cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Kehormatan Perempuan dalam Al-Qur’an dan Implementasinya dalam Tradisi Sesan di Lampung Pepadun Marcelino, David; Masykuroh, Siti; Muslimin, Muslimin
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i2.31555

Abstract

This study explores the intersection between Islamic values and local traditions by analyzing the concept of women’s honor in the Qur’an and its implementation in the Sesan tradition of the Lampung Pepadun community in Indonesia. As an essential component of Pepadun marriage customs, Sesan symbolizes both material readiness and social expectations toward women. The purpose of this study is to assess the extent to which the Sesan tradition aligns with or diverges from Islamic teachings on women’s dignity and roles. Employing a qualitative ethnographic approach, the research integrates textual analysis of Qur’anic verses and classical tafsīr with field data collected through observations and interviews in Kiling-Kiling Village, Way Kanan Regency. Informants include customary leaders, women involved in the Sesan ritual, and local religious scholars. The findings reveal a fundamental convergence between Islamic values and the Sesan tradition, particularly in emphasizing respect for women, the seriousness of marriage commitments, and men’s moral responsibilities toward women. However, significant differences emerge in the modes of expression and normative foundations. The Qur’an articulates women’s honor through spiritual principles and universal ethics, while Sesan expresses it through material symbols and localized social structures. The study concludes that while both frameworks aim to uphold women’s dignity, they differ in their modes of manifestation and normative bases. Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi persinggungan antara nilai-nilai Islam dan tradisi lokal dengan menganalisis konsep kehormatan perempuan dalam Al-Qur’an serta implementasinya dalam tradisi Sesan di masyarakat Lampung Pepadun. Sebagai bagian penting dari adat pernikahan, Sesan melambangkan kesiapan materi sekaligus ekspektasi sosial terhadap perempuan. Tujuan penelitian ini adalah menilai sejauh mana tradisi Sesan sejalan atau berbeda dengan ajaran Islam tentang martabat dan peran perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografis yang dipadukan dengan analisis tekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir klasik. Data lapangan diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan tokoh adat, perempuan pelaku tradisi Sesan, serta ulama lokal di Desa Kiling-Kiling, Kabupaten Way Kanan. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan nilai fundamental antara Islam dan tradisi Sesan, terutama dalam penghormatan terhadap perempuan, keseriusan dalam pernikahan, dan tanggung jawab moral laki-laki terhadap perempuan. Namun, terdapat pula perbedaan yang menonjol dalam bentuk ekspresi dan landasan normatifnya. Al-Qur’an menekankan kehormatan perempuan melalui pendekatan spiritual dan nilai-nilai universal, sedangkan Sesan mengekspresikannya melalui simbol-simbol material dan struktur sosial lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Islam dan tradisi Sesan memiliki tujuan yang sama dalam menjaga martabat perempuan, namun berbeda dalam bentuk manifestasi dan fondasi nilai.
Makna Semiotik Cahaya Ilahi dalam QS. An-Nur Ayat 35: Analisis Komparatif atas Tafsir Klasik dan Kontemporer Kibtiyah, Mariyatul; Rahmat, Maulana Bagus; Baihaqi, Yusuf; Badi'ah, Siti; Yamin, Sabanul
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i2.32014

Abstract

The symbol of divine light (nūr ilāhī) in Surah An-Nūr verse 35 contains one of the deepest metaphors in the Qur’an. It describes the human spiritual process of receiving divine guidance and awareness. This study explores how classical and contemporary exegetes interpret the symbol of light and how semiotic analysis reveals its multiple layers of meaning. The research uses a library-based qualitative approach that combines classical tafsir such as Mafātīḥ al-Ghayb, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qurʾān, and Mishkāt al-Anwār with modern interpretations by Sayyid Quṭb, Muhammad Asad, and Seyyed Hossein Nasr. The semiotic theories of Roland Barthes and Charles S. Peirce are applied to analyze how elements such as mishkāt, miṣbāḥ, zujājah, and syajarah mubārakah form a symbolic structure that represents the journey of the human soul from potential faith to full spiritual awareness. The findings show that the symbol of light is not only theological in nature but also serves as an ontological and psychological guide for modern humans who seek meaning in their spiritual life. This study contributes to Qur’anic interpretation by offering an integrative framework that connects classical exegesis, linguistic study, and modern spiritual context. Abstrak: Simbol cahaya ilahi (nūr ilāhī) dalam Surah An-Nūr ayat 35 mengandung salah satu metafora paling mendalam dalam Al-Qur’an. Ayat ini menggambarkan proses spiritual manusia dalam menerima petunjuk dan kesadaran ilahi. Penelitian ini menelaah bagaimana para mufasir klasik dan kontemporer menafsirkan simbol cahaya serta bagaimana analisis semiotik dapat mengungkap lapisan maknanya. Penelitian dilakukan melalui studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang menggabungkan tafsir klasik seperti Mafātīḥ al-Ghayb, Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qurʾān, dan Mishkāt al-Anwār dengan tafsir modern karya Sayyid Quṭb, Muhammad Asad, dan Seyyed Hossein Nasr. Teori semiotika Roland Barthes dan Charles S. Peirce digunakan untuk menganalisis bagaimana unsur seperti mishkāt, miṣbāḥ, zujājah, dan syajarah mubārakah membentuk struktur simbolik yang menggambarkan perjalanan ruhani manusia dari potensi iman menuju pencerahan spiritual yang utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol cahaya tidak hanya memiliki makna teologis tetapi juga berfungsi sebagai panduan ontologis dan psikologis bagi manusia modern dalam mencari makna kehidupan spiritual. Kajian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan tafsir Al-Qur’an dengan menawarkan kerangka yang menghubungkan penafsiran klasik, analisis kebahasaan, dan konteks spiritual masa kini.
Implementasi Tahfiz Alquran Sebagai Media Pengembangan Kognitif dan Karakter Anak Usia Dini Shalliya, Reisya Azzahra; Naldo, Jufri
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i2.32431

Abstract

This study aims to describe the implementation of the tahfidz Al-Qur’an programme as a medium for developing cognitive and character aspects of early childhood at Rumah Qur’an Humairah, Stabat District, Langkat Regency. The research employed a qualitative approach with a case study design, involving one tahfidz teacher, four parents, and four children aged 4–5 years. Data were collected through semi-structured interviews, participatory observations, and documentation, and analysed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal patterns of cognitive and character development emerging through the talaqqi method and gradual repetition adapted to the children’s age and learning styles. Support from teachers and parents played a crucial role in maintaining the children’s motivation and consistency in memorisation. The tahfidz programme contributes to fostering religious behaviour, discipline, and focused memory, although challenges such as limited classroom space and novice teacher capacity remain. This study emphasises that integrating tahfidz into early childhood education can serve as a contextual pedagogical approach to nurture spiritual intelligence and character. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menggambarkan implementasi program tahfidz Al-Qur’an sebagai media pengembangan kognitif dan karakter anak usia dini di TK Rumah Qur’an Humairah, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan satu guru tahfidz, empat orang tua, dan empat anak usia 4–5 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola pengembangan nilai kognitif dan karakter anak yang tumbuh melalui metode talaqqi dan pengulangan hafalan bertahap sesuai usia dan gaya belajar anak. Dukungan guru dan orang tua menjadi faktor kunci dalam menjaga motivasi dan konsistensi hafalan anak. Program tahfidz di lembaga ini berkontribusi dalam membentuk perilaku religius, disiplin, dan daya ingat yang lebih terarah, meskipun masih terdapat kendala seperti keterbatasan ruang dan kapasitas guru pemula. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi tahfidz dalam pendidikan anak usia dini dapat menjadi pendekatan pedagogis kontekstual untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual dan karakter anak. 
Utilization of Al-Qur'an Verses in Mental Therapy at The Islamic Therapy Center (ITC), Banda Aceh Bahri, Samsul; Wahid, Abdul; AB, Zuherni; Humaira, Siti
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.10145

Abstract

The Quran, serving as a guiding principle for Muslims' lives, provides comprehensive rules regarding life in this world and the hereafter. Described as “al-Shifa” or a healing remedy, the Quran plays a crucial role as a cure for all ailments, both physical and spiritual. Mental therapy emerges as a vital aspect in maintaining life balance and addressing mental disorders. This article aims to explore the role of Quranic verses as a method of mental therapy at the Islamic Therapy Center (ITC) in Banda Aceh. The study employs a qualitative method with field research. Data are obtained through observations and in-depth interviews at ITC Banda Aceh. The study reveals that mental therapy at ITC involves Quranic verses as a means of treatment closely tailored to the patients' level of disturbance. Cases ranging from mild to severe disorders are addressed through the recitation of adapted ruqyah verses. The study concludes that Quranic-based mental therapy at ITC Banda Aceh is effective in addressing various mental disorders, leading to physical and mental improvements post-ruqyah therapy. Positive impacts include increased faith, inner peace, and a deeper spiritual understanding. Thus, this approach can be considered an alternative in addressing the mental health of the community.Abstrak: Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat Muslim, memberikan aturan paripurna terkait kehidupan dunia dan akhirat. Al-Qur'an dijelaskan sebagai “al-Syifā” atau obat penawar, memegang peran penting sebagai penyembuh segala penyakit, baik fisik maupun rohani. Terapi mental menjadi aspek penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan mengatasi gangguan jiwa. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ayat-ayat Al-Qur'an sebagai metode terapi mental di Islamic Therapy Center (ITC) Banda Aceh. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi lapangan. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam di ITC Banda Aceh. Kajian ini menunjukkan bahwa terapi mental di ITC melibatkan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai sarana pengobatan dan terkait erat pada tingkat gangguan pasien. Kasus-kasus seperti gangguan ringan, sedang, hingga berat, semuanya ditangani dengan membaca ayat-ayat ruqyah yang disesuaikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa terapi mental berbasis Al-Qur'an di ITC Banda Aceh efektif dalam mengatasi berbagai gangguan jiwa. Pasien mengalami perbaikan fisik dan mental setelah menjalani terapi ruqyah. Dampak positif ini mencakup peningkatan keimanan, ketenangan jiwa, dan pemahaman spiritual yang lebih dalam. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dijadikan alternatif dalam merawat kesehatan mental masyarakat.
Modernisasi Arab Saudi Era Muhammad bin Salman Sarah, Siti; Arifin, Nana Fitriana; Ramona, Elza; Adam, Yusril Fahmi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.19688

Abstract

This research aims to examine the modernization that occurred in Saudi Arabia under the leadership of Muhammad bin Salman. The modernization of Saudi Arabia in the era of Muhammad bin Salman became important for Muhammad bin Salman's political attitude, which tended to be open to foreign cultures and move away from Wahhabism values that had been ingrained in Saudi Arabian culture. To support the analysis in the research, this article uses a historical approach and modernization theory. Through this approach and theory, this research is not only narrative-descriptive but more analytical-descriptive. The findings in this research are that the Wahhabism doctrine that developed in Saudi Arabia had a major impact not only on socio-religious aspects but also on political aspects. Through the Saudi royal authorities and Wahhabi clerics, everything that is not in accordance with the values of Wahhabism will be considered wrong and outside the pure teachings of Islam. This condition lasted until the end of King Salman's time and changed during the time of Muhammad bin Salman due to the modernity implemented in the Arab Vision 2030.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji modernisasi yang terjadi di Arab Saudi di bawah kepemimpinan Muhammad bin Salman. Modernisasi Arab Saudi di era Muhammad bin Salman menjadi penting sikap politik dari Muhammad bin Salman yang cenderung kepada keterbukaan terhadap kebudayaan luar dan keluar dari nilai-nilai Wahhabisme yang selama ini telah mengakar dalam budaya Arab Saudi. Untuk mendukung analisis dalam penelitian, artikel ini menggunakan pendekatan sejarah dan teori modernisasi. Melalui pendekatan dan teori tersebut, penelitian ini tidak hanya bersifat naratif-deskriptif, melainkan lebih kepada analitis-deskriptif. Temuan dalam penelitian ini adalah, bahwa doktrin Wahhabisme yang berkembang di Arab Saudi memberikan dampak besar tidak hanya bagi sosial-keagamaan, melainkan juga aspek politik. Melalui otoritas kerajaan Saudi dan ulama Wahhabi, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Wahhabisme akan dianggap salah dan keluar dari ajaran Islam yang murni. Kondisi tersebut berlangsung hingga berakhirnya masa Raja Salman dan berubah pada masa Muhammad bin Salman akibat modernitas yang diimplementasikan dalam Visi Arab 2030.
Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr Perspektif Filsafat Lingkungan dan Kontribusinya pada Pengembangan Kajian Ekologis Masykur, Zein Muchamad; Ni'am, Syamsun; Naim, Ngainun
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20121

Abstract

Tulisan ini mencoba menggali konsep ilmu yang dibayangkan oleh Nasr dan mencoba mengkaji ide-ide dasar struktur keilmuan Nasr yang kemudian sering disebut dengan istilah Scientia Sacra, serta menyoroti sisi ontologis, epistemologis dan aksiologisnya. Hal itu kemudian dikaitkan dengan perkembangan filsafat lingkungan sehingga mendapat aksentuasi kontributif dari pemikiran Nasr tentang filsafat lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis pustaka yang menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik analitis dengan pendekatan filosofis kritis. Pengumpulan data diperoleh melalui dua jenis data, yakni data primer dan data sekunder yang ditentukan oleh tingkat relevansinya dengan subjek penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah Nasr tidak serta-merta menyalahkan paradigma antroposentris, melainkan ia menunjukkan ‘lubang’ dalam kapal sains modern terhadap paradigma antroposentrisme, yakni pada aspek-aspek tersembunyi dari ilmu pengetahuan yang selama ini dilupakan oleh manusia modern; aspek sakralitas dan spiritualitas. Melalui pemikirannya tentang Scientia Sacra, Nasr memberikan kontribusi terhadap tiga fase paradigma filsafat lingkungan pada nilai onto-teleologis yang baru. Bukan hanya menunjukkan lubang, akan tetapi juga memberikan petunjuk arah demi tujuan baru bagi kajian filsafat lingkungan.Abstract: This article aims to explore the concept of science imagined by Nasr and examine the basic ideas of Nasr's scientific structure, which is often referred to as Scientia Sacra, as well as highlight its ontological, epistemological, and axiological sides. This was then linked to the development of environmental philosophy, so it received a contributory accent from Nasr's thoughts on environmental philosophy. This research is literature-based qualitative research that uses descriptive-qualitative methods. Data analysis techniques are carried out using analytical techniques with a critical philosophical approach. Data collection was obtained through two types of data, namely primary data and secondary data, which were determined by the level of relevance to the research subject. The conclusion of this research is that Nasr does not necessarily blame the anthropocentric paradigm, but rather he shows 'holes' in the ship of modern science regarding the anthropocentrism paradigm, namely the hidden aspects of science that have been forgotten by modern humans: aspects of sacredness and spirituality. Through his thoughts on Scientia Sacra, Nasr contributed to the three phases of the environmental philosophy paradigm on new onto-teleological values. Not only does it show holes, but it also provides directions for new goals for the study of environmental philosophy.
Identifikasi Ummatan Wasathan dalam Tafsir Era Klasik dan Tafsir Indonesia Al Alafiy, Muhammad Shiddiq
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20212

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang tafsir al-Qur’an terhadap frasa ummatan wasathan yang termaktub dalam surah al-Baqarah ayat 143 berdasarkan karya tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Tafsir era klasik yang dimaksud di sini yaitu tafsir al-Thabari dan al-Razi, sedangkan tafsir Indonesia mengambil karya Hamka dan M. Quraish Shihab. Tujuannya adalah mengidentifikasi makna ummatan wasathan kaitannya dengan moderasi Islam dalam konteks keindonesiaan. Guna mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan riset pustaka berbasis komparasi yang menyorot tiga persoalan: Pertama, bagaimana interpretasi ummatan wasathan dalam tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Kedua, komparasi antara keduanya. Ketiga, identifikasi ummatan wasathan berdasarkan komparasi tersebut. Hasilnya, konsistensi penafsiran tentang ummatan wasathan antara tafsir era klasik dan tafsir Indonesia berada pada posisi yang tidak jauh berbeda, hanya pada ranah kontekstualisasi masing-masing mempunyai kecenderungannya sendiri. Selaras dengan itu, ummatan wasathan dapat diidentifikasi sebagai umat yang moderat serta adil sehingga menjadi teladan bagi seluruh manusia dan istiqamah mengikuti jejak Nabi Saw.Abstract: This article aims to discuss the Qur'anic interpretation of the phrase ummatan wasathan contained in Surah al-Baqarah verse 143, based on the works of classical-era commentaries and Indonesian commentaries. The classical era interpretations referred to here are tafsir al-Thabari and al-Razi, while Indonesian interpretations take the works of Hamka and M. Quraish Shihab. The aim is to identify the meaning of ummatan wasathan in relation to Islamic moderation in the Indonesian context. To achieve this goal, this article uses comparative-based library research that highlights three issues: First, how is the interpretation of Ummatan Wasathan in classical era tafsir and Indonesian tafsir? Second, the comparison between the two Third, the identification of Ummatan Wasathan based on the comparison As a result, the consistency of interpretation of ummatan wasathan between classical era tafsir and Indonesian tafsir is in a position that is not much different; only in the realm of contextualization, each has its own tendency. In line with that, ummatan wasathan can be identified as a moderate and fair ummah so that it becomes an example for all humans and istikamah following the footsteps of the Prophet.
Analysis and Evaluation of Ghazali's Critiques in Tahafut Al-Falasafah to Ibn Sina in The Context of Theology Syukur, Muhammad; Rezapour, Mohammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20381

Abstract

The theological and philosophical understanding of issues related to the divine has always been a complex and contentious debate. Ghazali's work, Tahafut Al-Falasafeh, faces significant challenges in these issues, isolating and excommunicating philosophers on three specific points and accusing them of heresy and innovation in seventeen other areas. However, criticisms of Ghazali by Ibn Rushd in Tahafut Al-Tahaft, coupled with fundamental differences between the philosophies of Ibn Sina and Ibn Rushd, necessitate an exploration and analysis of Ibn Sina's perspective to dispel pessimism within the Islamic community regarding his philosophy. This study employs a literature review methodology with a descriptive, analytical, and critical approach. The research focuses on theological issues such as the proof of God's existence, the creation of the universe, the eternity of the world, and the science of God in Ibn Sina's works. Through a detailed analysis of Ibn Sina's viewpoints, it becomes evident that Ghazali's theological anxieties might stem from misinterpretations of the core tenets of Ibn Sina's philosophy.Abstrak: Pemahaman teologis dan filosofis mengenai isu-isu ketuhanan selalu menjadi perdebatan kompleks. Kitab Tahaft Al-Falasafeh karya Ghazali menghadapi tantangan signifikan dalam isu-isu ini, mengucilkan dan mengkafirkan para filosof dalam tiga isu serta menuduh mereka sesat dan bid’ah dalam tujuh belas isu lainnya. Namun, kritik terhadap Ghazali oleh Ibnu Rusyd dalam Tahaft Al-Tahaft dan perbedaan mendasar antara filsafat Ibnu Sina dan filsafat Ibnu Rusyd menimbulkan kebutuhan untuk menjelaskan dan menganalisis pandangan Ibnu Sina, agar masyarakat Islam tidak merasa pesimis terhadap filsafatnya. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif, analitis, dan kritis. Fokus penelitian ini adalah pada isu-isu teologis seperti pembuktian keberadaan Tuhan, penciptaan alam semesta, keabadian alam, dan ilmu Tuhan dalam karya Ibnu Sina. Dalam analisis mendalam pandangan Ibnu Sina, tampak bahwa kegelisahan teologis Ghazali mungkin disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap esensi filsafat Ibnu Sina.
Pendekatan Syarah Ibn al-‘Attar dalam Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam: Analisis Sosio-Historis Chovifah, Anisatul; Muhid, Muhid; Nurita, Andris; Verawati, Sellyana; Hasbulloh, Moh
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.21224

Abstract

This study examines the sharh methodology employed by Ibn al-‘Attar in his work Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam. Using a qualitative method and a library research approach, this research focuses on the socio-historical analysis of Ibn al-‘Attar's intellectual background and the influence of the Shafi’i school on his works. The findings indicate that Ibn al-‘Attar applied the tahlili (analytical) method in his sharh, aimed at facilitating readers, particularly beginners, in understanding legal hadiths. Social factors, especially the Shafi’i culture in Damascus, along with the significant influence of his teacher, Imam Nawawi, greatly shaped Ibn al-‘Attar's approach. The book demonstrates a clear system, providing detailed explanations based on the companions' narrations and their associated rulings. This study contributes significantly to understanding the role of sharh in the development of hadith studies and the influence of the Shafi’i school on hadith interpretation within Islamic scholarly traditions.Abstrak: Kajian ini membahas metodologi syarah yang digunakan oleh Ibn al-‘Attar dalam karyanya Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan kepustakaan, penelitian ini berfokus pada analisis sosio-historis yang melatarbelakangi pemikiran Ibn al-‘Attar serta pengaruh mazhab Syafi’i terhadap karya-karyanya. Temuan menunjukkan bahwa Ibn al-‘Attar menerapkan metode tahlili (analisis) dalam syarahnya, yang ditujukan untuk memudahkan pembaca, terutama pelajar pemula, dalam memahami hadis-hadis hukum. Faktor sosial, terutama budaya Syafi’i di Damaskus, serta pengaruh besar dari gurunya, Imam Nawawi, sangat memengaruhi pendekatan Ibn al-‘Attar. Kitab ini juga menunjukkan sistematika yang jelas, dengan penjelasan yang rinci dan berbasis pada riwayat sahabat serta hukum-hukumnya. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran syarah dalam perkembangan ilmu hadis dan pengaruh mazhab Syafi’i terhadap interpretasi hadis dalam tradisi keilmuan Islam.
Spiritualitas dan Kewirausahaan: Eksplorasi Peran Praktik Tasawuf dalam Kesuksesan Usaha Priyanto, Aris; Mahdafi, M. Reza; Saputri, Mita Mahda
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.21897

Abstract

This article explores the impact of Tasawuf (Islamic mysticism) practices on entrepreneurial success, focusing specifically on jeans entrepreneurs in Wonopringgo, Pekalongan District. This study adopts a qualitative approach with a Tasawuf Akhlaki framework to understand how spiritual values influence business behaviors. The subjects of the research include three entrepreneurs, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Descriptive analysis reveals that the continuity of worship practices, particularly prayer, significantly contributes to developing entrepreneurs who are resilient and have integrity. The findings affirm that entrepreneurs who are consistent in their worship practices tend to experience better business stability and growth. This study confirms that integrating Tasawuf in entrepreneurship not only enriches the personal dimensions of entrepreneurs but also yields a competitive advantage. These conclusions suggest the importance of considering spiritual factors in modern business development strategies.Abstrak: engan fokus khusus pada pengusaha celana jeans di Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka tasawuf akhlaki untuk memahami bagaimana nilai-nilai spiritual mempengaruhi perilaku bisnis. Subjek penelitian meliputi tiga pengusaha, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa keberlanjutan praktik ibadah, khususnya shalat, secara signifikan berkontribusi pada pembentukan karakter pengusaha yang resilien dan berintegritas. Hasil ini menegaskan bahwa pengusaha yang konsisten dalam praktik ibadahnya cenderung mengalami stabilitas dan pertumbuhan bisnis yang lebih baik. Studi ini mengkonfirmasi bahwa integrasi tasawuf dalam kewirausahaan tidak hanya memperkaya dimensi pribadi pengusaha tetapi juga menghasilkan keuntungan kompetitif. Kesimpulan ini menyarankan pentingnya mempertimbangkan faktor spiritual dalam strategi pengembangan bisnis modern.