cover
Contact Name
Sarwinda Intan Putri
Contact Email
sarwindaintan96@uho.ac.id
Phone
+6281245849917
Journal Mail Official
journalcelebica@uho.ac.id
Editorial Address
https://celebica.uho.ac.id/index.php/journal/about/editorialTeam
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : 27231909     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/jc.v2i2
Core Subject : Agriculture, Social,
Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia merupakan jurnal online open akses enam bulanan yang diterbitkan oleh Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini fokus untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan pemikiran di bidang Kehutanan. Hasil Penelitian kehutanan yang dipublikasikan dalam jurnal ini mencakup bidang Manajemen Hutan, Sosial Ekonomi Kehutanan, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Teknologi Pemanfaatan Hasil Hutan, Silvikultur dan Konservasi Sumberdaya Hutan
Articles 92 Documents
K Kesesuaian Ukuran kayu Gergajian di Bangsal Kayu Kota Kendari ((Size Conformity of Sawn Timber in Kendari City Wooden Wards) Abigael Kabe; Niken Pujirahayu; Zakiah Uslinawaty; nurhayati hadjar; nurnaningsih hamzah; Richard Edwan R Napitu
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukuran sortimen kayu gergajian berperan penting dalam industri kayu, khususnya dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan nilai ekonomi hasil hutan. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kayu gergajian, jenis sortimen, kesesuaian ukuran sortimen kayu dan cacat kayu gergajian yang diperjualbelikan di Kota Kendari. Penelitian dilaksanakan dengan pengambilan sampel di 5 bangsal kayu yang ada di kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode penelitian dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada pemilik bangsal kayu untuk memperoleh data jenis dan cacat kayu serta dilakukan pengukuran dimensi panjang, lebar dan tebal terhadap 175 sampel sortimen kayu gergajian menggunakan teknik pengambilan sampel acak. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan data ukuran dimensi sortimen kayu gergajian dengan nilai ukuran Standar Nasional Indonesia (SNI) No.7537.2-2010 tentang Kayu Gergajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu gergajian yaitu kayu jabon putih (Anthocephalus cadamba), kayu bitti (Vitex cofassus) dan kayu kumea (Manilkara merrilliana). Ketiga jenis kayu ini diperdagangkan dalam bentuk produk dengan masing-masing nama dagang antara lain kaso 4x4, kaso 5x5, papan 3x20, papan 3x25, kusen 7x12, balok 6x12, dan balok 8x12. Dimensi panjang dan lebar kayu gergajian di Kendari umumnya sudah sesuai SNI, namun ketebalan pada beberapa produk seperti papan 3x20 Jabon, papan 3x25 Jabon, kusen 7x12 kayu Bitti dan balok 8x12 kayu Kumea masih perlu dioptimalkan. Cacat sortimen kayu yaitu cacat mata kayu, cacat lubang gerek serangga, cacat kayu melengkung, mold dan cacat kayu retak/pecah ujung dan permukaan.
Herpetofauna Trade Via Online Media Rahmadhiani Nurdin; Maria Purnama; Fadlan Pramatana; Yusratul Aini
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.177

Abstract

The increasing use of internet media in Indonesia, as well as the trend of trading that has shifted from conventional methods to online media, allows for an increase in herpetofauna trading activities. This study aims to determine the online trading media of herpetofauna and herpetofauna trading areas online. The research method used was a direct search through online media. The results found that the Tokopedia platform was recorded as the online media with the most accounts (60%) offering herpetofauna products both in the form of live animals and processed animals, followed by Shopee (23%), and Facebook (17%), and found that West Java and Jakarta provinces as the most herpetofauna trading areas.
KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DI SEKSI PENGGELOLAAN TAMAN NASIONAL WILAYAH 2, TAMAN NASIONAL MATALAWA : Studi Kasus Resor Wudipandak Kabupaten Sumba Timur Anita Matang; Maria Purnama; Fadlan Pramatana; Yusratul Aini
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.178

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman herpetofauna di Seksi Penggelolaan Taman Nasional Wilayah 2, Taman Nasional Matalawa, khususnya di Resor Wudipandak, Kabupaten Sumba Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah Visual Eucounter Survey yang dikobinasikan dengan metode Line Transeck serta ditambah dengan pemasangan jebakan lem (glue trap). Pengambilan data dilakukan pada malam dari dan pagi hari, pengamatan dilakukan pada malam hari di ekosistem akuatik dan terrestrial, sedangkan pengamatan yang dilakukan pada pagi hari dilakukan pada ekosistem terrestrial saja. Total herpetofauna yang ditemukan pada penelitian ini yaitu sebanyak 15 jenis dari 10 famili. Jumlah amfibi yang ditemukan sebanyak 4 jenis dari 4 family, diantaranya dari famili Bufonidae (1 jenis) Duttaphrynus melanostictus, dari family Dicroglossidae (1 jenis) Fejervarya limnocharis, Family Ranidae (1 jenis) Papurana elberti, dan family dari Rhacophoridae (1 jenis) Polypedates leucomystax. Sedangkan reptil yang berhasil ditemukan sebanyak 11 jenis yang terdiri dari 6 famili, dari famili Colubridae (3 jenis) diantaranya ada Psammodynastes pulverulentus, Dendrelaphis inornatus dan Lycodon subcinctus. Famili dari Gekkonidae (3 jenis) Gekko gecko, Hemidactylus frenatus dan Cyrtodactylus darmandvillei famili dari Scincidae (2 jenis) Sphenomorphus melanopogon dan Eutropis multifasciata, Family Typhlopidae (1 jenis) Indotyphlops braminus, untuk family Varanidae (1 jenis) Varanus salvator dari famili Viperidae (1 jenis) Trimeresurus insularis. Keanekaragaman secara umum tergolong dalam kategori sedang dengan indeks kemerataan total menandakan bahwa kondisi komunitas herpetofauna di Lokasi mendekati stabil, sedangkan untuk indeks kekayaan jenis tergolong dalam kategori sedang.
KEANEKARAGAMAN JENIS KELELAWAR DI KABUPATEN MALAKA Christo Tae; Fadlan Pramatana; Muhajir Hasibuan; Pamona Sinaga
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.179

Abstract

Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang dapat terbang dan digolongkan dalam bangsa Chiroptera yang berarti mempunyai “sayap tangan”. Kelelawar berperan sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan ekologi manusia karena kelelawar memiliki perans sebagai pemencar biji, penyerbuk bunga tumbuhan pada malam hari, dan penghasil pupuk guano. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman jenis kelelawar di Kabupaten Malaka sekaligus menjadi basis data untuk keberagaman jenis kelelawaar di Pulau Timor. Penelitian dilakukan pada tiga kawasan hutan di Kabupaten Malaka yaitu Suaka Margasatwa Kateri, Hutan Lindung, Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas. Penelitian dilaksanakan selama bulan Desember hingga Januari Tahun 2024. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan misnet dan harpa trap untuk menangkap kelelawar yang selanjutnya diidentifikasi. Analisis data menggunakan indeks keanekaragaman jenis serta kesamaan komunitas. Penelitian mencatat 8 jenis dari 2 famili pada 6 lokasi penelitian dengan jumlah individu yang ditemukan sebanyak 136 individu. Jenis yang paling banyak ditemukan yaitu Cynopterus nusatenggara (45 individu), sementara jenis yang paling sedikit ditemukan yaitu Pteropus griseus (1 individu). Hasil keanekaragaman jenis menunjukkan bahwa pada lokasi SM Kateri memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya.
KETERAWETAN LIMA JENIS ROTAN KOMERSIL TERHADAP BAHAN PENGAWET DAUN MANGROVE (Sonneratia Alba) zakiah uslinawaty; Pujirahayu Pujirahayu; Nurhayati Nurhayati; Abigael Kabe; Nurnaningsih Hamzah
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the durability of five types of commercial rattan is rattan batang, lambang, noko, tohiti and cacing against mangrove leaf extract ( Sonneratia alba ). This type of research uses the descriptive method. In this study the concentration of the mangrove leaf ( Sonneratia alba ) preservative solution used was 4%. Each type of rattan underwent 3 trials with immersion time of 3 days and 6 days and the average value was calculated. The total of all experiments is 30 experimental units. The results showed that the type of rattan that was preserved affected the values obtained in the absorption of preservatives, retention and penetration values. The highest absorption value was found in the type of worm rattan with an achievement of 348.0 kg/m3, the highest retention value was found in the type of worm rattan with an acquisition of 41.8 kg/m3. Meanwhile, the highest penetration value was found in Tohiti rattan with a gain of 11.78 mm.
A ANALISIS PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE UNTUK SILVOFISHERY DI KECAMATAN KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA : Silvofishery Satya Agustina Laksannany; Basrudin; Umar Ode Hasani; Alamsyah Flamin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan hutan mangrove merupakan salah satu bagian dari teknik penilaian hutan (forest assessment). Pemanfaatan hutan mangrove ini meliputi aspek ekologi, yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan mangrove untuk kawasan silvofishery di Kabupaten Buton Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian kawan hutan mangrove sebagai kawasan silvofishery. Lokasi penelitian terdapat di Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, yang fokus pada 2 desa yaitu Desa Eelahaji dan Desa Waculaeya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan metode eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa indikator tidak memenuhi syarat tetapi masih bisa diperbaiki, sehingga sangat dianjurkan sebagai kawasan silvofishery. Pemanfaatan hutan mangrove sebagai kawasan silvofishery sangat memenuhi syarat dan disarankan jika memenuhi syarat baaik dari aspek ekologi dan sosial ekonomi, sehingga mampu menopang kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan mangrove.
ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI LEBAH TANPA SENGAT TRIGONA sp. DI DESA LALOPISI KECAMATAN MELUHU KABUPATEN KONAWE Sarwinda Intan Putri; Rosmarlinasiah; Zakiah Uslinawaty; Niken Pujirahayu; Satya Agustina Laksannany; Abigael Kabe; Miselin Ratu
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the income from stingless bee farming (Trigona sp.) in Lalopisi Village, Meluhu District, Konawe Regency. Data were collected through interviews with nine beekeepers involved in the honey farming business. The methodology includes field observations and quantitative analysis to calculate production costs, revenue, and annual income from honey harvesting. The results indicate that the majority of beekeepers are in their productive years (30-45 years old), with most having completed education up to junior high school level. The average annual production cost per beekeeper is IDR 6,125,000, with operational and equipment costs being the largest components. The annual revenue varies significantly among the beekeepers, with total revenue reaching IDR 38,580,000, but the average net income is only about IDR 3,606,111 per year per beekeeper. The study finds that honey production volume and managerial skills play a major role in determining income levels. Although the business shows promising potential, external factors such as climate change and bee colony health are major challenges. These findings imply that to improve beekeepers' income, more training and broader market access are essential. The sustainability of bee farming depends heavily on better management and supportive policies
KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL INTEGRATIF AGROFORESTRY BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KAWASAN KHDTK SENARU, LOMBOK UTARA Febriana Tri Wulandari
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.185

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik biofisik dan sosial, ragam model agroforestri, integrasi kearifan lokal, dampak, serta tantangan dan peluang pengembangan model integratif agroforestri di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Senaru, Lombok Utara. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Lokasi ditentukan secara purposif karena memiliki praktik agroforestri yang berkembang dan relevan sebagai model pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif dan SWOT dengan validasi triangulasi sumber serta metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHDTK Senaru memiliki keanekaragaman jenis tanaman yang tinggi, meliputi pohon tahunan, tanaman pangan, dan hortikultura, yang dikelola dengan pola tanam adaptif terhadap kondisi biofisik. Kearifan lokal seperti mengetu dan begibung berperan penting dalam menjaga harmoni sosial dan kelestarian lingkungan. Model agroforestri yang diterapkan memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan, pendapatan rumah tangga, konservasi tanah dan air, serta pemberdayaan masyarakat. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan utama berupa keragaman vegetasi dan kelembagaan lokal yang solid, kelemahan pada keterbatasan teknologi dan kapasitas SDM, peluang pada dukungan kebijakan dan potensi pasar, serta ancaman dari perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas. Model integratif agroforestri berbasis kearifan lokal di KHDTK Senaru memiliki prospek besar untuk direplikasi di kawasan lain, dengan kunci keberhasilan pada sinergi pengetahuan tradisional dan inovasi ilmiah melalui pendekatan co-management.
DINAMIKA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN HUTAN LINDUNG KECAMATAN MORAMO (2003–2023) BERDASARKAN ANALISIS CITRA LANDSAT: Dynamics of Land Cover Change in the Protected Forest of Moramo Subdistrict (2003–2023) Using Landsat Imagery Sahindomi Bana; Basrudin; Herlina Hakim
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.186

Abstract

This study aims to analyze land cover changes in the protected forest area of Moramo Subdistrict, South Konawe Regency, using Landsat satellite imagery from 2003, 2014, and 2023 through supervised classification methods and spatial analysis with ArcGIS 10.8. The Moramo protected forest plays a vital role in maintaining ecological balance; however, community activities that convert forest land into agricultural land have triggered significant land cover changes. The results identified five main land cover classes: primary dryland forest, secondary dryland forest, mixed dryland agriculture, shrubland, and bare land. Between 2003–2014, the largest decrease occurred in primary dryland forest, with a loss of 556.27 ha, while mixed dryland agriculture increased by 437.31 ha. During 2014–2023, primary dryland forest decreased by 244.87 ha, while mixed dryland agriculture expanded by 197.26 ha. Classification accuracy testing showed an overall accuracy of 84% and a kappa accuracy of 82.61%, indicating a reliable level of classification performance. The study concludes that land cover change in Moramo protected forest is mainly driven by the conversion of primary and secondary dryland forests into agricultural land. This condition potentially reduces the ecological functions of the forest, increases the risk of erosion and flooding, and decreases environmental quality. Therefore, regular monitoring and the implementation of social forestry programs are needed to preserve the forest while providing legal benefits to surrounding communities Keywords: land cover, protected forest, Landsat imagery, spatial analysis, Moramo.
PENGELOLAAN BERBASIS PARTISIPATIF UNTUK PENINGKATAN NILAI EKOLOGIS HUTAN MANGROVE DI PULAU SABANGKO Rahmawati Nurkarima; Alfiani Dwi Astuti; Fitriyani Saudi; Nurhasanah
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.188

Abstract

A study has been conducted on community participation in mangrove management on Sabangko Island. The aim was to determine the forms of community participation related to mangrove management on Sabangko Island. In addition, this study sought to determine the ecological value of mangrove forests on Sabangko Island. This study used a descriptive qualitative research type. Data collection used direct observation and questionnaires. Then, the data was combined with the results of interviews. This study used 68 families as samples in the data collection process. From the results of the study, it can be concluded that the community is very aware of the ecological benefits of the mangrove ecosystem. The form of local community participation is mostly abstract participation. The ecological value of mangroves most perceived by the local community is maintaining the availability of fresh water on the island

Page 8 of 10 | Total Record : 92