cover
Contact Name
Arifa Chan
Contact Email
uppublikasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
uppublikasi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 23561297     EISSN : 25287222     DOI : -
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar (JTIDP) published by Indonesian Center for Estate Crops Research and Development is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from area of agricultural science on industrial and beverage crops.
Arjuna Subject : -
Articles 407 Documents
Analisis Keragaman Genetik 28 Nomor Koleksi Kakao (Theobroma cacao L.) Berdasarkan Marka SSR Ilham Nur ardhi Wicaksono; Rubiyo Rubiyo; Dewi Sukma; Sudarsono Sudarsono
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n1.2017.p13-22

Abstract

Analisis keragaman genetik koleksi plasma nutfah kakao menggunakan marka molekuler mempunyai peranan penting dalam program perakitan klon unggul baru. Ketersediaan klon komersial dan klon unggul lokal meningkatkan peluang keberhasilan perakitan klon unggul baru sehingga analisis keragaman genetik materi tersebut perlu dilakukan. Tujuan penelitian adalah menganalisis keragaman genetik 28 nomor koleksi kakao berdasarkan marka SSR yang berguna dalam pemilihan tetua persilangan. Penelitian  dilakukan  di Laboratorium Terpadu Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi, dan Laboratorium Biologi Molekuler Tanaman (PMB), Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mulai bulan November 2015 sampai Mei 2016. Analisis keragaman genetik dilakukan pada 28 klon kakao yang terdiri dari 13 klon unggul lokal dan 15 klon komersial. Ekstraksi DNA dilakukan dengan menggunakan prosedur berbasis CTAB (cetyltrimethylammonium bromide). Selanjutnya, DNA diamplifikasi dengan teknik PCR (polymerase chain reaction) menggunakan 20 pasang primer SSR (simple sequence repeats). Hasil penelitian menunjukkan semua marka SSR yang digunakan bersifat polimorfik dengan rata-rata nilai PIC (polymorphism information content) cukup tinggi, yaitu 57%. Pohon filogenetik yang dianalisis menggunakan program DARwin (Dissimilarity Analysis and Representation for Windows) versi 6.05 terbagi menjadi 3 kelompok besar yang menempatkan klon unggul lokal dan klon komersial bersama-sama dalam tiap-tiap kelompok. Klon unggul lokal diduga mempunyai asal usul yang dekat dengan klon komersial yang sudah dibudidayakan di Indonesia. Selain itu,beberapa klon kakao berpotensi menjadi tetua persilangan karena mempunyai jarak genetik cukup jauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa marka SSR merupakan alat bantu cukup potensial untuk menentukan tetua persilangan yang diharapkan dapat meningkatkan peluang heterosis pada keturunannya.
Keragaan Nomor Harapan Lada Hibrida LH 20-4 Tahan Penyakit BPB di lampung Timur Ilham Nur Adhi Wicaksono; Rudi Tedjo Setiyono
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Study aimed to determine the appearance of pepper hybrids that have a level of resistance to foot rot disease (FRD) in endemic areas. Research conducted at East Lampung District, from January to December 2010. Study is divided into two activities: research on plant resistance FRD and research on the vegetative and generative characters of hybrids pepper of resistant BPB. Study of plant resistance materials used 20 numbers of hybrids pepper that are resistant to FRD disease at greenhouse level and 2 varieties as comparison. Study arranged in Randomized Complete Block Design (RCBD), with 3 replications. Disease attack percentage is calculated based on the number of plants showed FRD symptom divided by the number of plants per plot. In the study of vegetative and generative characters, plant material used 5 numbers of hybrid pepper resistant to FRD and two comparators. RCBD with 4 replications. All plants were 6 years old. The results showed that 5 numbers of hybrid pepper until age 5 still remained 100%. Plant height and canopy height LH 20-4 of pepper hybrids is higher than Natar1. Number of branches at 50 cm LH 20-4 was higher than comparator. LH 20-4 has a diameter of the canopy was higher than the length of his node Natar 1 and the highest among all treatments. Harvest fresh weight 1884.67 g LH 20-4 achieve the highest among the other hybrid pepper and higher than the comparator Natar 1 (1791.66 g), while the average harvest a comparison Petaling highest of 3448.33 g. Expected until the third crop production will remain higher than Natar 1 so that can later be released as superior varieties of resistant to FRD and high production.
Pengaruh Indole Butyric (IBA) dan Nepthalene Acetic Acid (NAA) terhadap Keberhasilan Grafting Tanaman Pala Nana Heryana; Handi Supriadi
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the problems with the nutmeg plant is still using generative propagation. Although it has a high success rate but it will genetically segregate and some of them become male plants. Efforts to overcome these problems is through multiplication by grafting. Research with the aim to obtain the dose right IBA and NAA with highest success rate of grafting nutmeg plants in garden station (GS) Pakuwon using a completely randomized design (CRD) with four replications. The treatments tested by giving auxin IBA and NAA on plant seed nutmeg grafting as follows: (1) IBA 250 ppm, (2) IBA 500 ppm, (3) IBA 750 ppm, (4) NAA 250 ppm, (5) NAA 500 ppm, (6) NAA 750 ppm and (7) control (without auxin). The results showed that the level of grafting success rate  nutmeg influenced by the provision of IBA and NAA. Provision of IBA and NAA at a dose of 500 ppm produced the highest grafting success rate respectively 37.33 and 43,03%.
Analisis Sebaran Tipe dan Performa Mutu Fisik Kakao pada Tiga Rentang Elevasi Retno Utami Hatmi; Makhmudun Ainuri; Anggoro Cahyo Sukartiko
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v5n1.2018.p11-20

Abstract

Cacao genotype most cultivated in Indonesia divided into three main groups, namely Criollo, Forastero, and Trinitari. Beside genetical factor, the pod and beans qualities are also strongly influenced by the environment in which the plant grows. The research aimed to analyze the types and physical qualities of the pod and bean from Patuk, Gunungkidul at three elevations range (154.00–267.20, 302.00–401.00, and 469.20–657.90 m above sea level/asl). The research was conducted at smallholder plantations in Patuk District, Gunungkidul, Yogyakarta from September until Desember 2017. As many as 40–42 samples were randomly taken from each elevation range and analyzed by descriptive statistic and one-way anova. The parameters observed  were  cocoa types identification (Criollo, Forastero, and Trinitario), pod’s physical quality (fresh weight of fruits, length to width ratio, fresh weight of beans, number of beans, and  fresh weight of one bean), and bean’s physical quality (thickness, length/width ratio, dry weight of one bean, and number of beans in 100 g). The results showed that Trinitario cacao type dominates at elevation range of 154.00–267.20 m asl, while Forastero dominates at elevation range of 302.00–401.00 and 469.20–657.90 m asl. The pod physical qualities of Criollo, Forastero, and Trinitario showed highest  fresh weight per bean at 469.20–657.90 m asl compared to those at lower elevation (increased 19.05%–31.94%). At elevation of 469.2–657.9 m asl, Forastero shown  higher beans physical quality at all variables, whereas  Criollo was significantly higher dry weight per bean and number of beans per 100 g, and Trinitario shown significantly higher bean thickness.
Aplikasi Sitokinin untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Teh di Dataran Rendah Santi Rosniawaty; Intan Ratna Dewi Anjarsari; Rija Sudirja
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v5n1.2018.p31-38

Abstract

Teh (Camellia sinensis [L.] O. Kuntze) merupakan salah satu komoditas primadona Jawa Barat. Upaya ekstensifikasi teh di dataran rendah dan lahan suboptimal diyakini dapat berkontribusi nyata terhadap perbaikan kesejahteraan petani. Perbedaan suhu di dataran rendah dengan di dataran tinggi akan berpengaruh pada metabolisme tanaman teh. Secara kultur teknis, untuk membentuk perdu dengan percabangan ideal, perlu dilakukan centering (pemangkasan). Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pemberian sitokinin terhadap pertumbuhan tanaman teh setelah centering di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, mulai bulan November 2016 sampai Juni 2017, dengan bahan tanaman teh berumur 10 bulan setelah tanam. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang 4 kali, dengan perlakuan perbedaan konsentrasi sitokinin. Sitokinin yang digunakan berasal dari air kelapa, dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75%, serta benzil amino purin (BAP) dengan konsentrasi 60 ppm, 90 ppm, dan 120 ppm, serta kontrol (tanpa sitokinin). Hasil penelitian menunjukkan pemberian sitokinin yang berasal dari air kelapa atau berupa BAP pada tanaman teh setelah centering hanya efektif hingga 3 bulan setelah aplikasi. Pada 1 dan 3 bulan setelah aplikasi, pemberian air kelapa 50% atau BAP 60 ppm meningkatkan pertambahan diameter batang, jumlah daun, panjang tunas, dan jumlah tunas. Oleh karena itu, air kelapa 50% atau BAP 60 ppm dapat dijadikan sumber sitokinin untuk tanaman teh di dataran rendah setelah centering.
Kompatibilitas Lima Klon Unggul Kakao Sebagai Batang Atas dengan Batang Bawah Progeni Half-Sib Klon Sulawesi 01 Dibyo Pranowo; Edi Wardiana
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n1.2016.p29-36

Abstract

Perbanyakan tanaman kakao melalui teknik sambung (grafting) paling banyak diterapkan oleh petani. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan penyambungan tanaman adalah tingkat kompatibilitas antara batang atas dengan batang bawah yang digunakan. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi tingkat kompatibilitas lima klon unggul kakao, yaitu Sulawesi 01, Sulawesi 02, Sca 6, MCC 01, dan MCC 02,  sebagai batang atas dengan progeni half-sib klon Sulawesi 01 sebagai batang bawah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP). Pakuwon, Jawa Barat, pada ketinggian tempat 450 m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim B (Schmidt & Fergusson), mulai bulan April sampai September 2015. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima perlakuan kombinasi penyambungan dan lima ulangan. Pengamatan dilakukan pada hari ke-14, 21, dan 28 setelah penyambungan terhadap persentase total hasil sambungan yang hidup, hasil sambungan yang telah dan belum bertunas, serta kecepatan munculnya tunas. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, korelasi, dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase benih hasil sambungan yang bertahan hidup, persentase benih hasil sambungan yang bertunas, dan kecepatan munculnya tunas hingga hari ke-28 setelah penyambungan bervariasi antar klon batang atas. Berdasarkan ketiga parameter tersebut, klon Sulawesi 01, Sulawesi 02, dan Sca 6 memiliki tingkat kompatibilitas lebih tinggi dibandingkan dengan MCC 01 dan MCC 02. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk perbanyakan bibit menggunakan teknik sambung dalam mendukung program peremajaan dan atau rehabilitasi kakao.
Isolasi dan Seleksi Jamur Endofit Asal Tanaman Kakao Sebagai Agens Hayati Phytophthora palmivora Butl. Rita Harni; Widi Amaria; Khaerati Khaerati; Efi Taufiq
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 3 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n3.2016.p141-150

Abstract

Phytophthora palmivora Butl. merupakan patogen penyebab penyakit busuk buah kakao (BBK) yang menimbulkan kerugian cukup besar bagi petani. Pengendalian P. palmivora yang banyak dianjurkan adalah pengendalian ramah lingkungan dengan menggunakan agens hayati seperti jamur endofit. Tujuan penelitian adalah mendapatkan jamur endofit asal tanaman kakao yang bekerja sebagai agens hayati terhadap P. palmivora patogen penyebab busuk buah kakao. Penelitian dilakukan di Laboratorium Proteksi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi, mulai bulan Januari sampai Juli 2015. Eksplorasi jamur endofit dilakukan di beberapa daerah penghasil kakao, yaitu Sulawesi Tenggara, Lampung, dan Jawa Barat. Bahan tanaman kakao yang digunakan sebagai sampel adalah daun, buah, dan ranting dari beberapa varietas dan klon kakao. Isolat-isolat jamur endofit diisolasi, dimurnikan, dan diseleksi kinerjanya terhadap P. palmivora secara in vitro pada media PDA dan secara in vivo pada buah kakao. Hasil isolasi diperoleh 269 isolat jamur endofit dari beberapa daerah, yaitu 195 isolat dari Sulawesi Tenggara, 41 isolat dari Jawa Barat, dan 33 isolat dari Lampung. Hasil seleksi isolat jamur endofit terhadap P. palmivora diperoleh 4 isolat jamur dari marga Trichoderma yang potensial sebagai agens hayati untuk pengendalian P. palmivora, yaitu SWI, STII, PB5, dan SWII dengan daya hambat 70,33%; 68,89%; 67,43%; dan 66,67%.
Pengelompokan 33 Aksesi Kakao Berdasarkan Karakter Morfologi Komponen Buah Edi Wardiana; Juniaty Towaha; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n2.2017.p67-78

Abstract

Identifikasi dan pengelompokan aksesi plasma nutfah kakao berdasarkan karakter morfologi komponen buah merupakan langkah awal yang penting dalam kegiatan pemuliaan untuk merakit varietas unggul. Tujuan penelitian adalah mengelompokkan 33 aksesi kakao berdasarkan karakter morfologi komponen buah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi, mulai bulan Januari sampai Desember 2015. Metode yang digunakan adalah observasi terhadap 33 aksesi kakao Kaliwining (KW) yang ditanam tahun 2012 dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan pohon penaung kelapa Genjah Salak umur 26 tahun. Pemilihan 10 sampel pohon per aksesi dilakukan secara acak sederhana, dan panen buah dilakukan dua kali, yaitu pada bulan Februari dan Oktober 2015 berdasarkan musim yang berbeda. Sebanyak 20 sampel buah per aksesi dipilih secara acak sederhana, masing-masing 10 buah untuk setiap waktu panen. Pengamatan dilakukan terhadap 7 karakter komponen buah yang meliputi: (1) bobot segar buah, (2) jumlah biji, (3) bobot segar biji, (4) bobot kering biji, (5) bobot segar kulit buah, (6) jumlah alur kulit buah, dan (7) bobot segar pulpa. Analisis data dilakukan dengan analisis faktor, klaster berhierarki metode Ward’s dan diskriminan. Hasil penelitian menunjukkan 19 aksesi kakao tergolong berkarakter komponen biji dan kulit buah yang tinggi, 9 aksesi tergolong berkarakter bobot pulpa yang tinggi, dan 5 aksesi, yaitu KW 162, KW 528, KW 570, KW 571, dan KW 720 tergolong tinggi dalam semua karakter komponen buah. Aksesi-aksesi tersebut potensial untuk dijadikan tetua dalam merakit varietas unggul kakao.
Observasi dan identifikasi Penyakit Jamur Akar pada Tanaman Pala di Kabupaten Aceh Selatan Rita Harni; Iwa Mara Trisawa; Agus Wahyudi
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nutmeg has important role to the national economiy because of export of the product. White root disease is the main constraint in nutmeg production. The objective of this research was observation and identification of the attack and intensity causes respectively. The research conducted in April to July 2011 on farmer’s farm and on phytopathology laboratory of Indonesian Spices and Industrial Crops Research Institute Sukabumi. Survey has been done in five sub-districts namely, Tapak Tuan (Air Berudang and Air Pinang village), Sawang (Simpang Tiga and Lhok Pawoh), Meukek (Alue Meutuah dan Blang Kuala), Labuan Haji Timur (Gunung Rotan dan Keumumu Hilir), and Kluet Utara (Gunung Pulo dan Krueng Batu). Observation was done on persentage of attacks, symptoms of pests and diseases, and soil condition. The samples were taken from the root, stem and soil then isolated and identified conventionaly and molecularly in laboratory. The results showed that cause of the death of nutmeg plant was white root fungus caused by Rigidoporus microporus with attcak intensity from 5% to 100%.
TEKNOLOGI PEMUPUKAN PADA TANAMAN JAMBU METE Usman Daras; Maman Herman; Sakiroh Sakiroh
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 2 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cashew (Anacardium occidentale Linn) is among the leading export crops in Indonesia. It is also animportant smallholder crop mainly grown in the eastern parts of Indonesia. Its expansion of growing the crop, it is however n ot followed by significant increases in yields, being low ranging of 200 – 350 kg/ha. Many factors believed affect yields achieved, begun from environment, cultivatedvarieties, up to poor management of cashew orchard. As the cashew trees are mostly developed in marginal lands, role of ferti lizer uses may become exeedingly important effort in improving the productivity of the crops. In addition, there are many evidences that the crops adequately managed may give better in yields. However, most farmers do not use fertilizers for the crops or if any, added in very small amounts obviously addressed for annual crops like maize, bean or rice usually planted among the cashew trees. As results, the cashew trees are not able to achieve opti mum yields even though the planting materials used might have high in yield potential. The fertilizers that may be used both in form of organic and inorganic ones. They should be added in such way, so the soils on which the crops are planted be able to grow and develop well, in turn, their yields increase significantly.

Filter by Year

2011 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 8, No 3 (2021): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 3 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 3 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 3 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 3 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 3 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 3 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 3 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 3 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 2 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 2 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 1 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 4, No 1 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 3 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 3 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 2 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 2 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 1 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 3, No 1 (2012): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 2, No 3 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Vol 2, No 2 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri Vol 2, No 2 (2011): Buletin Riset Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri More Issue