cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 411 Documents
Analisis Spasial Ketersediaan dan Keterjangkauan Fasilitas Kesehatan untuk Mendukung Kesehatan Wisata di Kecamatan Kuta Kabupaten Badung Talakua, Jossh Christheyn Endrew; Tuerah, Vinny Valentina
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.104694

Abstract

Abstrak. Penelitian ini menganalisis ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan di Kecamatan Kuta, Bali, untuk mendukung kesehatan wisata. Kecamatan Kuta merupakan destinasi wisata utama di Bali dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis jarak dan waktu tempuh antara fasilitas kesehatan dengan area wisata dan permukiman. Analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) dalam penentuan lokasi optimal fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan umumnya dapat diakses dalam radius 3000 meter, namun beberapa area wisata, terutama di sepanjang pantai, membutuhkan akses yang lebih dekat. Analisis juga menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah di Kecamatan Kuta dapat dijangkau dalam waktu 5 menit menuju fasilitas kesehatan. Namun, penelitian ini merekomendasikan peningkatan fasilitas kesehatan di Seminyak, area wisata utama, dan peningkatan kualitas layanan di Puskesmas Pembantu Seminyak yang melayani sebagian besar penduduk setempat. Temuan ini menyoroti pentingnya integrasi kesehatan dan pariwisata untuk menjamin keberlanjutan pariwisata di Kecamatan Kuta.  Abstract. This research examines the spatial availability and affordability of healthcare facilities in Kuta District, Bali, to support tourism health. Kuta District is a major tourist destination in Bali, with a high influx of international tourists. This study utilizes a quantitative approach to analyze the distance and travel time between healthcare facilities and tourist areas and residential areas. Spatial analysis using Geographic Information System (GIS) in determining the optimal location of health facilities.  The research found that while healthcare facilities are generally accessible within a 3000-meter radius, some tourist areas, particularly along the coast, require closer access. The analysis also revealed that most areas in Kuta District can be reached within a 5-minute travel time to healthcare facilities. However, the study recommends improving healthcare facilities in Seminyak, a major tourist area, and enhancing the quality of services at the Seminyak Public Health Center, which serves a significant portion of the local population. These findings highlight the significance of integrating health and the tourism to assure the sustainability of tourism in Kuta Sub-district. Submitted: 2025-02-13 Revisions:2025-03-04 Accepted: 2025-03-13 Published: 2025-03-17
Dampak Restorasi Mangrove Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Provinsi Riau Sidauruk, Tumiar; Berutu, Nurmala; Harefa, Meilinda Suriani; Rahmadi, M Taufik; Damanik, M Ridha Syafii; Permana, Sendi; Tuhono, Eling; Pratama, Alvin; Tanjung, Putra Laksamana; Angraini, Tia
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.101460

Abstract

Abstrak. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki hutan mangrove terluas di Provinsi Riau yang mencapai 131.658 hektare berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2021. Namun, kawasan ini mengalami degradasi akibat abrasi, eksploitasi kayu untuk arang dan konstruksi, serta konversi lahan menjadi tambak. Desa Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang menjadi fokus restorasi mangrove yang didukung oleh YAKOPI sejak 2022. Masyarakat setempat, termasuk kelompok tani, dilibatkan dalam upaya restorasi dengan pelatihan dan pemberdayaan ekonomi berbasis ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengalanisis dampak kegiatan restorasi mangrove terhadap sosial ekonomi masyarakat di Desa Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan di tiga desa di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang menjadi fokus restorasi mangrove akibat degradasi ekosistem pada bulan Mei 2024. Data diperoleh melalui observasi, wawancara terstruktur dengan kelompok tani dan masyarakat, serta studi dokumen. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman yang mencakup pengumpulan, reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan terkait dampak sosial-ekonomi restorasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat di Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang dilakukan melalui pembentukan kelompok tani seperti Maju Bersama, Tanjung Bidadari, dan Konservasi Pesisir dan Bakau Indah. Kegiatan restorasi mangrove di Desa Pulau Ruku meningkatkan pendapatan keluarga sebesar 12,41%, di Desa Tanjung Lajau sebesar 12,07%, dan di Desa Kuala Patah Parang sebesar 9,35%. Kegiatan restorasi mangrove di tiga desa memberikan dampak positif signifikan pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Dari segi sosial, kekompakan dan kekerabatan warga meningkat, sementara dari segi ekonomi, masyarakat di Desa Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang terbantu dengan adanya sumber pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Abstract. Indragiri Hilir Regency has the largest mangrove forest in Riau Province, covering 131,658 hectares according to the 2021 National Mangrove Map. However, this area has experienced degradation due to coastal erosion, wood exploitation for charcoal and construction, and land conversion into fish ponds. Pulau Ruku, Tanjung Lajau, and Kuala Patah Parang villages have been the focus of mangrove restoration efforts supported by YAKOPI since 2022. Local communities, including farmer groups, have been involved in restoration efforts through training and economic empowerment based on the mangrove ecosystem. This research aims to analyze the impact of mangrove restoration activities on the socio-economic conditions of communities in Pulau Ruku, Tanjung Lajau, and Kuala Patah Parang villages, Indragiri Hilir Regency, Riau Province. The research was conducted in three villages in Indragiri Hilir Regency, Riau, which have been the focus of mangrove restoration due to ecosystem degradation, in May 2024. Data was obtained through field observations, structured interviews with farmer groups and community members, and document studies. Data analysis used the Miles & Huberman model, which includes data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing regarding the socio-economic impact of mangrove restoration. The findings indicate that community empowerment in Pulau Ruku, Tanjung Lajau, and Kuala Patah Parang was carried out through the formation of farmer groups such as Maju Bersama, Tanjung Bidadari, and Konservasi Pesisir and Bakau Indah. Mangrove restoration activities increased household incomes by 12,41% in Pulau Ruku, 12.07% in Tanjung Lajau, and 9.35% in Kuala Patah Parang. The restoration initiatives in these three villages have had a significant positive impact on both social and economic aspects. Socially, they have strengthened community cohesion and relationships, while economically, they have provided residents with a sustainable source of income to meet their daily needs.Submitted: 2024-11-11 Revisions:  2025-03-07 Accepted:  2025-06-20 Published:  2025-07-03
Analisis Tren Frekuensi Banjir Kali Mriwong Pradana, Anggara Apriyan; Anggraini, Ellyta; Pambayun, Mahendra Ken; Muhammad, Fuad; Wahyudi, Agus Hari
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.101954

Abstract

Abstract. Pembangunan berkelanjutan berpegang pada prinsip keadilan antar generasi. Banjir menjadi bencana global paling merusak dalam skala tingkat geografis. Lahan yang berubah fungsi peruntukan dan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan terganggunya lokasi penyimpanan cadangan air. Perubahan peruntukan lahan andil dalam meningkatnya bencana banjir. Populasi manusia yang mendiami daerah rawan banjir merasakan dampak kerugian materi dan kesehatan yang semakin parah. Kecamatan Pulung termasuk wilayah dengan curah hujan tinggi di Kabupaten Ponorogo. Kali Mriwong menjadi sungai berdebit handal yang dimanfaatkan untuk irigasi. Perkembangan pertanian semusim di hulu daerah tangkapan air mempengaruhi kontinyuitas debit Kali Mriwong. Sepanjang 2020 tercatat 12 bencana banjir dan 1 kekeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis ambang batas banjir dan tren frekuensi kejadian banjir Kali Mriwong. Metode yang dipakai adalah analisis persentil dan analisis tren debit. Data yang digunakan adalah debit Kali Mriwong tahun 2014-2020. Hasil Penelitian menunjukkan ambang batas banjir yang sesuai untuk Kali Mriwong adalah Q95. Kemudian pada frekuensi kejadian banjir terdeteksi adanya tren meningkat pada bulan Maret dan tren menurun pada bulan April. Kenaikan dan penurunan frekuensi kejadian banjir pada bulan berurutan menjadi indikasi awal pergeseran musim hujan. Oleh karena itu, penanggulangan banjir Kabupaten Ponorogo perlu mempertimbangkan penelitian yang lebih komprehensif tentang hujan. Pengembangan sistem peringatan dini dalam penanggulangan banjir Kabupaten Ponorogo perlu menganalisis ambang batas banjir di stasiun pantau debit lainnya (Cokromenggalan, Wilangan, Gendol, Ngebel, Kedung Celeng, Watu Putih, Galok dan Sungkur). Saran untuk penelitian selanjutnya, perlu dicoba jenis persamaan lainnya dalam menganalisis R2 untuk menemukan model persamaan yang paling mewakili tren frekuensi banjir Kabupaten Ponorogo.Abstract. Sustainable development adheres to the principle of intergenerational justice. Floods are the most destructive global disasters on a geographical scale. Land use changes and increasing population growth result in the distrution of locations for storing water. Land use changes contribute to the increasing flood disaster. The human population living in flood-prone areas feels the impact of increasingly severe material and health losses. Pulung District is an area with high rainfall in Ponorogo Regency, East Java, Indonesia. Mriwong utilized for irrigation. The development of agriculture in the catchment area of Mriwong River affects the discharge continuity. Throughout 2020, 12 flood disasters and 1 drought were recorded. The intent of this research is to analyze the flood threshold and trend analysis of Mriwong River Flood Frequency. The methods used are percentile analysis and trend analysis. The data utilized are Mriwong River discharges 2014 to 2020. The research results show that the appropriate flood threshold for Mriwong River is Q95. Then, an increasing trend of flood frequency was detected in March, and a decreasing trend occurred in April. The increase and decrease of flood frequency trends is an early indication of rainy season change. Therefore, flood management in Ponorogo Regency needs to consider comprehensive research on rainfall. The flood early warning system management in Ponorogo Regency required analyzing the flood threshold at other discharge monitoring stations (Cokromenggalan, Wilangan, Gendol, Ngebel, Kedung Celeng, Watu Putih, Galok, and Sungkur). Suggestions for further research: It is necessary to try other types of equations in analyzing R2 to find the best equation model that represents the trend of flood frequency in Ponorogo Regency. Submitted: 2024-11-28 Revisions:  2025-03-12 Accepted: 2025-06-20  Published: 2025-08-08   
Pemantauan invasi mantangan (Merremia peltata) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menggunakan Google Earth Engine Dzakiyyaa, Ruwaida; Darmawan, Arief; Santoso, Trio; Hilmanto, Rudi; Septiadi, Luhur; Surya, Rikha Aryanie
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.101697

Abstract

Abstrak Mantangan merupakan spesies yang secara masif menginvasi bagian selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan diperkirakan sebarannya semakin meluas. Mantangan tumbuh dengan cara melilitkan batangnya pada inang hingga menutupi permukaan tubuh dan tajuk inangnya serta dapat merambat dari satu inang ke inang yang lain, selain itu mantangan juga dapat tumbuh secara vegetatif melalui batangnya yang terpotong kemudian menyentuh tanah sehingga menghasilkan generasi baru. Oleh karena itu, informasi sebaran spasial mantangan perlu diketahui dengan pemantauan secara berkala. Dewasa kini, pemantauan dapat dilakukan dengan penginderaan jauh, misalnya menggunakan data citra satelit. Perkembangan Google Earth Engine (GEE) menjadi salah satu pilihan untuk pemantauan invasi mantangan. GEE menyediakan data citra satelit berbasis komputasi awan dan dapat menghasilkan citra satelit multitemporal yang bebas awan, sehingga menjadi solusi permasalahan big data serta tidak memerlukan biaya untuk penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas invasi mantangan tahun 2019 – 2023 menggunakan GEE. Penelitian dilakukan dengan menggunakan citra satelit, citra DEM, dan transformasi indeks EVI dengan algoritma random forest. Objek penelitian difokuskan pada daerah selatan TNBBS yang secara khusus terinvasi oleh mantangan yaitu pada empat resor diantaranya Pemerihan, Way Haru, Way Nipah, dan Tampang. Objek penelitian kemudian dijadikan sebagai area of interest (AOI). Hasil penelitian menunjukkan hasil akurasi yang baik dengan nilai 93,49% (user accuracy), 95,18% (producer accuracy), 95,23% (overall accuracy), dan 90,18% (kappa accuracy) pada kelas mantangan. Perubahan sebaran mantangan mencapai 7.374,89 ha (2019), 8.237,88 ha (2021), dan 8.716,84 ha (2023). Berdasarkan hasil, diketahui bahwa mantangan menginvasi lebih masif pada Resor Tampang dan Resor Way Haru yang disebabkan oleh kejadian masa lalu seperti pembukaan lahan dan kebakaran serta habitat yang sesuai untuk pertumbuhan mantangan.Abstract Mantangan is a species that has massively invaded the southern part of Bukit Barisan Selatan National Park (BBSNP) and is expected to expand its distribution. Mantangan grows by wrapping its trunk around the host until it covers the surface of the host's body and crown and can creep from one host to another, besides that mantangan can also grow vegetatively through its trunk which is cut and then touches the ground to produce a new generation. Therefore, information on the spatial distribution of mantangan needs to be known through regular monitoring. Nowadays, monitoring can be done by remote sensing, for example using satellite image data. The development of Google Earth Engine (GEE) is one option for monitoring mantangan invasion. GEE provides cloud computing-based satellite image data and can produce cloud-free, multitemporal satellite images, so it is a solution to the big data problem and does not require fees for its use. This study aims to determine the extent of mantangan invasion in 2019 – 2023 using GEE. The research was conducted using satellite images, DEM images, and EVI index transformation with random forest algorithm. The research object focused on the southern area of BBSNP which was specifically invaded by mantangan, namely in four resorts including Pemerihan, Way Haru, Way Nipah, and Tampang. The research object is then used as an area of interest (AOI). The results showed good accuracy results with values of 93.49% (user accuracy), 95.18% (producer accuracy), 95.23% (overall accuracy), and 90.18% (kappa accuracy) in the mantangan class. Changes in the distribution of challenges reached 7,374.89 ha (2019), 8,237.88 ha (2021), and 8,716.84 ha (2023). Based on the results, it is known that mantangan invaded more massively in Tampang Resort and Way Haru Resort due to past events such as land clearing and fires as well as suitable habitat for mantangan growth.  
Alternatif Nature-based Solution untuk Daerah Rawan Bahaya Pesisir Barat Kabupaten Pangandaran Mardiatno, Djati; Ardiati, Aulia Syifa; Hidayah, Nurul; Nuswantara, Galang Riswanda; Alimuddin, Askiyamin; Mahron, Hayu Nur
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.101717

Abstract

Abstrak. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat bagian selatan yang memiliki wilayah kepesisiran cukup luas dan beragam secara biofisik. Kawasan pesisir ini memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi, sosial, dan ekologi masyarakat sekitar. Akan tetapi, kawasan pesisir juga menghadapi berbagai potensi bahaya alam seperti abrasi, banjir rob, gelombang ekstrem, dan perubahan garis pantai baik akibat dari faktor alam maupun dari faktor manusia. Setiap tipologi pesisir berperan strategis pengurangan risiko bencana yang berbeda menurut potensi dan ancamannya. Oleh karena itu, penentuan tipologi pesisir sangat penting untuk menilai tingkat bahaya dalam pengelolaan wilayah kepesisiran agar dapat memberikan solusi atas bahaya dengan tetap  memperhatikan keberlanjutan sumber daya di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat dari bahaya kepesisiran dan menyusun alternatif pengelolaan bahaya tersebut berdasarkan prinsip Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coastal Hazard Wheel (CHW). Metode tersebut digunakan untuk menerjemahkan karakteristik biogeofisik berupa geological layout, paparan gelombang, rentang pasang surut, flora dan fauna, keseimbangan sedimen, serta storm climate menjadi bahaya kepesisiran. Metode CHW menghasilkan tingkat bahaya yang dapat menjadi landasan untuk menentukan tipe arahan pengelolaan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pesisir Barat Pangandaran memiliki empat tipe alternatif arahan pengelolaan, yaitu TSR (tidal inlet/sand split/river mouth), BA-5 (barrier), R-1 (sloping hard rock coast), dan PL-5 (sediment plain). Adapun rekomendasi Nature-based Solutions (NbS) yang diberikan untuk masing-masing dari keempat indeks pengelolaan, yaitu pada indeks BA-5 agar difokuskan pada upaya perbaikan sistem transportasi sedimen dan rehabilitasi struktur dinding batu guna mengurangi risiko pendangkalan dan banjir; pada indeks PL-5 penanganan utama dilakukan melalui pembangunan penghalang pantai serta optimalisasi pergerakan sedimen sebagai bentuk dari mitigasi; pada indeks TSR disarankan dilakukan pemulihan lahan basah untuk memperbaiki ekosistem mangrove yang mengalami degradasi akibat tekanan aktivitas alam dan manusia; sedangkan pada indeks R-1 tidak memerlukan tindakan prioritas karena kondisi kawasan dinilai stabil dan relatif aman dari ancaman signifikan. Abstract. Pangandaran Regency, located in the southern part of West Java, features diverse coastal areas that play strategic roles in supporting local economic, social, and ecological activities. However, these coastal zone face various natural hazards including coastal abrasion, tidal flooding, extreme waves, and shoreline changes caused by both natural processes and human activities. Each coastal typology requires a different disaster risk reduction strategy based on its specific potential and threats. Therefore, identifying coastal typologies is crucial for assessing hazards and for guiding coastal management in a way that ensures the sustainability of coastal resources. This study aims to assess the level of coastal hazards and to formulate alternative hazard management strategies based on the principles of Natured-based Solutions (NbS). The method employed in this research is the Coastal Hazard Wheel (CHW), which translates biogeophysical characteristics-such as geological layout, wave exposure, tidal range, flora and fauna, sediment balance, and storm climate into coastal hazard classifications. The CHW method provides hazard level outputs that serve as a foundation for determining appropriate types of sustainable management approaches. The results of the study indicate that the western coast of Pangandaran falls into four management index categories: TSR (tidal inlet/sand split/river mouth), BA-5 (barrier), R-1 (sloping hard rock coast), dan PL-5 (sediment plain). The recommended Nature-based Solutions (NbS) for each of these categories are as follows: for the BA-5 index, efforts should focus on improving sediment transport systems and rehabilitating rock wall structures to reduce sedimentation and flood risks; for the PL-5 index, the main strategy involves constructing coastal barriers and optimizing sediment movement as a form of mitigation; for the TSR index, wetland restoration is recommended to rehabilitate degradaded mangrove ecosystems impacted by both natural and human pressures; and for the R-1 index, no priority action is required, as the area is considered stable and relatively safe from significant threats.Submitted:2024-11-20 Revisions:2025-08-13 Accepted: 2024-09-11 Published:2025-09-07
Kuantifikasi Penyusutan Gletser di Pegunungan Jayawijaya dan Relasinya dengan Perubahan Iklim Apriani, Mutia Rahma; Nadzir, Zulfikar Adlan
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.105325

Abstract

Abstrak. Gletser tropis di Pegunungan Jayawijaya adalah indikator iklim yang sensitif dan telah mencair secara signifikan selama beberapa dekade terakhir. Kajian jangka panjang yang mengaitkan dinamika luas gletser Jayawijaya dengan indikator iklim global masih terbatas. Studi ini menggunakan citra Landsat selama 28 tahun (1995-2023) dan algoritma Normalized Difference Snow Index (NDSI) dalam platform Google Earth Engine untuk memantau pencairan gletser. Untuk mengidentifikasi hubungan antara pencairan gletser dan indikator perubahan iklim lainnya, yaitu perubahan suhu permukaan tanah dan perubahan permukaan air laut, uji korelasi dan kesesuaian model regresi berbasis linier dilakukan. Ekstrapolasi ke masa depan dan masa lalu juga diestimasi untuk memprediksi dan meramalkan area gletser. Hasil menunjukkan bahwa pada 2023, 95,95% area gletser telah hilang dibandingkan tahun 1995 dan lebih cepat 2,6 dan 6 kali daripada penyusutan di gletser lintang tinggi. Tiga dari lima gletser telah lenyap, menyisakan East Northwall Firn dan Carstensz. Berdasarkan hasil, diperkirakan seluruh gletser akan menghilang pada tahun 2024. Selain itu, ditemukan hubungan kuat antara pencairan gletser dengan suhu dan muka laut (r = -0,89 dan 0,90). Temuan ini memperkuat pemahaman tentang dampak iklim di wilayah tropis melalui data dengan resolusi spasial dan temporal tinggi dan menegaskan percepatan dampak iklim di daerah tropis. Abstract. Tropical glaciers in the Jayawijaya Mountains are sensitive climate indicators and have retreated markedly over recent decades. Long-term studies linking Jayawijaya glacier-area dynamics to global climate indicators remain limited. This study uses 28 years of Landsat imagery and the Normalized Difference Snow Index (NDSI) on the Google Earth Engine platform to monitor glacier loss. To identify relationships with other climate-change indicators—namely land surface temperature and sea-level change—we performed correlation tests and simple linear regression model fitting. We also used extrapolation to hindcast and forecast glacier area. Results show that by 2023, 95.95% of glacier area had disappeared relative to 1995, of which 2.6 and 6 times faster than the retreat rate on high-latitude glaciers. Three of five glaciers have vanished, leaving only East Northwall Firn and Carstensz. Based on our results, all glaciers were projected to disappear by 2024. We find strong relationships between glacier retreat and temperature and sea level (r = −0.89 and 0.90). These findings enhance understanding of tropical climate impacts using long, high-resolution satellite records and underscore accelerating climate risks in the tropics.Submitted: 2025-03-11 Revisions:  2025-09-11  Accepted: 2024-09-11 Published: 2025-09-22  
Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap Keberlanjutan Pertanian di Desa Argalingga Majalengka Sudrajat, Sudrajat
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.105505

Abstract

Abstrak. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti telepon genggam  di bidang pertanian memberikan  peluang besar untuk mendukung tercapainya pertanian berkelanjutan. Namun, implementasinya di tingkat petani belum sepenuhnya optimal karena berbagai kendala, seperti keterbatasan pemahaman petani tentang peran TIK di bidang pertanian, akses petani terhadap TIK, literasi digital petani, infrastruktur dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan menganalisis peran TIK khususnya penggunaan telepon genggam terhadap keberlanjutan pertanian. Penelitian ini dilakukan di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura Majalengka dengan melibatkan 100 petani yang dipilih secara acak (random sampling). Data yang dianalisis terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan petani menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan sejumlah informan. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari instansi pemerintah. Pengukuran variable TIK menggunakan skala likert dan dianalisis secara deskriptif kualitatif yang diperkuat dengan hasil in-depth interview. Hasil penelitian menemukan bahwa TIK, seperti telepon genggam yang dimanfaatkan petani dalam kegiatan pertanian telah berperan dalam membantu mengakses informasi penting, seperti pengelolaan lahan dan prediksi cuaca dan iklim, ketersediaan faktor produksi, pasar dan sistem pemasaran serta sebagai media komunikasi antarpetani, konsultasi antara petani dengan penyuluh/mitra. Selain itu, menurut para petani TIK yang dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian tersebut telah berkontribusi positif dalam mewujudkan keberlanjutan pertanian. Hasil temuan ini mengindikasikan bahwa TIK khususnya telepon genggam, telah mampu mengefisiensi waktu, biaya dan tenaga dalam berbagai aktivitas pertanian. Oleh karena itu, untuk meningkatkan peran TIK dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan  maka upaya peningkatan literasi digital, sarana jaringan digital dan aksesnya bagi para petani menjadi sangat urgen untuk dilakukan.Abstract. The presence of information and communication technology (ICT), such as mobile phones, in agriculture offers significant opportunities to support the achievement of sustainable farming. However, its implementation at the farmer level has not yet been fully optimized due to several challenges, including farmers’ limited understanding of ICT’s role in agriculture, limited access to ICT, low digital literacy, inadequate infrastructure, and other constraints. Based on these issues, this study aims to analyze the role of ICT, particularly the use of mobile phones, in promoting agricultural sustainability. The research was conducted in Argalingga Village, Argapura District, Majalengka Regency, involving 100 farmers selected through random sampling. The data analyzed consisted of both primary and secondary sources. Primary data were collected through structured interviews with farmers using questionnaires, as well as in-depth interviews with several key informants. Meanwhile, secondary data were obtained from government institutions. ICT variables were measured using a Likert scale and analyzed through a qualitative descriptive approach, supported by the results of in-depth interviews. The findings reveal that ICT, particularly mobile phones used by farmers in agricultural activities, plays an important role in facilitating access to essential information, such as land management, weather and climate predictions, availability of production inputs, market information and marketing systems, as well as serving as a medium for farmer-to-farmer communication and farmer–extension worker/partner consultations. Furthermore, farmers reported that the use of ICT in agricultural activities has contributed positively to achieving agricultural sustainability. These results indicate that ICT, particularly mobile phones, has effectively enhanced efficiency in terms of time, cost, and labor across various farming activities. Therefore, to further strengthen the role of ICT in realizing sustainable agriculture, it is urgent to improve farmers’ digital literacy, digital network facilities, and access to ICT.  
Studi Kebencanaan Kritis terhadap Konstruksi Gagasan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah Fadhila, Hanina Naura
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.107132

Abstract

Abstrak. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kebencanaan kritis dengan metodologi etnografi untuk menganalisis proses pembingkaian peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang dikonstruksi sebagai bencana alam beserta kaitannya dengan diskusi neoliberalisme dan biopolitik. Pendekatan ini menekankan agar pengkajian bencana tidak hanya terbatas pada aspek fisik saja namun juga didalamnya mencakup sosial, politik, ekonomi, politik, dan budaya termasuk didalamnya adalah urusan tata kelola. Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah memiliki cara tersendiri dalam menavigasi lanskap hutan rawa gambut untuk pemenuhan kebutuhan subsistensi dan mata pencaharian selama ratusan tahun dengan bantuan penggunaan api. Namun sejak tiga episode kebakaran tahun 1997, 2015, dan 2019, mereka kini menjadi sasaran konfigurasi ulang oleh kekuasaan. Kekuasaan menciptakan kondisi ‘kerentanan’ lewat gagasan bencana alam sebagai pemicu dari terlaksananya beragam kepentingan ekonomi politik lewat narasi-narasi baru mengenai hutan rawa gambut. Penciptaan itu dapat dilihat dari proses degradasi lanskap hutan rawa gambut sehingga berakhir pada terjadinya bencana kebakaran dan  hilangnya akses pemanfaatan hutan secara bebas. Abstract. This study utilizes critical disaster studies approach with ethnographic methodology to analyse the framing process of forest fires that constructed as natural disasters and its dialectic to the discourse of biopolitics and neoliberalism. This approach emphasizes that disaster studies inquiries should not be confined to the physical aspects, it should expand them to the social, political, economic, and cultural aspects, including governmental process. Dayak Ngaju indigenous community in Central Kalimantan has its own way of navigating the peat swamp forest landscape to meet their subsistence and livelihood needs for hundreds of years along with fire assistance. However, since the three episodes of disastrous fires in 1997, 2015, and 2019, the indigenous Dayak Ngaju community have become the target of state reconfiguration that led them to a state of vulnerability. The idea of natural disasters became a trigger for the implementation of various economic and political interests through the creation of new narratives regarding peat swamp forests. This creation can be seen in the process of peat swamp forest landscape degradation, which potentially leads to forest fires and the loss of free access to forest use.Submitted:2025-05-26 Revisions: 2025-08-22 Accepted:2025-08-26 Published:2025-08-28
Pemetaan Potensi Demam Berdarah Dengue Berbasis Weighted Overlay di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk Hakim, Muhammad Luqmanul; Yushardi, Yushardi; Mujib, Muhammad Asyroful; Astutik, Sri; Susiati, Ana
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.109618

Abstract

Abstrak. Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk mengalami peningkatan signifikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dari 10 kasus pada Tahun 2023 menjadi 57 kasus pada Tahun 2024. Kenaikan kasus DBD ini diduga berkaitan dengan faktor lingkungan seperti curah hujan, kelembapan udara, suhu. Indeks kerapatan vegetasi, dan indeks kebasahan. Pemetaan spasial berbasis data citra satelit dan sistem informasi geografis telah banyak digunakan dalam studi epidemiologi, namun demikian penerapannya masih terbatas dalam konteks lokal dengan pendekatan kuantitatif berbasis fisiografi wilayah dan indeks spektral. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi risiko DBD menggunakan pendekatan weighted overlay berbasis Principal Component Analysis (PCA). Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, dengan data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, dokumentasi, serta analisis citra satelit. Hasil PCA menunjukkan variabel paling berpengaruh adalah curah hujan (0,530), kelembapan udara (0,509) dan kerapatan vegetasi (0,421), sedangkan suhu (-0,509) dan indeks kebasahan (0,148) memberikan kontribusi yang lebih rendah. Pemetaan menunjukkan tiga kategori potensi DBD, yaitu tinggi (6 desa), sedang (4 desa), dan rendah (13 desa). Temuan ini memperlihatkan bahwa weighted overlay dapat digunakan sebagai alat prediksi spasial untuk mendukung mitigasi risiko dan kewaspadaan dini terhadap DBD, dengan mempertimbangkan dinamika iklim lokal dan karakteristik lingkungan wilayah.Abstract. The Rejoso District in Nganjuk Regency experienced a significant increase in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases, rising from 10 cases in 2023 to 57 cases in 2024. This increase in DHF cases is thought to be related to environmental factors such as rainfall, air humidity, temperature, vegetation density index, and wetness index. Spatial mapping based on satellite imagery data and Geographic Information Systems has been widely used in epidemiological studies, but its application is still limited in the local context, with a quantitative approach based on regional physiography and spectral index. This study aims to map the potential risk of DHF using a weighted overlay approach based on Principal Component Analysis (PCA). This study is a descriptive, quantitative research, with data collected through literature reviews, observations, documentation, and satellite image analysis. PCA results show that the most influential variables are rainfall (0.530), air humidity (0.509) and vegetation density (0.421), while temperature (-0.509) and wetness index (0.148) provide a lower contribution. The mapping revealed three categories of dengue fever potential: high (in 6 villages), medium (in 4 villages), and low (in 13 villages). These findings demonstrate that weighted overlay can be used as a spatial prediction tool to support risk mitigation and early warning of dengue fever, taking into account local climate dynamics and the region's environmental characteristics.
Penurunan Minat Studi Geografi di Indonesia: Tren, Tantangan, dan Prediksi ke Depan Dewi, Ratri Purnama; Putri, Hafiziani Eka
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.109990

Abstract

Abstrak. Geografi merupakan ilmu yang penting bagi kehidupan dan karir. Akan tetapi, data statistik menunjukkan bahwa program studi pendidikan geografi dan geografi nonkependidikan tidak banyak diminati di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren dan prediksi peminat studi geografi, baik pada bidang pendidikan maupun nonkependidikan di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus menekankan peneliti untuk mengumpulkan berbagai data yang akan diproses dan dianalisis secara mendalam. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yang melibatkan deskripsi temuan tren dan prediksi ke depan pada periode yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peminat geografi pada periode 2019-2024 cenderung mengalami penurunan. Peminat tersebut dapat dilihat dari jumlah pendaftar program studi geografi di perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi. Peminat program studi pendidikan geografi pada tahun 2019 jauh lebih banyak dibandingkan peminat geografi nonkependidikan. Namun, penurunan tren menyebabkan jumlah peminat pendidikan geografi di tahun 2024 tidak jauh berbeda dengan peminat geografi nonkependidikan. Peminat studi geografi juga berbeda-beda menurut persebaran wilayahnya. Peminat paling banyak berada di Pulau Jawa (67,20%). Hasil perhitungan proyeksi menunjukkan bahwa program studi geografi nonkependidikan jauh lebih banyak diminati daripada pendidikan geografi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peminat geografi di perguruan tinggi negeri di Indonesia cenderung mengalami tren yang menurun, baik pada bidang pendidikan maupun nonkependidikan. Prediksi ke depan menunjukkan bahwa peminat program studi pendidikan geografi akan cenderung lebih rendah dari peminat geografi nonkependidikan.   Abstract. Geography is an important science for life and career. However, statistical data shows that the study programs in geography education and non-education geography are not highly favored at state universities in Indonesia. This study aims to analyze the trends and predictions of interest in geography studies, both in the field of education and non-education, at state universities in Indonesia. This research is descriptive and exploratory with a qualitative approach. The research design used is a case study. The case study emphasizes the researcher to gather various data that will be processed and analyzed in-depth. The data used in this study is secondary data obtained from the Ministry of Education and Culture. Data analysis is conducted using descriptive statistical analysis that involves describing the findings of trends and predictions for the future in the specified period. The results of the study show that interest in geography between 2019 and 2023 tends to decrease. This interest can be seen from the number of applicants for geography study programs at state universities through achievement-based pathways. In 2019, there were far more applicants for geography education programs compared to non-education geography programs. However, the declining trend has caused the number of people interested in geography education in 2023 to be nearly the same as those interested in non-education geography, both around 3.000. Interest in geography studies also varies by region. The highest number of applicants is in Java Island (71.88%). The projection calculation results show that non-education geography programs are much more popular than geography education programs. However, the number of applicants from outside Java and Sumatra is expected to be less than 200 people. The conclusion of this study is that interest in geography at state universities in Indonesia tends to show a downward trend, both in the education and non-education fields. Predictions for the future indicate that interest in geography education programs will tend to be lower than that of non-education geography programs.

Filter by Year

1988 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue