cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 334 Documents
Kopi Garoet: “A Cup Of Java-Preanger Stelsel” Penopang Jalur Rempah Nusantara yang Mendunia Usep, Usep
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.37721

Abstract

Kajian “Jalur Rempah” menarik untuk dikaji, materi ini menjadi salah satu materi untuk fase E pada kurikulum merdeka. Berbicara mengenai jalur rempah, maka pembelajaran bukan lagi membahas jalur pala, lada dan cengkeh di Banten, tetapi secara spesifik mengkaji rempah di Garut, “Kopi Garut”, yang menjadi primadona sejak awal abad ke-18 di eropa dalam bingkai “A Cup of Java-Preanger Stelsel”. Adapun metode yang pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran berbasis Project (PjBL), Lawatan Kesejarahan serta untuk asesmennya dilakukan melalui Podcast. Peserta didik melakukan research secara langsung dengan menelusuri situs jalur rempah kopi di kota garut, serta untuk memahamkan secara actual melakukan observasi dan wawancara dengan para pengusaha kafe-kafe kopi di kota garut. Dari pembelajaran ini diperoleh pemahaman bahwa Kopi Garut merupakan salah satu rempah agraris yang menopang jalur rempah maritim yang laku di pasaran dunia, selain itu terbuka peluang bagi peserta didik untuk mengasah daya berpikir kritis dan kreatifitasnya untuk andil menjadi bagian dari bisnis kopi garut dengan mendesain Packaging kopi garut dan mendesain Grafis-Photo untuk kepentingan promosi kopi garut di sosial media. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kurikulum merdeka, memberikan keleluasaan mengenai pemilihan materi yang esensial yang tidak jauh dari lingkungan sekitarnya serta memberikan kebermanfaatan bagi perkembangan peserta didik di dalam kehidupannya.Kata kunci:  Kopi Garoet, Kurikulum Merdeka, Packaging Kopi AbstractThe "Spice Path" study is interesting to study, this material is one of the materials for phase E in the independent curriculum. Talking about the spice route, learning no longer discusses the nutmeg, pepper and clove route in Banten, but specifically examines the spices in Garut, "Garut Coffee", which has been a favorite since the early 18th century in Europe in the frame of "A Cup of Java -Preanger Stelsel”. The learning methods used are Project-based learning (PjBL), Historical Tours and the assessment is carried out via Podcast. Students carry out research directly by exploring the coffee spice route site in Garut city, and to gain actual understanding, carry out observations and interviews with coffee cafe entrepreneurs in Garut city. From this lesson, we gain an understanding that Garut Coffee is one of the agricultural spices that supports the maritime spice route which sells well on the world market. Apart from that, there is an opportunity for students to hone their critical thinking skills and creativity to contribute to being part of the Garut coffee business by designing coffee packaging. arrowroot and designing photo-graphics for the purpose of promoting arrowroot coffee on social media. It can be concluded that independent curriculum learning provides freedom regarding the selection of essential material that is not far from the surrounding environment and provides benefits for students' development in their lives.Keywords: Garoet Coffee, Merdeka Curriculum, Coffee Packaging
Prosesi dan Makna Tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Kecamatan Banda Naira Amsi, Najirah; Muhammad, Rafita
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.59662

Abstract

Kepulauan Banda yang dikenal sebagai negeri rempah menyimpan kekayaan alam dan budaya yang beragam. Keragamana Budaya dapat ditemukan disetiap desa atau negeri. Salah satu yang paling menarik adalah tarian cakalele Kampung Adat Ratu. Kampung adat ratu merupakan kampung adat yang berbeda dengan kampung adat lainnya, karena merupakan satu-satunya kampung adat yang menunjukkan kekuatan gander, yaitu Ratu (perempuan). Olehnya itu, penelitian ini hadir untuk menelaah prosesi cakalele dan makna Kampung Adat Ratu di Desa Dwiwarna, Kecematan Banda.  Penelitian ini adalah penelitian deskritif  kualitatif (penelitian secara alamiah) yang bertujuan untuk sebuah tinjauan historis tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Kecamatan Banda Naira. Subjek penelitian ini adalah para Informan yang mengetahui proses Tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Banda Naira. Prosedur penelitian yaitu heoristik, kritik, interprestasi, dan histiografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini memilih informan yang dianggap dapat dipercaya serta paham dengan maksud permasalahan yang di teliti. Data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian dari historis tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) adalah tarian Cakalele merupakan tarian perang. Pada umumnya di Kecamatan Banda adalah sebuah tarian yang bernuansa kepahlawanan, dari masing-masing Negeri Adat mempunyai Tarian Cakalele dan Tarian tersebut mempunyai berbagai model dan jenis dalam penampilannya itu berbeda-beda tetapi pada prinsipsinya sama yang membedakannya ialah dari gaya dan pertunjukkannya. Ada sebelas prosesi dalam Tarian Cakalele Tarian Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) yaitu rapat atau musyawara, putar tempat siri permisi, bawa tempat siri, persiapan alat, putar jaster/mahkota, potong bambu untuk gapura, putar tempat siri besar, potong bambu untuk Cakalele, buka puang, hari H dan tutup Kampung. Kata kunci : Tarian Cakalele, Kampung Adat, Prosesi, Makna AbstractThe Banda Islands, which are known as the land of spices, contain diverse natural and cultural riches. Cultural diversity can be found in every village or country. One of the most interesting is the cakalele dance from Kampung Adat Ratu. Ratu traditional village is a traditional village that is different from other traditional villages, because it is the only traditional village that shows the power of gander, namely Ratu (female). Therefore, this research aims to examine the cakalele procession and the meaning of the Ratu Traditional Village in Dwiwarna Village, Banda District. This research is a qualitative descriptive research (natural research) which aims to provide a historical review of the Cakalele dance of the Ratu Traditional Village (Dwiwarna) Banda Naira District. The subjects of this research were informants who knew the process of the Banda Naira Traditional Village Ratu (Dwiwarna) Cakalele Dance. The research procedures are heoristics, criticism, interpretation, and histiography. The data collection technique in this research selects informants who are considered trustworthy and understand the meaning of the problem being studied. Data collected through observation and interviews. The results of research from the historical Cakalele dance of the Ratu Traditional Village (Dwiwarna) are that the Cakalele dance is a war dance. In general, in Banda District, it is a dance that has a heroic nuance. Each traditional country has the Cakalele Dance and this dance has various models and types. The performance is different, but in principle it is the same, what differentiates it is the style and performance. There are eleven processions in the Cakalele Dance, the Queen's Traditional Village Dance (Dwiwarna), namely meeting or deliberation, turning the siri excuse me place, bringing the siri place, preparing tools, turning the jaster/crown, cutting bamboo for the gate, turning the big siri place, cutting bamboo for Cakalele, open Puang, D day and close Kampung. Keywords: Cakalele Dance, Traditional Village, Procession, Meaning 
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Adobe Premiere Pro Cc 2019 Tema Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Di Bukit Siguntang untuk Mengatasi Pembelajaran Sejarah Masa Pandemi Covid-19 Wulandari, Bunga; Syarifuddin, Syarifuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.31031

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis penelitian Research and Development yang diterapkan terhadap peserta didik kelas X di Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Palembang. Penelitian ini terfokus pada materi Peninggalan kerajaan Sriwijaya di Bukit Siguntang. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model Hannafin dan Peck. Kevalidan media pembelajaran divalidasi oleh tiga ahli, yakni ahli media, ahli materi dan ahli desain pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat dampak efektivitas dari produk yang dihasilkan dalam pembelajaran daring. Dampak efektifitas terlihat dari peningkatan hasil pembelajaran setelah menggunakan Adobe Premiere Pro CC 2019 sebesar 39,37% dengan N-gain sebesar 0,74. sehingga dapat dikatakan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi Adobe Premiere Pro CC 2019 valid.Kata kunci: Pengembangan, media, Pembelajaran Sejarah, Adobe Premiere Pro CC 2019                                         Abstract This research is a type of research and development which is applied to class X students at Senior High School 15 Palembang. This research focuses on the material of Relics of the Srivijaya Kingdom on Siguntang Hill. This is a development research that use the Hannafin and Peck model. The validity of teaching material is validated by three experts, they are media expert, material expert and learning design expert. The purpose of this research is to see the impact of the effectiveness of the products produced in online learning. The effect of effectiveness can be seen from the increasein learning outcomes after using. Adobe Premiere Pro CC 2019 by 39,37% with an N-gain of 0,74. so that itcan be said that the on Adobe Premiere Pro CC 2019 learning media is valid.Keywords: Development, learning media, History Learning, Adobe Premiere Pro CC 2019
Dinamika Sosial Masyarakat Transmigrasi Bali di Desa Bunga Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara Khumairah, Anis; Agustang, Andi
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.53088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) dinamika sosial budaya masyarakat transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara dan 2) faktor-faktor yang mendukung terjadinya dinamika sosial budaya pada masyarakat transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara. Jenis penelitian yang digunakan dalam konteks ini adalah penelitian kualitatif. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang yang ditentukan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria yaitu 1) masyarakat Bali yang melakukan transmigrasi, 2) masyarakat Bali yang berusia 17 tahun, dan 3) keturunan dari masyarakat Bali yang telah melakukan transmigrasi. Prosedur pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan member check. Analisis data dilakukan dengan 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Dinamika sosial budaya pada masyarakat transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara terjadi karena dua hal, yaitu adaptasi dan interaksi sosial. 2) Faktor pendukung terjadinya dinamika sosial budaya pada masyarakat Transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara ada 2, yaitu faktor internal diantaranya: a) bertambah dan berkurangnya penduduk, b) konflik, c) sarana dan prasarana, d) toleransi. Serta faktor eksternal diantaranya: a) Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia, b) pengaruh kebudayaan lain, dan c) pendidikan lebih maju.Kata Kunci: Dinamika Sosial, Transmigrasi, Masyarakat BaliAbstractThis study aims to find out: 1) the socio-cultural dynamics of the Balinese transmigration community in Bunga Jadi, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency, and 2) factors that support the occurrence of socio-cultural dynamics in the Balinese transmigration community in Bunga Jadi, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency. The type of research used in this context is qualitative research. The number of informants in this study was 10 people determined through purposive sampling techniques with criteria namely 1) Balinese people who transmigrated, 2) Balinese people aged 17 years, and 3) descendants of Balinese people who had transmigrated. Data collection procedures are observation, interviews and documentation. Checking the validity of data is carried out by member check. Data analysis is carried out by 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) conclusions. The results of this study show that: 1) Socio-cultural dynamics in the Balinese transmigration community in Bunga jadi Village, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency occur due to two things, namely adaptation and social interaction. 2) There are 2 supporting factors for the occurrence of socio-cultural dynamics in the Bali Transmigration community in Bunga Jadi, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency, namely internal factors including: a) increasing and decreasing population, b) conflict, c) facilities and infrastructure, d) tolerance. As well as external factors including: a) Causes derived from the physical natural environment around humans, b) the influence of other cultures, and c) more advanced education.  Keywords: Social Dynamics, Transmigration, Balinese Society
Sukarni Kartodiwirjo: Pemuda Pribumi Nasionalis Pada Masa Pendudukan Jepang Afdinal, Muhammad Noor; Amirullah, Amirullah
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 2, Agustus 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i2.54473

Abstract

Nama Sukarni Kartodiwirjo tidak bisa dilepaskan dari pergerakan pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sukarni merupakan sosok yang konsekuen dengan ucapan dan tindakannya. Inilah yang menjadikan dirinya berbeda dari tokoh-tokoh pemuda lainnya. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah. Pertama, bagaimana pemikiran Sukarni tentang konsep kemerdekaan. Kedua, bagaimana aktualisasi perjuangan politik Sukarni menuju kemerdekaan Indonesia. Ketiga, bagaimana kontribusi Sukarni pada masa kependudukan Jepang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan empat tahapan yang terdiri atas heuristik, verifikasi, interpretasi, dan histiog rafi. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, pemikiran Sukarni mengenai konsep kemerdekaan dimulai ketika Sukarni berusia 18 tahun. Pemikiran-pemikiran Sukarni dipengaruhi oleh faktor keturunan. Melihat dari garis keturunannya menjadikan Sukarni sebagai sosok yang kuat, militan, kreatif, berani melawan penjajah, dan berani mendobrak status quo untuk kemerdekaan Indonesia. Kedua, aktualiasasi perjuangan politik Sukarni menuju kemerdekaan Indonesia dimulai dari Indonesia Muda pada tahun 1931, Asrama Pemuda Menteng Raya 31 pada tahun 1934, dan terlibat dalam aksi Rengasdengklok pada tahun 1945. Ketiga, kontribusi Sukarni pada masa kependudukan Jepang terlihat dalam keterlibatannya ketika menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, mengusulkan naskah proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, dan membentuk Committee van Actie. The name Sukarni Kartodiwirjo cannot be separated from the youth movement that fought for Indonesian independence. Sukarni was a figure who was consistent with his words and actions. This is what makes him different from other youth leaders. In this research there are three problem formulations. First, how Sukarni thought about the concept of independence.  Second, how was the actualization of Sukarni's political struggle towards Indonesian independence. Third, how Sukarni's contribution during the Japanese occupation. The method used is the historical method with four stages consisting of heuristics, verification, interpretation, and histiography. This research produced three findings. First, Sukarni's thoughts on the concept of independence began when Sukarni was 18 years old. Sukarni's thoughts were influenced by heredity. Seeing from his lineage makes Sukarni a strong, militant, creative, brave figure against the colonizers, and dare to break the status quo for Indonesian independence. Second, the actualization of Sukarni's political struggle towards Indonesian independence began with Indonesia Muda in 1931, Asrama Pemuda Menteng Raya 31 in 1934, and was involved in the Rengasdengklok action in 1945. Third, Sukarni's contribution during the Japanese occupation was seen in his involvement in kidnapping Soekarno and Hatta to Rengasdengklok, proposing the proclamation script to be signed by Soekarno and Hatta, and forming the Committee van Actie. Keywords : nationalist; national movement; sukarni kartodiwiryo
Kembali ke Pangkuan NKRI: Sulawesi Selatan dalam Mata Rantai Sejarah Partai Masyumi Amri, Khaerul; Makkelo, Ilham Daeng; Amir, Amrullah
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.51690

Abstract

Kajian ini fokus pada dinamika politik Partai Masyumi sebagai penanda sejarah terbentuknya wajah Indonesia yang baru. Pandangan Fraksi Partai Masyumi melalui Mosi Integral Natsir dalam Sidang  Parlemen membuka jalan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kajian ini menggunakan metode sejarah, yang merumuskan permasalahan penelitian berdasarkan perspektif sejarah. Tahapan yang dilakukan meliputi: pencarian dan pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (seleksi data), interpretasi (penafsiran), dan penyajian atau penulisan sejarah (historiografi). Hasil Kajian ini menunjukkan bahwa peran sakral Partai Masyumi mengembalikan keutuhan bangsa Indonesia sangatlah besar. Dibalik kursi elit parlemen lahir sebuah gagasan monumental. Gagasan ini diikuti dengan kobaran semangat panji bulan bintang di Sulawesi Selatan Tenggara melalui sejumlah program metodik kepartaian. Partai Masyumi mampu memenangkan kontestasi politik dengan mendominasi perolehan suara di daerah pemilahan dua belas. Hal ini juga menandai kedigdayaan para pemikir sekaligus politisi Islam yang bahu-membahu merebut simpati rakyat pada pemilu perdana negeri ini.Kata Kunci: Islam, Masyumi, Pemilu                                                AbstractThe political dynamics of the Masyumi party are the main subject of this study since they have historically signaled the appearance of a fresh face in Indonesia. The unitary state of the Republic of Indonesia was founded thanks to the opinions of the Masjumi party faction expressed by Natsir's integral motion in the parliamentary session. The historical approach, which frames research questions in historical context, is used in this study. Research and source gathering (heuristics), source analysis (selection of material), interpretation (interpretation), and presentation or historiography (history) are the steps that are taken. The findings of this study show how crucial the Masjumi party's holy role is in restoring Indonesia's integrity. Behind the elitist seats in the legislature, a revolutionary concept emerged. . The Spirit of the Moon and Stars Banner in South and Southeast Sulawesi adopted this concept and implemented a number of meticulous celebration programs. By controlling the voting in the twelve divisions, the Masyumi Party was able to prevail in the political struggle. This demonstrates the superiority of Islamic political leaders and philosophers, who collaborated to appeal to voters during this nation's first election.Keywords: Islam, Masyumi, Election
Pengembangan Media Pembelajaran Replika Berbahan Makanan Pada Materi Artefak Di Indonesia Untuk Siswa Kelas X Jurusan Tata Boga Smk Muhammadiyah 3 Singosari Jati, Slamet Sujud Purnawan; Ridho'i, Ronal
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 2, Agustus 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i2.36905

Abstract

Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh siswa SMK Jurusan Tata Boga di SMK Muhammadiyah 3 Singosari antara lain siswa merasa bosan dan mengantuk pada saat matapelajaran berlangsung. Selain itu perhatian terhadap guru minim sehingga mengakibatkan siswa memiliki aktivitas sendiri seperti bermain handphone saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Demi mengatasi permasalahan-permasalahan di atas, peneliti kemudian membuat Pengembangan Media Pembelajaran Replika Berbahan Makanan pada Materi Artefak prasejarah di Indonesia untuk Siswa Kelas X Jurusan Tata Boga SMK Muhammdiyah 3 Singosari. Pada penelitian dan pengembangan ini peneliti memakai model dari Sugiyono dengan 10 langkah-langkahnya. Replika berbahan makanan ini akan diuji kevalidan dan kelayakannya untuk digunakan dalam matapelajaran sejarah di sekolah. Media ini memperoleh persentase kevalidan materi sebesar 98% dan kevalidan media sebesar 100%. Kelayakan media pada uji kelompok kecil sebesar 91% dan kelayakan pada kelompok besar 91%. Dengan demikian media pembelajaran replika berbahan makanan dapat digolongkan sebagai media pembelajaran yang valid dan layak.
Perubahan Sistem Tiket Kertas Menjadi Tiket Elekronik Pada KRL Commuter Line Jabodetabek: (2003-2016 Khalishah, Arinisya
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.50866

Abstract

Penelitian dengan judul Perubahan Sistem Tiket Kertas Menjadi Tiket Elekronik Pada KRL Commuter Line Jabodetabek: (2003-2016) bertujuan untuk merekonstruksikan perkembangan tiket KRL Commuter Line Jabodetabek menjadi lebih modern pada tahun 2003-2016, dimulai dari tiket kertas hingga menjadi tiket elektronik. Penelitian ini ditulis menggunakan metode penelitian historis yang disajikan dalam bentuk deskriptif naratif. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini didapat dari buku, jurnal, surat kabar, dan skripsi yang berkaitan dengan topik penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiket KRL Commuter Line Jabodetabek pada tahun 2003 hingga 2016 mengalami transformasi perubahan yang sangat kompleks. Dalam perkembangannya sistem tiket KRL Commuter Line mengalami beberapa perubahan mulai dari sistem kertas hingga penerapan sistem tiket elektronik. Pada masa penerapan tiket kertas mengalami beragam permasalahan akibat penumpang yang tidak membayar seperti atapers, pedagang, pengamen, dan pencopet yang mengakibatkan menurunnya kualitas pelayanan KRL. Sehingga pada tahun 2013 PT KCJ menerapan sistem e-ticketing secara menyeluruh dengan mengganti seluruh tiket kertas menjadi tiket elektronik berbentuk kartu untuk perjalanan KRL di Jabodetabek agar dapat memudahkan penumpang. Dalam perkembangan ini juga tidak terlepas dari penolakan masyarakat, tetapi berhasil mengubah citra KRL Commuter Line menjadi transportasi yang aman, nyaman, bersih, dan sistematis.
Pola Okupasi Perempuan Petani Pegunungan dalam Ranah Domestik Ashari, Ashari
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i3.23455

Abstract

Penelitian  adalah penelitian dasar, yang mengambil setting penelitian  pada komunitas pegunungan  Pengkasalu, Desa Kaili Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Signifikansi penelitian adalah berupaya untuk menjabarkan pola kerja perempuan petani pegunungan dalam ranah domestik.  Pola kerja dalam ranah domestik adalah bagian dari pola kerja, yang menjadi rutinitas para petani perempuan sebelum berangkat kerja dalam ranah publik, pada lahan pertanian.  Metode penelitian yang digunakan dalam penbelitian ini adalah metode riset deskriptif, dengan berupaya untuk “mengambarkan”, tentang skenario para perempuan dalam mensiasati, berbagai kerja dalam keluarga dan ,masyarakat luas. Proses penelitian di awali dengan pengumpulan data, kemudian dilanjutkan dengan  verifikasi, untuk selanjutnya, di rekonstruksi dalam bentuk narasi ilmiah. Hasil riset menunjukkan bahwa : pola kerja perempuan pegunungan dalam ranah domestik adalah pola kerja yang berkaitan dengan merawat anak, memasak mendidik / membelajakan anak,  dan mencuci dalam rumah tangga. Pola kerja ini dilakukan dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari pola kultur yang dianggap, menstruktur dalam keluarga. Dengan okupasi ini, dimaksudkan dapat lebih memperkaya  fungsi keluarga dan membangun keluarga yang demikian harmoni, dan dipahami jauh dari tindak kekerasan.Kata Kunci :  Okupasi Perempuan dan  Ranah DomestikAbstractThis research is a basic research setting in the Pengkasalu mountain community, Kaili Village, Luwu Regency, South Sulawesi. Its significance lies in its attempt to describe the work patterns of women farmers in the domestic sphere. Domestic work patterns are part of the routine work patterns of women farmers before leaving for public work on agricultural land. The research method used in this study is descriptive, which attempts to "describe" the scenarios women navigate through various work within the family and the wider community. The research process begins with data collection, followed by verification, and then reconstructed into a scientific narrative. The research results indicate that: mountain women's work patterns in the domestic sphere are related to childcare, cooking, educating/parenting, and washing in the household. These work patterns are carried out consciously as part of a cultural pattern that is considered to structure the family. This occupation is intended to further enrich family functions and build a harmonious family, understood to be free from violence.Keywords: Women's Occupation and the Domestic Sphere
Monumen Perjuangan di Makassar sebagai Media Pembelajaran Sejarah dan Penguatan Nasionalisme Peserta Didik Amirullah, Amirullah
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i1.68601

Abstract

Monumen perjuangan di Makassar menyimpan memori kolektif mengenai perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran monumen perjuangan sebagai media pembelajaran sejarah dan instrumen penguatan nasionalisme bagi peserta didik SMA Negeri di Kota Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan pada Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat dan Monumen Korban 40.000 Jiwa, wawancara mendalam dengan lima guru sejarah, serta penyebaran angket kepada 60 peserta didik dari tiga SMAN (SMAN 1, SMAN 5, dan SMAN 8 Makassar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan monumen dalam pembelajaran sejarah meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konteks sejarah lokal sebesar 72%, meningkatkan ketertarikan belajar sebesar 81%, serta memperkuat rasa nasionalisme peserta didik. Monumen terbukti menjadi sumber belajar autentik yang memungkinkan siswa mengalami pembelajaran kontekstual, reflektif, dan bermuatan nilai patriotisme. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pembelajaran berbasis situs sejarah ke dalam kurikulum sekolah menengah serta penguatan kerja sama antara sekolah dan pengelola monumen. Kata Kunci: monumen perjuangan, pembelajaran sejarah, nasionalisme, pendidikan sejarah lokal, Makassar.AbstractThe struggle monuments in Makassar preserve collective memories of the people of South Sulawesi in defending Indonesia’s independence. This study aims to analyze the role of these monuments as learning media in history education and as instruments to strengthen nationalism among students of public senior high schools in Makassar. This research employed a descriptive qualitative approach, including field observations at the Mandala Monument for the Liberation of West Irian and the 40,000 Lives Monument, in-depth interviews with five history teachers, and questionnaires distributed to 60 students from three public high schools. The findings reveal that monument-based learning increases students’ understanding of local history by 72%, enhances learning engagement by 81%, and strengthens students’ nationalism. Monuments function as authentic learning sources that promote contextual and value-based historical learning. The study recommends integrating site-based learning into the curriculum and enhancing collaboration between schools and monument administrators.Keywords: struggle monuments, history learning, nationalism, local history education, Makassar.