cover
Contact Name
Abdul Hakim Wahid
Contact Email
hakim.wahid@uinjkt.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrefleksi@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat
ISSN : 02156253     EISSN : 27146103     DOI : -
Core Subject : Social,
Refleksi (ISSN 0215 6253) is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. The Journal specializes in Qur'an and Hadith studies, Islamic Philosophy, and Religious studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 766 Documents
Intelektual Muslim Baru yang Menetas Semasa Orde Baru Tahqiq, Nanang
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 1 No. 3 (1999): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v1i3.14305

Abstract

The main thesis of this book is that during the New Order era, a unique and distinct Islamic intellectual movement emerged, known as Neo-Modernism. Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, the late Ah. Mad Wahib, and Abdurrahman Wahid are four figures of this Neo-Modernist movement. The hallmark of their intellectual movement lies in their mastery of classical/traditional Islamic knowledge (commonly referred to as "kitab kuning") combined with modern knowledge. The characteristic of integrating these two forms of knowledge did not emerge in the period from pre-independence until the 1970s. In the past, those educated in modern sciences lacked mastery of Islamic teachings, while those well-versed in Islamic sciences were not adaptive to modern knowledge. This situation consequently gave rise to two popular typologies: the first group known as Modernists (represented by Masyumi, Muhammadiyah, and Western-educated Muslim scholars), while the second group is referred to as Traditionalists (represented by NU and students lacking Western education). Even among intellectuals of the past who possessed both aspects, they were very few in number. The late Harun Nasution, Mukti Ali, and Mohammad Natsir were among those few.
Imperialism and the Rhetoric of the Threat: Islamic Fundamentalism in Western Scholarship Munhanif, Ali
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i2.14307

Abstract

Tujuan utama dari esai ini adalah; pertama, untuk mengajukan penjelasan yang lebih akurat tentang fundamentalisme Islam berdasarkan penyebab, doktrin khusus, dan wacana yang melingkupinya. Kedua, esai ini berupaya mengeksplorasi fragmen dari wacana sosial Barat tentang agama yang diterapkan pada gerakan fundamentalis Islam, meskipun saya menyadari bahwa topik ini sangat sulit. Selain itu, mengingat banyaknya sumber akademis dan meningkatnya minat terhadap gerakan Islam modern, kita dapat menganalisis, setidaknya, narasi Barat yang mencatat hubungan antara penjajah dan terjajah. Oleh karena itu, dimungkinkan untuk merekonstruksi gambaran tentang fundamentalis Muslim dengan mendekode presentasi-presentasi ini, meskipun kita harus ingat bahwa hal ini lebih banyak mengungkapkan tentang mentalitas kolonial dan imperialis daripada tentang fundamentalis Muslim itu sendiri.
Memahami Sufisme: Suatu Tanggapan terhadap Beberapa Tuduhan Noer, Kautsar Azhari
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i2.14308

Abstract

This paper seeks to dispel misunderstandings about Sufism by refuting such accusations. It will not, as scholars often do, present all aspects of Sufism, including its definition, origins, development, teachings, doctrines, practices, and other aspects. Instead, it will focus on responding to these accusations. Through this approach, the paper aims to provide a correct understanding of Sufism.
Kiri Islam: Studi atas Gagasan Pembaharuan Pemikiran Islam Hasan Hanafi Wahid, Din
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i2.14309

Abstract

Hassan Hanafi, setelah mempelajari kegagalan berbagai gerakan Islam sebelumnya, mengusulkan konsep "Kiri Islam" sebagai metode alternatif untuk pembaruan pemikiran Islam. "Kiri Islam" bertujuan untuk merekonstruksi dan memperbarui tradisi (al-Turath wa al-tajdid) melalui tiga dimensi utama: sikap terhadap khazanah klasik Islam, sikap terhadap khazanah Barat, dan sikap terhadap realitas kontemporer. Dimensi pertama mendorong revitalisasi warisan Islam klasik, dimensi kedua menghasilkan oksidentalisme sebagai kajian kritis terhadap tradisi Barat, dan dimensi ketiga mengembangkan teori penafsiran atau hermeneutika.
Religious Plurality and Diversity in Australia and Its Common Issues Nurdin, M. Amin
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i2.14327

Abstract

Tulisan ini membahas evolusi profil agama di Australia yang terutama dipengaruhi oleh sejarah migrasi. Sebagian besar kelompok agama non-Aborigin hadir di Australia melalui migrasi, baik melalui orang yang bermigrasi maupun melalui sistem kepercayaan yang disebarkan oleh guru, publikasi, atau misionaris. Beragam bentuk agama seperti Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu ada di Australia karena umat dari tradisi ini bermigrasi dan mendirikan organisasi keagamaan. Beberapa kelompok agama, seperti Salvation Army, Zen Buddhism, Mormon, dan Pentakosta, menemukan pengikut melalui konversi di Australia. Seiring dengan migrasi, keragaman agama di Australia telah meningkat, terutama setelah kebijakan White Australia mulai ditinggalkan. Kebijakan ini sebelumnya mempertahankan dominasi agama Kristen. Namun, sejak tahun 1947, imigrasi dari berbagai belahan dunia membawa pengaruh besar pada keragaman agama di Australia. Kini, Australia menjadi negara dengan pluralitas agama yang meliputi berbagai tradisi agama, baik Kristen maupun non-Kristen. Selain itu, pluralitas juga muncul dalam kelompok Kristen itu sendiri, mencerminkan kedatangan beragam cara beragama dari luar negeri. Pergeseran ini terlihat dalam perubahan arsitektur kota, dengan berdirinya masjid, kuil Buddha, dan tempat ibadah Hindu, serta transformasi gereja tradisional menjadi tempat ibadah bagi kelompok agama lain.
Ortodoksi dan Heterodoksi di Kalangan Muslim India Hakim, Masykur
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i2.14328

Abstract

Artikel ini membahas dinamika ortodoksi dan heterodoksi di kalangan Muslim India, yang mencerminkan kompleksitas keagamaan dalam komunitas Muslim di subkontinen tersebut. Ortodoksi dalam Islam di India sering dikaitkan dengan aliran Sunni tradisional yang memegang teguh ajaran-ajaran yang dianggap murni dan sesuai dengan syariat. Namun, realitas sosial dan sejarah India yang kaya dan beragam telah memunculkan berbagai bentuk heterodoksi di kalangan Muslim, termasuk praktik-praktik keagamaan yang bercampur dengan tradisi lokal, budaya sufi, dan pengaruh Hindu. Heterodoksi ini sering kali berwujud dalam bentuk gerakan-gerakan sufi, yang menekankan mistisisme dan hubungan langsung dengan Tuhan, serta praktik-praktik ritual yang mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran ortodoks Islam. Contohnya, ziarah ke makam sufi, penggunaan musik dalam ibadah, dan kepercayaan pada kekuatan spiritual wali-wali sufi. Di sisi lain, pengaruh kolonialisme, modernisasi, dan kebangkitan gerakan reformis juga turut membentuk perdebatan mengenai ortodoksi dan heterodoksi di kalangan Muslim India. Gerakan seperti Deobandi dan Ahl-i Hadith menekankan pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang murni dan menolak praktik-praktik yang dianggap bid'ah atau menyimpang. Konflik antara ortodoksi dan heterodoksi ini tidak hanya mempengaruhi praktik keagamaan, tetapi juga identitas sosial dan politik Muslim di India. Meskipun terdapat ketegangan, keduanya terus hidup berdampingan, mencerminkan keragaman dan dinamika Islam di India yang terus berkembang.
Menelusuri Kemunculan, Perkembangan dan Kehancuran "Tradisi Yahudi Islam" Kusmana, Kusmana
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i2.14329

Abstract

Tulisan ini membahas kemunculan, perkembangan, dan kehancuran “Tradisi Yahudi Islam” seperti yang dikaji dalam karya Bernard Lewis, The Jews of Islam. Buku ini mengeksplorasi hubungan historis dan budaya antara komunitas Yahudi dan Muslim sejak era awal Islam. Kemunculan tradisi ini dapat dilihat sebagai hasil dari interaksi intens antara kedua komunitas di dunia Islam, di mana Yahudi sering kali memainkan peran penting dalam bidang intelektual, ekonomi, dan administrasi. Perkembangan tradisi ini ditandai dengan kontribusi signifikan Yahudi dalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan sastra dalam konteks peradaban Islam. Para cendekiawan Yahudi sering kali terlibat dalam terjemahan teks-teks klasik Yunani dan karya-karya ilmiah lainnya yang memperkaya pengetahuan dunia Islam. Hubungan ini menunjukkan adanya sinergi antara komunitas Yahudi dan Muslim, yang menghasilkan pertukaran budaya dan intelektual yang produktif. Namun, tradisi ini juga mengalami kehancuran akibat berbagai faktor, termasuk perubahan politik, sosial, dan ekonomi dalam dunia Islam. Ketegangan sosial dan pergeseran kekuasaan, serta pergeseran kebijakan pemerintah terhadap minoritas, turut menyumbang pada penurunan peran dan pengaruh komunitas Yahudi dalam masyarakat Islam. Buku ini menyoroti bagaimana dinamika hubungan ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam sejarah dunia Islam dan memberikan wawasan mengenai interaksi lintas budaya dalam konteks sejarah. Bernard Lewis dengan cermat menganalisis perjalanan tradisi Yahudi-Islam dari kemunculannya hingga kehancurannya, menyajikan gambaran mendalam tentang interaksi yang membentuk sejarah sosial dan budaya di kawasan tersebut.
Menggagas Sosiologi Agama Jamhari, Jamhari
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 3 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i3.14340

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi kegelisahan Peter L. Berger terhadap persepsi umum di Amerika tentang sosiologi, yang sering kali dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai lelucon, terutama dibandingkan dengan psikologi. Mispersepsi ini muncul karena kurangnya pemahaman tentang sosiologi, yang sering kali disamakan dengan pekerjaan sosial. Sosiologi sebenarnya adalah usaha untuk memahami masyarakat, bukan sekadar praktik sosial. Dalam konteks sosiologi agama, disiplin ini bertujuan untuk memahami agama sebagai fenomena sosial yang integral, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendiri sosiologi seperti Emile Durkheim, Max Weber, dan Karl Marx. Sayangnya, kajian agama dalam sosiologi kontemporer mengalami penurunan, dengan fokus yang lebih besar pada sekularisasi. Namun, dengan kebangkitan minat terhadap agama di berbagai belahan dunia, sosiologi agama kembali mendapatkan perhatian. Kajian agama dalam sosiologi adalah kajian penting dan mendasar, yang sesungguhnya mencerminkan inti dari sosiologi itu sendiri.
Konsep Max Weber tentang Kepemimpinan Karismatik Muchtarom, Zaini
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 3 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i3.14341

Abstract

Krisis kepemimpinan yang dihadapi Indonesia saat ini memunculkan keinginan masyarakat untuk menemukan sosok pemimpin yang dapat mengembalikan kepercayaan yang hilang. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mengenai perlunya pemimpin yang karismatik. Kepemimpinan karismatik mengandung unsur misterius yang memikat banyak orang, didasarkan pada kepercayaan intuitif dan hubungan emosional antara pemimpin dan pengikutnya. Ketaatan para pengikut terhadap pemimpin karismatik muncul karena penghargaan atas ketulusan hati dan misi pemimpin yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Hal ini menimbulkan sejumlah pertanyaan: Apa sebenarnya kharisma yang dianggap misterius dan memikat itu? Bisakah perilaku yang mencerminkan kepemimpinan karismatik diidentifikasi sehingga esensinya dapat dipahami? Apa yang membedakan kepemimpinan karismatik dari bentuk kepemimpinan lainnya? Dan, bisakah kharisma ditransformasikan atau dibentuk melalui pelatihan? Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat kepemimpinan karismatik serta relevansinya dalam situasi krisis kepemimpinan di Indonesia.
Contained-Opposition, Opposition Movements in Indonesia: A Case Study of ICMI Tahqiq, Nanang
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 3 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i3.14342

Abstract

Artikel ini membahas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dalam konteks politik dan sosial Indonesia, terutama setelah era Soeharto dan terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden. Didirikan pada era Orde Baru dengan Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua pertama, ICMI menarik perhatian publik sebagai gerakan sosial-religius yang berperan dalam menjembatani kesenjangan antara umat Muslim dan penguasa. Namun, ICMI juga dikritik karena dianggap sebagai alat pemerintah untuk mempertahankan kekuasaan. Artikel ini mengeksplorasi peran ICMI sebagai oposisi loyal, organisasi yang mendukung rezim namun diharapkan dapat menjadi kelompok penekan. Selain itu, artikel ini membahas ideologi, orientasi politik, dan posisi ICMI sebagai jaringan berbagai kelompok kepentingan, termasuk ketegangan internal di antara anggotanya yang berasal dari latar belakang disiplin ilmu dan aliran Islam yang berbeda. Artikel ini juga menyoroti bagaimana ICMI mencerminkan dinamika sosial dan politik Indonesia yang kompleks, di mana gerakan sosial dan agama tidak selalu sesuai dengan teori-teori Barat tentang organisasi gerakan sosial.

Filter by Year

1998 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Refleksi Vol. 24 No. 1 (2025): Refleksi Vol. 23 No. 2 (2024): Refleksi Vol 23, No 2 (2024): Refleksi Vol. 23 No. 1 (2024): Refleksi Vol 23, No 1 (2024): Refleksi Vol 22, No 2 (2023): Refleksi Vol. 22 No. 2 (2023): Refleksi Vol 22, No 1 (2023): Refleksi Vol. 22 No. 1 (2023): Refleksi Vol 21, No 2 (2022): Refleksi Vol. 21 No. 2 (2022): Refleksi Vol. 21 No. 1 (2022): Refleksi Vol 21, No 1 (2022): Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi Vol 20, No 2 (2021) Vol. 20 No. 2 (2021): Refleksi Vol 20, No 2 (2021): Refleksi Vol 20, No 1 (2021): Refleksi Vol. 20 No. 1 (2021): Refleksi Vol. 19 No. 2 (2020): Refleksi Vol 19, No 2 (2020): Refleksi Vol 19, No 1 (2020): Refleksi Vol. 19 No. 1 (2020): Refleksi Vol 18, No 2 (2019): Refleksi Vol 18, No 1 (2019): Refleksi Vol 17, No 2 (2018): Refleksi Vol 17, No 1 (2018): Refleksi Vol 16, No 2 (2017): Refleksi Vol. 16 No. 1 (2017): Refleksi Vol 16, No 1 (2017): Refleksi Vol 15, No 2 (2016): Refleksi Vol 15, No 1 (2016): Refleksi Vol 14, No 2 (2015): Refleksi Vol 14, No 1 (2015): Refleksi Vol. 13 No. 6 (2014): Refleksi Vol 13, No 6 (2014): Refleksi Vol 13, No 5 (2013): Refleksi Vol. 13 No. 5 (2013): Refleksi Vol 13, No 4 (2013): Refleksi Vol. 13 No. 4 (2013): Refleksi Vol. 13 No. 3 (2012): Refleksi Vol 13, No 3 (2012): Refleksi Vol. 13 No. 2 (2012): Refleksi Vol 13, No 2 (2012): Refleksi Vol. 13 No. 1 (2011): Refleksi Vol 13, No 1 (2011): Refleksi Vol. 11 No. 2 (2009): Refleksi Vol 11, No 2 (2009): Refleksi Vol. 11 No. 1 (2009): Refleksi Vol 11, No 1 (2009): Refleksi Vol. 10 No. 3 (2008): Refleksi Vol 10, No 3 (2008): Refleksi Vol. 10 No. 2 (2008): Refleksi Vol 10, No 2 (2008): Refleksi Vol 10, No 1 (2008): Refleksi Vol. 10 No. 1 (2008): Refleksi Vol 9, No 3 (2007): Refleksi Vol. 9 No. 3 (2007): Refleksi Vol 9, No 2 (2007): Refleksi Vol. 9 No. 2 (2007): Refleksi Vol. 9 No. 1 (2007): Refleksi Vol 9, No 1 (2007): Refleksi Vol 8, No 3 (2006): Refleksi Vol. 8 No. 3 (2006): Refleksi Vol. 8 No. 2 (2006): Refleksi Vol 8, No 2 (2006): Refleksi Vol 8, No 1 (2006): Refleksi Vol. 8 No. 1 (2006): Refleksi Vol. 7 No. 3 (2005): Refleksi Vol 7, No 3 (2005): Refleksi Vol. 7 No. 2 (2005): Refleksi Vol 7, No 1 (2005): Refleksi Vol. 7 No. 1 (2005): Refleksi Vol 6, No 3 (2004): Refleksi Vol. 6 No. 3 (2004): Refleksi Vol 6, No 2 (2004): Refleksi Vol. 6 No. 2 (2004): Refleksi Vol. 6 No. 1 (2004): Refleksi Vol 6, No 1 (2004): Refleksi Vol 5, No 3 (2003): Refleksi Vol. 5 No. 1 (2003): Refleksi Vol 5, No 1 (2003): Refleksi Vol 4, No 3 (2002): Refleksi Vol. 4 No. 3 (2002): Refleksi Vol. 4 No. 2 (2002): Refleksi Vol 4, No 2 (2002): Refleksi Vol 4, No 1 (2002): Refleksi Vol. 4 No. 1 (2002): Refleksi Vol. 3 No. 3 (2001): Refleksi Vol 3, No 3 (2001): Refleksi Vol 3, No 2 (2001): Refleksi Vol. 3 No. 2 (2001): Refleksi Vol. 2 No. 3 (2000): Refleksi Vol 2, No 3 (2000): Refleksi Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi Vol 2, No 2 (2000): Refleksi Vol. 2 No. 1 (2000): Refleksi Vol 2, No 1 (2000): Refleksi Vol 1, No 3 (1999): Refleksi Vol. 1 No. 3 (1999): Refleksi Vol 1, No 2 (1999): Refleksi Vol. 1 No. 2 (1999): Refleksi Vol 1, No 1 (1998): Refleksi Vol. 1 No. 1 (1998): Refleksi More Issue