cover
Contact Name
Arifa Chan
Contact Email
uppublikasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
uppublikasi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 23561297     EISSN : 25287222     DOI : -
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar (JTIDP) published by Indonesian Center for Estate Crops Research and Development is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from area of agricultural science on industrial and beverage crops.
Arjuna Subject : -
Articles 407 Documents
Aktivitas Antioksidan Teh Varietas GMB 7 Pada Beberapa Ketinggian Tempat Budi Martono; Syamsul Falah; Eneng Nurlaela
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n1.2016.p53-60

Abstract

GMB 7 merupakan varietas unggul teh yang mempunyai produktivitas tinggi dan berpotensi sebagai sumber antioksidan alami, dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah, sedang, dan tinggi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh ketinggian tempat terhadap aktivitas antioksidan, kandungan fenolik, dan flavonoid pada teh varietas GMB 7. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, mulai November 2014 sampai Februari 2015. Perlakuan yang diuji adalah ekstrak pucuk teh yang diambil dari tiga ketinggian tempat di perkebunan teh PT Tambi, Wonosobo, yaitu 690, 1280, dan 1890 m dpl. Serbuk pucuk teh sebanyak 100 g ditambahkan akuades dengan perbandingan 1:10, diekstraksi dengan air panas (90°C; 30 menit). Ekstrak disaring dan filtratnya dikeringkan menggunakan rotary vacuum evaporator (50 rpm; 60°C) sampai diperoleh ekstrak kasar kering. Fenolik total diuji dengan metode Follin-Ciocalteu pada panjang gelombang 765 nm, sedangkan flavonoid total diuji menggunakan metode AlCl3 pada panjang gelombang 510 nm. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan nilai fenolik dan flavonoid total, serta nilai IC50 GMB 7 pada ketinggian 690 m dpl lebih tinggi dibandingkan pada ketinggian 1.280 dan 1.890 m dpl,  masing-masing sebesar 290,62 GAE mg/g ekstrak, 125 CE mg/gekstrak, dan 5,48 ppm. Kandungan fenolik dan flavonoid total berkorelasi sangat nyata dengan aktivitas antioksidan (IC50).  
Pengujian Klon Batang Atas dan Dosis Pupuk NPK Pada Sambung Samping Kakao Rakyat Bambang Eka Tjahjana; Yulius Ferry
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n2.2016.p109-116

Abstract

Produktivitas kakao di Indonesia masih rendah, antara lain disebabkan umur tanaman yang sudah tua. Program peremajaan kakao memerlukan biaya mahal dan waktu yang lama sehingga perlu alternatif yang lebih murah dan cepat, yaitu program rehabilitasi dengan cara sambung samping menggunakan batang atas dari klon unggul. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh sepuluh klon kakao sebagai batang atas dan dosis pupuk terhadap sambung samping pertanaman kakao rakyat. Penelitian dilaksanakan pada kebun rakyat di Kabupaten Way Kanan, Lampung Utara, mulai tahun 2012 sampai 2013. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan; petak utamanya adalah 10 klon unggul kakao sebagai batang atas, yaitu K1 = PA150, K2 = Sca12, K3 = TSH 908, K4 = ICS60, K5 = TSH 858, K6 = IMC67, K7 = Sulawesi 02, K8 = Jumbo, K9 = Sulawesi 01, dan K10 = ICCRI 04. Sebagai anak petak adalah dosis pupuk NPK, yaitu P0 = tanpa pupuk, P1 = 300 g NPK, P2 = 600 g NPK, dan P3 = 300 g NPK + 100 g mikoriza. Setiap unit percobaan terdiri dari 6 tanaman. Peubah yang diamati meliputi tingkat keberhasilan penyambungan serta pertumbuhan panjang tunas dan diameter batang tunas. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan dan pertumbuhan tunas hasil sambung samping yang terbaik untuk kakao rakyat di Kabupaten Way Kanan, Lampung Utara, adalah dengan menggunakan batang atas klon TSH 908 dan TSH 858. Pupuk NPK yang optimal untuk sambung samping tersebut adalah 600 g/pohon/tahun dan 300 g/pohon/tahun ditambah 100 g mikoriza/pohon.
Variabilitas Genetik 11 Klon Kakao Lokal dari Sumatera Barat Berdasarkan Marka SSR Cici Tresniawati; Nur Kholilatul Izzah; Indah Sulistiyorini; Ilham Nur Ardhi Wicaksono
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n2.2017.p79-88

Abstract

Indonesia is the third largest cacao producing-country in the world and known having many superior local clones, such as that found in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra.  However, there is lack of information about genetic background of those local cacao clones.  This  study aimed to assess genetic variability of 11 local cacao clones collected from Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra using SSR markers.  The research was conducted in the Integrated Laboratory, Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute (IIBCRI), Sukabumi, from August to November 2016.  The genetic variabilities of local cacao studied were compared with 9 national varieties as reference genomes.  Total genomic DNA of the plants was isolated using CTAB method. Cacao DNA was amplified using 18 SSR markers to determine their genetic variability.  Afterward, the amplified DNA was separated using 6% non-denaturing polyacrylamide gel electrophoresis. The result exhibited that 12 markers were polymorphic. Further analysis of these polymorphic markers using PowerMarker program revealed a total of 83 alleles were obtained from all cacao clones analyzed.  Meanwhile, PIC values ranged from 0.55 to 0.86 with an average of 0.70.  A genetic similarity matrix based on UPGMA revealed three main groups at 68% similarity coefficients. Interestingly, all of the 11 local cacao clones were clearly distinguished each other and also from the national varieties.  The result demonstrated the usefulness of SSR markers for discriminating local cacao clones. Further study is required to use these local clones in cacao breeding programs.
Marka DNA yang Dapat Digunakan untuk Konstruksi Peta Genetik dari Genom Jarak Pagar Dani Satyawan; I Made Tasma
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jatropha (Jatropha curcas) is an oil producing crop that can be used as supplements or substitutes of diesel fuel to replace fosil-based energy. This crop has a relatively long life cycle, and therefore, a new alternative breeding method is necessary to expedate breeding program. The purpose of this study was to find out DNA marker technologies that can be used to map the genome of jatropha, and  later can be used to label the important agronomic characters of this plant. DNA markers tested in this study included Randomly Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP), Target Region Amplification Polymorphism (TRAP), and Sequence Related Amplification Polymorphism (SRAP). Studies were initiated by finding the best method for isolating jatropha genomic DNA. Initial studies to obtain molecular markers applicable for this crop resulted in a total of 43 polymorphic RAPD bands that can be used for DNA fingerprinting studies as well as be useful for genetic mapping purposes. However, the number of markers available was extremely lower than the minimum target of at least 250 polymorphic markers necessary for a minimum coverage of the jatropha genome.  The remaining markers can be obtained from other marker methods such as AFLP, TRAP, and SRAP and based on this study the latter types of markers demonstrated more polymorphism level than that of RAPD.
Peningkatan Adopsi Teknologi dan Mutu Kakao di Provinsi Sumatera Barat Nusyirwan Hasan; Rifda Roswita
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n1.2017.p23-30

Abstract

Sumatera Barat merupakan salah satu kawasan pengembangan kakao di wilayah barat Indonesia yang luasnya mencapai 150.319 ha, namun produktivitas dan mutunya masih rendah karena belum diadopsinya inovasi teknologi budi daya dan pascapanen kakao oleh petani. Salah satu strategi untuk meningkatkan adopsi teknologi inovasi teknologi budi daya dan pascapanen dapat dilakukan melalui berbagai media dan saluran komunikasi yang dikenal dengan spectrum diseminasi multi channel (SDMC). Tujuan penelitian adalah meningkatkan adopsi inovasi teknologi kakao dan mutu kakao oleh petani di Sumatera Barat. Penelitian dilaksanakan di dua kabupaten sentra produksi kakao, yaitu  Padang Pariaman dan Pasaman, Sumatera Barat, mulai bulan Maret sampai Desember 2013. Tahapan penelitian meliputi (1) survei awal (base line survey) untuk mengetahui tingkat adopsi inovasi dan kebutuhan inovasi teknologi budi daya, serta pascapanen kakao; (2) diseminasi inovasi teknologi menggunakan pola/model SDMC yang diawali dengan advokasi, pelatihan, penyebaran media cetak, demplot inovasi teknologi, dan temu lapang; serta (3) survei akhir untuk mengetahui peningkatan adopsi inovasi teknologi budi daya dan pascapanen kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya adopsi teknologi petani kakao karena tingkat pendidikan dan pengalaman masih kurang. Inovasi teknologi budi daya dan mutu yang dibutuhkan oleh petani di kedua sentra produksi kakao di Sumatera Barat adalah pemangkasan, pemupukan, sambung samping, sanitasi kebun, pembuatan rorak, pengendalian hama penyakit, fermentasi, dan pengeringan biji kakao. Rata-rata peningkatan adopsi inovasi teknologi setelah diseminasi di Kabupaten Padang Pariaman dan Pasaman, masing-masing sebesar  45,54% dan 53,31%. Adopsi inovasi teknologi mutu kakao melalui fermentasi berdampak pada perbaikan mutu biji menjadi mutu kelas III-A dan memenuhi Standar Nasional Indonesia.
Analisis Risiko Kehilangan Hasil dari Lada Hibrida Tahan Busuk Pangkal Batang Abdul Muis Hasibuan; Dewi Listyati; Agus Wahyudi
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pepper foot rot disease is the major cause of low productivity of pepper plantation in Indonesia. This research aimed to know level of production risk due to foot rot disease and opportunity of pepper hybrids that resistant to foot rot disease to reduce the risk. The research conducted at July – October 2010 in North Lampung District, using survey to pepper farmers. The method use is descriptive and risk analysis. Result showed that farmer faced high production risk cause of foot rot disease attack with average 26 percent and standard deviation 23 percent. There was correlation between foot rot disease attack with pepper productivity. As a response to production risk, introduction of pepper hybrid that resistant to foot rot disease technology has high potential to reduce production risk.
Pupuk Organik sebagai Subtitusi Pupuk Anorganik Menuju Pertanian Lada Perdu Organik Dibyo Pranowo; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Utilization of organic fertilizer as a substitute of anorganic fertilizer toward organic pepper shurbs have been done at experimental garden Pakuwon by using pot system in paranet screen house in May-December 2009. The experimental design of the study  is Group Randomized Factorial Design, The first factor consists of two types of pepper hybrid LH4-5-5 (V1) and LH 6-2 (V2), and use Petaling 1 (V3) as a comparison. The second factor is the technology package, is doses of organic fertilizers as a substitute for anorganic fertilizers with composition level of media: P0 = soil 1:1 organic fertilizer + 100%  anorganic fertilizer recommendation (GAP), P1 = soil 1: 2  organic fertilizer + 80% anorganic fertilizer GAP, P2 = soil 1: 3  organic fertilizer + 60%anorganic fertilizer  GAP, P3 = soil  1:4  organic fertilizer  + 40% anorganic fertilizer GAP and P4 = soil 1: 5 20% organic fertilizer+ anorganic fertilizer GAP. The number of plants per treatment is 5 plants and 3 replication, so therefore total number is 225 plants. The observed parameters : plant height, number of primary and secondary branches, stem base diameter, node length and leaves number per branch, also macro and micro nutrient analysis of each of media treatment. The result showed that anorganic fertilizer NPK-Mg requirement on pepper shrubs at vegetative stage can be substituted with 80% organic fertilizer and 20% anorganic fertilizer.  Hybrid pepper LH 6-2 and LH 4-5-5 higher potencial production than Petaling 1. At 4 month after planting did not  show no significant differences of vegetative growth between treatment and variety, this result shown probability of pepper shrubs cultivation on pot system can be cultivated with organic system.
Analisis Penyusunan Prioritas Kegiatan dalam Mendukung Diberlakukannya Kewajiban Fermentasi Biji Kakao Bedy Sudjarmoko; Dewi Listyati; Abdul Muis Hasibuan
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n3.2017.p153-162

Abstract

Kakao merupakan komoditas perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Namun, kakao Indonesia masih dihadapkan pada masalah di bidang produksi, pengolahan, dan pemasaran. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 67/Permentan/OT.140/5/2014 untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah biji kakao Indonesia, mendukung pengembangan industri berbahan baku kakao dalam negeri, memberikan perlindungan pada konsumen dari peredaran biji kakao yang tidak memenuhi persyaratan mutu, meningkatkan pendapatan petani kakao, dan mempermudah penelusuran kembali kemungkinan terjadinya penyimpangan produksi dan peredaran. Tujuan penelitian adalah menyusun rekomendasi prioritas kegiatan yang harus dilakukan untuk mendukung Permentan Nomor 67/Permentan/OT.140/5/2014. Penelitian dilaksanakan di Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, dan DKI Jakarta, mulai bulan Januari sampai Desember 2016. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan data diolah dengan analisis hierarki proses (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas kegiatan yang harus dicapai untuk mendukung Permentan Nomor 67/Permentan/OT.140/5/2014 adalah: (1) memberlakukan kebijakan nasional tentang pengolahan biji kakao fermentasi yang dimplementasikan secara tegas, konsisten, dan kontinu; (2) melaksanakan diversifikasi produk sekunder kakao yang mampu dilakukan petani  dengan biaya murah, mudah, dan didukung teknologi tepat guna; (3) melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran nasional akan pentingnya ketahanan energi yang dikakukan secara kontinu, masif, dan intensif; (4) memacu investor/pengusaha industri hilir kakao berskala besar dan usaha berskala kecil sampai menengah di pedesaan untuk secara konsisten menjalankan industri pengolahan kakao; (5) melaksanakan intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan  tanaman kakao agar produksi mencukupi kebutuhan baku industri kakao domestik.
Pengaruh Tingkat Kematangan Buah, serta Lama Fermentasi dan Penyangraian Biji terhadap Karakter Fisikokimia Kopi Robusta Elsera Br Tarigan; Juniaty Towaha
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n3.2017.p163-170

Abstract

Robusta coffee is the most widely cultivated coffee in Indonesia. However, flavor quality of coffee is low due to improper harvesting and postharvest handling by farmers. Flavor quality mostly determined by fruit maturity level, fermentation and roasting time. The research aimed to investigate the effect of fruit maturity level, fermentation and roasting time on the physico-chemical characteristics of Robusta coffee. The research was conducted at Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute (IIBCRI), from May to July 2017, used a completely ranndomized block design with 3 factors. The first factor was fruit maturity level (red and reddish yellow), second factor was bean fermentation (24 and 36 hours) and the third factor was roasting time (10 and 13 minutes). Physical quality covered percentage of live insects, moisture content, foreign materials and amount of defective beans. Chemical quality covered moisture content, ash, fat, protein, caffeine and acidity. The results showed that physical quality of fermented beans i.e. moisture content and amount of defective beans were affected by fruit maturity level and fermentation time, while foreign materials is affected by the interaction between these two factors. Chemical quality of coffee i.e. fat and caffeine content were affected by the interaction between fruit maturity level, and fermentation and roasting time. Water and protein content were affected by interaction between fruit maturity level and fermentation time, and interaction between fruit maturity level and roasting time. The ash content is affected by the roasting time, whereas pH is affected by fermentation time and roasting time.
Adopsi dan Dampak Penerapan Standard Operating Procedure Pascapanen Karet Rakyat Di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat Kasma Iswari
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n1.2016.p21-28

Abstract

Mutu bahan olah karet (bokar) di tingkat petani di Provinsi Sumatera Barat masih rendah, disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap teknologi, kurangnya sarana pascapanen, belum diterapkannya standard operating procedure (SOP), dan masalah lainnya. Tujuan penelitian adalah mengetahui adopsi dan dampak penerapan SOP pascapanen bahan olah karet (bokar) rakyat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Penelitian dilaksanakan di tiga kecamatan, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, mulai bulan Maret sampai Desember 2013 dengan metode survei deskriptif melalui pelaksanaan demonstrasi plot (demplot) dan sekolah lapang. Parameter yang diamati meliputi tingkat adopsi teknologi pascapanen, mutu bokar, dan tataniaga karet sebelum dan setelah demplot dan sekolah lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi pascapanen karet melalui demplot dan sekolah lapang di Kabupaten Dharmasraya bervariasi dari tingkat yang sangat rendah sampai sangat tinggi. Adopsi teknologi tersebut berdampak positif terhadap peningkatan mutu bahan olah karet rakyat sehingga dapat memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Harga jual sheet dengan standar SNI di tingkat petani tidak jauh berbeda dengan lump kotor, hal ini yang menyebabkan petani belum banyak memproduksi sheet. Diperlukan regulasi agar pabrik membeli karet ke Unit Pengelola dan Pemasaran Bokar (UPPB) atau ke pasar lelang yang berpihak kepada petani.

Filter by Year

2011 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 8, No 3 (2021): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 3 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 3 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 3 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 3 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 3 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 3 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 3 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 2 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 2 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 1 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 1 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 3 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 3 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 2 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 2 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 1 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 1 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 2, No 2 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 2, No 2 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri More Issue