cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana)
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 25276208     EISSN : 25279017     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Pharmaceutica Indonesiana (MPI) is a journal focusing on pharmaceutical aspects. MPI is dedicated to update and support the development of information and knowledge on pharmaceutical fields. This journal is published twice a year (June and December).
Arjuna Subject : -
Articles 179 Documents
Pola Penggunaan Obat pada Disabilitas Tunanetra: Kajian Naratif Putri, Dwi Resicha Adna; Dhamanti, Inge
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5299

Abstract

Penggunaan obat merupakan salah satu kesulitan yang dialami oleh disabilitas tunanetra dalam meningkatkan kualitas kesehatannya. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat di kalangan penyandang disabilitas tunanetra. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review. Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci berupa medication problems, drug use, dan visual impairments. Jumlah artikel yang berhasil dikumpulkan sebanyak 292 artikel, namun hanya empat artikel yang termasuk dalam kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua pola penggunaan obat utama yang digunakan oleh disabilitas tunanetra, yaitu mengandalkan bantuan orang lain dengan penglihatan normal dan menerima obat sendiri. Kedua pola ini memberikan bentuk bantuan yang berbeda bagi disabilitas tunanetra untuk dapat menggunakan obat dengan cara yang benar. The use of drugs is one of the difficulties experienced by the visually impaired in improving the quality of their health. The purpose of this review article is to find out the pattern of drug use among blind people with disabilities. The method used in writing this article is a literature review. Article searches were conducted through Google Scholar and PubMed with keywords such as medication problems, drug use, and visual impairments. The total number of articles found was 292, but only four articles met the inclusion criteria. The results showed that there were two main patterns of drug use for blind people, namely, relying on the help of others with normal vision and receiving the drug itself. These two patterns provide different forms of assistance for the visually impaired to use drugs in the right way.
Anatomi Jaringan, Identifikasi Mikroskopis, serta Kadar Polifenol Ekstrak Etanol Daun dari Tiga Jenis Jambu Genus Syzygium Hikmawanti, Ni Putu Ermi; Yumita, Agustin; Hanani, Endang; Faradisa, Shafira; Az-Zahra, Siti Fatimah; Ashfiya , Shafna Raudlatul
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5311

Abstract

Tiga spesies dari genus Syzygium, seperti jambu air (Syzygium aqueum (Burm.f.) Alston), jambu bol (Syzygium malaccense (L.) Merr. & L.M. Perry), dan jambu semarang (Syzygium samarangense (Blume) Merr. & L. M. Perry), telah dimanfaatkan daunnya dalam pengobatan tradisional karena kandungan polifenolnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari anatomi jaringan, mikroskopis, kadar senyawa fenol, flavonoid, dan tanin ekstrak etanol daun dari tiga jenis jambu tersebut. Daun jambu biji (Psidium guajava) digunakan sebagai pembanding. Anatomi jaringan daun dan identifikasi mikroskopis dilakukan menggunakan mikroskop. Penentuan kadar senyawa pada ekstrak etanol 70% ditentukan dengan metode kolorimetri yang absorbansinya diukur pada spektrofotometer UV- Vis. Anatomi jaringan daun dan fragmen pengenal secara mikroskopis ada kemiripan pada ketiga jenis daun jambu genus Syzygium. Secara statistik, ada perbedaan signifikan antara kadar fenol, flavonoid, dan tanin pada ekstrak etanol 70% daun jambu air, daun jambu bol, dan daun jambu semarang dibandingkan dengan ekstrak etanol 70% daun jambu biji. Daun jambu air merupakan spesiesterpilih dari genus Syzygium yang diuji pada penelitian ini dengan kandungan polifenol yang tinggi. Leaves of three guava species of the genus Syzygium, such as water apple/jambu air (Syzygium aqueum (Burm.f.) Alston), malay apple/jambu bol (Syzygium malaccense (L.) Merr. & L.M. Perry), and wax apple/jambu Semarang (Syzygium samarangense (Blume) Merr. & L. M. Perry), have been used in traditional medicine because of its polyphenol content. This study aims to investigate the anatomy of leaf tissues, powder microscopical characteristic, and total phenolic, flavonoids, and tannins content in the ethanol extract of the leaves of the three types of selected guava species of the genus Syzygium. Guava leaves (Psidium guajava) were used as a comparison. Leaf tissue anatomy and microscopic identification were carried out using a microscope. Determination of the polyphenol content in 70% ethanol extract was determined by the colorimetric method in which the absorbance was measured on a UV-Vis spectrophotometer. Leaf tissue anatomy and microscopic recognition fragments are similar in the three types of Syzygium guava leaves. Statistically, there were significant differences between the total phenols, flavonoids, and tannins content in the 70% ethanol extract of water apple, Malay apple, and wax apple compared to the 70% ethanol extract of guava leaves. Water apple leaves are selectedspecies from the genus Syzygium tested in this study with high polyphenol content.
Kajian Continuity of Care Pasien Program Rujuk Balik di Puskesmas Kota Surabaya Vidiani, Anak Agung Pradnya Paramitha; Aditama, Lisa; Lorensia, Amelia
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5484

Abstract

Pasien penyakit kronis menjalani transisi pelayanan kesehatan, sehingga kesinambungan perawatan atau continuity of care (CoC) menjadi komitmen antar tenaga kesehatan. CoC diukur dari perspektif pasien berdasarkan pengalaman dalam pelayanan kesehatan terkait kesinambungan informasi, hubungan dan manajerial. Tujuan penelitian adalah melakukan kajian CoC pasien DM tipe 2 dan hipertensi PRB Puskesmas Kota Surabaya dan menggali pengalaman pasien dalam transisi pelayanan kesehatan. Rancangan penelitian adalah mixed methods. Sampel ditentukan secara purposive dengan memperhatikan kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Cuestionario Continuidad Asistencial Entre Niveles de Atencion (CCAENA) dan wawancara semi-terstruktur. Kesinambungan hubungan berada pada tingkat yang tertinggi, dimana hubungan dengan dokter spesialis lebih tinggi (95%) dibandingkan dokter umum (74%). Ketidaksinambungan hubungan terbesar, yaitu tidak bisa berkonsultasi dengan dokter yang sama di Puskesmas (58%). Kesinambungan manajerial terkait koherensi perawatan (91%) dan aksesibilitas (79%). Ketidaksinambungan manajerial terbesar adalah tidak ada koherensi perawatan antara dokter spesialis dan dokter di Puskesmas (85%) serta aksesibilitas saat antri di rumah rakit (48%). Kesinambungan informasi berada pada tingkat paling rendah (73%). Ketidaksinambungan informasi terbesar adalah diskusi antara pasien dan dokter di Puskesmas terkait pengobatan setelah rujukan (37%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ketidaksinambungan dalam transisi perawatan pasien penyakit kronis terbesar adalah pemberian informasi. Apoteker memiliki peran penting untuk meningkatkan pelayanan informasi dan menjamin keselamatan pasien disetiap rantai perawatan. Transition of healthcare increases the risk of chronic disease patients, therefore continuity of care (CoC) is needed for patient care. CoC measure from the patient's perspective based on experience related to continuity of information, relationships and managerial. The purpose was to study of CoC patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) and hypertension referral program at the Surabaya City Public Health Center and explore patient experiences in transitioning health services. The design is mixed methods. The sample was determined purposively by observe into research criteria. Data collection was using the Cuestionario Continuidad Asistencial Entre Niveles de Atencion (CCAENA) questionnaire and semi-structured interviews. Relation continuity is the highest level, where relationships with specialist are higher (95%) than general prescriber (GP) (74%). The biggest discontinuity is not being able to consult the same GP (58%). Managerial continuity related to coherence of care (91%) and accessibility (79%). The biggest managerial discontinuity is coherence between specialist and GP (85%) and accessibility when queuing at the hospital (48%). Information continuity is the lowest level (73%). The biggest discontinuity is discussion between patients and GP regarding treatment after referral (37%). Conclusion this study is the biggest discontinuity in the transition of care for chronic disease patients is information. Pharmacists have an important role to improve information services and ensure patient safety.
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Ketidaksesuaian Pemberian Statin pada First-user Statins di Apotek UBAYA Yaputra, Dody Mulia; Wibowo, Yosi Irawati; Aditama, Lisa; Brata, Cecilia; Irawati, Sylvi
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5494

Abstract

Penyakit kardiovaskular adalah salah satu penyebab kematian terbesar, baik di Indonesia dan di dunia. Statin telah terbukti efektif untuk pencegahan primer dan sekunder penyakit kardiovaskular. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan penggunaan statin untuk indikasi tersebut masih belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi factor-faktor yang mempengahruhi ketidaksesuaian penggunaan statin pada pengguna statin pertama kali (first-user). Penelitian ini adalah penelitian retrospektif yang melibatkan 102 orang pasien yang berkunjung ke Apotek UBAYA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,9% pasien yang terlibat adalah perempuan dan 42,2% pasien berada pada kelompok usia 51-60 tahun. Berdasarkan perhitungan tingkat risiko kardiovaskular 10-tahun, sebesar 24.5% pasien mengalami ketidaksesuaian penggunaan statin. Ketidaksesuaian penggunaan statin ini khususnya ditemukan pada kelompok risiko tinggi (51,7%) dan kelompok risiko sangat tinggi (23,7%). Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian penggunaan statin adalah memiliki diabetes mellitus (adjusted odds ratio, aOR 10,61; 95% CI 2,84-39,68; p = 0,00) dan memiliki asuransi kesehatan (aOR 4,96; 95% CI 1,49-16,48; p = 0,01). Cardiovascular disease (CVD) is one of the leading causes of deaths both in Indonesia and in the world. Statins have been proven to be effective for primary and secondary prevention of CVDs. However, several studies show that the use of statins for those indications are still sub optimal. The aimof this study was to identify factors influencing inappropriateness use of statins in the first-user statins. This was a retrospective study involving 102 patients visited the UBAYA Pharmacy. The result of the study showed that 56.9% of the patients involved were women and 42.2% of the patients were in the age group of 51-60 years. Based on the 10-year cardiovascular risk estimation, as many as 24.5% of the patients inappropriately used statins. The inappropriateness use of statins was especially found in the high-risk group (51.7%) and in the very high-risk group (23.7%). Factors influencing the inappropriateness use of statins in the first-user statins were having diabetes mellitus (adjusted odds ratio, aOR 10.61; 95% CI 2.84-39.68; p = 0.00) and having health insurance (aOR 4.96; 95% CI 1.49-16.48; p = 0.01).
Pengaruh Variasi Konsentrasi Dinatrium EDTA Terhadap Stabilitas Fisika dan pH Sediaan Salep Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Rizkuloh, Lina Rahmawati; Adlina, Salsabila; Yuliana, Anna
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5539

Abstract

Daun jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat, karena mengandung metabolit sekunder saponin, tanin, flavonoid, serta alkaloid. Senyawa-senyawa tersebut memiliki sifat antibakteri. Kandungan antibakteri pada daun jambu biji ini menjadi dasarpengembangan sediaan dalam bentuk salep yang berkhasiat sebagai antibakteri dengan memvariasikan salah satu bahan sebagai penstabil yaitu dinatrium EDTA. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi dinatrium EDTA tehadap stabilitas fisika sediaan salep ekstraketanol daun jambu biji (Psidium guajva L.). Dalam penelitian ini dibuat 3 formula dengan variasi konsentrasi dinatrium EDTA yaitu F1 (0,05%); F2 (0,08%) serta F3 (0,10%). Evaluasi stabilitas fisik sediaan salep dilakukan selama 12 hari (6 siklus), meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar dan uji stabilitas. Hasil pengamatan organoleptik selama cycling test menunjukan adanya perubahan warna pada sediaan yaitu pada siklus ke 5 dan 6. Selain itu, dengan bertambahnya konsentrasi dinatrium EDTA berpengaruh terhadap pH. Semakin tinggi konsentrasi dinatrium EDTA maka semakin kecil pH dan berpengaruh pada stabilitas fisika sediaan. Hasil menunjukan bahwa sediaan yang stabil dan memenuhi syarat yaitu formula 3 dengan konsentrasi dinatrium EDTA 0,10 %. Guava leaves (Psidium guajava L.) is one of the efficacious plants, because it contains secondary metabolites of saponins, tannins, flavonoids, and alkaloids; where these compounds have antibacterial properties. With the presence of antibacterial content in guava leaves, a preparation was made in the form of an antibacterial ointment by varying one of the ingredients as a stabilizer, namely disodium EDTA. The purpose of this study was to determine the effect of disodium EDTA concentration on the physical stability of the ethanol extract ointment of guava leaves (Psidium guajva L.). In this study, 3 formulas were prepared with variations in the concentration of disodium EDTA, namely F1 (0.05%); F2 (0.08%) and F3 (0.10%), respectively. Evaluation of the physical stability of the ointment was carried out for 12 days (6 cycles), including organoleptic tests, homogeneity tests, pH tests, adhesion tests, spreadability tests and stability tests. The results of organoleptic observations during the cycling test showed that there was a change in the color of the preparation in the 5th and 6th cycles. In addition, increasing the disodium EDTA concentration affected the pH, where the higher the disodium EDTA concentration, the lower the pH and affected the physical stability of the preparation. The results showed that the preparation that met the requirements for ointment stability was formula 3 with a concentration of 0.10% disodium EDTA.
Aktivitas Antiansietas Ekstrak Etanol Kulit Buah Pisang Cavendish (Musa acuminata Cavendish): Studi In Vivo dengan Metode Elevated Plus Maze (EPM), Light Dark Test (LDT), and Open Field Test (OFT) Widyastiwi; Muzaki, Yoga Adi Restu; Roseno, Mohammad
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5576

Abstract

Gangguan kecemasan (ansietas) adalah kondisi medis yang dikarakterisasi oleh adanya perasaan cemas akan sesuatu yang bersifat irasional. Beberapa gangguan kecemasan yang umum terjadi adalah gangguan kecemasan tergeneralisasi, gangguan panik, fobia, gangguan kecemasan social, dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Kulit pisang Cavendish (Musa acuminata Cavendish) mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid gatokatekin yang diduga memiliki sifat antiansietas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiansietas ekstrak etanol kulit pisang Cavendish (Musa acuminata Cavendish) dengan berbagai dosis. Penelitian eksperimen dilakukan dengan post-test only control group design. Tiga puluh mencit putih Swiss Webster (Mus musculus) jantan dibagi menjadi 5 kelompok secara acak: kelompok kontrol (CMC Na 1%), kelompok obat standar (diazepam 0,13 mg/kgBB), dan tiga kelompok ekstrak kulit pisang Cavendish (EEKPC) dengan dosis 200 mg/kg, 400 mg/kg dan 800 mg/kg. Aktivitas antiansietas dievaluasi dengan Elevated plus maze (EPM), light dark test (LDT), dan open field test (OFT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa EEKPC 200 mg/kg secara signifikan meningkatkan durasi hewan uji di tangan terbuka pada uji EPM (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dosis EEKPC 200 mg/ kg juga mampu meningkatkan durasi di area terang secara signifikan pada uji LDT dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Pada OFT, dosis EKPC 200 mg/kg secara signifikan meningkatkan durasi di area tengah (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian ini mendukung pengembangan kulit pisang Cavendish (Musa acuminata Cavendish) sebagai terapi komplementer untuk gangguan kecemasan. Anxiety disorder is a mental health condition characterized by feelings of anxiety and irrational fear of something. These disorders include generalized anxiety disorder, panic disorder, phobias, social anxiety disorder, and post-traumatic stress disorder. Cavendish banana peel (Musa acuminata Cavendish) contains various bioactive compounds, including flavonoid galocatechin which is proposed to have antianxiety properties. This study was aimed to determine the antianxiety effect of various doses of 80% ethanolic extract of Cavendish banana peel (Musa acuminata Cavendish). The experimental study was conducted with a post-test only control group design. Thirty male Swiss Webster white mice (Mus musculus) were divided randomly into 5 groups: control group (CMC Na 1%), the standard drug group (diazepam 0.13 mg/kgBW), and three groups of Cavendish banana peel extract (EEKPC) at doses of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 800 mg/kg. Antianxiety activity was evaluated by elevated plus maze (EPM), light dark test (LDT), and open field test (OFT). The results showed that EEKPC 200 mg/kg significantly increased the duration of the test animals in the open arms in the EPM test (p<0.05) compared to the control group. EEKPC dose of 200 mg/kg was also able to significantly increase the duration in the light area in the LDT test compared to the control group (p<0.05). In OFT, EKPC dose of 200 mg/kg significantly increased duration in the center area (p<0.05) compared to control group. Results of this study supports the development of Cavendish banana peel (Musa acuminata Cavendish) as a complementary therapy for anxiety disorder.
Kajian Pustaka: Sediaan Kosmesetika Penumbuh Rambut dari Berbagai Herbal Nusantara Budastra, Wayan Cintya Ganes; Riandari , Teti Mariam; Martien , Ronny; Murwanti, Retno
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5594

Abstract

Kerontokan rambut dapat menjadi permasalahan serius ketika dalam jumlah yang abnormal dan terjadi secara terus-menerus hingga berujung kebotakan. Kosmesetika penumbuh rambut berbahan dasar herbal dapat menjadi pilihan terapi yang tepat sebab terkait dengan keamanan penggunaan jangka panjang maupun efektivitasnya. Berbagai bentuk sediaan kosmesetika herbal penumbuh rambut telah dikembangkan yakni emulsi, gel, emulgel, krim, serum, hair tonic maupun sediaan yang dimodifikasi dengan sistem teknologi nano. Artikel review ini bertujuan untuk mengetahui sediaan kosmesetika herbal terbaik yang memenuhi spesifikasi farmasetik yang telah ditetapkan dan aktivitasnya sebagai penumbuh rambut secara in vivo. Penelitian ini berbasis systematic literature review. Berdasarkan eksplorasi literatur yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sediaan kosmesetika herbal terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan rambut dan memenuhi kriteria karakteristik farmasetik adalah adalah sediaan hair tonic daun kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) (5%) dengan rerata peningkatan panjang rambut sebesar (2,785 ± 0,021 cm) dan bobot rambut (0,767 ± 0,057 mg/cm2) selama 21 hari. Evaluasi farmasetik hair tonic daun kangkung telah memenuhi persyaratan SNI sediaan hair tonic yang telah ditetapkan. Hair loss can be a serious problem when it is in abnormal amounts and occurs continuously leading to baldness. Herbal-based hair growth cosmeceuticals can be the right choice of therapy because it is related to the safety of long-term use and its effectiveness. Various dosage forms of herbal hair growth cosmeceuticals have been developed, namely emulsions, gels, emulgels, creams, serums, hair tonic and preparations modified with nano technology systems. This review article aims to determine the best herbal cosmeceutical preparations that meet the established pharmaceutical specifications and their activity as hair growth in vivo. This research is based on systematic literature review. Based on the literature exploration that has been carried out, it can be seen that the best herbal cosmeceutical preparation in increasing hair growth and meeting the criteria for pharmaceutical characteristics is the preparation of kale leaf hair tonic (Ipomoea aquatica Forsk.) (5%) with an average increase in hair length of (2.785 ± 0.021 cm) and hair weight (0.767 ± 0.057 mg/cm2) in 21 days. Pharmaceutical evaluation of kale leaf hair tonic has met the requirements of SNI hair tonic preparations that have been established.
The Impact of Pharmaceutical Care Implementation on The Incidence of Drug-Related Problem and Clinical Outcome of Hypertension Patients at Puskesmas Lubuk Pakam in 2021 Darmirani, Yosi; Dalimunthe, Aminah; Khairunnisa; Iksen
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5609

Abstract

The role of pharmacists in the implementation of pharmaceutical care has been shown to improve the outcome of therapy in hypertension patients in various countries. This study aimed to implement pharmaceutical care for hypertension patients and determine its impact on the incidence of drug-related problems (DRPs) and clinical outcomes of hypertension patients in Puskesmas Lubuk Pakam. This study used a comparative experimental method before and after the intervention of 73 hypertension patients in March-August 2021. Identification of the of DRPs was using the PCNE V9.00 standard and blood pressure values were obtained from direct examination of patients. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank test. The results showed that the average DRPs incidence was significantly reduced after the intervention (observation, interview, and education) on the hypertension patients. The average blood pressure before intervention was 154.38 ± 16.20 mmHg and after intervention became 144.04 ± 15.94 mmHg (p value = 0.000). Based on the results of the study, it can be concluded that the application of pharmaceutical care can reduce the incidence of DRPs and improve clinical outcomes in hypertension patients in Puskesmas Lubuk Pakam.
Pengaruh Telefarmasi Terhadap Kepatuhan dan Target Pengobatan Pasien DMT2 Saswita, Nuke; Aditama, Lisa; Lorensia, Amelia
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i2.5479

Abstract

Telefarmasi adalah pelayanan kefarmasian yang mana apoteker dan pasien tidak pada tempat dan waktu yang sama. Telefarmasi menggunakan fitur WhatsApp (WA) diharapkan memberi informasi, konsultasi, dan pemantauan terapi obat (PTO) terhadap perilaku pasien dalam penggunaan obat, yaitu kepatuhan dan pengaruhnya terhadap ketercapaian target gula darah puasa (GDP) dalam pengelolaan DM tipe 2 (T2DM). Tujuan riset ini adalah melihat pengaruh telefarmasi menggunakan WA terhadap kepatuhan dan target GDP pasien T2DM di Apotek Pulosari Surabaya. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif dengan pra-experimental one group pretest-posttest design. Sampel ditentukan secara total sampling memperhatikan kriteria penelitian. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Brief Medication Questionnare (BMQ), untuk menilai hambatan kepatuhan pasien dan menghitung jumlah obat (pill counts) serta pengukuran GDP menggunakan glukometer oleh peneliti yang dilakukan pre-post intervensi selama 30 hari. Hasil pill counts sebelum intervensi menunjukkan 61,29% pasien tidak patuh. Setelah intervensi telefarmasi terdapat peningkatan kepatuhan, pasien yang tidak patuh senilai 24,19%. Hasil BMQ sebelum intervensi 82,26% sedangkan setelah intervensi terdapat penurunan hambatan kepatuhan 27,42%. Hasil pemantauan GDP setelah intervensi sebanyak 83,87% pasien mencapai target GDP. Setelah intervensi telefarmasi terdapat peningkatan ketercapaian target, dimana pasien yang belum mencapai target sebesar 16,13%. Pelayanan telefarmasi yang diberikan apoteker dapat menurunkan hambatan pasien dalam mengikuti rejimen terapinya dan signifikan meningkatkan kepatuhan dan ketercapaian target dalam pengobatan T2DM. Telepharmacy is a pharmaceutical service using WhatsApp (WA) feature to provide information, consultation, and drug therapy monitoring to the patients, adherence and it’s effect on fasting blood glucose targets achievement in the management of type 2 DM (DMT2). The aim is to see telepharmacy effect using WA on adherence and achievement the target of T2DM patients at the Pulosari Pharmacy, Surabaya. This research used quantitative with pre-experimental one group pretest-posttest design. The sample was determined total sampling considering the research criteria. Data collection used Brief Medication Questionnare (BMQ), to assess patient’s adherence barriers by pill counts and measuring blood glucose with glucometer before and after intervention during 30 days. The results before intervention was 61.29% patients did not comply. After intervention, there was 24.19% of patients who did not comply. The results of the BMQ before intervention was 82.26% and there was a decrease after intervention in compliance barriers 27.42%. Monitored blood glucose after intervention was 83.87% of patients reached the target. After the intervention, patients who had not reached the target was 16.13%. Telepharmaceutical services provided by pharmacists can reduce patient barriers in followingtheir therapy regimens and significantly increase adherence and target achievement in the treatment of T2DM.
Analisis Cost-Effectiveness Kombinasi Glimepiride-Metformin Dengan Glimepiride-Pioglitazone pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Rawat Jalan Pambagyanik, Apridita Anggun; Lorensia, Amelia; Rahem, Abdul
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i2.5541

Abstract

Kombinasi glimepiride-metformin merupakan lini pertama pengobatan diabetes mellitus tipe 2 (DMT 2) dan kombinasi glimepiride-pioglitazon saat ini masuk dalam daftar pedoman pelayanan kefarmasian pada pasien diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi terapi manakah yang paling cost-effective antara kombinasi glimepiride-pioglitazon dibandingkan kombinasi glimepiride-metformin dalam menurunkan gula darah puasa dan HbA1c. Pada penelitian ini didapatkan 60 sampel pada kelompok kombinasi obat glimepiride-pioglitazon dan 40 sampel pada kelompok kombinasi glimepiride-metformin. Desain penelitian yang dilakukan dengan metode observasional dan alur pengumpulan data secara retrospektif. Analisa data menggunakan perhitungan ACER (Average Cost-Effectiveness Ratio) dan ICER (Incremental Cost-Effectiveness Ratio) dan uji Mann Whitney. Hasil analisis pada kombinasi glimepiride-pioglitazon, yang memenuhi target GDP (gula darah puasa) sebanyak 21,67%, GDA sebanyak 45,00% dan HbA1c sebanyak 36,67% dengan rata-rata biaya pengobatan Rp 2.184.810,00. Sedangkan pada kelompok kombinasi glimepiride-metformin, GDP yang tercapai 2,50%, GDA yang tercapai 20,00% dan HbA1c yang tercapai sebanyak 20,00% dengan rata-rata biaya pengobatan Rp 2.198.060,00. Hasil analisis efektifitas biaya dalam menurunkan kadar GDP, GDA dan HbA1c menunjukan perbedaan efektifitas biaya untuk pengurangan per unit pada pencapaian glukosa darah dan HbA1c yang signifikan. Kombinasi glimepiride-pioglitazon merupakan terapi cost-effective yang signifikan sebagai terapi DMT2 dalam menurunkan GDP (ICER=Rp -387,767), GDA (ICER=Rp -935,074), dan HbA1c (ICER=Rp -794,841). The glimepiride-metformin combination is the first line of treatment for T2DM and the glimepiride-pioglitazone combination is currently included in the list of pharmaceutical service guidelines for diabetes mellitus patients. This study aims to find out which combination of therapy is the most cost-effective, the glimepiride-pioglitazone combination compared to the glimepiride-metformin combination in reducing fasting blood sugar and HbA1c. In this study, 60 samples were obtained in the glimepiride-pioglitazone drug combination group and 40 samples in the glimepiride-metformin combination group. The research design was carried out using an observational method and a retrospective data collection flow. Data analysis used ACER (Average Cost-Effectiveness Ratio) and ICER (Incremental Cost-Effectiveness Ratio) calculations and the Mann Whitney test. The results of the analysis on the glimepiride-pioglitazone combination, which met the GDP target (fasting blood sugar) of 21.67%, GDA of 45.00% and HbA1c of 36.67% with an average treatment cost of IDR 2,184,810.00. Meanwhile, in the glimepiride-metformin combination group, GDP was achieved at 2.50%, GDA was achieved at 20.00% and HbA1c was achieved at 20.00% with an average treatment cost of IDR 2,198,060.00. The results of the cost-effectiveness analysis in reducing GDP, GDA and HbA1c levels show that the difference in cost-effectiveness for the reduction per unit in achieving blood glucose and HbA1c is significant and the combination of glimepiride-pioglitazone is a significant cost-effective therapy as DMT2 therapy in reducing GDP (ICER=IDR -387,767), GDA (ICER=IDR -935,074), and HbA1c (ICER=IDR -794,841).

Page 11 of 18 | Total Record : 179