cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
PERUBAHAN KEBIASAAN HIDUP DALAM RANGKA PENCEGAHAN PENYAKIT OTITIS EKSTERNA Amira Nabila; Tsurayya Fathma Zahra; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis eksterna merupakan salah satu penyakit inflamasi telinga luar yang menyerang meatus akustikus externa pasien dan disebabkan oleh mikroorgnisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Otitis eksterna diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan onset waktu dan penyebarannya. Penyakit ini memiliki banyak faktor predisposi si seperti dari iklim, suhu, dan kebiasaan hidup seperti berenang dan  membersihkan telinga sendiri. Artikel ini akan membahas mengenai review penyakit otitis eksterna mulai dari pengertian, klasifikasi, etiologi, diagnosis, tatalaksana, dan khususnya mengenai pencegahan otitiseksterna dari segi kebiasaan hidupnya. dengan adanya artikel ini, diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami penyakit otitis eksterna dimana hal ini dapat sangat berguna untuk mengaplikasikan cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.Kata kunci: Otitis Eksterna, Pencegahan, Kebiasaan.
Perbandingan Kadar Antioksidan Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Kopi Arabika (Coffea arabica) Arini Puspita Sari; Muhammad Iqbal; Ihsanti Dwi Rahayu; Ramadhan Triyandi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kopi tidak hanya menjadi produk ekspor, tetapijuga sangat populer di kalangan penduduk. Banyak dari masyarakat Indonesia yang mengonsumsi kopi tanpa mengetahuikadar kandungan antioksidan yang dikonsumsi. Kopi memiliki kandungan aktif fenolik terbesar yaitu 1300-3700 mg dalam 100 gram kopi dengan golongan utama asam klorogenat (CGA) sebanyak 4-14% yang berfungsi sebagai antioksidan.Antioksidan adalah zat yang dapat melindungi sel dari kerusakan yang disebabkan oleh molekul tidak stabil yang dikenalsebagai radikal bebas. Pengukuran kadar antioksidan dapat dilakukan dengan berbagai metode. Antara lain metode ujipengaisan radikal bebas DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil). Pertanyaan dalam review artikel ini adalah berapakahperbandingan kadar kandungan antioksidan yang ada didalam kopi Robusta  (Coffea canephora) dan Arabika  (Coffea arabica). Artikel ini menggunakan metode review artikel berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan secara inklusi yangdidapatkan dari mesin pencarian data google scholarship baik itu jurnal nasional ataupun internasional, textbook sertaartikel ilmiah yang dipublikasikan diatas tahun 2015. Hasil review yang didapat adalah kandungan kadar antioksidantertinggi pada kopi Robusta sebesar 9,88 ppm dan terendah 262,41 ppm. Kopi Arabika tertinggi sebesar 17,79 ppm danterendah 447,352 ppm. Kata kunci: Antioksidan, Kopi robusta, Kopi arabika
LITERATUR REVIEW : FAKTOR PENYEBAB KEJADIAN GASTRITIS Ergidona Nurizqi Syiffatulhaya; M. Fitra Wardhana; Femmy Andrifianie; Ratna Dewi Puspita Sari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit gastritis menjadi salah satu penyakit yang termasuk ke dalam permasalahan sosial dan kesehatan bagi masyarakat pada saat ini. Hal tersebut terjadi pada negara yang sudah maju maupun negara berkembang. Penyakit gastritis ini jika tidak segera diobati dapat mengakibatkan kerusakan fungsi organ lambung serta meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung hingga hal terburuknya adalah kematian. Beberapa penelitian menyatakan bahwa pasien gastritis dengan keluhan nyeri di Indonesia paling banyak disebabkan oleh gastritis fungsional, dengan proporsi kasus mencapai 7080% dari total kasus. Resiko penyakit gastritis terbilang masih sangat tinggi, dan masyarakat luas ternyata masih banyak yang tidak terlalu memperhatikan kesehatan dan menjaga kesehatan lambung seperti gaya hidup yang tidak sehat terutama dari apa yang dikonsumsi, penggunaan obatobatan, stres, infeksi bakteri, serta pola makan dan minum yang kurang baik sehingga dapatmenyebabkan terjadinya inflamasi pada lambung atau gastritis. Dalam review ini masalah terkait gastritis dikumpulkan kemudian diulas untuk melihat faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit gastritis di Indonesia. Metode yang digunakan dalam studi pustaka ini mengggunakan database elektronik. Dari Faktor-faktor penyebab gastritis yang banyak terjadi di Indonesia meliputi stress, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, jenis kelamin, pola makan, frekuensi makan, usia, dankonsumsi kopi.Kata Kunci: Gastritis, faktor penyebab, Indonesia
Literature Review Diagnosis dan Tatalaksana Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) Faridi Pani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) merupakan kondisi terjadinya kehilangan sebagian atau keseluruhan pendengaran sensorineural dengan kriteria audiometri berupa penurunan pendengaran >30 dB atau setidaknya pada 3frekuensi berturut-turut yang berlangsung dalam kurun waktu 72 jam atau lebih cepat. Insidensi SSNHL di Amerika Serikatsebanyak 5-27 per 100.000 atau 4.000-66.000 kasus per tahunnya. Insidensi SSNHL meningkat seiring bertambahnya usia.Sebagian besar kasus SSNHL masih belum diketahui secara pasti namun beberapa peneliti mengemukakan teorinya bahwaSSNHL Sebagian besar disebabkan oleh kelainan vascular. Metode penelitian ini dimulai dengan melakukan penelusuranartikel di Pubmed dan Google Scholar dalam rentang tahun yang telah ditentukan oleh peneliti dan menggunakan katakunci Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), diagnosis Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), dan tatalaksanaSudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL). Hasil penelitian ini menemukan diagnosis Sudden Sensorineural Hearing Loss(SSNHL) dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik. dan pemeriksaan penunjang Tatalaksana SSNHL meliputipemberian terapi sesuai dengan etiologi atau jika etiologi tidak diketahui dapat diberikan kortikosteroid sistemik dan jugakortikosteroid intratimpani. SSNHL memiliki angka perbaikan yang cukup tinggi, yaitu 60-65%. Kata kunci: diagnosis, Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), tatalaksana
HUBUNGAN ANTARA KEJADIAAN SINUSITIS DENGAN RIWAYAT INFEKSI COVID 19 Fayza Syachrani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa sinus paranasal. Gejala umum dari penyakit ini berupa nyeri atau tekanan pada wajah, sekret hidung, kongesti, dan hiposmia ataupun anosmia. SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, menginfeksi mukosiliar pada epitel hidung manusia yang mengakibatkan hilangnya silia. Hilangnya silia telah mewakili salah satu kelainan ultrastruktural yang paling mencolok pada sel yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Sinusitis dan COVID-19 merupakan infeksi yang sama-sama menyerang saluran napas atas, sehingga tak mengherankan apabila terdapat beberapa gejala yang sama pada kedua penyakit tersebut. Selain menyerang lokasi yang sama, patofisiologi dari keduanya pun saling berkaitan, sehingga sinusitis dan COVID-19 diduga dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Hubungan Kejadian Sinusitis dengan Riwayat Infeksi COVID-19 sekaligus menjelaskan mekanisme hubungan tersebut. Proses pengumpulan sumber data dilakukan melalui pencarian pada google scholar dan Pubmed NCBI dengan kata kunci “Sinusitis” dan “COVID 19”. Hasil dari pencarian literatur yang telah dilakukan, pasien dengan riwayatinfeksi COVID 19 kemungkinan dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada rongga sinusnya melalui mekanisme penurunan sistem imun dan juga disfungsi pada endotel barrier sel. Sebaliknya, pasien dengan riwayat sinusitis sebelumnya kemungkinan dapat menurunkan risiko terjadinya keparahan gejala akibat infeksi COVID-19 akibat berkurangnya ekspresi dari reseptor ACE2, yang merupakan reseptor utama masuknya virus corona, akibat sinusitis.Kata Kunci: COVID-19, Reseptor ACE2, Sel Penghalang, Sinusitis
Batu Saluran Kemih Pada Anak Haninovita Purnamasari; Exsa Hadibrata; Diana Mayasari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu saluran kemih pada anak mengalami peningkatkan secara global pada beberapa dekade terakhir dan masih menjadi masalah kesehatan di negara maju maupun negara berkembang. Penyakit ini harus dianggap lebih serius karena angka kejadiannya yang cukup tinggi, sehingga pengetahuan akan penyakit ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kejadian batu saluran kemih. Batu saluran kemih merupakan suatu kondisi pembentukan batu pada saluran kemih, meliputi batu ginjal, ureter, buli atau vesica urinaria dan uretra. Batu saluran kemih pada anak merupakan kejadian multifaktorial mel alui interaksi berbagai faktor yaitu anatomis, epidemiologis, iklim, sosioekonomi, pola makan, gaya hidup, genetik dan metabolisme serta pengaruh obat-obatan tertentu. Diagnosis batu saluran kemih dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan pemeriksaan metabolik dan pencitraan. Manajemen penyakit ini dapat dilakukan denganmanajemen akut dengan pengendalian gejala dan pemilihan prosedur eliminasi batu serta manajemen non-akut untuk evaluasikekambuhan. Tindakan pencegahan terbentuknya batu saluran kemih dapat diterapkan dengan menjaga gaya hidup yang sehatseperti asupan cairan yang cukup dan konsumsi makanan sesuai dengan gizi seimbang untuk meningkatkan kualitas hidup anakdi masa depan.Kata Kunci: Batu saluran kemih, anak, urolitiasis 
Penggunaan APD pada Petani yang Menggunakan Pestisida ditinjau dari Aspek Health Belief Model Iffatunnada Khalishah; Fitria Saftarina; Citra Yuliyanda Pardilawati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alat Pelindung Diri (APD) adalah sebuah alat pelindung diri yang digunakan seseorang untuk melindungi diri dari segala jenis bahaya saat melakukan pekerjaan. Bidang yang paling banyak dalam penggunaan pepstisida yaknibidang pertanian. Jumlah pepstisida di indonesia yang telah terdaftar yakni pada tahun 2006 sebanyak 166 jenis dan terus meningkat setiap tahunnya yakni pada tahun 2010 meningkat menjadi 2.628. dengan penggunaan pepstisida yang sangat besar, hal ini tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan terutama terhadap kesehatan parapetani penyemprot. Keracunan sendiri menjadi salah satu dampak yang ditimbulkan oleh adanya pepstisida yang berlebihan. Sebanyak 1 juta hingga 5 juta kasus terjadi tiap tahunnya akibat keracunan pepstisida, pernyataan tersebut berdasarkan perkiraan dari World   Health   Organisasion (WHO) serta sebanyak 80% kasus ini terjadi dinegara-negara berkembang khususnya   pada   pekerja pertanian. Berdasarkan data dari WHO yang membuktikan bahwa dampak yang ditimbulkan dari pepstisida diniai sangat fatal, karena dapat menyebabkan penyakit seperti cacat, kemandulan, gangguang hepar hingga kanker. Dengan menggunakan Alat Pelindunng Diri (APD) pada para petani bertujuan untuk mengurangi resiko-resiko terkenanya bahaya pepstisida saat menggunakannya. Sebagai negara yang berkembang dan termasuk sebagai negara agraris, membuat Indonesia memiliki penduduk yangbermayoritas sebagai petani. Dengan begitu, diharapkan adanya kemajuan produksi dibidang pertanian sehingga dapat menunjang tercapainya pembangunan nasional. Penulisan literature review ini bertujuan agar penulis dan pembaca lebih dapat memahami pentingnya penggunaan APD pada petani pestisida di Indonesia.  Kata kunci:  Alat Pelindung Diri (APD), Petani, Pestisida
Gastroesophageal Reflux Pada Anak Azzahra Gadis Junita Perdana; Shinta Nareswari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastroesophageal reflux adalah pergerakan isi lambung kembali ke kerongkongan. Hal ini merupakan fenomena normal yang terjadi berkali-kali dalam sehari baik pada anak-anak maupun dewasa, tetapi, pada bayi, beberapa faktor berkontribusi untuk memperburuk fenomena ini, termasuk diet berbasis susu cair, posisi telentang dan struktural sertaketidakmatangan fungsional gastroesofagus. Gastroesophageal reflux (GER) menjadi gastroesophageal reflux disease (GERD) ketika refluks menyebabkan gejala dan/atau komplikasi yang mengganggu seperti masalah pernapasan dan pertumbuhan yang buruk. Diagnosis penyakit ini ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang seperti Kuesioner Infant Gastroesophageal Questionnaire (I-GERD), endoskopi disertai biopsi esofagus dan pemeriksaan pH esofagus. Dalam kebanyakan kasus, tidak diperlukan pengobatan untuk gastroesophageal reflux karena kondisinya sembuh sendiri. Pemberian makan yang kental, terapi postural, dan perubahan gaya hidup harus dipertimbangkan jika regurgitasi sering dan bermasalah. Farmakoterapi harus dipertimbangkan dalam pengobatan gastroesophageal reflux disease dengan tanda bahaya (red flag) dengan pertimbangan pemberian terapi empiris Proton Pump Inhibitor (PPI) / antagonis reseptor histamin 2 (AH2). Operasi antirefluks diindikasikan untuk pasien dengan gastroesophageal reflux disease yang signifikan yang resisten terhadap terapi medis. Untuk mendiagnosis GERD dibutuhkan pemahaman yang jelas oleh dokter sehingga dapat mengatasi gejala dengan tepat, mencegah komplikasi jangka panjang,dan mengurangi kecemasan orang tua. Tinjauan pustaka ini membahas gejala, cara diagnostik dan pengobatan gastroesophageal reflux pada anak Kata Kunci: Anak, Gastroesophageal, Reflux
Efektivitas Olahraga sebagai Terapi Tambahan pada Pasien Skizofrenia Lyansaputri Salsabila; Andi Nafisah Tendri Adjeng; Nurmasuri Nurmasuri
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia adalah penyakit neuropsikiatri berat yang berhubungan dengan perubahan neurobiologis di banyak daerah otak dan organ perifer. Gejala negatif dan gejala kognitif muncul pada sekitar separuh pasien dan sulit untuk diobati, sehingga menyebabkan hasil fungsional yang tidak baik serta kecacatan jangka panjang. Terapi olahraga telah diusulkan sebagaipilihan terapi adjuvan atau primer. Olahraga yang terstruktur dan rutin diketahui memiliki pengaruh dalam memperbaiki gejala positif, negatif, kognitif pada pasien skizofrenia. Berdasarkan hal tersebut, artikel bertujuan untuk mengetahui efektivitas olahraga sebagai terapi tambahan pada pasien skizofrenia serta untuk mengetahui bagaimana olahraga dapat meringankan gejala pada penderita skizofrenia. Penelusuran pustaka dilakukan dengan penelusuran literatur secara onlinedengan menggunakan basis data elektronik yaitu PubMed NCBI dan Google Scholar dengan rentang penerbitan artikel 10 tahun terakhir (2013-2022). Hasil tinjauan pustaka didapatkan bahwa olahraga dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak serta mekanisme molekuler pada pasien skizofrenia yang berhubungan dengan fungsi motorik dan koneksi saraf yang terkait. Terapi tambahan olahraga terbukti efektif dalam meringankan gejala negatif, umum, kognisi, fungsi global, danmeningkatkan kualitas hidup pada pasien skizofrenia. Secara keseluruhan olahraga menjadi intervensi nonfarmakologis yang menarik, aman, relatif mudah dan murah, serta menjanjikan untuk memperbaiki gejala pada penderita skizofrenia.Kata Kunci: Olahraga, skizofrenia, terapi tambahan
erkembangan Terbaru Pengobatan Herbal Untuk Diabetes Melitus Tipe 2 Mutiara Fauza; Rahmat Febriawan; Suharmanto Suharmanto
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) termasuk kedalam jenis penyakit metabolik penyakit yang disebabkan oleh gangguanmetabolisme pada sistem endokrin dan ditandai dengan hiperglikemia. Sekresi insulin yang tidak memadai dan resistensiinsulin adalah dasar karakteristik patologis DMT2. Pengobatan DMT2 utamanya saat ini adalah intervensi terhadap gayahidup (asupan nutrisi dan aktivitas fisik), obat oral (biguanide, sulfonilurea, dan α-glukosidase inhibitor), obat yangdisuntikkan (seperti insulin), penanganan bedah, pengobatan komplementer serta pengobatan alternatif. Meskipunbanyak agen biologis yang telah dikembangkan untuk mengobati DMT2, obat-obatan herbal kini juga telah banyakdikembangkan dan digunakan dalam terapi DMT2. Obat herbal secara bertahap menarik perhatian. Keberadaan prosesperadangan adalah tipikal manifestasi DMT2 yang dapat menyebabkan peningkatan produksi sitokin proinflamasi,diantaranya tumor necrosis factor-α (TNF- α), interleukin-6 (IL-6), interleukin-1β (IL-1β), dan membuat kadar glukosadarah meningkat. Ekstrak M. umbellatumI dan Momordica charantia L. dapat menghasilkan efek hipoglikemik padapenderita diabetes. Tinospora cordifolia dapat meningkatkan aktivitas Superoksida Dismutase (SOD) yang memilikimanfaat mencegah masuknya radikal bebas ke dalam tubuh. Ekstrak Morus alba L. secara efektif dapat mengurangkadar serum TG, TC, dan LDL dalam Model tikus DMT2. Ephedra sinica efektif menurunkan glukosa darah puasadenganmengubah komposisi mikrobiota usus.Kata Kunci: Diabetes melitus tipe 2, obat herbal