cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) d.a Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : https://doi.org/10.64014/jik
Core Subject :
Inovasi Kurikulum journal (Jurnal Inovasi Kurikulum/JIK) is an open access and peer-reviewed journal published by Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) in collaboration with Curriculum Development Study Program, Faculty of Education, Universitas Pendidikan Indonesia. The journal includes particular interests in issues related to curriculum development, including curriculum design, implementation, evaluation, and learning development (resources, models, media, and assessment). Inovasi Kurikulum aims to publish research conducted by researcher, teachers, lecturers, and others focusing on research at the levels of Early Childhood, Elementary, Junior High, or Senior High Schools, as well as Higher-Education.
Arjuna Subject : -
Articles 537 Documents
Patterns of planning and implementation of PJOK curriculum in elementary schools in the post-COVID-19 pandemic period Mohammad Faruk; Mohammad Ali; Rudi Susilana; Laksmi Dewi; Norlidah Alias; I Made Sriundy M; Imam Syafi’i
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.63395

Abstract

Learning planning must be adjusted to students’ conditions to achieve educational goals. The COVID-19 pandemic brought significant changes requiring high adaptability, especially in education. This study aims to identify planning and implementation patterns of the Physical Education and Health (PJOK) curriculum in elementary schools during the post-COVID-19 pandemic. Using a descriptive survey method, the research explored how PJOK teachers plan and implement home-based learning during this period. Data was collected via a Google Forms questionnaire from 33 PJOK teachers who participated in a Focus Group Discussion on post-pandemic curriculum planning. The study’s findings reveal that most teachers adjusted their planning based on the available facilities and infrastructure in students' homes. The curriculum was simplified to emphasize life skills relevant to the post-pandemic context. Implementing the PJOK curriculum requires collaboration with parents to monitor and support student learning at home. Teachers predominantly use WhatsApp to deliver instructional materials and rely on YouTube as a learning resource. This research highlights the need for adaptive curriculum strategies that accommodate challenges in post-pandemic education while ensuring effective learning despite limited resources.   Abstrak Perencanaan pembelajaran harus menyesuaikan dengan kondisi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan lingkungan yang memerlukan adaptasi tinggi, terutama dalam pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola perencanaan dan implementasi kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di sekolah dasar pada masa pasca pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah metode survei deskriptif untuk menggambarkan pola perencanaan yang dilakukan oleh guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta implementasi dalam pembelajaran di rumah pada masa pasca pandemi COVID-19. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diterapkan menggunakan google form kepada 33 guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang mengikuti Focus Group Discussion perencanaan kurikulum Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di masa pasca pandemi COVID-19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan melakukan penyesuaian perencanaan berdasarkan kondisi sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki orangtua. Penyederhanaan kurikulum yang berfokus pada kecakapan hidup peserta didik dalam situasi dan kondisi pasca pandemi COVID-19. Implementasi kurikulum PJOK di masa pasca pandemi COVID-19 membutuhkan kolaborasi dengan orang tua dalam proses penyampaian dan pemantauan kegiatan belajar siswa selama di rumah. Guru banyak menggunakan media aplikasi WhatsApp dalam menyampaikan informasi bahan ajar dan menggunakan YouTube sebagai sumber belajar. Kata Kunci: COVID-19; implementasi kurikulum; pendidikan jasmani dan kesehatan
Literature review: Evaluation of the Kurikulum Merdeka using the CIPP model Muhamad Kosim Gifari; Zainal Arifin
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71095

Abstract

Indonesia's participation in the Programme for International Students Assessment (PISA) showed unsatisfactory results, with reading, math, and science proficiency ranked in the bottom 10 out of 79 participating countries. This problem encourages academics in Indonesia to find solutions to improve the quality of education. The government developed the Kurikulum 2013 into the Kurikulum Merdeka to adapt to global developments. The Kurikulum Merdeka is expected to develop students' potential and abilities through critical, quality, expressive, applicative, varied, and progressive learning. Curriculum evaluation is needed to determine the value and meaning of the Kurikulum Merdeka implemented nationally. This study uses the literature review method to evaluate the Kurikulum Merdeka using the Context, Input, Process, and Product (CIPP) model. The results of the evaluation show that the Kurikulum Merdeka has achieved several levels of success in meeting the needs of students, teachers, and the community. The main findings include success in the internship program for vocational school students, Project-Based Learning at Madrasah Ibtidaiyah Yogyakarta, and early childhood art learning. However, challenges such as the availability of resources and facilities, the need to develop evaluation instruments, and educational staff training need to be addressed for future improvement. These evaluations provide recommendations such as increased cooperation between educational institutions and industry and increased training for educational staff.   Abstrak Partisipasi Indonesia dalam Programme for International Students Assessment (PISA) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, dengan peringkat kemampuan membaca, matematika, dan sains berada di 10 terbawah dari 79 negara peserta. Masalah ini mendorong akademisi di Indonesia untuk mencari solusi guna meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan global, pemerintah mengembangkan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka diharapkan dapat mengembangkan potensi dan kemampuan siswa melalui pembelajaran yang kritis, berkualitas, ekspresif, aplikatif, variatif, dan progresif. Evaluasi kurikulum diperlukan untuk memperoleh informasi dari nilai dan arti kurikulum merdeka yang telah diimplementasikan secara nasional. Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk mengkaji evaluasi Kurikulum Merdeka menggunakan model Context, Input, Process, dan Product (CIPP). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka telah mencapai beberapa tingkat kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan siswa, guru, dan masyarakat. Temuan utama mencakup keberhasilan dalam program magang siswa SMK, pembelajaran berbasis Project Based Learning di Madrasah Ibtidaiyah Yogyakarta, dan pembelajaran seni anak usia dini. Namun, tantangan seperti ketersediaan sumber daya dan fasilitas, serta perlunya pengembangan instrumen evaluasi dan pelatihan staf pendidikan, perlu diatasi untuk perbaikan di masa depan. Evaluasi ini memberikan rekomendasi seperti peningkatan kerjasama antara institusi pendidikan dan industri, serta peningkatan pelatihan untuk staf pendidikan. Kata Kunci: evaluasi kurikulum; kurikulum Merdeka; model CIPP
Strengthening the gotong royong character of elementary school students through cooperative learning Tazkiya Pasa Awaliya; Ratnasari Diah Utami
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.73624

Abstract

Gotong royong is an Indonesian culture that reflects mutual help and harmony. In learning, gotong royong plays a crucial role in group collaboration to achieve goals. This study aims to describe efforts to strengthen the character of gotong royong through a cooperative learning model in grade V elementary students. Using a qualitative approach with a case study design, data was collected through interviews, observations, and document analysis. Data validity was ensured through triangulation of sources and techniques. Data analysis included three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings show that applying the cooperative learning model significantly contributes to developing students' mutual cooperative character. Gotong royong skills improve through active participation in group activities, strengthening solidarity, empathy, and teamwork. Implementing strategies such as group formation, role assignment, and joint evaluation fosters collective responsibility. This research also aligns with the goals of the Independent Learning Curriculum by shaping student characters that align with the Pancasila Student Profile. The study suggests a broader application of this model and encourages further research to gain a more comprehensive and sustainable understanding.   Abstrak Gotong royong merupakan budaya Indonesia yang mencerminkan nilai saling tolong-menolong dan keharmonisan dalam hidup. Dalam konteks pembelajaran, gotong royong memiliki peran penting sebagai bentuk kerja sama kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya penguatan karakter gotong royong melalui model pembelajaran cooperative learning pada peserta didik kelas V sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Validitas data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif secara signifikan memberikan kontribusi dalam pengembangan karakter gotong royong di kalangan peserta didik. Keterampilan gotong royong meningkat melalui partisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, yang memperkuat solidaritas, empati, dan kemampuan bekerja sama. Implementasi strategi kooperatif seperti pembentukan kelompok, penentuan peran, dan evaluasi bersama mendorong tanggung jawab kolektif peserta didik. Penelitian ini juga mendukung tujuan Kurikulum Merdeka Belajar dengan membentuk karakter peserta didik yang sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila. Disarankan agar model ini diterapkan lebih luas dan diadakan penelitian lanjutan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Kata Kunci: gotong royong; pembelajaran kooperatif; sekolah dasar
Development of short story writing teaching materials on the website Christ Mulia Solomasi Laoli; Mara Untung Ritonga; Adi Sutopo
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.72490

Abstract

Perkembangan teknologi yang pesat memberi pengaruh besar yang menuntut guru dan peserta didik agar memanfaatkan teknologi pada kegiatan pembelajaran yang aktif untuk mengatasi keterbatasan keterampilan menulis cerpen dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pemanfaatan teknologi ini ditandai dengan kemudahan dalam mengakses informasi oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun melalui upaya mengembangkan bahan ajar yang lebih inovatif serta lebih fleksibel dalam penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevalidan, dan kepraktisan materi ajar menulis cerpen berbentuk website yang telah dikembangkan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model pengembangan ADDIE dengan subjek penelitian peserta didik kelas IV SD di UPT SDN 060866 Medan. Instrumen penelitian menggunakan lembar angket validasi dan angket respon. Hasil pengujian yang dilakukan kepada ahli materi, guru, dan juga peserta didik menunjukkan bahwa kualitas media yang dikembangkan dapat dikategorikan "Sangat Praktis". Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan materi ajar berbentuk website yang telah dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid dan sangat praktis dan dapat digunakan dan diimplementasikan pada kegiatan pembelajaran di sekolah dasar.
Strengthening psychological disaster literacy for elementary school students through visual storytelling activities Triana Lestari; Widya Wulandari; Neng Ani; Chichi Elsa Nurhayati; Selvia Widi Triannisa; Maya Purnama Sari; Winti Ananthia
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.73197

Abstract

Psychological disaster literacy is the central pillar of disaster risk reduction, which provides mental strengthening of knowledge, attitudes, and actions for disaster risk reduction to avoid the widespread impact of disasters. As one of the areas that has the potential for a high-risk disaster, Pangandaran has implemented disaster risk reduction efforts in education units through disaster mitigation education activities from an early age in elementary schools, but the survey results show that 67.6% of them have never carried out disaster mitigation learning with students' psychological resilience. This study aims to strengthen psychological disaster literacy for elementary school students in Pangandaran through storytelling and visual expression activities. The method used is development research with the ADDIE model. The validation results show feasibility in the range of 0.85 - 0.93 for aspects of contextual assessment, material, and presentation feasibility. These results follow the local wisdom of disaster mitigation in Pangandaran. The development of psychological disaster literacy learning was considered relevant to the needs of elementary school teachers in Pangandaran, who received an assessment in the very good range and in the good range.   Abstrak Literasi psikologi bencana merupakan pilar utama pengurangan resiko bencana yang memberikan penguatan mental dari aspek pengetahuan, sikap dan tindakan pengurangan resiko bencana agar terhindar dari dampak bencana yang meluas. Sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi bencana dengan resiko tinggi, kabupaten Pangandaran telah mewujudkan upaya pengurangan resiko bencana di satuan pendidikan melalui kegiatan edukasi mitigasi bencana sejak dini di sekolah dasar namun hasil survey menunjukan 67.6% diantaranya belum pernah melaksanakan pembelajaran mitigasi bencana bermuatan ketahanan psikologis siswa. Penelitian ini bertujuan melakukan penguatan literasi psikologi bencana bagi siswa sekolah dasar di kabupaten Pangandaran melalui kegiatan ekspresi visual storytelling. Metode yang digunakan adalah penelitian pengembangan dengan model ADDIE. Hasil validasi menunjukan kelayakan pada rentang 0,85 - 0,93 untuk aspek penilaian kontekstual, materi dan kelayakan penyajian. Hasil tersebut dipandang sesuai dengan kearifan lokal mitigasi bencana di kabupaten Pangandaran. Pengembangan pembelajaran psikologi bencana ini dinilai relevan dengan kebutuhan guru sekolah dasar di kabupaten Pangandaran dan mendapatkan penilaian pada rentang sangat baik dan baik. Kata Kunci: Pembelajaran; literasi psikologi bencana; storytelling; ekspresi visual
Interdisciplinary collaboration: addressing global challenges through innovative learning strategies Restu Adi Nugraha; Dasim Budimansyah; Yadi Ruyadi; Encep Syarif Nurdin; Mufid Hidayat
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.66630

Abstract

In this era of globalization, students in Indonesia face increasingly complex challenges in  understanding, addressing, and contributing to global issues. However, the existing curriculum must often provide adequate perspectives and skills to tackle these global problems. Therefore, this research aims to provide students with a holistic, practical, and relevant learning experience to address global challenges through a Team-Based Project strategy that integrates compulsory courses in higher education with a global citizenship education approach. Cross-curricular collaboration helps students see the interconnectedness of various disciplines, essential in addressing complex global issues. Survey results indicate a variation of views among student groups regarding their understanding of global issues. This innovative learning strategy utilizes principles of behaviorist theory, such as stimulus-response, positive reinforcement, and social interaction, to create an engaging, relevant, and responsive learning environment tailored to students' needs. Through involvement in joint projects focused on global issues, students are stimulated to contribute and take concrete actions in seeking solutions and bringing about positive change on a larger scale. Thus, this learning strategy is expected to enhance students' understanding, skills, and commitment to addressing global challenges in the contemporary era.    Abstrak Dalam era globalisasi ini, mahasiswa di Indonesia dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks dalam memahami, menghadapi, dan berkontribusi terhadap isu-isu global. Namun, mata kuliah yang ada seringkali tidak mampu memberikan perspektif dan keterampilan yang memadai dalam mengatasi masalah global. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membuat mahasiswa untuk memberikan pengalaman belajar yang holistik, praktis, dan relevan dalam menghadapi tantangan global dengan strategi pembelajaran Team-Based Project yang menggabungkan mata kuliah wajib kurikulum di Perguruan Tinggi melalui pendekatan pendidikan kewarganegaraan global. Kolaborasi lintas mata kuliah membantu mahasiswa melihat keterkaitan antar disiplin ilmu, yang esensial dalam menghadapi masalah global yang kompleks. Hasil survei menunjukkan variasi pandangan dalam kelompok mahasiswa terkait pemahaman mereka tentang isu-isu global. Strategi pembelajaran inovatif ini memanfaatkan prinsip-prinsip teori behavioristik, seperti stimulus-respons, penguatan positif, dan interaksi sosial, untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik, relevan, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Melalui keterlibatan dalam proyek bersama yang berfokus pada isu-isu global, mahasiswa distimulus untuk memberikan kontribusi dan aksi nyata dalam mencari solusi dan membawa perubahan positif dalam skala yang lebih besar. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan komitmen mahasiswa terhadap tantangan global di era kontemporer. Kata Kunci: mata kuliah wajib kurikulum; pembelajaran proyek; pendidikan kewarganegaraan global; strategi pembelajaran.
Kurikulum Merdeka: solution or causation of students' lack of soft skills? Wahyudin Wahyudin; Kania Lisdiana; Alya Arthamevia Solehuddin; Eptina Fatmawati
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.71267

Abstract

Kurikulum Merdeka is a curriculum concept that allows teachers and students to choose and develop learning content according to their respective needs and conditions. This study aims to critically analyze the implementation of the Kurikulum Merdeka, with a focus on the impact on students' soft skills development. Unlike previous studies that mainly evaluate academic effectiveness, this research examines how well Kurikulum Merdeka succeeds or fails in fostering essential soft skills among students. The method used is a literature study, which involves an in-depth analysis of various relevant written sources. The results show that Kurikulum Merdeka provides mixed results in developing students' soft skills. Although there is an improvement in students' communication skills, the results are still below the expected target. In addition, students' empathy skills did not improve as expected, highlighting significant challenges in instilling empathy through this curriculum. The main barriers identified include a lack of training and support for teachers, limitations in teaching methods, and a lack of support from the home environment and parental involvement. Several strategies need to be implemented to improve the effectiveness of Kurikulum Merdeka. These strategies include improving teacher training, diversifying teaching methods, and increasing parental involvement in education.   Abstrak Kurikulum Merdeka adalah konsep kurikulum yang memberikan kebebasan kepada guru dan peserta didik untuk memilih dan mengembangkan konten pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis implementasi Kurikulum Merdeka, dengan fokusnya pada dampak terhadap pengembangan softskill peserta didik. Tidak seperti penelitian sebelumnya yang terutama mengevaluasi efektivitas akademik, penelitian ini meneliti seberapa baik Kurikulum Merdeka berhasil atau gagal dalam membina softskill yang penting di kalangan peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi literatur, yang melibatkan analisis mendalam dari berbagai sumber tertulis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan hasil yang beragam dalam mengembangkan softskill peserta didik. Meskipun terdapat peningkatan kemampuan komunikasi peserta didik, hasil yang ada masih di bawah target yang diharapkan. Selain itu, kemampuan empati peserta didik tidak meningkat seperti yang diharapkan, sehingga menyoroti tantangan yang signifikan dalam menanamkan empati melalui kurikulum ini. Hambatan utama yang teridentifikasi termasuk kurangnya pelatihan dan dukungan untuk guru, keterbatasan dalam metode pengajaran, dan kurangnya dukungan dari lingkungan rumah dan keterlibatan orang tua. Untuk meningkatkan efektivitas Kurikulum Merdeka, beberapa strategi perlu diterapkan. Strategi ini meliputi peningkatan pelatihan bagi guru, diversifikasi metode pengajaran, dan peningkatan keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Kata Kunci: implementasi kurikulum; kurikulum merdeka; softskill peserta didik
Political review of the failure of the revision of Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional in 2023 and its impact on education in Indonesia Boyke Azwar; Muhammad Sirozi; Sholihah Titin Sumanti
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.72040

Abstract

The national education system, according to Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, is considered not to have undergone in-depth study and ignores various important considerations, resulting in discrimination that is contrary to the principle of justice that the government should uphold. Therefore, the government has attempted to revise the law and improve the legal framework for education in Indonesia to align with society's times and needs. However, the revision failed to enter the Priority Prolegnas in 2023. This study aims to examine the political factors that caused the failure of the revision of Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System (SISDIKNAS) in 2023. This study uses a qualitative case study approach by analyzing various political dynamics during the revision process. The study results indicate that a combination of internal factors, such as differences of opinion between political parties and factions in the DPR, and external factors, such as pressure from interest groups and community organizations, caused the failure of the revision. This study provides an in-depth understanding of the complexity of the legislative process in Indonesia, as well as its implications for future education reform efforts.   Abstrak Sistem pendidikan nasional menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dianggap tidak melalui kajian mendalam dan mengabaikan berbagai pertimbangan penting, sehingga mengakibatkan diskriminasi yang bertentangan dengan prinsip keadilan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh pemerintah. Oleh kerena itu pemerintah telah mengupayakan revisi terhadap undang-undang dan menyempurnakan kerangka hukum pendidikan di Indonesia agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, namun revisi tersebut gagal masuk Prolegnas Prioritas tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor politik yang menyebabkan kegagalan revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan menganalisis berbagai dinamika politik yang terjadi selama proses revisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan revisi disebabkan oleh kombinasi faktor internal, seperti perbedaan pandangan antara partai politik dan fraksi di DPR, serta faktor eksternal seperti tekanan dari kelompok kepentingan dan organisasi masyarakat. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas proses legislasi di Indonesia, serta implikasinya bagi upaya reformasi pendidikan di masa depan. Kata Kunci: pendidikan; proses legislative; review politik
Differences in improving learning outcomes and student learning motivation Sudirman Sudirman; Kms. Muhammad Amin Fauzi; Anita Yus
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.72912

Abstract

The Mathematics Learning Grade IV at SD Negeri 1 Syamtalira Bayu has yet to reach the indicators. Ideally, learning mastery occurs when 76% of students score above the Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). This study aims to determine the differences in students' learning outcomes and motivation through teaching using the Contextual Teaching and Learning (CTL) and discovery learning models. This quasi-experimental study involved two Grade IV-B and IV-A classes as the research sample. The research instruments used were tests and a motivation questionnaire. Data analysis was conducted using t-test and N-Gain analysis. Based on the results of the analysis, it was found that students' learning outcomes using the CTL model were higher than those using the discovery learning model. The learning motivation of students in the CTL model class was higher than in the discovery learning model class. Based on the research, the CTL model can improve students' learning outcomes and motivation.   Abstrak Pembelajaran Matematika di kelas IV di SD Negeri 1 Syamtalira Bayu belum mencapai indikator keberhasilan. Ketuntasan belajar idealnya terjadi apabila 76% dari keseluruhan peserta didik dikatakan tuntas atau mendapatkan nilai di atas KKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa melalui pengajaran dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dan model discovery learning. Mengetahui motivasi belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran CTL dan model discovery learning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Sampel penelitian ini terdiri dari 2 kelas dari siswa kelas IV-B dan IV-A. Instrumen yang digunakan adalah tes dan angket motivasi belajar. Analisis data dilakukan dengan uji statistik uji-t dan N-Gain. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil belajar siswa dengan model CTL lebih tinggi dari model discovery learning. Motivasi belajar siswa pada kelas model CTL lebih tinggi dari kelas model Discovery Learning. Berdasarkan hasil penelitian, model CTL dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa. Kata Kunci: Hasil belajar, motivasi belajar, model CTL, model discovery learning
Andragogy-based learning model for intergenerational salted egg businesses in Tangerang Regency Mustofa Kamil; Sri Yanti; Dadang Yunus; Purnomo Purnomo
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74367

Abstract

This study examines the andragogical learning model in the context of intergenerational businesses, specifically within the salted egg artisans community in Tangerang Regency. Intergenerational businesses face significant challenges in transferring knowledge and values between generations, often experiencing shifts due to differences in perspectives and priorities. The andragogical approach emphasizes the importance of learning relevant to adults' needs and life experiences. This approach involves collaboration between older and younger generations in family businesses to address shared challenges. This research employs a case study method to identify effective learning models for managing knowledge transfer and values within the salted egg artisans community. The results indicate that an andragogy-based collaborative learning model, which involves both generations in the learning process through practical experience and joint discussions, effectively enhances business sustainability. This approach not only improves technical skills and knowledge but also strengthens the understanding of traditional values and modern innovations, which are crucial for the sustainability and success of intergenerational businesses. The study suggests the need for flexibility and adaptability in learning models to ensure the successful transfer of knowledge and values between generations in family businesses.   Abstrak Penelitian ini mengkaji model pembelajaran berbasis andragogi dalam bisnis intergenerasi, khususnya pada komunitas pengrajin telur asin di Kabupaten Tangerang. Bisnis intergenerasi menghadapi tantangan besar dalam transfer pengetahuan dan nilai antar generasi, yang sering kali mengalami pergeseran seiring dengan perbedaan cara pandang dan prioritas. Pendekatan andragogi menekankan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan pengalaman hidup orang dewasa, dan dalam bisnis keluarga, pendekatan ini melibatkan kolaborasi antara generasi tua dan muda untuk mengatasi tantangan bersama. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk mengidentifikasi model pembelajaran yang efektif dalam mengelola transfer pengetahuan dan nilai dalam komunitas pengrajin telur asin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran collaborative learning berbasis andragogi, yang melibatkan kedua generasi dalam proses belajar melalui praktik nyata dan diskusi bersama, efektif dalam memperkuat keberlanjutan usaha. Model collaborative learning meningkatkan keterampilan teknis dan pengetahuan, juga memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai tradisional dan inovasi modern, yang keduanya penting untuk keberlanjutan dan kesuksesan bisnis intergenerasi. Penelitian ini menyarankan perlunya fleksibilitas dan adaptabilitas dalam model pembelajaran untuk memastikan keberhasilan transfer pengetahuan dan nilai antar generasi dalam bisnis keluarga. Kata Kunci: andragogi; bisnis intergenerasi; pembelajaran kolaboratif; transfer nilai; transfer pengetahuan