cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Efektivitas Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata) dan Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum (wight) Walp) sebagai Agen Preventif terhadap Diabetes Melitus Tipe 2 Andre Parmonangan Panjaitan; Farras Cahya Puspitha; Wulan Noventi; Rini Safitri
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus merupakan serangkaian sindrom metabolik yang berhubungan dengan hiperglikemia, hiperlipidemia, stres oksidatif, poliuria, polifagia, polidipsia, ketosis, nefropati, neuropati dan gangguan kardiovaskular. Sekitar 1,7% dari populasi dunia telah diperkirakan menderita diabetes mellitus dan diperkirakan akan meningkat menjadi 3,6% pada tahun 2025.Pengobatan pasien diabetes yaitu pengobatan non-formakologis seperti pengaturan pola makanan, olahraga teratur dan pengobatan farmakologisyaitu menggunakan obat-obatan oral.Tanaman herbal merupakan pengobatan tradisional yang telah digunakan di seluruh dunia karena mudah didapatkan dan murah. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui efektivitas antara ekstrak kulit pisang kepok dan ekstrak daun salam terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus yang induksi oleh alloxan. Penelitian ini dilaksanakan bulan April sampai Juli 2016 di Laboratorium Biokimia, laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran dan laboratorium kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung. Metode yang digunakan yaitu studi eksperimental dengan 6 kelompok penelitian yaitu kelompok A (hanya diberi alloxan), kelompok B (hanya diberi aquades), kelompok C (ekstrak kulit pisang kepok 250 mg/kgBB), kelompok D (ekstrak kulit pisang kepok 500 mg/kgBB), kelompok E (ekstrak daun salam 250 mg/kgBB), dan kelompok F (ekstrak daun salam 500 mg/kgBB). Uji normalitas dilakukan dengan shapiro-wilk (p>0,05). Data yang diperoleh dianalisa menggunakan repeated ANNOVA (p<0,05). Hasil penelitian didapatkan kadar glukosa kelompok C (p = 0,004), D (p = 0,000), E (p = 0,002) dan F (p = 0,005). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol kulit pisang kepok 500 mg/KgBB memiliki pengaruh lebih besar daripada ektrak daun salamterhadap kadar glukosa tikus putih jantan galur wistar.Kata kunci: alloxan, daun salam, diabetes, kulit pisang
Hubungan antara Personal Hygiene dan Status Gizi dengan Infeksi Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri di Natar Harmeida Risa; Efrida Warganegara; Ermin Rachmawati; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi kecacingan di Indonesia relatif tinggi yaitu sebesar 22,6% dengan mayoritas penderita adalah balita dan murid sekolah dasar. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kecacingan adalah personal hygiene yang buruk. Kecacingan dapat menyebabkan status gizi anak menjadi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene dan status gizi dengan infeksi kecacingan pada siswa sekolah dasar negeri di Natar. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SDN di Natar bulan Oktober-November 2015. Subjek penelitian adalah 50 orang siswa kelas 1 sampai kelas 6. Hubungan antara personal hygiene dan status gizi dengan infeksi kecacingan diuji dengan uji statistik Chi-square dengan menggunakan software komputer. Penilaian personal hygiene dilakukan dengan menggunakan kuesioner, penilaian status gizi melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan serta uji laboratorium dengan metode apung untuk penilaian infeksi kecacingan. Dari 50 responden, 62% mengalami infeksi kecacingan dengan jenis Ascaris lumbricoides. Status gizi berdasarkan IMT/U kategori kurus 10%, normal 80%, gemuk 6% dan sangat gemuk 4%. Prevalensi kebersihan kuku 64%, alas kaki 60%, dan cuci tangan 62% kategori tidak baik. Terdapat hubungan antara kebersihan kuku, penggunaan alas kaki, dan kebiasaan cuci tangan dengan infeksi kecacingan dengan masing-masing p value 0,002, 0,009, dan 0,000. Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan infeksi kecacingan dengan p value 0,80. Terdapat hubungan antara personal hygiene dengan infeksi kecacingan namun tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan infeksi kecacingan.Kata Kunci: infeksi kecacingan, personal hygiene, status gizi
Agonis Reseptor GLP 1 untuk Terapi Diabetes Mellitus Tipe 2 Aulia Agristika; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin dan resistensi insulin atau kedua-duanya. Pengobatan Diabetes Mellitus tipe 2 terdiri atas empat pilar pengobatan yakni edukasi, gizi medis, latihan jasmani dan farmakologi. Terapi farmakologi Diabetes Mellitus tipe 2 terbagi menjadi dua yakni oral dan suntikan seperti Glucagon Like Peptide-1 (GLP-1) agonist. Glukagon Like Peptide-1 adalah jenis hormon inkretin yang normalnya diproduksi oleh usus halus untuk mengatur kadar gula dengan menekan sekresi glukagon untuk merangsang sekresi insulin terhadap makanan yang berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi kerja pendek (<24 jam) dan kerja panjang (≥24 jam).Kata Kunci: diabetes Mellitus tipe 2, glp-1 agonist, obat antidiabetes.
Hubungan Coping Mechanism dengan Hasil Ujian Akhir Blok Basic Science 1 pada Mahasiswa Angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Galih Prasetio Ekin Basuki Utomo; Oktadoni Saputra
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coping mechanism dapat diartikan sebagai perilaku yang digunakan oleh individu dalam mengatasi masalah yang dapat menimbulkan stress dengan menghindari, menjauhi dan mengurangi stress atau dengan menyelesaikan dan mencari dukungan sosial. Coping mechanism terdapat dua macam, yaitu problem solving focused coping dan emotion focused coping. Problem solving focused coping adalah strategi koping yang berfokus pada penyelesaian masalah (stressor), sedangkan emotion focused coping mengabaikan stressor untuk mengatasinya secara sementara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada dan tidaknya hubungan antara coping mechanism dengan hasil belajar pada mahasiswa angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Terdapat 190 responden yang didapatkan menggunakan metodetotal sampling.Data dianalisa dengan menggunakanuji chi-square dengan tingkat kepercayaan p=<0,05. Kuesioner yang digunakan adalah Ways of Coping Checklist terdiri atas 32 pertanyaan, yaitu 16 pertanyaan mengenai problem solving focused coping dan 16 pertanyaan mengenai emotion focused coping. Hasil belajar mahasiswa diukur dengan nilai Ujian Akhir Blok (UAB) Basic Science 1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2015 menggunakan strategi coping mechanism yang hamper sama banyak antara problem solving focused coping (59,5%) dan emotion focused coping (40,5%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara strategi coping mechanism dengan hasil UAB Basic Science 1 dengan nilai p=0,476.Kata kunci: emotion focused coping, mekanisme koping, Problem solving focused coping
Peranan Pendekatan Belajar dalam Pendidikan Kedokteran Adinda Ayu Lintang S; Dwita Oktaria
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa kedokteran belajar menggunakan kurikulum berbasis kompetensi dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah (problem-based learning/PBL). Metode ini adalah metode yang lebih berfokus pada mahasiswa (student-centered) sehingga peran mahasiswa lebih aktif dibandingkan dengan dosen. Dalam PBL, mahasiswa akan berdiskusi dalam kelompok belajar kecil untuk memecahkan masalah yang sesuai dengan topik yang sedang dipelajari. Namun, tidak semua mahasiswa dapat mengadopsi metode pembelajaran ini karena setiap individu memiliki pendekatan pembelajaran yang berbeda-beda.Konsep pendekatan belajar telahbanyak diteliti karena berhubungan dengan tingkat pemahaman dan hasil belajar mahasiswa. Pendekatanbelajardapatdigolongkanmenjaditiga, antara lainpendekatanbelajarmendalam (deep learning approach), dangkal (surface learning approach) danstrategic/achieving approach.Pendekatan belajar mendalam merupakan pendekatan belajar terbaik yang disarankan untuk digunakan dalam proses belajar bagi mahasiswa kedokteran. Dalam pendekatan ini, mahasiswa membaca dan memahami topik secara mendalam untuk memenuhi keingintahuannya akan pengetahuan. Pada pendekatan dangkal, mahasiswa hanya belajar sesuai dengan materi yang diperlukan karena takut tidak dapat menjawab pertanyaan dan gagal dalam ujian. Sedangkan, mahasiswa dengan strategic/achieving approachlebih berfokus pada kompetisi dan keinginan untuk mencapai nilai terbaik. Berbagai faktor mempengaruhi pendekatan belajar mahasiswa kedokteran sehingga tidak semua mahasiswa mampu mengadopsi pendekatan belajar mendalam. Konsep pendekatan belajar mendalam sebaiknya diajarkan dan dapat diimplementasikan oleh mahasiswa kedokteran agar menjadi dokter yang lebih berkualitas.Kata kunci: mahasiswa kedokteran, pendekatan belajar, problem-based learning.
Penyakit Caisson pada Penyelam Ni Made Ayu Linggayani; M. Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Caisson atau penyakit dekompresi merupakan penyakit yang cukup banyak ditemui di negara kepulauan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja yang melakukan penyelaman baik untuk rekreasional maupun sebagai mata pencaharian. Penyakit dekompresi merupakan suatu kumpulan gejala yang disebabkan karena terlepasnya gelembung udara ke dalam darah atau jaringan selama atau setelah terjadinya penurunan tekanan pada lingkungan (dekompresi), sehingga penyakit ini berisiko tinggi untuk terjadi pada penyelam. Gejala yang muncul pada penyakit dekompresi bervariasi dari gejala ringan hingga fatal, dari hanya berupa nyeri otot ringan hingga kelumpuhan. Penegakkan diagnosis dapat dilakukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta tidak membutuhkan pemeriksaan penunjang karena keterlambatan penanganan pada kasus yang berat dapat berakibat fatal. Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang dapat dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor risiko yang ada. Kata kunci: caisson disease, penyakit dekompresi, penyelam, sindrom dekompresi
Pencegahan Noise Induced Hearing Loss pada Pekerja Akibat Kebisingan Diana Mayasari; Rifda Khairunnisa
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan pendengaran akibat bising (Noise Induced Hearing Loss/NIHL) adalah penurunan pendengaran atau tuli akibat bising yang melebihi nilai ambang batas dengar (NAB) dilingkungan kerja. Dampak dari gangguan ini adalah kurangnya konsentrasi, kelelahan, sakit kepala, gangguan tidur, hingga berdampak kepada kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu sangatlah penting bagi pelaku industri maupun pekerja memahami tentang NIHL sehingga dapat melakukan upaya pencegahan dan rehabilitasi untuk mengatasi permasalahan ini. Faktor resiko yang berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialah intesitas bising, frekuensi, lama pajanan perhari, masa kerja, kepekaan individu, umur dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti bahwa jumlah pajanan energi bising yang diterima akan sebanding dengan kerusakan yang didapat. Secara umum NIHL memang tidak dapat disembuhkan namun dapat dicegah dan dilakukan rehabilitasi. Pencegahan dapat dilaksanakan dengan cara penerapan hearing conservation program (HCP) yaitu dengan prosedur pengukuran kebisingan, pengendalian kebisingan, pengukuran audiometri berkala, perlindungan pendengaran, pendidikan pekerja, pencatatan dan evaluasi. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari hearing conservation program adalah sebagai pedoman untuk mendiagnosis hearing loss, pencegahan terhadap dampak perburukan akan terpapar kebisingan.Kata kunci: faktor resiko, hearing conservation program, noise Induced hearing loss, pencegahan
Sistem Skoring Baru untuk Menentukan Prognosis Malaria Berat Tresa Ivani Saskia; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium sp. Penyakit ini menyumbang pada banyak kematian di seluruh dunia setiap tahunnya, terutama pada wilayah negara yang memiliki iklim tropis. World Health Organization (WHO) menetapkan Indonesia sebagai salah satu dari 91 negara endemis malaria di dunia pada tahun 2015. Berbagai wilayah Indonesia termasuk dalam wilayah endemis malaria, termasuk provinsi Lampung. Malaria, khususnya malaria falciparum, sering mengalami komplikasi menjadi malaria berat dan berhubungan erat dengan tingginya angka mortalitas. Pasien dengan kondisi seperti ini membutuhkan terapi yang tepat dan perawatan intensif. Namun, tidak semua daerah endemis malaria di Indonesia memiliki fasilitas ruang perawatan intensif yang memadai. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem skoring pada malaria berat untuk memprediksikan prognosis pasien dengan malaria serebral. Dengan skor ini, kita dapat melakukan identifikasi pasien yang akan mendapatkan manfaat dari perawatan intensif sehingga angka harapan hidupnya dapat lebih tinggi. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa sistem skoring yang telah diajukan oleh para ahli yang berasal dari wilayah endemis malaria dari berbagai wilayah di dunia, serta potensi aplikasi klinisnya di Indonesia. Dari beberapa sistem skoring, skoring GCRBS (GCS, Creatinine, Respiratory rate, Bilirubin and Systolic BP) merupakan penilaian yang paling sederhana dan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia dengan fasilitas yang tidak merata.Kata kunci: malaria berat, plasmodium falciparum, prognosis, sistem skoring.
Konsumsi Suplementasi Selenium untuk Mengurangi Kejadian Preeklampsia Wivan Havilian Djohan; Rodiani Rodiani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preeklampsia merupakan salah satu penyulit dalam kehamilan yang menyebabkan sakit berat, kecacatan jangka panjang, serta kematian pada ibu, janin dan neonatus. Tiga penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan (30%), hipertensi dalam kehamilan (25%), dan infeksi (12%). Mineral esensial Selenium (Se) yang bekerja melalui selenoprotein/selenoenzim memiliki kapasitas untuk mengurangi risiko preeklampsia. Sebuah korelasi positif antara status Se dan kejadian pre-eklampsia telah ditunjukkan dalam sebuah studi epidemiologi terhadap empat puluh lima negara dalam penelitian sebelumnya, bahwa status Se rendah padawanita Oxford dengan kehamilan normal (non-pre-eklampsia) (konsentrasi median serum Se 48,5 mg/l pada 33 minggu). Pada studi kasus-kontrol berikutnya di lokasi yang sama, ditemukan bahwa konsentrasi Se di kuku jari kaki (diletakkan di bawah dari 3 sampai 12 bulan sebelumnya) wanita dengan preeklampsia secara signifikan lebih rendah daripada kontrol yang sesuai (P ¼ 001). Dalam kelompok pra-eklampsia, status Se yang lebih rendah secara signifikan terkait (P ¼ 0 029) dengan ekspresi penyakit yang lebih parah, yang diukur dengan pengiriman sebelum 32 minggu. Serum/plasma Se dan plasma konsentrasi glutathione peroxidase (GPx) telah ditemukan secara signifikan lebih rendah pada preeklampsia daripada normal kehamilan, sementara secara signifikan menurunkan kadar selenoenzim, GPx dan thioredoxin reductase telah ditemukan di plasenta dari wanita preeklampsia. Butuh serangkaian pemeriksaan yang kompleks agar dapat meramalkan suatu kejadian preeklampsia dengan lebih baik. Kata Kunci: preeklampsia, selenium, suplementasi.
Laporan Kasus Kecelakaan Kerja: Fraktur Tertutup Inkomplit Os Metakarpal dan Falang Proksimal Digiti II Regio Manus Dekstra pada Karyawan Factory Divisi Mill Boiler PT. X Diana Mayasari; Kharisma MR
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada masyarakat luas. Seorang pria usia 53 tahun datang ke IGD health center di perusahaan PT. X dengan keluhan bengkak pada tangan kanan dan jari-jari sejak kurang lebih 15 menit sebelum masuk IGD. Bengkak disebabkan oleh karena tangan terhimpit di antara alat pemotong besi dan tiang saat mendorong alat pemotong besi. Hasil analisa kecelakaan kerja pada kasus ini, diketahui terdapat beberapa faktor penyebab langsung (immediate causes) dari kasus, yaitu kelalaian pekerja karena kurang konsentrasi dan kurangnya koordinasi antar pekerja serta tidak menggunakan alat pelindungi diri. Faktor penyebab dasar (basic causes) dari kasus adalah pencahayaan yang kurang, kebisingan, alat yang berat, jalan yang sempit dan melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diduga, tidak diharapkan yang menggangu suatu proses dari aktivitas yang telah ditentukan dari semula dan mengakibatkan kerugian dengan korban manusia dan harta benda sehingga harus dicegah dengan pelaksaan program kesehatan dan keselamatan kerja.Kata kunci: analisis kecelakaan kerja, kecelakaan kerja, pencegahan, pelaksanaan K3