cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 334 Documents
Perang Jawa 1825-1830: Peran Pangeran Diponegoro Dalam Perang Jawa Serta Dampak Stabilitas Sosial-Ekonomi Masyarakat Jawa Dan Kolonialisme Belanda Novitri, Sheila
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i3.63647

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Peran Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa periode 1825- 1830 serta Dampak Stabilitas Sosial-Ekonomi Masyarakat Jawad dan Kolonialisme Belanda. Latar belakangnya yaitu kehadiran bangsa-bangsa Belanda di Indonesia, terutama di Yogyakarta membuat berbagai macam masalah salah satunya dengan terlalu ikut campur masalah internal keraton dan menerapkan politik pecah belah dikalangan pejabat-pejabat keraton, sehingga pemerintahan didalam keraton menjadi kacau. Karena pokok penelitian ini adalah masa lalu, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode Sejarah atau historis. Metode historis adalah proses atau aktivitas yang digunakan untuk berkonsentrasi pada sumber atau peninggalan dari masa lalu secara menyeluruh dan mendokumentasikan penemuan berdasarkan fakta. Langkah dalam penelitian sejarah meliputi Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Dampak setelah perang bagi masyarakat Jawa adalah batas wilayah antara Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta berubah, dan memperburuk sistem ekonomi masyarakat apalagi dengan diterapkannya sistem tanam paksa. Sedangkan dampak bagi masyarakat Belanda adalah Belanda mampu menguasai Jawa dan berhasil menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) dari tahun 1830 hingga 1870. Kata Kunci : Pangeran Diponegoro; Perang Jawa; Kolonial Belanda; Masyarakat Jawa
Segenggam Asa Di Tengah Keterbatasan: Kehidupan Anak Jalanan di Purwokerto Tahun 1999-2008 Humaeroh, Diana Hanifatul; Wijayati, Putri Agus
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i1.73801

Abstract

 Keberadaan anak-anak yang menghabiskan waktu di jalanan merupakan fenomena yang sering muncul di kota. Adanya kelompok kecil ini tidak terlepas dari faktor kemiskinan yang sulit diputus mata rantainya. Disamping itu, lingkungan mereka tinggal memberi gambaran kuat bagi anak-anak yang tumbuh di dalamnya sehingga menjadikan jalanan sebagai cara mudah untuk memperoleh penghasilan. Hal ini diperparah dengan situasi krisis ekonomi yang menyebabkan peningkatan anak jalanan salah satunya di Purwokerto. Artikel ini mengkaji tentang kehidupan anak jalanan di Purwokerto dan peranan Biyung Emban sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam pembinaan terhadap anak jalanan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber-sumber yang digunakan mencakup sumber primer berupa surat kabar, foto, dan hasil wawancara. Sumber sekunder yang digunakan berupa skripsi, buku, dan jurnal baik nasional maupun internasional yang relevan dengan topik penelitian. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa anak jalanan di kota Purwokerto terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi seperti mengamen, meminta-minta, mengumpulkan barang bekas dan ojek payung. Berangkat dari permasalahan diatas, Biyung Emban berupaya memberikan pembinaan terhadap kelompok kecil ini melalui pendidikan dan ketrampilan sebagai bekal kehidupan mereka.Kata kunci: Kota, Anak Jalanan, Biyung Emban, PurwokertoAbstractThe presence of children spending time on the streets is a common phenomenon in cities. The existence of this small group is closely tied to the cycle of poverty that is difficult to break. Additionally, the environment in which they live strongly influences the children growing up there, leading them to view the streets as an easy way to earn income. This situation is exacerbated by the economic crisis, which has led to an increase in the number of street children, including in Purwokerto. This article examines the lives of street children in Purwokerto and the role of Biyung Emban, a community based organization dedicated to supporting street children. This research employs a historical method consisting of four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The sources used include primary sources such as newspapers, photographs, and interview results. Secondary sources include theses, books, and journals both national and international relevant to the research topic. Based on the research findings, it was found that street children in Purwokerto are involved in various economic activities such as busking, begging, collecting, scrap materials, and umbrella taxi services. Addressing these issues, Biyung Emban strives to provide guidance to this group through education and skill development as a foundation for their future lives.Keywords: City, Street Children, Biyung Emban, Purwokerto
Sejarah dan Perkembangan Produksi Tape di Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso pada Masa Pandemi COVID-19 Luktriasri, Erika Ameilia
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i3.76429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan produksi tape di Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020–2022. Desa Sumber Tengah dikenal sebagai sentra produksi tape singkong dengan jumlah pengusaha terbanyak di wilayah Bondowoso, yang berperan penting dalam perekonomian lokal dan pelestarian budaya. Pandemi COVID-19 membawa dampak signifikan terhadap industri rumahan ini, meliputi penurunan kapasitas produksi, berkurangnya tenaga kerja, serta hambatan distribusi akibat pembatasan mobilitas dan turunnya daya beli masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara mendalam dengan pelaku usaha, observasi proses produksi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pandemi, produksi tape mampu mengolah 2–5 ton singkong per hari, sedangkan pada masa pandemi hanya sekitar 8 kwintal per minggu. Meskipun menghadapi penurunan signifikan, pelaku usaha menerapkan strategi adaptasi seperti pemasaran langsung di pinggir jalan dan penyesuaian skala produksi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa produksi tape di Desa Sumber Tengah tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol ketahanan budaya lokal di tengah krisis. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan usaha berbasis kearifan lokal dan perumusan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri rumahan tradisional.Kata Kunci : Produksi tape, pandemi COVID-19, Desa Sumber Tengah AbtractThis study aims to analyze the development of tape production in Sumber Tengah Village, Binakal Subdistrict, Bondowoso Regency, during the COVID-19 pandemic in 2020-2022. Sumber Tengah Village is known as the center of cassava tape production with the largest number of entrepreneurs in the Bondowoso region, which plays an important role in the local economy and cultural preservation. The COVID-19 pandemic has had a significant impact on this cottage industry, including a decrease in production capacity, a reduced workforce, as well as distribution barriers due to mobility restrictions and a decrease in people's purchasing power. This research uses the historical method through the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Data was collected through literature study, in-depth interviews with business actors, observation of the production process, and documentation. The results showed that before the pandemic, tape production was able to process 2-5 tons of cassava per day, while during the pandemic only about 8 quintals per week. Despite facing a significant decline, business actors implemented adaptation strategies such as direct marketing on the roadside and adjusting the scale of production. This phenomenon shows that tape production in Sumber Tengah Village is not only economically valuable, but also a symbol of local cultural resilience in the midst of a crisis. The findings are expected to be a reference for local wisdom-based business development and policy formulation that supports the sustainability of traditional home industries.Keywords : Tape production, COVID-19 pandemic, Sumber Tengah Village
Sungai Musi Sebagai Pusat Perdagangan Pada Masa Kolonial (1900-1942) Ika Syafitri, Putri Diana Ika; Irwanto, Dedi
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i3.76751

Abstract

Sungai Musi, sebagai salah satu jalur transportasi utama di Sumatera Selatan, memainkan peran penting dalam pengembangan perdagangan selama masa kolonial antara tahun 1900 dan 1942. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Sungai Musi terhadap dinamika perdagangan, termasuk komoditas yang diperdagangkan, pola pengiriman, dan dampaknya terhadap ekonomi lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis historis, yang melibatkan pengumpulan data dari arsip, dokumen sejarah, dan wawancara dengan para ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Musi berfungsi tidak hanya sebagai jalur transportasi, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan budaya yang memperkuat jaringan perdagangan lokal dan internasional. Komoditas utama seperti karet, kopi, dan rempah-rempah menjadi andalan perdagangan, yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur di sepanjang sungai. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang peran sungai dalam konteks sejarah perdagangan di Indonesia, serta implikasinya terhadap perkembangan masyarakat di wilayah tersebut. Kata Kunci : Perdagangan, Sungai Musi, Komoditas AbtractThe Musi River, as one of the main transportation routes in South Sumatra, played a significant role in the development of trade during the colonial period between 1900 and 1942. This study aims to analyze the influence of the Musi River on trade dynamics, including traded commodities, shipping patterns, and their impact on the local economy. The method used in this study is a qualitative approach with historical analysis, involving data collection from archives, historical documents, and interviews with experts. The results show that the Musi River functioned not only as a transportation route, but also as a center of social and cultural interaction that strengthened local and international trade networks. Key commodities such as rubber, coffee, and spices were the mainstay of trade, which drove economic growth and infrastructure development along the river. This research is expected to contribute to a deeper understanding of the role of rivers in the context of the history of trade in Indonesia, as well as its implications for the development of society in the region.Keywords: Trade, Musi River, Commodities
Prasasti Kedukan Bukit : Cikal Bakal Berdirinya Kedatuan Sriwijaya Herawati, Salma; Hudaidah, Hudaidah
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i3.72408

Abstract

Prasasti Kedukan Bukit adalah sumber utama yang merekam awal berdirinya Kedatuan Sriwijaya,menandai transformasi Palembang pusat kekuasaan maritim Asia Tenggara. Penelitian ini mengkaji peran prasasti sebagai cikal bakal berdirinya Sriwijaya dengan fokus pada ekspedisi Dapunta Hyang Sri Jayanasa, strategi militer, serta aspek politik dan religius. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil menunjukkan pendirian Sriwijaya merupakan hasil strategi matang, konsolidasi wilayah, dan legitimasi politik-religius. Prasasti ini menandai kemunculan Sriwijaya serta sebagai kerajaan maritim besar dan pusat perdagangan budaya di Palembang.Kata Kunci : Prasasti Kedukan Bukit; Ekspedisi Dapunta Hyang; Kedatuan Sriwijaya AbstractThe Kedukan Bukit inscription is the main source that records the early establishment of the Srivijaya Kingdom, marking the transformation of Palembang into the center of maritime power in Southeast Asia. This study examines the role of the inscription as the forerunner of the establishment of Srivijaya with a focus on the expedition of Dapunta Hyang Sri Jayanasa, military strategy, and political and religious aspects. This study uses historical research methods including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results show that the establishment of Srivijaya was the result of a mature strategy, regional consolidation, and political-religious legitimacy. This inscription marks the emergence of Srivijaya as a large maritime kingdom and center of cultural trade in Palembang.Keywords : Kedukan Bukit Inscription; Dapunta Hyang Expedition; and Sriwijaya Kingdom
Menguak Tentang Urgensi Analisa Profile dan Agenda Ketokohan dan Bangunan Ke-Indonesian Pasca Orde Baru Ismail, Ashari
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 2, Agustus 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i2.68544

Abstract

Pengkajian tentang ketokohan “penguasa” dalam membangun keindonesiaan, memiliki nilai urgensi, ditengah pencarian sosok yang kredibel dan berintegritas. Kajian demikian, bukan sebagai  upaya mencari pencitraan diri, atau membangun opini yang menyesatkan, tetapi merupakan sebagai daya pengetahuan, dan bagian sikap politik – tentang eksistensi pejabat atau calon pejabat. Dalam kaitan ini, melalui studi literaur, dengan analisis kualitatif deskriptif, dipahami : (1). Analisa profile  ketokohan adalah upaya menunjukan kapabilitas dan kemampuan sang tokoh sebagai calon pemimpin atau pemimpin.; (2). Pengakajian agenda calon pemimpin  atau pemimpin, adalah bagian dari langkah urgen dalam mendeteksi langkah-langkah pragmatis yang dilakukan dalam mengembang tugas/ pengabdian.   Dalam hal yang lain, bangunan ke Indonesia an  yang diharapkan adalah bangunan ke Indonesi an,  yang bertumpuh  pada nilai positif,  guna terciptanya, civil  society yang madani.  AbstractThe study of the character of the ‘ruler’ in building Indonesia has an urgency value, amidst the search for a credible and integrity figure. Such a study is not an effort to seek self-image, or build misleading opinions, but is a power of knowledge, and part of a political attitude - about the existence of officials or prospective officials. In this regard, through a literature study, with descriptive qualitative analysis, it is understood: (1). Personality profile analysis is an effort to show the capabilities and abilities of the figure as a prospective leader or leader; (2). The assessment of the agenda of prospective leaders or leaders, is part of an urgent step in detecting pragmatic steps taken in developing tasks / services.   In other cases, the expected building of Indonesianness is the building of Indonesianness, which is based on positive values, in order to create a civil society. Keywords; Urgensi, Analisa Profile, Agenda Ketokohan Ke-Indonesian dan Orde Baru
Exploring The Value Of Mappasilasae Local Wisdom To Prevent Early Marriage As An Effort To Preserve The Identity Of The Classic Bugis Tribe In The Era Of Disruption Nurhasmiah, Siti; Hafid, Umy Qalzum; Ratmila, Sri Reski; Ramli, Mauliadi
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.53726

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pemaknaan dan menjadikan nilai kearifan lokal mappasilasae untuk mencegah pernikahan dini sebagai upaya pemertahanan identitas Suku Bugis klasik di era disrupsi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Creswell. Tahapan penelitian yaitu, 1) Penyusunan instrumen penelitian, 2) Pengumpulan data, 3) Analisis data, validasi data, dan penyusunan laporan penelitian. Sumber data penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data, 1) Observasi 2) Wawancara informan secara purposive subjective dengan kriteria anak yang menikah dini 4 informan, orang tua/keluarga dari anak menikah dini 3 informan, masyarakat sekitar 6 informan, budayawan yang mengetahui kearifan lokal mappasilasae 2 informan, dan pemerintah setempat 1 informan, 3) Dokumentasi. Hasil yang diperoleh, 1) Makna kearifan lokal mappasilasae yaitu ade’, siri’, sipakainge’, ammaccangeng, dan manini’ /makkaritutu yang jika diterapkan, dapat mencegah pernikahan dini. 2) Tahap pencegahan pernikahan dini berbasis kearifan lokal mappasilasae, yaitu naisseng pasilaingngi tuju na salae, mappallaiseng “issengngi maja’e panassaiwi madecengnge”, appilengeng, dan sippettungeng. Di era disrupsi, masyarakat dapat mempertahankan kearifan lokal mappasilassae dengan cara patettongngi ade’ mappasilasae ri assilessurengnge, rilaleng paddissengeng dan rilaleng wanua. Jadi, disimpulkan bahwa kearifan lokal mappasilasae dapat digunakan sebagai upaya pencegahan pernikahan dini dan juga sebagai pemertahanan identitas Suku Bugis klasik di era disrupsi.Kata kunci : Mappasilasae, Pernikahan Dini, Suku Bugis, Era DisrupsiAbstractThis research endeavors to elucidate the significance and value of the local wisdom known as "mappasilasae" in averting early marriages, aiming to safeguard the distinct identity of the traditional Bugis community amidst contemporary disruptions. Employing qualitative methodologies following Creswell's phenomenological approach, the research comprises specific stages: 1) Preparation of research instruments, 2) Data collection, 3) Data analysis, validation, and research report compilation. Primary and secondary data sources are utilized, employing data collection techniques such as observation, purposive subjective informant interviews, and documentation. The findings reveal that the local wisdom of mappasilasae embodies principles like "ade'," "siri'," "sipakainge'," "ammaccangeng," and "manini'/makkaritutu," which, when applied, effectively deter early marriages. Furthermore, the research delineates stages for early marriage prevention rooted in mappasilasae, namely "naisseng pasilaingngi tuju na salae," "mappallaiseng," "appilengeng," and "sippettungeng." In the context of contemporary disruption, the preservation of mappasilasae involves adherence to its core principles "patettongngi ade' mappasilasae ri assilessurengnge," "rilaleng paddissengeng," and "rilaleng wanua." Consequently, this study concludes that the local wisdom of mappasilasae serves as a significant strategy to combat early marriages and uphold the enduring classical Bugis identity during times of disruption.Keywords : Mappasilasae, Early Marriage, Bugis Tribe, Disruption
Pentingnya Mempelajari Seni Batik agar Menciptakan Pendidikan Karakter dalam Sejarah Kebudayaan Rico, Muhammad; Nadilla, Dewicca Fatma
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 2, Agustus 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i2.54347

Abstract

Penulisan artikel ini untuk menganalisis pentingnya mempelajari Seni Batik agar menciptakan karakter dalam sejarah kebudayaan yang mana hal tersebut penting agar tidak terjadi degradasi moral pada anak muda. metode penelitian yaitu kepustakaan jenis penelitian yang dilakukan dengan membaca buku-buku atau jurnal dan sumber data lainnya untuk menghimpun data dari berbagai literatur, baik perpustakaan maupun di tempat-tempat lain dan Teknik kepustakaan dilaksanakan dengan cara membaca, menelaah dan mencatat berbagai literatur penting. Peserta didik yang mengenal seni batik akan lebih memiliki karakter yang positif karena Peserta didik akan dapat memahami, menerima orang lain, hormat menghormati, memiliki kebijakan dalam bertindak dan melaksanakan aturan berdasarkan perasaan dan hati nurani. Dalam seni batik secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai karakter yang baik dan nilai-nilai karakter yang salah. Contohnya dalam motif batik jawa yang mempunyai pesan tersirat seperti batik sidomukti sebagai lambang kemakmuran, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.
Eksodus kaum Kristen Luwu bagian Selatan pada masa Gerakan DI/TII hingga terbentuknya Desa Seriti 1951-1954 Grasia, Geby; Sahabuddin, Jumadi; Malihu, La
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.23353

Abstract

Penelitian dan penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana latar belakang terjadinya Eksodus Kaum Kristen Luwu bagian Selatan pada tahun 1951, bagaimana upaya penyelamatan pengungsi yang dilakukan kaum Kristen Luwu bagian Selatan selama 1952-1953, bagaimana proses terbentuknya Desa Seriti 1954. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan historis. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa kaum kristen luwu bagian selatan pada masa gerakan DI/TII adalah masyarakat kristen yang bertempat tinggal di luwu bagian selatan yang dipaksa untuk di islamkan dan ingin direkrut menjadi anggota DI/TII maka mereka melakukan penyelamatan diri atau pengungsian ke daerah Lamasi/ Luwu bagian Utara. Dalam perjalanannya mereka meramba hutan yang dimana dipimpin oleh kepala-kepala kampung, pemerintah setempat dan TNI-AD Batalyon 506 Sriti pada saat itu, sebagian dari mereka dititipkan di masyarakat jawa yang berada di Lamasi dan sebagian melakukan peninjauan lokasi dengan kepala kampung bernama Mangentang Ia menancapkan kayu ke tanah apabila kayu itu semakin panjang berarti tanah itu layak untuk di huni oleh kaum Kristen luwu bagian selatan pada saat itu, kemudian ketika lokasi itu telah didapatkan maka empat bulan kemudian keluarga yang masih ada di luwu bagian selatan menyusul ke daerah lamasi dan prosesnya dibantu oleh TNI-AD Batalyon 506 Sriti. Hal ini menegaskan bahwa kaum Kristen Luwu bagian Selatan tetap berpegang teguh terhadap keyakinannya sekalipun nyawa mereka adalah taruhannya dan hingga akhirnya mereka bisa selamat dari gangguan dan ancaman DI/TII. DI/TII dikatakan pemberontak Negara dikarenakan ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi Negara islam seperti yang diketahui bahwa Indonesia terbentuk karena adanya semangat yang tinggi dari berbagai daerah, agama, etnis dan golongan, maka dari itu seharusnya perbedaan itulah yang menjadi landasan untuk berpikir dan membangun Negara ini. Kata Kunci : kaum Kristen Luwu bagian Selatan, DI/TII, Lamasi, TNI-AD AbtractThis research and writing aims to find out the background to the exodus of Southern Luwu Christians in 1951, how efforts to rescue refugees were carried out by Southern Luwu Christians during 1952-1953, how the process of forming Seriti Village in 1954 was carried out. This research uses qualitative methods with historical approach. Data collection techniques use interviews and observation. From this research it is known that the Christians in southern Luwu during the DI/TII movement were Christians who lived in southern Luwu who were forced to convert to Islam and wanted to be recruited as members of DI/TII, so they carried out self-saving or refuge in the Lamasi/TII area. North Luwu. On their journey, they explored the forest, which was led by village heads, the local government and TNI-AD Battalion 506 Sriti at that time, some of them were entrusted to the Javanese community in Lamasi and some of them carried out site inspections with the village head named Mangentang. wood to the ground, if the wood becomes longer, it means that the land is suitable for habitation by Christians in southern Luwu at that time, then when the location has been found, four months later the families still in southern Luwu follow them to the Lamasi area and are assisted in the process. by TNI-AD Battalion 506 Sriti. This confirms that the Southern Luwu Christians still adhere to their beliefs even though their lives are at stake and until they are finally able to survive the harassment and threats from DI/TII. DI/TII are said to be state rebels because they want to change the ideology of Pancasila into an Islamic state. As is known, Indonesia was formed because of the high enthusiasm of various regions, religions, ethnicities and groups, therefore these differences should be the basis for thinking and developing this country.Keywords: Southern Luwu Christians, DI/TII, Lamasi, TNI-AD
Diversity, Identity And Cultural Expression: A Perspective From The Local Cultural Wisdom Of The Sultanate Of Buton Malihu, La
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 2, Agustus 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i2.68498

Abstract

This study aims to trace the philosophical expressions that developed in the Buton Sultanate. Using a historical method by reviewing the archives documents and other relevant books and articles. The results of the study show that there are a number of philosophical expressions that are filled with unity and the spirit of self defense for survival. This has proven to be an integrative factor that unites society in everyday life so that the Buton Sultanate was able to maintain its existence from the threat of various external forces for around 600 years.Keywords: Diversity, Cultural Wisdom, Sultanate of Buton