cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Hubungan Motivasi Belajar terhadap Self Directed Learning Readiness Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Erisa Senthya Br Surbakti; Dwita Oktaria; Rodiani Rodiani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self Directed Learning Readiness(SDLR) merupakan kesiapan mahasiswa terhadap lingkungan mandiri yang menuntut mahasiswa untuk belajar. SDLR dipengaruhi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Motivasi sebagai salah satu faktor ekstrinsik mengambil peranan penting untuk terbentuknya SDLR mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi belajar terhadap self directed learning readiness mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2016.Terdapat sebanyak 240 responden yang mengisi dua buah kuesioner yaitu Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) untuk menilai motivasi belajar dan Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) untuk menilai kesiapan belajar mandiri. Penelitian dilakukan selama dua hari dengan penjelasan dan pengisian informed consent oleh responden. Analisis data menggunakan uji Chi square. Hasil menunjukkan motivasi yang paling banyak dimiliki oleh responden yaitu motivasi tinggi (75,8%) dan derajat SDLR tinggi (82,5%). Berdasarkan analisis bivariat dengan uji Chisquare tidak didapatkan hubungan bermakna motivasi belajar terhadap self directed learning readiness dengan nilai (P=0, 411). Tidak terdapat hubungan bermakna antara motivasi belajar terhadap self directed learning readiness mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.Kata kunci: MSLQ, SDLR, SDLRS
Perbandingan Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan Hand Sanitizer dengan Sabun Antiseptik pada Tenaga Kesehatan di Ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Raka Novadlu Cordita; Tri Umiana Soleha; Diana Mayasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) mempunyai kecenderungan 5-8 kali lebih tinggi untuk terkena infeksi. Salahsatu pengendalian infeksi ialah kebersihan tangan tenaga kesehatan dengan mencuci tangan baik menggunakan sabun antiseptik maupun hand sanitizer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dengan sabun antiseptik pada tenaga kesehatan di ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan desain pre-test post-test control group design menggunakandata primer dengan pemeriksaan laboratorium. Penelitian dilakukan di ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Sampel diambil menggunakan simple random sampling dengan kelompok perlakuan 13 orang mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dan 13 orang mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik. Variabel independen adalah jumlah angka kuman sebelum mencuci tangan pada kedua kelompok perlakuan. Variabel dependen adalah jumlah angka kuman sesudah mencuci tangan dan persentase penurunan jumlah angka kuman pada kedua kelompok perlakuan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji T tidak berpasangan dengan α=0,05 dan CI=95%. Terdapat perbedaan jumlah angka kuman sebelum dan sesudah mencuci tangan menggunakan hand sanitizer (p=0,001) dan sabun antiseptik (p=0,001). Terdapat perbedaan persentase penurunan jumlah angka kuman pada perlakuan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dengan sabun antiseptik (p=0,041). Efektivitas penurunan jumlah angka kuman mencuci tangan menggunakan hand sanitizer sebesar 60% dan sabun antiseptik sebesar 73%. Mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik lebih efektifdibandingkan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer.Kata kunci: efektivitas, hand sanitizer, sabun antiseptik
Perbedaan Kadar Monosit Pre dan Post Hemodialisis pada Pasien End Stage Renal Disease (ESRD) di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Intanri Kurniati; Ni Made Shanti; Agustyas Tjiptaningrum; Putu Ristyaning Ayu
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

End stage renal disease (ESRD) merupakan gagal ginjal kronik stadium terminal dengan nilai glomerular filtration rate (GFR) < 15 ml/menit/1,73m2. Pasien ESRD perlu penanganan berupa terapi penggantian ginjal, salah satunya dengan metode hemodialisis. Kondisi uremia dan proses hemodialisis dapat berpengaruh terhadap jumlah dan fungsi fagositosis dari monosit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan rerata kadar monosit pre dan post hemodialisis pada pasien ESRD di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada bulan Oktober sampai November dengan melibatkan 36 responden pasien ESRD yang menjalani hemodialisis yang diambil dengan cara consecutive sampling. Hasil penelitian ini didapatkan nilai minimal dari kadar monosit pre hemodialisis adalah sebesar 179 dan nilai maksimal sebesar 632 dengan rerata sebesar 397. Sedangkan nilai minimal dan maksimal kadar monosit post hemodialisis adalah sebesar 239 dan 1283 dengan rerata sebesar 527,56. Standar deviasi monosit post hemodialisis adalah sebesar 205,98. Simpulan, bahwa terdapat perbedaan rerata kadar monosit pre dan post hemodialsis yang bermakna dengan nilai p=0,000 (p<0,05).Kata kunci: ESRD, hemodialisis, monosit
Pengaruh Pemberian Minyak Jelantah terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Sprague dawley Wulan Noventi; Rizky Hanriko; Mukhlis Imanto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak goreng yang telah dipanaskan berulang kali disebut minyak jelantah. Senyawa radikal bebas dapat terbentuk akibat pemanasan minyak goreng. Radikal bebas menyebabkan terjadinya reaksi stres oksidatif pada berbagai sel dalam tubuh, termasuk ginjal. Stres oksidatif merubah struktur dan fungsi dari glomerulus karena radikal bebas merusak sel-sel mesangial dan endotel. Sel epitel tubulus ginjal, sangat peka terhadap suatu iskemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah minyak jelantah dapat mempengaruhi gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang dibagi ke dalam 5 kelompok, yaitu kontrol (K) tikus yang tidak diberikan perlakuan, pada perlakuan 1 (P1), perlakuan 2 (P2), perlakuan 3 (P3) dan perlakuan 4 (P4) masing-masing diberikan minyak jelantah 1x, 4x, 8x dan 12x penggorengan dengan dosis 1,5 mL/hari secara oral dalam waktu 28 hari. Gambaran kerusakan pada ginjal terdiri dari infiltrasi sel radang, edema tubulus, edema spatium bowman, dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Kruskal‒Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann‒Whitney. Hasil uji statistik menunjukan adanya perbedaan yang bermakna. Minyak jelantah dapat menyebabkan kerusakan gambaran histopatologi pada ginjal tikus.Kata kunci: ginjal, minyak jelantah, radikal bebas, stres oksidatif.
Pengaruh Pemberian Kombinasi Zink dan Tomat (Solanum lycopersium L.) terhadap Jumlah dan Viabilitas Sperma Tikus Putih (Rattus norvegicus.) Galur Sprague dawley yang Diinduksi Gelombang Elektromagnetik Ponsel Triola Fitria; Soraya Rahmanisa; Dian Isti Angraini; Anggraeni Janar Wulan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radiasi yang dipancarkan oleh ponsel dapat menyebabkan stres oksidatif melalui peningkatan reactive oxygen species(ROS).Tomat dan zink berfungsi sebagai antioksidan dalam menangkal radikal bebas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pemberian kombinasi zink dan tomat (Solanum lycopersium L.) terhadap jumlah danviabilitas sperma tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague-dawley yang diinduksi gelombang elektromagnetik ponsel.Penelitian dilakukan 1 bulan di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Sampel menggunakan 25 ekor ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: kelompok kontrol 1(K1) yang diberi makan dan minum biasa, kelompok kontrol 2 (K2) yang hanya diberikan paparan ponsel, kelompok perlakuan (P1, P2, P3) diinduksi paparan ponsel 2 jam dan diberikankombinasi zink dan tomat berturut-turut dengan dosis zink 0,135 mg, 0,27 mg, dan 0,54 mg dan dosis tomat 1,85 mg, 3,7 mg, dan 7,4 mg. Hasil rerata jumlah spermatozoa didapatkan K1 76±18,166, K2 39±8,649, P1 182, 40±32,997, P2 189,60 ± 40,377 dan P3 197,60 ± 42,893 dan rerata viabiltas spermatozoa didapatkan K1 42,54±5,252, K2 27,66±8,770, P1 52,68±2,249, P2 54,40±18,518, dan P3 67,90±2,103. Uji One Way Anova menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antarkelompok dengan viabilitas (p=0,02) dan jumlah (p=0,00). Simpulan terdapat pengaruh pemberian kombinasi tomat dan zink terhadap viabilitas dan jumlah spermatozoa tikus putih yang diinduksiponsel.Kata kunci: ponsel, spesies oksigen reaktif, tomat, zink
Pengaruh Ekstrak Nanas (Ananas comosus(L) Merr) sebagai Antihelmintik Nurulia Astri; Asep Sukohar
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi soil-transmitted helminth merupakan masalah global di bidang kesehatan masyarakat terutama di daerah pedesaan. Infeksi cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Negara berkembang termasuk Indonesia. Askariasis merupakan salah satu infeksi cacing yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides yang merupakan nematoda patogen pada usus halus yang dapat menyebabkan malnutrisi, gangguan pertumbuhan, gangguan kognitif, dan obstruksi saluran pencernaan. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus ditemukan cacing dewasa dalam tinja atau muntahan penderita dan ditemukan telur cacing. Selain itu bisa dilakukan pemeriksaan radiologi untuk melihat adanya sindroma Loeffler dan pneumonitis eosinovili. Obat antihelmintik yang digunakan untuk mengobati infeksi ini adalah Albendazol, Mebendazol, dan Pirantel pamoat. Adanya efek samping dan harga yang mahal pada obat antihelmintik, maka perlu dilakukannya evaluasi terhadap tanaman obat sebagai alternatif obat antihelmintik. Penatalaksanaan dengan efek samping yang besar, mendorong adanya penelitian untuk membuat obat dari tanaman herbal. Salah satunya adalah penelitian mengenai efek Ekstrak Nanas (Ananas comosus(L) Merr) sebagai Antihelmintik, dipilih karena mudahnya tanaman ini ditemukan dan mengandung enzim bromelin yang termasuk dalam golongan enzim proteolitik. Beberapa penelitian menunjukkan nilai Lethal Dose 50% (LD50%) ekstrak nanas memiliki efek paling kuat untuk penghambat motilitas setelah inkubasi selama 90 menit. Sifat proteolitik ini dapat merusak lapisan kutikula pada cacing. Rusaknya lapisan kutikula tersebut berarti rusaknya selubung pelindung yang melapisi rongga dalam tubuh cacing yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian sehingga bisa dimanfaatkan sebagai antihelmintik.Kata Kunci: Antihelmintes, ekstrak nanas (Ananas comosus(L) Merr)
Pengaruh Paparan Organofosfat pada masa Kehamilan dengan Kejadian Autisme pada Anak di Lingkungan Agrikultural Annisa Rusfiana; Rodiani Rodiani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara agraris tropis dimana jumlah lapangan pekerjaan terbanyak adalah sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan persentase sebesar 30,46 persen atau sebanyak 38,70 juta orang. Organofosfat adalah pestisida penghambat kolinesterase insektisida yang saat ini terutama digunakan di bidang pertanian. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan aturan dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Dampak negatif akibat penggunaan organofosfat adalah gangguan sistem saraf, termasuk gangguan kognitif dan psikomotor, degenerasi saraf, serta gangguan perkembangan sel-sel saraf. Pada masa prenatal, organofosfat dapat melewati barrier plasenta. Hal ini mempengaruhi peningkatan risiko kelainan perkembangan pervasif serta penundaan perkembanganmental pada usia 2-3 tahun, gangguan perilaku emosional dan gangguan pengembangan sel neuronal melalui berbagai mekanisme nonkolinergik seperti terganggunya berbagai jenis proses selular, pengaturan regulasi neurotransmiter serotonin dan stress oksidatif. Sedangkan paparan postnatal terkait dengan masalah perilaku, memori jangka pendek, danketerampilan motorik yang lebih buruk serta waktu respon reaksi yang lebih lama dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar. Paparan pestisida organofosfat selama masa kehamilan terutama pada trimester pertama dan kedua dapat mempengaruhi perkembangan otak yang meningkatkan insiden terjadianya penyakit autisme pada anak.Kata kunci: Autisme, Kehamilan, Organofosfat
Pengaruh Pajanan Organofosfat terhadap Kenaikan Tekanan Darah pada Petani Diana Mayasari; Irfan Silaban
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola penggunaan agrokimia, khususnya pestisida, oleh petani semakin meningkat. Petani di Indonesia cederung memakai pestisida bukan atas dasar indikasi untuk pengendalian hama, namun mereka menjalankan cara cover blanket system. Cover blanket system yaitu metode penyemprotan pestisida tanpa memperhatikan ada atau tidaknya hama pada tanaman. Petani menjadi kelompok yang berisiko mengalami penyakit akibat kerja, karena selama bekerja petani mendapat kontakdengan pestisida. Jenis pestisida yang paling banyak digunakan adalah organofosfat. Penggunaan organofosfat yang tidak tepat, memungkinkan bahan aktifnya lebih mudah masuk ke dalam tubuh. Ketepatan waktu, dosis, jenis dan kualitas pestisida terhadap sasaran, dan cara penggunaan pestisida, juga memengaruhi toksisitas yang ditimbulkan dari pemakaian organofosfat. Organofosfat memiliki berbagai efek toksik pada tubuh, baik pajanan akut ataupun kronis. Salah satu pengaruh yang dapat ditimbulkan adalah kenaikan tekanan darah. Tekanan darah dapat meningkat akibat dampak paparan organofosfat yang mempunyai kemampuan mengganggu kerja ezim asetilkolinesterase di dalam tubuh. Asetilkolin dapat terakumulasi apabila kerja enzim Asetilkolinesterase (AChE) terhambat. Stimulasi tersebut menyebabkan terganggunya fungsi sistem simpatik dalam mengatur tekanan darah. Selain itu, paparan kronik organofosfat dapat menyebabkan mutasi berupa perubahan formasi serat kolagen, perubahan tonus otot pembuluh darah serta berkurangnya enzim Paraoxonase-1 (PON-1) yang memungkinkan terjadinya hipertensi.Kata kunci: asetilkolinetrerase, elastin, hipertensi, organofosfat, kolagen, Paraoxonase-1.
Penatalaksanaan Gout Arthtritis pada Seorang Lansia Usia 63 Tahun dengan Pola Makan yang Tidak Teratur Mia Trihasna Asrizal; Khairun Nisa Berawi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara berkembang dengan penduduk berusia 60 tahun ke atas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Lansia menurut definisi WHO adalah seseorang yang berusia 60 tahun ke atas, baik pria ataupun wanita. Masalah kesehatan yang paling banyak dialami pada lansia adalah penyakit tidak menular yaitu penyakit kronis yang paling banyak menyerang pada lanjut usia adalah gout arthritis. Berdasarkan data WHO, penduduk yang mengalami gout arthritis di Indonesia tercatat 8,1% dari total penduduk. Penerapan pelayanan dokter keluarga berbasis evidence based medicine pada pasien dengan penatalaksanaan secara holistic pada pasien lansia dengan gout arthtritis dan pola makan tidak teratur. Studi ini merupakan laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis (autoanamnesis dan alloanamnesis dari anggota keluarga), pemeriksaan fisik dan kunjungan rumah, untuk melengkapi data keluarga, data psikososial dan lingkungan. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses, dan akhir studi secara kuantitatif dan kualitatif. Pasien Ny. S, 63 tahun, keluhan pegal dan nyeri pada jari-jari tangan serta lutut kanan, hilang timbul. Pasien sering mengkonsumsi makanan tinggi purin. Regio genu dextra/sinistra, teraba hangat, nyeri tekan +/+. Kadar asam urat: 7,39 mg/dl, kolesterol: 165,2 mg/dl. Sehingga didiagnosa dengan gout arthtritis. Dilakukan intervensi terhadap pasien dan keluarga tentang penyakitnya, pola makan dan pentingnya tindakan preventif mencegah komplikasi penyakit. Setelahevaluasi didapatkan penurunan kadar asam urat dan pengetahuan yang cukup mengenai penyakit. Gout arthritis pada perempuan lansia disebabkan pengetahuan tentang gout arthritis dan asuhan keluarga yang kurang.Kata Kunci: gout arthritis, lanjut usia , pelayanan dokter keluarga.
Penatalaksanaan Koinfeksi Dengue dan Tifoid pada Pasien Anak melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga Sayyidatun Nisa; Azelia Nusadewiarti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam Dengue dan Tifoid adalah penyakit yang sering terjadi pada anak remaja yang berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat dengan angka mortalitas relatif tinggi. Lingkungan dan perilaku sehari-hari serta keluarga yang berdampak pada proses kekambuhan berulang atau menularnya penyakit tersebut perlu diperhatikan, sehingga diperlukan penerapan pelayanan berbasis Evidence Based Medicine dengan mengidentifikasi faktor risiko, masalah klinis, serta penatalaksanaan pasien berdasarkan kerangka penyelesaian masalah pasien dengan teknik patient centred dan family approach. Studi inimerupakan laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan ke rumah. Data sekunder didapat dari rekam medis. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses, dan akhir studi secara kualitiatif dan kuantitatif. Pasien derajat fungsional 2 dengan demam dengue dan tifoid yang memiliki faktor risiko internalyaitu usianya yang masih balita sehingga perilaku kesehatan pasien sangat bergantung pada keluarga. Faktor risiko eksternal yaitu kurangnya pengetahuan keluarga mengenai perilaku hidup sehat dan tindakan kesehatan hanya sebatas kuratif, serta keadaan rumah tidak memenuhi standar rumah sehat dan lingkungan yang terlalu padat dan kumuh. Kemudian dilakukan intervensi, setelah dievaluasi keluarga mulai melakukan 3M Plus, menjaga higienitas minuman, makanan dan sanitasi, serta tidak menggantung pakaian di dalam rumah. Masalah klinis pada pasien membutuhkan perhatian dalam waktu yang lama untuk mendapatkan perubahan perilaku individu maupun kelompok. Selain itu petugas kesehatan bertugas tidak hanya menyelesaikan masalah klinis pasien, tetapi juga mencari dan memberi solusi ataspermasalahan – permasalahan dalam lingkungan yang mempengaruhi kesehatan pasien dan keluarga.Kata kunci: Demam dengue, DT, evidence based medicine, family approach, patient centered