cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 126 Documents
Analisis Kemampuan Menulis Matematis Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Matematis Ditinjau Dari Gaya Kognitif Impulsif dan Reflektif astuti, Fuji; Sumarna, Nana; Tenriawaru, Andi; Muhibi, Muhibi
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v6i2.21460

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kemampuan menulis matematis siswa MTs. ASH-SHIDDIQ dalam menyelesaikan masalah matematis ditinjau dari gaya kognitif impulsif dan gaya kognitif reflektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian ekploratif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs. ASH-SHIDDIQ yang terdiri dari 2 siswa. Instrumen dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu instrumen utama (peneliti sendiri) dan instrumen bantu yaitu tes gaya kognitif MFFT, tes kemampuan menulis matematis pada materi SPLDV, dan pedoman wawancara. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes dan wawancara. Data kemampuan menulis matematis yang diperoleh selanjutnya dilakukan triangulasi waktu melalui pemberian masalah baru yang setara untuk diselesaikan pada waktu yang berbeda. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan model Milles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) Siswa yang bergaya kognitif impulsif mampu menyatakan suatu situasi atau ide matematis dalam bentuk simbol/model matematis yakni mampu menyelesaikan masalah dengan membuat model ekpresi matematis. Mampu membuat representasi visual gambar yakni mampu membuat gambar atau grafik untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. serta mampu menyatakan dan menjelaskan suatu gambar/model matematis dalam bentuk ide matematis yakni mampu menyelesaikan masalah dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis; (b) Siswa yang bergaya kognitif reflektif mampu menyatakan suatu situasi atau ide matematis dalam bentuk simbol atau model matematis yakni mampu menyelesaikan masalah dengan membuat model ekpresi matematis. tidak mampu membuat representasi visual gambar yakni tidak mampu membuat gambar atau grafik untuk menyelesaikan masalah yang diberikan, dan mampu menyatakan dan menjelaskan suatu gambar atau model matematis dalam bentuk ide matematis yakni mampu menyelesaikan masalah dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis.
Perbedaan Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari Motivasi Belajar, Gaya Belajar dan Perbedaan Jenis Kelamin Siswa SMP Negeri Se-Kecamatan Poleang Barat Novayanti, Novayanti; Sani, Asrul; Anggo, Mustamin
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v6i2.21834

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada: (1) Perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Poleang Barat ditinjau dari motivasi belajar, gaya belajar dan jenis kelamin (2) Interaksi antara motivasi belajar dan gaya belajar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Poleang Barat. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain ex post facto. Populasi penelitian ini berjumlah 101 siswa laki-laki dan 105 siswa perempuan. Teknik pengambilan sampel dengan proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data dengan angket dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan analisis variansi dua jalan dengan sel yang tak sama. Berdasarkan hasil analisis data dengan taraf signifikansi 5% diperoleh kesimpulan: (1) Ada Perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Poleang Barat ditinjau dari motivasi belajar, gaya belajar dan jenis kelamin (2) Tidak da Perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Poleang Barat ditinjau dari gaya belajar dan jenis kelamin(3) tidak ada interaksi antara motivasi belajar dan gaya belajar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri se-Kecamatan Poleang Barat
Eksplorasi Etnomatematika pada Tarian Lumense Suku Moronene Tokotu’a di Kabaena Nurhayati, Sitti; Busnawir, Busnawir; Misu, La
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v6i2.21461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) sejarah awal munculnya tarian Lumense, (2) rincian kegiatantarian Lumense, (3) atribut yang digunakan dalam tarian Lumense (4) aktivitas fundamentalis matematika yang ada dalam tarian Lumense (5) konsep-konsep matematika yang terdapat pada tarian Lumense. Subjek penelitian adalah tari Lumense suku moronene Tokotu’a di Kabaena. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan data, dianalisis menggunakan kondensasi data, penyajian data serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas matematis yang ada pada tarian lumense yaitu counting, locating, measuring, designing, playing dan explaining. Pada tarian Lumense terdapat bentuk-bentuk matematika yaitu, bangun datar meliputi persegi, persegi panjang, trapesium, belah ketupat, lingkaran, dan segitiga, bentuk bangun ruang meliputi kerucut, bola, dan tabung, serta terdapat konsep-konsep matematika seperti konsep himpunan dan konsep membilang.
Mengidentifikasi Pemahaman Mahasiswa Pada Konsep Limit Fungsi Saleh, Saleh; Budayasa, I Ketut; Lukito, Agung
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 2, No 1 (2017): Terbitan tahun kedua
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v2i1.22296

Abstract

Konsep limit fungsi merupakan dasar dalam belajar matematika tingkat lanjut seperti konsep kalkulus dan analisis diantaranya pada materi differensial, integral, kontinuitas, sifat konvergen dan divergen sebuah barisan dan deret, karena itu kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep limit fungsi menjadi hal yang sangat penting agar tidak mendapat kesulitan dalam belajar matematika yang saling terkait. Halinimenjadialasanmengapa pemahaman mahasiswayanglengkapterhadapkonsep limit fungsi menjadisesuatuyangsangatpenting. Pemahamanyangdimaksudberkaitan dengankemampuanmahasiswa dalam: (1) merepresentasikan suatu informasi/masalah ke dalam bentuk limit fungsi; (2) menuliskan dan menjelaskan definisi limit fungsi; (3) mengidentifikasi, menjelaskan dan mengaitkan unsur-unsur yang membangun konsep limit fungsi; (4) menemukan/memberikan contoh fungsi yang mempunyai limit atau tidak di suatu titik tertentu beserta alasannya (5) mengevaluasi suatu algoritma atau prosedur penghitungan limit fungsi; dan (6) menerapkan prinsip limit fungsi; dan bukti eksistensi limit suatu fungsi.
Pengaruh Model Pembelajaran Core Terhadap Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis di Tinjau dari Self-Efficacy Siswa Kelas VIII MTS Negeri 2 Kendari Nurwati, Nurwati; Sudia, Muhammad; Ruslan, Ruslan
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v6i2.21457

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran CORE dan PBL; (2) Perbedaan kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran CORE dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran PBL; (3) Perbedaan kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran CORE dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran PBL khususnya siswa yang memilik self-efficacy tinggi dan rendah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII MTs Negeri 2 Kendari yang terdiri dari 5 kelas paralel. Pengambilan sampel menggunakan random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan uji hipotesis menggunakan Paired T-test, independent T-test, dan Anava dengan rancangan acak kelompok (RAK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran CORE diperoleh rata-rata N-Gain 0,61 (sedang) dan kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional diperoleh rata-rata N-Gain 0,43 (sedang); (2) Kemampuan representasi matematis siswa memiliki (3) Rata-rata kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran CORE lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional; (3) Kemampuan representasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran CORE lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional baik ditinjau dari seluruh siswa, maupun pada setiap kategori self-efficacy.
Pengaruh Self-Regulated Learning dan Kecerdasan Emosional Siswa Terhadap Pemahaman Matematis Siswa SMA Janna Murti, Andi Mifthahul; Busnawir, Busnawir; Misu, La
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v6i2.21831

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk Untuk mengetahui deskripsi self-regulated learning siswa di SMA Negeri 1 Kendari, SMA Negeri 3 Kendari, dan SMA Negeri 8 Kendari, (2) Untuk mengetahui deskripsi kecerdasan emosional siswa di SMA Negeri 1 Kendari, SMA Negeri 3 Kendari, dan SMA Negeri 8 Kendari , (3) Untuk mengetahui deskripsi pemahaman matematis siswa di SMA Negeri 1 Kendari, SMA Negeri 3 Kendari, dan SMA Negeri 8 Kendari, (4) Untuk mengetahui pengaruh positif dan signifikan self-regulated learning terhadap pemahaman matematis siswa di SMA Negeri 1 Kendari, SMA Negeri 3 Kendari, dan SMA Negeri 8 Kendari , (5) Untuk mengetahui pengaruh positif dan signifikan self-regulated learning terhadap pemahaman matematis siswa di SMA Negeri 1 Kendari, SMA Negeri 3 Kendari, dan SMA Negeri 8 Kendari dan (6) Untuk mengetahui pengaruh positif dan signifikan kecerdasan emosional terhadap pemahaman matematis siswa di SMA Negeri 1 Kendari, SMA Negeri 3 Kendari, dan SMA Negeri 8 Kendari. Jenis penelitian ini adalah penelitian ex post facto.Teknik pengumpulan data menggunakan tes pemahaman matematis, angket self-regulated learnig dan angket kecerdasan emosional siswa. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Self-regulated learning mempunyai pengaruh yang siginifkan terhadap pemahaman matematis siswa SMA, (2) Kecerdasan emosional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman matematis siswa SMA. (3) Self-regulated learning dan kecerdasan emosional siswa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman matematis siswa SMA
Analisis Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Kelas VII MTs Negeri 1 Kendari Ditinjau Dari Kecemasan Matematika Fatimah M, Wa Ode; Kadir, Kadir; Salam, Mohamad
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v6i2.21458

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan penalaran matematis siswa ditinjau dari kecemasan matematika. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII MTs Negeri 1 Kendari pada kelas yang menunjukkan kecemasan dalam belajar matematika dengan subjek sebanyak 20 siswa. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri. Instrumen bantu penelitian ini ada tiga, yaitu angket kecemasaan matematika, tes kemampuan penalaran matematis, dan pedoman wawancara yang telah memenuhi aspek validitas dan reliabilitas berdasarkan pertimbangan panelis ahli. Setelah siswa diberi angket kecemasan matematika dan tes kemampuan penalaran matematis. Peneliti mengambil dua orang siswa dengan kecemasan tinggi dan rendah untuk dilakukan wawancara berbasis tugas. Analisis data penelitian ini menggunakan dua jenis analisis statistik, yaitu analisis statistik deskriptif kuantitatif dan kualitatif serta analisis statistik inferensial dengan menggunakan uji korelasi pada α = 0,05. Analisis data kualitatif menggunakan model analisis Miles dan Huberman, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi waktu dan teknik Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa cukup cemas terhadap matematika dengan rata-rata kecemasan matematika sebesar 85,1, Siswa gelisah ketika belajar dan mengikuti tes matematika sehingga kemampuan penalaran matematis siswa rendah dengan rata-rata sebesar 30,625. Meskipun demikian, tidak ada korelasi yang signifikan antara kecemasan matematika dengan kemampuan penalaran matematis dengan koefisien korelasi sebesar -0,197, nilai sig = 0,405 > 0,05. Kecemasan matematika siswa ditunjukkan melalui rasa mual, berkeringat dingin, jantung berdebar, sakit kepala, dan sulit berkonsentrasi. Siswa mengalami kesulitan membuat generalisasi, melakukan manipulasi matematis, dan menarik kesimpulan. Guru perlu berupaya menurunkan tingkat kecemasan matematis siswa.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX.3 SMP Negeri 9 Kendari pada Materi Bentuk Pangkat dan Akar Melalui Penerapan Model Pembelajaran Koopertif Tipe STAD Suhaena, Suhaena
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v5i2.23391

Abstract

Banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika, sehingga tidak jarang pelajaran matematika sering menjadi momok bagi siswa.Oleh karena itu, guru perlu selalu mencari alternatif model pembelajaran sehingga pelajaran ini menjadi menarik bagi siswa dan kesulitan siswa dapat dikurangi serta siswa senang terlibat didalamnya.Kegiatan pembelajaran dengan menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar merupakan salah satu pilihan yang baik untuk diterapkan. Dengan demikian siswa akan terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga kegiatan belajar yang dilakukan akan lebih berkesan yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan hasil  belajar.Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan maksud tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Devisions). Kegiatan pembelajaran pada model ini berpusat pada kegiatan belajar kelompok, dimana antara tiap-tiap anggota kelompok terjalin hubungan yang saling mendukung dan saling membantu untuk mendapatkan prestasi kelompok yang baik.Hasil penelitian dalam dua siklus pembelajaran menunjukkan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa dengan diterapkannya  model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Devisions) pada materi pelajaran Bentuk Pangkat dan Akar menunjukkan peningkatan yang cukup baik, dimana pada akhir siklus II diperoleh nilai rata-rata 72,16 dengan jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 65,00 sebanyak 25 orang (80,65%). Hasil ini jauh lebih baik bil dibandingkan dengan hasil tes awal dengan rata-rata 47,74 dan hasil tes siklus I  dengan rata-rata 52,42. Hasil lain yang dicapai adalah terjadinya penurunan tingkat kesulitan siswa memahami konsep matematika pokok bahasan Bentuk Pangkat dan Akar. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dengan menggunakan diterapkannya  model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Devisions), dapat dikurangi kesulitan siswa kelas IX.3 SMP Negeri 9 Kendari dalam memahami konsep matematika khususnya pada pokok bahasan Bentuk Pangkat dan Akar, serta hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan baik.
Pengaruh Model Pembelajaran React Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau dari Self Regulated Learning Siswa Noerjuniaty Noerjuniaty; Busnawir Busnawir; La Misu
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v7i1.26961

Abstract

Rendahnya pemahaman pemecahan masalah matematis siswa masih menjadi kendala utama karena kurangnya aktivitas siswa dalam pembelajaran sehingga menarik untuk dikaji.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan pengaruh model pembelajaran REACT dan model pembelajaran generatif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari self regulated learning siswa. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen dengan desain posttest only control desain. Sampel penelitian ini adalah  siswa kelas VIII1 dansiswa kelas VIII2 SMP Negeri 19 Kendari tahun ajaran 2021/2022yang diambil secarasimple random sampling. Penentuan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dilakukan secara random sampling. Untuk perbedaan pengaruh pemecahan masalah matematis siswa kedua kelas digunakan uji independent sample t – test. Hasil uji independent sample t – test menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP Negeri 19 Kendari masih tergolong cukup antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran REACT dan model pembelajaran generatif. Namun untuk kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan kedua model tersebut tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan. Kemudian untuk kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran REACT dan generatif ditinjau dari kategori self regulated learning siswa, pada kategori tinggi, tidak terdapat perbedaan pengaruh dan pada kategori rendah terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan. Selain itu diperoleh bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan untuk kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan pembelajaran REACT yang memiliki self regulated tinggi dan rendah, dan siswa yang diajar dengan pembelajaran generatif yang memiliki self regulated learning tinggi dan rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara signifikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan pembelajaran generatif lebih tinggi dari siswa yang diajar dengan pembelajaran REACT
Analisis Kemampuan Berpikir Geometri Van Hiele Siswa Ditinjau Dari Gender Ayu Putri Fajar; Kadir Kadir; La Misu
Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika (Journal of Mathematics Thinking Learning) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpbm.v7i2.30188

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan berpikir geometri Van Hiele siswa kelas VII SMPN 1 Kendari ditinjau dari gender. Penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan angket gender, tes VHGT, tes kemampuan berpikir geometri materi segiempat yang disesuaikan dengan indikator masing-masing tingkatan, dan wawancara. Berdasarkan hasil angket gender dan VHGT diperoleh dari 21 siswa perempuan secara umum mereka bertipe androgini setelah itu feminim, undifferentiated lalu maskulin. Sementara dari 8 siswa laki-laki mereka bertipe maskulin setelah itu androgini dan undifferentiated lalu feminim dan hasil VHGT menunjukkan  bahwa siswa laki-laki maupun perempuan dengan tipe androgini lebih mampu berpikir geometri dibandingkan dengan tipe lainnya. Temuan menunjukkan tingkat berpikir geometri siswa kelas VII-1 SMPN 1 Kendari kurang memuaskan secara umum mereka berada pada tingkat pra 0 - tingkat 0 (visualisasi) dan hanya 1 siswa yang mencapai tingkat 1 (analisis) serta tidak ada yang dapat mencapai level 2 (deduksi informal). Berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir geometri yang diikuti dengan wawancara, siswa yang berada pada level 1 (analisis) belum mampu mendefinisikan suatu bangun dengan bahasanya sendiri dengan lengkap, siswa yang berada pada level 0 (visualisasi) masih kesulitan menentukan beberapa sifat bangun datar karena ada komponen bangun yang belum dimengerti, sementara siswa yang berada pada level pra 0 (pra visualisasi) belum dapat menamai bangun-bangun segiempat dengan benar begitupun saat mengidentifkasi komponen bangun geometri.

Page 10 of 13 | Total Record : 126