Articles
501 Documents
Tema-Tema Fantasi dalam Komunikasi Kelompok Muslim-Tionghoa
Arianto Arianto
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v10i1.82
Tujuan penelitian untuk mengetahui komunikasi antarbudaya mempengaruhi pandangan dunia etnis Tionghoa dan pribumi di kota Medan. Tiga elemen pandangan dunia yang diteliti meliputi agama atau kepercayaan, nilai-nilai dan perilaku, yang merupakan bagian dari teori persepsi budaya menurut Larry A.Samovar, Richard E.Porter dan Edwin R.McDaniel. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi yang bertujuan melihat berbagai situasi atau realitas sosial yang berlaku terhadap etnis Tionghoa dan pribumi di kota Medan. Penelitian menggunakan wawancara mendalam terhadap sejumlah informan etnis Tionghoa dan pribumi. Selain itu, pemerhatian dan analisis kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian ini. Analisis data ditulis dalam bentuk naratif induktif. Hasil penting penelitian menunjukkan bahwa agama atau kepercayaan merupakan satu yang hak dan tidak dapat dipaksa. Namun melalui perkawinan antara etnis Tionghoa dan pribumi maka terjadinya perpindahan agama kepada Islam dan Kristen sehingga pandangan keagamaanpun berubah. Selain itu, komunikasi antarbudaya dapat mengubah cara pandang terhadap nilai-nilai budaya Tionghoa dan Pribumi di kota Medan. Dengan demikian mendorong perilaku individu menjadi positif dan sekaligus pandangan dunianya.
Aliansi Jaringan dalam Proses Komunikasi Politik Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Perempuan
Umaimah Wahid
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v10i1.87
Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan model analisis Gramscian, teori dan konsep komunikasi politik tentang kualitas komunikasi politik, media massa, dan berdasarkan teori hegemoni Antonio Gramsci atas aliansi jaringan organisasi, hegemoni-counter hegemoni, feminis radikal, dan media massa dengan dasar otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas perempuan dalam komunikasi politik parlemen di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Ditemukan bahwa rata-rata dari anggota perempuan di parlemen jauh dari ideal. Situasi menunjukkan kurangnya pengalaman politik, kaderisasi, dan pengetahuan di antara perempuan anggota parlemen. Keterbatasan ini memiliki konsekuensi terhadap komunikasi politik yang sedang berlangsung karena pengaruh budaya patriarki, dan hal itu menunjukkan keengganan partai politik dalam memberdayakan perempuan. Mereka memiliki masalah dengan tingginya biaya publikasi media. Di sisi lain, media tidak sepenuhnya melakukan gerakan counter hegemoni. Situasi ini secara fundamental krusial bagi perempuan karena tingginya kebutuhan untuk melakukan perubahan besar.
KONTROL DIRI DAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA PRAMUWISATA
Nurul Huda;
Basuki Basuki;
Sigit Tri Pambudi
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v7i2.18
This study aim to analysis relationship of self-control and anxiety of interpersonal communication in a tourist guide. Product moment corelation analysis (rxy) yields for 0905, to prove the relationship between self-control and interpersonal communication anxiety in a tourist guide. These results indicate a negative relationship between the variables X (Self Control) and variable Y (Interpersonal Communication Anxiety in the guides). Social Learning Theory became a theories used in this study, where most of the individual behavior acquired partly the result of learning through observation of behavior displayed other individuals whose became the model. Elaboration Likelihood Theory which states that each individual will interpret the message or information they receive, in accordance with the information they have and their beliefs about something related to the message. Self-control on the tour guides in Yogyakarta based on the five major aspects of self-control, that has a very high level of measurement. Includes the ability to anticipate events, the ability to interpret events and the ability to take decisions. Meanwhile, two other aspects of self control shows the results of measurements at very low category, which consists of aspects of behavior and stimulus control. While anxiety based on the three aspects of interpersonal communication, which consists of inhibition of the ability to express themselves, lack of interest in communicating and social interaction is interrupted, it indicates the level measurement at very low category. Thus, interpersonal communication anxiety on tour guides in Yogyakarta can be said to be very low.
Komunikasi Kelompok dan Eksternalisasi Pengetahuan Tacit Dalam Pengambilan Keputusan Organisasi
Kurnia Arofah
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v11i1.307
Pengetahuan tacit adalah salah satu keunggulan bersaing yang dapat digunakan oleh organisasi untuk bertahan di era persaingan. Ia tercermin dalam keahlian individu dan menjadi panduan dalam pengambilan keputusan di organisasi. Berdasar karakternya, pengetahuan tacit sulit dieksternalisasikan karena bersifat personal, mengakar dan terakumulasi dalam benak individu melalui proses pengalaman. Ia hanya dapat dieksternalisasikan melalui interaksi dan komunikasi yang umumnya terjadi dalam kelompok kecil dengan profesi dan tugas yang sama. Penelitian ini berusaha mengetahui dan mendeskripsikan peran komunikasi kelompok kecil dalam eksternalisasi pengetahuan tacit sebagai panduan pengambilan keputusan kelompok melakui pendekatan kualitatif. Penelitian ini mengaplikasikan empat fungsi dalam teori perspektif fungsional dalam pengambilan keputusan Hirowaka & Gouran kepada obyek penelitian yaitu Kelompok Perawatan dan Perbaikan Instrumentasi Nuklir (KPPIN) di Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTAPB BATAN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tacit berupa keahlian teknis hanya mampu dieksternalisasikan melalui interaksi dan komunikasi kelompok ketika menyelesaikan pekerjaan bersama. Interaksi dan komunikasi berperan proaktif dalam pembentukan pengetahuan kolektif dimana individu mengenali kemampuannya sendiri dan kemampuan individu lain dalam kelompok. Sehingga dapat digunakan sebagai rujukan dalam fungsi analisis, penetapan tujuan, pengidentifikasian alternatif dan evaluasi untuk membuat keputusan yang berkualitas dalam penyelesaikan masalah.
Wacana Poskolonial dalam Desain Komunikasi Visual Kemasan Jamu Tradisional Indonesia
Tuti Widiastuti
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v12i1.353
Meskipun pengobatan tradisional sudah dikemas dengan cara dan gaya pengobatan modern, namun sampai saat ini pengobatan tradisional belumdapat disejajarkan dengan pengobatan medis modern. Modernisasi melihat modern dan tradisional sebagai dua identitas yang bertentangan atau asimetris. Untuk menampilkan masalah ini digambarkan melalui wacana poskolonial dalam desain komunikasi visual kemasan jamu tradisional Indonesia. Kerangka pemikiran teoretis ditulis berdasar pada teori poskolonialtentang identitas dengan menggunakan metode penelitian semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisional dan modern adalah dua sisi mata uang yang sama, hampir mustahil membicarakannya tanpa mengikutsertakan dikotomi Barat dan Timur, khususnya untuk negara yang memiliki sejarah kolonialisme. Hubungan antara negara koloni dengan negara kolonialnya tidak berhenti sampai dengan kolonialisme itu berakhir. Penderitaan sebagai akibat penindasan pada masa kolonialisme belum berhenti bahkan sampai adanya kemerdekaan di negara koloni. Lebih dari itu penindasan tidak semata secara fisik, juga jiwa yang tertindas melalui bahasa, yang melegitimasi cara hidup modern dan lebih maju, sehingga patut ditiru dan diterapkan dalam cara-cara hidup masyarakat Timur.
Kajian Retorika Untuk Pengembangan Pengetahuan dan Ketrampilan Berpidato
Isbandi Sutrisno;
Ida Wiendijarti
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v12i1.359
Retorika adalah salah satu tradisi dalam ilmu komunikasi.Para ilmuwan komunikasi seharusnya menguasai segi praktis dan teoritik dalam ilmu komunikasi termasuk dalam bidang retorikakemampuan berpidato. Karena itu diperlukan kajian dan riset yang lebih banyak lagi pada bidang retorika. Pesan informatif, persuasif dan pesan-pesan kreatif yang menjadi domain kajian retorika seharusnya dikuasai mahasiswa ilmu komunikasi yang mencakup kemampuan berdiskusi, berdebat, bernegosiasi, presentasi, interview dan seterusnya. Hasilnya menunjukkan bahwa teori retorika dari Aristoteles dan Cicero menjadi rujukan di dalam mengembangkan kemampuan dan ketrampilan berpidato. Dalam teori retorika Aristoteles, terdapat lima tahap dalam melakukan persiapan pidato: invensio, disposisi, elokusio, memoria dan pronounsiasi. Sementara dalam teori retorika Cicero mencakup tahapan pengajaran, menggugah dan berlangsung. Simpulannya, penerapan terhadap teori retorika Aristoteles dan Cicero dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi khususnya dalam berpidato.
Memahami Pengalaman Komunikasi Warga Multietnis
Nur Laili Mardhiyani
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v12i1.354
Kondisi lingkungan yang tidak nyaman dan banyaknya warga Petolongan yang memilih pindah membuat warga multietnis setempat kembali harus beradaptasi dengan kondisi tersebut. Perubahan ini berpengaruh pada interaksi dan hubungan warga multietnis yang masih bermukim di Petolongan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengalaman komunikasi warga multietnis di Petolongan untuk mempertahankan hubungan dalam menghadapi perubahan sosial yang terjadi. Metode penelitian yang dipakai adalah metode fenomenologi. Teori yang digunakan adalah intercultural adaptation theory yang dikemukakan oleh Ellingsworth dan didukung relational maintenance theory. Subjek penelitian adalah empat informan berasal dari etnis Arab, Koja, Tionghoa, dan Jawa yang lebih dari 30 tahun bermukim di Petolongan. Warga multietnis Petolongan melakukan beberapa cara dalam beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat saat ini dalam mempertahankan hubungan. Mereka memiliki kompetensi komunikasi antarbudaya pada tahap unconsious competence. Kemampuan dalam memahami, toleransi dengan etnis lain telah mereka perlihatkan setelah hidup berdampingan selama bertahun-tahun tanpa adanya konflik yang terjadi di Petolongan.
Konflik Komunikasi Dalam Penyuluhan Pertanian Di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan
Kartika Ekasari Z;
M. Saleh S. Ali;
Darmawan Salman;
Akhsan Akhsan;
A. Kasirang
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v12i1.360
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses sosial antarpelaku pada penyuluhan pertanian berbasis rekayasa sosial dan pembelajaran sosial, memetakan pola komunikasi pada penyuluhan pertanian, mengidentifikasi bentuk dan sumber konflik komunikasi, dan menganalisis fungsi konflik dalam penyuluhan pertanian berbasis rekayasa sosial dan pembelajaran sosial terhadap keberlanjutan penyelenggaraan penyuluhan pertanian.Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian: Proses sosial dalam bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian berbasis rekayasa sosial lebih banyak terlihat jika ada proyek, sedangkan pada pembelajaran sosial sosial telah mengarah kepada bentuk kerjasama karena adanya kepentingan yang sama untuk mencapai tujuan bersama.Pada penyelenggaraan penyuluhan pertanian berbasis rekayasa sosial model komunikasi yang digunakan adalah model komunikasi linier, sedangkan pada pembelajaran sosial menggunakan model komunikasi konverge.Konflik yang terjadi pada pada penyelenggaraan penyuluhan pertanian berbasis rekayasa sosial umumnya bersifat laten, sedangkan pada pembelajaran sosial umumnya bersifat di permukaan.Konflik dalam penyelenggaraan penyuluhan berbasis rekayasa sosial cenderung dihindari dan dibiarkan tersembunyi, sedangkan pada pembelajaran sosial konflik yang terjadi dikelola dan dijadikan sebagai pendorong bagi setiap pelaku untuk mandiri.
Pengelolaan Kecemasan dan Ketidakpastian Diri Dalam Berkomunikasi Studi Kasus Mahasiswa Perantau UNISMA Bekasi
Winda Primasari
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v12i1.355
Setiap orang di dalam lingkungan barunya merasa cemas dan tidak menentu yang menekan dari dalam agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang digunakan mahasiswa di wilayah Jabodetabek untuk mengelola kecemasan dan ketidakmenentuan serta untuk mengetahui level penetrasi sosial yang mereka capai. Penelitian ini adalah studi kasus kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam sebagai pengumpulan data primernya. Data kemudian dianalisis dengan metode Constant Comparative Glaser dan Strauss. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap mahasiswa luar Jabodetabek menggunakan strategi interaktif dengan berkomunikasi langsung dengan mahasiswa dari dalam Jabodetabek. Strategi ini dipakai untukmengatasi kecemasan dan ketidakpastian dalam lingkungan baru. Hasilnya juga mengungkapkan bahwa mahasiswa luar Jabodetabek dapat melakukan penetrasi sosial secara efektif.
Komunikasi Dalam Proses Pendidikan Politik Pemilih Pemula Dalam Pemilihan Umum 2014 di DIY
Adi Soeprapto;
Susilastuti DN;
Basuki Agus Suparno
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31315/jik.v12i1.356
Pemilihan umum sering dipersepsikan sebagai sebuah instrumen politik untuk menguji dan menentukan apakah system politik bersifat demokratis atau tidak. Sebagai instrument untuk menjustifikasi kekuasaan, partisipasi politik masyarakat sangat penting..Oleh karena itu, swing voter sebagai pemilih pemula memiliki posisi signifikan di antara partai politik dan calon politik dalam pemilu untuk menarik mereka sehingga mereka mengambil keputusan untuk memberikan suaranya pada partai politik yang mereka mau.Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta untuk bagaimana pemilih pemula memahami pemilihan umum dan bagaimana mereka mengakses dan mengambil sumbersumber informasi politik. Melalui wawancara, FGD dan pelacakan terhadap dokumen-dokumen yang terkait dengan perilaku pemilih pemula.Hasilnya menunjukkan bahwa persoalan politik menurut pemilih pemula tidak dibatasi hanya masalah pemilu;b)mereka tidak cukup memahami tentang politik secara baik; c)media menjadi sarana penting bagi sosialiasi;dan d)televise,surat kabar dan media online merupakan media utama yang digunakan pemilih pemula dalam mendapatkan informasi dan bentuk komunikasi politik.