cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 780 Documents
Perbedaan Pengaruh Pelvic Rocking Exercise Dan Mckenzie Exercise Terhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah Pada Lansia Di Posyandu Pasekan Kidul Amaliah Indah Pratiwi; Lailatuz Zaidah; Siti Khotimah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.891

Abstract

Penuaan menyebabkan terjadinya penurunan fungsi tubuh, terutama pada sistem muskuloskeletal, sehinggalansia lebih rentan mengalami nyeri punggung bawah. Kondisi ini menimbulkan keterbatasan gerak,menurunkan kemandirian, serta berdampak pada kualitas hidup lansia. Oleh karena itu, diperlukan intervensiyang efektif untuk mengurangi nyeri serta meningkatkan kemampuan fungsional, salah satunya melaluipemberian pelvic rocking exercise dan mckenzie exercise. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaanpengaruh pelvic rocking exercise dan mckenzie exercise terhadap penurunan nyeri punggung bawah pada lansia.Metode penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan desain pre and post test two group design.Sampel berjumlah 29 lansia yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan dengan pertemuan 2 kali permingguselama 4 minggu. Pengukuran nyeri menggunakan visual analog scale (VAS). Analisis data menggunakan ujipaired samples t-test untuk kelompok I dan II digunakan untuk melihat perubahan sebelum dan sesudahintervensi. Uji independent sample t-test digunakan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara keduakelompok dengan tingkat signifikasi p=0,05. Hasil Penelitian menunjukkan uji paired samples t-test untukkelompok I dan II dengan hasil p=0,000 (<0,05) yang dimana setiap perlakuan berpengaruh terhadap penurunannyeri punggung bawah pada lansia. Untuk perbedaan kelompok perlakuan I dan II menggunakan independentsample t-test dengan nilai p= 0.985 (p >0,05), sehingga tidak ada perbedaan pengaruh pelvic rocking exercisedan mckenzie exercise terhadap penurunan nyeri punggung bawah pada lansia. Kesimpulannya tidak adaperbedaan pengaruh pelvic rocking exercise dan mckenzie exercise terhadap penurunan nyeri punggung bawahpada lansia di Posyandu Pasekan Kidul.
Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Sikap Keluarga Pasien Di Ruangan ICU RSUD. Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo Sulastri A. Lahay; Haslinda Damansyah; Pipin Yunus
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.910

Abstract

Komunikasi terapeutik perawat merupakan salah satu bentuk komunikasi professional yang bertujuan membantukeluarga pasien memahami kondisi pasien serta memberikan dukungan emosional selama proses perawatan diruangan Intensive Care Unit (ICU). Lingkungan ICU yang penuh tekanan dan kondisi pasien yang kritis seringmenimbulkan kecemasan serta mempengaruhi sikap keluarga pasien terhadap pelayanan keperawatan. Olehkarena itu, komunikasi terapeutik yang baik sangat diperlukan untuk membangun hubungan saling percayaantara perawat dan keluarga pasien. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui Hubungan Komunikasi TerapeutikDengan Sikap Keluarga Pasien DiRuangan ICU RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan desain analtik korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampelpenelitian berjumlah 30 responden yang merupakan keluarga pasien ICU, dipilih menggunakan TeknikAccidental Sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi komunikasi terapeutik dankuesioner sikap keluarga pasien, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkanbahwa komunikasi terapeutik kategori baik sebanyak 21 responden (70%) dan kategori cukup sebanyak 9responden (30%). Sikap keluarga pasien kategori baik sebanyak 23 responden (76,7%) dan kategori cukupsebanyak 7 responden (23,3%). Hasil uji bivariat menunjukkan uji Chi Square menunjukkan nilai P-value<0,05, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik dengan sikap keluarga pasiendiruangan ICUKesimpulan : Komunikasi terapeutik memiliki hubungan yang signifikan dengan sikap keluarga pasiendiruangan ICU. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi tenaga Kesehatan khususnyaperawat untuk meningkatkan kualitas komunikasi terapeutik dalam memberikan pelayanan keperawatan secaraholistic kepada keluarga pasien.
Pengaruh Expressive Writing Pada Pasien Dengan Gangguan Kecemasan Di Puskesmas Limboto Elvira Saputri B. Bouty; Fifi Ishak; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.912

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang sering dialami individu dan dapat berdampakpada kondisi fisik maupun psikologis. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untukmenurunkan tingkat kecemasan adalah terapi expressive writing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh expressive writing terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien di Puskesmas Limboto.Penelitian ini menggunakan desain preeksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Populasidalam penelitian ini berjumlah 30 pasien dengan gangguan kecemasan di Puskesmas Limboto dan seluruhpopulasi dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling, sehingga jumlah sampel sebanyak 30 responden.Intervensi expressive writing dilakukan sebanyak 4 sesi selama 4 hari berturut-turut dengan durasi ±20 menitsetiap sesi. Tingkat kecemasan diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen HamiltonAnxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelahdiberikan intervensi expressive writing. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikanexpressive writing terhadap penurunan tingkat kecemasan dengan nilai p-value < 0,05. Dengan demikian,expressive writing dapat digunakan sebagai salah satu terapi nonfarmakologis dalam menurunkan tingkatkecemasan pada pasien, khususnya di pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas.
Perbedaan Pengaruh Brisk Walking Exercise Dan Mindfulness Walking Exercise Terhadap Tingkat Kelelahan Lansia Yunia Kinanti Prastika; Abdillah Choirul Chisholi; Muhammad Ali Jafar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.913

Abstract

Kelelahan merupakan salah satu masalah yang sering dialami lansia akibat proses penuaan yang menyebabkanpenurunan fungsi fisiologis, psikologis, dan sosial sehingga dapat menurunkan kemampuan aktivitas sehari-haridan kualitas hidup. Salah satu upaya untuk mengurangi kelelahan pada lansia adalah melalui latihan fisik berupaBrisk Walking Exercise dan Mindfulness Walking Exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhBrisk Walking Exercise dan Mindfulness Walking Exercise serta perbedaan pengaruh keduanya terhadap tingkatkelelahan pada lansia. Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental dengan desain pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 22 lansia yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitukelompok Brisk Walking Exercise dan kelompok Mindfulness Walking Exercise. Intervensi diberikan selama 4minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu dan durasi 30 menit setiap sesi. Tingkat kelelahan diukurmenggunakan Fatigue Severity Scale (FSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok Brisk WalkingExercise terjadi penurunan skor kelelahan dari 5,59±0,64 menjadi 4,57±0,63 dengan selisih rata-rata 1,02 danhasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,002). Pada kelompok Mindfulness WalkingExercise terjadi penurunan skor kelelahan dari 5,93±0,46 menjadi 4,20±0,52 dengan selisih rata-rata 1,73 danhasil uji Paired Samples T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,001). Hasil uji Mann-Whitneymenunjukkan terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kedua kelompok (p=0,049), dimanaMindfulness Walking Exercise memberikan penurunan tingkat kelelahan yang lebih besar dibandingkan BriskWalking Exercise. Disimpulkan bahwa Brisk Walking Exercise dan Mindfulness Walking Exercise efektif dalammenurunkan tingkat kelelahan pada lansia, namun Mindfulness Walking Exercise lebih efektif dibandingkanBrisk Walking Exercise.
Pengobatan Tradisional Dalam Politik Kesehatan Di Kabupaten Alor Siti Khadijah Adang Djaha; Rina Waty Sirait; Tasalina Y.P. Gustam; Dominirsep O. Dodo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.914

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis politik kesehatan dalam pengobatan tradisional di Kabupaten Alor, khususnya terkait kebijakan, implementasi, serta faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaannya. Pengobatan tradisional masih menjadi bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan modern, namun implementasi kebijakan nasional di tingkat daerah belum berjalan optimal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan penelitian meliputi praktisi pengobatan tradisional, masyarakat, serta pemangku kebijakan seperti Dinas Kesehatan dan DPRD yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling hingga mencapai kejenuhan data. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn serta model Edwards III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pengobatan tradisional di Kabupaten Alor belum optimal, ditandai dengan belum adanya regulasi daerah khusus, keterbatasan anggaran, lemahnya komunikasi antarorganisasi, serta belum tersedianya sistem pendataan, perizinan, dan pengawasan yang terstruktur. Selain itu, tingginya pemanfaatan pengobatan tradisional oleh masyarakat belum diimbangi dengan dukungan kebijakan yang memadai. Disimpulkan bahwa implementasi kebijakan pengobatan tradisional di Kabupaten Alor masih menghadapi kendala pada aspek kebijakan, sumber daya, dan kelembagaan sehingga diperlukan komitmen pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan lokal, meningkatkan anggaran, serta memperkuat koordinasi lintas sektor guna mendukung integrasi pengobatan tradisional dalam sistem kesehatan.
Pengaruh Massage Tuina Dan Edukasi Untuk Peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Rika Rahmawati; Rizky Wulandari; Siti Nadhir Ollin Norlinta
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.915

Abstract

Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) merupakan indikator penting untuk menilai status gizi bayi,mencerminkan keseimbangan antara berat dan panjang badan sesuai usia. Peningkatan IMT/U menujukkanperbaikan status gizi, sedangkan IMT/U rendah berisiko menyebabkan pertumbuhan linear terhambat (stunting).Massage tuina merupakan intervensi non-farmakologis yang dapat merangsang nafsu makan dan meningkatkanpenyerapan nutrisi, berpotensi menigkatkan IMT/U pada bayi. Tujuan penelitian: mengetahui pengaruh massagetuina dibandingkan edukasi terkait stunting terhadap peningkatan IMT sebagai upaya pencegahan stunting padabayi usia 6–24 bulan di Posyandu Cicarulang. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental pretest-posttest two group design dengan 25 sampel bayi usia 6–24 bulan berisiko stunting, dibagi menjadi kelompokmassage tuina dan edukasi, serta diukur menggunakan Z-score IMT/U. Hasil: kelompok massage tuinamenunjukkan peningkatan IMT/U signifikan (p=0,001; p<0,05), sedangkan kelompok edukasi tidak signifikandengan nilai (p=0,339; p>0,05). Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p=0,001), massage tuinaterbukti lebih efektif. Kesimpulan: Massage tuina berpengaruh signifikan terhadap peningkatan IMT/U padabayi berisiko stunting usia 6-24 bulan dan lebih efektif dibandingkan edukasi stunting di Posyandu Cicarulang.Massage tuina dapat dipertimbangan sebagai intervensi non-farmakologis berbasis komunitas secara rutindisertai edukasi gizi.
Gambaran Kemandirian Keluarga Dalam Merawat Lanjut Usia Dengan Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga Biru Nurhayati Musa; Rona Febriyona; Zuriati Muhamad
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.916

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan kasus hipertensi lansia di Puskesmas Telaga Biru serta rendahnya kemandirian keluarga,di mana perawatan di rumah masih bersifat pasif, reaktif terhadap keluhan fisik, dan kurang memahami penanganandini.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemandirian keluarga dalam merawat lansia denganhipertensi di wilayah kerja Puskesmas Telaga Biru. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif ini melibatkan populasisebanyak 210 keluarga yang memiliki lansia dengan hipertensi. Dari populasi tersebut, diperoleh sampel sebanyak 68responden keluarga yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi melalui teknik non-probability samplingdengan pendekatan purposive sampling. Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal tingkat kemandirian keluargadalam merawat lansia dengan hipertensi. Seluruh data primer dikumpulkan secara komprehensif menggunakaninstrumen kuesioner karakteristik demografi, kuesioner kemandirian keluarga, serta lembar observasi. Selanjutnya, datayang telah terkumpul dianalisis secara univariat untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase denganmenggunakan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.0 Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas keluargaberada pada kategori Kemandirian III sejumlah 37 orang (54,4%). Selebihnya berada pada kategori Kemandirian IIsebanyak 19 orang (27,9%), Kemandirian I sebanyak 8 orang (11,8%) , dan kelompok paling rendah adalahKemandirian IV sebanyak 4 orang (5,9%). Kesimpulan: Sebagian besar keluarga sudah mampu mempraktikkantindakan keperawatan sederhana (Kemandirian III).
Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Lansia Di Desa Mongolato Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Rara Aeshverni F. Gani; Hamna Vonny Lasanudin; Ibrahim Paneo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.918

Abstract

Kolestrol adalah komponen lemak darah, yang tidak dibutuhkan dalam makanan, karena dalam jumlah khusus telah disintesis oleh tubuh. Kadar kolestrol tinggi (Hiperkolesterolemia) dalam darah dapat menyebabkan penumpukan lemak yang membentuk plak pada pembuluh darah sehingga terjadi penyumbatan.Pola makan adalah suatu cara tertentu dalam mengatur jumlah  dan jenis asupan makanan dengan maksud untuk mempertahankan kesehatan, status gizi serta mencegah atau membantu proses penyembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian hiperkolesterolemia pada lansia di Desa Mongolato Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan cross-sectional. Sampel yang di ambil purposive sampling atau random sampling sebanyak 30 sampling. Data dikumpulkan melalui kuisioner pola makan dan pemeriksaan hiperkolesterolemia dengan menggunakan alat easy touch gcu (3-in-1). Analisis data dilakukan secara univariate dan bivariate menggunakan uji chi square dengan tingkat signifikan 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar lansia memiliki pola makan dalam kategori buruk 24 (80,0%) dan hiperkolestrolemia juga sebagian besar dalam kategori buruk 24 (80, 0%). Hasil uji chi square menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hiperkolesterolemia pada lansia (ρ Value = 0,000). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hiperkolesterolemia pada lansia di desa Mongolato Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo. Semakin buruk pola makan lansia, maka semakin buruk pula hiperkolesterolemia yang di derita. 
Analisis Faktor Risiko Kejadian Infeksi Luka Pada Pasien DM Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango Sri Dewi A. Jubair; Haslinda Damansyah; Nurliah Nurliah; Andi Safutra Suraya
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.925

Abstract

Infeksi luka pada pasien Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat memperburuk kondisi klinis pasien, meningkatkan lama rawat inap, serta berisiko menyebabkan amputasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, lama menderita DM, kontrol glikemik, dan adanya komorbiditas. Tujuan penelitian: untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi  dengan kejadian infeksi luka pada pasien DM tipe 2 di RSUD Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional. Sampel penelitian berjumlah 33 responden yang merupakan pasien DM tipe 2, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian: hasil penelitian menunjukkan bahwa responden berusia >40 tahun yang terinfeksi luka sebanyak 16 (48.4%), responden yang berjenis kelamin Perempuan tidak infeksi luka sebanyak 12 (36.4%), responden yang <5 tahun menderita DM Tipe 2 dengan tidak infeksi luka sebanyak 10 (30.3%), responden yang tidak terkontrol terdapat infeksi luka sebanyak 18 (54.5%) dan responden yang terdapat komorbiditas hipertensi ada infeksi sebanyak 20 (45.4%). Hasil uji bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value <0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara faktor risiko dengan kejadian infeksi luka pada pasien DM tipe 2. Kesimpulan: Faktor usia, lama menderita DM, kontrol glikemik, dan komorbiditas memiliki peran penting terhadap kejadian infeksi luka pada pasien DM tipe 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan upaya promotif dan preventif, khususnya dalam pengendalian gula darah dan perawatan luka secara optimal.
Gambaran Status Gizi Pada Anak Di Panti Asuhan Pekanbaru Reza Dwi Ananda; Yufitriana Amir; Juniar Ernawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.930

Abstract

status gizi menjadi hal yang penting untuk diperhatikan terutama pada anak panti asuhan karenamereka memilki kerentanan lebih tinggi terhadap masalah kesehatan dan pertumbuhan. Lingkungan panti, polamakan yang seragam, serta keterbatasan pemenuhan kebutuhan gizi individu dapat mempengaruhi prosestumbuh kembang anak. Kondisi ini berisiko menimbulkan masalah seperti stunting, gizi kurang danketerlambatan perkembangan. Tujuan: mengetahui karakteristik responden, serta gambaran status gizi anak usia5-18 tahun berdasarkan kurva pertumbuhan WHO. Metode: deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crosssectional, menggunakan metode total sampling yaitu 106 responden. Hasil: paling banyak responden berusia 13-18 tahun (69,8%), perempuan (52,8%), berpendidikan SMA (42,5%), distribusi frekuensi status gizi berat badananak usia 5-10 tahun termasuk kategori gizi normal (76.9%), distribusi frekuensi status gizi tinggi badan padaanak usia 5-18 tahun sangat pendek (44,3%), distribusi frekuensi status gizi indeks massa tubuh pada anak usia5-18 tahun gizi baik (36,8%). Kesimpulan: pemelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat anak dengankategori gizi baik, namun masih terdapat anak dengan tinggi badan kategori sangat pendek. Kondisi inimemerlukan tindak lanjut berupa pemantauan pertumbuhan secara berkala, perbaikan kualitas makanan, sertaperencanaan pemenuhan gizi yang lebih tepat di lingkungan panti asuhan untuk mencegah dampak jangkapanjang dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.