cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 1 (2012)" : 10 Documents clear
Vitamin E Mempertahankan Kemampuan EPC yang Dipapar Glukosa Tinggi dalam Pelepasan NO dan Induksi Migrasi Sel Endotel Nugrahenny, Dian; Widodo, M Aris; Permatasari, Nur
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.234 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.2

Abstract

Peran sel progenitor endotel (EPC) dalam angiogenesis terganggu pada diabetes. Penelitian dilakukan untuk mengamati efek  vitamin  E  pada  kemampuan  EPC  yang  dipapar glukosa  tinggi  dalam melepaskan  NO dan  menginduksi  migrasi  sel endotel.  Sel mononuklear diisolasi dari darah perifer subjek sehat.  Pada hari ke-7, kultur EPC diberikan glukosa normal (5 mM) dengan atau tanpa pemberian vitamin E 22 µM atau 50 µM sebagai kontrol, atau diberikan glukosa tinggi (22 mM) dengan  atau  tanpa  pemberian  vitamin  E  22  µM  atau  50  µM  selama  24  jam.  Fungsi  EPC  dinilai  dengan  mengevaluasi  migrasi HUVEC setelah pemberian supernatan EPC. Migrasi HUVEC dinilai dengan uji migrasi wound-healing. Konsentrasi NO dan H O   EPC diukur dengan uji kolorimetrik.  Superoksid EPC dinilai dengan uji NBT .  Pemberian glukosa tinggi mengakibatkan 2 2penurunan kemampuan EPC dalam menginduksi migrasi HUVEC, penurunan NO EPC, serta peningkatan superoksid dan H O   EPC.  Pemberian  vitamin  E  50  µM  dapat  menghambat  penurunan  kemampuan  EPC  dalam  menginduksi  migrasi 2 2HUVEC,  dan  efek  ini  terkait  dengan  konsentrasi  NO,  superoksid  dan  H O   EPC.  Pemberian  vitamin  E  dapat 2 2mempertahankan kemampuan EPC yang dipapar glukosa tinggi dalam melepaskan NO dan menginduksi migrasi HUVECs melalui  hambatan  peningkatan  superoksid  dan  H O   EPC.2 2Kata  Kunci:  EPC,  glukosa  tinggi,  NO,  ROS,  vitamin  E
Epigallocatechin Gallate Menghambat Resistensi Insulin pada Tikus dengan Diet Tinggi Lemak Mawarti, Herin; Ratnawati, Retty; Lyrawati, Diana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.297 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.8

Abstract

Konsumsi Epigallocatechin Gallate (EGCG) teh hijau dilaporkan banyak bermanfaat pada upaya peningkatan kesehatan, seperti pembakaran lemak, mencegah obesitas dan sensitifitas insulin. Sehingga   teh hijau (Camelia sinensis) dari klon GMB4  dapat  dikembangkan  sebagai  agen  terapeutik  potensial  untuk  obesitas  dan  resistensi  insulin.  Penelitian  ini bertujuan   untuk  membuktikan  Epigallocatechin  Gallate  (EGCG) teh  hijau  dapat  menghambat  peningkatan  kadar  SREBP-1 jaringan  adiposa  dan  resistensi  insulin  pada  tikus  galur  wistar   jantan   yang  diberi  diet  tinggi  lemak.  Penelitian  ini  dilakukan secara  invivo  dengan  pemeliharaan  hewan  coba  selama  8  minggu  yang  dibagi  dalam  lima  kelompok  perlakuan:  (1) kelompok  kontrol  (-)  dengan  pemberian  diet  pakan  standart,  (2)  kelompok  kontrol  (+)  dengan  pemberian  diet  tinggi lemak,  (3)Pemberian  diet  tinggi  lemak+EGCG  1mg/kgBB,  (4)  Pemberian  diet  tinggi  lemak+EGCG  2  mg/kgBB,  (5) Pemberian  diet  tinggi  lemak+EGCG  8  mg/kgBB. Pakan  tikus  diberikan  secara  oral,  sedangkan  EGCG  per  sonde  1  x/hr . Metode  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  ELISA  untuk  kadar  insulin  dan  SREBP-1  jaringan  adiposa  dan spektrofotometri  untuk  glukosa  darah  puasa.  EGCG  menurunkan  lemak  viseral,  kadar  glukosa,  kadar  SREBP-1  dan resistensi insulin (HOMA-IR) (p<0,05). Penurunan kadar SREBP-1 secara signifikan sebesar 29,85%(p<0,05) pada dosis 8 mg/kgBB,  sedangkan  HOMA-IR  menurun  secara  signifikan  sebesar  33,89%  (p<0,05)  pada  dosis  8  mg/kgBB.
Hubungan Kadar TGF-β1 dan IFN-ɣ dengan Indeks Kronisitas Nefritis Lupus Jayani, Indah; Handono, Kusworini; E, Agustina Tri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.648 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.3

Abstract

Meskipun perbaikan penatalaksanaan terapi telah dilakukan dalam dua dekade terakhir , tetapi prognosis nefritis lupus tetap  tidak  memuaskan.  Oleh  karena  itu  diperlukan  suatu  biomarker  yang  dapat  menggambarkan  aktivitas  penyakit. Penelitian ini  dilakukan untuk untuk melihat peran TGF-β1 urin dan IFN-ɣ  urin sebagai biomarker engan indeks kronisitas nefritis  lupus.  Dilakukan studi  observasional selama 1 tahun pada sampel urin 25 subjek  penelitian untuk  mengetahui hubungan kadar TGF-β1 dan kadar IFN-ɣ  yang diukur menggunakan metode ELISA dengan indeks kronisitas nefritis  lupus (biopsi  ginjal).  Data  dianalisis  menggunakan  uji  t  tidak  berpasangan  dan  uji  korelasi  Pearson.  Hasil  penelitian  menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara mean kelompok kasus (nefritis lupus) yaitu (197,87±96,74) dan kelompok kontrol (lupus  non  nefritis)  (17,82±18)  pada  pengukuran  kadar  IFN-ɣ  urin,  sedangkan  TGF-β1  urin  menunjukkan  tidak  ada perbedaan yang signifikan (p=0,425)  pada kelompok kasus (34,51±11,17)  dan kelompok kontrol (30,27±5,87).  Pada uji korelasi menunjukkan ada hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kadar IFN-ɣ urin dan TGF-β1 urin (r<0,787), indeks kronisitas dengan kadar IFN-ɣ urin    (r<0,674) dan juga antara indeks kronisitas dan TGF-β1 urin(r<0,764). Dapat disimpulkan  kadar  TGF-β1  dan  kadar  IFN-ɣ  berpotensi  untuk  digunakan  sebagai  indikator  kronisitas  nefritis  lupus. Kata  Kunci:  Gamma  urin,  indeks  kronisitas,  IFN-ɣ  ,  nefritis  lupus,  TGF-β1,  urin
FENTANYLINTRATEKAL MENCEGAH MENGGIGIL PASCA ANESTESI SPINAL PADA SEKSIO SESARIA RM, Laksono; Isngadi, Isngadi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.096 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.9

Abstract

Menggigil pasca-anestesia dapat merugikan metabolisme tubuh. Salah satu cara yang diduga efektif secara farmakologis adalah dengan penambahan fentanyl  intratekal saat dilakukan anestesi spinal. Penelitian eksperimental acak tersamar ganda  dilakukan  di  kamar  operasi  RSU  dr .  Syaiful  Anwar  Malang untuk  mengetahui  efek  fentanyl  intratekal  terhadap kejadian  menggigil  pada  pasien  seksio  sesaria  dengan  anestesia  spinal.  Pasien  yang  menjalani  operasi  seksio  sesaria sebanyak  40  orang,  dibagi  secara  acak  berdasarkan  kelompok  fentanyl  20  µg  ditambahkan  pada  bupivacaine  0,5%H  10  mg dan kelompok bupivacaine  0,5%H 10 mg murni. Setelah dilakukan anestesi spinal, pasien dievaluasi dan dicatat  tiap  5 menit sampai  menit ke  60.  Kejadian  dan  intensitas  menggigil  diukur  dengan  skala  Crossley  dan  Mahajan. Hasil  kedua kelompok dibandingkan menggunakan uji t  tidak  berpasangan, uji korelasi waktu  pengukuran dan kejadian menggigil, uji fisher  exact  test,  serta  uji  ANOVA  dan  Post  Hoc  untuk  mengevaluasi  masing-masing  derajat  menggigil.  Hasil  uji  t menunjukkan  kejadian  menggigil  pada  kelompok  kontrol  lebih  tinggi  daripada  kejadian  menggigil  pada  kelompok perlakuan (p=0,002).  Uji  Fisher exact test  menunjukkan hubungan signifikan (p=0,006)  antara perlakuan dengan kejadian menggigil.  Kelompok  kontrol  risiko  untuk  mengalami  kejadian  menggigil  bila  dibandingkan  kelompok  perlakuan (OR=10,99;  95%  CI=  2,00?58,82).
Efek Stres Fisik dan Psikologis pada Kortisol, PGE , BAFF, IL-21, sIgA, dan Candidiasis 2 Vulvovaginal Mustofa, Edy
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.526 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.4

Abstract

Kandidiasis  vagina  dapat  menghasilkan  morbiditas  signifikan  terhadap  kualitas  hidup.  Stresor  dapat  mempengaruhi sistem imun ini melalui efek kerja kortisol, namun mekanismenya masih belum jelas. T ujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  apakah  peningkatan  kadar  kortisol  karena  stres  kronis  akan  meningkatkan  Kandidiasis  vulvovagina  tikus melalui  peningkatan  kadar  PGE   dan  penurunan  kadar  BAFF ,  IL-21,  serta  kadar  sIgA.  Rancangan  penelitian  ini  adalah 2eksperimental  laboratorik  post  test  only  control  group  pada  tikus  betina  Rattus  norvegicus  strain  Wistar .  Tikus  dibagi dalam kelompok kontrol positif dan negatif , kelompok perlakuan 'electric foot shock' dan paparan predator kucing pada tiga  waktu  pengamatan.  Setelah  7,  14  dan  28  hari  (kronis),  dilakukan  pemeriksaan  kadar  kortisol  plasma,  BAFF ,  IL-21,  PGE-2,  sIg  A dengan  ELISA dan   Koloni C.albicans  mukosa dengan  pengecatan  kimia.  Analisis data  diuji menggunakan  uji t  tidak berpsangan, One Way ANOVA,  Kruskal Wallis,  dan analisis jalur .  Hasil pada penelitian ini  menunjukkan bahwa pemberian rangsang  listrik  dan  paparan  predator    selama  7,  14  dan  28  hari  meningkatkan  kadar  kortisol,  PGE2,  jumlah  kandida, jumlah sel radang pada biopsi mukosa vagina, serta menurunkan kadar IL21, BAFF dan sIgA. Analisis jalur menunjukkan stres fisik  dan psikis kronis meningkatkan kortisol yang memiliki efek tidak  langsung  terhadap jumlah  Kandida melalui penurunan BAFF dan IL-21 sebesar -0,565 dan -0,447 yang akan mempengaruhi sIgA sebesar 0,460 dan 0,364 sehingga jumlah  Kandida  meningkat.
Kualitas Hidup Anak dengan Penyakit Jantung Ariani, Ariani; Novira, Rina Yuda; Yosoprawoto, Mardhani
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.922 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.10

Abstract

Anak-anak dengan  penyakit  kronis  memiliki risiko  lebih  tinggi  mengalami  gangguan  kualitas  hidup  dibandingkan  anak sehat.  T ujuan dari penelitian ini  adalah  untuk  menilai kualitas  hidup anak  dengan  penyakit  jantung  menggunakan  PedsQL (Pediatrics  Quality  of  Life).  Sampel  dipilih  secara  konsekutif  diperoleh  dari  semua  anak  dengan  penyakit  jantung  berusia  2-18 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Dr . Saiful Anwar dari periode Januari sampai Maret 2012. Semua pasien dengan  kondisi medis komorbid atau  dengan  gangguan  perkembangan  saraf  dieksklusi  sehingga  didapatkan  sampel  pada usia 2-4 tahun, PedsQL memiliki skor terendah pada kecemasan (50,0±39,03). Pada usia 5-7 tahun, nilai terendah adalah fungsi  dari  komunikasi,  sementara  berdasar  laporan  orangtua,  skor  rendah  pada  masalah  kecemasan  kontrol  dan ketakutan  saat  mengambil  obat.  Pada  usia  8-12  tahun,  skor  terendah  pada  kemampuan   pasien  dalam  melakukan  aktivitas fisik.  Pada  usia  13-18  tahun,  skor  terendah  pada  masalah  kognitif  konsentrasi  dan  kemampuan  belajar .  Tidak  ada perbedaan  signifikan  kualitas  hidup  pasien  menurut umur  dan  jenis  penyakit  jantung.  Ada  perbedaan  yang  signifikan antara jenis penyakit jantung (bawaan atau diperoleh) dengan status gizi pasien (p=0,03). Kualitas hidup pasien dengan penyakit  jantung  lebih  rendah  daripada  populasi  normal  karena  gangguan  fisik  dan  psikososial  fase  negara  kronis.Kata  Kunci:  Anak,  kualitas  hidup,  penyakit  jantung
Efek Ekstrak Etanolik Daun Sirsak pada Proliferasi dan Apoptosis Sel HeLa yang Dimediasi oleh p53 Rachmawati, Ermin; Karyono, Setyawati; Suyuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.589 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.5

Abstract

Kanker  serviks  merupakan  penyebab  utama  kedua  kematian  kanker  pada wanita  di seluruh  dunia, menyebabkan  240.000 kematian  setiap  tahunnya.  Ekstrak  daun  Annona  muricata  berpotensi  baik  sebagai  obat  anti  kanker .  T ujuan  dari  penelitian ini  adalah  untuk  mengetahui  pengaruh  ekstrak  etanol  daun  sirsak  (Annona  muricata)  dalam  menghambat  dan menginduksi  aktivasi apoptosis yang dimediasi oleh stabilisasi p53 pada pertumbuhan kanker serviks.  Sebuah percobaan in vitro dilakukan dengan menggunakan kultur sel HeLa. Penghambatan proliferasi diukur dengan MTT assay. Apoptosis dideteksi  dengan  menggunakan  flowcytometry  Annexin  V  Biotin  Kit  Apoptosis  Detection.  Konfirmasi  dan  perhitungan ekspresi  p53  ditentukan  oleh  imunocytochemistry.  Ekstrak  etanol  dari  daun  Annona muricata  secara  efektif  menghambat proliferasi sel HeLa dengan dosis tertentu pada paparan 48 jam. Nilai  IC50 ekstrak etanol daun Annona muricata adalah 111,75  ug/ml.  200  mg/ml  ekstrak  menginduksi  apoptosis  sel  HeLa  tergantung  dari  lama  pemaparan.  Ekstrak  ini  juga meningkatkan  ekspresi  p53  sel  HeLa  tergantung  dosis  pemberian  (25,  50,  100,  200  μg/ml)  dan  lama  pemberian  (24  dan  48 jam).  Dapat  disimpulkan  bahwa  ekstrak  etanol  daun  sirsak  menghambat  pertumbuhan  sel  HeLa  dan  menginduksi apoptosis.  Mekanisme  ekstrak  daun  sirsak  menghambat  proliferasi  dan  apoptosis  inducing  berhubungan  dengan stabilisasi  dan  aktivasi  p53.Kata  Kunci:  Daun  Annona  muricata,  apoptosis,  ekstrak  etanol,  proliferasi,  ekspresi  p53
Pengaruh Jenis Insisi pada Operasi Katarak terhadap Terjadinya Sindroma Mata Kering S, Retnaniadi; P, Herwindo Dicky
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.67 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.6

Abstract

Katarak merupakan penyakit dengan insiden  tinggi pada mata dengan penanganan operatif pada kornea yang berisiko menimbulkan sindroma mata kering. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis insisi pada operasi katarak terhadap  terjadinya  sindroma  mata  kering  (SMK).  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  analitik  observasional  pada  36 sampel yang dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan jenis insisi pada operasi katarak, yaitu kelompok Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE), kelompok Small Incision Cataract Surgery (SICS), dan kelompok fakoemulsifikasi. Kuesioner Ocular  Surface  Disease  Index  (OSDI),  T es  Schirmer,  tes  (MGD),  tes  Ferning,  tes  T ear  Break  Up  Time  (TBUT)  dilakukan sebelum operasi dan setelah operasi. Dilakukan analisa statistik untuk mengetahui adanya hubungan antara jenis insisi pada  operasi  katarak  terhadap  terjadinya  sindroma  mata  kering.  Didapatkan  31  sampel  yang  mengalami  SMK  pasca operasi  katarak,  dengan  12  (38,7%)  sampel  pada  kelompok  ECCE  11  (35,5%)  sampel  pada  kelompok  fakoemulsifikasi  yang mengalami  SMK,  dan  sebanyak  8  (25,8%)  sampel  pada  kelompok  SICS  yang  mengalami  SMK.  T erdapat  hubungan  signifikan antara  jenis  insisi  pada  operasi  katarak  dengan  terjadinya  SMK  (p=0,018). Kata  Kunci:  Insisi,  mata  kering,  operasi  katarak
Mekanisme Kerja Benalu Teh pada Pembuluh Darah AS, Nour Athiroh; Permatasari, Nur
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.06 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.1

Abstract

Secara garis besar ada dua jenis  penatalaksanaan  terhadap hipertensi yaitu menggunakan obat-obatan dan non obat. Adapun penatalaksanaan secara non obat, salah satunya dengan terapi   herbal dengan memanfaatkan benalu teh dari famili  Loranthaceae  misalnya  (Viscum  album,  Dendrophtoe  pentandra  (L.)  Miq, Scurrula  parasitica,  Scurulla  oortiana,  dan Macrosolen javanus)  yang  berpotensi  sebagai  antihipertensi  (vasodilator). Mekanisme  kerja  dari flavonoid  benalu teh sebagai vasodilator karena peran otot polos dan endotel pembuluh darah. Pada umumnya   pengobatan hipertensi yaitu pada    organ  target  pembuluh  darah  (sistem  vaskular).  Flavonoid  benalu  teh  dalam  hal  ini  quercetin  mampu  bekerja langsung pada otot polos pembuluh arteri dengan menstimulir atau mengaktivasi Endothelium Derived Relaxing Factor(EDRF) sehingga menyebabkan vasodilatasi. Beberapa penelitian tentang pengaruh flavonoid tanaman teh pada fungsi endotel bahwa kandungan dari flavonoid yaitu polifenol dapat meningkatkan aktivitas dari Nitric Oxide Synthase (NOS) pada  sel  endotel  pembuluh  darah.  Quercetin  mempunyai  potensi  meningkatkan  produksi  Nitric Oxide  (NO)  di  sel  endotel. Zat  aktif  tersebut  mampu  mensintesa  NO  dalam  endotel  dan  berdifusi  secara  langsung  ke  otot  polos  selanjutnya merangsang guanylate cyclase untuk membentuk cGMP sehingga terjadi vasodilatasi.
Hubungan antara Stres Oksidatif dengan Kadar Hemoglobin pada Penderita Thalassemia/Hbe Tamam, Moedrik; Hadisaputro, Suharyo; Sutaryo, Sutaryo; Setianingsih, Iswari; Djokomoeljanto, Djokomoeljanto; Soemantri, Ag
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.57 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.7

Abstract

Pemberian  transfusi  darah  kronik  pada  penderita  thalassemia  dapat   menyebabkan  kelebihan  kadar  besi.  Kelebihan  kadar besi  bebas  dalam  tubuh  akan  memacu  timbulnya  oksidan  berupa  reactive  oxygen  species   (ROS)  yang  diukur  dalam  bentuk malondialdehide  (MDA).  Peningkatan  produksi  ROS  dapat  menyebabkan  kerusakan  membran  sel  yang  mengandung senyawa lipid    termasuk eritrosit. T ujuan penelitian ini  adalah untuk menilai hubungan antara kadar MDA serum dengan kadar Hb penderita thalassemia. Metode penelitian ini  adalah penelitian observasional kohort prospective dilaksanakan di  UTD  PMI  Kota  Semarang.  Selama  bulan  Januari  2006  sampai  dengan  Desember  2009  dijumpai  32  penderita  thalassemia/HbE.  Variabel  penelitian kadar Hb dan MDA   serum.  Pengukuran dilakukan sebelum  transfusi  ke-1, setelah transfusi  ke-1 dan sebelum transfusi  ke-2. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney,  uji Wilcoxon  dan uji korelasi Spearman. Rerata  umur  subjek  penelitian  adalah  9,5±  3,13  tahun,  laki-laki  adalah  25  orang  (46,9%)  dan  perempuan  17  orang  (53,1%). Status  gizi  43,8  %  termasuk  gizi  kurang.  Kadar  MDA   kelompok   Hb  sebelum  transfusi  ke-2  8  g/dL  2,89±0,451  dan  kelompok Hb  >8  g/dL  2,19±0,792  (p=0,01).  Ada  korelasi  negatif  antara  Hb  sebelum  transfusi  ke-2  dengan  MDA  (r=min  0,52;  p=0,002). Dapat  disimpulkan  ada  korelasi  negatif  antara  kadar  MDA  serum  dengan  kadar  Hb  pada  penderita  thalassemia  /HbE. Kata  Kunci:  Hemoglobin,  MDA,  stres  oksidatif ,  thalassemia  /HbE

Page 1 of 1 | Total Record : 10