cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Perawatan saluran akar teknik crown-down pada gigi anterior kiri rahang atas Sabiella, Herna Alvi; Nurdin, Denny
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.98863

Abstract

Perawatan saluran akar merupakan perawatan yang dilakukan dengan cara mengambil seluruh jaringan pulpa yang terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian saluran akar dibersihkan, dibentuk dan diisi dengan bahan pengisi saluran akar. Preparasi saluran akar merupakan salah satu tahapan yang penting dalam keberhasilan perawatan saluran akar. Teknik preparasi crown-down merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk preparasisaluran akar. Teknik ini dilakukan dan diharapkan mampu memberikan hasil preparasi dan obturasi saluran akar yang hermetis. Seorang pasien perempuan berusia 24 tahun datang dengan keluhan gigi kiri depan rahang atas yang sudah ditambal sejak 9 tahun yang lalu berubah warna dan terlihat adanya bayangan hitam. Pemeriksaan menunjukkan gigi 21 mengalami nekrosis pulpa disertai periodontitis apikalis simtomatik. Rencana perawatan akan dilakukan perawatan saluran akar gigi 21. Perawatan saluran akar diawali dengan access opening, preparasi saluranakar dengan teknik crown-down menggunakan Protaper hand-use, dan obturasi dengan gutta percha Protaper F4. Preparasi saluran akar dengan teknik crown-down menggunakan Protaper hand-use menunjukkan hasil preparasi yang baik sehingga dihasilkan obturasi yang hermetis yang menunjang keberhasilan perawatan saluran akar.
Potensi ekstrak biji chia (Salvia hispanica L.) dalam menghambat pembentukan biofilm Streptococcus mutans ATCC 25175 in vitro Lanagusti, Alfin; Handajani, Juni; Haniastuti, Tetiana
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100143

Abstract

Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif yang berperan sebagai faktor etiologi utama karies dan koloni primer dalam pembentukan biofilm rongga mulut. Biji chia mengandung flavonoid dan asam fenolik yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol biji chia terhadap pembentukan biofilm S. mutans. Penelitian eksperimental laboratoris ini menggunakan metode uji dengan microtiter plate. Streptococcus mutans ATCC 25175 dikultur dalam BHI yang mengandung 1% sukrosa dan diberi perlakuan ekstrak biji chia 1,3%, 2,6%, 5,2%, klorheksidin glukonat 0,2% sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Biakan bakteri diinkubasi selama 24 jam dalam 96-well microplate kemudian diwarnai dengan kristal violet 0,1% selama 15 menit. Densitas optik dibaca dengan microplate reader (λ = 540 nm). Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji post-hoc U-Mann Whitney. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) rerata persentase daya hambat pembentukan biofilm S. mutans pada setiap kelompok perlakuan. Uji U-Mann Whitney menunjukan ekstrak etanol biji chia konsentrasi 1,3%, 2,6%, dan 5,2% memiliki kemampuan setara dalam pembentukan biofilm S. mutans meskipun masih lebih rendah dibandingkan klorheksidin 0,2%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etanol biji chia mampu menghambat pembentukan biofilm S. mutans ATCC 25175.
Hubungan akar gigi molar kedua maksila dengan dasar sinus maksila pada pria dan wanita: studi pada radiograf panoramik Putri, Ni Luh Putu Sandrina; Widyaningrum, Rini; Haryosuwandito, Erdananda
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100565

Abstract

Sinus maksilaris merupakan struktur anatomi vital yang berada di atas gigi posterior rahang atas dengan variasi perluasan anatomis yang beragam. Kedekatan akar gigi terhadap sinus maksilaris dapat berkaitan dengan komplikasi yang tidak diinginkan yang menyertai tindakan klinis. Radiograf panoramik dapat digunakan sebagai pemeriksaan penunjang untuk menganalisis kedekatan struktur anatomi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis gigi molar kedua kanan dan kiri serta jenis kelamin terhadap keterdekatan akar mesiobukal dengan sinus maksilaris. Sampel penelitian berjumlah 164 sampel radiograf panoramik digital (81 pria dan 81 wanita) berusia 20-40 tahun yang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel diperoleh secara retrospektif dari Instalasi Radiologi Dentomaksilofasial RSGM UGM Prof. Soedomo. Pengamatan radiografis hubungan akar mesiobukal gigi molar kedua terhadap dasar sinus maksilaris dikategorikan menjadi tiga tipe, yaitu tipe 0 (akar tidak berkontak dengan dasar sinus), tipe 1 (akar berkontak dengan tepi kortikal sinus), dan tipe 3 (akar menembus kedalam rongga sinus). Hasil uji korelasi dengan Coefficient Contingency menunjukkan tidak terdapat hubungan antara molar kedua sisi kanan dan kiri terhadap tipe keterdekatan akar gigi terhadap sinus (p > 0,05) serta tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap tipe keterdekatan akar gigi terhadap sinus (p > 0,05). Melalui analisis Coefficient Contingency C diperoleh korelasi variabel jenis kelamin (C = 0,117) yang menunjukkan keeratan hubungan yang lebih tinggi terhadap kedekatan akar gigi terhadap sinus maksilaris dibandingkan dengan jenis gigi (C = 0,036), namun demikian korelasi antar variabel tersebut tidak signifikan.
Evaluasi tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada pada ilmu penyakit mulut dan radiologi kedokteran gigi Herwita, Alifah Nasywa Nur; Yanuaryska, Ryna Dwi; Naritasari, Fimma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100571

Abstract

Dokter gigi memerlukan pengetahuan yang memadai untuk merawat pasien. Pendidikan jenjang sarjana merupakan bagian dari proses belajar yang tidak terpisahkan bagi dokter gigi. Ilmu Penyakit Mulut (IPM) dan Radiologi Kedokteran Gigi (RKG) merupakan dua bidang ilmu yang membutuhkan pengetahuan mendalam dan berperan penting dalam hal diagnosis dan manajemen penyakit pada pasien. Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia,terdapat kompetensi minimal yang harus dicapai oleh mahasiswa. Terdapat lima jenis kompetensi pada bidang IPM dan dua jenis kompetensi pada bidang RKG. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa dan perbandingannya antar jenis kompetensi pada masing-masing bidang ilmu, yaitu IPM dan RKG. Penelitian dilakukan pada mahasiswa angkatan 2021 program studi S1 Kedokteran Gigi FKG UGM. Terdapat 142responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Enam pertanyaan IPM dan sepuluh pertanyaan RKG yang memenuhi syarat valid dan reliabel digunakan untuk mengukur pengetahuan responden terhadap dua kompetensi IPM yaitu ‘anamnesis’ dan ‘Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)’, serta dua kompetensi RKG yaitu ‘kemampuan interpretasi’ dan ‘keterampilan prosedural’. Hasil uji Mann-Whitney U pada bidang IPM dan RKG menunjukkannilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik terdapat variasi tingkat pengetahuan mahasiswa pada bidang IPM dan RKG. Selain itu, juga terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antar jenis kompetensi pada bidang ilmu yang sama. Pada bidang IPM, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara kompetensi ‘anamnesis’ dengan ‘KIE’. Pada bidang RKG, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara ‘kemampuan interpretasi’ dengan ‘keterampilan prosedural’.
Deteksi karies proksimal menggunakan radiografi bitewing dan near-infrared light transillumination Nugroho, Lathifa Dewanti; Yanuaryska, Ryna Dwi; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100770

Abstract

Radiografi bitewing merupakan metode standar untuk deteksi karies proksimal karena dapat mencitrakan mahkota gigi dari permukaan distal kaninus hingga distal permukaan molar paling posterior tanpa tumpang tindih. Pemanfaatan sinar-X di bidang kedokteran gigi menerapkan prinsip as low as reasonably achievable (ALARA) untuk mengurangi efek radiasi. Near-Infrared Light Transillumination (NILT) merupakan metode deteksi karies tanpa menggunakanradiasi pengion sehingga dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Narrative review ini ditujukan untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan antara teknik intraoral bitewing dengan NILT beserta perbedaan hasil deteksi karies proksimal dari masing-masing teknik tersebut. Pencarian literatur pada narrative review ini menggunakan Google Scholar, ScienceDirect, dan Pubmed dengan kriteria inklusi yaitu artikel berjenis original/research article, case report, dan textbook ilmiah, serta artikel berbahasa Inggris maupun Indonesia yangditerbitkan tahun 2010-2021. Kriteria eksklusi berupa review article, artikel yang menunjukkan duplikasi, artikel yang tidak dapat diakses secara utuh, serta artikel tanpa metode penelitian. Total literatur yang dikaji sebanyak 29 artikel. Hasil review menunjukkan bahwa NILT merupakan metode deteksi karies proksimal tanpa disertai risiko radiasi sehingga tidak memberikan efek berbahaya pada tubuh sehingga penggunaannya dapat diulangi sesuai kebutuhan. Kelebihan lainnya, NILT lebih sensitif daripada radiograf untuk mendeteksi jaringan keras gigi yang mengalami demineralisasi pada fase awal. Nilai sensitivitas dan spesifisitas NILT lebih tinggi daripada radiografi bitewing sehingga dapat dijadikan alternatif pemeriksaan radiografi. Meskipun demikian, NILT tidak dapat mencitrakan karies yang telah meluas hingga pulpa karena NILT tidak memiliki daya tembus sebesar sinar-X, sehingga radiografi bitewing masihmerupakan standar pemeriksaan untuk deteksi karies proksimal.
Perbandingan mental index dan panoramic mandibular index berdasarkan status dental: kajian pada radiograf panoramik Deriputra, Gde Parama Wistara; Shantiningsih, Rurie Ratna; Mudjosemedi, Munakhir; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100773

Abstract

Mandibula berperan dalam proses pengunyahan sehingga mengalami proses remodeling secara terus menerus. Status dental menunjukkan kondisi gigi serta kehilangan gigi-gigi pada individu. Status dental yang berbeda-beda akan menghasilkan beban mastikasi beragam yang selanjutnya mempengaruhi proses remodeling pada mandibula. Adanya perubahan ukuran tulang pada area kortikal mandibula dapat dideteksi dengan indeks radiomorfometri,antara lain Mental Index (MI) dan Panoramic Mandibular Index (PMI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan MI dan PMI pada radiograf panoramik antar kelompok status dental. Sampel penelitian ini berupa 134 radiograf panoramik digital dari instalasi radiologi RSGM UGM Prof. Soedomo. Status dental terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu kategori I (bergigi lengkap), Kategori II (bergigi sebagian), Kategori III (tidak bergigi padarahang atas), Kategori IV (tidak bergigi pada rahang bawah) dan Kategori V (tidak bergigi total). Indeks MI dan PMI diukur dengan perangkat lunak EzDent-I Vatech. Rerata MI pada Kategori I adalah 3,73 ± 0,59, Kategori II adalah 3,59 ± 0,49, Kategori III adalah 3,54 ± 0,74, Kategori IV adalah 3,63 ± 0,27, dan Kategori V adalah 3,43 ± 0,78. Rerata PMI pada Kategori I adalah 0,33 ± 0,08, Kategori II adalah 0,32 ± 0,05, Kategori III adalah 0,31 ± 0,07, Kategori IVadalah 0,30 ± 0,03, dan Kategori V adalah 0,29 ± 0,06. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pengukuran MI (p = 0,440) dan PMI (p = 0,266) antar kelompok status dental (p > 0,05). Kondisi status dental tidak berpengaruh terhadap ketebalan korteks mandibula di area foramen mental, yang ditunjukkan dengan hasil pengukuran MI maupun PMI yang tidak berbeda secara signifikan pada semua kelompokstatus dental.
Management of erosive oral lichen planus Naritasari, Fimma; Argadianti, Ayu Fresno; Fadilah, Nida Arum
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.101017

Abstract

Oral lichen planus (OLP) is an autoimmune disease that commonly affects the mucocutaneous area. The etiology of OLP remains unclear, but several factors are considered risk factors, such as chronic liver disease (hepatitis C infection), stress, genetics, hypertension, diabetes, smoking, and tobacco chewing. OLP often causes pain, especially during exacerbation periods. OLP management aims to reduce symptoms, improve clinical conditions, reduce the riskof oral cancer, and maintain oral health. This case report presents a case of OLP in a 54-year-old Javanese female patient with complaints of pain in her oral cavity that persisted for three weeks. The same condition occurred three months earlier, but it resolved without treatment. Clinical examination of pathognomonic features of OLP in the form of white, mesh-shaped lesions (Wickham striae) on the buccal and gingival mucosa is the basis for determining thediagnosis of OLP. The ulcerative type of OLP is established based on the appearance of ulcerated lesions in the tongue area and complaints of pain. The patient had a history of hypertension with regular consumption of captopril for the past three years., but there was no documented history of allergies. The results of the psychological assessment with DASS-42 revealed that the patient experienced very severe anxiety, moderate depression, and mild stress. Management in this case was done by prescribing topical corticosteroid, which is dexamethasone mouthwash, whichwas gargled by the patient twice a day. One month after therapy, the ulcerative lesions on the tongue resolved entirely, and pain complaints disappeared. In this case, topical corticosteroids effectively reduced symptoms and improved the clinical condition. However, long-term follow-ups are necessary to ensure that the lesion does not transform into a malignant lesion.
The relationship between occlusal support zones and blood glucose levels: the moderating role of carbohydrate and fiber intake frequency Rakasiwi, Arfita Ajeng Dewi; Amalia, Rosa; Priyono, Bambang
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.101167

Abstract

Blood glucose levels are influenced by carbohydrate and fiber intake. A diet high in carbohydrates and low in fiber can elevate blood glucose levels. The impact of carbohydrate and fiber intake is mediated by masticatory function, which depends on the occlusal contact of the posterior teeth. The aim of this study was to examine the relationship between the occlusal support zone and blood glucose levels, with the frequency of carbohydrate and fiber consumption actingas moderating variables. This research employed an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 33 elderly individuals, aged 60 to 74 years, from Kalibening Village, Dukun Subdistrict, Magelang Regency, selected through accidental sampling. Blood glucose levels were measured using the Accu-Chek test, occlusal support zones were assessed with the Eichner index, and the frequency of carbohydrate and fiber intake was recorded through a 4-day food diary questionnaire. The examination data were analyzed using pathanalysis. The results of the analysis showed no significant direct relationship between the occlusal support zone and blood glucose levels (p = 0.76; r = 0.003). However, when the frequency of carbohydrate consumption was included as a moderating variable, a significant relationship was found (p = 0.008). In contrast, when the moderating variable was the frequency of fiber consumption (p = 0.97), no significant relationship was observed. The study concludes thatthere is a relationship between the occlusal support zone and blood glucose levels in the elderly, with the frequency of carbohydrate consumption as a moderating variable. However, no relationship was found between the occlusal support zone and blood glucose levels when the frequency of fiber consumption was the moderating variable.
Herpes labialis yang dipicu kondisi psikologis pada wanita umur 23 tahun Aflakhassifa, Himma; Argadianti, Ayu Fresno
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.101552

Abstract

Infeksi herpes simpleks labialis rekuren merupakan bentuk sekunder atau rekuren dari infeksi herpes simpleks primer. Pada manusia, virus herpes simpleks bersifat laten dan dapat mengalami reaktivasi. Rekurensi akibat reaktivasi virus tinggi, paparan sinar ultraviolet, trauma jaringan mukosa rongga mulut atau jaringan saraf, kondisi imunosupresi, dan gangguan hormon. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan dan membahas tatalaksana dari infeksi herpes simpleks labialis rekuren pada seorang perempuan berusia 23 tahun yang datangke RSGM UGM Prof. Soedomo Yogyakarta dengan keluhan rasa nyeri dan panas akibat sariawan di lidah disertai rasa menebal pada bibir atas yang didahului demam selama empat hari. Kondisi serupa telah beberapa kali terjadi sebelumnya dan diobati dengan krim asiklovir, namun kali ini ditambahkan penggunaan penguat imun. Hasil pengisian kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) oleh pasien menunjukkan nilai stres ringan, dan kecemasan serta stres sedang. Pasien diterapi dengan asiklovir sistemik sebagai terapi kausatif. Pasien sembuh sepenuhnya 14 hari setelah kunjungan pertama. Disimpulkan bahwa kasus ini didiagnosis klinis sebagai infeksi herpes simpleks labialis rekuren. Terapi kausatif dengan pemberian asiklovir sistemik menunjukkan respon yang sangat baik. Penting untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan masalah mental guna mencegah kekambuhan dalam waktu singkat.ne boosters were used. The patient completed the DASS questionnaire, which revealed mild stress, anxiety, and moderate stress values. The patient was treated with 400 mg of oral acyclovir, taken five times daily, accompanied by instructions to manage her mental stress. The patient recovered completely within 14 days after the initial visit. The diagnosis was confirmed through clinical examination, characteristic of herpes labialis. Causative therapy with oral acyclovir had excellent results. It is important to give education on the management of mental issues to prevent recurrences in a short period.
Static guide endodontik untuk manajemen obliterasi saluran akar Joseph, Joseph; Ongki Iskandar, Bernard; Dwisaptarini, Ade Prijanti; Melaniwati, Melaniwati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.101661

Abstract

Obliterasi saluran akar adalah kondisi yang ditandai dengan deposisi jaringan keras dalam ruang saluran akar yang sering kali disebabkan oleh trauma dan dapat menyebabkan tantangan besar dalam diagnosis maupun perawatan. Seorang wanita berusia 27 tahun dengan keluhan diskolorasi kuning pada gigi insisivus sentral atas (gigi 11) akibat trauma 10 tahun sebelumnya. Pemeriksaan klinis dan radiografis menggunakan CBCT menunjukkan obliterasi saluran akar tanpa disertai kondisi patologis periapikal. Uji sensitivitas pulpa menunjukkan tidak ada respons, namun tidak dapat disimpulkan sebagai nekrosis. Untuk manajemen, static guide endodontik berbasis data CBCT digunakan untuk membantu penetrasi akurat ke saluran akar yang terkalsifikasi. Perawatan melibatkan preparasi biomekanik dengan teknik crown down menggunakan instrumen rotary, irigasi larutan natrium hipoklorit, dan medikasi intrakanaldengan kalsium hidroksida. Saluran akar kemudian diobturasi menggunakan teknik single cone dengan bioceramic sealer. Untuk memulihkan estetika, dilakukan perawatan intracoronal bleaching dengan hidrogen peroksida 35% yang dilanjutkan dengan restorasi komposit. Prosedur ini berhasil mengembalikan warna gigi dari warna A3 menjadi A2 tanpa komplikasi teknis seperti perforasi atau patahnya instrumen. Evaluasi menunjukkan jaringan periapikal dalam batas normal tanpa gejala klinis. Laporan ini menunjukkan bahwa penggunaan static guide endodontik meningkatkan akurasi dan efisiensi dalam pengelolaan kasus obliterasi saluran akar, terutama pada gigi anterior dengan diskolorasi yang menuntut estetika. Pendekatan ini direkomendasikan sebagai solusi yang efektif untuk kasus serupa, mengatasiketerbatasan teknik konvensional dan meningkatkan keberhasilan jangka panjang.