cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Literature Review Diagnosis Dan Tatalaksana Trikiasis Nadhira Yasmin; Agustyas Tjiptaningrum; Muhammad Yusran
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trikiasis adalah kelainan margin kelopak mata di mana arah pertumbuhan bulu mata tidak normal . Pertumbuhan bulu mata terarah ke bagian dalam menuju bola mata. Trikiasis dapat menyebabkan iritasi mata. Trikiasis merupakan kondisi yang didapat dan bukan kogenital. Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari trikiasis adalah abrasi kornea dan ulkus kornea karena pertumbuhan bulu mata yang mengarah ke bola mata sehingga bulu mata bergesekkan dengan kornea dalam waktu yanglama. Metode penelitian ini dimulai dengan melakukan penelusuran artikel di Google Scholar, PubMed dan NCBI dalam rentang tahun yang telah ditentukan oleh peneliti serta menggunakan kata kunci trikiasis, diagnosis trikiasis, tatalaksana trikiasis. Hasil penelitian ini menemukan diagnosis trikiasis dapat dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.Tatalaksana yang dapat dilakukan pada trikiasis tergantung pada jumlah bulu mata yang terlibat. Penggunaan Soft Contact Lense Base Curve, pencabutan bulu mata dan tindakan bedah merupakan tatalaksana dari trikiasis.  Kata kunci: diagnosis, tatalaksana, trikiasis
Mekanisme Kerusakan Otak akibat Konsumsi Alkohol Sayidina Umar Achfisti; Anggraeni Janar Wulan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minuman beralkohol merupakan salah satu minuman yang dapat menyebabkan ketergantungan dan paling sering disalahgunakan di seluruh dunia. Intoksikasi alkohol dapat menyebabkan defisit neurokognitif  dan kerusakan dari sel saraf yang berkaitan dengan neuroinflamasi dan neurodegenerasi. Manifestasi utama dari alkoholisme adalah atrofi dari saraf kortikal, degenerasi atau hilangnya dendrit, yang menyebabkan pembesaran pada ventrikel lateral, penipisan kortikal pada lobus temporan, dan sel glial yang sedikit pada korteks temporal dan frontal. Kerusakan otak akibat etanol umumnya disebabkan oleh respon stres oksidatif dari sitokin proinflamatori yang teraktivasi saat intoksikasi alkohol. Saat stres oksidatif, kadar oksidan lebih tinggi dibantingkan antioksidan. ttanol dapat dengan mudah melewati kebanyakan membran biologis. Alkohol di dalam tubuh dimetabolisme menjadi asetaldehil melalui tiga enzim, alkohol dehidrogenase (ADH), katalase, dan sitokrom P450 ( CYP2t1). Otak tidak memiliki ADH, sehingga metabolisme alkohol di otak difasilitasi oleh CYP2t1. Produksi SOR akibat alkohol spesifik pada metabolisme etanol oleh CYP2t1, yang memproduksi H2O2, superoksida, dan radikal bebas dalam saraf setelah paparan eta nol. Aktivasimikroglia yang tidak terkendali dapat menyebabkan produksi faktor berlebihan yang dapat menyebabkan kerusakan saraf.Kata kunci: Alkohol, Otak, Stres Oksidatif, Mikroglia, Sawar Darah Otak  
Uji Toksisitas Akut Dosis Tunggal Ekstrak Etanol Daun Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium Walp.) Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley Menggunakan Guideline Uji OECD NO. 423 Syafira Alifia Audiani; Waluyo Rudiyanto; Ety Apriliana; Susianti Susianti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak daun pucuk merah memiliki aktivitas farmakologi diantaranya antioksidan, antibakteri, antijamur dan antivirus. Pengujian toksisitas dilakukan untuk mengukur derajat kerusakan akibat suatu senyawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis toksik dan pengaruh dosis toksik ekstrak etanol daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium Walp.) terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) menggunakan guideline uji OECD No. 423. Ekstrak daun pucuk merah diberikan secara oral sebanyak satu kali dengan dosis yang telah ditentukan (fixed dose) berdasarkan guideline OECD No.423 yaitu 5, 50, 300, dan 2000 mg/kgBB secara bertahap dengan dosis awal 2000 mg/KgBB. Setelah pemberian dosis, hewan coba diamati selama 24 jam untuk melihat adanya kematian. Jika terdapat 2-3 kematian, dosis selanjutnya diturunkan menjadi 300 mg/KgBB. Namun, apabila pada dosis 2000 mg/KgBB hanya terdapat 0-1 kematian maka dosis akan dinaikkan ke 5000 mg/KgBB. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan histopatologi ginjal pada kelompok kontrol, 2000mg/kgBB, dan 5000mg/kgBB. Dosis toksik ekstrak daun pucuk merah sebesar 5000mg/kgBB yang termasuk dalam zat hampir tidak toksik. Darihasil pengamatan mikroskopik didapatkan adanya kerusakan berupa pelebaran ruang bowman dan lumen tubulus, akumulasi sel debris, vakuolisasi, kariomegali dan perdarahan. Terdapat pengaruh dosis toksik pemberian ekstrak daun pucuk merah terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih berdasarkan guideline uji OECD no.423Kata kunci: Ekstrak Daun Pucuk Merah, Histopatologi Ginjal, OECD No. 423, Uji Toksisitas Akut
Literature Review: Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) Terhadap Pengobatan Penderita Tuberkulosis (TB) Tias Adhe Setyaningrum; Novita Carolia; M. Ricky Ramadhian; Rasmi Zakiah Oktarlina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang kerap menjadi perhatian global. Spesies kuman penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2021, tuberkulosis dinobatkan sebagai penyakit menular paling mematikan pada urutan kedua di dunia setelah Covid-19. Dan berada pada urutan ke tiga belas sebagai faktor penyebab utama kematian di seluruh dunia.  Prevalensi tuberkulosis pada tahun 2021 di dunia diperkirakan mencapai 10,6 juta kasus, dengan 6 juta kasus adalah pria dewasa, 3,4 juta kasus adalah wanita dewasa dan kasus lainnya adalah anak-anak. Di Indonesia sendiri tuberkulosis menduduki posisi ketiga dengan kasus sebanyak 397.377 orang pada tahun 2021. Insidensi kasus tuberkulosis di Indonesia adalah 354 per 100.000 penduduk, yang artinya setiap 100.000 orang di Indonesia terdapat 354 orang di antaranya yang menderita tuberkulosis. Salah satu penyebab kegagalan terapi penyakit tuberkulosis adalah terjadinya resistensi kuman terhadap obat anti tuberkulosis. Salah satu upaya untuk mendampingi pengobatan penderita tuberkulosis supaya penyakitnya sembuh, tidak menularke orang lain dan dapat mencegah menjadi penderita tuberkulosis MDR bahkan tuberkulosis XDR (Extra Drug Resistance) adalah adanya Pengawas Menelan Obat (PMO). Peran seorang PMO sendiri adalah mengawasi penderita tuberkulosis agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur, mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak, dan memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien jika mempunyai gejala-gejala yang mengarah pada penyakit tuberkulosis. Kata kunci: Pengawas Menelan Obat, resisten, tuberculosis
Zat Metabolit Sekunder dan Penyembuhan Luka: Tinjauan Pustaka Wildan Kautsar Irawan; Evi Kurniawaty; Rodiani Rodiani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat metabolit sekunder adalah penentu utama aktivitas farmakologis suatu bahan alam. Penelitian terkini berhasil  mengungkapkan mekanisme kerja dari berbagai zat metabolit sekunder, salah satunya adalah perannya dalam membantu penyembuhan luka. Zat metabolit sekunder tumbuhan membantu penyembuhan luka pada fase hemostasis, fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodelling melalui berbagai mekanisme. Aktivitas zat metabolit sekunder yang berperan dalam membantu penyembuhan luka adalah aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba.  Kata kunci: Metabolit sekunder, penyembuhan luka.
Potensi Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steen.) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi: Tinjauan Pustaka Yusnita Eka Rahayu; Helmi Ismunandar; Hanna Mutiara
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh yang menyusun 16% dari total berat badan manusia dengan berat rata-rata sekitar 4 kg dan luas permukaan sekitar 1,8m2. Luka didefinisikan sebagai rusaknya integritas epitel suatu jaringan. Kerusakan ini juga  dapat melibatkan jaringan subepitel termasuk dermis, fasia, dan otot. Luka dapat disebabkan olehtrauma fisik seperti terobek, tersayat, atau tertusuk (luka terbuka) dan oleh trauma benda tumpul yang akan menyebabkan memar (luka tertutup). Meskipun terdapat banyak pilihan obat kimia seperti antibiotik, anti-inflamasi, maupun analgesik yang tersedia untuk pengobatan luka, sebagian besar pengobatan tersebut sering menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan sehingga sangat dianjurkan untuk beralih  menggunakan pilihan bahan alami sebagai pengobatan luka. Daunbinahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) merupakan salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai penyembuh luka dengan berbagai macam sediaan WIJAYANTI. Kandungan ekstrak daun binahong yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka adalah saponin, tanin, terpenoid, alkaloid, dan flavonoid.Kata Kunci: Binahong, Penyembuhan Luka, Luka Insisi
Potensi HIF2a-Inhibitor (Mk-6482) Sebagai Terapi Kuratif Clear Cell Renal Cell Carcinoma Herina Azzahra; Evi Kurniawaty; TA Larasati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Renal cell carcinoma terdiri atas lebih dari 10 subtipe histologis, dengan clear cell renal cell carcinoma (ccRCC) menjadi jenis yang paling banyak (80%), agresif, dan penyebab kematian paling umum. Tumor ccRCC hampir selalu mengalami mutasi inaktivasi salinan gen von Hippel-Lindau (VHL) dari ibu dan ayah. Produk gen VHL, pVHL, adalah bagian dari ligase ubiquitin E3 yang memiliki peran mendasar dalam penginderaan oksigen dengan menargetkan subunit dari faktor transkripsi heterodimerik hypoxia-inducible factor (HIF) untuk degradasi dalam kondisi normoksik. HIF2α mengaktifkan berbagai gen yang mengkode molekul yang mungkin memiliki peran kausal dalam pengembangan ccRCC, termasuk faktor pertumbuhan angiogenik VEGFA dan PDGFB. Inhibitor HIF2α (MK-6482) menghasilkan penurunan yang cepat dan nyata dalam ekspresi gen responsif HIF2α yang mengkode EPO pada semua dosis, menunjukkan keterlibatan target dan aktivitas biologis.Kata Kunci: HIF2α-inhibitor, MK-6482, Clear Cell Renal Cell Carcinoma
Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Penderita Skizofrenia Kamila Salsabila; Intanri Kurniati; Anggraeni Janar Wulan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu penyakit kejiwaan yang perlu diberikan perhatian dan penanganan yang terbaik. Stigma buruk yang terbangun dalam masyarakat mengenai orang dengan gangguan jiwa dapat memengaruhi kualitas hidup yang dimiliki oleh penderitanya. Penderita skizofrenia akan merasa kesulitan dalam menjalankan peran yang penting dalam kehidupannya, sehingga dapat menurunkan kualitas hidupnya. Oleh karena itu, dukungan langsung dari keluarga penyandang penyakit sangatlah dibutuhkan untuk mencegah terjadinya hal tersebut, sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi angka kekambuhan penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup penderita skizofrenia. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dari 12 artikel yang kemudian akan dirangkum menjadi suatu topik pembahasan dan disajikan untuk mendapatkan sebuah kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup penderita skizofrenia.Kata kunci: Dukungan keluarga, kualitas hidup, skizofrenia
Sinusitis Kronis: Definisi, Etiologi, Klasifikasi, dan Diagnosis Anindia Syafia Halimathus Sa'dyah; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis kronis merupakan sindrom klinis ditandai dengan gejala inflamasi dari mukosa hidung dan sinus paranasal yang berkelanjutan atau menetap, yaitu hidung tersumbat, lendir hidung mukopurulen, nyeri pada wajah, gangguan penghidu, atau batuk lebih dari 12 minggu. Etiologi dari sinusitis kronis bersifat multifaktorial meliputi faktor infeksi, inflamasi, atau struktural. Berdasarkan etiologinya, sinusitis kronis dapat diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder. Sinusitis kronis primer yaknipenyebab utamanya adalah peradangan pada sinus paranasal, rongga hidung, atau mukosa saluran napas, sedangkan sinusitis kronis sekunder disebabkan karena kelainan patologis lainnya yang bukan dari inflamasi rongga hidung maupun sinus paranasal. Penegakan diagnosis pada sinusitis kronis dilakukan melalui anamnesis spesifik, manifestasi klinis, dan pemeriksaan fisik yang sesuai. Manifestasi klinis pada sinusitis kronis dapat dibedakan menjadi gejala mayor dan minor. Adapun pemeriksaan fisik berupa rinoskopi anterior dan posterior, transiluminasi, dan radiologi. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: definisi, etiologi, klasifikasi, dan penegakan diagnosis. Kata Kunci:  Definisi, Diagnosis, Etiologi, Klasifikasi.
POTENSI ASTRAGALUS SEBAGAI TERAPI ADJUAN PADA PASIEN GLOMERULONEFRITIS Alfina Indah Nabila; Nabila Rayhan Yasmin
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

omerulonefritis merupakan abnormalitas pada ginjal yang memiliki kecenderungan berprogresi menjadi end-stage renal disease (ESRD). Terapi glomerulonefritis yang digunakan saat ini dinilai belum sepenuhnya efektif karena adanya kemungkinan morbiditas tambahan dan komplikasi yang dapat terjadi. Penggunaan Astragalus sebagai terapi adjuvan dapatmenghambat progresivitas glomerulonefritis. Dilakukan telaah jurnal yang diperoleh dari mesin pencari Google Scholar, Sciencedirect, PubMed, dan Springer  dengan rentang tahun publikasi 2009-2023. Jurnal yang diperoleh kemudian diseleksi untuk mendapatkan jurnal yang valid dan reliabel. Kemudian dilakukan telaah pustaka dan penulisan artikel. Astragalus membranaceus memiliki kandungan bioaktif yang mampu berperan sebagai imunomodulator. Astragalus mampu memperbaiki fungsi ginjal lewat sekresi IL-6 dan memperbaiki fibrosis interstisial ginjal. Pemberian Astragalus yang dikombinasikan dengan terapi konvensional mampu menurunkan kreatinin serum dan proteinuria. Astragalus berpotensi sebagai terapi adjuvan pada pasien glomerulonefritis.Kata Kunci: Astragalus membranaceus, glomerulonefritis, terapi.