cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Efektivitas Lidah Buaya (Aloe Vera) terhadap Konstipasi Elina Rahma; Oktafany Oktafany
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstipasi adalah keadaan dimana terjadi suatu penurunan frekuensi pergerakan usus yang disertai dengan perpanjangan waktu dan kesulitan defekasi. Konstipasi merupakan masalah kesehatan yang sering dialami orang di dunia. Konstipasi dapat terjadi pada semua umur, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak maupun usia lanjut. Faktor yang paling banyak menyebabkan konstipasi yaitu kurangnya asupan serat dan cairan yang dapat menyebabkan feses keras dan sulit buang air besar. Penanganan alternatif konstipasi yaitu dengan menggunakan lidah buaya (Aloe vera) yang memiliki efek laksan sama dengan laksansia golongan laksatif stimulan. Lidah buaya (Aloe vera) merupakan famili Liliaceae yang memiliki efek pencahar karena daun lidah buaya (Aloe vera) mengandung bahan aktif yaitu Aloe-emodin-anthrone dan Barbaloin. Mula kerja lidah buaya (Aloe vera) sama dengan laksansia golongan laksatif stimulan yaitu 6-12 jam setelah pemberian. Pemberian daging lidah buaya (Aloe vera) dengan dosis tertentu memiliki rata-rata frekuensi defekasi dan berat feses lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian obat laksansia sehingga efektivitas daging daun lidah buaya (Aloe vera) juga lebih tinggi dibandingkan obat laksansia.Kata kunci: lidah buaya (Aloe vera), konstipasi
Dampak Penggunaan Pestisida Organoklorin terhadap Risiko Kanker Payudara Reni Agustin; Muhartono Muhartono
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pestisida selain untuk mengontrol hama dan penyakit pada tanaman, pestisida juga berdampak negatif pada kesehatan. Jenis pestisida yang paling banyak digunakan ialah insektisida. Insektisida dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu pestisida organoklorin, organofosfat dan karbamat. Pestisida organoklorin seperti Dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) yang sudah dilarang penggunaannya di Indonesia tetapi dari beberapa penelitian masih ditemukan. Organoklorin secarakimia tergolong toksisitasnya yang relatif rendah akan tetapi mampu bertahan lama dalam lingkungan. Berbagai penelitian menemukan kadar DDT yang tinggi pada sampel darah pasien kanker payudara. Paparan organoklorin dalam lingkungan kemungkinan memiliki efek signifikan terhadap risiko kanker payudara. Ahli toksikologi telah menemukan bahwa bahan kimia sintetis (DDT) dapat meniru aksi hormon estrogen yang diduga hal ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon sehingga terjadi peningkatan proses proliferasi sel pada payudara.Kata kunci: DDT, pestisida organoklorin, risiko kanker payudara
Tatalaksana dan Pencegahan Komplikasi Sunburn pada Orang-orang dengan Risiko Pajanan Matahari Lama Rena Roy; Rasmi Zakiah Oktarlina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sunburn adalah reaksi inflamasi akut pada kulit terhadap radiasi ultraviolet (RUV). Pajanan RUV dipengaruhi oleh lamanya pajanan dengan matahari dan perlindungan diri. Survei terhadap orang Kanada dan Amerika menunjukkan 30% hingga 40% orang dewasa menggunakan tabir surya atau memilih berteduh dan 30% hingga 45% laki-laki menggunakan baju pelindung. Sunburn lebih sering terjadi pada pria, remaja, pekerja di luar ruangan, dan orang-orang yang memiliki warna kulit cerah dan pendapatan lebih tinggi. Gejala utama diawali dengan kemerahan (eritema), lalu diikuti dengan berbagai tingkat rasa sakit, tingkat keparahan proporsional atau berbanding lurus dengan durasi dan intensitas eksposur atau pajanan. Sunburn dapat diatasi dengan beberapa tatalaksana utama yaitu mendinginkan kulit, menggunakan obat-obat topikal, menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatasi vesikel, dan menghindari pajanan sinar matahari. Menghindari pajanan sinar matahari pada lokasi kulit Sunburn yang sedang mengalami penyembuhan adalah perawatan sunburn yang paling penting dari lima jenis tatalaksana utama tersebut.Kata kunci: pajanan matahari, sunburn
Gas Hidrogen Sulfida (H2S): Potensi Ancaman Asfiksia pada Peternak Natasya Hayatillah; Jhons Fatriyadi Suwandi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peternakan merupakan salah satu sektor agroindustri yang banyak terdapat di Indonesia. Dekomposisi limbah hasil ternak, terutama kotoran ternak diketahui dapat menimbulkan gas berbahaya, salah satunya adalah hidrogen sulfida (H2S). Selain mudah terbakar, meledak dan beracun, H2S merupakan gas yang dapat menimbulkan iritasi pada sistem pernapasan. Keluhan seperti batuk, napas cepat bahkan perdarahan paru dapat terjadi akibat inhalasi kadar rendah gas H2S. Pada konsentrasi yang tinggi yaitu lebih dari 1000 BDS gas H2S dapat menjadi asfiksian kimia. Gas H2S menimbulkan asfiksia dengan cara menghambat enzim sitokrom c oksidase. Penghambatan enzim ini akan menyebabkan terganggunya transpor oksigen dalam tubuh sehingga tubuh mengalami keadaan hipoksia yang berujung dengan kematian. Meskipun data kematian peternak akibat gas H2S di Indonesia belum diketahui, namun asfiksia akibat inhalasi gas tersebut pada pekerja peternakan telah terbukti di beberapa negara seperti Korea Selatan dan Amerika. Gas H2S dapat menjadi ancaman bagi peternak di Indonesia karena gas tersebut mudah terakumulasi pada udara di peternakan akibat berat molekulnya lebih berat dari udara, dan kondisi ventilasi peternakan di Indonesia yang masih kurang baik.Kata kunci: asfiksia, gas H2S, hidrogen sulfide, peternak
Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi Annisa Shafira Pramono; Tri Umiana Soleha
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial umum pada lapisan epidermis. Penyakit ini memiliki distribusi yang luas di seluruh dunia, namun lebih sering terjadi di negara-negara tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi. Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia furfur yang merupakan jamur saprofit pada manusia normal, namun dalam beberapa kondisi, jamur ini dapat berubah menjadi bentuk patogen. Diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan mikroskopis atau kultur jamur. Lesi khas pitiriasis versikolor berupa makula, plak, atau papul folikular dengan beragam warna, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, sampai eritematosa, berskuama halus di atasnya, dikelilingi kulit normal. Pada pemeriksaan mikroskopis, spesimen yang digunakan adalah kerokan kulit atau isolat dari kultur jamur. Pemeriksaan lain yang menunjang diagnosis pitiriasis versikolor adalah pemeriksaan lampu wood dan uji biokimia, namun kedua pemeriksaan ini hanya digunakan sebagai penunjang bukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Pengobatan pitiriasis versikolor dapat dilakukan secara oral ataupun topikal. Terapi lini pertama adalah terapi antifungal topikal, termasuk zink pirition, ketokonazol, dan terbinafin. Antifungal oral dianggap sebagai lini kedua dan digunakan pada kasus berat. Terbinafin oral dan ketokonazol oral tidak efektif dalam terapi pitiriasis versikolor, antifungal oral seperti itrakonazol dan flukonazol dianggap sesuai untuk terapi pitiriasis versikolor.Kata kunci: antifungal oral, antifungal topikal, diagnosa, pitiriasis versikolor.
Potensi Biomarka High Mobility Group Box 1 (HMGB 1) sebagai Kriteria Diagnosis Asbestosis Diana Mayasari; Cakra Wijaya
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asbestosis merupakan penyakit paru kronik akibat menghirup serat asbestos. Serat asbestos yang terhirup ke dalam paru akan menyebabkan cedera sel epitel saluran napas dan sel makrofag yang akan memfagosit serat asbes. Inhalasi seratasbestos terus-menerus akan menyebabkan alveolitis dan reaksi jaringan yang lebih hebat. Efek paparan serat asbestos akan muncul setelah paparan selama 20-30 tahun. Pemeriksaan penunjang yang saat ini digunakanuntuk diagnosisasbestosis adalah tes pencitraan dan spirometri. Penegakan diagnosis asbestos sulit dilakukan karena memiliki tanda dan gejala serta hasil radiologi sederhana yang mirip dengan penyakit parulainnya. High mobility group atau HMG merupakanprotein yang terdapat dalam kromosom dan berperan pada proses transkripsi, replikasi, rekombinasi dan perbaikan DNA. High Mobility Group Box 1 adalah sitokin proinflamasi yang disekresikan oleh sistem kekebalan tubuh alami dandisekresikan secara pasif selama adanya kerusakan dan kematian, seperti nekrosis. Peningkatan kadar HMBG1 yang terdeteksi dapat mengonfirmasi diagnosis asbestosis, setelah ditemukannya fibrosis paru pada x-ray. Pemeriksaan high mobility group box 1 (HMGB1) direkomendasikan sebagai biomarka pemeriksaan penunjang dalam diagnosis asbestosis.Kata Kunci: asbestosis, biomarka, diagnosis, HMGB 1
Potensi Anggur Merah (Vitis vinifera) sebagai Pencegahan Aterosklerosis Vermitia Vermitia; Anggraeni Janar Wulan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aterosklerosis merupakan salah satu faktor risiko yang mendasari terjadinya beberapa penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, infark serebri (stroke), aneurisma aorta dan penyakit vaskular perifer (gangren tungkai). Pembuluh darah yang sering menjadi daerah predileksi aterosklerosis yaitu aorta dan arteri koronaria. Berdasarkan patofisiologi secara umum, aterosklerosis disebabkan oleh disfungsi endotel dan inflamasi di pembuluh darah. Proses tersebut menghasilkan plak aterom sehingga menyumbat lumen pembuluh darah dan melemahkan jaringan pembuluh darah. Salah satu faktor risiko aterosklerosis yaitu dislipidemia atau diet tinggi kolesterol dan lemak jenuh. Komponen utama kolesterol serum total yang menyebabkan peningkatan risiko terbentuknya aterosklerosis adalah low-density lipoprotein (LDL). Anggur merah (Vitis vinifera) merupakan buah yang mengandung zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh seperti vitamin, mineral, flavonoid, resveratrol, proantosianidin dan prosianidin. Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh konsumsi anggur merah (Vitis vinifera) terhadap penurunan risiko morbiditas dan mortilitas penyakit kardiovaskular. Kandungan resveratrol, proantosianidin dan prosianidin memiliki manfaat yang signifikan untuk menghambat pembentukan aterosklerosis dengan mekanisme kerjanya sebagai anti-inflamasi, menghambat agregasi platelet, menurunkan kadar lipid, meningkatkan elastisitas pembuluh darah, meningkatkan aktivitas fibrinolitik yang dapat memecah trombus dan menghambat enzim kolesterol esterase. Mekanisme-mekanisme tersebut menunjukkan bahwa anggur merah (Vitis vinifera) berpotensi sebagai pencegahan aterosklerosis.Kata kunci: anggur merah, aterosklerosis, proantosianidin, prosianidin, resveratrol
Dampak Pajanan Organoklorin terhadap Perubahan Kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) Helimawati Rosita; Diana Mayasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organoklorin merupakan suatu pestisida yang banyak digunakan di dunia. Organoklorin merupakan dari halogenated hydrocarbon, salah satunya adalah polyclorinated biphenyls yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikanberbagai hama dalam bidang agrikultural. Senyawa ini dikenal dengan toksisitasnya yang tinggi, degradasi lambat, dan bioakumulasi pada lingkungan. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak,serta memiliki kemampuan degradasi yang rendah. Paparan pestisida secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan gangguan pada neuromuskular, stimuli obat dan metabolisme steroid. Insektisida organoklorin yangmengandung ion klor (Cl) melakukan aksi kompetitif dengan ion iodium (I) yang berfungsi dalam pembentukan hormon tiroid. Oleh karena ion Cl memiliki daya ikat yang lebih kuat dibandingkan ion I, maka hormon tiroid berupa T3 dan T4 yangdihasilkan oleh kelenjar tiroid tidak dapat terbentuk. Hal ini merangsang hipotalamus untuk mensekresikan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) berlebih sehingga menyebabkan kadar TSH di dalam darah naik. Semakin banyak konsentrasi insektisida organoklorin yang masuk ke dalam tubuh, maka semakin besar kemungkinan adanya kenaikan kadar TSH di dalam darah, dan dapat menyebabkan suatu kelainan tiroid yang disebut dengan hipotiroidisme.Kata kunci: hipotiroidisme, organoklorin, pestisida, thyroid stimulating hormone
Efek Tanin pada Kulit Buah Semangka (Citrulus lanatus) sebagai Antimalaria Hanna Mutiara; Fahma Azizaturrahmah
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak di dalam sel darah manusia yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles sp. Angka kejadian malaria yang tinggi menjadikan malaria sebagai salah satu masalah kesehatan di Indonesia maupun di dunia. Gejala malaria adalah demam, sakit kepala, malaise, anoreksia, dengan trias malaria berupa demam periodik, anemia, dan spleenomegali. Pengobatan terhadap malaria yang selama ini diberikan di Indonesia berupa artesunat, dehidroartemisinin, piperakuin, amodiakuin, kina dan klorokuin. Resistensi terhadap obat-obat antimalaria kini telah terjadi di berbagai daerah. Penelitian banyak dilakukan untuk menangani masalah resistensi terhadap antimalaria. Berbagai penelitian menunjukkan kandungan tumbuh-tumbuhan berperan dalam pengobatan malaria. Salah satu tumbuhan sebagai pengobatan malaria adalah semangka yang di dalamnya terkandung tanin. Tanin bekerja pada fase aseksual eritrositer, sehingga dapat menghambat plasmodium dalam menginfeksi eritrosit. Oleh karena itu, terjadi penurunan destruksi eritrosit dan penurunan invasi pada eritrosit baru, sehingga dapat menurunkan jumlah parasitemia.Kata Kunci: antimalaria, semangka, tanin
Penggunaan Kunyit (Curcuma domestica) sebagai Terapi Ptyriasis versicolor Ety Apriliana; Lantani Nafisah Heviana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ptyriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial yang ditandai dengan perubahan kulit akibat kolonisasi stratum korneum oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora normal kulit, Malassezia furfur. Upaya penatalaksanaaan Ptyriasis versicolor sampai saat ini diantaranya adalah menggunakan antifungi baik yang sistemik maupun yang topikal. Alternatif pengobatan yang banyak digunakan di kalangan masyarakat dengan memanfaatkan tanaman herbal. Kunyit memiliki berbagai macam manfaat yaitu sebagai antiinflamasi, antioksidan, antibakteri dan antifungi. Beberapa kandungan metabolit kunyit dapat berperan sebagai antifungi yang dapat menekan pertumbuhan Malassezia furfur. Hal tersebut terjadi karena kandungan beberapa senyawa metabolit sekunder yang ada di dalam kunyit. Kandungan senyawa yang bermanfaat dalam kunyit  diantaranya adalah minyak atsiri, pati, resin, selulosa, kurkuminoid dan beberapa mineral. Dari berbagai macam kandungan metabolit sekunder yang ada di dalam kunyit, kurkuminoid dan minyak atsiri merupakan zat yang berpotensi sebagai antifungi.Kata kunci: antifungi, ptytiriasis versicolor, turmeric