cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
DISTRIBUSI MAST CELL PADA MESENTERIUM TIKUS N Ibrahim, Mohamad; Widjajanto, Edi; Rosita, Rita
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.153 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.02.2

Abstract

Mast cell are derived from haematopoietic progenitors in the bonemarrow. Developing mast cell subsequently migrate to peripheral tissues, such as the skin, mucosa and air way, where they terminate their differentiation under  the  influence  of  factors  in  the  tissue  micro-enviroment.  This  study  aimed  to  know  distribution  and strucutre of mast cell on rat mesentery. The mesentery was stained with a 1 % safranine solution or toluidine blue  on  the  a  pepared  slide.  The  prepared  slides  were  immediately  viewed  by  a  observer  through  a microscope.  The  result  showed  that  mast  cells  stained  with  safranine  or  toluidine  blue  were  closely associated with postcapillary in the rat mesentery. Keywords : mast cell, mesentery
TRANSFEKSI DNA KE DALAM MITOKONDRIA SEL BETA PANKREAS TIKUS DAN SEL PRIMER MYOBLAST MANUSIA: LANGKAH MENUJU REKAYASA DNA MITOKONDRIA DAN TERAPI GEN Lyrawati, Diana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 3 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.104 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.03.1

Abstract

The delivery of an exogenous or modified DNA into the mitochondria of mammalian cells has been proposed as an alternative way to prevent or modify mitochondrial genetic defect. In  this study, a lipofection method was developed to transfer exogenous DNA into mitochondria of BRIN BD11 cells, a rat beta pancreas cell line, and human myoblast primary cells. An artificial mini-mitochondrial genome carrying a reporter gene encodes for a mitochondrial green fluorescent protein (mtGFP) was usedto track the fate of the exogenous DNA following its transfection into cellular mitochondria. Epifluorescence microscopic observation was carried out to detect the green fluorescence resulted from the GFPexpression. Immunohistochemical assays were also performed to validate and confirm the GFP expression. Collectively, the results indicate that the exogenous DNA pmtGFP could be  delivered into the mitochondrial compartment and was functional withinthe mitochondria of BRIN BD11 and human myoblast cells. Such achievement is a significant progress as both the artificial DNA construct and the mitochondrial transfection method could serve as a model to study the dynamic of mutant mtDNA as well as to provide a basis for the development of gene therapy for human mitochondrial diseases. Key words: DQAsome, pmtGFP, beta pancreas cell line, human myoblast primary cells
Pengobatan Suportif Vitamin D Mempercepat Konversi Sputum dan Perbaikan Gambaran Radiologis Penderita T uberkulosis Siswanto, Siswanto; Sumarno, Sumarno; Jane, Yani; Widayanti, Oeryana Agustin; Muktiati, Nunuk Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.068 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.03.6

Abstract

Pulmonary T uberculosis remains  as a major health problem in  South East Asia as well as Indonesia.  The failure  of  tuberculosis  treatment  is  mostly  due  to  drop-out  and  multiple  drugs  resistant.  Previous  study  showed that  Vitamin  D  increase  the  intracellular  cathelicidin  which  has  potency  to  kill  the  Mycobacterium tuberculosis. This research was aimed to identify the effect of Vitamin D as supportive treatment  on the improvement of sputum  conversion,  radiographic  finding  and  TNF-α  serum  concentration.  A  Double-blind randomized  control trial  was  used  in  two  random  allocated  patient  group  with  standard  tuberculosis  treatment.   The  first  group  was treated  with Vitamin  D (800  iu/day)  while the  other was not. Subjects were evaluated using three  parameters i.e.  sputum  conversion,  radiographic  finding  and  TNF-α  serum  concentration.  Compared to  the  group  without vitamin  D  supplementation,  group  with  vitamin  D  has  higher  proportion  of  sputum  conversion  in  the  first  month (67%    vs. 34%, p=0,04) and second month (95%  vs. 77%, p=0,18).    Improvement  in  radiographic  findings  in the  group with vitamin D is  also higher in  the  first  month (67%  vs. 18%, p=0,02) and second month (76%    vs. 45%,  p=0,06).    There is  a  significant  difference  in  the  level  of  25-dihidroxyvitamin  D between  two  groups (p=0,00). However,  there  is  no significant difference in  the  level  of TNF-α between two  groups (p=0,76) after two  months.
Tingkat Keberhasilan Dakriosistorinostomi Eksternal di RS Saiful Anwar Malang Malik, Fattahillah; Shintiya D, Debby
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.827 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.9

Abstract

Dakriosistorinostomi eksterna masih menjadi pilihan tindakan terhadap keluhan epifora karena stenosis atau obstruksi duktus nasolakrimalis dengan tingkat keberhasilan yang dilaporkan tinggi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dakriosistorinostomi dengan intubasi silikon yang telah dilakukan di RS Saiful Anwar Malang selama tahun 2006 – 2012 dengan mengevaluasi data rekam medik. Enam belas pasien termasuk dalam kriteria inklusi penelitian, jumlah pasien perempuan 10 orang (62,5%) sedangkan laki-laki berjumlah 6 orang (37,5%). Kelompok usia terbanyak yang menjalani operasi adalah 21-30 tahun berjumlah 4 orang (25%), patologi terbanyak adalah dakriosistitis kronis berjumlah 7 pasien (43,8%). Hasil dari pemeriksaan anel tes didapatkan komplet obstruksi pada 14 pasien (87,5%), dilakukan operasi terbanyak pada mata kiri dengan 75%. Silikon intubasi dipasang pada semua pasien dengan lama intubasi terpasang terbanyak selama 6 bulan atau lebih sebesar 56,2%. Evaluasi keluhan mata berair pasca operasi dan anel tes pasca operasi didapatkansebesar 87,5% tanpa keluhan subjektif lagi dengan pada anel tes tidak didapatkan obstruksi ataupun regurgitasi baik total maupun parsial. Tingkat keberhasilan dakriosistorinostomi eksterna dengan intubasi silikon di RS Saiful Anwar cukup baik sehingga dapat menjadi pilihan utama manajemen obstruksi duktus nasolakrimalis.Kata Kunci: Dakriosistorinostomi eksterna, intubasi silikon, obstruksi duktus nasolakrimal
Infeksi Cacing Tidak Berpengaruh terhadap Kadar Transforming Growth Factor (TGF)-β dan Kejadian Dermatitis Atopik pada Anak Mukhasin, Nadiah Soleman; Wahyuni, Sitti; Ilyas, Faridha S; Amin, Safruddin; Satriono, R; Tabri, Farida
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.152 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.10

Abstract

Infeksi cacing melalui kemampuannya memacu proliferasi sel T regulator dilaporkan dapat mempengaruhi manifestasi klinik dari alergi. Selain Interleukin (IL)-10, Transforming Growth Factor (TGF)-β merupakan sitokin yang di lepaskan oleh sel T regulator. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh infeksi cacing terhadap kejadian dermatitis atopik (DA) melalui TGF-β. Penelitian ini dilakukan di beberapa rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Dermatitis atopik (DA) didiagnosis dengan menggunakan kriteria William, ada dan beratnya infeksi cacing diperiksa dengan metode Kato Katz dan kadar TGF-β serum diukur menggunakan metode ELISA.  Sebanyak 80 anak usia 2-7 tahun berpartisipasi pada penelitian ini. Partisipan dibagi menjadi kelompok DA (30 anak) dan non-DA (50 anak). Persentasi infeksi cacing adalah 21,2% (17/80) dengan intensitas infeksi yang ringan. Infeksi cacing tidak mempengaruhi kadar TGF-β, demikian juga infeksi cacing serta kadar TGF-β tidak mempengaruhi kejadian DA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa infeksi cacing dengan intensitas ringan tidak mempengaruhi kadar TGF-β maupun kejadian DA pada anak di Makassar.Kata Kunci: Dermatitis atopik, infeksicacing, TGF-β
Pengaruh Pemberian Propolis terhadap Ekspresi INOS dan Kadar MDA pada Otak Tikus Model Cedera Otak Traumatik Damayanti, Ria; Fitri, Loeki Enggar; Dalhar, Mochamad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.02.3

Abstract

Propolis memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat, dengan menetralisir berbagai radikal bebas dalam tubuh seperti seperti ROS dan reactive nitrogen species (RNS) dan menurunkan ekspresi dari nitric oxide synthase (NOS) dan mencegah kerusakan DNA, sehingga propolis memiliki potensi sebagai alternatif terapi dalam menurunkan ekspresi iNOS dan menurunkan radikal bebas yang diukur melalui kadar MDA pada cedera otak traumatik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian propolis dalam berbagai dosis pada ekspresi iNOS dan MDA di otak tikus Rattus norvegicus model traumatik. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu: kontrol negatif, kontrol positif, kelompok model trauma dan diberi perlakuan propolis masing-masing dosis 50mg, 100mg, dan 200mg per kgBB/hari. Pada akhir penelitian, tikus dikorbankan dan dibuat preparat otak untuk menilai ekspresi iNOS dan kadar MDA. Berdasarkan hasil analisa statistik, didapatkan hubungan yang signifikan antara ekspresi iNOS dan kadar MDA otak tikus model traumatik dengan berbagai dosis propolis (secara berurutan, Kruskal Wallis p=0,001; ANOVA p=0,000 (p<0,05)). Penelitian ini membuktikan bahwa propolis berpengaruh dalam penurunan ekspresi iNOS dan kadar MDA di otak tikus model traumatik.Kata Kunci: Cedera otak traumatik, iNOS, MDA, propolis
Prevalensi dan Pola Sensitivitas Enterobacteriaceae Penghasil ESBL di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Anggraini, Dewi; Sholihin, Uswathun Hasanah; Savira, Maya; Djojosugito, Fauzia Andrini; Irawan, Dino; Rustam, Ruza Prima
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.9

Abstract

Resistensi antibiotik merupakan masalah besar baik di rumah sakit maupun di masyarakat, resistensi menyebabkan pilihan terapi infeksi menjadi terbatas. Prevalensi resistensi antibiotik cenderung makin meningkat, salah satu diantaranya adalah bakteri ESBL (extended spectrum beta lactamases), suatu kelompok bakteri penghasil enzim yang dapat menghidrolisis antibiotik beta laktam yang mengandung grup oxyimino seperti sefalosporin generasi satu sampai ketiga dan aztreonam. Penelitian ini  dilakukan secara deskriptif retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui prevalensi ESBL pada Klebsiella pneumoniae dan Escherichia coli, serta pola sensitivitasnya di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Data diambil dari hasil kultur bakteri dan uji resistensi antibiotik dari berbagai spesimen klinik yang diperiksa di Laboratorium Mikrobiologi RSUD Arifin Achmad selama tahun 2015. Uji ESBL dilakukan dengan alat VITEK 2 compact yang membandingkan antara proporsi penurunan pertumbuhan bakteri terhadap antibiotik sefalosporin saja dengan antibiotik kombinasi sefalosporin ditambah asam klavulanat. Hasil penelitian menunjukkan ESBL-K. pneumoniae sebesar 66,2%, dan ESBL-E. coli 62,2%, dan total rata-rata pada kedua bakteri 65,2%. Prevalensi ESBL-K. pneumoniae dan ESBL-E. coli paling tinggi berasal dari ruangan Instalasi Perawatan Intensif Anak dan berasal dari spesimen sputum dan pus, namun secara statistik tidak didapatkan perbedaan bermakna proporsi ESBL positif dan negatif berdasarkan asal ruangan dan jenis spesimen. Sensitivitas ESBL-K. pneumoniae dan ESBL-E. coli paling baik dengan antibiotik golongan karbapenem, amikasin dan tigesiklin. Penelitian ini menunjukkan tingginya prevalensi K. pneumoniae dan E. coli penghasil ESBL di RSUD Arifin Achmad dibanding beberapa rumah sakit rujukan nasional dii Indonesia. Saran untuk menurunkan angka ESBL dengan cara mencegah transmisi melalui penerapan kewaspadaan kontak dan kewaspadaan berbasis transmisi, aspek pencegahan dan pengendalian infeksi dan peningkatkan rasionalisasi penggunaan antimikroba harus dilakukan.
Identifikasi Polimorfisme rs72626594 Gen BMP7 pada Penderita Karies Gigi Purwoko, Mitayani; Anggina, Dientyah Nur
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.03.9

Abstract

Karies gigi adalah demineralisasi substansi anorganik pada permukaan gigi akibat bakteri atau kebiasaan makan dan minum. Karies gigi dapat timbul akibat adanya kerentanan genetik maupun akibat faktor lingkungan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya asosiasi antara polimorfisme gen tertentu dengan timbulnya karies gigi, salah satunya adalah gen Bone Morphogenetic Protein 7 (BMP7). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme rs72626594 gen BMP7 pada penderita karies gigi di Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang diperoleh langsung dari 15 subjek yang dipilih dari populasi umum di kota Palembang melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan biologi molekuler. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan oleh dokter gigi untuk mendiagnosis riwayat karies gigi. DNA diambil dengan cotton bud steril dengan mengusap bagian dalam masing-masing pipi sebanyak tiga kali. DNA dipurifikasi menggunakan kit buatan pabrik. DNA kemudian diamplifikasi menggunakan PCR untuk kemudian di-sequencing. Dari hasil pemeriksaan biologi molekuler diperoleh seluruh sampel kasus dalam penelitian ini memiliki alel G yaitu alel wildtype. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek penderita karies gigi memiliki alel yang umum terdapat di populasi. Meskipun BMP7 dikenal sebagai gen yang berperan dalam pembentukan gigi namun saat ini belum dapat dipastikan apakah BMP7 benar terlibat dalam kejadian karies gigi atau tidak. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai asosiasi antara polimorfisme dengan kejadian karies gigi.
Kombinasi Ekstrak Batang Talikuning dan Artemisin sebagai Obat Antimalaria terhadap Plasmodium berghei Muti'ah, Roihatul; Enggar F, Loeki; Winarsih, Sri; Soemarko, Soemarko; Simamora, Dorta
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.931 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.6

Abstract

ABSTRAKMalaria, penyakit menular dengan tingkat kematian yang tinggi sekarang menghadapi penurunan kemanjuran obat obat pilihan pertama yaitu kombinasi artemisin dan amodiaquine. Talikuning (Anamirta cocculus), adalah jamu tradisional yang secara empiris digunakan sebagai antimalaria di Papua telah disarankan untuk meningkatkan efektivitas kombinasi obat antimalaria. Talikuning batang dan akar mengandung alkaloid kuartener yang dianggap memiliki aktivitas fisiologis sebagai antimalaria. Penelitian ini bertujuan untuk memahami efek antimalaria dari ekstrak batang talikuning dan kombinasinya dengan artemisin pada derajat parasitemia mencit terinfeksi Plasmodium berghei. Peritoneal tikus yang terinfeksi dengan Plasmodium berghei ANKA 106 dan dibagi menjadi 11 kelompok perlakuan, kontrol negatif, kontrol positif; artemisin dosis 0,04 mg / g BB; talikuning dosis: 0,001 mg / g BB; 0,01 mg / g BB; 0, 1 mg / g BB, dan 1 mg / g BB. Dan kombinasi artemisin talikuning dosis: 0,001 mg / g BB; 0,01 mg / g BB, 0,1 mg / g BB; and1 mg / g BB. Pengobatan dimulai pada hari 0 di mana derajat parasitemia mencapai 5-15% dan dilanjutkan selama 7 hari, observasi parasitemia dilakukan pada hari 3, 5 dan 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak talikuning induk  bisa menghambat pertumbuhan Plasmodium berghei secara signifikan (p <0,05) terhadap kontrol dengan ED50 dari 0,043 mg / g BB tikus yang setara dengan 4,7 mg / kg BB manusia. Namun demikian, kombinasi dosis-talikuning artemisin tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan pengobatan monoterapi artemisin (p> 0,05) baik pada hari 3, 5 dan 7 hari pasca terapi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi-talikuning artemisin tidak berbeda dari penyediaan artemisin monoterapi.Kata Kunci : Antimalaria,  artemisin, derajat parasitemia, Plasmodium berghei, talikuning
EVALUASI HASIL PELATIHAN DAN PENDIDIKAN UNTUK PENANGANAN PRA RUMAH SAKIT TERHADAP PENDERITA CEDERA Soemarko, M.
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 2 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.202 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.02.9

Abstract

ABSTRACT The  purpose  of  organized  trauma  system  management  of  pre  hospital  care  of  seriously  injured  patients  is  to  ensure  the  early intervention and transfer savely the patients to the best equipped facility to care of their injuries. The aims this research is to evaluate the results and the effectiveness of the training and education of pre hospital management in Saiful Anwar Hospital.  The method this research are an observational study of injured traffic accident patients preHospital care in Saiful Anwar General Hospital Malang. Training and education have been done intensively and continuously after August 1999 until now. The comparation was between 1st April until 31st Juli 1999 and 1st April until 31st Juli 200. The result of this research, a significant progress in pre hospital treatment, ambulance transportation and communication between field attendance and the trauma center. But significantless of progression in pre hospital medical records. Only reveral system from health center was significant developed. The intensive training and education of pre hospital management to the injured patient had a significant good results. The training and education must be continued and developed for a better results in the future.  Key words : Injured patients, pre hospital care, training and education.