cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Gejala Hiperkorek Pada Tugas Mahasiswa yang Berbantukan Artificial Intelligence: Kajian Semantik Emah Khuzaemah; Veni Nurpadillah; Dima Azharul Fahira; Muhammad Arif Rahman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8019

Abstract

This study aims to analyze the phenomenon of hypercorrection in students’ assignments written with the assistance of Artificial Intelligence (AI). This research employs a descriptive qualitative method. The data sources are students’ assignments produced with the help of AI applications. The data consist of text excerpts in the form of words, phrases, clauses, and sentences containing semantic errors. The research was conducted at three universities UIN Siber Syekh Nurjati, Universitas Kuningan, and Universitas Darul Ma’arif specifically in the Indonesian Language Education study program, from May to September 2024. Data were collected using the non-participatory observation method (Simak Bebas Libat Cakap) and note-taking technique. The data were analyzed using the distributional method (Metode Agih) with the Immediate Constituent Analysis technique (Bagi Unsur Langsung/BUL) and the translational equivalent method (Metode Padan Translasional) with the Determining Element Sorting technique (Pilah Unsur Penentu/PUP). The results show that from the essays produced by students across the three universities in the Ciayumajakuning region, there were 27 cases of hypercorrection errors. These errors generally occurred due to the excessive or inappropriate use of words that altered the intended meaning. Overall, the findings indicate that the use of AI in academic writing has not yet fully supported linguistic accuracy, particularly in the semantic aspect. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gejala hiperkorek dalam tugas mahasiswa yang disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian berasal dari tugas mahasiswa yang menggunakan bantuan AI dalam proses penulisannya. Data penelitian berupa penggalan teks berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mengandung kesalahan berbahasa pada tataran semantik. Penelitian dilaksanakan di tiga universitas, yaitu UIN Siber Syekh Nurjati, Universitas Kuningan, dan Universitas Darul Ma’arif pada program studi Pendidikan Bahasa Indonesia, dengan waktu pelaksanaan mulai Mei hingga September 2024. Teknik pengumpulan data menggunakan metode simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan metode agih menggunakan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL) serta metode padan translasional dengan teknik Pilah Unsur Penentu (PUP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari teks esai mahasiswa di tiga universitas wilayah Ciayumajakuning ditemukan sebanyak 27 data kesalahan berbahasa yang tergolong gejala hiperkorek. Kesalahan tersebut umumnya berupa penggunaan kata berlebihan atau bentuk koreksi berlebihan yang tidak sesuai dengan konteks makna. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam penyusunan tugas akademik belum sepenuhnya mampu mendukung ketepatan berbahasa, khususnya pada aspek semantik.
PEMERTAHANAN BAHASA IBU MELALUI GRUP WhatsApp Sahril Sahril
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.37

Abstract

anguage preservation could occur if a community collectively used the language wholly. The use of mother language in communities such as in Cendekiawan Batubara WhatsApp group truly supported the effort to preserve the existence of Melayu Batubara language from extinction. This study focused on some archaic vocabularies in Melayu Batubara language that are no longer used in Melayu Batubara communities themselves. This study aimed to describe the language preservation of mother language which indirectly has been carried out by Cendekiawan Batubara WhatsApp group.  ABSTRAKPemertahanan bahasa dapat terjadi bila suatu komunitas secara kolektif menggunakan bahasa itu sepenuhnya. Penggunaan bahasa ibu yang terjadi pada komunitas di grup WhatsApp Cendekiawan Batubara sangat mendukung upaya mempertahankan eksistensi bahasa ibu dari kepunahan bahasa Melayu dialek Batubara. Kajian ini terfokus pada beberapa kosakata arkais bahasa Melayu dialek Batubara yang tidak lagi dipakai dalam komunikasi etnis Melayu Batubara itu sendiri. Kajian ini berusaha menemukan deskripsi pemertahanan bahasa ibu yang secara tidak langsung telah dilakukan oleh komunitas di grup WhatsApp Cendekiawan Batubara.
Fillers and Their Functions in Emma Watson’s Speech Bernadeta Siska Indriyana; Maria Wisendy Sina; Barli Bram
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.1350

Abstract

Fillers are utterances or phrases that are used in speaking to fill in the moment of silence to connect thoughts or ideas. This paper investigated the types and functions of fillers used by Emma Watson in her speeches. The researchers formulated two questions to be resolved. First, what are the types of fillers used in Emma Watson’s speeches? Second, what are the functions of filler words in the speeches? Data, consisting of 93 occurrences of fillers, were collected from Emma Watson’s speech scripts in three videos. To solve the research questions, the researchers used the descriptive qualitative approach and discourse analysis. Results showed that Watson used two types of fillers, namely unlexicalized filled pauses (71 occurrences) and lexical filled pauses (22 occurrences) and five functions of fillers, namely hesitating, empathizing, mitigating, editing term and time-creating devices. AbstrakFiller atau kata pengisi merupakan ujaran atau frase yang digunakan dalam jeda percakapan untuk menghubungkan gagasan atau ide berikutnya. Makalah ini menyelidiki jenis dan fungsi kata pengisi yang digunakan oleh Emma Watson dalam pidatonya. Para peneliti merumuskan dua permasalahan. Pertama, apa jenis kata pengisi yang digunakan dalam pidato Emma Watson? Kedua, apa fungsi dari kata pengisi dalam pidato Emma Watson? Data, yang terdiri atas 93 kata pengisi, dikumpulkan dari tiga naskah video pidato Emma Watson. Untuk menjawab kedua permasalahan dalam studi ini, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis wacana. Hasil analisis menunjukkan bahwa Watson menggunakan dua jenis kata pengisi, yaitu jeda terisi non-leksikal (71 kali) dan jeda terisi leksikal (22 kali), serta lima fungsi kata pengisi, yaitu sebagai perangkat keragu-raguan, berempati, mengurangi efek, memperbaiki istilah, dan menambah waktu.
Kesalingmengertian Lek Bidayuh Pegunungan Kalimantan Barat Fandis Nggarang
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6835

Abstract

This study aims to inform intelligibility among the lects of ten Mountain Bidayuh sub-tribes, namely Tengon, Sapatoi, Butok, Liboy, Kowotn, Tamong, Tawang, Suti Bamayo, Badeneh, and Tadietn. The data was collected through participatory dialect mapping (DM), a procedure developed by Hasselbring (2010, 2012) and then modified by Anderbeck (2018). The data was then analyzed using the descriptive qualitative method. The result of dialect mapping shows us that the lects which can be paired due to having mutual intelligibility are Butok-Liboy, Liboy-Kowotn, Kowotn-Tamong, Tamong-Tawang, Tawang-Sapatoi, Sapatoi-Tengon, and Suti Bamayo-Badeneh. It is estimated that, for language conservation, speakers of both parts can share the translation material in their own lect. The results of the analysis also show that except for Tamong-Tawang and Suti Bamayo-Badeneh, intelligibility in Mountain Bidayuh tends to be formed from exposure (acquired intelligibility), especially among adult speakers. This is supported by the geographical reality in the Mountain Bidayuh, where two lects with mutual intelligibility are spoken in adjacent areas, which allows for close contact and understanding between speakers of each lect. Among the relationships of mutual intelligibility of these lects, Tamong-Tawang and Suti Bamayo-Badeneh are strongly suspected of having inherent intelligibility, because the relationships of the pair is high, marked by a good level of mutual understanding among child speakers, so the two pairs of lect can probably group themselves to form one common language. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesalingmengertian sepuluh lek sub suku Bidayuh pegunungan, yaitu  Tengon, Sapatoi, Butok, Liboy, Kowotn, Tamong, Tawang, Suti Bamayo, Badeneh, dan Tadietn di Kalimantan Barat. Data dikumpulkan melalui prosedur pemetaan dialek, sebuah prosedur yang dikembangkan oleh Hasselbring (2010, 2012) dan dimodifikasi oleh Anderbeck (2018). Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil proses pemetaan dialek menunjukkan bahwa lek yang memiliki kesalingmengertian adalah Butok-Liboy, Liboy-Kowotn, Kowotn-Tamong, Tamong-Tawang, Tawang-Sapatoi, Sapatoi-Tengon, dan Suti Bamayo-Badeneh. Dalam konteks konservasi bahasa, diperkirakan penutur lek yang berpasangan ini dapat berbagi materi terjemahan dalam lek mereka masing-masing. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa, kecuali untuk Tamong-Tawang dan Suti Bamayo-Badeneh, kesalingmengertian antara lek-lek Bidayuh pegunungan lainnya cenderung dibentuk dari eksposur (acquired intelligibility), khususnya di kalangan penutur dewasa. Hal ini didukung oleh kenyataan geografis di wilayah Bidayuh pegunungan, di mana lek-lek yang memiliki kesalingmengertian dituturkan di wilayah yang berdekatan, yang memungkinkan terjalinnya kontak yang erat dan kesepahaman di antara penutur masing-masing lek. Di antara relasi kesalingmengertian lek-lek tersebut, Tamong-Tawang dan Suti Bamayo-Badeneh diduga kuat memiliki kesalingmengertian yang inheren (inherent intelligibility), karena kesalingmengertian pasangan lek tersebut begitu tinggi, ditandai oleh adanya level pemahaman yang baik di antara penutur anak-anak. Kedua pasangan lek tersebut kemungkinan dapat mengelompok sendiri dalam satu bahasa yang sama.
VITALITAS BAHASA USING BANYUWANGI BERHADAPAN DENGAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2014: KISAH PENYUDUTAN BAHASA USING BANYUWANGI M. Oktavia Vidiyanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.151

Abstract

This paper is motivated by the Regulation of the Governor of East Java Number 19 of 2014 about the subject of local language as a local content that is required to be taught in elementary schools/madrasah, Madura and Javanese language. In the regulation, Using language is not included as one of the local contents. Meanwhile, the Local Regulation of Banyuwangi stated that Using language should be thought in elementary schools and junior high schools since 2007. It certainly caused paradox between the Regulation of the Governor and the Local Regulation of Banyuwangi Regency. This paper highlights how Using Bayuwangi language has high language vitality and is able to accommodate with other languages (i.e. Gintangan Village, Rogojampi District, Banyuwangi). The ability of Using language to survive within the society obviously draws questions as to why the Regulation of the Governor is unable to observe from the ethics and emic point of views. The ethics point of view mostly theoretically, which is probably temporary and needed to be verified, while the emic point of view tends to be practical, historical and concrete. A compromised solution may needed to be sought, for example only languages that are truly maintained by its people and proved to have high ethnolinguistic vitality that should be preserved, while others probably should be sacrificed. ABSTRAKMakalah ini bertolak pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 19 tahun 2014 tentang mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib diajarkan sekolah/madrasah yaitu bahasa daerah Madura dan bahasa Jawa. Di dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur tersebut Bahasa Using tidak diikutsertakan dalama muatan lokal tersebut. Sementara itu, Peraturan Daerah Banyuwangi yang memberlakukan bahasa daerah Using diajarkan di SD dan SMP sejak tahun 2007. Hal ini tentunya timbul paradoks di dalam Peraturan Gubernur dan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Tulisan ini menyoroti bagaimana bahasa Using Banyuwangi memiliki vitalitas bahasa yang tinggi dan mampu berakomodasi dengan bahasa di luar bahasa Using (sampel Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi). Kemampuan bahasa Using yang dapat bertahan di masyarakatnya tersebut tentunya memunculkan pertanyaan mengapa Peraturan Gubernur tidak melihat dari sudut pandangan etik dan emik dalam bahasa. Pandangan etik lebih banyak bersifat teoretis, masih bersifat sementara dan perlu diuji kebenarannya. Sementara pandangan emik lebih bersifat praktis, kesejarahan, dan kenyataan yang konkret. Untuk itu perlu dicari penyelesaian kompromistis, hanya bahasa yang benar-benar dipelihara oleh masyarakatnya, yang terbukti vitalitas etnolinguisnya tinggi, dan yang perlu dilestarikan.
Perception of Interdialectal Accommodation by Sellers and Buyers in Sasak: A Sociolinguistic Perspective Abdul Muhid; Sri Ningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4039

Abstract

This research focuses on the strategy of communication which was used by the speakers of two different dialects between meriaq-meriku vs meno-mene in Sasak language, especially amongst sellers-buyers in markets domain in central Lombok West Nusa Tenggara. The data were recorded at four markets where the speakers of two different dialects meet. This current result reveals the effective strategy in communication by accommodating each other (sellers-buyers). Further, it elucidates the accommodation pattern strategy in two different dialects which are commonly used by the sellers-buyers in doing transactions. The current researchers composed the data through the interview, direct observation, and recording or note-taking. The method used to reveal the phenomenon is a qualitative method and interpreted the data to meet the qualified result of research. Therefore, the result shows that applying inter-dialectal accommodation is effective. AbstrakPenelitian ini berfokus pada strategi komunikasi yang digunakan oleh penutur dua dialek yang berbeda antara meriaq-meriku vs meno-mene dalam bahasa Sasak, khususnya antara penjual-pembeli di ranah pasar di Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Data tersebut direkam di empat pasar tempat bertemunya penutur dari dua dialek yang berbeda. Hasil saat ini mengungkapkan strategi yang efektif dalam komunikasi dengan saling mengakomodasi (penjual-pembeli). Selanjutnya diuraikan strategi pola akomodasi dalam dua dialek yang berbeda yang biasa digunakan oleh penjual-pembeli dalam melakukan transaksi. Peneliti saat ini menyusun data melalui wawancara, observasi langsung, dan pencatatan atau pencatatan. Metode yang digunakan untuk mengungkap fenomena tersebut adalah metode kualitatif dan menginterpretasikan data untuk memenuhi hasil penelitian yang memenuhi syarat. Oleh karena itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan akomodasi antar dialek efektif.
Taksonomi Fungsi Lanskap Linguistik Taman Ayodia dan Taman Puring Jakarta Selatan Hilda Hilaliyah; Mulyono Mulyono; Mintowati Mintowati; Agusniar Dian Savitri; Djodjok Soepardjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.7063

Abstract

Ayodia Park and Puring Park are one of the parks located in DKI Jakarta. In the park there are many linguistic landscapes that can be studied and analyzed in the midst of English globalization. The Indonesian language is present as the national language for the development and education it deserves. This research aims to study the use of language for markers on two parks in the Capital viewed from information and symbolic functions. This method of research is qualitatively descriptive using the approaches of Spolsky and Coper (1997) as well as Landry and Bourhis (1991). The results of the research showed that the use of markers in Ayodia Park and South Jakarta Puring Park has several boards, namely officials, zone labels, regulations, ban boards and warning boards. These boards use a variety of materials, ranging from cement, zinc, fiber, posters with a combination of attractive colors, like red, white, green, orange, and yellow. The language used is mostly Indonesian, there are also some monolinguistic and bilingual boards. From the overall analysis it is known that of several elements of LL Sapolsky and Cooper namely (1) street signs, (2) advertising signes, (3) warnings and prohibitions, (4) the names of buildings, (5) information sign, (6) warning sign, (7) objects, and (8) graffiti used in Puring Park and Ayodya Park. These eight elements have very important functions and utilities for the users of the public area, that is, the general public. By using and managing these linguistic landscape elements well, parks like Puring Park and Ayodya Park can be a pleasant, informative, and safe environment for its visitors. AbstrakTaman Ayodia dan Taman Puring adalah salah satu taman yang terletak di DKI Jakarta. Dalam taman terdapat banyak lanskap linguistik yang dapat dikaji dan dianalisis di tengah pengglobalisasian bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa nasional untuk pembangunan dan pendidikan yang sudah sepatutnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan bahasa untuk papan penanda pada dua taman di Ibu Kota dilihat dari fungsi informasi dan simbolik. Metode penelitian ini kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan Spolsky dan Coper (1997) serta Landry dan Bourhis (1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan papan penanda di Taman Ayodia dan Taman Puring Jakarta Selatan terdapat beberapa papan, yaitu papan peresmian, papan tanda pelabelan zona area, papan peraturan, papan larangan, dan papan peringatan. Papan ini menggunakan berbagai material, mulai dari semen, seng, fiber, poster dengan kombinasi warna-warna yang mengundang atensi, seperti merah, putih, hijau, orange, dan kuning. Bahasa yang digunakan lebih banyak berbahasa Indonesia, ada pula beberapa papan yang monolinguistik dan bilingual. Dari keseluruhan analisis diketahui bahwa dari beberapa elemen LL Sapolsky dan Cooper yaitu (1) tanda jalan, (2) tanda iklan, (3) peringatan dan larangan, (4) nama-nama gedung, (5) tanda informasi, (6) tanda peringatan, (7) objek, dan (8) grafiti digunakan di Taman Puring dan Taman Ayodya. Kedelapan elemen ini memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat penting bagi pengguna area publik yaitu masyarakat luas. Dengan memanfaatkan dan mengelola elemen-elemen lanskap linguistik ini dengan baik, taman seperti Taman Puring dan Taman Ayodya dapat menjadi lingkungan yang menyenangkan, informatif, dan aman bagi pengunjungnya.
Tindak Tutur Ekspresif pada Aanak-anak Saat Bermain Bola di Lapangan NFN defina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.469

Abstract

When playing, children will communicate to one another. They use language when communicating with their interlocutors. In this sense, this study was aimed at analyzing types of expressive illocutionary speech acts produced by children to communicate when playing. Ethnographic communication method was employed in this research done at Klender National Residence, East Jakarta. The data collecting technique was observation aimed to take down notes the children’s speech acts when playing football, in particular. The obtained data were then analyzed by using matching method. Meanwhile, this research employed Schiffrin’s speech acts theory. The findings revealed that in the distribution of the use of expressive speech acts in the children’s dialogues when playing football were identified six pairs of speech. From the six pairs, only two types of expressive speech acts were identified, while the other three were none. The produced expressive speech acts are 1) blaming expression in five pairs (83,3%) and 2) pardoning expression in one pairs (16,7%). On the other hand, the unidentified types of expressive speech acts are 1) thanking, 2) congratulating, 3) praising and 4) condoling, 5) welcoming, 6) criticising,  7) complaining,  dan 8)  flattering. In conclusion, the children used expressive illocutionary speech acts more with blaming expression than those with pardoning, thanking, congratulating, praising and  condoling. So, their communicative language tends to involve blaming expressions. AbstrakSaat bermain, anak-anak akan berkomunikasi sesamanya. Mereka menggunakan bahasa saat berkomunikasi dengan mitra tutur.  Sehubungan dengan hal itu, tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis jenis tindak tutur illokusioner ekspresif yang dihasilkan anak-anak untuk berkomunikasi saat bermain. Metode penelitian ini adalah metode etnografi komunikasi. Penelitian dilaksanakan di Perumnas Klender, Jakarta Timur. Teknik pengumpulan data melalui observasi. Observasi bertujuan mencatat tuturan-tuturan anak-anak saat bermain bola. Teknik analisi data,data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode padan. Teori yang digunakan adalah teori tindak tutur yang dikemukan Schiffrin. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa distribusi penggunaan tindak tutur ekspresif  dalam dialog anak-anak saat bermain bola, dapat diidentifikasi 6 pasang ujaran.  Dari enam pasang ujaran, hanya ada dua jenis ujaran ekspresif, sedangkan tiga jenis ujaran ekspresif lainnya tidak ada.Tindak tutur yang dihasilkan itu adalah 1) tindak tutur ekspresif menyalahkan berjumlah 5 pasangan ujaran  (83,3 %) dan 2) tindak tutur ekspresif  meminta maaf 1 pasangan ujaran (16,7 %).  Sebaliknya, tindak tutur ekspresif yang tidak dipergunakan 1) berterima kasih, 2) memberi selamat, 3) memuji, 4) belangsung kawa, 5) menyambut, 6) mengkritik, 7)  mengeluh,  dan 8) menyanjung. Kesimpulannya adalah dalam bermain, anak-anak lebih banyak menggunakan tindak tutur ilokusi ekspresif  menyalahkan jika dibadingkan dengan tindak tutur  meminta maaf, berterima kasih, memberi selamat, memuji, belangsung kawa, menyambut, mengkritik, mengeluh, dan menyanjung. Jadi, bahasa mereka dalam berkomunikasi cenderung menyalahkan.
Balinese Language on the Street Signs in Singaraja Town, Bali: A Linguistic Landscape Analysis I Made Suta Paramarta
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4197

Abstract

The existence of local languages in Indonesia, including Balinese language is often related to marginalization issue. Some previous research revealed that Balinese language is rarely used in public spaces. The local government implements Governor Regulation Number 80 of 2018 to officially protect the language, including its existence in public spaces. This research explores the existence of Balinese language and script on the lingual street signs in Singaraja, North Bali. Further, the distribution of the lingual street signs is also investigated to reveal the government's primary and secondary target areas in language protection. The subjects of the study are 151 street signs that are placed by the department of transportation of Buleleng regency. The data are obtained through photograph taking and observation. The research reveals that the presence of Indonesian language marginalizes Balinese language. The regulation only successfully improves the use of Balinese script instead of the use of Balinese language. In terms of the sign distribution, the government focuses on signs with Balinese script at the center of the town due to the intense language contact in the area.  AbstrakKeberadaan bahasa daerah di Indonesia, termasuk bahasa Bali sering dihubungkan dengan isu marginalisasi. Beberapa penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa bahasa Bali jarang digunakan di ruang publik. Pemerintah daerah Bali telah menerapkan Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2018 untuk secara resmi melindungi bahasa dan aksara Bali, termasuk keberadaannya di ruang publik. Sehubungan dengan itu, penelitian ini menggali keberadaan bahasa dan aksara Bali pada rambu-rambu jalan lingual di Singaraja, Bali Utara. Selanjutnya, sebaran rambu-rambu jalan lingual juga diselidiki untuk mengungkap wilayah sasaran primer dan sekunder pemerintah dalam perlindungan bahasa Bali. Subyek penelitian adalah 151 rambu jalan yang dipasang oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng. Data diperoleh melalui pengambilan foto dan observasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahasa Bali terpinggirkan dengan kehadiran bahasa Indonesia. Peraturan gubernur tersebut hanya berhasil meningkatkan penggunaan aksara Bali ketimbang penggunaan bahasa Bali. Dalam hal distribusi tanda, pemerintah memfokuskan penggunaan tanda dengan aksara Bali di pusat kota karena kontak bahasa yang intens terjadi di daerah tersebut.
Pengembangan Bahan Ajar Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa (Development Of Speaking Teaching Materials Based On Language Politeness) Akhyaruddin Akhyaruddin; Priyanto Priyanto; Ade Bayu Saputra; Arum Gati Ningsih; Andiopenta Purba; Nurfadilah Nurfadilah; Lusia Oktri Wini
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7781

Abstract

This research implements Leech and Grice's language politeness maxims in the development of Speaking teaching materials. The goal is to produce a product of Speaking Teaching Materials Based on Language Politeness. The method used to achieve this goal is Research and Development with the procedure of Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. The method used to determine the feasibility of teaching material products developed is the questionnaire method of validation of language politeness material experts, teaching material readability experts, teaching material book graphics experts and teaching material user practitioners. The overall data obtained through the questionnaire is processed with descriptive statistics. Using Likert scale criteria, the results of expert validation show that the aspect of the material aspect of language politeness has a percentage of 88.66% with a very valid category, the graphical aspect of the teaching material book gets a percentage of 93.33% with a very valid category. The user practitioner test obtained the feasibility of teaching material products of 94.98% with a very feasible category. The results of the expert validation test and practitioner test show a percentage far above 61%. Thus, the product of Speaking Based on Language Politeness teaching materials produced is feasible to be implemented in the lecture process. AbstrakPenelitian ini mengimplementasikan maksim-maksim kesantunan berbahasa Leech dan Grice dalam pengembangan bahan ajar Berbicara. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk bahan ajar Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Research and Development dengan prosedur Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. Metode untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar yang dikembangkan adalah metode angket validasi ahli materi kesantunan berbahasa, ahli keterbacaan bahan ajar, ahli grafika buku bahan ajar, dan praktisi pengguna bahan ajar. Keseluruhan data yang diperoleh melalui angket diolah dengan statistik deskriptif. Dengan menggunakan kriteria skala likert, hasil validasi ahli menunjukkan bahwa aspek materi kesantunan berbabahasa memilki persentase 88,66% dengan kategori sangat valid; aspek keterbacaan bahan ajar memeroleh persentase 97,33% dengan kategori sangat valid; aspek grafika buku bahan ajar memeroleh persentase 93,33% dengan kategori sangat valid.  Uji prktisi pengguna diperoleh kelayakan produk buku bahan ajar sebesar 94,98% dengan kategori sangat layak. Hasil uji validasi ahli dan uji praktisi tersebut menunjukkan persentase jauh di atas 61%. Dengan demikian, produk bahan ajar Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa yang dihasilkan layak diimplementasikan dalam proses perkuliahan.