cover
Contact Name
Moh Riswandha Imawan
Contact Email
jurnalmu@um-surabaya.ac.id
Phone
+6285733333704
Journal Mail Official
jurnalmu@um-surabaya.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Sutorejo No.59, Dukuh Sutorejo, Kec. Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur 60113
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Medis Umum
ISSN : -     EISSN : 30325692     DOI : https://doi.org/10.30651/jmu.v2i3
Core Subject : Health,
JurnalMU (Jurnal Medis Umum) merupakan sebuah jurnal kedokteran umum Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya yang berisi artikel ilmiah sebagai bentuk mewujudkan tridharma Perguruan Tinggi. Jurnal ini terbit setiap 4 bulan sekali pada bulan Januari, Mei, dan September yang terdiri atas tiga artikel berupa : Hasil penelitian, Laporan kasus, dan Telaah pustaka. Ruang lingkup jurnal ini mencakup seluruh bidang kedokteran dan kesehatan, termasuk namun tidak terbatas pada: Kedokteran dalam (termasuk kedokteran paru dan kedokteran kardiovaskular) Bedah (termasuk urologi, ortopedi dan traumatologi, bedah plastik, bedah saraf) Anestesi dan Kedokteran Darurat Neurologi Dermatologi Obstetri dan Ginekologi Forensik dan Medis-Hukum Patologi Klinik Patologi Anatomi Psikiatri Oftalmologi Otolaringologi Pediatri Radiologi Mikrobiologi dan Parasitologi Ilmu Dasar Kedokteran (termasuk biokimia, fisiologi, anatomi, dan histologi) Kesehatan Masyarakat dan Manajemen Kesehatan
Articles 63 Documents
HUBUNGAN KADAR HBA1C PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN JENIS KATARAK DI RSUD DR. WAHIDIN SUDIRO HUSODO KOTA MOJOKERTO Khusniyah , Siti Haniatul Dita; Lutfiana, Nurul Cholifah; Dhani , Rini Kusumawar; Ariana , Audy Meutia
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 1 (2025): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i1.25642

Abstract

Prevalensi pada penduduk indonesia yang menyandang DM sekitar 10 juta penduduk dan Indonesia termasuk negara di urutan ke 7 dari 10 negara yang jumlah penderitanya terbanyak di dunia. Salah satu komplikasi yang diakibatkan oleh DM tipe 2 pada mata adalah katarak. Menurut The Beaver Dam Eye Study dan Blue Mountain Eye Study menyatakan penderita katarak yang menyandang DM cenderung 5 kali meningkatkan risiko pembentukan katarak pada lensa mata. Oleh karena itu, pada penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi jenis katarak. Penelitian tersebut merupakan analitik observational menggunakan jenis studi cross sectional. Sampel berjumlah 51 mata yang terdiagnosis DM tipe 2 dengan masing-masing jenis katarak. Pada analisis data di kelompok usia yang sangat mendominasi adalah usia 51-60 tahun (52,94%). Kemudian analisis HbA1c mayoritas >6,5% (64,71%). Lalu jenis katarak yang lebih dominan yaitu pada jenis katarak PSC sejumlah 38 mata (74,51%). Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 dengan jenis katarak yaitu 0,002. Dan didapatkan besarnya korelasi (r) adalah 0,793 yang diartikan adanya korelasi positif dengan kekuatan sedang. Kata Kunci: Jenis Katarak, Diabetes Melitus Tipe 2, Kadar HbA1c
Miopia Tinggi pada Kehamilan : Case Report Basoeki , Rijanto Agoeng; Ramadhani , Devi Eka; Tarina, Nadia; Aisyah , Nabilla Nur
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 1 (2025): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i1.25643

Abstract

Background: High Myopia (HM), defined as a myopic refractive error of ≥6 diopters (D) or an axial length (AL) greater than 26.5 mm, is associated with various typical pathological changes, such as fundus tessellation, conus, macular lesions, as well as peripheral retinal and choroidal lesions. The choroid and retina are thought to be vulnerable to the effects of pregnancy. HM is associated with retinal changes, and patients with HM have a high risk of experiencing retinal detachment. Objective : This case report aims to describe high myopia in pregnancy. Case Presentation : A 23-year- old woman, GIP00000, at 37 weeks of gestation, came to the emergency department of Dr. Soegiri Lamongan General Hospital with complaints of intense abdominal tightness and swollen, painful feet. Her vision appeared blurred. High blood pressure was noted in the third trimester. An obstetric examination showed that the fetal head had not entered the pelvic inlet. Clinical symptoms included blurred vision, with visual acuity results of VOD -8.00 D and VOS -8.00 D. Conclusion : High myopia in pregnancy is a rare case. Diagnosis is based on patient history, clinical symptoms, and supportive examinations. High myopia is not a contraindication for normal delivery. However, high myopia poses a significant risk during pregnancy, which was considered as a basis for a cesarean section to reduce risks in our case. Keywords : Myopia, pregnancy, High Myopia in Pregnancy, retinal detachment.
Perbedaan Efek Monoterapi dan Politerapi Obat Antiepilepsi (OAE) terhadap Kekambuhan Kejang Pasien Epilepsi di Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang NURULLAH, ARIA; Irfana, Laily; Triastuti , Nenny
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.25668

Abstract

Epilepsi merupakan satu dari penyakit neurologi yang dapat menyebabkan kematian dan disabilitas. Menurut World Health Organization (WHO) terdapat sekitar 50 juta orang menderita epilepsi di dunia. Negara berkembang seperti Indonesia memiliki angka kejadian epilepsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju yaitu 139 per 100.000 penduduk. Terapi utama epilepsi adalah dengan pemberian obat antiepilepsi (OAE) jangka panjang dengan tujuan untuk mengontrol kekambuhan kejang. Kendala pengobatan yang dapat ditemui pada pasien epilepsi adalah efek samping obat, jenis obat lebih dari satu (politerapi), jangka waktu konsumsi obat yang panjang membuat pasien cenderung berujung putus pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efek monoterapi dan politerapi OAE terhadap kekambuhan kejang pasien di RS Siti Khodijah Sepanjang. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling yang didasarkan pada kriteria inklusi dna eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan 32 (68%) sampel mendapatkan OAE monoterapi, 31 (96.9%) diantaranya mengalami kekambuhan dan 1 (3.1%) lainnya tidak mengalami kekambuhan kejang. Sedangkan 15 (32%) sampel lainnya mendapatkan OAE politerapi dengan 11 (73.3%) sampel mengalami kekambuhan kejang dan 5 (26.7%) lainnya tidak mengalami kekambuhan kejang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan efek monoterapi dan politerapi OAE pada pasien epilepsi di RS Siti Khodijah Sepanjang.
HUBUNGAN ANTARA KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN KEJADIAN DERMATOFITOSIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN Risanti, Alisya Fitria; Rahmawati , Yuli Wahyu; Triastuti , Nenny; Ibrahimiyah, Nur Aisah
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.25675

Abstract

Latar belakang: Glukosa darah adalah gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka, yang berfungsi untuk bahan bakar bagi proses metabolisme dan juga sumber energi utama bagi otak. Terjadinya kadar glukosa darah yang tinggi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh akibatnya tubuh sulit untuk melawan infeksi. Selain itu juga, dapat meningkatkan virulensi beberapa patogen, penurunan produksi interleukin, pengurangan kemotaksis dan pengurangan aktivitas fagositosis, sehingga rentan terjadi infeksi salah satunya adalah Dermatofitosis. Dematofitosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofita yang menyerang jaringan mangandung keratin seperti, kuku, rambut, dan stratum korneum pada epidermis. Di Indonesia prevalensi kejadian dermatofitosis sebanyak 52% dari seluruh kasus dermatomikosis. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar glukosa darah dengan kejadian dermatofitosis di Poli Klinik RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Metode: Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah semua pasien kulit kelamin dan menyetujui informed consent. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis kulit kelamin, pemeriksaan KOH 10%, dan alat glukometer. Analisis statistik dilakukan untuk menentukan hubungan antara kadar glukosa darah dengan kejadian Dermatofitosis. Hasil: Berdasarkan hasil analisis statistik uji korelasi menunjukkan bahwa nilai chi-square p-value sebesar 0,164. Nilai signifikan tersebut menunjukan p>0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan krjadian dermatofitosis di Poli Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan kejadian dermatofitosis di Poli Klinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soegiri Lamongan. Kata kunci: Dermatofitosis, Kadar Glukosa Darah, Infeksi Jamur
Hubungan Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) dengan Luaran Pasien Ventilator Associated Pneumoniae (VAP) di Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang Faradisa, Istna; Subkhan, Mohammad; Ambar , Nabil Salim; Widyaningsih, Sri
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.25685

Abstract

Latar Belakang : Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) merupakan pneumonia nosokomial dengan tingkat mortalitas tinggi. Kejadian mortalitas yang tinggi pada VAP dapat diminimalisir apabila proses inflamasi parenkim paru dapat diketahui dengan lebih cepat dan mudah. Salah satu biomarker proses inflamasi VAP adalah NLR. Beberapa penelitian menunjukkan NLR merupakan indikator yang sensitive untuk berbagai kondisi infeksi dan inflamasi. Namun, belum banyak penelitian yang relevan terkait NLR sebagai biomarker VAP secara khusus. Tujuan : Mengetahui hubungan NLR dengan luaran pasien VAP di Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dari tahun 2022-2024, didapatkan 14 sampel rekam medis pasien VAP. Uji statistika penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman rho. Hasil : Usia sampel pada penelitian ini sebagian besar berasal dari kelompok usia 60-69 tahun (50,0%). Terdapat kesamaan jumlah data dari sampel berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Nilai NLR sampel hampir seluruhnya tinggi, yaitu sebanyak 13 sampel (92,9%). Distribusi luaran sampel VAP didominasi sampel meninggal yaitu sebesar 8 sampel (57,1%). Tidak terdapat hubungan signifikan secara statistik antara NLR dengan luaran pasien VAP pada penelitian ini (p=0,264, CI 95% (-0,270 – 0,735)). Namun nilai koefisien korelasi penelitian ini menunjukkan arah positif atau searah (r=0,320). Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara NLR dengan luaran pasien VAP di Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Sepanjang.
Hubungan Jenis Nyeri dengan Tingkat Keparahan Osteoartritis pada Pasien Osteoartritis Lutut Tahun 2023 di Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang Sabila, Fida; Irfana, Laily; Wirashada , Brilliant Citra
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.25702

Abstract

Latar Belakang: Rasa nyeri diartikan sebagai pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan, seringkali disebabkan karena kerusakan jaringan aktual maupun potensial, dan merupakan gejala yang dirasakan hampir setiap penyakit, termasuk osteoartritis. Selama ini, nyeri pada osteoartritis dianggap sebagai nyeri nosiseptif. Namun, terdapat publikasi yang mendukung gagasan bahwa mekanisme nyeri neuropatik berkontribusi terhadap nyeri pada sebagian pasien osteoartitis. Osteoartritis merupakan penyakit yang melibatkan berbagai perubahan anatomi dan fisiologis jaringan sendi. Tingkat keparahan OA dapat dibagi menjadi 5 menurut KellgrenLawrence. Berdasarkan penelitian terdahulu, masih terdapat perbedaan hasil, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis nyeri dengan tingkat keparahan osteoartritis pada pasien osteoartritis lutut tahun 2023 di RS Siti Khadijah Sepanjang. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional menggunakan teknik consecutive sampling dengan sampel sebanyak 45 pasien osteoarthritis lutut RS Siti Khodijah Sepanjang, dianalisis menggunakan uji korelasi spearman. Hasil: Responden didominasi oleh wanita berusia >50 tahun dengan nyeri nosiseptif dan stage III berdasarkan klasifikasi kellgrenlawrence. Hasil uji korelasi spearman didapatkan p>0,05 atau tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis nyeri dengan derajat keparahan Kellgren-Lawrence. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis nyeri dengan tingkat keparahan osteoartritis pada pasien osteoartritis lutut tahun 2023 di RS Siti Khadijah Sepanjang.
Case Report: Megasystis Janin pada Kehamilan Gemelli Terkait Kelainan Kongenital dan Outcome Obstetri Agoeng Basoeki, Rijanto; Annisya, Emmy Indri
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.25936

Abstract

Background: Megacystis is a congenital lower urinary tract obstruction (CLUTO) disorder diagnosed via ultrasound, with bladder enlargement detectable from 10 weeks of gestation. Although easily identified through imaging, its management is complex due to varying etiologies. This condition can impact fetal development, necessitating further understanding. Objective: This case report describes the diagnosis of fetal megacystis in a twin pregnancy. Case Presentation: A 27-year-old woman at 8 months of gestation presented to Fatimah Hospital, Lamongan, with abdominal tightness and vaginal bleeding. Obstetric examination revealed a twin pregnancy at 33 weeks, with Fetus I in an oblique lie, low-lying placenta, and sufficient amniotic fluid, while Fetus II was in a cephalic position with suspected intrauterine fetal death (IUFD). Ultrasound confirmed megacystis in Fetus I, leading to an emergency cesarean section. Baby I was born weighing 2100 grams with Apgar scores of 5-6, while Baby II, diagnosed with fetal megacystis, was stillborn at 500 grams. Conclusion: Megacystis, defined as bladder enlargement >7 mm between 1-18 weeks of gestation, poses significant risks to fetal development. Its prognosis depends on bladder size and underlying causes. Twin pregnancies have a higher incidence of congenital abnormalities due to embryogenesis failure. Delivery mode should consider fetal position, heart rate monitoring, and maternal-fetal status.
Ruptured Ovarian Ectopic Pregnancy in a Patient with Recurrent Early Pregnancy Loss: A Rare Clinical Encounter Fitra R., Muhammad; Putra, Dhifa D.; Rahmi, Trisha A.; Poempida, Fayka
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.26218

Abstract

Introduction: Ovarian pregnancy is a rare but serious condition, accounting for 0.5% to 1% of ectopic pregnancies. Patients presents with abdominal pain and may lack vaginal bleeding, making diagnosis difficult. Ultrasound detection is low, and surgical management is frequently required due to complications like severe bleeding. This case report aims to highlight the clinical features of ovarian pregnancy and support effective management of similar cases. Case presentation: A 37-year-old woman on her fourth pregnancy at 5 weeks of gestation presented with six days of intermittent vaginal bleeding and mild abdominal cramps. She had no prior pregnancy testing or contraceptive use. Her obstetric history included three early miscarriages, two following IVF. Examination showed elevated blood pressure but no abdominal tenderness. Transvaginal ultrasound revealed a gestational sac-like structure in the left ovary with a positive ring of fire sign, and β-hCG was 505 mIU/mL. She was diagnosed with a ruptured left ovarian ectopic pregnancy and underwent emergency laparoscopy, confirming hemoperitoneum, left ovarian ectopic mass, and mild endometriosis. Conclusion: A ruptured ovarian pregnancy can cause life-threatening hemorrhage, necessitating prompt diagnosis and intervention. Increased reporting of confirmed cases is essential to improve understanding, diagnostic accuracy, and establish effective preoperative evaluation and management strategies. Keywords: Ovarian Pregnancy, Ruptured Ectopic Pregnancy, Recurrent Early Pregnancy Loss, Habitual Abortion
Intrauterine Fetal Death pada Ibu hamil dengan Diabetes Gestasional dan Superimposed Preeklampsia di Rumah Sakit Ibu dan Anak Fatimah, Lamongan : Case Report Agoeng Basoeki, Rijanto; Kamula Dina, Indah; Finishia Ningtias Adinda, Citra; Jamil, Ahmad Mochtar
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 2 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i2.26278

Abstract

Latar Belakang : Gestational Diabetes Mellitus (GDM) didefinisikan sebagai suatu derajat intoleransi glukosa yang timbul atau pertama kali dikenali pada masa kehamilan yang merupakan penyebab klinis yang paling umum dari kelahiran prematur, gangguan hipertensi pada kehamilan, kelainan cairan ketuban, gawat janin, hambatan pertumbuhan janin, makrosomia, dan Intrauterine Fetal Death (IUFD). Sedangkan superimposed Preeklampsia didefinisikan sebagai memburuknya tekanan darah pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu dengan timbulnya proteinuria atau meningkatnya proteinuria dan keterlibatan organ lain sesuai dengan preeklampsia. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan tentang kejadian Gestasional Diabetes dan Superimposed Preeklampsia dengan kejadian Intrauterine Fetal Death (IUFD) dalam kehamilan. Presentasi Kasus : Perempuan usia 35 tahun GIIP10000 UK 28 minggu T/H/IU ke IGD RS Ibu dan Anak Fatimah Lamongan mengeluhkan kenceng kenceng dan keluar darah banyak pervaginam bergumpal warna merah kehitaman serta tidak merasakan gerakan bayi dalam kandungan sejak 2 hari belakangan. Kesimpulan : Gestational Diabetes Mellitus (GDM) adalah kasus yang banyak ditemukan di kalangan masyarakat. Diagnosa ditentukan berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan penunjang. GDM juga meningkatkan resiko terjadinya resiko superimposed preeklampsia pada ibu dengan hipertensi kronik. Risiko kematian fetal pada wanita hamil dengan GDM dan Superimposed Preeklampsia lebih tinggi daripada risiko pada wanita dengan kehamilan normal.
ANALISIS PERBANDINGAN KUNJUNGAN PASIEN SEBELUM, SAAT, DAN PASCA PANDEMI DI KLINIK CIPTA MEDIKA GRESIK Putri Anjani, Adinda; Ghufron, Musa; Prijambodo, Tjatur; Sutrisno
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 3 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i3.28583

Abstract

Latar belakang: Fasilitas kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan medis dasar atau spesialistik pelayanan kesehatan adalah Klinik. Tujuan: Menganalisis perbandingan kunjungan pasien sebelum, saat, dan pasca pandemi COVID-19 di Klinik Cipta Medika Gresik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian rancangan analisis kuantitatif observasional dengan cara pengambilan sampel menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data sekunder berupa data jumlah pasien yang telah berkunjung di Klinik Cipta Medika Gresik dari bulan Januari 2018 sampai dengan Desember 2023. Hasil : Signifikansi kondisi sebelum dan saat pandemi menunjukkan tidak didapatkan perbedaan signifikansi. Kondisi saat dan pasca pandemi menunjukkan terdapat perbedaan signifikansi. Kondisi sebelum dan pasca pandemi menunjukkan terdapat perbedaan signifikansi. Kesimpulan : Analisis kunjungan berdasarkan jumlah kunjungan pasien di Klinik Cipta Medika Gresik meliputi sebelum dan saat pandemi menunjukkan hasil tidak terdapat perbedaan. Pada saat dan sesudah pandemi menunjukkan terdapat perbedaan. Pada sebelum dan sesudah pandemi menunjukkan terdapat perbedaan.