cover
Contact Name
Andi Octamaya Tenri Awaru
Contact Email
sosialisasi99@gmail.com
Phone
+6285343665103
Journal Mail Official
a.octamaya@unm.ac.id
Editorial Address
Sosiology Education Study Program, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Makassar, Jalan AP Pettarani, Gunungsari Makassar, Indonesia, Telp/ Fax. (0411) 885105
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan
ISSN : 23560886     EISSN : 27223086     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Sosialisasi: jurnal hasil pemikiran, penelitian dan pengembangan keilmuan sosiologi pendidikan. Published by the peer review process and open access with p-ISSN: 2356-0886 and e-ISSN: 2722-3086. Jurnal Sosialisasi: jurnal hasil pemikiran, penelitian dan pengembangan keilmuan sosiologi pendidikan. Intended as a media of information and arena of philosophical, theoretical, methodological debates related to sociological issues and their teaching. Journal of Socialization: a journal of the results of thought, research and development in the science of educational sociology. invited scientists, activists and public officials to write issues related to sociology and teaching. Articles can be research or conceptual. Published by Sociology and Education study programs. published three times a year namely March, July and November.
Articles 606 Documents
Peningkatan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Bencana melalui Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena) BPBD Provinsi Jawa Timur di SMKN 1 Lamongan Shafira Alya Mufida; Rasamala I.W Putri; Amal Taufiq
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v13i3.85769

Abstract

Penelitian ini menyoroti tentang bagaimana kesiapsiagaan bencana dikonstruksi lewat interaksi sosial melalui program mobil edukasi penanggulangan Bencana (Mosipena) BPBD Jawa Timur, Indonesia. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana pembentukan budaya sadar bencana dalam lingkungan pendidikan bagi kelompok siswa SMKN 1 Lamongan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian fenomenologi, menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger meliputi tahap eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi untuk memahami bagaimana interaksi sosial membentuk realitas sosial. Pengumpulan data primer meliputi observasi langsung, wawancara dan dokumentasi. Observasi langsung program Mosipena ke SMKN 1 Lamongan, Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin, dan wawancara meliputi staff terlibat sebagai fasilitator program Mosipena di BPBD Jawa Timur dan dua siswi SMKN 1 Lamongan. Data sekunder dikumpulkan dari jurnal, buku, dan situs web resmi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa konstruksi terjadi melalui tiga tahapan yaitu eksternalisasi melalui upaya BPBD Provinsi Jawa Timur dalam jemput bola untuk menjangkau sekolah dengan kolaborasi antar instansi agar edukasi bencana menjadi kebijakan pendidikan, objektivasi di mana sosialisasi kesiapsiagaan bencana dengan penggunaan alat pertolongan pertama gawat darurat, Apar (Alat Pemadam Api Ringan) dan simulasi evakuasi menjadi realitas objektif yang dipahami kelompok rentan, namun perlu ditambahkan edukasi dalam kurikulum tetap, tahap internalisasi di mana siswa menyerap nilai-nilai kesiapan melalui sosialisasi langsung dan simulasi dengan pemahaman diukur lewat umpan balik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana yang efektif membutuhkan sinergi kelembagaan antara lembaga penanggulangan bencana dan kementerian pendidikan untuk memastikan keberlanjutan melalui integrasi kurikulum, karena satu kali sosialisasi tidak cukup untuk perubahan perilaku kesiapsiagaan menghadapi bencana secara kontinu.
Gaya Kepemimpinan Perempuan Pada Organisasi Lembaga Kemahasiswaan Di Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum Universitas Negeri Makassar Herawati Herawati; M. Ridwan Said Ahmad
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v13i3.88595

Abstract

Organisasi kemahasiswaan merupakan wahana strategis dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinan mahasiswa yang inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada pencapaian tujuan organisasi. Meningkatnya keterlibatan perempuan sebagai pemimpin organisasi kemahasiswaan menunjukkan adanya perubahan dalam praktik kepemimpinan di perguruan tinggi, namun karakteristik gaya kepemimpinan perempuan serta perbedaannya dengan kepemimpinan laki-laki masih perlu dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan perempuan pada organisasi lembaga kemahasiswaan di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar serta mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan gaya kepemimpinan perempuan dan laki-laki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan penelitian berjumlah sepuluh orang yang dipilih secara purposive, terdiri atas ketua umum perempuan yang sedang menjabat, demisioner ketua umum perempuan, dan pengurus organisasi kemahasiswaan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan perempuan cenderung menerapkan karakteristik kepemimpinan transformasional yang dipadukan dengan kepemimpinan demokratis melalui keteladanan, motivasi, komunikasi terbuka, dan pelibatan anggota dalam pengambilan keputusan. Selain itu, perbedaan gaya kepemimpinan perempuan dan laki-laki terletak pada pola komunikasi, pendekatan pengambilan keputusan, orientasi kepemimpinan, serta cara membangun hubungan dengan anggota. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan organisasi lebih ditentukan oleh kompetensi, kemampuan membangun komunikasi, dan pemberdayaan anggota daripada oleh perbedaan gender.
Budaya Longko’ Dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda Toraja (Studi Kasus Di Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara) Gusti Riyanto; Muhammmad Syukur
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v13i3.81394

Abstract

Pembentukan karakter generasi muda merupakan salah satu upaya penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah arus globalisasi dan modernisasi. Budaya lokal memiliki peran strategis sebagai sumber nilai yang mampu membentuk perilaku, moralitas, dan tanggung jawab sosial generasi muda. Namun, perubahan sosial yang semakin cepat menyebabkan proses pewarisan nilai budaya kepada generasi muda menghadapi berbagai tantangan. Salah satu nilai budaya yang masih hidup dalam masyarakat Toraja adalah budaya Longko’, yang mengandung nilai kehormatan, rasa malu, tanggung jawab, solidaritas, dan penghormatan terhadap sesama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pewarisan nilai budaya Longko’ serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter generasi muda di Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan 11 informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling, terdiri atas generasi muda, tokoh adat, dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan nilai budaya Longko’ berlangsung melalui tiga mekanisme utama, yaitu sosialisasi primer oleh keluarga melalui keteladanan dan teguran, penguatan normatif oleh tokoh adat dan tokoh agama melalui legitimasi ritual, serta pembentukan habitus oleh masyarakat melalui aksi kolektif dan kontrol sosial. Nilai-nilai tersebut berkontribusi dalam membentuk karakter generasi muda berupa moralitas dan integritas, memelihara harmoni dan toleransi, serta memperkuat solidaritas dan semangat gotong royong. Temuan ini menunjukkan bahwa budaya Longko’ tetap relevan sebagai modal sosial dan budaya dalam pembentukan karakter generasi muda di tengah perubahan sosial masyarakat.
Konsep dan Prinsip Dasar Sosiologi Pendidikan Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Yuliani Yuliani; Hamzah Irfanda; Farida Ariani; Arief Arafat Hankam; Aulia Fitri
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v13i3.84129

Abstract

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan utama pendidikan karena mendukung terbentuknya individu yang memiliki nilai moral, tanggung jawab sosial, dan kemampuan beradaptasi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, berbagai permasalahan sosial di kalangan peserta didik menunjukkan bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya diimplementasikan secara optimal. Oleh karena itu, pemahaman mengenai peran sosiologi pendidikan dalam pembentukan karakter menjadi semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dasar dan prinsip-prinsip sosiologi pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik melalui pendekatan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan data sekunder yang diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, prosiding konferensi, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan dengan topik penelitian. Data yang terkumpul dianalisis melalui telaah pustaka, klasifikasi sumber, pembacaan kritis, sintesis temuan, dan interpretasi deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosiologi pendidikan memandang pendidikan sebagai proses sosial yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menginternalisasikan nilai, norma, dan budaya melalui sosialisasi serta interaksi sosial. Teori Pierre Bourdieu, Émile Durkheim, dan Talcott Parsons menunjukkan bahwa sekolah berfungsi sebagai lembaga sosial dan agen sosialisasi yang berperan strategis dalam membentuk karakter peserta didik. Selain itu, pembentukan karakter diperkuat melalui integrasi sosialisasi, keteladanan guru, budaya sekolah, dan penerapan nilai serta norma sosial dalam proses pembelajaran. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa sintesis teori-teori sosiologi utama dengan temuan empiris terkini sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran sosiologi pendidikan dalam pembentukan karakter. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pendidik dan sekolah dalam merancang praktik pendidikan karakter yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Universalisasi Sistem Pendidikan dan Transformasi Institusi Lokal: Tinjauan Interdisipliner antara Sosiologi Pendidikan, Kebijakan Global, dan Pembangunan Manusia Fritz Hotman Syahmahita Damanik; Oman Sukmana; Husni Thamrin; Jahlan Naftali Remtula
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v13i3.83683

Abstract

ABSTRAKPenyebaran global sistem pendidikan terstandar yang didorong oleh lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO, Bank Dunia, dan OECD melalui kerangka Education for All (EFA) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 (SDG 4) telah menimbulkan ketegangan mendalam dengan institusi pendidikan lokal di negara-negara Global South. Artikel ini mengembangkan tinjauan interdisipliner yang mengkaji universalisasi sistem pendidikan dan dampak transformatifnya terhadap institusi pendidikan lokal, dengan mengintegrasikan perspektif sosiologi pendidikan, studi kebijakan pendidikan global, dan teori pembangunan manusia. Penelitian ini didorong oleh pengamatan bahwa agenda pendidikan global yang dominan sering kali beroperasi sebagai proyek hegemonik yang secara sistematis meminggirkan beragam tradisi pendidikan lokal. Dengan menggunakan pendekatan kajian literatur kualitatif sistematis dan analisis sekunder terhadap studi empiris serta dokumen kebijakan, artikel ini mengkaji tiga pertanyaan utama: bagaimana agenda kebijakan pendidikan global merestrukturisasi medan institusional pendidikan lokal; bagaimana berbagai tipe institusi lokal merespons tekanan universalisasi; dan apa konsekuensi transformasi ini bagi pembangunan manusia komunitas yang warisan pendidikannya sedang dipertaruhkan. Dengan mensintesis teori medan Bourdieu, analisis isomorfisme institusional Meyer dan Rowan, serta pendekatan kapabilitas Amartya Sen, penelitian ini mengidentifikasi empat tipologi respons institusional terhadap universalisasi: akomodasi adaptif, resistensi selektif, subordinasi pasif, dan transformasi emansipatif. Kasus Indonesia dengan keragaman tradisi pendidikannya yang luar biasamencakup pesantren, sekolah adat, madrasah, dan sekolah negerimenjadi referensi empiris utama dalam menganalisis dinamika tersebut. Temuan menunjukkan bahwa pembangunan manusia yang sejati memerlukan kerangka tata kelola multikultural yang mengakui dan mendukung keberagaman institusional tradisi pendidikan.
Persepsi Guru Terhadap Penerapan Pendekatan Deep Learning Pada Kurikulum Merdeka di SMAN 1 Enrekang Fausan Ammar; Supriadi Torro; Rahmi Juwita
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v13i3.87511

Abstract

Transformasi pendidikan pada era Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk mengimplementasikan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pembelajaran yang bermakna melalui pendekatan Deep Learning. Meskipun demikian, implementasi pendekatan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, sementara kajian yang secara khusus mengungkap persepsi guru sebagai pelaksana utama pembelajaran, terutama pada jenjang sekolah menengah atas, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru terhadap penerapan pendekatan Deep Learning pada Kurikulum Merdeka di SMAN 1 Enrekang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan penelitian dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan guru mata pelajaran yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan melalui member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi yang positif terhadap penerapan pendekatan Deep Learning dan memaknainya sebagai proses pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam, keterkaitan materi dengan konteks kehidupan nyata, serta pembelajaran yang sadar, bermakna, dan menyenangkan. Implementasi pendekatan tersebut diwujudkan melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, penggunaan pembelajaran kontekstual, diskusi kolaboratif, pembelajaran berbasis proyek, serta kegiatan refleksi. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pemahaman guru terhadap konsep Deep Learning, keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran, serta tingginya beban administrasi guru. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi Deep Learning tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi pedagogik guru, tetapi juga oleh dukungan kelembagaan, ketersediaan fasilitas, dan penguatan pengembangan profesional guru secara berkelanjutan.