan di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh dengan. Penulis menggunakan tiga teknik pengumpulan data utama yakni observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Untuk melengkapi analisis dan informasi, penulis juga melakukan kajian literatur yang relevan dengan artikel ini. Kajian ini menunjukkan bahwa transformasi pemikiran dan praktik beragama dalam masyarakat Jawa pendatang di Aceh telah terjadi sepanjang hampir setengah abad terakhir. Perubahan ini terjadi dari pemahaman agama yang cenderung kejawen kepada pemahaman Muhammadiyah. Kemudian, setelah tiga dekade terjadi perubahan baru dari pemahaman Muhammadiyah kepada pemahaman Dayah yang masih bertahan hingga saat ini. Masyarakat Jawa di Aceh cenderung tidak resisten pada perubahan pemikiran keagamaan yang ada di dalam masyarakat mereka. Hal ini disebabkan tidak banyak orang Jawa pendatang yang belajar agama secara khusus sehingga siapa saja yang datang ke sana untuk membawa agama akan diterima dan dipermudah. Hal inilah yang menjadikan transformasi keagamaan di dalam masyarakat Jawa pendatang dapat terjadi tanpa konflik yang berarti.
Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat melalui BUMK di Kampung Gosong Telaga Selatan, Aceh Singkil Tjoetra, Afrizal; Samwil, Samwil; Sani, Adam; Aduwina, Aduwina; Asra, Saiful
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.28941

Abstract

Coastal communities are frequently associated with various limitations, making them synonymous with poverty despite having significant social capital to effect change through their potential. As a coastal community, the GosongTelaga Selatan community has tried to develop its potential by developing mangrove tourism through BUMK (village-owned enterprises). This article aims to describe the community's efforts and the factors that influence the community's economy through BUMK Bina Lestari. This study used a qualitative method with a descriptive approach, with data obtained through observation and interviews. This study showed that the community and government's efforts to boost the community's economy through BUMK had no significant impact. The reason is that the choice of BUMK policies, which focus on establishing ecotourism, has not been well planned. The supporting factors for the choice of BUMK policies in developing ecotourism are the availability of abundant mangrove forests, panoramic beauty, and an open community culture accepting various people visiting tourist sites. At the same time, the factors inhibiting the success of these efforts are the lack of facilities and infrastructure, the lack of local production, and the lack of publications and promotions.AbstrakMasyarakat di kawasan pesisir sering dilekatkan dengan berbagai keterbatasan sehingga identik dengan kemiskinan. Padahal masyarakat memiliki modal sosial yang besar untuk menciptakan perubahan melalui potensi yang mereka miliki. Masyarakat Gosong Telaga Selatan sebagai masyarakat pesisir telah mencoba mengembangkan potensi yang dimiliki dengan mengembangkan pariwisata Mangrove melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). Artikel bertujuan untuk mendeskripsikan tentang usaha dan faktor yang memengaruhi upaya yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Kampung Gosong Telaga Selatan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat melalui BUMK Bina Lestari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Kajian ini menunjukkan bahwa upaya yang telah dilakukan untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui BUMK belum memberikan dampak yang signifikan. Penyebabnya adalah pilihan kebijakan BUMK yang berfokus pada pembentukan ekowisata belum terprogram dengan baik. Adapun faktor pendukung pilihan kebijakan BUMK dalam mengembangkan ekowisata adalah ketersediaan hutan Mangrove yang melimpah, keindahan panorama dan budaya masyarakat yang terbuka dalam menerima berbagai masyarakat yang berkunjung ke lokasi wisata. Sedangkan faktor penghambat keberhasilan upaya tersebut adalah minimnya sarana dan prasarana, minimnya hasil produksi lokal, serta minimnya publikasi dan promosi.
Urgensi Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Aceh Utara Ferizaldi, Ferizaldi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.28904

Abstract

The poverty rate in North Aceh District is still quite high, it was inversely proportional to the glory of the gas and oil industries in the past, so it once earned the nickname "petrodollar area." The government has been trying to overcome the spike in the poverty rate, but poverty is still increasing. This article aims to describe local wisdom as an aspect that can be used as part of a poverty alleviation strategy in North Aceh. This study uses a qualitative method. Data sources were obtained from interviews, observation, and documentation, then analyzed interactively. This study showed that the poverty alleviation efforts carried out by the North Aceh government are still partial and centralized. The cultural aspect, such as the community's local wisdom in accordance with Islamic values, is still not given enough attention. The realization of activities carried out so far are still focused on national programs from the central government, and efforts to collaborate and connect with local cultural aspects have not been made. Whereas local wisdom can be a part of a poverty alleviation mechanism because it has become a social norm and a valued asset in Acehnese society.AbstrakAngka kemiskinan di Kabupaten Aceh Utara masih cukup tinggi, berbanding terbalik dengan kejayaan industri migas di masa lalu, sehingga sempat mendapat julukan daerah petrodolar. Pemerintah telah berusaha mengatasi lonjakan angka kemiskinan, namun angka kemiskinan tetap saja meningkat. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal sebagai salah satu aspek yang dapat dijadikan sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan di Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif. Kajian ini menunjukkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah Aceh Utara masih bersifat parsial dan terpusat. Aspek budaya seperti kearifan lokal masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam masih kurang diperhatikan. Realisasi kegiatan yang dilakukan selama ini masih terfokus pada program nasional dari pemerintah pusat, dan belum dilakukan upaya untuk berkolaborasi dan terkoneksi dengan aspek budaya lokal. Padahal kearifan lokal dapat menjadi bagian dari mekanisme pengentasan kemiskinan karena telah menjadi norma sosial dan aset berharga dalam masyarakat Aceh.
Fenomena Peralihan Bank Konvensional ke Bank Syariah di Aceh Muklir, Muklir; Syamsudin, Syamsudin; Gusti, Muhammad; Aziz, Abdul
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.25865

Abstract

Islamic financial institutions aim to improve the economic empowerment of the people of Aceh based on the principles of Islamic economics (sharia). This article aims to describe the phenomenon of switching from conventional banks to Islamic Sharia banks as a form of implementation of Aceh Qanun Number 11 of 2018 concerning Islamic Financial Institutions. This study uses a qualitative approach. Data collection techniques using observation and interviews The data obtained were analyzed using qualitative descriptive techniques. The results showed that the transition of conventional banks to Islamic banks as a form of Qanun LKS implementation has still not been effective and efficient, so customers and business actors still do not significantly feel the impact. The transition of conventional banks to Islamic banks as a form of implementation of Qanun LKS also shows unpreparedness in terms of systems, programs, and services. This had an impact on the service provided to bank customersAbstrakLembaga Keuangan Syariah bertujuan meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh berdasarkan prinsip ekonomi Islam. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang fenomena peralihan Bank Konvensional ke Bank Syariah sebagai bentuk implementasi Qanun Aceh Nomor 11 tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peralihan Bank konvensional ke bank syariah sebagai bentuk implementasi Qanun LKS belum berjalan efektif dan efisien sehingga dampaknya pun masih belum dapat dirasakan secara signifikan, baik oleh nasabah maupun pelaku usaha. Peralihan Bank Konvensional ke Bank Syariah sebagai bentuk implementasi Qanun LKS juga masih menunjukkan ketidaksiapan dalam hal sistem, program, serta pelayanan. Hal ini mengakibatkan rendahnya pelayanan kepada nasabah.
Faktor Tindakan Asusila pada Narapidana Remaja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Payakumbuh Magfirah, Sarah; Yatim, Yenita; Yuhelna, Yuhelna
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.24712

Abstract

This study aims to describe the factors that cause adolescent prisoners of immoral cases in the Class II B Penitentiary Payakumbuh to act immorally. The research method used is descriptive qualitative analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and analyzed with an interactive model. The study indicates that the factors that cause immoral acts in adolescent prisoners in the Class II B Payakumbuh Correctional Institution include: 1) Lack of Community Control; 2) Lack of Synergy between the Community and the Police; 3) Parental Control; 4) Difficulty controlling desire or lust; 5) Bad Experiences in the Past; 6) Free association; 7) Alcohol and 8) pornographic videos. These factors are interrelated and encourage adolescents to commit immoral acts.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang faktor-faktor yang menyebabkan Narapidana Remaja Kasus Asusila di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Payakumbuh melakukan tindakan Asusila. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindakan asusila pada narapidana remaja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Payakumbuh di antaranya: 1) Kurangnya Kontrol Masyarakat; 2) Kurangnya Sinergitas antara Masyarakat dan Kepolisian; 3) Kontrol orang tua; 4) Kesulitan Mengendalikan Keinginan atau nafsu; 5) Pengalaman Buruk di Masa Lalu; 6) Pergaulan Bebas; 7) Alkohol, dan 8) video porno. Faktor-faktor tersebut saling berhubungan dan kemudian mendorong remaja untuk melakukan tindakan asusila.
Upaya ILO dalam mengatasi Permasalahan Kerja Paksa ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing Oktariani, Puput; Suhermanto, Dedik Fitra
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25803

Abstract

This study aims to explore the efforts of the ILO in overcoming cases of forced labour that occurred to Indonesian crew members on foreign fishing vessels. The research method used is descriptive qualitative with literature study. This study shows that the ILO's efforts are to make and adopt ILO Convention No. 188 of 2007 concerning Manpower in Fishing and recommends that Indonesia ratify the convention. The ILO also facilitates several meetings and projects, such as the ILO Marine Fisheries Project, the Bali Forum, and the Southeast Asia Forum to End Human and Forced Labor in Fisheries. The ILO also facilitated several meetings and established projects such as the ILO's Sea Fisheries Project, the Bali Forum, and the Southeast Asia Forum to End Human Trafficking and Forced Labor in Fisheries.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi upaya ILO dalam mengatasi kasus kerja paksa yang terjadi pada ABK WNI di kapal penangkap ikan asing. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan studi pustaka. Studi ini menunjukkan bahwa upaya ILO adalah dengan membuat dan mengadopsi Konvensi ILO No. 188 Tahun 2007 tentang Ketenagakerjaan dalam Penangkapan Ikan dan merekomendasikan agar Indonesia meratifikasi konvensi tersebut. ILO juga memfasilitasi beberapa pertemuan dan mendirikan proyek seperti Proyek Perikanan Laut ILO, Forum Bali, dan Forum Asia Tenggara untuk Mengakhiri Perdagangan Manusia dan Kerja Paksa di Perikanan. ILO juga memfasilitasi beberapa pertemuan dan membentuk project seperti ILOs Sea Fisheries Project, Bali Forum, dan the Southeast Asia Forum to End Human Trafficking and Forced Labour in Fisheries.
Keistimewaan Aceh dan Pembangunan Perdamaian dalam Tinjauan Sosio Historis Zainal, Suadi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25706

Abstract

historical perspective and its relation to peacebuilding. This study used a qualitative method with a literature study model. The data in this study were sourced from various documents and literature that were relevant to the study. The results showed that the autonomy and privileges of Aceh were the fruit of the resistance carried out by the Acehnese people against the Indonesian government. Hence, these privileges changed from time to time according to the level of resistance and political negotiations that took place. However, the autonomy and privileges that had been achieved and formalized in Aceh's socio-political context were unable to have a maximum positive impact on the peacebuilding that leads the Aceh people gaining sustainable wellbeing.AbstrakKajian ini bertujuan mendeskripsikan tentang otonomi dan keistimewaan Aceh dalam perspektif sosio historis dan kaitannya dengan pembangunan perdamaian. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan model studi kepustakaan. Data dalam kajian ini bersumber dari berbagai dokumen maupun literatur yang relevan dengan kajian yang dilakukan. Kajian ini menunjukkan bahwa otonomi dan keistimewaan Aceh merupakan buah dari perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Aceh terhadap Pemerintah Indonesia, sehingga keistimewaan tersebut mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan tingkat perlawanan dan negosiasi politik yang terjadi. Namun, otonomi dan keistimewaan yang berhasil diraih dan diformalisasikan dalam kehidupan sosial politik Aceh belum mampu memberikan dampak positif secara maksimal bagi pembangunan perdamaian yang mensejahteraan Masyarakat Aceh secara berkelanjutan

Page 7 of 16 | Total Record : 159