cover
Contact Name
Dr. Nani Radiastuti
Contact Email
n_radiastuti@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
alkauniyah@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
AL KAUNIYAH
ISSN : 19783736     EISSN : 25026720     DOI : 10.15408/kauniyah
Core Subject : Science,
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi (p-ISSN: 1978-3736, e-ISSN: 2502-6720) is an Open Access Journal published by Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, and established since 2007. Since 2016 Al-Kauniyah has established a collaboration with the Association of Lecturer in Biology and Biology Education throughout the State Islamic Higher University (PTKIN) in Indonesia. Until 2015, Al-Kauniyah covered environmental biology solely, but since 2016 the journal has been extended to cover the entire field of biological science (bioscience). By publishing biannually, on April and October, Al-Kauniyah is intended to communicate original researches and current issues on the subject of biology. Since volume 9 issue 1 April 2016, Al-Kauniyah had been changes the layout. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Manuscripts can be submitted to AL-KAUNIYAH
Arjuna Subject : -
Articles 460 Documents
Assesmen Risiko Ekologi (ARE) Perikanan Tuna Pole and Line di Flores dan Tonda di Flores dan Pelabuhanratu Yonvitner Yonvitner; Mennofatria Boer; Rahmat Kurnia; Destilawati Destilawati
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.14475

Abstract

AbstrakKegiatan perikanan tuna dengan penggunaan alat tangkap pole and line dan tonda berisiko menyebabkan kerentanan (risiko ekologi) yang dapat menganggu keberlanjutan stok tuna. Untuk itu dilakukan penelitian menilai kerentanan menjadi parameter risiko ekologi menggunakan pendekatan analisis productivity dan susceptability analysis (PSA) pada jenis ikan tuna sirip kuning (ukuran baby tuna), tongkol, lemadang, dan cakalang. Pengumpulan data biologi dan ekologi dari alat tangkap pole and line dilakukan di Flores dan pancing tonda di Pelabuhanratu. Selanjutnya, analisis laboratorium dilakukan pada Laboratorium Biologi Perikanan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Hasil analisis produktivitas dan susceptabilitas alat pole and line untuk ikan baby tuna 1,42 dan ikan tongkol 1,98. Nilai ini menunjukkan tingkat kerentanan dan risiko ekologi pada ikan tongkol tergolong tinggi dan ikan baby tuna masih rendah. Analisis PSA dari alat pancing tonda pada ikan baby tuna diperoleh sebesar 2,34; ikan lemadang sebesar 2,34; dan ikan cakalang 2,18. Nilai ini menunjukkan bahwa kerentanan tinggi dan risiko ekologi pada ketiga jenis ikan tersebut juga tinggi karena penggunaan pancing tonda. Penggunaan alat tangkap pole and line serta pancing tonda pada perikanan tuna menyebabkan tingginya risiko pada ikan tuna sirip kuning (ukuran baby tuna), lemadang, cakalang, dan tongkol. AbstractTuna fishery activities using pole and line fishing gear and tonda have the risk of causing vulnerability (ecological risk) which can disrupt the sustainability of tuna stocks. For this reason, a study was conducted to assess vulnerability which is a parameter of ecological risk using the productivity and susceptibility analysis (PSA) approach to the fish’s species are albacares (baby tuna), mackerel, lemadang, and skipjack. Biological and ecological data collection from pole and line fishing gear was carried out in Flores and trolling and tonda in Pelabuhanratu. Furthermore, laboratory analysis was carried out at the fisheries biology laboratory, Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences IPB. The results of productivity and susceptibility analysis of the pole and line for baby tuna and Euthynnus are 1.42 and 1.98.  This value shows the level of vulnerability where the ecological risk of tuna is high and baby tuna also low. The PSA analysis of the tonda for baby tuna was 2.34; lemadang was 2.34; and skipjack was 2.18. This value indicates that the high vulnerability and ecological risk of the three species of fish are also high due to the use of tonda. The use of pole and line fishing gear and tonda lines in tuna fisheries causes a high risk for albacares (baby tuna), mackerel, lemadang, and skipjack.
In-vitro Callus Development and The Bioactive Compounds of Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) Yulita Nurchayati; Erma Prihastanti; Rini Budihastuti
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.21565

Abstract

 AbstractBioactive compounds in tomatoes can be produced through the development of callus culture. This study aimed to investigate callus development and observe bioactive compounds and antioxidant activities in explants and callus. The cotyledon and hypocotyl from the sprouts were induced to form callus on Murashige and Skoog (MS) medium supplemented with NAA 2.5 mg/L combined with kinetin 0.5 mg/L and 2,4 D 1 mg/L. All parts of seedling and callus were analyzed for their bioactive compounds and antioxidant activity using Spectrophotometer UV-Vis, whereas the other bioactive compounds were identified by Gas Chromatography-Mass Spectrophotometry. This research applied a Completely Randomized Design with sample sources of tomato sprout and callus from cotyledon and hypocotyl, with 3 replicates. The result showed that friable callus was able to be developed from both explants through the addition of NAA-Kin to MS medium. The three compounds were observed in callus and all explants. These calluses produced high antioxidant compounds from their pigments and ascorbic acid. The metabolites will be analyzed according to the perspective of their role. Major groups of compounds from GC-MS are dominated by hydrocarbons. Callus culture has a potential as the source of bioactive compounds.AbstrakSenyawa bioaktif pada tomat dapat diproduksi melalui kultur kalus, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan kalus dan mengobservasi jenis senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidan pada eksplan dan kalus. Kotiledon dan hipokotil  dari kecambah diinduksi membentuk kalus di dalam medium MS dengan penambahan NAA 2,5 mg/L dan kinetin 0,5 mg/L, maupun 2,4 D 1 mg/L tunggal.  Semua bagian kecambah dan kalus dianalisis kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidannya dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Sementara itu, senyawa bioaktif lainnya diidentifikasi dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa. Penelitian ini dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor sumber eksplan : kecambah, kalus yang berasal dari kotiledon maupun dari  hipokotil disertai 3 ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus remah dapat berkembang dari semua bagian kecambah pada medium MS dengan penambahan NAA dan kinetin. Terdapat tiga senyawa yang diobservasi baik pada kalus maupun sumber eksplannya. Kalus tersebut menghasilkan senyawa antioksidan yang tinggi, berdasarkan dari kandungan pigmen dan dari asam askorbat. Metabolit-metabolit tersebut akan dianalisis lebih lanjut terhadap peranannya. Kelompok senyawa yang terbanyak dari hasil GC-MS didominasi oleh hidrokarbon. Kultur kalus memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif tanaman.
Morfologi Daun Durian (Durio zibethinus L.) dan Keanekaragaman Genetiknya Berdasarkan Marka ISSR Fitri Annisa; Priyanti Priyanti; Dasumiati Dasumiati
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.23975

Abstract

 AbstrakData keanekaragaman durian (Durio zibethinus L.) yang terbatas merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pengelolaan dan pengembangannya di Indonesia. Keanekaragaman genetik dapat ditinjau berdasarkan ciri morfologi yang didukung dengan ciri molekuler. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekerabatan antar aksesi berdasarkan dendrogram yang menggabungkan data morfologi daun dan polimorfisme Inter Simple Sequence Repeats (ISSR). Pengamatan ciri morfologi mengacu pada deskriptor durian dan ektraksi DNA dengan metode CTAB yang telah dimodifikasi. Setelah berhasil diekstraksi, DNA durian diamplifikasi dengan tujuh primer ISSR untuk analisis polimorfisme. Konstruksi dendrogram yang terbentuk merupakan hasil analisis menggunakan program NTSYS. Berdasarkan 15 ciri morfologi yang diamati terdapat 5 ciri yang sangat membedakan antara kelompok aksesi durian. Lai (D. kutejensis) memiliki daun lebih panjang hingga 24 cm dan lebar hingga 16 cm dibandingkan 28 aksesi durian dengan panjang hingga 16 cm dan lebar hingga 9 cm. Hasil amplifikasi diperoleh sebanyak 35 pita dan 31 pita bersifat polimorfik dengan persentase polimorfisme berkisar antara 66,7–100%. Persentase polimorfisme pada penelitian ini dapat mencapai 100% dengan primer ISSR 842, PKBT 4, dan PKBT 5. Konstruksi dendrogram ciri morfologi mempunyai koefisien kemiripan sebesar 0,56–0,91 dan membentuk dua kelompok yang tidak memisahkan aksesi-aksesi durian dengan Lai. Ciri polimorfisme ISSR dapat digunakan untuk merekonstruksi dendrogram menjadi dua kelompok dengan koefisien kemiripan sebesar 0,48–0,96. Dendrogram ciri polimorfisme ISSR secara tegas memisahkan aksesi-aksesi durian dengan Lai. Pohon kekerabatan 28 aksesi durian dan Lai di Kecamatan Serpong telah direkonstruksi untuk pertama kalinya.AbstractLimited data on the diversity of durian (Durio zibethinus L.) is one of the obstacles encountered in its management and development in Indonesia. Genetic diversity can be reviewed based on morphological characteristics supported by molecular characteristics. This study aimed to determine the relationship between accessions based on a dendrogram that combines leaf morphology and Inter Simple Sequence Repeats (ISSR) polymorphism data. Observation of morphological features refered to durian descriptors and DNA extraction using the modified CTAB method. After successful extraction, durian DNA was amplified with seven ISSR primers for polymorphism analysis. The dendrogram construction is formed the NTSYS program. Based on the 15 morphological characteristics observed, 5 characteristics greatly distinguished the durian accession group. Lai (D. kutejensis) had longer up to 24 cm and wider up to 16 cm leaves than 28 durian accessions with a length (16 cm) and width (9 cm). The amplification results were obtained 35 bands and 31 out of them were polymorphic with polymorphic PCR product ranged 66.7–100%. The percentage of polymorphism could reach 100% with ISSR 842, PKBT 4, and PKBT 5 primers. The dendrogram construction based on morphological characteristics had an interaction coefficient of 0.56–0.91 and formed two groups which did not separate durian accessions with Lai. The ISSR polymorphism feature can be used to reconstruct the dendrogram into two groups with a slope coefficient of 0.48–0.96. The dendrogram based on the ISSR polymorphism feature explicitly divides durian accessions with Lai. The cluster analysis of 28 durians and Lai accessions in Serpong District has been reconstructed for the first time.
Performa Anakan Ayam Supel (Super Pelung) Hasil Persilangan Indukan Ayam Betina Jawa Super dan Ayam Jantan Pelung [Gallus gallus gallus, (Linnaeus 1758)] Ardaning Nuriliani; Adi Susanto; Flafiani Cios Conara; Bima Mahendra; Lailly Tsania Nur Hidayah; Sadiman Sadiman; Yuny Erwanto; Hendry Saragih
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.23924

Abstract

AbstrakPeningkatan permintaan daging ayam Broiler di pasaran menurunkan minat peternak terhadap ayam lokal. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan populasi ayam lokal yang berpotensi sebagai ayam pedaging. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyilangkan ayam betina Jawa super dengan ayam jantan Pelung yang diketahui memiliki pertumbuhan lebih cepat dibandingkan ayam lokal. Hasil persilangan tersebut diharapkan memiliki pertumbuhan cepat dan berpotensi sebagai ayam pedaging dengan karakter lokal. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pertumbuhan, morfometri tubuh, dan fenotipe ayam Super pelung (SUPEL) hasil persilangan ayam betina Jawa super dengan ayam jantan Pelung. Parameter yang diukur adalah berat badan, morfometri tubuh, dan fenotipe ayam Supel. Selain itu dilakukan pengukuran berat, warna, morfometri, dan analisis proksimat telur ayam Jawa super. Hasil menunjukkan rerata berat badan ayam Supel saat Day Old Chicken (DOC) sebesar 33,57 ± 2,44 g dan mencapai 1.164,00 ± 98,20 g pada umur 3 bulan. Fenotipe anak ayam Supel menunjukkan ciri-ciri kombinasi dari kedua indukan. Sementara itu hasil pengukuran berat telur ayam Jawa super diperoleh rerata sebesar 43,15 ± 3,57 g. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ayam Supel hasil persilangan memiliki pertumbuhan yang cepat dan memiliki karakter fenotipe seperti ayam lokal.AbstractThe increasing demands of Broiler chicken meat in the market lower farmers' interest in the local chicken breed. Therefore, effort is needed to improve the local chicken population for its potential as Broilers. One of the solutions is to crossbreed between Jawa super hens and Pelung roosters with faster growth than other local chickens. The crossbreed chicken (Supel chicken) is expected to have faster growth and the potential as Broilers with local characteristics. The purpose of this study is to evaluate growth, body morphometry, and the phenotype of Super pelung (SUPEL) chicken. Parameters measured were body weight, body morphometry, and phenotype of Supel chicken. The measurements of weight, color, morphometry, and proximate analysis were also conducted on Jawa super egg. The results showed that the weight of Supel chicken during Day Old Chicken (DOC) was 33.57 ± 2.44 g and reached 1,164.00 ± 98.20 g in 3 months. The phenotype of Supel chicken showed combination characteristics of the two broods. Meanwhile, the weight of the Jawa super chicken egg average of 43.15 ± 3.57 g. It can be concluded that Supel chicken has a faster growth rate and phenotypic characters resembling Indonesia's local chickens.
Karakteristik Lumut di Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Area Permukiman Jakarta Selatan Sarah Tsabituddinillah; Afiatry Putrika; Niarsi Merry Hemelda; Andi Salamah; Windri Handayani; Astari Dwiranti; Mega Atria
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.21811

Abstract

AbstrakPermukiman merupakan salah satu ruang terbuka hijau (RTH) yang terdapat di daerah urban, khususnya Jakarta. Salah satu kelompok tumbuhan yang ditemui pada RTH tersebut adalah lumut. Keberadaan lumut di permukiman urban menunjukkan adanya kemampuan lumut untuk bertahan pada lingkungan yang terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies lumut serta karakteristik lumut di salah satu permukiman Jakarta Selatan. Lumut dikoleksi dengan metode transect-line pada 6 titik tepi jalan dan jelajah bebas pada 3 taman di permukiman tersebut Jakarta Selatan. Pengamatan karakteristik morfologi dan anatomi lumut dilakukan dengan penilaian kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 2 divisi lumut, yaitu Bryophyta (lumut sejati) dan Marchantiophyta (lumut hati) di lokasi penelitian. Bryophyta terdiri dari 6 famili, 9 genus, dan 16 spesies. Sementara itu,  Marchantiophyta terdiri dari 2 famili, 2 genus, dan 3 spesies. Pottiaceae merupakan famili dengan jumlah spesies terbanyak ditemukan, yaitu 5 spesies. Fissidens biformis adalah spesies dengan jumlah sampel terbanyak. Lumut tersebut ditemukan pada substrat tanah, batu, dan batang pohon. Kisaran luas tutupan lumut yang ditemukan yaitu 2–100%. Karakteristik seperti ukuran tubuh yang kecil, bentuk hidup, bentuk daun, ornamentasi pada permukaan daun, modifikasi sel daun, serta keberadaan sporofit atau gemma diduga mendukung lumut beradaptasi di lingkungan urban.AbstractSettlement is one of urban green open spaces in Jakarta. One of the plant groups found in the open green spaces is the bryophytes. The presence of bryophytes in the settlement areas indicates the ability of bryophytes to survive in a disturbed environment. This study aims to determine bryophytes species and their characteristic in the settlements area of South Jakarta. Bryophyte collected by transect-line at 6 sites of roadside and broad survey at 3 sites of park. The morphological and anatomical characteristics were observed with qualitative and quantitative assessments. Mosses and liverworts are groups that found in study sites. The mosses consists of 6 families, 9 genera, and 16 species. Meanwhile, the liverworts consists of 2 families, 2 genera, and 3 species. Pottiaceae is has the highest species richness in the location. Meanwhile the highest number of samples was Fissidens biformis. The bryophytes were attached in the soil, rock, and tree trunk. The coverage of bryophyte is about 2–100%. Characteristics such as small body size, life-forms, leaf shape, the ornamentation on the leaf surface, modified leaf cells, and the presence of sporophyte or gemmae are thought to support the adaptation of bryophyte in urban environments.
INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 16 NO. 1 APRIL 2023 Index index
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.35025

Abstract

Keanekaragaman Jamur Makro dan Potensinya di Kampung Citlahab, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Ahmad Habib Nur Fikri; Caroline Humaira Rifalina Rosyid; Ratna Zahara Mahajarifar; Fia Fadlun; Noverita Noverita
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.20482

Abstract

AbstrakKampung Citalahab termasuk dalam Kawasan Pusat Penelitian Cikaniki yang terletak di wilayah TNGHS dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, salah satunya jamur makro. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis jamur makro di Kampung Citalahab, Kawasan Pusat Penelitian Cikaniki, TNGHS serta untuk mengetahui potensinya. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode searching per plot di tiga jalur yaitu jalur aliran sungai, jalur hutan, dan jalur pekarangan desa serta dilanjutkan dengan pengambilan sampel gambar menggunakan kamera, pengukuran faktor lingkungan, dan identifikasi sampel. Jamur yang ditemukan sebanyak 614 individu dari 43 jenis yang berbeda. Tingkat keanekaragaman jenis di tiga jalur tergolong rendah sampai sedang, dengan indeks kesamaan tertinggi yaitu 37,21%. Jamur makro yang sering ditemui adalah Microporus xanthopus, Microporus affinis, Xylaria longipes,  dan Auricularia auricula. Beberapa genus jamur seperti Auricularia dan Schizophyllum yang ditemukan di Kampung Citalahab berpotensi sebagai bahan pangan. Sedangkan genus jamur Ganoderma, Xylaria, Microporus, Daldinea, dan Trametes berpotensi sebagai bahan obat-obatan. Masyarakat di Kampung Citalahab belum sepenuhnya memanfaatkan jamur yang tersedia di sana akibat minimnya informasi yang didapatkan oleh masyarakat setempat. AbstractCitalahab's village is one of the Cikaniki Research Station Centers located in the TNGHS area with a considerable wealth of biodiversity, one of which is the macro fungi. Research are conducted with the aim of obtaining data for diversity in the macro types of fungi in the village of Citalahab, the Cikaniki Research Station Center, TNGHS and to discover their potential. The method used in research is the searching per plot on 3 locations of streams, forest trails, and rural garden paths and followed by camera sampling, measuring environmental factors, and sample identification. The fungi found as many as 614 individuals from 43 different kinds. The level of variability in all three pathways is low to moderate, with the highest similarity index being 37,21%. The oft identified macro fungus is Microporus xanthopus, Microporus affinis, Xxylaria longipes, and Auricularia auricula. Some genus of fungi such as Auricularia and Schzophyllum found in the Citalahab village are potential food. While the genus fungi of Ganoderma, Xylaria, Microporus, Daldinea, and Trametes are potentially pharmaceuticals. The people of the Citalahab village have not fully benefited from the local people's lack of information available there.
Skrining Antibakteri dan Identifikasi Molekular Bakteri Asam Laktat dari Fermentasi Buah Kakao Merah (Theobroma cacao L. Varietas Criollo) Terhadap Bakteri Shigella dysenteriae Fitri Yuniarti; Wahyu Hidayati; Fitriani Fitriani; Audina Sarah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.17817

Abstract

 AbstrakKakao merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang berperan sebagai habitat tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme yang baik. Salah satu bakteri yang dapat tumbuh dikomoditas tersebut yakni Bakteri Asam Laktat (BAL) yang berguna untuk kesehatan pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat BAL yang memiliki aktivitas antibakteri tinggi terhadap Shigella dysenteriae dari fermentasi buah kakao merah (Theobroma cacao L. varietas criollo). Skrining antibakteri terhadap S. dysenteriae dilakukan dengan metode difusi cakram dan BAL yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi selanjutnya dilakukan identifikasi molekular dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Sepasang primer 27F dan 1492R digunakan untuk amplifikasi gen 16S rRNA BAL dan dilanjutkan dengan sekuensing. Identifikasi hasil sekuensing dilakukan dengan penyejajaran data pada program BLAST. Hasil Penelitian menemukan isolat KAT372 merupakan isolat yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dari 6 isolat yang ditemukan pada fermentasi buah kakao merah. Isolat ini memiliki kemiripan 99% terhadap Lactobacillus fabifermentans strain DSM 21115. Isolat BAL dari fermentasi buah kakao merah dapat dimanfaatkan sebagai sumber antibakteri alami terhadap S. dysenteriae.AbstractCacao is one of Indonesia's plantation commodities and is a natural resource that has an important role as a habitat for the growth and development of various good microorganisms. One of them is Lactic Acid Bacteria (LAB), which is good bacteria for digestive health. This study aims to obtain LAB isolates that have high antibacterial activity against Shigella dysenteriae from fermented red cacao fruit (Theobroma cacao L. criollo variety). Antibacterial screening against Shigella dysenteriae was carried out using the disc diffusion method and LAB which had the highest antibacterial activity followed by molecular identification with the Polymerase Chain Reaction (PCR) technique. A pair of 27F and 1492R primers were used for amplification of the 16S rRNA BAL gene and continued with sequencing. The identification of sequencing results was carried out by aligning the data in the BLAST program. The results found that KAT372 isolate was the isolate that had the highest antibacterial activity of the 6 isolates found in the fermentation of red cacao fruit. This isolate has 99% similarity to Lactobacillus fabifermentans strain DSM 21115. LAB isolate from fermented red cacao fruit can be used as a source of natural antibacterial against S. dysenteriae in maintaining digestive health later.
Karakteristik Abon Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Nadhilah Sabila Ghaisani; Etyn Yunita; Dewi Elfidasari; Bimo Saputro; Irawan Sugoro
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.17006

Abstract

 AbstrakIkan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) memiliki potensi dijadikan bahan pangan alternatif karena ketersediaannya melimpah di Indonesia. Daging ikan sapu-sapu dapat dijadikan abon yang harus sesuai dengan SNI. Pengolahan abon menggunakan minyak menyebabkan abon mudah mengalami kerusakan sehingga diperlukan metode untuk memperpanjang masa simpan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik abon ikan sapu-sapu hasil radiasi gamma berdasarkan analisis proksimat, jumlah mikroba, kapang, dan organoleptik melalui uji hedonik. Daging ikan sapu-sapu diolah menjadi abon lalu diiradiasi dosis 0, 5, 10, dan 15 kGy kemudian disimpan selama 30 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma mampu memperpanjang masa simpan abon ikan sapu-sapu selama 30 hari. Nilai gizi protein, lemak, dan jumlah mikroba abon ikan sapu-sapu yang diiradiasi sinar gamma memenuhi syarat ketetapan abon ikan sesuai dengan SNI 01–3707 tahun 1995, kecuali untuk nilai kadar air dan kadar abu abon. Iradiasi sinar gamma mampu menekan pertumbuhan mikroba dengan dosis terbaik 15 kGy. Dosis 15 kGy merupakan dosis yang paling diterima pada parameter rasa diuji organoleptik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan abon ikan sapu-sapu dengan syarat mutu abon ikan berdasarkan SNI, menentukan dosis iradiasi dalam pengawetan abon ikan sapu-sapu dan mengetahui minat konsumen terhadap abon ikan sapu-sapu.AbstractArmored catfish (Pterygoplichthys pardalis) has potential to be used as alternative foodstuffs because its abundant in Indonesia. Armored catfish meat can be processed into shredded in accordance with provisions SNI value so it can be consumed. Shredded cooked processed used oil that will causes stale easily, there must be a method that can extend the shelf life of shredded. The purpose of this research was to determine the characteristics of shredded fish from gamma radiation based on proximate analysis, the number of microbes, molds, and organoleptics through hedonic tests. Armored catfish meat is processed into shredded and irradiated in doses 0, 5, 10, and 15 kGy and then stored for 30 days. The parameters measured were water content, ash content, protein, fat, microbial count, mold and organoleptic test. The results showed that gamma ray irradiation was able to extend the shelf life of the shredded fish for 30 days. The nutritional value of protein, fat and the number of microbial armored catfish shredded irradiated by gamma rays meet the requirements of the nutritional of shredded fish in accordance with SNI 01–3707 of 1995, except for ash content and water content. Gamma ray irradiation can reduce microbial growth with the best dose 15 kGy. Dose 15 kGy was a significant dose of the taste parameters in the organoleptic test. This research was conducted to determine the feasibility of shredded fish with SNI requirements, to determine the dose of irradiation in preserving shredded fish and to determine consumer interest in shredded fish.
Respons Ovarium Kelinci Lokal Bunting Semu yang diinduksi dengan Kopulasi Tiruan Syafruddin Syafruddin; Bagus Setyawan; Mulyadi Adam; Roslizawaty Roslizawaty; Tongku Nizwan Siregar
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.21834

Abstract

Kelinci bunting semu diperlukan untuk kegiatan yang berkaitan dengan mekanisme endokrinologi, terapi, dan transplantasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberhasilan induksi bunting semu dengan metode kopulasi tiruan pada kelinci lokal. Penelitian ini mwnggunakan sembilan ekor kelinci betina lokal dan satu ekor kelinci jantan lokal, berumur 1–1,5 tahun, dan bobot badan 1,8–2,2 kg yang dibagi  dalam tiga kelompok perlakuan (n= 3), yakni, kelompok kelinci yang diinjeksi dengan 0,1 mL NaCl fisiologis dan tanpa perkawinan (K1, kontrol negatif), kelinci yang mendapat induksi dengan kopulasi tiruan (K2), dan kelinci yang mendapatkan injeksi 100 IU PMSG secara intramuskuluar dan dikawinkan dengan pejantan tiga hari kemudian dan diikuti dengan injeksi 75 IU hCG secara intravena (K3, kontrol positif). Hasil penelitian diamati jumlah dan ukuran folikel serta korpus luteum dengan pemeriksaan histologis menggunakan pewarnaan HE. Jumlah folikel pada kelompok K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 5,9 ± 1,45; 0,63 ± 0,35; dan 2,06 ± 1,50 (P <0,05). Pada kelompok K1, tidak terdapat kelinci yang ovulasi. Namun, pada kelompok K2 dan K3 seluruh kelinci berhasil ovulasi. Pada kelompok K2 dan K3 yang berhasil ovulasi, terdapat perbedaan yang signifikan (P <0,05), yaitu jumlah korpus luteum pada K2 (4,83 ± 2,65) dan pada K3 (7,63 ± 0,57), sedangkan ukuran korpus luteum pada K2 adalah 0,68 ± 0,20 dan pada K3 adalah 1,38 ± 0,16 mm. Disimpulkan bahwa kopulasi tiruan dapat menginduksi bunting semu pada kelinci lokal.AbstractPseudo-pregnant rabbits are required for activities related to endocrinology, therapy, and transplantation mechanisms. This study aims to determine the success of pseudopregnancy induction with artificial copulation methods in local rabbits. In this study, 9 local female rabbits and 1 local male rabbit aged 1–1.5 years-old and 1.8–2.2 kg body weight were used, which were divided into three treatment groups (n= 3). The rabbit in group K1 (negative control) were injected with 0.1 mL of physiological NaCl and were not mated. The rabbits in K2 were induced with artificial copulation by inserting a cotton bud of 1 cm into vagina at five o'clock in the morning, while the rabbits in K3 (positive control) received injection of 100 IU PMSG intramuscularly and mated with males three days post injection and then followed by injection of 75 IU hCG intravenously. The number and size of follicles and corpus luteum were determined by histological examination with HE staining. The number of follicles in the K1 group; K2; and K3 were 5.9 ± 1.45; 0.63 ± 0.35; and 2.06 ± 1.50, respectively (P <0.05). There was no ovulation observed at rabbit in K1 but all rabbits ovulated successfully in K2 and K3. The number of CL (4.83 ± 2.65 and 7.63 ± 0.57) and the size of CL (0.68 ± 0.20 and 1.38 ± 0.16 mm) were significantly difference (P <0.05) in groups K2 and K3, respectively. It was concluded that artificial copulation could induce pseudopregnancy in local rabbits.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 19 No. 1 (2026): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 18, No 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 17, No 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 16 No. 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 15, No 1 (2022): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI Vol 14, No 2 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 14, No 1 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 13, No 2 (2020): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 13, No 1 (2020): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 12, No 2 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 12, No 1 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 11, No 2 (2018): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 11, No 1 (2018): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 10, No 2 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 10, No 1 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 9, No 2 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 9, No 1 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 8, No 2 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 8, No 1 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 7, No 2 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 7, No 1 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 6, No 2 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 6, No 1 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi More Issue