cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Kualitas Modul Elektronik Berbasis Contextual Teaching and Learning Terintegrasi Pendidikan Karakter untuk Menulis Karya Ilmiah Winda Noprina; Dina Fitria Handayani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.3347

Abstract

The success of learning in the classroom is largely determined by lecturers’ planning such as the ability of the lecturer in providing the appropriate teaching materials for their classroom. However, teaching materials for scientific writing are still used books or references. There is no specific scientific writing book such as a module integrated by honesty characteristic. Honesty is  one of the important characters in scientific writing, so that it is crucial to compile the good quality of that module. This study aims to test the quality of electronic modules (e-modules) based on integrated CTL character education for writing scientific work. The research method used is research and development method which used 4-D model which consist of four phases namely: define design, development, and assimilation.  in the 3rd stage, namely development. The degree of validity, practicality, and effectiveness of the module are tested in this research. The validity test results show that the validity of this CTL-based e-modules designed is very high with a validity percentage of 82%. E-module is relatively practical both in terms of ease of use and time aspects used. The percentage of the practicality of lecturer response test results reach 81%, while the student response test is 79%. E-modules is quite effective to enhance student activities and learning outcomes and also to build a spirit of honesty in writing scientific work. This can be seen through observation, the six indicators of activeness are in the category very active. The results obtained in general categories are very good. AbstrakSuksesnya pembelajaran di kelas sangat ditentukan oleh perencanaan dosen. Termasuk dalam perencanaan tersebut adalah rencana bahan ajar yang digunakan. Bahan ajar menulis karya ilmiah yang ada selama ini masih merupakan buku-buku ajar atau referensi, belum ada yang menuntun secara spesifik penulisan karya ilmiah dalam bentuk sebuah modul dan juga mengintegrasikan karakter kejujuran yang menjadi salah karakter penting dalam penulisan karya ilmiah. Untuk itu, modul yang disusun harus memiliki kualitas yang baik. Maka, penelitian ini bertujuan menguji kualitas modul elektronik (e-modul) berbasis CTL terintegrasi pendidikan karakter untuk menulis karya ilmiah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan model 4-D pada tahap ke-3 yakni pengembangan (development). E-Modul diuji tingkat validitas, praktikalitas dan efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul berbasis CTL yang dirancang tergolong sangat valid dengan persentase validitas 82%. E-modul tergolong praktis baik dari aspek kemudahan dalam penggunaan maupun aspek waktu yang digunakan. Persentase praktikalitas dari hasil uji respon dosen mencapai 81%, sedangkan uji respon mahasiswa 79%. E-modul yang dirancang tergolong efektif untuk membangkitkan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa serta membangun semangat kejujuran dalam menulis karya ilmiah. Hal tersebut terlihat dari hasil pengamatan yang dilakukan observer, dari enam indikator keaktifan berada pada kategori sangat aktif. Hasil belajar yang didapat secara umum berkategori sangat baik.
Integrasi Kajian Sosiolinguistik dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Berbasis Media Siaran Rini Damayanti; Roely Ardiansyah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8557

Abstract

This study aims to analyse the dynamics of language use in digital broadcast media from a sociolinguistic perspective and to formulate its implications for language skills learning in educational contexts. A qualitative approach was employed using a library research design, analysing 12 selected academic sources published between 2019 and 2024, drawn from Google Scholar, DOAJ, and international journal portals. Data were analysed through a descriptive-interpretive procedure comprising data reduction, thematic categorisation, conceptual interpretation, and theoretical synthesis. The findings reveal that language use in digital broadcast media reflects users' social and cultural identities, giving rise to flexible, creative, and contextual communication patterns characterised by code-mixing, code-switching, translanguaging, and multimodal expression. These variations are shaped by factors including age, educational background, and digital community membership. The findings underscore the necessity of adaptive, critically literate language learning strategies to bridge the gap between real-world language practices in the public sphere and classroom instruction. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika penggunaan bahasa dalam media siaran digital dari perspektif sosiolinguistik serta merumuskan implikasinya terhadap pembelajaran keterampilan berbahasa di lingkungan pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan (library research) terhadap 12 sumber ilmiah terpilih yang diterbitkan dalam rentang 2019–2024, bersumber dari basis data Google Scholar, DOAJ, dan portal jurnal internasional. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan reduksi data, pengelompokan tema, interpretasi konseptual, dan sintesis teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa di media siaran digital mencerminkan identitas sosial dan budaya pengguna serta membentuk pola komunikasi yang fleksibel, kreatif, dan kontekstual melalui fenomena campur kode, alih kode, translanguaging, dan ekspresi multimodal. Variasi tersebut dipengaruhi oleh faktor usia, latar belakang pendidikan, dan komunitas digital. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pembelajaran bahasa yang adaptif dan berbasis literasi kritis untuk menjembatani kesenjangan antara realitas kebahasaan di ruang publik dengan praktik pembelajaran di kelas.
PENGGUNAAN JARGON OLEH KOMUNITAS WARIA DI JEJARING SOSIAL ‘FACEBOOK’ Jusmianti Garing
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 6, No 1 (2017): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v6i1.259

Abstract

Jargon that used by transgender community in social networking ‘facebook’ is really interesting to understand because the jargon has a form and meaning itself in its disclosure. The research discusses of using of transgender community in social networking ‘facebook’ by using semantic parameter. The research aims to describe the jargon forms that used by transgender community in social networking ‘facebook’ and discusses the type of semantics and changes of meaning generated from the jargons. The method used of this research is qualitative descriptive by using noting and scrutinizing technique. The result shows that there are fifty-three of jargons used by transgender community in social networking ‘facebook’. Those jargons are ate, eke/eike, yey, ses, astajim, mengondek, menyabong, res/ress, le/lek/leee, mawar, ono, seljes/seljong, bo, kulo, lekes, mehong, cuccok, ce, nekk, sindang, ceu, libra, chinese, centes, peges-peges, mekong, tinta, bae, kentilas, heywanat, cacamarica, ojo, polo/polonia, mursid/mursida, bosnia, megang, kereles, kempinsky, endes, sahaja, bue, perez, dese, merongin, malides, mojang, priwi, kinyis-kinyis, cuss, eim/em, say, andbye. The jargons are formed based on the type of semantic, namely lexical meaning, grammatical meaning, denotative meaning, connotative meaning, contextual meaning, situational meaning, and thematic meaning. Furthermore, the jargons have also a relation of meaning and aspect of meaning. The relation of meaning is synonym and antonym, while, the aspect of meaning is feeling, tone, and intention. Then, there are some of jargons that undergo change the meaning, that is total meaning, broad meaning, and using diachronic parameter, such, bosnia, mursid, polo astajim, mawar, and bye.ABSTRAKJargon yang digunakan oleh komunitas waria di jejaring sosial “‘facebook’” sangat menarik untuk dipahami karena jargon tersebut memiliki bentuk dan makna tersendiri dalam pengungkapannya. Bagi orang awam jargon tersebut susah untuk dipahami, hanya komunitas merekalah yang mampu memahami maksud dari jargon yang digunakannya tersebut. Tulisan ini membincangkan tentang penggunaan jargon bahasa waria di jejaring sosial ‘facebook’ dan perubahan makna yang ditimbulkan dari jargon tersebut. Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk jargon yang digunakan oleh komunitas waria di jejaring sosial ‘facebook’ dan menjelaskan kata-kata apa saja yang mengalami perubahan makna. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik catat dan simak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima puluh dua bentuk jargon yang digunakan oleh komunitas waria di jejaring sosial ‘facebook’, yakni ate, eke/eike, yey, ses, astajim, mengondek, menyabong, res/ress, le/lek/leee, mawar, ono, seljes/seljong, bo, kulo, lekes, mehong, cuccok, ce, nekk, sindang, ceu, libra, chinese, centes, peges-peges, mekong, tinta, bae, kentilas, heywanat, cacamarica, ojo, polo/polonia, mursid/mursida, bosnia, megang, kereles, kempinsky, endes, sahaja, bue, perez, dese, merongin, malides, mojang, priwi, kinyis-kinyis, cuss, eim/em, say, dan bye. Jargon-jargon tersebut dibentuk berdasarkan makna leksikal dan gramatikal. Selanjutnya, jargon yang mengalami perubahan makna adalah astajim, mawar, dan bye.
Ekspresi Tutur Konstatif ‘Silang Ide’ dalam Dialog Mata Najwa Moh. Badrih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4188

Abstract

In speech, there is verbal complexity in the form of sentences that have the characteristics of continuity, coherence, and according to context. Verbal complexity is used to describe the reality that is observed and felt by the speaker. The problem in this study examines how the ideational constative utterance crosses ideas with factual constative utterances, how the ideational constative utterance crosses ideas with ideational constative utterances, and how is factual constative utterances which crosses ideas with ideational constative speeches. The method used in this study was descriptive qualitative with pragmatic analysis. The data are in the form of words, phrases, and sentences contained in the Mata Najwa dialogue 'Suddenly a Presidential Candidate'. Collecting data using the ‘simak, bebas, libat, cakap’ (SBLC). The data analysis technique uses three components, namely data reduction, data display, and drawing conclusions. The result of this research is that the meaning and intent behind the cross-idea constative speech. The 'ideational - factual' speech occurs in assertive and disentive constative speech. Speech 'ideational - ideational' occurs in retrodictive constative speech. 'Factual - ideational' utterances occur in ascriptive and retractive constative utterances. AbstrakDalam tuturan terdapat kompleksitas verbal berupa kalimat yang memiliki karakteristik kontinuitas, koheren, dan sesuai dengan konteks. Kompleksitas verbal tersebut digunakan untuk mengambarkan realitas yang diamati dan dirasakan oleh penutur. Masalah dalam penelitian ini mengkaji bagaimanakah tuturan konstatif ideasional yang bersilang ide dengan tuturan konstatif faktual, bagaimanakah tuturan konstatif ideasional yang bersilang ide dengan tuturan konstatif Ideasional, dan bagaimanakah tuturan konstatif faktual yang bersilang ide dengan tuturan konstatif Ideasional. Oleh karena itu, tujuan kajian ini ialah mendeskripsikan makna dan maksud dibalik tuturan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan analisis Pragmatik. Data berupa kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam dialog Mata Najwa ‘Mendadak Capres’. Pengumpulan data menggunakan Simak Bebas Libat Cakap (SLBC). Teknik analisis data menggunakan tiga komponen yaitu reduksi data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil peneltian ini ialah ditemukan makna dan maksud dibalik tuturan konstatif silang ide. Tuturan ‘ideasional – faktual’ terjadi pada tuturan konstatif asertif dan disentif. Tuturan ‘ideasional – ideasional’ terjadi pada tuturan konstatif retrodiktif. Tuturan ‘faktual – ideasional’ terjadi pada tuturan konstatif askriptif dan retraktif.
Indonesian Language Teachers' Skills to Write Academic Articles in Reputable Journals Indrya Mulyaningsih; Nurul Azmi; Bagaskara Nur Rochmansyah; Nana Priajana
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6739

Abstract

Teachers are fundamentally required to have pedagogical, personality, social, and professional competencies. One of their continuing professional competencies is to conduct academic publications. This study aims to explore academic publications in journals conducted by Indonesian language subject teachers at the high school level in Three Regions of Cirebon and the factors affecting them. The data were obtained by interviewing 138 out of 152 teachers because some school principals did not allow the interview and no permission letter from the National Unity and Political Agency, especially in Cirebon City. The interview results show that 35% of teachers have never published in Academic journals. This condition is partly due to the following factors: a) time, b) the purpose of the journal, c) lack of confidence, d) difficulty in researching online, e) age approaching retirement, f) technology stuttering, g) not accustomed to writing, h) lack of motivation, i) need approval from the supervisor, j) lack of knowledge on how to create an article, k) there is no demand and l) availability of funds. Therefore, there needs to be efforts from several parties, especially the school community. For example, the Subject Teacher Conference (MGMP) activities can also be utilized to introduce and familiarize teachers with Academic publications. School principals provide facilities for teachers to be able to conduct academic publications. AbstrakGuru pada dasarnya dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Salah satu kompetensi profesional berkelanjutan mereka adalah melakukan publikasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui publikasi akademik pada jurnal yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMA di Wilayah III Cirebon dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data diperoleh dengan mewawancarai 138 dari 152 guru karena beberapa kepala sekolah tidak mengizinkan wawancara dan tidak ada surat izin dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik khususnya di Kota Cirebon. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 35% guru belum pernah mempublikasikan di jurnal Akademik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor berikut: a) waktu, b) tujuan jurnal, c) kurang percaya diri, d) kesulitan melakukan riset online, e) usia mendekati pensiun, f) gagap teknologi, g) belum terbiasa untuk menulis, h) kurangnya motivasi, i) perlu persetujuan dosen pembimbing, j) kurangnya pengetahuan tentang cara membuat artikel, k) tidak ada permintaan dan l) ketersediaan dana. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dari beberapa pihak khususnya warga sekolah. Misalnya saja kegiatan Konferensi Guru Mata Pelajaran (MGMP) juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan dan membiasakan guru terhadap publikasi Akademik. Kepala sekolah memberikan fasilitas kepada guru untuk dapat melakukan publikasi akademik
Realisasi Pronomina dalam Bahasa Mooi: Analisis Tipologi Morfologi Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i2.496

Abstract

This study on relation of pronouns and affixation discusses about pronouns structure and affixes usage in Mooi language. Pronouns structures in Mooi language include personal pronouns, possessive pronouns, interrogative pronouns and demonstrative pronouns. The pronouns forms in Mooi language recognize gender forms and will experience sound changes if they are side by side with the first, second and third personal pronouns. On the other hand, affixations in Mooi language include preffixes, confixes, time marker confixes and personal confixes. The method used in this research is synchronic descriptif method, and the data collecting technique is spoken and listening technique. The data analysis technique is generalisation analysis technique that include several stages of forms and units determination in the corpus to morphology generalisation examination. ABSTRAKKajian tentang relasi pronomina dan afiksasi ini membahas tentang struktur kata ganti dan penggunaan afiks pada bahasa Mooi. Struktur kata ganti pada bahasa Mooi meliputi pronomina persona, pronomina milik, pronomina penanya dan pronomina penujuk. Bentuk pronomina dalam bahasa Mooi mengenal bentuk gender dan akan mengalami perubahan bunyi apabila berdampingan dengan kata ganti orang ke I, II, dan III. Sedangkan afikasasi pada bahasa Mooi meliputi prefiks, konfiks, konfiks penanda waktu dan konfiks persona. Metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah metode deskriptif sinkronis, dengan teknik pengumpulan data adalah teknik cakap dan simak. Teknik analisis data yaitu teknik analisis generalisasi yang meliputi beberapa tahapan dari penentuan bentuk dan satuan dalam korpus sampai pada pemeriksaan generalisasi morfologi.
Metafora dalam Meme Ucapan Selamat Pagi di Media Sosial Rini Damayanti; Fransisca Dwi Harjanti; Kaswadi kaswadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4862

Abstract

This study discusses the use of metaphors contained in good morning memes on social media. The problem studied is the types and purposes of writing memes in good morning greetings on social media. This research is a type of qualitative research whose data is sourced from social media, including WhatsApp and Facebook. Data were collected using the documentation method. The results of this study are the types of metaphors that are generally found in good morning greeting memes, among others; (1) anthropomorphic metaphors that use nature as a comparison with humans, including plants, mountains, seeds, light, and light; (2) animal metaphors that use animals as comparisons with humans, including birds, bees, and flies; (3) the metaphor of the structure of daily activities describes human traits that are far from gratitude, peace, and pride; (4) inanimate metaphor refers to a fixed form, for example, chest; (5) standard metaphor refers to a general form, for example, happiness cannot be separated from gratitude; and (6) creative metaphors are metaphors that are produced from the creativity of speakers, for example comparing God or God's hand with a painter. The purpose of using metaphors in good morning memes is to advise, encourage, invite gratitude, pray, and thank God. AbstrakPenelitian ini membahas tentang penggunaan metafora yang terdapat dalam meme ucapan selamat pagi di media sosial. Permasalahan yang dikaji adalah jenis-jenis dan tujuan ditulisnya meme dalam ucapan selamat pagi di media sosial. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang datanya bersumber dari media sosial, di antaranya adalah WhatsApp dan Facebook. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah jenis-jenis metafora yang umumnya terdapat dalam meme ucapan selamat pagi antara lain;  (1) metafora antropomorfisme yang menggunakan alam sebagai pembanding dengan manusia, di antaranya dengan tanaman, gunung, benih, cahaya, dan terang; (2) metafora binatang yang menggunakan binatang sebagai pembanding dengan manusia, di antaranya burung, lebah, dan lalat; (3) metafora struktur kegiatan sehari-hari menggambarkan sifat-sifat manusia yang jauh dari rasa syukur, rasa damai, dan kesombongan; (4) metafora mati mengacu pada bentuk yang bersifat tetap, misalnya lapang dada; (5) metafora standar mengacu pada bentuk yang bersifat umum, misalnya kebahagiaan tidak terlepas dari rasa syukur; dan (6) metafora kreatif merupakan metafora yang dihasilkan dari kreativitas penutur, misalnya membandingkan Tuhan atau tangan Tuhan dengan seorang pelukis. Tujuan penggunaan metafora dalam meme ucapan selamat pagi antara lain adalah menasihati, menyemangati, mengajak bersyukur, mendoakan, dan berterima kasih kepada Tuhan.
Eksplorasi Pembelajaran Membaca Pemahaman Teks Digital: Studi Pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Barat Ida Hamidah; Aan Anjasmara; Arip Hidayat
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8058

Abstract

This study aims to explore the profile of digital text reading comprehension instruction among students at private universities in West Java, focusing on the instructional process, learning outcomes, and learning needs. The study is grounded in the issue of low digital reading comprehension skills, which remains a significant challenge amid the increasing demands of digital literacy in the information age. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing data collection techniques including observation, interviews, documentation, and reading comprehension tests. The research subjects consisted of students from the Indonesian Language and Literature Education program at several purposively selected private universities. The findings reveal that the instructional process for digital reading comprehension remains conventional and does not yet optimally incorporate digital literacy strategies. Test results indicate that students’ abilities in understanding digital texts—ranging from literal and inferential to critical and creative comprehension—are generally in the low to moderate category. Furthermore, students' needs include adaptive reading strategies suited to the nature of digital texts, digital literacy training, and contextual and interactive instructional models. These findings highlight the urgency of developing instructional models that integrate discovery-based learning approaches with constructively responsive strategies to address the challenges of reading in digital environments. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil pembelajaran membaca pemahaman teks digital pada mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jawa Barat, dengan meninjau aspek proses pembelajaran, hasil belajar, dan kebutuhan pembelajaran. Permasalahan rendahnya kemampuan membaca pemahaman teks digital menjadi dasar dilakukannya studi ini, mengingat tuntutan literasi digital yang semakin tinggi di era informasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes kemampuan membaca. Subjek penelitian meliputi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari beberapa perguruan tinggi swasta yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran membaca pemahaman teks digital masih bersifat konvensional dan belum memanfaatkan strategi literasi digital secara optimal. Hasil tes menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam memahami teks digital, baik secara literal, inferensial, kritis, maupun kreatif, berada pada kategori rendah hingga sedang. Selain itu, kebutuhan mahasiswa mencakup perlunya strategi membaca yang adaptif terhadap karakteristik teks digital, pelatihan literasi digital, serta model pembelajaran yang kontekstual dan interaktif. Temuan ini mengindikasikan urgensi pengembangan model pembelajaran yang mampu mengintegrasikan pendekatan berbasis penemuan dan respons konstruktif terhadap tantangan membaca di lingkungan digital.
Penggunaan Bahasa Nonverbal dalam Upacara Adat Pernikahan Gaya Yogyakarta: Kajian Simbolik Etnopragmatik NFN Pranowo; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 1 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i1.2321

Abstract

This research is an interpretive reflective research with ethnopragmatic symbolic study theory. The source of the research data was taken from the documents of two makeup artists from Yogyakata, namely the makeup dresser Lisandra and the makeup dresser Hj. Rochayati. The research data are in the form of Javanese traditional wedding document of Yogyakarta style. The data collection technique is in the form of observation of photo documentation to obtain data in the form of a marriage ceremony sequence that uses verbal and nonverbal language from preparation to the end. The data analysis technique is interpretive reflective. The concrete steps of data analysis are (a) identifying documents, (b) classifying the sequences of marriages, and (c) interpreting each stage of the ceremony. The objectives of the research are (1) to describe the form of nonverbal language in traditional marriage ceremonies, and (2) to describe the non-verbal symbolic meaning of non-verbal language in marriage ceremonies. The findings of the research are that (a) the form of Yogyakarta-style traditional wedding events there are 15 stages, ranging from paningsetan to reception, and (b) ethnopragmatic symbolic meaning in general in the form of prayer requests so that what is desired can be realized.AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian reflektif interpretatif dengan teori kajian simbolik etnopragmatik. Sumber data penelitian diambil dari dokumen dua orang juru rias dari Yogyakata, yaitu rias pengantin Lisandra dan rias penantin Hj. Rochayati (nama disamarkan). Data penelitian berupa dokumen foto perkawinan adat Jawa gaya Yogyakarta. Teknik pengumpulan data berupa observasi dokumentasi foto untuk mendapatkan data berupa urutan upacara perkawinan yang menggunakan bahasa verbal dan bahasa nonverbal dari persiapan sampai dengan akhir. Teknik analisis data dilakukan secara reflektif interpretatif. Langkah konkret analisis data adalah (a) mengidentifikasi dokumen, (b) mengklasifikasi urut-urutan acara perkawinan, dan (c) menginterpretasi tiap tahapan upacara. Tujuan penelitiannya adalah (1) mendeskripsikan wujud bahasa nonverbal dalam upacara adat perkawinan, dan (2) mendeskripsikan makna simbolik etnopragmatik bahasa nonverbal dalam upacara adat perkawinan. Temuan hasil penelitian adalah bahwa (a) wujud acara adat perkawinan gaya Yogyakarta terdapat 15 tahapan, mulai dari paningsetan sampai dengan resepsi, dan (b) makna simbolik etnopragmatik pada umumnya berupa doa permohonan agar apa yang diinginkan dapat terwujud.
Perubahan Bahasa Aceh: Tinjauan Realitas Penggunaan Bahasa Aceh dalam Interaksi Sosial di Aceh Teuku Alamsyah; Muhammad Iqbal; Rostina Taib
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5207

Abstract

This study aimed to describe changes the Acehnese language in the lexical aspect in the reality of everyday Acehnese speech. Qualitative research methods have also been established as research methods for all research activities. Two groups of bilingual speakers, namely the Acehnese (Aceh-Indonesian) ethnic community who speak two languages, namely Acehnese and Indonesian in daily social interactions and the bilingual Acehnese (Aceh-Indonesian) ethnic community who use the Acehnese language in social interactions have been designated as data source. The study was carried out in three districts/cities in Aceh Province, namely Banda Aceh City, Aceh Besar District, and Aceh Jaya District, involving participants in childhood, adulthood, and old age. The results showed that the lexical changes of language were in the form of lexical loss, lexical borrowing, and lexical creation. The most dominant factor causing the Acehnese lexical change is the external motivation factor. The conclusion of this study is that the lexical change of the Acehnese language in the context of bilingual speakers has taken place, is ongoing, and has the potential to continue in line with the social changes of society due to the progress of the times. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan bahasa Aceh pada aspek leksikal dalam realitas tuturan penutur bahasa Aceh sehari-hari. Metode penelitian kualitatif pula telah ditetapkan sebagai metode penelitian untuk keseluruhan aktivitas penelitian. Dua kelompok penutur bilingual, yaitu masyarakat etnis Aceh (Aceh-Indonesia) penutur dua bahasa, yaitu bahasa Aceh dan bahasa Indonesia dalam interaksi sosial sehari-hari dan masyarakat etnis Aceh bilingual (Aceh-Indonesia) yang menggunakan bahasa Aceh dalam interaksi sosial telah ditetapkan sebagai sumber data. Kajian dijalankan pada tiga kabupaten/kota di Provinsi Aceh, yaitu Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Jaya dengan melibatkan partisipan usia kanak-kanak, usia dewasa, dan usia tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan leksikal bahasa wujud dalam bentuk kehilangan leksikal, peminjaman leksikal, dan penciptaan leksikal. Faktor penyebab perubahan leksikal bahasa Aceh yang paling dominan adalah faktor motivasi eksternal. Simpulan hasil kajian ini adalah perubahan leksikal bahasa Aceh dalam konteks penutur bilingual telah berlangsung, sedang berlangsung, dan memiliki potensi akan terus berlangsung sejalan dengan perubahan sosial masyarakat akibat kemajuan zaman.