cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Tataloka
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 23560266     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Tataloka is a peer reviewed journal publishing scientific articles, focusing mainly on research and studies in the field of urban and regional planning. TATALOKA Journal is published quarterly by Biro Penerbit Planologi (Planologi Publishing), Diponegoro University every February, May, August, and November.
Arjuna Subject : -
Articles 457 Documents
Evaluasi Terhadap Kawasan Perbatasan Darat Indonesia Melalui Lima Dimensi Indeks Pembangunan Rahim, Dian Anggraeny; Priyarsono, D.S.; Rustiadi, Ernan; Syaukat, Yusman
TATALOKA Vol 26, No 1 (2024): Volume 26 No. 1 February 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.1.46-62

Abstract

Pembangunan kawasan perbatasan adalah suatu amanat Nawacita yaitu membangun dari pinggiran. Berbagai program telah dilaksanakan di kawasan perbatasan yang memiliki tujuan untuk keberhasilan perbatasan, namun pembangunan di kawasan perbatasan belum menunjukkan hasil maksimal, bahkan jika dibandingkan dengan kawasan non perbatasan pada propinsi yang sama. Penelitian ini dilakukan pada rentang tahun 2015 -2020 di lima propinsi yang memiliki kawasan perbatasan darat yaitu Kalimantan Barat. Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi pembangunan yang telah dilakukan pemerintah melalui lima dimensi pada indeks pembangunan yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi infrastruktur, dimensi teknologi informasi dan komunikasi serta dimensi lingkungan dan menggunakan dua puluh enam variabel. Metode penghitungan yang dilakukan menggunakan metode Model Linier Agregation oleh OECD. Hasil penelitian ini menunjukkan selama rentang waktu 2015 – 2020, indeks pembangunan berdasarkan dimensi ekonomi di kawasan perbatasan memiliki klasifikasi rendah,  dimensi sosial memiliki klasifikasi tinggi, dimensi infrastruktur memiliki klasifikasi rendah kecuali Kalimantan Barat pada tahun 2015 -2018 memiliki klaisifikasi sedang, dimensi teknologi indormasi dan komunikasi memiliki klasifikasi rendah, dimensi lingkungan memiliki klasifikasi rendah.
Factors Affecting Tri Hita Karana Harmony in Traditional Balinese Settlements Wijaya, Komang Arya Partha; Wiranegara, Hanny Wahidin; Supriatna, Yayat
TATALOKA Vol 26, No 2 (2024): Volume 26 No. 2, May 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.2.89-95

Abstract

Tri Hita Karana's philosophy of Balinese people is reflected in harmony with God (parahyangan), with others (pawongan), and with the environment (palemahan). In realizing these values of harmony, Balinese people have customs and culture in arranging their traditional settlement. Factors in traditional settlements that are assumed to influence the harmony are temple, banjar, and zoning. This study aims to examine those factors. Design study is questionnaire survey methode. The hypothesis was tested using multiple linear regression techniques in 200 respondents between the ages of 18-68. The results showed that the temple, banjar, and zoning had significant effect on the harmony of Balinese people. Partially, temple and banjar had a significant effect, while zoning did not show a significant effect. Community patterns and customary systems become more dominant than zoning. Furthermore, the availability of land become a constraint, so that the holy places, banjar, and setra in the zoning follow customary agreements and regulations. Based on these findings, the preservation of these three elements in traditional Balinese settlement needs to be maintained as part of local culture and wisdom to keep the harmony in the traditional Balinese community.
Participation of Business Actors in Implementing Circular Economy on Batik Products in Kauman Batik Kampoeng, Pekalongan City Wijaya, Muhammad Indra Hadi; Fadiyah, Tuti; Wijaya, Holi Bina; Artiningsih, Artiningsih
TATALOKA Vol 26, No 3 (2024): Volume 26 No. 3 August 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.3.208-217

Abstract

This research explores the application and potential of batik business actors in the implications of the circular economy (CE) model in Pekalongan, Indonesia. As a prominent cultural heritage, the batik industry is essential to the regional economy. However, conventional linear production and consumption practices have resulted in environmental challenges, resource depletion, and waste generation. By embracing CE principles that emphasize resource efficiency, waste reduction, and closed-loop systems, the batik industry in Pekalongan can develop sustainable and environmentally responsible practices. This study examines critical aspects of CE implementation, starting with community participation in the batik, drawing insights from successful CE implementation in other industries. The implementation of CE in other industries is the role of business actors in the business chain outside Kampong. This paper analyzes the potential benefits and challenges of implementing CE in the Pekalongan batik industry and the role of stakeholders in promoting circularity. By highlighting the feasibility of the CE model, the results of this research are that the level of community participation in implementing a CE has not been maximized with the potential remaining production output so that this aspect of the condition becomes a sustainable opportunity to encourage sustainable practices in the Pekalongan batik industry.
Analisis Obyek Wisata dan Rencana Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat Gesvita, Intim Vinda; Sitorus, Santun R.P.; Mansyur, Umar
TATALOKA Vol 25, No 4 (2023): Volume 25 No. 4 November 2023
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.25.4.217-231

Abstract

Kabupaten Pesisir Selatan memiliki banyak tempat tujuan wisata namun belum direncanakan untuk pembangunan. Oleh karena itu, perlu diketahui obyek wisata yang telah dikembangkan dan obyek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Selain itu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan juga menjadi hal yang penting dalam pengembangan pariwisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis semua objek wisata dan untuk mengetahui objek wisata yang telah berkembangkan, untuk menganalisis obyek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan, dan untuk membuat arahan rencana pengembangan pariwisata serta arahan strategi pengembangan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 objek wisata telah berkembangkan dan 26 objek wisata berpotensi untuk dikembangkan. Dua faktor utama yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Kabupaten Pesisir Selatan, yaitu obyek wisata berupa wisata alam/kelautan dan pelayanan pariwisata yaitu kemanan dan keramah tamahan. Rencana pengembangan pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan disusun dalam bentuk kawasan wisata dan pengembangan obyek wisata ada tiga arahan strategi pembangunan pariwisata, yaitu meningkatkan potensi daerah dan budaya yang berstandar internasional, memulai kerjasama dengan perusahaan pariwisata dan mempertimbangkan adanya ancaman bencana alam.
Analisis Titik Kumpul Dalam Proses Evakuasi Penduduk dan Ternak Ketika Erupsi Gunung Merapi Wilayah Studi Kecamatan Cepogo, Boyolali Anggoro, Bayu Sukma; Tyas, Wido Prananing; Mardiansyah, Fadjar Hari
TATALOKA Vol 26, No 2 (2024): Volume 26 No. 2, May 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.2.126-142

Abstract

Penelitian tentang titik kumpul di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali didasari dua latar belakang: Pertama wilayah studi Kecamatan Cepogo berbatasan dengan puncak Gunung Merapi yang sudah mengalami gempa guguran lebih dari seratus kali dari awal tahun 2022; Kedua data mitigasi bencana awan panas akibat Gunung Merapi pada tahun 2010 yang lalu menemukan banyak ternak yang mati setelah ditinggal evakuasi, sehingga hewan ternak dijadikan salah satu objek evakuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mitigasi dan penanganan bencana melalui penentuan lokasi titik kumpul sebelum menuju barak pengungsian dan penentuan rute evakuasi. Batasan penelitian ini memprioritaskan hewan ternak dan penduduk sebagai prioritas utama, sedangkan pembahasan terhadap sister village yang lokasinya diluar wilayah studi cukup dalam wujud narasi pemetaan jalur evakuasi sederhana. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metoda analisis dalam penentuan titik kumpul sementara dengan melakukan pembobotan pada peta-peta yang memiliki sifat-sifat kuantitatif untuk dilanjutkan dengan network analysis jalur evakuasi dari titik kumpul menuju sister village beserta strategi dalam melakukan evakuasi bencana. Kesimpulan yang didapat  adalah titik kumpul dengan hasil pembobotan tinggi terfokus di area jalan ideal dengan lebar jalan diatas 5 meter yaitu jalan kolektor, dan terdapat 3 desa yang tidak terlayani titik kumpul dengan skor ideal yaitu Desa Wonodoyo, Desa Gedangan, dan desa Candi Gatak. Oleh sebab itu perlu adanya pelebaran jalan agar memungkinkan ekspansi titik kumpul baru dan rute evakuasi baru ketika pemobotan di kalkulasi ulang serta menigkatnya performa rute evakuasi yang sudah ditemukan dalam penelitian ini.
Ketahanan Masyarakat Desa Tegaltirto Kabupaten Sleman Berbasis Aset Penghidupan Di Masa Pandemi Covid-19 Rahman, Fathin Aulia; Ruslanjari, Dina; Giyarsih, Sri Rum
TATALOKA Vol 25, No 4 (2023): Volume 25 No. 4 November 2023
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.25.4.244-257

Abstract

Masyarakat Desa Tegaltirto sebagian besar bermata pencaharian di sektor informal yang menjadi komponen paling rentan terhadap dampak Pandemi Covid-19. Ketahanan masyarakat diperlukan dalam menghadapi krisis dan ancaman Pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis tingkat ketahanan masyarakat menurut aset penghidupannya; dan (2) mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi ketahanan masyarakat Desa Tegaltirto. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian berdasarkan dusun yang dianggap mewakili Desa Tegaltirto menurut keragaman pekerjaan masyarakat yaitu Dusun Kadisono, Sompilan, dan Semoya. Teknik sampling menggunakan stratified random sampling jenis proporsional sampel sebanding jumlah populasi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan statistik deskritif untuk analisis tingkat ketahanan, dan analisis faktor untuk identifikasi faktor yang memengaruhi ketahanan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Ketahanan masyarakat Desa Tegaltirto menurut kepemilikan aset menunjukkan tingkat ketahanan sedang, kategori tingkat ketahanan tinggi terdiri dari 9 rumah tangga, ketahanan sedang terdiri dari 75 rumah tangga, dan ketahanan rendah terdiri dari 16 rumah tangga. (2) Terbentuk 7 faktor yang mempengaruhi ketahanan masyarakat yaitu; faktor pendidikan dan perekonomian, pengetahuan dan akses informasi Covid-19, alam, ketersediaan sarana dan prasarana, pencegahan risiko Covid-19, bantuan dari pihak luar, dan kesehatan dan sosial masyarakat.
Negative Sentiments Study of Buton Kraton Fortress: How Environmental Factors Play Role in Maintaining the Historical and Cultural Site Syahadat, Ray March; Baiquni, Muhammad; Fandeli, Chafid; Widiyastuti, Dyah
TATALOKA Vol 26, No 3 (2024): Volume 26 No. 3 August 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.3.195-207

Abstract

Baubau City has the Buton Kraton Fortress, which is the largest fort in the world and an iconic tourist attraction in the city. Studies regarding tourists' bad experiences related to tourism at the Buton Kraton Fortress have not yet been explored. Bad experiences in cultural tourism activities can give rise to negative sentiments that influence visits to a destination. We used three approaches to explore this negative sentiment, namely interviews with five tourists who had come to enjoy the fort as well as a key person, autoethnography, and netnography. This study aims to explore negative sentiment in the Buton Kraton Fortress. The results show that negative sentiment by tourists, the local community, and online communities most often highlight the problems of waste, spatial and green planning, and city infrastructure. Talking about Buton Kraton Fortress cannot be limited to just the area surrounded by the fort structure but also the surrounding environment. It is very important to note that in planning and managing Buton Kraton Fortress, the approach used must be in line with history and culture itself. The aspects of authenticity, originality, uniqueness, variety, beauty, and integrity are the basis that must always be used because negative sentiment arises when these six aspects are not considered in the planning and management of the Buton Palace Fortress and its surrounding environment.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan dan Ruang Terbuka Hijau serta Arahan Pengembangannya di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat Dewi, Afrita Satya; Sitorus, Santun R.P.; Makalew, Afra D.N.
TATALOKA Vol 26, No 2 (2024): Volume 26 No. 2, May 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.2.77-88

Abstract

Bandung merupakan kota dengan tingkat pembangunan ekonomi yang cukup cepat. Kondisi ini mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan (PPL) di kota tersebut. Tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis kondisi eksisting RTH dan PPL di Kota Bandung, 2) memprediksi luas dan sebaran RTH pada tahun 2021, 3) menganalisis kebutuhan RTH menurut luas wilayah dan jumlah penduduk serta tingkat kenyamanan berdasarkan indeks kenyamanan thermal serta 4) menyusun arahan pengembangan RTH Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah interpretasi visual dengan software ArcGIS 10.1, teknik overlay, prediksi PPL dengan CA-Markov dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan RTH publik sebesar 6,0 % dari luas Kota Bandung. PPL terjadi dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun dan dari sawah menjadi lahan terbuka dan lahan terbangun. PPL tahun 2021 diprediksi akan menambah luas RTH menjadi 10,1% dengan asumsi menambah luas dari lahan tidak produktif yang direncanakan sebagai RTH dalam RTRW Kota Bandung tahun 2011-2031. Kekurangan RTH berdasarkan luas wilayah sebesar 2.338,1 ha lebih kecil daripada kekurangan RTH berdasarkan jumlah penduduk sebesar 4.171,0 ha. Berdasarkan indeks kenyamanan thermal, Kota Bandung tergolong dalam kategori nyaman. Pengembangan RTH publik diarahkan pada semak belukar dan lahan terbuka dengan nilai tanah yang rendah. RTH privat perlu dikendalikan karena luasnya terbatas. 
Desain Kelembagaan Pengelolaan Mandiri Teluk Kiluan Provinsi Lampung Guntur, Muhammad; Juanda, Bambang; Mulatsih, Sri
TATALOKA Vol 26, No 1 (2024): Volume 26 No. 1 February 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.1.1-16

Abstract

Kawasan Teluk Kiluan sebagai kawasan konservasi juga ditetapkan sebagai kawasan pariwisata Provinsi Lampung. Hadirnya Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 yang menghapus kewenangan pengelolaan pesisir oleh Kabupaten/Kota berdampak terjadinya perubahan kelembagaan pengelolaan wilayah pesisir. Kajian ini bertujuan untuk menyusun desain kelembagaan pengelolaan wilayah pesisir Teluk Kiluan, yang mengarah kepada pengelolaan secara mandiri sebagai kawasan pariwisata oleh desa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan instrumen pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Kewenangan pengelolaan pesisir Teluk Kiluan dilakukan oleh pemerintah Provinsi Lampung dan dapat ditugasperbantuan langsung kepada pemerintah desa. Desain kelembagaan disusun berdasarkan tugas dan peran dari setiap sektor terkait, dengan koordinator pengelola yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibentuk sebagai pelaksana kebijakan, yang telah disusun untuk dapat dilaksanakan dalam pengelolaan pesisir. Dalam hal ini terbagi atas tiga UPT di Provinsi Lampung. Pengelolaan Teluk Kiluan direkomendasikan untuk dikelola secara mandiri oleh Pekon (Desa) Kiluan Negeri di bawah pelaksana teknis UPT Regional Dua. Pengelolaan Teluk Kiluan sebagai kawasan pariwisata oleh Pekon Kiluan Negeri dilaksanakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan tetap memperhatikan peran partisipasi masyarakat, keterkaitan antar wilayah dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Analisis Status Perkembangan Desa di Kabupaten Karawang. Provinsi Jawa Barat Lathifah, Laily Noor; Rustiadi, Ernan; Agusta, Ivanovich
TATALOKA Vol 26, No 3 (2024): Volume 26 No. 3 August 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.3.165-179

Abstract

Kesenjangan dan ketidakmerataan pembangunan menjadi sebuah tantangan bagi daerah-daerah yang sedang berkembang sehingga menentukan pusat-pusat pelayaan menjadi hal yang sangat perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat status perkembangan desa di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat status perkembangan kawasan perdesaan adalah Skalogram dengan variabel aksesbilitas dan ketersediaan sarana dan prasaran pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hirarki I yang menyebar di 25 perdesaan yang menjadi pusat pertumbuhan dengan kelengkapan aksesbilitas dan jumlah jenis fasilitas memadai. Hirarki II yang menyebar di 83 perdesaan di berbagai kecamatan memiliki jumlah jenis fasilitas dan aksesbilitas yang cukup memadai, dan hirarki III dengan penyebaran di 201 perdesaan yang menjadi daerah terbelakang, dapat di artikan bahwa aksesbilitas yang sulit dan didukung oleh jumlah jenis fasilitas yang masih kurang memadai.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025): Volume 27 No 4, November 2025 Vol 27, No 3 (2025): Volume 27 No. 3 August 2025 Vol 27, No 2 (2025): Volume 27 No. 2 May 2025 Vol 27, No 1 (2025): Volume 27 No. 1 February 2025 Vol 26, No 4 (2024): Volume 26 No 4, November 2024 Vol 26, No 3 (2024): Volume 26 No. 3 August 2024 Vol 26, No 2 (2024): Volume 26 No. 2, May 2024 Vol 26, No 1 (2024): Volume 26 No. 1 February 2024 Vol 25, No 4 (2023): Volume 25 No. 4 November 2023 Vol 25, No 3 (2023): Volume 25 No. 3 August 2023 Vol 25, No 2 (2023): Volume 25 No. 2 May 2023 Vol 25, No 1 (2023): Volume 25 No. 1 February 2023 Vol 24, No 4 (2022): Volume 24 No 4, November 2022 Vol 24, No 3 (2022): Volume 24 No. 3 August 2022 Vol 24, No 2 (2022): Volume 24 No. 2, May 2022 Vol 24, No 1 (2022): Volume 24 No. 1, February 2022 Vol 23, No 4 (2021): Volume 23 No. 4, November 2021 Vol 23, No 3 (2021): Volume 23 No. 3, August 2021 Vol 23, No 2 (2021): Volume 23 No. 2, May 2021 Vol 23, No 1 (2021): Volume 23 No. 1, February 2021 Vol 22, No 4 (2020): Volume 22 No. 4, November 2020 Vol 22, No 3 (2020): Volume 22 No. 3, August 2020 Vol 22, No 2 (2020): Volume 22 No. 2, May 2020 Vol 22, No 1 (2020): Volume 22 No. 1, February 2020 Vol 21, No 4 (2019): Volume 21 No 4, November 2019 Vol 21, No 3 (2019): Volume 21 No. 3, August 2019 Vol 21, No 2 (2019): Volume 21 No. 2, May 2019 Vol 21, No 1 (2019): Volume 21 No. 1, February 2019 Vol 20, No 4 (2018): Volume 20 Number 4, November 2018 Vol 20, No 3 (2018): Volume 20 Number 3, August 2018 Vol 20, No 2 (2018): Volume 20 Number 2, May 2018 Vol 20, No 1 (2018): Volume 20 Number 1, February 2018 Vol 19, No 4 (2017): Volume 19 Number 4, November 2017 Vol 19, No 3 (2017): Volume 19 Number 3, August 2017 Vol 19, No 2 (2017): Volume 19 Number 2, May 2017 Vol 19, No 1 (2017): Volume 19 Number 1, February 2017 Vol 18, No 4 (2016): Volume 18 Number 4, November 2016 Vol 18, No 3 (2016): Volume 18 Number 3, August 2016 Vol 18, No 2 (2016): Volume 18 Number 2, May 2016 Vol 18, No 1 (2016): Volume 18 Number 1, February 2016 Vol 17, No 4 (2015): Volume 17 Number 4, November 2015 Vol 17, No 3 (2015): Volume 17 Number 3, August 2015 Vol 17, No 2 (2015): Volume 17 Number 2, May 2015 Vol 17, No 1 (2015): Volume 17 Number 1, February 2015 Vol 16, No 4 (2014): Volume 16 Number 4, November 2014 Vol 16, No 3 (2014): Volume 16 Number 3, August 2014 Vol 16, No 2 (2014): Volume 16 Number 2, May 2014 Vol 16, No 1 (2014): Volume 16 Number 1, February 2014 Vol 15, No 4 (2013): Volume 15 Number 4, November 2013 Vol 15, No 3 (2013): Volume 15 Number 3, August 2013 Vol 15, No 2 (2013): Volume 15 Number 2, May 2013 Vol 15, No 1 (2013): Volume 15 Number 1, February 2013 Vol 14, No 4 (2012): Volume 14 Number 4, November 2012 Vol 14, No 3 (2012): Volume 14 Number 3, August 2012 Vol 14, No 2 (2012): Volume 14 Number 2, May 2012 Vol 14, No 1 (2012): Volume 14 Number 1, February 2012 Vol 13, No 4 (2011): Volume 13 Number 4, November 2011 Vol 13, No 3 (2011): Volume 13 Number 3, August 2011 Vol 13, No 2 (2011): Volume 13 Number 2, May 2011 Vol 13, No 1 (2011): Volume 13 Number 1, February 2011 Vol 11, No 1 (2009): Februari 2009 More Issue