cover
Contact Name
Editor Jurnal Pesastra
Contact Email
jurnalpesastra@uho.ac.id
Phone
+6282357107013
Journal Mail Official
editor@pesastra.com
Editorial Address
Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JURNAL PESASTRA ( PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA)
ISSN : -     EISSN : 30477859     DOI : 10.36709
JURNAL PESASTRA merupakan jurnal yang dapat diakses secara terbuka. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Ruang lingkup artikel yang dimuat meliputi: (1) pembelajaran bahasa asing dan bahasa Indonesia; (2) linguistik; (3) linguistik terapan; serta (4) sastra dan pembelajaran sastra.
Articles 65 Documents
TUNTAS SECARA INDIVIDU, BELUM TUNTAS SECARA KLASIKAL: POTRET KESULITAN MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN SISWA KELAS XII SMA: Individually Achieved but Not Classically Mastered: A Portrait of Difficulties in Writing Job Application Letters among Twelfth-Grade High School Students Irmayanti; La Ode Adili; Marwati
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.45

Abstract

Kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai siswa sekolah menengah atas karena berkaitan dengan kesiapan memasuki dunia kerja dan penggunaan ragam bahasa formal. Namun, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa dalam menulis surat lamaran pekerjaan secara tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan siswa kelas XII SMA Negeri 2 Kulisusu serta memetakan letak kesulitan yang dialami siswa pada setiap aspek penilaian. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 92 siswa yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui tes menulis surat lamaran pekerjaan dan dianalisis berdasarkan aspek struktur surat, isi surat, dan kaidah kebahasaan. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase kemampuan siswa pada setiap aspek untuk menentukan tingkat ketuntasan individual dan klasikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77,17% siswa telah mencapai ketuntasan secara individual, namun kemampuan menulis surat lamaran pekerjaan belum memenuhi ketuntasan klasikal. Kesulitan siswa paling menonjol terdapat pada penyusunan alinea pembuka, penutup surat, pengembangan isi surat, serta penggunaan kaidah kebahasaan. Aspek kebahasaan menjadi kelemahan paling signifikan, terutama dalam penggunaan bahasa baku, kalimat efektif, serta ketepatan ejaan dan tanda baca. Temuan ini menunjukkan adanya ketimpangan antara ketuntasan individu dan ketuntasan klasikal serta menegaskan bahwa kemampuan berbahasa formal masih menjadi kendala utama dalam penulisan surat lamaran pekerjaan. Penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai distribusi kemampuan siswa dan dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran menulis surat resmi yang lebih efektif dan kontekstual.
PEMETAAN KESULITAN SISWA DALAM MENULIS TEKS IKLAN PADA SISWA KELAS VIII: Mapping Students’ Difficulties in Writing Advertisement Texts among Eighth-Grade Students Mega Virginia; Fahruddin; Andi Muh. Ruum Sya'baan
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.67

Abstract

Keterampilan menulis teks iklan merupakan bagian penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena menuntut kemampuan siswa menyampaikan informasi secara jelas, persuasif, dan komunikatif. Namun, dalam praktik pembelajaran, siswa masih menghadapi berbagai kesulitan dalam menyusun teks iklan yang sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor kesulitan siswa dalam menulis teks iklan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wawonii Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 31 siswa yang dipilih melalui teknik total sampling. Data diperoleh melalui tes menulis iklan yang dinilai menggunakan rubrik penilaian berdasarkan lima aspek, yaitu informasi iklan, penggunaan kalimat imperatif, penggunaan kalimat persuasif, penentuan sasaran iklan, dan kreativitas. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kuantitatif melalui perhitungan skor dan persentase pada setiap aspek penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks iklan siswa masih tergolong rendah, dengan tingkat ketuntasan klasikal hanya mencapai 22,58%, sedangkan 77,41% siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Kesulitan utama siswa terdapat pada penggunaan kalimat imperatif (90,32%), kalimat persuasif (87,09%), penentuan sasaran iklan (83,87%), serta penyampaian informasi iklan (67,74%). Meskipun demikian, seluruh siswa menunjukkan kemampuan yang baik pada aspek kreativitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesulitan menulis teks iklan tidak disebabkan oleh kurangnya ide, melainkan oleh keterbatasan penguasaan unsur kebahasaan, pemahaman fungsi bahasa persuasif, serta kemampuan menyesuaikan pesan iklan dengan sasaran pembaca. Hasil penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai faktor-faktor kesulitan siswa dalam menulis teks iklan yang dapat menjadi dasar dalam merancang strategi pembelajaran menulis yang lebih efektif dan kontekstual.
DI MANA LETAK KESULITAN SISWA? MENELUSURI FAKTOR PENGHAMBAT KEMAMPUAN MENULIS TEKS PROSEDUR SISWA KELAS VII MTS: Where Do Students Struggle? Tracing the Inhibiting Factors in Writing Procedure Texts among Seventh-Grade Students of MTs Asma Dwi Mahmudah; Sri Suryana Dinar; La Ode Akhiri Zulzaman
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.81

Abstract

Kemampuan menulis teks prosedur merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena menuntut siswa mampu mengorganisasi gagasan, memahami struktur teks, serta menerapkan kaidah kebahasaan secara tepat. Namun, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa dalam menulis teks prosedur. Penelitian ini bertujuan memetakan kemampuan menulis teks prosedur serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat kemampuan tersebut pada siswa kelas VII. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 24 siswa. Data dikumpulkan melalui tes menulis teks prosedur yang dianalisis berdasarkan aspek struktur teks, ciri kebahasaan, dan aspek mekanik penulisan. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase ketuntasan belajar secara individual dan klasikal serta menelaah tingkat ketuntasan pada setiap aspek penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 64,58% siswa telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 35,41% siswa belum tuntas. Aspek langkah-langkah menjadi bagian struktur yang paling dikuasai siswa, sementara aspek pendahuluan dan penutup masih menunjukkan tingkat ketidaktuntasan tinggi. Pada aspek kebahasaan, penggunaan kalimat perintah relatif dikuasai siswa, tetapi penggunaan kalimat larangan dan adverbia masih menjadi kendala. Aspek mekanik, khususnya penggunaan ejaan dan tanda baca, merupakan kelemahan utama dengan tingkat ketidaktuntasan sebesar 95,83%. Temuan ini menunjukkan bahwa kesulitan menulis teks prosedur dipengaruhi oleh faktor internal seperti keterbatasan kosakata, kesulitan mengembangkan ide, dan rendahnya minat menulis, serta faktor eksternal berupa strategi pembelajaran yang belum optimal. Penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai letak kesulitan siswa yang dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran menulis teks prosedur yang lebih efektif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
KEMAMPUAN MENULIS TEKS NARASI SISWA KELAS VII SMP: The Ability of Seventh-Grade Students to Write Narrative Texts Wa Ode Nambe; Sri Suryana Dinar; La Tike
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.104

Abstract

Kemampuan menulis teks narasi merupakan salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena menuntut kemampuan siswa dalam mengembangkan ide, menyusun alur cerita, serta menerapkan kaidah kebahasaan secara tepat. Namun, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa dalam menulis teks narasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menulis teks narasi siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kendari serta mengidentifikasi letak kesulitan yang dialami siswa dalam proses penulisan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 168 siswa. Data dikumpulkan melalui tes menulis teks narasi yang dianalisis berdasarkan aspek struktur teks dan aspek kebahasaan. Struktur teks narasi meliputi orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda, sedangkan aspek kebahasaan meliputi kesesuaian isi dengan judul, pemilihan diksi, penggunaan huruf kapital, serta tanda baca. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase kemampuan siswa pada setiap aspek penilaian untuk memetakan letak kesulitan menulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks narasi siswa belum mencapai ketuntasan secara klasikal, dengan persentase ketuntasan sebesar 51,78% dan 48,22% siswa belum tuntas. Kesulitan siswa paling menonjol terdapat pada penyusunan resolusi dan koda, kesesuaian isi cerita dengan judul, serta penerapan kaidah kebahasaan, khususnya pemilihan diksi, penggunaan huruf kapital, dan tanda baca. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa relatif mampu memulai dan mengembangkan konflik cerita, tetapi masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan cerita secara runtut dan menggunakan bahasa tulis secara tepat. Penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai letak kesulitan siswa dalam menulis teks narasi yang dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran menulis yang lebih efektif dan berorientasi pada penguatan struktur teks serta kaidah kebahasaan.
REPRESENTASI CINTA DALAM LIRIK LAGU HATI-HATI DI JALAN KARYA TULUS: KAJIAN SEMIOTIK SAUSSURE: Representation of Love in the Song Lyrics “Hati-Hati di Jalan” by Tulus: A Saussurean Semiotic Study Elok Yulia; Evlyn Rara Pramesty; Naila Dwi Maida Husniyyah; Nona Alfiah; Rika Istianingrum
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.139

Abstract

Lirik lagu sebagai teks kultural memuat sistem tanda yang merepresentasikan pengalaman emosional manusia, salah satunya pengalaman cinta. Lagu Hati-Hati di Jalan karya Tulus menghadirkan narasi cinta yang tidak berhenti pada romantisme kebersamaan, tetapi juga memuat pengalaman kehilangan dan penerimaan. Penelitian ini bertujuan mengungkap konstruksi makna cinta yang dibangun melalui sistem tanda dalam lirik lagu tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure yang menelaah hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Data penelitian berupa teks lirik lagu Hati-Hati di Jalan yang dianalisis melalui tahap identifikasi tanda, klasifikasi relasi penanda–petanda, serta interpretasi makna secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi cinta dalam lagu tersebut terbentuk melalui rangkaian tanda kebahasaan yang menggambarkan perjalanan emosional hubungan, meliputi fase pertemuan, munculnya harapan, pengalaman kebersamaan, hingga perpisahan dan penerimaan. Penanda seperti bertemu, kita, bersama, tak bersama, dan melanjutkan perjalanan membangun makna cinta sebagai proses dinamis yang tidak selalu berakhir pada kepemilikan, tetapi menekankan kedewasaan emosional, empati, dan keikhlasan dalam merelakan. Temuan ini menegaskan bahwa semiotika Saussure mampu menjelaskan proses pembentukan makna dalam lirik lagu sekaligus memperlihatkan bahwa teks musik populer dapat merepresentasikan pengalaman cinta secara reflektif dan realistis. Penelitian ini memperkaya kajian semiotika dalam analisis lirik lagu Indonesia.
Narrative Structure and Local Wisdom Values in Muna Children's Stories: A Study of Pa Ode bhe Nosi and Kafotalo Kosibaribarihantomu: Struktur Naratif dan Nilai Kearifan Lokal dalam Cerita Anak Daerah Muna: Kajian Pa Ode Bhe Nosi dan Kafotalo Kosibaribarihantomu Wa Ode Nirwana; Irianto Ibrahim; Saidiman; Nur Israfyan Sofian
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pesastra May 2026 Issue
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i2.155

Abstract

This study aims to analyze the narrative structure and local wisdom values in two Muna children’s stories, namely Pa Ode bhe Nosi (Pak Ode dan Nosi) by Nurjannah Tamil and Kafotalo Kosibaribarihantomu (Kemenangan Bersama) by Rikar Karim. The study employs a library research design with a descriptive qualitative approach. The data consist of narrative excerpts, dialogues, and descriptions of events purposively selected from the two texts. Data collection was conducted through intensive reading, note-taking, coding, and classification based on William Labov’s narrative structure model, while local wisdom values were analyzed using qualitative content analysis. The findings reveal that both stories contain complete narrative components, namely abstract, orientation, complicating action, evaluation, resolution, and coda. Pa Ode bhe Nosi highlights the values of responsibility, care, affection, cultural honor, and commitment to preserving the traditional horse attraction performance, whereas Kafotalo Kosibaribarihantomu represents the values of mutual cooperation, perseverance, social care, friendship, and the preservation of the traditional game kalego. Both stories demonstrate that modern Muna children’s literature is not merely a medium of entertainment but also a text that organizes cultural values through coherent narrative patterns. This study offers a synthetic reading model that connects William Labov’s narrative structure with the transmission of local wisdom, thereby strengthening studies of regional children’s literature, character education, and the preservation of Muna culture.
Language Acquisition of Children Aged 2.0–2.6 Years in Lapolea Village: A Psycholinguistic Study: Pemerolehan Bahasa pada Anak Usia 2,0–2,6 Tahun di Desa Lapolea: Kajian Psikolinguistik Asni Sasnita; Sulfiah; La Ode Adili
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pesastra May 2026 Issue
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i2.165

Abstract

This study aims to describe the language acquisition of children aged 2.0–2.6 years in Lapolea Village from a psycholinguistic perspective, focusing on phonological, morphological, phrasal, sentential, and semantic development. The study employed a descriptive qualitative design with a case study approach involving two children: Azahra Riskiani, aged 2 years and 6 months, and Muhamad Rizki Azmi Rahman, aged 2 years and 5 months. The data consisted of the children’s natural utterances collected through observation, listening, note-taking, audio recording, and contextual interviews with parents over a two-week period. Data were analyzed through transcription, reduction, coding based on linguistic categories, data presentation, interpretation, and verification through parental confirmation. The findings indicate that both children had acquired the basic vowels /a/, /i/, /u/, /e/, and /o/, most consonant sounds, free morphemes, nominal phrases, verbal phrases, adjectival phrases, prepositional phrases, as well as declarative, imperative, interrogative, and simple negative sentence forms. Azahra demonstrated relatively longer and more complex utterances, whereas Rizki predominantly used single words or short phrases; however, the intended meanings of his utterances remained comprehensible. Semantically, both children were able to adjust their utterances according to contextual meanings. The study concludes that the language acquisition of both children is within the expected developmental range for their age, although individual differences are evident and influenced by articulatory maturity and the intensity of social interaction. This research contributes empirical data on child language acquisition in a rural setting, particularly in Lapolea Village, thereby enriching psycholinguistic studies of Indonesian children and providing useful references for parents, early childhood educators, and researchers in child language development.
Slang in the Comment Column of TikTok Social Media Account @FADILJAIDI: Bahasa Gaul dalam Kolom Komentar Media Sosial TikTok Akun @FADILJAIDI Isna; Fahruddin; Amirudin Rahim
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pesastra May 2026 Issue
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i2.166

Abstract

This study aims to identify the forms, contextual meanings, communicative functions, and scientific contribution of slang used in the comment column of the TikTok account @fadiljaidi. The study employed a qualitative descriptive design with a sociolinguistic and digital discourse perspective. The data consisted of documented comment excerpts containing slang in several @fadiljaidi videos uploaded in November 2025. Data were collected through observation, documentation, screenshot archiving, and note-taking. Data analysis was conducted by reducing the corpus, coding slang units, classifying morphological forms, interpreting contextual meanings, and comparing the findings with prior studies and relevant theories. The results show that slang appears in acronyms, abbreviations, contractions, clippings, reversal forms, informal pronouns, phonological variation, and phatic expressions. The findings also reveal four dominant functions: creating intimacy, producing humor, evaluating the creator's action, and strengthening digital group identity. The study concludes that slang in TikTok comments is not merely a nonstandard language practice but a patterned form of digital vernacular creativity. The scientific contribution of this study lies in the typological-functional synthesis of TikTok slang that links word-formation processes, contextual meaning, and digital social affiliation in Indonesian sociolinguistic studies.  
Indonesian Sentence Patterns of Five-Year-Old Children at Dharma Wanita Maperaha Kindergarten, Sawerigadi District, West Muna Regency: Pola Kalimat Bahasa Indonesia Anak Usia 5 Tahun di TK Dharma Wanita Maperaha Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat Sarmel; La Yani Konisi; Rachman
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pesastra May 2026 Issue
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i2.168

Abstract

The ability to construct sentences is a key indicator of syntactic development in early childhood language acquisition, particularly in bilingual environments where children negotiate the use of a local language and Indonesian. This study aims to describe the Indonesian sentence patterns produced by five-year-old children at Dharma Wanita Maperaha Kindergarten (TK Dharma Wanita Maperaha), Sawerigadi District (Kecamatan Sawerigadi), West Muna Regency (Kabupaten Muna Barat). This research employed a qualitative descriptive field design. The data consisted of children's oral utterances obtained from nine five-year-old children through observation, note-taking, and audio recording. The data were transcribed, reduced, classified, and analyzed using syntactic function analysis based on the categories of subject and predicate in Indonesian grammar. The findings show three major patterns: Subject (S), Predicate (P), and Subject-Predicate (S-P). Predicate-centered utterances were the most dominant, indicating that children tend to prioritize actions, commands, prohibitions, or communicative intentions while omitting explicit subjects. Subject-only utterances appeared as nominal or pronominal fragments, whereas S-P utterances showed the emergence of minimal complete clauses. The study concludes that the syntactic development of five-year-old children in this context is still dominated by elliptical and context-dependent structures, but it has moved toward the formation of more complete clauses. The scientific contribution of this study lies in proposing a three-layer mapping of early Indonesian syntax in a bilingual kindergarten context: nominal topic fragments, predicate-centered elliptical utterances, and emerging minimal clauses.  
The Representation of Women’s Resilience and the Construction of Moral Values in the Novel Soe Isabel by M. Tiyasaa: Representasi Ketegaran Perempuan dan Konstruksi Nilai Moral dalam Novel Soe Isabel Karya M. Tiyasaa Wa Ode Risnayanti; Aris Badara; Yunus
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Pesastra May 2026 Issue
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i2.170

Abstract

This study aims to describe the representation of women’s resilience and analyze the construction of moral values in the novel Soe Isabel. The research employs a descriptive qualitative design using a moral approach and the perspective of female character representation. The data source is the novel Soe Isabel, published by Yrama Widya in 2019, while the data consist of words, phrases, sentences, dialogues, and narrative passages that reflect women’s resilience and moral values. Data were collected through reading, marking, and note-taking techniques using data cards as research instruments. The data were analyzed through identification, reduction, classification, presentation, interpretation, and conclusion drawing. The findings reveal that women’s resilience is represented through the protagonist’s endurance in facing family loss, her ability to cope with loneliness, her determination in making life choices and maintaining personal beliefs, and her willingness to establish empathetic social relationships. Moral values are constructed through three major forms of relationships: the religious relationship between humans and God, the personal relationship with oneself, and the social relationship with others. The study concludes that morality in Soe Isabel is not presented merely as a set of normative teachings but as a process of self-formation shaped by experiences of grief, acceptance, perseverance, and compassion. This research contributes to the development of Indonesian literary studies by integrating moral value analysis with the representation of women’s resilience, thereby broadening the understanding of morality as a narrative process and a gendered experience in literary works.