cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Pengaruh ekstrak biji pepaya (Carica papaya Linn) terhadap tingkat inflamasi gingivitis (studi in vivo pada Rattus norvegicus) Suryono Suryono; Muhammad Reza Pahlevi; Nisaul Afifah; Prayitno Prayitno
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.83698

Abstract

Gingivitis adalah peradangan gingiva yang disebabkan oleh akumulasi plak subgingiva. Plak akan meningkatkan aktivitas sel fagosit dan mediator inflamasi. Infiltrasi sel inflamasi terutama neutrofil polimorfonuklear akan menyebabkan inflamasi yang dapat diamati secara klinis. Indeks gingiva menunjukkan derajat inflamasi pada gingivitis. Penurunan indeks gingiva dapat disimpulkan sebagai penyembuhan peradangan. Pengobatan gingivitis adalah scaling, root planning, dan terapi obat anti inflamasi non steroid (NSAID). Terapi menggunakan NSAID merupakan upaya untuk memodulasi respon host pada inflamasi. Biji pepaya dapat digunakan untuk memodulasi respon inang karena mengandung flavonoid, saponin, dan polifenol yang memiliki efek antiinflamasi, antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak biji pepaya terhadap derajat inflamasi pada gingivitis tikus wistar. Tiga puluh ekor tikus wistar dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan tiga kelompok ekstrak biji pepaya dengan konsentrasi 0,2%, 2% dan 20%. Gingivitis diinduksi dengan menempatkan ligatur sutera retentif plak pada gigi seri mandibula dan Aggregatibacter actinomycetemcomitans inokulasi sulkus gingiva. Ekstrak diterapkan dua kali sehari. Tikus didekapitasi pada hari kedua dan kelima kemudian dibuat preparat histologi fragmen gingiva. Perbedaan yang signifikan diamati pada indeks gingiva antara kelompok perlakuan dan kontrol negatif. Penelitian ini juga menemukan penurunan indeks gingiva setelah perawatan dengan ekstrak biji pepaya. Kemudian disimpulkan bahwa ekstrak biji pepaya dapat menghambat inflamasi dan menurunkan derajat inflamasi pada gingivitis tikus wistar.
Faktor dalam swamedikasi antibiotika untuk penanganan penyakit periodontal oleh masyarakat di Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta Mayu Winnie Rachmawati; Dhienda Hastinesya; Aryan Morita; Nunuk Purwanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.83747

Abstract

Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit ronggal mulut dengan prevalensi yang relatif tinggi di Indonesia yaitu 60%. Salah satu hal yang dilakukan untuk mengatasi penyakit tersebut di masyarakat adalah swamedikasi antibiotika. Swamedikasi didefinisikan sebagai upaya pengobatan menggunakan obat-obatan yang dibeli baik di apotek maupun toko obat tanpa konsultasi dan resep dokter. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi faktor swamedikasi antibiotika pada pengobatan penyakit periodontal oleh masyarakat di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional deskriptif dengan menggunakan purposive sampling. Jumlah responden sebanyak 195 orang yang memiliki pengalaman menderita penyakit periodontal dan melakukan swamedikasi antibiotika. Datadiperoleh melalui kuesioner yang didistribusikan secara online.Hasil menunjukan bahwa perempuan memiliki kecenderungan melakukan swamedikasi lebih tinggi (44,6%) dibandingkan laki-laki. Sementara kelompok usia 17-25 tahun (52,8%) dengan pendidikan terakhir SMA (69,2%) lebih banyak melakukan swamedikasi. Ditinjau dari pekerjaan dan pendapatan, kelompok pelajar (53,8%) dan kelompok dengan pendapatan lebih dari 2 juta per bulan (20,5%) banyak melakukan swamedikasi.
Perbandingan efektivitas jus buah pir dengan jus buah stroberi sebagai bahan pemutih gigi yang mengalami diskolorasi Aryanto, Mirza; Fathan, Muhammad Omar
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.46583

Abstract

Banyak masyarakat mengalami perubahan warna pada gigi. Perawatan yang dapat mengatasi masalah ini adalah pemutihan gigi, tetapi bahan pemutih kimia seperti hidrogen peroksida dan karbamid peroksida memiliki efek iritasi dan sensitif, sehingga membuat para peneliti mencari alternatif bahan pemutih gigi alami yang lebih aman dan mudah dicari. Buah pir hijau mengandung hidrogen peroksida dan buah stroberi mengandung asam elegat yang dapat dijadikan pemutih gigi alami. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh jus buah pir dan jus buah stroberi dalam mengubah gigi yang mengalami diskolorasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan metode pretest dan posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 gigi anterior. Sampel direndam selama 1 hari di dalam larutan teh hitam. Setelah itu sampel dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang direndam dengan jus buah pir dan jus buah stroberi dan kelompok kontrol yang direndam karbamid peroksida 10%, Masing-masing kelompok direndam selama 5 hari. Setiap setelah perlakuan dilakukan pengukuran menggunakan Vita Easyshade untuk melihat nilai lightness. Jus pir dan karbamid peroksida memiliki perbedaan signifikan dengan nilai signifikan p = 0,009 Jus stroberi dan karbamid peroksida 10% tidak memiliki perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,269. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jus buah stroberi lebih efektif dibandingkan jus buah pir dalam memutihkan gigi yang telah mengalami diskolorasi.
Perawatan ulang saluran akar non-bedah dan restorasi ulang menggunakan pasak fiber reinforced composite Fajrianti, Henytaria; Ratih, Diatri Nari; Kristanti, Yulita
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77445

Abstract

Perawatan saluran akar (PSA) bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme dari saluran akar. Kegagalan PSA dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti obturasi yang tidak hermetis, underfilling, overfilling, dan kegagalan restorasi pasca-PSA. Penambahan retensi berupa pasak dan mahkota jaket resin komposit dapat menjadi pilihan pasca endodontik. Artikel ini bertujuan untuk melaporkan kasus perawatan saluran akar ulang (retreatment) diikuti dengan pasak fiber prefabricated dan restorasi mahkota resin komposit. Seorang wanita berusia 21 tahundirujuk ke klinik konservasi gigi dengan keluhan utama gigi depan atas nyeri berulang selama 2 minggu terakhir. Pasien pernah jatuh 4 tahun lalu dan sudah dilakukan perawatan saluran akar serta diberi mahkota akrilik. Terlihat adanya area yang terbuka pada daerah servikal labial mahkota tersebut disertai inflamasi gingiva disekitarnya. Pemeriksaan palpasi (-) dan perkusi (+). Tindakan perawatan berupa retreatment, pemasangan pasak fiber dan restorasi mahkota komposit memberikan hasil yang baik. Kasus perawatan ulang saluran akar memerlukan tahapan yang tepat, dengan penambahan pasak fiber dapat meningkatkan retensi restorasi pada gigi dengankehilangan struktur yang signifikan.
Perawatan maloklusi kelas I dengan rotasi caninus 180° dan impaksi premolar rahang atas Iman, Dimas; Lucynda, Lucky; Sitasari, Putri Intan; Narmada, Ida Bagus
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77734

Abstract

Derotasi gigi caninus perlu dikoreksi di fase awal suatu perawatan ortodonti cekat. Walaupun kasus gigi kaninus yang ekstrim merupakan salah satu masalah yang berat untuk ortodontis, tetapi de-rotasi gigi anterior dengan menggunakan powerchain merupakan cara yang sederhana dan efektif. Tujuan studi kasus ini adalah untuk memaparkan koreksi berdesakan anterior dengan rotasi 180º caninus dan impaksi premolar rahang atas. Laki-laki usia 17 tahun dengankeluhan gigi taring rahang atas yang abnormal dan gigi depan yang terasa maju. Pada pemeriksaan ekstraoral menunjukan profil wajah yang cembung dengan bibir yang kompeten. Pada pemeriksaan intraoral menunjukkan relasi kelas I angle dengan berdesakan rahang atas dan bawah. Pada pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya impaksi pada gigi premolar kiri atas. Pada pemeriksaan klinis dan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas I. Gigi 14, 25, 34, dan 44 dicabut untuk koreksi protrusi dan berdesakan. Derotasi rotasi caninus rahang atas dilakukandengan kawat SS 16.22 dan powerchain pada sisi labial dan palatal. Setelah itu, dilakukan retraksi 2 tahap untuk koreksi profil. Kesimpulan dari kasus ini perawatan tidak hanya mencapai faktor estetik namun juga fungisonal yang baik. Pada kasus ini relasi caninus terkoreksi dan profil wajah membaik.
Pelaksanaan teknik aseptik oleh dokter gigi di RSGM Universitas Padjadjaran sebagai upaya preventif infeksi silang pada masa pandemi COVID-19 Himmatie, Shiela Nurulhuda; Dewi, Warta; Setiawan, Asty Samiaty
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.81013

Abstract

Kedokteran gigi merupakan bidang yang rawan terhadap terjadinya infeksi silang. Munculnya wabah penyakit infeksi COVID-19 meningkatkan kekhawatiran tenaga medis maupun pasien dalam penyebaran infeksi. Dokter gigi merupakan profesi yang berisiko tinggi terhadap penularan COVID-19 karena selama perawatan menghasilkan banyak aerosol maupun droplet yang infeksius. Teknik aseptik merupakan semua prosedur yang dilakukan untukmencegah atau meminimalisir risiko infeksi oleh mikroorganisme patogen pada pasien maupun tenaga medis selama prosedur klinis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik aseptik oleh dokter gigi di RSGM Unpad sebagai upaya preventif infeksi silang pada masa pandemi COVID-19. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil menggunakan teknik accidental sampling pada bulan Agustus-November 2022 yangterdiri dari 51 dokter gigi di RSGM Unpad yang memenuhi syarat untuk menjadi responden. Penelitian dilakukan dengan metode survey menggunakan kuesioner yang berisi 32 pertanyaan mengenai tindakan teknik aseptik yang harus dilakukan oleh dokter gigi di fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut saat sebelum dan selama masa pandemi COVID-19. Penggunaan masker bedah (92,2%), surgical scrub (86,3%), masker N95 (82,4%) termasuk kategori baik. Penerapan lima momen kebersihan tangan (70,6%), skrining COVID-19 (62,7%), desinfeksi seluruh permukaan dental unit dan benda di meja dental (60,8%), penggunaan goggle/faceshield (70,6%), hazmat (68,6%), dan shoe cover/sepatu boots (60,8%) termasuk kategori cukup baik. Penggunaan rubber dam (7,8%), sarung tangandouble (43,1%), dan penerapan flushing DUWL dan handpiece setiap pergantian pasien (45,1%) termasuk kategori kurang. Pelaksanaan teknik aseptik standar maupun teknik aseptik tambahan pada masa pandemi COVID-19 secara keseluruhan telah dilakukan dengan baik oleh sebagian besar dokter gigi di RSGM Unpad.
Gambaran bone graft menyerupai odontoma compound pada regio anterior maksila Arifin, Sariyani Pancasari Audry; Priaminiarti, Menik; Amarta, Chairunnisa; Suryonegoro, Heru
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.81953

Abstract

Bone graft digunakan untuk rehabilitasi area maksilofasial akibat kehilangan gigi, trauma, tumor, dan kista yang menyebabkan kehilangan tulang luas. Kista radikular besar perlu diberikan bone graft untuk menghindari defek tulang. Ceraform® granule merupakan graft sintetik bisphasic ceramic, secara radiografis tampak hyperdensity dentikel, menyerupai odontoma compound. Komplikasi yang sering menyebabkan kegagalan bone graft ing yaitu tidak tepatnya stabilisasi graft dan infeksi. Laporan kasus ini bertujuan untuk menampilkan dan membahas temuan bahan bone graft yang menyerupai odontoma compound pada hasil pemeriksaan CBCT. Pasien laki-laki 63 tahun mengeluh pus keluar dari bawah bibir atas. Fistula di apikal 23 dan 25, palpasi tidak sakit, perabaan keras. Pemeriksaan CBCT tampak massa hyperdensity hypodensity membulat, berbatas jelas dikelilingi pita radiolusen, terkortikasi, struktur internal hyperdensity menyerupai dentikel. Diagnosis kerja yaitu suspek odontoma compound. Dilakukan kuretase radikal dan ditemukan bone graft serta lapisan dinding kista. Pemeriksaan histopatologi lapisan dinding kista sesuai dengan kista radikuler. Rekurensi kista radikular dapat menjadi penyebab utama infeksi sekunder sehingga graft tidak menyatu dengan jaringan sekitar, granule tetap utuh, dan pembentukan tulang baru tidak terjadi. Bone graftsintetik bisphasic ceramic berbentuk granule, secara radiografis tampak hyperdensity dentikel menyerupai odontoma compound, tersusun rapih dan teratur. Rekurensi kista radikular dan infeksi sekunder dapat menghambat integrasi graft dengan tulang. Pemeriksaan CBCT dan histopatologi perlu untuk evaluasi lebih detail dan mendapatkan diagnosis lebih akurat.
Regional odontodysplasia melibatkan dua kuadran pada anterior rahang atas Syahraini, Syurri Innaddinna; Priaminiarti, Menik; Bachtiar-Iskandar, Hanna Huzaima; Kiswanjaya, Bramma; Rizal, Mochamad Fahlevi; Rizal, Rezki Viona
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.82270

Abstract

Regional odontodyplasia (RO) merupakan anomali yang terjadi secara lokal, nonherediter developmental abnormality dengan kerusakan parah pada pembentukan enamel, dentin serta pulpa. Gambaran radiografis menunjukkan kamar pulpa besar dengan lapisan enamel dan dentin yang sangat tipis serta penurunan densitas sedangkan ukuran gigi normal atau sedikit lebih kecil daripada normal sehingga tampilan gambaran tersebut tampak seperti “ghost teeth”. Kompleksitas abnormalitas yang membutuhkan visualisasi gambaran hubungan gigi dan skeletal dapat dilakukan dengan pemeriksaan Cone Beam Computed Tomography (CBCT). Laporankasus berikut memaparkan gambaran radiografik CBCT pasien RO melibatkan regio anterior kanan rahang atas dan insisivus sentral kiri rahang atas. Pasien anak laki-laki usia 8 tahun 8 bulan dengan gigi depan atas kanan permanen belum tumbuh. Pada panoramik reconstruction tampak kehilangan gigi 51, 52, 53 dan gigi 61 resorpsi akar mencapai 1/3 apikal. Benih gigi 11, 12, 13, 21 berukuran kecil dan belum erupsi. Diagnosis banding kasus ini adalah dentinogenesis imperfekta dan segmental odontomaxillary dysplasia. Perawatan yang dilakukan berupapembuatan gigi tiruan sebagian lepasan akrilik regio 51, 52, 53. RO yang melibatkan dua regio sangat jarang terjadi. Pada laporan kasus ini dilakukan evaluasi menggunakan CBCT dengan tampilan Multiplanar reformatted (MPR), panoramic Volume Rendering (VR) pada potongan axial, panoramic view, transaxial-sagittal, and 3D view sehingga dapat dilakukan evaluasi perkembangan benih gigi secara menyeluruh dalam segala aspek. Gambaran radiografik yang khas dari RO menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografik merupakan metode diagnostik utama dalam menegakkan diagnosis yang penting dalam menentukan rencana perawatan yang tepat.
Gambaran lesi ossifying fibroma mandibula pada CBCT Mustafa, Resky; Priaminiarti, Menik; Julia, Vera; Bachtiar, Hanna
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.82273

Abstract

Ossifying fibroma (OF) merupakan suatu neoplasma jinak berkapsul yang dianggap sebagai jenis lesi fibroosseous (FOL) yang terdiri dari berbagai jumlah tulang yang terkalsifikasi dan menyerupai sementum dalam stroma fibrosa. Lesi ini biasanya ditemukan pada wanita dengan rentan segala usia namun paling sering terjadi pada decade ketiga dan ke empat kehidupan. Secara radiografik gambaran lesi OF yang bervariasi tergantung pada tingkat mineralisasi dan waktu perkembangan lesi. Lesi radiolusen unilocular dengan densitas campuran atau lesi radiopak dengan batas yang jelas atau radiolusen tipis seperti kapsul fibrosa yang dapat mengakibatkan ekspansi. Seorang pasien wanita berusia 20 tahun, datang dengan keluhan utama gigi bungsu atas dan bawah tidak tumbuh sempurna. Gusi kanan bawah kadang dirasakan sakit dan ada keterbatasan membuka mulut. Pasien menyadari ada asimetri wajah ± 3 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan klinis menunjukkan adanya benjolan di corpus mandibula kanan yang minimal, tidak terasa sakit dan tidak tampak tanda-tanda peradangan. Pada pemeriksaan intraoral didapatkan #47 erupsi sebagian. Dilakukan eksisi biopsi dan ekstraksi #47. Diagnosis pasien ini adalah ossifying fibroma jenis juvenile yang terjadi pada usia dewasa muda dengan rencana perawatan eksisi biopsy dan ekstraksi #47. Pemeriksaan CBCT dapat memperlihatkan secara komprehensif gambaran lesi dan pembahasan diagnosis banding lesi.
Pengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta: penelitian potong lintang Rodestawati, Budi; Vega, Christia Aye Waindy; Priyono, Bambang; Widita, Elastria; Hanindriyo, Lisdrianto; Agustina, Dewi; Mardhiyah, Iffah; Naritasari, Fimma; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.84983

Abstract

Populasi lanjut usia merupakan fenomena global yang menjadi tren paling signifikan saat ini dan telah terjadi di semua negara dengan berbagai tingkat perkembangan, termasuk Indonesia. Penyakit periodontal merupakan salah satu permasalahan kesehatan oral yang utama di masyarakat dan keparahannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit periodontal memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup lanjut usia dan merefleksikan permasalahan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajipengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 108 responden (n = 108) berusia ≥ 60 tahun. Karakteristik sosio-demografi yang diteliti pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan karakteristik wilayah tempat tinggal. Kondisi jaringan periodontal dinilai berdasarkan status perdarahan (bleeding on probing), tingkat kedalaman poket periodontal (pocket depth), dan kehilangan perlekatan jaringan periodontal (clinical attachment loss). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dankarakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap status perdarahan (p = 0,001, p = 0,015) dan rerata kedalaman poket (p = 0,005, p = 0,027), namun tidak berpengaruh terhadap rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,148, p = 0,105). Pada penelitian ini, jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal, baik pada status perdarahan (BOP) (p = 0,399), rerata kedalaman poket (PD) (p = 0,365), maupun rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,179). Tingkat pendidikan dan karakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal (BOPdan PD) pada populasi lanjut usia, sehingga aspek tersebut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan intervensi pencegahan penyakit periodontal pada lanjut usia.