cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 144 Documents
SOCIAL MEDIA AS A PLATFORM OF PERFORMING ARTS EDUCATION DURING COVID-19 PANDEMIC Afrizal Yudha Setiawan; Dwiyana Habsary; Indra Bulan
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v6i1.10318

Abstract

This article aims to describe the use of social media as a platform for performing arts education. The main problem in this research is social distancing due to the Covid-19 pandemic, which causes performing arts activities must be presented without audiences (online performing arts). Social media is an alternative media for art creator (artists/ choreographer/ musician) to present their work and deliver the messages to the audience. The question in this research is whether the social media can replace the role of performing arts to deliver the messages from the creator to the audience. This study used qualitative research methods. The objects involved in this study were videos of performing arts on social media. Data was collected thorugh documentation, and literature review. The results of the study describe about the communication form between performing arts elements (creator and audiences) of the show presented on social media.
PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL (INSTAGRAM) SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN KREASI SENI DALAM PEMBELAJARAN Fuja Siti Fujiawati; Reza Mauldy Raharja
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v6i1.11602

Abstract

Abstract : Social Media is an online media that is used for the needs of communication, interaction, participation, sharing and creating content/content for users to use through special application devices with internet networks without being limited by space or time, which is currently closely related to the lives of teenagers, and one of them is there is instagram. The purpose of this study was to determine the response to the use of social media Instagram as a medium for presenting art creations in learning. Especially during a pandemic like today, where the staging area is limited in space, so that through social media Instagram, this can be a means of actualizing student art creations. The research method used in this study is to use a qualitative approach that departs from a literature review regarding the use of media for learning, and presentation projects presented by students and their responses. The data shows that students are familiar with the use of social media Instagram in their daily lives, and as many as 64.3% feel that the use of social media Instagram can be used as an alternative solution for learning. The suggestions for optimizing learning by utilizing Instagram's social media are to complete appropriate content, tidy up the feed to make it visible and utilize live Instagram as a learning medium for synchronous learning. Keywords: Social Media, Instagram, Art Creations, Learning Media  Abstrak : Media Sosial merupakan media online yang digunakan untuk kebutuhan komunikasi, berinteraksi, berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi/konten untuk digunakan para penggunanya melalui perangkat aplikasi khusus dengan jaringan internet tanpa dibatasi oleh ruang atau waktu, yang saat ini erat dengan kehidupan remaja, dan salah satunya ialah instagram. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap pemanfaatan media sosial instagram sebagai media penyajian kreasi seni dalam pembelajaran. Khususnya di masa pandemi seperti saat ini, dimana ajang pementasan yang terbatas ruang, sehingga melalui media sosial Instagram ini dapat menjadi sarana aktualisasi kreasi seni mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang berangkat dari kajian literatur mengenai pemanfaatan media untuk pembelajaran, dan presentasi project yang disajikan mahasihwa serta mengetahui tanggapannya. Data menunjukan bahwa mahasiswa sudah terbiasa dengan penggunaan media sosial instagram ini dalam kesehariannya, dan sebanyak 64,3% merasa pemanfaatan media sosial instagram dapat dijadikan alternative solusi untuk pembelajaran. Adapun saran mengoptimalkan pembelajaran dengan memanfaatkan media sosial Instagram ialah dengan melengkapi konten sesuai materi, merapihkan feeds agar tampak menarik serta memanfaatkan live instagram sebagai media perkuliahan untuk pembelajaran syncronus. Kata Kunci : Media Sosial, Instagram, Kreasi Seni, Media Pembelajaran
NILAI-NILAI KARAKTER DALAM KESENIAN RAMPAK BEDUG CIWASIAT KABUPATEN PANDEGLANG Syamsul Rizal
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v6i1.10341

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan dan mengnalisis nilai karakter dalam Rampak Bedug Ciwasiat di Bale Seni Ciwasiat Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini dilaksanakan di sanggar Bale Seni Ciwasiat Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Subjek dalam penelitian  ini adalah pemain Rampak Bedug Ciwasiat, pemilik sanggar atau pelatih Rampak Bedug Ciwasiat, dan budayawan atau seniman Rampak Bedug Pandeglang. Pengumpulan data menggunakan  observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Nilai karakter dalam Rampak Bedug Ciwasiat yaitu nilai kedisiplinan, religius, cinta tanah air, tanggung jawab, dan kerja keras.Kata Kunci: nilai-nilai karakter, rampak bedug VALUES OF CHARACTER IN THE ART OF “RAMPAK BEDUG CIWASIAT” AT BALE SENI CIWASIAT PANDEGLANG REGENCY The objectives of the research were to describe and analyze the character values at Rampak Bedug Ciwasiat in Bale Seni Ciwasiat Pandeglang Regency. This research uses qualitative research type with ethnography approach. This research was conducted in studio of Bale Seni Ciwasiat  Pandeglang Regency Banten Province. The subjects in this research were players of Rampak Bedug Ciwasiat, owner ot coach of Rampak Bedug Ciwasiat, and humanists or Rampak Bedug Pandeglang artists. Data collection used participant observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study are as follows. Values of character in Rampak Bedug Ciwasiat are discipline values, religious, love of the homeland, responsibility, and hard work. Keywords: character values, rampak bedug
Penggunaan Notasi Bantu dalam Pembelajaran Solfeggio untuk Meningkatkan Kemampuan Sight Reading-Sight Singging Agus Firmansah; Toni S Sutanto; Henri Nusantara
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i2.6858

Abstract

Abstract : This study aims to develop the use of musical notes on solfeggio learning material in order to improve the ability of sight reading-sight singing. The use of assistive notes on solfeggio material presented in this digital-based music learning media is mainly for material with jumping intervals, so that students easily get shadow note. The research method used is Education Design Research which consists of developing material into digital-based learning media, and testing other sight-sight-seeing using the material developed. This research involved first semester students in the Department of Music Education, Indonesian University of Education as participants in the trial phase of the exercise of using assistive notation on solfeggio material. The results of the study showed that the use of assistive notes made it easy for students to get shadow notes, so students could sound the destination notes with the right intonation. Besides that the instructional media format presented in the form of MP4 makes it easy for students to be able to practice sight reading-sight singing independently. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan penggunaan not bantu pada  materi  pembelajaran solfeggio guna meningkatan kemampuan sight reading-sight  singing . Penggunaan not bantu  pada materi solfeggio  yang  disajikan dalam media pembelajaran musik berbasis digital ini  terutama untuk materi-materi dengan interval yang meloncat, agar mahasiswa dengan mudah mendapatkan bayangan nada. Metode penelitian yang digunakan adalah Education Design Reseach  yang terdiri dari pengembangan materi ke dalam media pembelajaran berbasis digital, dan  uji coba laithan  sight reading-sight singing  dengan menggunakan materi yang dikembangkan.  Penelitian ini melibatkan mahasiswa semester pertama di Departemen Pendidikan Musik Universitas Pendidikan Indonesia  sebagia partisipan pada tahapan uji coba model latihan dengan menggunakan materi yang dikembangkan. Hasil penelitian , menunjukan penggunaan not bantu memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk mendapatkan bayangan nada, serta dapat membantu untuk mendapatkan intonasi yang tepat.  Disamping itu format media pembelajaran yang disajikan dalam bentuk MP4 memudahkan mahasiswa untuk dapat berlatih sight reading-sight singing secara mandiri. 
PERANCANGAN APLIKASI MAGIC CARD AUGMENTED REALITY PADA GERAK DASAR TARI SUNDA Azkia Ismiati; Fuja Siti Fujiawati; Alis Triena Permanasari
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v6i2.12909

Abstract

Abstract : Technology today is growing rapidly, one example of the development of technology today is augmented reality. Based on the phenomenon of utilization of augmented reality technology in various fields, but the utilization of augmented reality technology has not been found in identifying the basic motion of Sundanese dance. This Sundanese Dance Basic Movement Card application aims to design and test the feasibility of an application that can be used as a learning innovation. The method used in this study is the ADDIE model, which consists of several stages, namely analysis, design, development, implementation and evaluation. The test was conducted by 4 material experts, 4 media experts and 30 respondents. The test results to material experts are 89.68%, the test results to media experts are 92.70% and the test results to reponden by 91.42% with the category of Augmented Reality Magic Card Application on Sundanese Dance Basic Motion is very feasible to use Keywords : Application Augmented Reality, Sundanese Dance Basics  Abstrak : Teknologi saat ini berkembang semakin pesat, salah satu contoh perkembangan teknologi saat ini adalah augmented reality. Berdasarkan fenomena pemanfaatan teknologi augmented reality di berbagai bidang, namun pemanfaatan teknologi augmented reality belum ditemukan dalam mengidentifikasi gerak dasar tari Sunda. Aplikasi Kartu Gerakan Dasar Tari Sunda ini bertujuan untuk merancang dan menguji kelayakan sebuah aplikasi yang dapat digunakan sebagai inovasi pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ADDIE, yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu analisis, perancangan, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Pengujian dilakukan oleh 4 ahli materi, 4 ahli media dan 30 responden. Hasil pengujian kepada ahli materi yaitu sebesar 89.68%, hasil pengujian kepada ahli media yaitu sebesar 92.70% dan hasil pengujian kepada reponden sebesar 91.42% dengan kategori Aplikasi Magic Card Augmented Reality Pada Gerak Dasar Tari Sunda sangat layak untuk digunakan. Kata Kunci : Aplikasi, Augmented Reality, Gerak Dasar Tari Sunda 
Upaya Pewarisan Kesenian Tradisional Ditengah Zaman Milenial Melalui Pembelajaran Angklung Pada Siswa Kelas XII IPA 2 SMAN 13 Kabupaten Tangerang Eka Yulyawan Kurniawan
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6906

Abstract

Abstract : In this age of the millennium, even more so, you can easily access the internet or social media, this is very worrying because traditional arts are increasingly being abandoned by the younger generation of Indonesia. For this reason, the inheritance of traditional arts must be carried out, and the most effective media for inheriting traditional arts is the world of education. For this reason the author conducted research on angklung in SMAN 13 Tangerang District, because in these schools they have used complete traditional musical instruments, and can be done to do this research. It is hoped that by learning angklung art students become more familiar with Indonesian traditional arts, and participate in preserving it in the future, and through family angklung learning, creative, and mutual respect. This research is descriptive using analysis and data through interview techniques and directly in the field. It is hoped that there will be an angklung learning process that can instill a sense of love for Indonesian traditional arts, and also students can become more creative. Abstrak :  Pada zaman milenial ini pengaruh budaya asing semakin pesat, bahkan dari usia sekolah dasar kini sudah dengan mudah mengakses internet atau media sosial lainnya, hal ini sangat mengkhawatirkan karena kesenian tradisional semakin lama semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia. Untuk itu pewarisan kesenian tradisional harus dilakukan, dan yang paling efektif sebagai media pewarisan kesenian tradisional adalah melalui dunia pendidikan. Untuk itu penulis melakukan penelitian pembelajaran angklung di SMAN 13 Kabupatn Tangerang, karena di Sekolah tersebut fasilitas alat musik tradisional lengkap, dan mendukung untuk dilakukan penelitian ini. Diharapkan dengan pembelajaran kesenian angklung siswa menjadi lebih mengenal kesenian tradisional indonesia, dan ikut melestarikannya kelak dikemudian hari, dan melalui pembelajaran angklung siswa dilatih bekerjasama, kreatif, dan juga saling menghargai. Penelitian ini bersifat deskriftif analisis dengan pendekatan evaluasi dan pengumpulan data melalui teknik wawancara dan observasi langsung di lapangan. Diharapkan nantinya proses pembelajaran angklung mampu menanamkan rasa cinta terhadap kesenian tradisional Indonesia, dan juga siswa bisa menjadi lebih kreatif.
Generasi Muda dan Seni Tradisi (Studi Kasus di Kawasan Cisaranten Wetan, Bandung) Ria Intani T
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6846

Abstract

Abstract : The milineal era is synonymous with modern culture that put great import on western culture  instead of tradition. It is assumed that modern culture is considered more interesting than its opposite. Consequently, keeping up with modern culture is considered as prestige. Thus, it is encouraging to find the younger generation engaged in traditional culture, in this case the performing arts of reak (traditional dance using stuffed animals in form of lion) and kudarenggong (horsedance). The aims of this research is to explain what are the reasons behind the willingness of the younger generation to engage with traditional arts and secured their parents support. The study was conducted with qualitative research methods through interview. The results of the study show that the involvement of the younger generation in traditional arts is inseparable from environmental factors. Abstrak : Era milineal identik dengan budaya modern yang mengedepankan budaya yang berakar dari Barat, dan sebaliknya menafikan budaya yang berakar dari leluhurnya. Ditengarai bahwa budaya modern dianggap lebih menarik dan sebaliknya dengan budaya tradisional. Merapat pada budaya  modern dianggap sebagai suatu prestise, dan sebaliknya dengan budaya tradisional. Apa pun sebabnya,  menggembirakan ketika mendapati generasi muda menggeluti budaya tradisional, dalam hal ini seni reak dan kuda renggong. Melihat kenyataan itu, melalui penelitian ini ingin diketahui apa yang menjadi alasan generasi muda yang bersangkutan mau menggeluti seni tradisional dan apa alasan orang tua (bagi yang masih lajang) mendukung anaknya. Penelitian ini menggunakan teknik  wawancara untuk penggalian datanya dengan pemaparannya secara deskriptif. Hasil penelitian sekaligus menjadi kesimpulan penelitian ini bahwa keterlibatan generasi muda dalam seni tradisi tidak lepas dari faktor lingkungan. 
Proses Penciptaan Teater Dalam Monolog Naskah “Berusaha Melawan Lupa” Karya : Acep Zam Zam Noor Pada Festival Lanjong ART Festival (LAF) Kutai Kertanegara Kalimantan Timur Giri Mustika Roekmana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i2.6859

Abstract

Abstract : Monologue art is a drama performing art that is played by one actor and can play several characters in the story. How to play this monologue art is quite difficult because an actor must work extra practice and look for lots of references. The ability of a monologue player must be multi-talented, he must master good vocal techniques, he must master the techniques of a trained body, he must have trained emotional intelligence so that the character of the characters in the monologue script can be maximally realized. In this study the author wants to convey information related to how to play a monologue and present it. The concept of presenting monologues is not much different from the concept of presenting drama in general, only the difference is being played by one actor. On this occasion the author took the moment of the process of creating a monologue at the Lanjong Art Festival held by the East Kalimantan Kutai Kartanegara Lanjong Foundation. The monologue manuscript was titled "Trying to Fight Forgotten" by Acep zam Zam Noor who is a national writer who has been recognized by the community. The concept of presenting a monologue "Trying to Fight Forgotten" by Acep Zam Zam Noor uses the approach of the concept of Ubrug Banten's performing arts which has the characteristics of a game that is more flexible and populist. Abstrak : Seni monolog adalah sebuah seni pertunjukan drama yang dimainkan oleh satu orang pemeran dan dapat memainkan beberapa karakter tokoh dalam cerita. Cara memainkan seni monolog ini tergolong sulit karena seorang pemeran harus kerja ekstra berlatih dan mencari referensi yang banyak sekali. Kemampuan seorang pemain monolog haruslah multi talenta, dia harus menguasai tekhnik vokal yang baik, dia harus menguasai tekhnik olah tubuh yang terlatih, dia harus memeiliki kecerdasan emosional yang terlatih sehingga karakter tokoh dalam naskah monolog dapat terwujud dengan maksimal. Pada penelitian ini penulis ingin menyampaikan informasi terkait cara bermain monolog dan menyajikannya. Konsep penyajian monolog tidak jauh berbeda dengan konsep penyajian drama pada umumnya, hanya bedanya adalah dimainkan oleh satu orang pemeran.  Pada kesempatan ini penulis mengambil momen proses penciptaan monolog pada acara Lanjong Art Festival yang dilaksanakan oleh Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Naskah monolog yang diangkat berjudul “Berusaha Melawan Lupa” karya Acep zam Zam Noor yang merupakan sastrawan nasional yang sudah diakui oleh masyarakat. Konsep penyajian monolog “Berusaha Melawan Lupa” karya Acep Zam Zam Noor ini   menggunakan pendekatan konsep seni pertunjukan Ubrug Banten yang memiliki ciri khas permainan yang lebih fleksible dan merakyat.
INOVASI JATHILAN PRODI SENDRARIYA SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEEKSISANNYA DI YOGYAKARTA Asep Saepudin; Subuh Subuh; Sabatinus Prakasa
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v6i2.12442

Abstract

Abstract : The purpose of this research is to find out the various innovations made by Sendrariya Prodi Group in maintaining its existence in the Jathilan lovers community.  A descriptive method of analysis is used in this research which is to explain the existing data followed by analysis. The research phase includes data collection, classification, and analysis. Data collection is conducted through observation, interviews, and documents, while data analysis is conducted in the research laboratory after all data is collected.  Prodi Sendrariya is one of the lumping horse art communities or communities that is currently popular among actors and connoisseurs of Art in Yogyakarta. Prodi Sendrariya was established on December 24, 2017. This group chose to innovate in its art to stand out from other communities in Yogyakarta. Sendrariya is one of the groups that follow the development of the market by preparing what the public wants through its various innovations. The results of the research were obtained that Prodi Sendrariya has made various innovations to keep the group exists in the community, among others in the pattern of performances (including governance, costumes, performance packaging, working on other genres outside Jathilan) as well as incorporating jaipong drum instruments into the group in various performances. Kendang jaipong functioned to accompany Balinese, Banyuwangi, Banyumas, Javanese, and Sundanese style performances. 
Pembiasaan Musikal Menggunakan Lagu Bertema Sebagai Alternatif Mengenal Huruf Untuk Anak Usia Dini Yulianti Fitriani
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v4i1.6913

Abstract

Abstract : The idea for this article comes from previous research which produced an interesting paradigm in the teaching and learning process in Early Childhood (AUD). Starting from the results of a case study belonging to Oktaria (2018) who sought and found a musical approach for children with special needs in one of the AUD schools reconstructing further thought, that learning patterns for the AUD are highly dependent on the repetitive aspect (repetitive) which results in learning to be very fun for children. But repetition isn't always fun. There must be variations (read: themed) on the material to be reined. For this reason, this paper will describe musical habituation through the appreciation of themed songs as an enjoyable alternative to learning for AUD through descriptive-correlative studies by framing two fundamental issues concerning; 1) An understanding of musical habituation and fun learning for AUDs, and 2) Examples of themed songs that can be developed for study materials. The results obtained are expected to help the teacher in carrying out learning so that children are happy to learn in class.  Abstrak : Gagasan penulisan artikel ini berasal dari penelitian terdahulu yang menghasilkan sebuah paradigma menarik dalam proses belajar-mengajar pada Anak Usia Dini (AUD).  Bertolak dari hasil penelitian studi kasus milik Oktaria (2018) yang mencari dan menemukan pendekatan musikal bagi anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah AUD merekonstruksi pemikiran selanjutnya, bahwa pola belajar bagi AUD sangat bergantung pada aspek repetitif (berulang-ulang) yang mengakibatkan belajar menjadi sangat menyenangkan bagi anak. Namun repetisi tidaklah selamanya menyenangkan. Harus terdapat variasi (baca: bertema) pada bahan yang akan direpetisikan. Untuk itu, tulisan ini akan menggambarkan pembiasaan musikal melalui apresiasi lagu-lagu bertema sebagai alternatif belajar menyenangkan bagi AUD melalui kajian deskriptif-korelatif dengan membingkai dua persoalan mendasar mengenai; 1) Pemahaman dari pembiasaan musikal dan belajar menyenangkan bagi AUD, dan 2) Contoh lagu-lagu bertema yang dapat dikembangkan untuk bahan belajar. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat membantu Guru dalam melaksanakan pembelajaran agar anak senang untuk belajar di kelas.

Page 7 of 15 | Total Record : 144