cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ANDHARUPA
ISSN : 2477 2852     EISSN : 2477 3913     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 282 Documents
ANALISIS IKON GUNUNGKIDUL DI KAWASAN GUNUNG SEWU UNESCO GLOBAL GEOPARK Natarina, Diah; Sachari, Agus
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 01 (2022): March 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i01.4644

Abstract

AbstrakPeningkatan status Geopark Nasional ke UNESCO Global Geoparks (UGGp) menjadi agenda utama pemangku jabatan. Negara-negara anggota UGGp dan Global Geopark Network (GGN) termasuk Gunung Sewu UGGp (GSUGGp) telah mendapatkan manfaat yaitu signifikansi peningkatan pendapatan regional. Salah satu syarat menjadi anggota UGGp/GGN adalah visibilitas. Identification sign memasuki kawasan geopark merupakan salah satu komponen di antara syarat visibilitas. Pada sisi barat batas wilayah karst GSUGGp yaitu di Bukit Bintang daerah Pathuk, terdapat ikon yang dalam rujukan sistem penanda disebut identification sign bertuliskan Gunungkidul dengan ukuran besar berwarna kuning. Pada situasi lain organisasi ini mengimbau agar penempatan panel informasi yang berlebihan harus dihindari di daerah dengan pemandangan alam yang unik dan menakjubkan. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pembuatan dari ikon Gunungkidul tersebut. Data diperoleh dengan melakukan observasi lokasi, wawancara mendalam, studi literatur, dan pemberitaan media masa. Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan menggunakan signage pyramid method dalam menganalisisnya. Hasilnya adalah struktur ikon Gunungkidul sebagai identification sign belum sesuai. Dilihat dari sudut keilmuan sistem penanda perlu dilakukan relokasi karena tingkat keterbacaan yang tidak sesuai hierarki serta alasan keselamatan berkendara. Warna dan ukuran struktur bertuliskan Gunungkidul tidak sesuai jika merujuk pada imbauan dari UGGp/GGN. Kata Kunci: geopark, Gunungkidul, Gunung Sewu, identification sign, sistem penanda AbstractNational Geoparks to UNESCO Global Geoparks (UGGp) upgrading status in some region has become a priority of government authority in nationwide. Referring to the declaration of the 17 Sustainable Development Goals by the United Nations (UN) in 2015, specificaly in the 8th program, namely sustainable economic growth. It has been proven that there is a significant increasement in regional revenue for countries after becoming members of the UGGp and the Global Geopark Network (GGN) including Gunung Sewu UGGp (GSUGGp). One of the several conditions to be accepted as a member of UGGp / GGN is visibility. Identification sign entering the geopark area is included in visibility. On the west side of the boundary of the GSUGGp karst area, there is an icon which in the sign system is called an identification sign that reads Gunungkidul with a large yellow color. This writing aims to determine how far the identification sign reaches suitability for an UGGp. Data obtained by conducting site observations, in-depth interviews, literature studies and mass media coverage. By analyzing qualitative descriptive approach using signage pyramid method for GSUGGp visibility, the result is Gunungkidul identification sign is not yet fully suitable. The Gunungkidul icon needs to be relocated because the legibility level does not match the hierarchy and driving safety reasons. The color and size also do not match the advice from UGGp/GGN. Keywords: geopark, Gunungkidul, Gunung Sewu, identification sign, sign system
KECENDERUNGAN VISUALISASI ANAK-ANAK DALAM MERESPON SITUASI PANDEMI Bastari, Rendy Pandita
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 01 (2022): March 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i01.4710

Abstract

Abstrak Bahasa visual memiliki efeknya sendiri terhadap audiens. Manifestasi gagasan, ekspresi, ideologi dapat tersalurkan melalui bahasa visual. Hal ini menunjukan bahwa objek visual memiliki makna tertentu, dan terdapat aspek komunikasi yang terkandung di dalamnya. Studi terdahulu menunjukan adanya menifestasi visual pada anak-anak dalam merespon keadaan sosial atau situasi tertentu. Studi ini pun menunjukan bahwa ide yang disampaikan secara visual dapat tercerna dengan baik oleh anak-anak. Studi ini menyimpulkan bahwa proses produksi visual merepresentasikan pengetahuan mereka khususnya secara sosial. Namun studi ini masih belum konklusif terkait kecenderungan karakteristik visualnya. Penelitian ini bermaksud untuk melakukan pendekatan lain dan lebih mengarah pada visualisasinya. Metode yang digunakan adalah analisis visual dari Gillian Rose melalui pengambilan Sampel karya anak-anak dalam merespon situasi pandemi 2020. Sampel berjumlah 18 karya visual dengan kecenderungannya masing-masing. Hasil dari studi ini mendapatkan bahwa anak-anak cenderung merespon dengan visualisasi yang sepenuhnya imajinatif dengan menghadirkan figur-figur dari budaya populer dan ekspresi imajinasinya yang tidak ada konteksnya pada situasi pandemi. Kecenderungan lain terlihat bahwa adanya upaya untuk menggambarkan realita sebagaimana mestinya dan mengandung relevansi terhadap situasi pandemi. Terakhir bahwa terdapat kesan optimisme dalam beberapa karya dan pesimisme dalam beberapa karya. Kata Kunci: anak-anak, karakteristik visual, pandemi, seni AbstractVisual language has its own effect on audiences. The manifestation of ideas, expressions, ideologies can be channeled through visual language.  This shows that visual object has a certain meaning, and there are aspects of communication contained in it. Previous studies have shown visual manifestations in children in response to certain social conditions or situations. This study also proves that visually conveyed idea can be received well by children, this study concludes that visual production process represents their social knowledge. However, this study is inconclusive pertaining their visual characteristic tendencies. This study aims to conduct different approach which is more oriented to their visualization. The method used is visual analysis coined by Gillian Rose through sampling of children's work in response to the 2020 pandemic situation. The Sampel consisted of 18 visual works with their respective tendencies. The results of this study show that children tend to respond with fully imaginative visualizations by presenting figures from popular culture and their imaginary expressions that have no context in a pandemic situation. Another trend appears to be an attempt to portray reality as it should and contain relevance to the pandemic situation. Finally, there is an impression of optimism in some works and pessimism in some works. Keywords: art, children, pandemic, visual characteristic
STORYTELLING DALAM KEMASAN KOPI JANJI JIWA Fadilla, Atria Nuraini; Aditia, Patra
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 01 (2022): March 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i01.4154

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan salah satu negara penghasil dan pengkonsumsi kopi terbesar di dunia. Salah satu brand yang berhasil menguasai pasar kopi di Indonesia adalah kopi Janji Jiwa. Janji Jiwa mengetahui pentingnya membangun sebuah brand image. Salah satu pendekatan kreatif yang dilakukan oleh Janji jiwa adalah dengan storytelling yang diperkuat juga dengan copywriting dan tipografi. Lewat teknik pengumpulan data melalui observasi, studi literatur, dan wawancara mendalam terhadap sejumlah informan, yang kemudian dikaitkan dengan teori semiotika, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa storytelling memperkuat brand image kopi Janji Jiwa dengan memberi kesan bahwa Janji Jiwa dimitoskan dengan peristiwa-peristiwa keseharian, seperti misalnya; pertemuan dengan sahabat, masa-masa kurang beruntung, ataupun perselisihan dengan rekan kerja.  Selain itu, makna yang terbentuk dari konten kreatif kopi Janji Jiwa adalah mitos tentang teks-teks yang dapat mengisi waktu luang, punya kemampuan untuk menimbulkan pikiran yang reflektif, punya pendekatan yang baik dan ramah, serta niat yang tulus.  Kata kunci: brand image, kopi janji jiwa, semiotik, storytelling  AbstractIndonesia is one of the largest coffee producers and consumers in the world. One of the brands that has succeeded in dominating coffee market in Indonesia is Janji Jiwa Coffee. Janji Jiwa knows the importance of building a brand image. One of the creative approaches used by Janji Jiwa is storytelling which is also reinforced by copywriting and typography. Data collection techniques were gathered through observation, literature study, and in-depth interviews with several informants, which linked to semiotic theory. The results of this study indicate that storytelling strengthens the brand image of Janji Jiwa coffee by giving the impression that Janji Jiwa is associated with daily events, for example, meetings with friends, unfortunate moments, or disputes with coworkers. In addition, the meaning of content creative development of Janji Jiwa coffee is a myth about texts that can fill spare time, have the ability to generate reflective thoughts, have a kind and friendly approach, and have sincere intentions.  Keywords: brand image, storytelling, semiotics, janji jiwa coffee
ANALISIS KOMPARASI GESTURE KARAKTER BARAT DAN TIMUR BERDASARKAN ARCHETYPE DARI FILM ANIMASI MUSIKAL “FROZEN” DAN “MERAIH MIMPI” Nathiania, Nita Virena; Kadiasti, Ristia
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 01 (2022): March 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i01.5993

Abstract

AbstrakMedia animasi dalam hal ini berperan sebagai media komunikasi inter-cultural dengan beragam target audiens. Adanya pengetahuan dan studi referensi yang tepat, penyampaian melalui gesture akan berhasil baik bagi audience budaya lokal, budaya mainstream atau yang lebih umum, maupun bagi komunitas global. Oleh karena itu perlu adanya studi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk membantu menentukan, bukan hanya ciri fisik tetapi juga gesture sebuah karakter sesuai dengan archetype menurut struktur cerita Hero’s Journey Monomyth melalui perbandingan referensi budaya lokal dan budaya barat.  Dua studi kasus yang diambil yaitu animasi musikal “Meraih Mimpi” yang mengangkat latar belakang kehidupan budaya Jawa sebagai salah satu budaya khas Indonesia, dan animasi musikal “Frozen” oleh Disney Animation Studio. Dalam hal ini diperlukan ilmu dan kajian terkait dengan sosiolinguistik dalam proses pembedahan analisis yang melibatkan dua film animasi tersebut yang kemudian dibedah menggunakan pendekatan semiotika visual oleh Ferdinand de Saussure yang melibatkan adanya penanda dan petanda dari masing-masing gesture yang melekat pada archetype karakter untuk menghasilkan sebuah kerangka pembanding antara budaya barat dan timur. Hasilnya beberapa gestur yang memiliki tanda yang sama pada archetype yang berbeda menghasilkan baik penanda atau petanda yang berbeda tergantung dari bagaimana perancangan dan role archetype dengan latar belakang budaya yang disusun pada cerita tersebut. Kata Kunci : archetype, desain karakter, semiotika, sosiolinguistik AbstractAnimation media in this case acts as a medium of intercultural communication with a diverse target audience. With the right knowledge and reference studies, delivery through gestures will be successful both for local cultural audiences, mainstream culture or more generally, as well as for the global community. Therefore, it is necessary to have a study that can be used as a reference to help determine, not only physical characteristics but also the character’s gesture according to the archetype of the Hero's Journey Mononomyth story structure through comparison of local cultural references and western culture. Two case studies were taken, namely the musical animation “Meraih Mimpi” which raised the background of Javanese cultural life as one of Indonesia's unique cultures, and the musical animation “Frozen” by Disney Animation Studio. In this case, knowledge and studies related to sociolinguistics are needed in the analysis process which involves the two animated films. Then, it dissected using a visual semiotic approach by Ferdinand de Saussure which involves signifier and signified of each movement attached to the character archetypes to produce a framework of comparison between western and eastern cultures. The result is that several gestures that have the same sign on different archetypes produce different signifiers or signifieds depending on how the design and role of archetypes with cultural backgrounds are arranged in the story. Keywords :  archetype, character design, semiotics, sosiolinguistic
KAJIAN STRUKTURAL DAN KOMPARATIF FILM BEFORE TRILOGY DAN BOYHOOD KARYA AUTEUR: RICHARD LINKLATER Saputra, Ellen Agustine
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 01 (2022): March 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i01.4654

Abstract

The classic theory of authorship has sparked debate among academics, practitioners, and film critics for many years. In film education, the theory of auterism is widely discussed because it provides an interesting overview of film techniques and styles that is developed by an auteur. Richard Linklater is an auteur serving as director and screenwriter in many of his films. This study uses qualitative research methods with structural and comparative methods, where structural approach is used to deconstruct Richard Linklater’s film through the characters, themes, and visual styles (types of frames and camera movements). The comparative method is used to find similarities and differences in Before Trilogy and Boyhood, also to reveal Richard Linklater’s authorship style. To conclude the research, Richard Linklater is a collaborative auteur. In his experimental approach of filmmaking specificially in the making of Before Trilogy and Boyhood, Richard Linklater always worked collaboratively with actors or editors. The difference between Richard Linklater’s films can be seen through visual aspects of the film, on the contrary, in terms of narrative aspect, Before Trilogy and Boyhood do not have significant differences. Many similarities can be found throughout the narrative aspects of his films.
Terapan Estetika Sunda pada Suvenir Angklung di Saung Angklung Udjo Anasthasia D, Erline; Lesmana, Moh Eka
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 02 (2022): June 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i02.4520

Abstract

AbstrakEstetika Sunda merupakan nilai keindahan yang hadir pada latar budaya masyarakat Sunda. Unsur ini memegang peranan penting dan tidak dapat dilepaskan dalam berbagai aspek kebudayaan Sunda, termasuk di dalamnya perancangan dan penciptaan berbagai artefak kebudayaan Sunda. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap bagaimana peranan dan penerapan estetika Sunda pada produk suvenir Saung Angklung Udjo (SAU) saat ini. Hal ini karena suvenir menjadi bagian penting dalam sistem kepariwisataan yang juga erat dan seringkali menjadi benda yang merepresentasikan suatu tempat ataupun kebudayaan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis estetika Sundan dan tinjauan tentang suvenir. Hasil penelitian berupa kajian yang menjelaskan bagaimana peranan estetika Sunda pada bentuk, fungsi, nilai dan makna kebudayaan pada suvenir di Saung Angklung Udjo. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi referensi dalam merancang dan melihat bagaimana unsur kebudayaan dapat tetap dipertahankan dan diterapkan pada objek khususnya suvenir.   Kata Kunci: Estetika Sunda, Saung Angklung Udjo, Suvenir  AbstractSundanese aesthetics value is present in cultural background of the Sundanese people. Sundanese aesthetics plays an important role and cannot be separated in various aspects of Sundanese culture, including the design and creation of various Sundanese cultural artifacts. This study aims to reveal how the role and application of Sundanese aesthetics at this time in the souvenir products of Saung Angklung Udjo (SAU). Souvenirs are an important part of the tourism system which is also closely related and often becomes objects that represent a place or a culture, because of that reason souvenirs at Saung Angklung Udjo (SAU) are the right objects of research in revealing the role of Sundanese aesthetics at present time. The research method used is descriptive qualitative with the Sundanese aesthetic analysis approach and a review of souvenirs. The result of the research is a study that explains how the role of Sundanese aesthetics in the form, function, value and meaning of culture in souvenirs at Saung Angklung Udjo. The results of this research can later become a reference in designing and seeing how cultural elements can be maintained and applied to objects, especially souvenirs. Keyword:  Sundanese aesthetics, Saung Angklung Udjo, Souvenir 
Eksplorasi Metode Crowdsourcing dalam Upaya Pengarsipan Musik melalui Perancangan Web-Based Director Putro, Mufqi Hutomo; Larasati, Dwinita; Ratri, Dianing
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 02 (2022): June 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i02.4398

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan mengeksplorasi metode crowdsourcing (urun daya) sebagai pendekatan alternatif yang dapat diterapkan dalam merancang sebuah platform pengarsipan digital. Dalam sebuah upaya pengumpulan data dan informasi, karakteristik metode ini umumnya dimanfaatkan melalui platform digital agar mendapatkan lebih banyak informasi, ide hingga solusi secara cepat dengan melibatkan banyak pihak dalam jaringan internet. Sehubungan dengan hal tersebut, metode crowdsourcing dapat dihadirkan sebagai tawaran alternatif dalam mengakomodasi kebutuhan pengarsipan musik di Indonesia, berdasarkan fenomena, kondisi dan permasalahan pengarsipan musik yang dapat teridentifikasi. Untuk menghasilkan rekomendasi yang relevan, tiga studi terdahulu tentang crowdsouricng dipilih berdasarkan korelasinya dengan teknis pengumpulan data secara crowdsourcing (Crowdsourced data gathering). Literatur tersebut dikaji agar dapat menghasilkan rekomendasi alur penerapan, rancangan, serta mendefinisikan spesifikasi fitur-fitur antarmuka yang tepat dan efisien dalam langkah implementasi metode crowdsourcing kedalam sebuah desain media informasi digital. Melalui penelitian ini, tinjauan implementasi metode crowdsourcing pada platform pengarsipan diharapkan dapat menjadi tawaran alternatif dalam meningkatkan efisiensi jalannya upaya pengarsipan musik dan meminimalisir permasalahannya yang terjadi di Indonesia. Kata kunci: crowdsourcing, direktori, musik, pengarsipan  AbstractThis research was aim to study and explore the crowdsourcing method as an alternative approach that can be applied to designing a digital archiving platform. In an archiving and information gathering initiative, the characteristics of this method are generally utilized through digital platforms in order to get more information, ideas and solutions quickly by involving many parties in the internet network. In this regard, the crowdsourcing method can be presented as an alternative implementation in accommodating the needs of musical archiving in Indonesia, based on the emerging phenomena, conditions and problems. To produce relevant recommendations, previous studies on crowdsourcing method were selected based on their correlation with the crowd-sourced data gathering technique. The literature is reviewed in order to produce recommendations for the implementation flow, design, and define the appropriate and efficient specification of interface features in the implementation phase of the crowdsourcing method to form an efficient design for digital information media. Through this study, a review of the implementation of the crowdsourcing method on archiving platforms is expected to be an alternative offer in increasing the efficiency of music archiving efforts and minimizing the problems that occur in Indonesia. Keywords: archiving, crowdsourcing, directory, music
Pengaruh Nilai Islam pada Visual Pakaian Pengantin Adat Minangkabau Koto Gadang Akbar, Taufik; Imelda, Desra; Prameswari, Nadia Sigi; Putri, Selfi Mahat
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 02 (2022): June 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i02.5268

Abstract

Abstrak Pakaian pengantin tradisional Koto Gadang merupakan salah satu produk seni budaya Minangkabau yang identik dengan nilai Islam. Walaupun bukan sebagai tempat masuknya Islam di Minangkabau dan Sumatera Barat tetapi masyarakat Koto Gadang mampu mencerminkan nilai Islam yang kuat pada visual pakaian pengantin yang khas. Penelitian ini adalah sebuah pengamatan visual tentang nilai-nilai Islam yang diwakili melalui pakaian pengantin Koto Gadang. Pengamatan dilakukan dengan pendekatan etnografis Spradley melalui analisis elemen dan komponen visual pakaian pengantin Koto Gadang serta didukung oleh teori semiotika dyadic Ferdinand De Saussure. Hasil penelitian menunjukan pengaruh nilai-nilai Islam pada busana mempelai wanita terdiri dari telekung, baju kurung, dan sarung kodek. Pada pakaian mempelai pria pengaruh Islam terlihat jelas pada atribut penutup kepala yang disebut deta ameh gadang dan kain penutup celana yang disebut sesamping. Penelitian ini dapat menambah studi tentang pengaruh sosio-kultural terhadap karya seni, khususnya di Sumatera Barat. Kata Kunci: budaya Minangkabau, nilai Islam, pakaian pengantin, Koto Gadang, etnografi AbstractThe Koto Gadang traditional wedding dress is one of the Minangkabau’s cultural arts product that are identical to Islamic values. Although not as a place for the entry of Islam in Minangkabau and West Sumatra, the Koto Gadang community is able to reflect strong Islamic values in the visuals of a distinctive wedding dress. This research is a visual observation about the Islamic values represented through the Koto Gadang wedding dress. Observations performed with an ethnographic approach through a process of Spradley’s visual components analyzing in the Koto Gadang wedding dress and also supported by the dyadic semiotics theory of Ferdinand De Saussure.The result of the analysis show that there are influences of Islamic values in trousseau consist of telekung, baju kurung, and kodek sarong. In the groom's clothes, the influence of Islamic values clearly visible in turban called deta ameh gadang and the cloth covering pants called sesamping. This research is expected to contribute to the study of socio-cultural influences in artworks, particularly in West Sumatra. Keywords: ethnographic, Islamic values, Koto Gadang, Minangkabau culture, wedding dress
Kajian Semiotika C.S. Pierce pada Salib Altar Interior Gereja Katolik Roh Kudus Katedral Denpasar Bali Prasetya, Ignasius Gede Aldo Dani; Mudra, I Wayan
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 02 (2022): June 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i02.4394

Abstract

Abstrak Gereja Katolik Roh Kudus Katedral Denpasar memiliki simbol yang digunakan sebagai dekorasi interior. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dekorasi salib Gereja Katolik Roh Kudus Katedral Denpasar Bali dengan teori C.S. Peirce. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data utama penelitian ini adalah Salib Altar pada salib Gereja Katolik Roh Kudus Katedral Denpasar. Hasil penelitian menunjukan bahwa salib altar gereja tersebut menyerupai bentuk Kayon Bali. Salib altar ini ditempatkan di belakang altar menghadap ke umat, berwarna keemasan dengan ornamen tanaman anggur, dan enam bentuk manusia malaikat. Interpretantnya salib altar menyerupai kayon Bali, memiliki tiga fungsi sesuai isi Alkitab, bagian awal kayon Bali adalah pembuka dan penutup pementasan wayang sedangkan di Alkitab melambangkan Yesus pada Awal dan Akhir. Kedua, kayon Bali berfungsi sebagai tanda pergantian babak sedangkan di Alkitab sebagai pengganti kurban persembahan pada perjanjian lama. Ketiga, kayon Bali sebagai lambang gunung, angin, hutan, dan lainnya, pada Alkitab melambangkan tempat Yesus disalibkan di Bukit Golgota. Representamentnya salib altar mengabungkan kebudayaan Bali dan simbol kekristenan, terjadi akulturasi dengan budaya lokal Bali. Simpulannya salib altar menyerupai bentuk kayon Bali yang memiliki makna sesuai dengan isi Alkitab, dan merupakan akulturasi budaya lokal Bali dengan kekristenan. Kata Kunci: Gereja Katedral, Kayon Bali, Semiotika Peirce, Salib Altar AbstractIn the Denpasar Cathedral Holy Spirit Catholic Church there are symbols used as interior decorations. This study aims to explain the decoration of the cross of the Holy Spirit Catholic Church, Denpasar Bali Cathedral, with the theory of C.S. Peirce. This study uses a qualitative descriptive approach, with data collection methods of observation, interviews, and documentation. The main data source of this research is the Altar Cross on the cross of the Holy Spirit Catholic Church, Denpasar Cathedral. The results showed that the church altar cross resembled the shape of a Balinese Kayon. This altar cross is placed behind the altar facing the congregation, golden in color with vine ornaments, and six human angelic shapes. The interpretation of the altar cross resembles a Balinese kayon, has three functions according to the Bible, the beginning of the Balinese kayon is the opening and closing of the wayang performance, while in the Bible it symbolizes Jesus at the Beginning and the End. Second, the Balinese kayon serves as a sign of changing stages, while in the Bible it is a substitute for sacrifices in the Old Testament.  Third, the Balinese kayon as a symbol of mountains, wind, forests, and others, in the Bible symbolizes the place where Jesus was crucified on Golgotha Hill. The representation of the altar cross combines Balinese culture and symbols of Christianity, acculturating local Balinese culture. In conclusion, the altar cross resembles the shape of a Balinese kayon which has a meaning according to the Bible, and is an acculturation of local Balinese culture with Christianity. Keywords: Altar Cross, Cathedral Church, Kayon Bali, Peirce Semiotics
Penerapan Pola Komunikasi Soft Selling melalui Storytelling dalam Film Iklan “Metamorfodream” Dewi, Nuria Indah Kurnia; Saraswati, Agni; Furqon, Audrey Nafisa Falihah
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 8 No. 02 (2022): June 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i02.5270

Abstract

Abstrak Prodi D3 Animasi ISI Yogyakarta (Prodi Animasi) sebagai lembaga pendidikan pencetak pekerja seni dalam bidang animasi perlu melakukan proses diseminasi yang berkesinambungan sebagai upaya untuk meningkatkan animo masyarakat. Terkait tujuan tersebut, Prodi Animasi memerlukan sebuah media diseminasi komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman, sesuai dengan latar belakang target audiens, serta mampu merepresentasikan karakter Prodi Animasi itu sendiri. Berdasarkan kriteria tersebut, maka film iklan animasi berjudul “Metamorfodream” dipilih sebagai sebuah model media diseminasi. Film iklan ini dirancang dengan memadukan unsur storytelling dan periklanan sehingga menghasilkan iklan dengan pola komunikasi soft selling. Landasan teori yang digunakan adalah teori film animasi oleh Jean Ann Wright dan konsep mengenai identitas brand oleh Derrick Chong serta teori penceritaan Struktur Tiga Babak oleh Weels Root. Metode penciptaan yang dipakai adalah proses penciptaan kreatif oleh Graham Wallas. Tujuan penelitian ini difokuskan untuk mengetahui bagaimana penerapan pola komunikasi soft selling melalui storytelling dalam film iklan Metamorfodream, di mana unsur storytelling akan digunakan dalam membangun bahasa komunikasi sehingga iklan yang dihasilkan akan bersifat soft selling sehingga dapat dinikmati sebagai sebuah karya film. Kata Kunci: diseminasi, film iklan animasi, storytelling, soft selling AbstractAs an educational institution that produces art workers, the Animation Program in the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta needs to carry out a continuous dissemination process to increase public interest. Related to this goal, the Animation Program requires a communicative dissemination medium that is relevant to the times and suitable to the audience's background. It should be able to represent the character of the Animation Study Program itself. Based on these criteria, the animated advertising film entitled “Metamorphodream” was chosen as a media dissemination model. This advertising film is designed by combining storytelling and advertising elements, so as to produce advertisements with soft-selling communication type. The theoretical basis used is the theory of animated films by Jean Ann Wright, the concept of brand identity by Derrick Chong, and the theory of storytelling in Three Acts Structure by Weels Root. The method of creation used is the creative creation process by Graham Wallas. This research aims to know how soft- selling communication patterns can be applied through storytelling in the Metamorphodream advertising film. Storytelling elements will be used in building a communication language so that the resulting advertisements will be soft selling so that they can be enjoyed as a film. Keywords: animated advertising films, concept art, dissemination, storytelling