cover
Contact Name
Sarwinda Intan Putri
Contact Email
sarwindaintan96@uho.ac.id
Phone
+6281245849917
Journal Mail Official
journalcelebica@uho.ac.id
Editorial Address
https://celebica.uho.ac.id/index.php/journal/about/editorialTeam
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : 27231909     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/jc.v2i2
Core Subject : Agriculture, Social,
Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia merupakan jurnal online open akses enam bulanan yang diterbitkan oleh Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini fokus untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan pemikiran di bidang Kehutanan. Hasil Penelitian kehutanan yang dipublikasikan dalam jurnal ini mencakup bidang Manajemen Hutan, Sosial Ekonomi Kehutanan, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Teknologi Pemanfaatan Hasil Hutan, Silvikultur dan Konservasi Sumberdaya Hutan
Articles 92 Documents
The Implementation of Collaborative Activities between Forest Farmer Groups (KTH) and Gularaya Forest Management Unit (KPH) in Community Forest in Ambololi Village , Konda Sub district, South Konawe Regency Hafidah Nur; Satya Agustina Laksananny; La Ode Agus Salim Mando; Sitti Marwah; waode maratun shaliha
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the factors that influence and types of collaboration between Forest Farmer Groups (KTH) and Forest Management Units (KPH) Gularaya in community forests in Ambololi Village, Konda District, South Konawe Regency.Community involvement in forest management is very important to improve the sustainability of productivity and welfare of local communities. This study uses aqualitative descriptive method with primary data obtained through observation, interviews, and questionnaires from 30 KTH members. The results of the study indicate that the factors that influence collaboration between KTH and KPH consist of internal factors such as knowledge, education, farming experience, and number of family dependents, as well as external factors such as extension activities, culture, and access to information, play an important role in the collaboration. The types of collaboration found include planning, decision making, activity implementation, technical and financial support, access to facilities, and marketing of forest products. This collaboration is important to maximize the sustainable use of forest resources by combining local knowledge and technical expertise from KPH Gularaya.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DESA KAKENAUWE KECAMATAN LASALIMU KABUPATEN BUTON: IDENTIFIKASI PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DESA KAKENAUWE KECAMATAN LASALIMU KABUPATEN BUTON La Ode Agus Salim Mando; Ryan Fadly Paripurna; Agus Setiawan; Niken Pujirahayu; Abigael Kabe; Mariana Zainun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Medicinal plants are plants that are used to reduce, eliminate or cure certain diseases through traditional treatment. This research was carried out from July to August 2024. This research aims to identify types of medicinal plants around the Kakenauwe Nature Reserve Area and find out how medicinal plants are used by the people of Kakenauwe Village. This research uses a purposive sampling method with data collection techniques through observation, interviews and literature study. The research data were analyzed descriptively and presented in the form of descriptions and tables. The results of the research identified 24 types of medicinal plant species belonging to 22 families with the Asteraceae family being the most widely used by the people of Kakenauwe Village and most of their habitus consisting of 5 types of trees, 1 type of shrub, 4 types of lianas, 3 types of shrubs, 3 types of epiphytes. , and 8 types of herbs and plant parts are more widely used, namely leaves and different ways of processing plants in terms of healing, namely applying topically, drinking or boiling, dripping and chewing. Keywords: Application, Kakenauwe Nature Reserve, Medicinal Plants
Soil Carbon Storage Potential in Campus Green Spaces: A Case Study At Campus 2 Of Muhammadiyah University of Palangkaray: POTENSI SIMPANAN KARBON TANAH PADA RUANG TERBUKA HIJAU KAMPUS : STUDI KASUS DI KAMPUS II UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA Ardiyansyah Purnama; Mariaty Mariaty; Norma Wijayanti
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Global climate change has increased attention to soil carbon storage as one of the mitigation efforts. This study aims to assess the potential of soil carbon storage in the green open space of Campus II of Muhammadiyah University of Palangkaraya. The research was conducted in March-July 2024 using 15 plots with a 20x20 m plot method. Parameters analyzed included soil bulk density, porosity, soil pH, C-organic content, and soil carbon storage. The results showed that the average bulk density value was 1.46 g/cm³, with a porosity of 55.84%. The average soil pH value was 5.1, classified as acidic. The highest C-organic content was found in plots 13 and 14, at 5.73% and 5.69% respectively. Plot 10 had the highest carbon storage at 6888 tons/ha, supported by high C-organic content, optimal stand density, and minimal human disturbance. This study shows that green open space management that considers soil and vegetation characteristics can increase carbon storage, in line with the green campus concept for climate change mitigation.
IDENTIFIKASI STAKEHOLDER DALAM RENCANA PEMULIHAN EKOSISTEM TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) NIPA-NIPA, SULAWESI TENGGARA Anas Nikoyan; Salahuddin; Yusran; Alamsyah Flamin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pemulihan ekosistem di kawasan Tahura Nipa-Nipa Kendari merupakan suatu kegiatan multi tahun yang berkelanjutan. Kegiatan ini memerlukan peran multi pihak (stakeholder) untuk mewujudkan kegiatan tersebut. Penelitian ini berujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran stakeholder dalam pemulihan ekosistem di taman Hutan Raya Nipa-Nipa Sulawesi Tenggara. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitataif dengan Teknik wawancara dan diskusi kelompok terfokus (FGD) yang melibatkan masyarakat lokal. Pemerintah daerah, LSM dan pihak swasta. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sekitar wilayah Tahura memiliki ketergantungan pada sumberdaya hutan untuk mata pencaharian, Analisis stakeholder mengungkapkan adanya potensi konflik antara kepentingan pemanfaatan hutan untuk ekonomi lokal dan upaya pelestarian lingkungan, namun juga terdapat peluang untuk kolaborasi melalui program ekowisata yang dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak ekosistem. Penelitian ini menekankan pentingnya melibatkan semua pihak seperti masyarakat, pemerintah, LSM, dan pihak swasta dalam rencana pemulihan ekosistem di T.aman Nasional Hutan Raya Nipa-Nipa Sulawesi Tenggara
PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN HUTAN SERTA NILAI KURS TERHADAP PDRB SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN DI PROVINSI LAMPUNG Faldo Titus Nugroho Nugroho; samsul Bakri; Hari Kaskoyo; Rudi Hilmanto
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) subsektor tanaman pangan di Provinsi Lampung memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian daerah. Namun, kinerjanya dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan ekonomi, seperti perubahan tutupan lahan, curah hujan, dan nilai tukar mata uang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan tutupan hutan dan lahan, curah hujan, serta fluktuasi nilai tukar terhadap PDRB subsektor tanaman pangan di Provinsi Lampung. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Lampung pada Januari hingga Februari 2025. Data yang digunakan meliputi citra satelit Landsat untuk analisis tutupan lahan, data curah hujan dari NASA POWER, serta data PDRB subsektor tanaman pangan dan nilai tukar rupiah dari Badan Pusat Statistik (BPS). Metode yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan perangkat lunak Minitab untuk mengukur hubungan antara variabel-variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas hutan rakyat, sawah, dan permukiman memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB subsektor tanaman pangan, dengan koefisien masing-masing sebesar 1,064, 0,792, dan 1,010. Curah hujan juga berpengaruh positif dengan koefisien 0,983. Sebaliknya, nilai tukar mata uang berpengaruh negatif, di mana setiap kenaikan 1% dalam nilai tukar menyebabkan penurunan PDRB sebesar 0,09368. Sementara itu, hutan negara, pertanian campuran, dan perkebunan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap PDRB subsektor tanaman pangan. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya optimalisasi hutan rakyat dan lahan sawah dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Pengelolaan curah hujan yang baik juga diperlukan untuk menjaga stabilitas hasil pertanian. Selain itu, kebijakan stabilisasi nilai tukar diperlukan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap sektor pertanian.
RAGAM TANAMAN PENYUSUN DENGAN SISTEM AGROFORESTRY DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PANGAN DI ZONA UTARA BATUR AGUNG, DESA SEMOYO, GUNUNGKIDUL Rosalia Silaban; Mitha Rabiyatul Nufus; Jenike Gracelya Noke; Eusabius Paul Pega; La De Ahmaliun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola pemanfaatan lahan hutan rakyat di Kabupaten Gunungkidul terdiri atas tiga kategori utama, yaitu hutan (wono), tegalan, dan pekarangan. Di antara ketiganya, tegalan dan pekarangan merupakan lahan yang paling sering dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan. Pengelolaan hutan rakyat dengan sistem Agroforestry memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan lokal. Agroforestry merupakan sistem penggunaan lahan yang mengintegrasikan tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan (tahunan) dalam satu kesatuan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ragam tanaman pangan yang tumbuh pada lahan hutan rakyat. Lokasi penelitian berada di pekarangan dan tegalan milik petani di zona utara Batur Agung, Desa Semoyo, Kabupaten Gunungkidul. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi melalui pendekatan sensus. Ragam tanaman pangan yang teridentifikasi meliputi kelompok penghasil karbohidrat, protein, empon-empon, sayur, dan buah. Di pekarangan Desa Semoyo ditemukan 26 jenis tanaman dengan tingkat pertumbuhan meliputi tumbuhan bawah dan pohon; 12 jenis di antaranya termasuk dalam kategori pohon, dan 9 di antaranya merupakan tanaman pangan. Sementara itu, di zona Batur Agung, Desa Semoyo, ditemukan 11 jenis tanaman dengan tingkat pertumbuhan yang terdiri atas pohon, tiang, pancang, dan tumbuhan bawah; dari 11 jenis pohon yang ada, 6 jenis merupakan tanaman pangan. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem Agroforestry pada lahan hutan rakyat di wilayah ini memiliki keanekaragaman tanaman pangan yang potensial untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat setempat.
ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK DALAM PENGEMBANGAN WISATA BERKELANJUTAN DI TAMAN HUTAN RAYA BUKIT BENYAWAI, KABUPATEN LAMANDAU sugiyono; M Fatchurahman; Aquarini Aquarini
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan wisata berkelanjutan di kawasan konservasi menghadapi tantangan kompleks yang melibatkan kebijakan publik, partisipasi masyarakat, dan efektivitas manajemen kawasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebijakan publik, peran aktor terkait, serta potensi dan tantangan dalam pengembangan wisata berkelanjutan di Tahura Bukit Benyawai. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kebijakan telah tersedia, implementasinya masih terbatas akibat koordinasi yang lemah dan keterbatasan sumber daya. Keterlibatan masyarakat lokal juga belum optimal, sementara tantangan ekologis semakin meningkat. Penelitian ini merekomendasikan strategi berbasis pemberdayaan masyarakat dan sinergi kebijakan untuk meningkatkan pengelolaan wisata berkelanjutan yang berorientasi pada konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
KONSERVASI HUTAN DAN PESISIR BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT (STUDI KASUS: KPH BANAWA LALUNDU) Istiqomah Shariati Zamani; Nanda Amelia Arum; Dwi Kartika Asih Hasibuan
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: KPH Banawa Lalundu merupakan salah satu unit satuan pengelolaan hutan di Sulawesi Tengah yang memiliki peran dalam pengelolaan sumber daya hutan dan konservasi lingkungan di Kabupaten Donggala. KPH Banawa Lalundu memiliki peran sebagai pembangun kapasitas dan mitra kerjasama masyarakat dalam upaya konservasi hutan dan pesisir. Banyaknya kegiatan penebangan liar dengan tujuan alih fungsi lahan menyebabkan berbagai dampak negatif kepada keanekaragaman hayati dan lingkungan. Selain itu kesejahteraan masyarakat pun akan berdampak dari kegiatan pengrusakan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran dan kontribusi KPH Banawa Lalundu dalam pengelolaan hutan berbasis partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan adalah observasi dengan peninjauan lokasi secara langsung, wawancara dengan pihak KPH Banawa Lalundu dan masyarakat, serta studi literatur. Terdapat beberapa kegiatan fisik dan non-fisik yang dilakukan oleh KPH Banawa Lalundu bersama masyarakat sekitar seperti Pendampingan dan Penanaman Mangrove, Pembenihan dan Penanaman Bibit Produksi, Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Kelompok Tani Hutan, dan Patroli Bersama Masyarakat. Program-program yang dilaksanakan bertujuan untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat setempat yang bergantung pada hasil hutan dengan berkontribusi dalam menjaga alam. Dengan demikian, KPH Banawa Lalundu memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya hutan dan pelestarian lingkungan. Adanya Kerjasama antara KPH dan masyarakat akan menciptakan sinergi dalam menjaga lingkungan. Kata Kunci: KPH Banawa Lalundu, pengelolaan hutan, konservasi, konservasi berbasis masyarakat, pesisir Abstract: Banawa Lalundu Forest Management Unit (KPH Banawa Lalundu) is one of the forest management units in Central Sulawesi that plays a vital role in forest resource management and environmental conservation in Donggala Regency. KPH Banawa Lalundu acts as both a capacity builder and a collaborative partner with local communities in efforts to conserve forests and coastal areas. The prevalence of illegal logging, primarily for land conversion, has led to significant negative impacts on biodiversity and the environment. Moreover, such destructive activities ultimately affect the well-being of local communities. This study aims to identify the roles and contributions of KPH Banawa Lalundu in community-based forest management. The methods employed include direct field observations, interviews with KPH Banawa Lalundu personnel and local residents, as well as a literature review. Several physical and non-physical activities have been implemented in collaboration with surrounding communities, including mangrove planting and assistance, seedling production and reforestation, outreach and technical training for forest farmer groups, and joint forest patrols. These programs aim to improve environmental quality and raise awareness among local communities who depend on forest resources, encouraging them to actively contribute to nature conservation. Therefore, KPH Banawa Lalundu plays a crucial role in balancing forest resource utilization with environmental sustainability. The collaboration between KPH and the community fosters a synergistic approach to environmental protection. Keywords: KPH Banawa Lalundu, forest management, conservation, community-based conservation, coastal areas
Evaluation of Community Forestry Program (HKm) at KPH Unit V Wakonti in Kaisabu Baru Village, Sorawolio District, Bau Bau City, Southeast Sulawesi Province. Hafidah Nur
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluation of community forestry program is a systematic process to assess the effectiveness, efficiency, and impact of HKm program implementation on community welfare and forest sustainability. This study aims to determine the evaluation of HKm program at KPH Unit V Wakonti in Kaisabu Baru Village. This research was conducted in Sorawolio District, Bau-Bau City, Southeast Sulawesi Province in February-March 2025, with a sample in this study of 30 people from KTH Batuawu Lestari members who were selected by purposive sampling and the population in this study was the Batuawu Lestari forest farmer group. The methods used in this study are quantitative and qualitative approaches. The data obtained were analyzed using a Likert scale. The results of the study showed that the evaluation of the program based on the institutional governance aspect of HKm was considered good by the majority of respondents with a percentage (90%), indicating the success of the organization in running this program. However, in the aspect of HKm business governance there were significant challenges with a percentage (10%) of respondents assessing that this program had not run optimally, especially in market access and management of NTFPs so that it still needed improvement in strengthening the economic aspect and market access.
Studi Perubahan Kerapatan Vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Talise, Provinsi Sulawesi Tengah: (Study of Vegetation Density Changes in the Talise Watershed, Central Sulawesi Province) Madina Dwi Panuntun; Rizky Purnama; Novita Arumsari
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Talise merupakan salah satu DAS di Provinsi Sulawesi Tengah dengan salah satu fungsinya yaitu menjaga kestabilan hidrologis. Vegetasi menjadi kontributor dasar penunjang fungsi DAS. Namun demikian, seiring berjalannya waktu perkembangan wilayah perkotaan dan pesisir berpeluang dapat mengakibatkan degradasi DAS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kerapatan vegetasi di DAS Talise. Perhitungan kerapatan vegetasi menggunakan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dengan alat bantu ArcGIS 10.8 dan Google Earth Engine (GEE). Bahan yang digunakan adalah Citra Sentinel 2A perekaman tahun 2019 dan 2024. Hasil menunjukkan bahwa penurunan luas wilayah kategori kerapatan vegetasi sangat rapat dan rapat sejalan dengan peningkatan luas wilayah kategori cukup rapat, tidak rapat, dan tidak terinterpretasi. Hal tersebut dibuktikan pada penurunan luas wilayah dengan kategori sangat rapat yang awalnya seluas ±40,67 ha pada tahun 2019 berubah menjadi 1,27 ha pada tahun 2024 dan peningkatan luas wilayah kategori cukup rapat dari ±69,81 ha pada tahun 2019 menjadi 135,17 ha pada tahun 2024. Mengingat bahwa pentingnya peran vegetasi di DAS, maka upaya perlindungan dan pengelolaan DAS terpadu perlu dilakukan sehingga dapat mengurangi terjadinya degradasi. Beberapa hasil tersebut dapat menjadi data pemantauan dasar dalam mendeteksi perubahan ekologis menggunakan indikator kerapatan vegetasi dan menjadi landasan ilmiah dalam perencanaan pengelolaan DAS Talise yang berkelanjutan.

Page 6 of 10 | Total Record : 92