cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 288 Documents
BETWEEN RESISTANCE AND NEGOTIATION: MATERIAL CULTURE TRANSLATION INTO ARABIC OF GADIS KRETEK NOVEL Muhamad Saiful Mukminin; Sajarwa
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1068

Abstract

The present research aims to analyze patterns of resistance and negotiation in the translation of material cultural elements from the novel Gadis Kretek by Ratih Kumala into Arabic in Mohammad Ramadhan’s translation, Fatatu as-Sajair. The data analyzed consist of material cultural terms such as physical objects, food, clothing, and other cultural products closely related to the life of Indonesian society, especially Javanese culture and the kretek industry. The research methods used are qualitative descriptive, comparative, and interpretative. Data collection was carried out through documentation, involving reading and noting the material cultural terms appearing in the source and target texts. Data analysis includes data reduction, data display, and drawing conclusions. The results show patterns of resistance in the categories of culinary, buildings, transportation, accessories, and household appliances, where the translator maintains the original terms through transliteration or general equivalents, without cultural adaptation. Negotiation patterns were found in the categories of culinary, buildings, transportation, clothing, accessories, and household appliances, in which the translator provides adaptation or descriptive explanations to make it easier for Arabic readers to understand. Factors influencing these patterns include the absence of direct equivalents, efforts to preserve the original cultural values, cultural differences, and the target readers’ level of familiarity. In conclusion, the translation of material culture in this novel demonstrates a balance between preserving cultural authenticity and facilitating cross-cultural understanding.
PEMALIQ: FENOMENA MASYARAKAT PENUTUR BAHASA SASAK LOMBOK UTARA M. Aris Akbar
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1102

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika perubahan penggunaan pemaliq sebagai salah satu produk budaya masyarakat Sasak Bayan di Lombok Utara. Pemaliq yang merupakan bentuk larangan atau pantangan dalam tradisi lisan Sasak, mengalami transformasi makna, bentuk, dan praktik seiring perkembangan zaman. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain keterbukaan masyarakat terhadap budaya luar, perkembangan teknologi, serta perubahan cara pandang generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model etnografi, serta memanfaatkan teori perubahan budaya Malinowski dan teori linguistik antropologi Foley untuk menganalisis pergeseran makna dan praktik pemaliq dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan pemaliq tercermin dalam penggantian istilah lokal dengan istilah nasional, penyesuaian perilaku berdasarkan perkembangan zaman, serta hilangnya sebagian bentuk dan nilai pemaliq akibat difusi budaya modern. Kendati demikian, pemaliq masih memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya, menjaga norma sosial, serta merepresentasikan pandangan hidup masyarakat Sasak Bayan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian dan revitalisasi nilai-nilai pemaliq agar tetap relevan dengan konteks kehidupan modern tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
KAJIAN BUDAYA LOKAL BAHASA NGAPAK DALAM FILM KARYA PELAJAR DI FESTIVAL FILM PELAJAR PURBALINGGA Abdul Wachid Bambang Suharto; Aufannuha Ihsani; Teguh Trianton
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1138

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk mengungkapkan tentang kajian budaya lokal bahasa ngapak dalam film karya pelajar di Festival Film Purbalingga, serta mengungkapkan nilai-nilai budaya dalam bahasa ngapak yang dikonstruksi dalam narasi visual film karya pelajar di Festival Film Purbalingga. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa representasi bahasa ngapak dalam film fiksi pelajar yang diputar di Festival Film Pelajar Purbalingga (FFP) memperlihatkan kerja kultural yang tidak sederhana: pelajar bukan hanya “merekam” budaya yang ada, tetapi memilih, menata, dan mengarahkan unsur‑unsurnya agar berfungsi sebagai jantung dramatik. Literatur budaya Banyumas menegaskan bahwa identitas Banyumasan menubuh pada bahasa ngapak, kuliner, relasi keseharian, serta etos peseduluran; elemen‑elemen itu memang paling kuat terasa pada skala domestik dan komunal yang kecil. Kedekatan visual (proximity) berfungsi sebagai taktik otentifikasi. Nilai-nilai budaya lokal dalam bahasa ngapak yang dikonstruksi dalam narasi visual film karya pelajar di Festival Film Purbalingga. Secara konseptual, pembacaan nilai bertumpu pada tiga landasan. Pertama, konsepsi bahasa ngapak dalam budaya Banyumas sebagai himpunan praktik dan etos yang menubuh dalam bahasa, kuliner, ruang komunal, dan jejaring peseduluran—alih-alih berhenti pada ritual besar. Poros pertama memperlihatkan nilai relasional yang bekerja di ruang domestik dan komunal: peseduluran, unggah-ungguh/tepa selira, dan ekonomi moral. Kedua, bahasa yang muncul mewujud dalam objek, gestur, dan ritme suara sebagai petunjuk nilai—karena film bekerja lewat pengalaman inderawi, bukan ceramah. Ketiga, konteks ekosistem FFP—layar tanjleb, kelas, komunitas—yang membingkai bahasa dapat diproduksi, dibaca, dan dinegosiasi dalam forum warga. Poros ketiga merangkum nilai perawatan (care), literasi kultural di era digital, serta ruang budaya sebagai mediator nilai.
REPRESENTASI KESADARAN EKOLOGIS SEBAGAI UPAYA KELANGSUNGAN HIDUP MASYARAKAT DALAM NOVEL KISAH GANJIL PELAUT DAN KETURUNANNYA Zidni Ilma; Wirayudha Pramana Bhakti; Ambar Hermawan
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1206

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi kesadaran ekologis sebagai strategi bertahan hidup dalam novel Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya karya Dewanto Amin Sadono. Permasalahan penelitian berfokus pada bagaimana kesadaran ekologis dibangun melalui pengalaman tokoh utama, Taslani dan Caslani, yang tinggal di daerah pesisir Pekalongan Utara, lingkungan yang ditandai dengan kelimpahan biota laut dan ancaman ekologis seperti abrasi dan gelombang ekstrem. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bentuk-bentuk kesadaran ekologis dan strategi bertahan hidup yang dibentuk oleh hubungan intensif tokoh-tokoh tersebut dengan lingkungan pesisir. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sastra ekokritik. Data dikumpulkan melalui pembacaan teks secara saksama, berfokus pada deskripsi naratif, dialog, dan simbol ekologis, dan dianalisis secara interpretatif untuk mengkaji hubungan manusia-alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alam digambarkan sebagai entitas aktif yang menentukan hidup dan mati. Kesadaran ekologis dimanifestasikan dalam praktik-praktik konkret, termasuk pelestarian vegetasi pesisir melalui penanaman jelatang dan dedalu, pembatasan kegiatan penangkapan ikan saat gelombang tinggi, dan penggunaan mitos lokal Dewi Lanjar sebagai mekanisme adaptasi budaya. Tubuh Caslani, yang dibentuk oleh kerja fisik dan pertemuan berulang dengan laut, berfungsi sebagai arsip hidup dari pengetahuan ekologis praktis. Studi ini menyimpulkan bahwa kesadaran ekologis dalam novel tersebut tidak hanya beroperasi sebagai wacana tetapi juga sebagai praktik etis dan adaptif yang membimbing kelangsungan hidup, menyoroti peran strategis sastra dalam mendokumentasikan pengalaman ekologis yang dialami.
CODE-SWITCHING PATTERNS ACROSS SASAK DIALECT ZONES: A CORPUS-BASED SOCIOLINGUISTIC ANALYSIS Titik Ceriyani Miswaty; Fahry Fahry
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1236

Abstract

This study investigates code-switching patterns across different Sasak dialect zones in Lombok Island, employing a corpus-based sociolinguistic approach. The Sasak language, spoken by approximately 3.5 million people in Lombok, exhibits significant dialectal variation distributed across five recognized dialect zones: Ngeno-Ngene, Meno-Mene, Ngeto-Ngete, Kuto-Kute, and Meriak-Meriku. Despite increasing scholarly attention to Sasak dialectology, the phenomenon of code-switching between Sasak dialects and Indonesian—particularly across different dialect zones—remains underexplored. This research addresses two main questions: (1) what are the dominant code-switching patterns in each Sasak dialect zone, and (2) what sociolinguistic factors influence the variation in code-switching behavior across these zones. Data were collected from a geographically-tagged digital corpus comprising 12,480 utterances gathered from 156 speakers across 26 observation points in Lombok. The analysis employed Poplack's (1980) typology of code-switching (tag-switching, inter-sentential, and intra-sentential) combined with Myers-Scotton's (1993) Markedness Model. The findings reveal that inter-sentential switching is the most prevalent type across all dialect zones (48.3%), followed by intra-sentential (34.7%) and tag-switching (17.0%). Significant variation was found across dialect zones, with urban-adjacent zones (Ngeno-Ngene) exhibiting higher rates of intra-sentential switching, while peripheral zones (Meriak-Meriku) showed greater preference for tag-switching. The results suggest that geographical proximity to urban centers, speaker age, and education level are the primary sociolinguistic factors driving code-switching variation across Sasak dialect zones.
ANALISIS WACANA KRITIS KONFLIK TRUMP-ZELENSKY DI BBC NEWS ARABIC DENGAN KERANGKA VAN LEEUWEN Ariq Najmi Rihandy; Misbahus Surur; Lia Anggraini
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1277

Abstract

Konflik diplomatik antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Februari–Maret 2025 menjadi salah satu isu politik internasional yang mendapat perhatian luas media global, termasuk BBC News Arabic. Sebagai media, pemberitaan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun representasi terhadap aktor sosial melalui pilihan bahasa tertentu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi eksklusi dan inklusi serta menganalisis representasi aktor sosial dalam pemberitaan konflik Trump–Zelensky di BBC News Arabic berdasarkan teori representasi aktor sosial Van Leeuwen. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK). Data penelitian berupa enam teks berita berbahasa Arab yang dipublikasikan BBC News Arabic pada periode Februari–Maret 2025 dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis melalui model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BBC News Arabic menggunakan tiga strategi eksklusi, yaitu supresi, pasivasi, dan nominalisasi, serta tujuh strategi inklusi, yaitu individualisasi, identifikasi, kategorisasi, asosiasi, diferensiasi, indiferensiasi, dan objektivasi. Strategi eksklusi digunakan untuk mengaburkan atau mengurangi visibilitas aktor maupun proses tertentu, sedangkan strategi inklusi digunakan untuk menampilkan identitas, kategori, relasi, dan posisi aktor sosial dalam peristiwa yang diberitakan. Temuan ini menunjukkan bahwa representasi aktor sosial dibangun melalui berbagai pilihan kebahasaan yang mengarahkan perhatian pembaca pada aspek tertentu dari konflik diplomatik tanpa menghilangkan keberadaan aktor utama secara keseluruhan.
REPRESENTASI KOTA SURABAYA DALAM SIARAN RADIO “SUARA SURABAYA”: ANALISIS WACANA KRITIS FAIRCLOUGH Arizqa Novi Ramadhani; Ni Wayan Sartini
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1291

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi Kota Surabaya dalam siaran radio Suara Surabaya program Kelana Kota. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, data berupa tuturan penyiar dan kontributor dikumpulkan melalui perekaman pada 1–8 Desember 2025, lalu dianalisis menggunakan paradigma Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Secara tekstual, wacana didominasi oleh isu lalu lintas, kriminalitas, dan dampak cuaca yang dibentuk melalui fitur kebahasaan seperti diksi, eufemisme, nominalisasi, dan modalitas. Pada dimensi praktik wacana, produksi teks melibatkan penyiar selaku wakil lembaga media dan kontributor sebagai wakil masyarakat, dengan distribusi yang dikelola oleh penyiar melalui pembingkaian narasi untuk menjaga prinsip keberimbangan. Pada dimensi sosiokultural, diskursus mengenai tata ruang kota mencerminkan konstruksi evaluasi dan ekspektasi kritis masyarakat terhadap pengelolaan tata ruang publik. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi pengambil kebijakan untuk mengevaluasi penanganan isu spasial di Surabaya, serta memberikan implikasi teoretis bagi pengembangan riset pustaka mengenai AWK pada media radio interaktif.
Sampul Depan Mabasan 20 (1) Jurnal Mabasan
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1332

Abstract

X