cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ternak Tropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 25031007     EISSN : 25031007     DOI : -
Core Subject :
TERNAK TROPIKA, Journal of Tropical Animal Production (JTAP) provides for rapid publication of full-length papers, short communication and review articles describing of new finding or theory in Animal Production area. TERNAK TROPIKA has 1 volume with 2 issues per year. TERNAK TROPIKA is published by Department of Animal Priduction, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University Indonesia in collaboration with Indonesian Society of Animal Science (ISPI
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
Peran Protozoa pada Pencernaan Ruminansia dan Dampak Terhadap Lingkungan Yanuartono Yanuartono; Alfarisa Nururrozi; Soedarmanto Indarjulianto; Hary Purnamaningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.01.3

Abstract

Rumen adalah ekosistem yang sangat kompleks serta mengandung berbagai jenis mikroba. Kinerja ruminansia tergantung pada aktivitas mikroorganisme mereka untuk memanfaatkan asupan pakan. Namun demikian, aktivitas mikroba rumen juga merupakan sumber utama pembentukan gas metan dari bidang pertanian yang mengakibatkan efek rumah kaca. Protozoa rumen dengan penampilan yang cukup mencolok dianggap memiliki peran penting pada ruminansia sebagai hospes. Namun, terlepas dari kenyataan bahwa protozoa dapat menyumbang hingga 50% biomassa di rumen, peran protozoa sebagai salah satu mikroba dalam ekosistem rumen masih belum jelas. Meskipun peran protozoa masih belum jelas, namun protozoa dalam rumen terbukti memiliki hubungan dengan methanogen dan telah terbukti bahwa protozoa secara tidak langsung terlibat dalam produksi gas metan. Methanogen adalah satu-satunya mikroorganisme yang diketahui mampu memproduksi metan. Karena protozoa adalah penghasil hidrogen besar, yang digunakan sebagai substrat oleh simbion metanogennya untuk mengurangi karbon dioksida menjadi metana, dengan demikian dapat diasumsikan bahwa defaunasi mengurangi metanogenesis dengan jalan menurunkan kepadatan methanogen. Tulisan ini  mencoba untuk mengevaluasi informasi terkini tentang peran protozoa di ekosistem mikroba rumen dan dampaknya terhadap lingkungan.
Implementasi Sistem “Kereman” dan Pertanian Terpadu pada Penggemukan Sapi Potong di Dua Kelompok Ternak di Kabupaten Sokaraja Ayu Septi Anggraeni; Lusty Istiqomah; Ema Damayanti
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.02.2

Abstract

Sistem Kereman dan pertanian terpadu diaplikasikan di dua kelompok ternak yaitu peternakan Berkah dan Peternakan Pondok Pesantren Roudlotul Huda untuk meningkatkan manajemen penggemukan dan meningkatkan produktivitas ternak. Implementasi Sistem Pertanian Terpadu dimulai dengan konstruksi perbaikan kandang, implementasi alih teknologi dalam manajemen penggemukan dan teknologi pakan meliputi: proses produksi silase dan amoniasi jerami padi sebagai alternatif hijauan pakan bagi ternak dengan menggunakan limbah pertanian; suplementasi dedak padi terfermentasi sebagai aditif pakan untuk meningkatkan citarasa pakan serta pengolahan limbah kotoran menjadi pupuk organik, dan sistem irigasi tetes pada pertanian. Transfer teknologi dilakukan dengan memberikan bimbingan teknis bagi Petani. Konsep keberlanjutan adalah elemen penting dalam pengembangan sistem pertanian terpadu karena dengan produk (output) dari satu sistem menjadi input untuk sistem lain. Manajemen yang berbeda di kedua UKM terutama dalam manajemen pemberian pakan menghasilkan perbedaan bobot badan pada sapi potong. Dampak dari kegiatan ini di dua UKM adalah efisiensi produksi yang lebih tinggi yang direfleksikan pada nilai pertambahan bobot badan harian (PBBH) yang dicapai dalam periode lebih cepat dari sebelumnya. Manajemen pakan, pengalaman dalam penggemukan sapi potong akan berpengaruh pada produktivitas ternak. Hal ini ditunjukkan pada kenaikan PBBH yang lebih tinggi di UKM yang menerapkan manajemen pakan yang lebih baik.  
Persentase Karkas, Bagian Karkas dan Lemak Abdominal Broiler dengan Suplementasi Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) di Dalam Ransum Pajri Anwar; Jiyanto Jiyanto; Melia Afnida Santi
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.02.10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat persentase karkas, potongan komersial karkas dan lemak abdominal broiler dengan suplementasi andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) di dalam ransum. Penelitian menggunakan 80 ekor DOC broiler strain CP 707 produksi Chareon Pokhpan Indonesia. Ransum perlakuan diberikan umur 3 hari (bobot rata-rata 71.63±3.12 g/ekor) dipelihara sampai umur 30 hari. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan dengan 5 ekor broiler setiap ulangan. Ransum perlakuan yang diberikan adalah: P1= ransum kontrol + 0% andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.); P2= ransum kontrol + 0.25% andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.); P3= ransum kontrol + 0.50% andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.); P4= ransum kontrol + 0.75% andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.). Peubah yang diamati adalah persentase karkas, persentase potongan karkas dan persentase lemak abdominal broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi andaliman di dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap persentase karkas dan potongan komersial karkas. Suplementasi andaliman sampai 0.75% menghasilkan persentase karkas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ransum kontrol. Persentase karkas yang dihasilkan pada penelitian adalah 57.83±3.72% sampai 60.03±1.77%. Namun suplementasi andaliman dalam ransum berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap persentase lemak abdominal. Persentase lemak abdominal penelitan adalah 0.46±0.06% sampai 0.83±0.06%. Kesimpulan hasil penelitian adalah suplementasi andaliman dalam ransum sampai 0.75% menghasilkan persentase karkas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan meningkatkan persentase lemak abdominal broiler.
Analisis Profil Protein Darah Induk Kambing Peranakan Etawah Bunting Tua Dengan Perlakuan Steaming Up Rachmad Dharmawan; Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilorini
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.01.6

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek steaming up selama kebuntingan tua terhadap profil protein darah induk kambing Peranakan Etawah. 12 ekor induk kambing dipilih berdasarkan periode laktasi kedua dan ketiga. Perlakuan pertama sebagai kontrol (P0), perlakuan kedua dan ketiga adalah steaming up menggunakan Gliricidia sepium 0,4% BK (P1) dan 0,8% BK (P2). Seluruh perlakuan diberikan pakan basal konsentrat 0,9% BK dan Pennisetum purpureum secara ad-libitum. Data dianalisis menggunakan Anova dengan Rancangan Acak Kelompok. Data profil protein darah induk kambing PE bunting tua dianalisis secara deskriptif eksploratif. Perlakuan Steaming up memberikan perbedaan yang nyata pada konsumsi BK, BO, dan PK (P<0,05). Praperlakuan steaming up menghasilkan 18 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa. Pasca perlakuan P0 menghasilkan 18 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa, P1 menghasilkan 19 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa. P2 menghasilkan 22 pita protein dengan berat molekul 15-158 kDa. Kesimpulan dari penelitian yaitu steaming up Gliricidia sepium sebesar 0,8% menghasilkan 22 pita protein dengan berat molekul yang berbeda. Banyaknya pita yang muncul dikaitkan dengan keberhasilan perlakuan steaming up pada kebuntingan tua.
Penaksiran Heritabilitas Karakteristik Produksi dan Reproduksi Sapi Perah Friesen Holstein di BBPTU-HPT Baturraden Endah Krisnamurti; Dattadewi Purwanti; Dadang Mulyadi Saleh
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.01.2

Abstract

Penelitian tentang evaluasi potensi genetik sapi Friesian Holstein (FH) telah dilaksanakan di BBPTU-HPT Baturraden Purwokerto. Penelitian ini dimulai pada bulan September sampai Desember 2018. Materi yang digunakan dalam penelitian ini sapi FH dan keturunannya F1 sebanyak 140 ekor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data recording mulai tahun 2010 sampai 2018. Variabel yang diamati adalah produksi susu, umur beranak pertama, kawin pertama setelah bernak, masa kosong, lama kebuntingan dan jarak beranak.  Komponen ragam untuk menduga nilai heritabilitas sifat produksi dan reproduksi dengan menggunakan metode Regresi Anak – Tetua. Hasil penelitian menunjukkan rataan produksi susu sapi FH di BBPTU-HPT Baturraden sebesar 4.733,02±1.181,18 kg/laktasi atau  15,52±3,87 l/hari. Rataan sifat reproduksi (umur beranak pertama, kawin pertama setelah beranak, masa kosong, lama kebuntingan dan jarak beranak) masing-masing sebesar 772,19±77,51 hari; 130,03±70,72 hari; 201,87±104,67 hari; 278,05±14,75 hari dan 505,85±120,06 hari. Berdasarkan perhitungan secara umum nilai heritabilitas yang dihasilkan tergolong rendah sampai tinggi. Nilai heritabilitas produksi susu, umur beranak pertama, kawin pertama setelah beranak, masa kosong, lama kebuntingan dan jarak beranak masing-masing sebesar 0,43±0,19; 0,15±0,32; 0,10±0,34; 0,03±0,28; 0,17±0,30 dan 0,09±0,28.
Nilai Koefisien Cerna Protein Kasar dan Total Digestible Nutrien (TDN) Kambing Bligon Betina yang Mendapat Suplemen Mengandung Protein Tidak Terdegradasi Ahmad Iskandar Setiyawan; Awistaros Angger Sakti; Ria Suryani
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.02.4

Abstract

Pemanfaatan protein ransum oleh ternak ruminansia untuk meningkatkan produksi tidak dapat optima dengan adanya mikrobia rumen. Keadaan ini menyebabkan menurunnya nilai hayati protein pakan. Untuk itu, perlu dilakukan perlindungan protein pakan. Salah satu yang dilakukan dengan penambahan bahan kimia misalnya formaldehida. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui nilai konsumsi, koefisien cerna dan nutrien tercerna protein kasar serta TDN kambing bligon betina yang mendapat suplemen mengandung protein tidak terdegradasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dibagi menjadi 5 kelompok yaitu P1 (Pennisetum purpureum + Gliricidia maculata); P2 (Pennisetum purpureum+suplemen protein); P3 (Pennisetum purpureum+suplemen protein terproteksi 15%); P4 (Pennisetum purpureum+suplemen protein terproteksi 30%); P5 (Pennisetum purpureum+suplemen protein terproteksi 45%). Hasil dari penelitian didapat tidak terdapat perbedaan yang nyata nilai konsumsi, koefisien cerna dan nutrien tercerna protein kasar antar perlakuan. Perbedaan yang nyata (p<0.05) pada nilai koefisen cerna TDN dari yang tertinggi yaitu P 3 : 78,5±2,7%; P 2 : 78,3±2,3%; P 4 : 78,1±2,3%; P 5 : 74,8±2,2%; dan P 1 : 68,7±3,5%. Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan penggunaan suplemen yang mengandung protein tidak terdegradasi hingga 45% dalam ransum formulasi tidak berpengaruh terhadap nilai konsumsi, koefisien cerna, dan nutrien tercerna protein kasar. Namun dapat meningkatkan nilai koefisien cerna TDN 78,5% untuk pemberian 15% dalam ransum dan pertambahan bobot badan sebesar 61,3±10,2 gram/hari untuk pemberian 45% dalam ransum. 
Peningkatan Conception Rate dengan Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Sexing Double Dosis pada Sapi Persilangan Ongole Aulia Puspita Anugra Yekti; Erin Ayu Octaviani; Kuswati Kuswati; Trinil Susilawati
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.02.6

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan conception rate melalui insmeinasi buatan dengan menggunakan semen sexing double dosis pada sapi persilangan ongole. Dalam penelitian ini 96 ekor sapi induk persilangan ongole yang terdiri atas 64 ekor sapi yang diinseminasi dengan semen beku dan 32 ekor sapi yang diinseminasi dengan semen sexing beku double dosis. Sapi yang digunakan dipilih secara acak dengan berdasarkan beberapa kriteria yaitu bebas dari gangguan reproduksi dan menunjukkan tanda-tanda estrus yang jelas. Tempat deposisi semen adalah 4+ atau cornua utery untuk meningkatkan peluang keberhasilan kebuntingan. Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan yaitu inseminasi dengan semen beku non sexing (P1) dan semen sexing beku (P2). Parameter yang diamati adalah Non Return Rate (NRR), Service per Conception (S / C) dan Conception Rate (CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa NRR 1 dan NRR2 pada P1 adalah 90,63% dan 79,69%, sedangkan pada P2 masing-masing adalah 81,25% dan 78,12%. Nilai S / C pada P1 adalah 1,09 sedangkan pada P2 adalah 1,19. Sedangkan, nilai CR pada P1 dan P2 masing-masing adalah 43,75% dan 68,75. Dapat disimpulkan bahwa IB dengan semen sexing double dosis dapat meningkatkan nilai conception rate pada Sapi Persilangan Ongole.
Analisis Hubungan Bobot Badan Terhadap Produksi Semen Segar Sapi Bali di Balai Besar Inseminasi Buatan-Singosari Chairdin Dwi Nugraha; Enniek Herwijanti; Irida Novianti; Ahmad Furqon; Wike Andre Septian; Woro Busono; Suyadi Suyadi
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.01.9

Abstract

Sapi asli indonesia dengan populasi terbesar dibandingkan sapi lokal lainnya yaitu sapi Bali. Pengembangan sapi Bali secara berkelanjutan dengan cara meningkatkan kualitas genetik melalui aspek reproduksi dalam pemilihan pejantan unggul. Bobot badan adalah salah satu kriteria dalam memilih pejantan unggul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan bobot badan dengan kualitas semen. Materi yang digunakan yaitu data sekunder mulai tahun 2012-2018 dari 50 ekor pejantan sapi Bali meliputi data kualitas semen sebanyak (n=1204) ejakulasi di Balai Besar Inseminasi Buatan, Singosari, Jawa Timur, Indonesia. Metode penelitian adalah studi kasus. Variabel yang diamati yaitu bobot badan, volume semen, motilitas individu dan konsentrasi semen. Data dianalisa dengan menggunakan SPSS 24 dengan metode One-Way ANOVA. Uji korelasi menggunakan korelasi Pearson (r) dan analisis statistik model regresi linier untuk menduga kualitas semen berdasarkan bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan sapi Bali mempengaruhi secara signifikan (p<0,05) terhadap kualitas semen. Semakin tinggi bobot badan maka nilai volume dan motilitas meningkat kecuali konsentrasi semen yang sangat fluktuatif. Bobot badan berkorelasi secara signifikan (p<0,05) dengan volume (r=0,317) dan motilitas individu (r=0,229), tetapi tidak signifikan (p>0,05) terhadap konsentrasi semen (r=0,046). Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan sapi dengan bobot badan tinggi memiliki nilai kualitas semen yang lebih baik.
Inventarisasi Pemanfaatan Daun Tanaman Sebagai Sumber Protein dalam Pakan Kambing Peranakan Etawa (Studi Kasus di Dusun Prodosumbul, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang) Eko Marhaeniyanto; Sri Susanti; Bambang Siswanto; Ariani Trisna Murti
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.01.8

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Dusun Prodosumbul, Desa Klampok, Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Tujuan penelitian adalah untuk menginventarisasi jenis pakan, konsumsi pakan dan produktivitas kambing PE ditingkat peternak. Penelitian ini melibatkan peternak kambing PE sebagai responden sebanyak 91 orang, berdasarkan kriteria jumlah kepemilikan ternak kambing >3 ekor, pengalaman beternak > 5 tahun. Pemilihan responden melibatkan peran kelompok tani yaitu Gapoktan Arjuna Sejahtera. Metode penelitian adalah studi kasus. Pengamatan in vivo dilakukan pada 20 ekor kambing PE jantan muda dengan rataan bobot awal 16,71±1,76 kg. Data dianalisis melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, tabulasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil inventarisasi didapatkan 27 jenis hijauan pakan ternak kambing, terdiri dari 22 macam daun tanaman dan 5 macam hijauan rumput (81,48% daun tanaman : 18,52% hijauan rumput). Pakan hijauan yang sering diberikan pada ternak kambing adalah rumput lapang, pucuk tebu, daun sengon, daun pahitan dan rumput gajah (responden pengguna >40%). Rataan konsumsi hijauan pakan 7,06 kg/ekor/hari dengan konsumsi bahan kering 526,07±88,15 g/ekor/hari, konsumsi bahan organik 511,89±80,32 g/ekor/hari, konsumsi protein kasar 61,58±16,21 g/ekor/hari, konsumsi serat kasar 101,18±29,68 g/ekor/hari dan konsumsi lemak kasar 17,50±13,75 g/ekor/hari.  Pertambahan bobot badan harian 65,9±11,7 g/ekor/hari, konversi pakan 7,53±2,85. Terdapat 13 jenis daun tanaman yang memiliki kandungan protein kasar (PK) lebih dari 18% yaitu Paracerianthes falcataria, Calliandra calothyrsus, Lecaena leucocephala, Artrocarpus heterophyllus Lamk, Calliandra haemochephala, Gliricidia sepium, Colocasia esculenta, Eritrina lithosperma, Sauropus adrogynus, Agratum conyzoides, Ceiba petandra, Manihot utilissima, Centrosema pubescens merupakan pakan potensial sebagai sumber protein untuk pakan ternak kambing PE.
Performans Reproduksi Sapi Bali Berbasis Agroekosistem Di Pulau Timor Fellyanus Habaora; Asnath Maria Fuah; Luki Abdullah; Rudy Priyanto; Ahmad Yani; Bagus Priyo Purwanto
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2019.020.02.7

Abstract

Penelitian berlokasi di Pulau Timor yang dilaksanakan bulan Januari-Desember 2018. Lokasi penelitian dipilih purposive untuk agroekosistem pasture, pertanian, perkebunan, dan hutan. Penentuan responden 5-10% jumlah peternak masing-masing agroekosistem yang memiliki sapi Bali >10 ekor. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan umur berahi dan umur kawin pertama sapi Bali betina agroekosistem pasture 1,3 tahun dan 1,9 tahun; agroekosistem perkebunan 1,3 tahun dan 2 tahun; agroekosistem pertanian 1,4 tahun dan 1,7 tahun; dan agroekosistem hutan adalah 1,4 tahun dan 1,8 tahun. Kemudian umur sapi beranak pertama sapi betina di agroekosistem pertanian 2,8 tahun; agroekosistem pasture dan hutan 2,9 tahun; dan agroekosistem perkebunan 3 tahun. Siklus berahi dan lama berahi sapi betina di agroekosistem pasture 27 hari dan 21,5 jam; agroekosistem hutan 25 hari dan 26,8 jam; agroekosistem pertanian 24 hari dan 28 jam; dan agroekosistem perkebunan 24 hari dan 25,8 jam. Service per conception Sapi di agroekosistem perkebunan 2,2 kali; agroekosistem hutan 2,3 kali; agroekosistem pasture 2,4 kali; dan agroekosistem pertanian 2,6 kali. Periode kebuntingan sapi di agroekosistem perkebunan 9,5 bulan; agroekosistem pertanian 9,4 bulan; agroekosistem pasture 9,3 bulan; dan agroekosistem hutan 9,2 bulan. Calf crop ternak sapi di agroekosistem pasture 62,77%; agroekosistem hutan 54,74%; agroekosistem pertanian 51,41%; dan agroekosistem perkebunan 32,74%. Days open sapi di agroekosistem perkebunan 1,1 tahun; agroekosistem hutan 1 tahun; agroekosistem pertanian 9 bulan; dan agroekosistem pasture 8 bulan. Conception rate sapi di agroekosistem hutan 56%; agroekosistem pertanian 53,4%; agroekosistem pasture 50,3%; dan agroekosistem perkebunan 33,7%. Calving interval sapi di agroekosistem perkebunan 2,8 tahun; agroekosistem pertanian 2,7 tahun; agroekosistem pasture 2,5 tahun; dan agroekosistem hutan 2,4 tahun. Laju peningkatan populasi ternak per tahun di agroekosistem hutan, yaitu 11,19%; agroekosistem pasture 11,06%; agroekosistem pertanian 8,60%; dan agroekosistem perkebunan 7,44%.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 2 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 2 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 1 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 2 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 1 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 2 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 1 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 2 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 1 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 2 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 2 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 1 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 16, No 1 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 2 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 1 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 14, No 2 (2013): Ternak Tropika Vol 14, No 1 (2013): Ternak Tropika Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 11, No 2 (2010): Ternak Tropika Vol 11, No 1 (2010): Ternak Tropika Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika Vol 7, No 2 (2007): Ternak Tropika Vol 6, No 2 (2007): Ternak Tropika More Issue